Posts Tagged ‘ff snsd’

Hit Me Baby (Oneshot)

Posted: Februari 20, 2015 in ff snsd, one shot, yulsic
Tag:, , ,

Tittle : Hit Me Baby
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Comedy Romantic
Lenght : Oneshot
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri and Other Cast

Hit Me Baby
.
.
.
.
.
.

Dulu Jessica pernah mendengar peribahasa yang berbunyi ‘Semakin manusia dibatasi semakin manusia tersebut ingin melewati batas itu’. Peribahasa ini maknanya hampir sama dengan paham yang Jessica anut saat ini. ‘Semakin sering melihat Kwon Yuri maka semakin kau ingin memukul wajahnya’.

Hari pertama, Jessica terbangun dan mendapati wajah mesum Yuri saat ia membuka pintu kamar. Jessica baru ingat jika sekarang ia punya teman ‘serumah’ yang sangat manis.

Yuri mengangkat spidol permanen yang sedari tadi di pegangnya seraya menyeringai kearah Jessica.

“Kau lihat garis pembatas itu? Kanan milikmu dan kiri milikku. Untuk menjaga privasi masing-masing terutama privasiku mulai sekarang kita berbagi wilayah. Jangan berani masuk ke wilayahku atau kau akan mati, arraseo?!” Yuri memperingatinya. Demi semua timun di dunia, rasanya Jessica adalah orang yang lebih pantas berkata seperti itu. Ia, adalah pihak yang jelas-jelas selalu dirugikan disini.

Masih dengan mulut terbuka Jessica menelusuri garis yang telah Yuri buat. Si hitam itu benar-benar merencakan semuanya dengan sempurna, dan ini tidak adil. Wilayah Yuri terdiri dari satu kamar, ruang tamu dan ruang keluarga sementara wilayah Jessica terdiri dari satu kamar, kamar mandi dan dapur.

“Tidak perlu protes, jika dihitung luasnya sama.”

“Apanya yang sama, dasar idiot!!” Jessica murka, tapi Yuri tidak peduli. Ia memang sudah merencanakan ini sejak semalam. Tidak masalah jika Yuri harus kehilangan dapur, lagipula ia bisa makan diluar atau memesan makanan siap saji sedangkan masalah kamar mandi Yuri tak perlu khawatir karena kamarnya memiliki kamar mandi sendiri. Kwon Yuri, benar-benar pintar dan menawan.

“Awas kau!!” geram Jessica seiring rencana-rencana jahat tentang cara-bagaimana-melenyapkan-kwon-Yuri-dengan-cepat berseliweran di kepalanya. Yuri pura-pura tuli. Gadis tanned itu berjalan menjauh seraya bersenandung kecil.

“Pagi yang indah~”

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

“Kau ingin mengalahkanku? Kau perlu belajar banyak!” Kali ini giliran Jessica yang menyeringai. Gadis blonde itu berdiri penuh kemenangan di depan pintu keluar. Wilayah yang sampai kapanpun takkan bisa Yuri injak dengan kakinya. Karena terlalu bersemangat saat membuat garis batas tadi pagi, Yuri baru sadar jika pintu keluar ada di wilayah Jessica. Kenapa pintu akses yang memisahkan dirinya dengan alam bebas harus ada di wilayah gadis penyihir tersebut. Miris. Yuri terus meruntuki kebodohannya.

“Kau benar-benar takkan mengijinkanku melewati garis itu?” Tanya Yuri putus asa. Jessica menjawab dengan anggukkan mantap. Yuri sudah terlambat pergi ke lokasi syuting sementara Jessica masih berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. Layaknya tentara yang menjaga daerah perbatasan suatu negara. Siap mempertaruhkan hidup dan matinya.

“Aigoo! Jinja! Lalu bagaimana aku bisa keluar?”

“Kau bisa membuat lubang di dinding wilayahmu.” jawab Jessica enteng.

“Micheseo?!”

“Ah.. benar juga. Setelah kupikir itu akan merusak dindingnya. Bagaimana kalau kau loncat saja dari jendela? Itu cara tercepat dan termudah.”

“Baiklah. Apa maumu?” Yuri mengacak rambutnya frustasi. Jessica tersenyum penuh kemenangan. Sejak awal Kwon Yuri sudah salah karena menyalakan genderang perang diantara mereka.

“Kita gambar lagi garis pembatas ini dari awal. Dan kali ini kau dan aku yang melakukannya. Akan kupastikan kau tidak bisa berbuat curang lagi kali ini karena aku akan benar-benar menghajarmu jika kau kembali melakukannya!”

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

YC Entertainment, Seoul

“Bukankah aku sudah menyuruhmu mengawasinya?” Presdir Park -presdir Manajemen tempat Yuri bernaung- menggebrak meja di hadapannya. Manajer Yun mulai berkeringat dingin.

“Rasanya aku sudah bosan mendengar keluhan dari setiap kru yang syuting bersamanya!” Kesal Pria paruh baya tersebut. Pasalnya ini bukan pertama kalinya Yuri terlambat atau tiba-tiba menghilang dari lokasi syuting. Sebenarnya kapan bocah itu akan bersikap profesional sekali saja. Presdir Park kembali menghela nafas, kali ini ia berencana memarahi Yuri habis-habisan.

Beberapa saat setelahnya Yuri datang ke ruangan Presdir Park sambil mengunyah permen karet. Sama sekali tidak merasa sudah melakukan kesalahan apapun. Saat Yuri datang wajah kesal Predir Park langsung dibuat-buat ramah. Nada keras yang ia gunakan saat berbicara dengan Manajer Yun pun diturunkan beberapa oktaf.

“Yuri-ah bagaimana kabarmu?” tanya Presdir Park. Yuri melepas kacamata hitamnya setelah duduk di kursi yang tepat berada di depan Presdir. Gadis tanned itu lantas memijat daerah di kedua matanya.

“Beberapa hari terakhir sangat melelahkan.” Yuri menjawab sambil mendelik ke arah Manajer Yun. Pria berkacamata tersebut menelan ludahnya -lagi.

Presdir menarik nafas panjang, ia berencana menumpahkan semua unek-uneknya pada Yuri. “Yuri-ah kau tau kan pagi ini Produser Shin meneleponku-”

Sebelum Presdir Park sempat melanjutkan kata-katanya Yuri memotong. “Sebenarnya pagi ini Predir Kim dari YJ Entertainment juga meneleponku.”

Setelah mendengar pernyataan Yuri Predir Park menegakkan tubuhnya. Presdir Kim adalah saingan utamanya dalam bisnis ini. Untuk apa ia menelepon Yuri? Apa pria itu berencana melakukan cara-cara kotor untuk merebut artisnya?

“Dia bertanya kapan kontrak kerjaku denganmu berakhir.” Lanjut Yuri. Mengetahui dugaannya benar, wajah Presdir Park memucat. Ia tentu saja takkan membiarkan Presdir Kim merebut Yuri. Gadis tanned itu adalah aset perusahaan paling berharga yang dimilikinya. Jika Presdir Kim ingin merebut Yuri ia harus melangkahi mayat Presdir Park dulu. Sedetik kemudian Presdir Park menelan kekesalannya pada Yuri berikut semua unek-unek yang semula ingin ia tumpahkan pada gadis tersebut.

“Jadi, apa yang ingin Presdir katakan padaku?”

“I-itu… tidak ada. Sebenarnya Yuri-ah kalau kulihat kulitmu semakin hari semakin bersinar saja.”

“Itu karena pola hidup sehatku.”

“Uri Yuri memang orang yang ahli dalam menjalani hal itu. Begini Yuri-ah kemarin pihak Etude Cosmetic menawari kontrak kerja, kau mau melakukannya?”

“Atur saja jadwalnya.”

“Baiklah kau boleh pergi. Bersenang-senanglah.” Presdir Park melambaikan tangannya sementara Yuri meninggalkan ruangan tersebut dengan senyum kemenangan. Manajer Yun menggelengkan kepalanya. Ia sudah sering melihat hal seperti ini. Presdir Park hanya bisa marah padanya namun membentak Yuri saja tidak berani.

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

Beberapa hari tinggal bersama, Yuri dan Jessica tidak menganggap keberadaan satu sama lain. Setiap kali -tanpa sengaja- berpapasan keduanya akan saling membuang muka. Saling menyapa pun menjadi hal paling tabu di ‘rumah’ mereka.

Beberapa hari tinggal bersama juga membuat keduanya saling mengetahui kebiasaan buruk masing-masing. Orang yang terlanjur saling benci memang pada dasarnya akan selalu menganggap apapun yang dilakukan musuhnya sebagai sesuatu yang salah.

Penilaian Jessica tentang Yuri selama beberapa hari ini adalah. Pertama dia adalah artis yang arogan, sombong, berantakan, keras kepala, bodoh dan selalu seenaknya sendiri. Dan mesum tentu saja, Jessica takkan lupa yang satu itu.

Pagi ini Yuri kembali menerima beberapa paket dari fansnya. Bunga, cokelat, boneka dan sebuah cake. Namun seperti pagi sebelumnya, Yuri membuang semua barang itu ke tempat sampah. Bahkan tanpa melihat benda itu untuk kedua kalinya. Si arogan ini benar-benar tak menghargai apa yang telah orang lain berikan untuknya. Memang barangnya tidak seberapa hanya saja seharusnya Yuri memikirkan perasaan orang yang memberi itu untuknya.

Jessica menyilangkan tangan di dadanya seraya menatap Yuri penuh kebencian.

“Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu? Kalau kau menginginkannya kau bisa mengambilnya nona Jung.” Yuri tersenyum meremehkan sambil menunjuk barang-barang di dalam tempat sampah.

Tolong siapapun musnahkan makhluk jelek ini dari muka bumi sekarang juga!

Tidak hanya Jessica yang memberi Yuri penilaian, diam-diam Yuri juga memberi Jessica penilaiannya. Menurutnya Jessica adalah penyihir violent, berisik, pengatur, pemalas, dan dingin. Ya, Yuri memang berencana memanggil Jessica penyihir sampai gadis itu berhenti memanggilnya mesum.

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

Musim liburan akan segera berakhir dan itu sangat menyebalkan bagi Jessica. Hari ini Jessica sengaja datang ke sebuah toko untuk membeli seragam baru. Akan menjadi sejarah karena selama hidupnya Jessica tidak pernah mengenakan seragam.

Di ujung sana, Tiffany mendengarkan keluhan sahabatnya dengan seksama. Sedari tadi Jessica bercerita tanpa henti. Jessica yang ini agak banyak bicara, seperti bukan Jessica saja tapi sebagai pendengar yang baik Tiffany mencoba tidak menyela. Walau begitu saat nama ‘Kwon Yuri’ keluar dari mulut Jessica, Tiffany sempat berpikir. Entah kenapa nama itu seperti tidak asing di telinganya.

Jessica memasuki toko tersebut masih sambil menelepon. Gadis blonde itu baru memutuskan sambungan teleponnya saat seseorang menabraknya dan mengotori bajunya dengan kopi. Jessica merengut sebal, apa menabrak orang sudah menjadi hobi penduduk Korea atau semacamnya? Ini adalah baju kesayangan Jessica dan gadis itu tau betul jika noda kopi bukan noda yang mudah dihilangkan. Namun, hal yang paling membuat Jessica kesal adalah, kenapa harus orang ini -lagi. Gadis dengan penyamaran bodohnya. Seakan dunia ini tak cukup luas untuk mereka berdua.

Yuri berusaha mengalihkan pandangannya kemanapun asal bukan Jessica. Gadis tanned itu tidak berani memandang wajah Jessica yang kini menatapnya dengan wajah sangar.

“Aku tidak sengaja.” ucap Yuri angkuh. Ayolah, minta maaf tidak pernah ada dalam kamus hidupnya.

Jessica masih memandangnya kesal. “Kenapa kau dan wajah menyebalkanmu itu selalu ada di setiap tempat yang kudatangi?”

“Maaf mengecewakanmu penyihir tapi aku ini artis terkenal, orang-orang rela memberikan apapun untuk bisa bertemu denganku. Kau seharusnya bersyukur!” balas Yuri sombong.

“Tapi tunggu! Kenapa kau bisa ada disini? Kau sengaja mengikutiku? Aishhh.. seharusnya aku menduga ini dari awal.” Heboh Yuri. Jessica memutar kedua bola matanya, sama sekali tidak berniat meladeni perkataan gadis besar kepala di hadapannya. Perdebatan di rumah saja cukup.

Di dalam toko, tanpa ada perjanjian keduanya setuju untuk bersikap layaknya orang yang tidak saling mengenal. Dan Jessica dengan rela hati berusaha melupakan insiden tabrak juga kopi tumpah beberapa saat lalu.

Disisi lain Yuri sesekali mencuri pandang ke arah Jessica. Ternyata gadis blonde tersebut datang kemari untuk membeli seragam sama sepertinya. Yuri sebenarnya tidak mau pergi ke sekolah tapi Manajer Yun dan Presdir Park terus memaksanya. Semuanya gara-gara berita yang dibuat Reporter Nam. Reporter tua yang selalu cari gara-gara dengan Yuri. Sebenarnya kalaupun Yuri -dalam setahun- hanya hadir di sekolah beberapa kali itu bukan masalah. Tapi Reporter Nam membesar-besarkan masalah itu dan membuat para Netizen mengkritik Yuri. Tidak bertanggung jawab, malas, dan sebagainya.

“Karena itu Yuri-ah mulai semester baru nanti datanglah ke sekolah. Kau tidak mau kan dianggap menggunakan popularitas untuk masuk sekolah bergengsi tersebut?” bujuk Presdir Park. Yuri menghela nafas, ia tidak punya pilihan lain.

“Seragam itu tidak cocok untukmu.” komentar Yuri saat melihat Jessica bercermin di depan fitting room dengan seragam melekat di tubuhnya. Jessica melirik Yuri sebentar sambil memicingkan mata namun Yuri hanya melihat lurus cermin yang ada di hadapan mereka. Kalau dipikir lagi sebenarnya Jessica juga merasa seragam ini ukurannya terlalu longgar.

“Wajahmu terlalu tua untuk mengenakan seragam SMA.” Yuri tertawa setelah mengatakannya dan baru berhenti setelah Jessica meninju perutnya. Si bodoh itu, rasanya tak seharipun tidak meminta Jessica memukulnya.

“Dasar penyihir violent!!”

.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

P.S
Baca Juga :
1. Replay
2. In MY Room
3. Hit Me Baby
4. Lucifer

Drabble #22 (YulSic)

Posted: Februari 19, 2015 in drabble, yulsic
Tag:, , ,

Drabble #22

Malam Valentine Jessica duduk di belakang kemudi. BMW Z10 yang dikendarainya membelah jalanan Seoul yang tampak padat lancar. Ramalan cuaca tadi pagi memang mengatakan jika malam Valentine kali ini Seoul akan dinaungi cuaca yang cerah -walau dingin. Benar-benar cocok untuk pasangan muda-mudi yang mungkin merayakan malam Valentine bersama kekasih mereka.

Sementara untuk Jessica yang bukan lagi gadis SMA, membuat ‘cokelat cinta’ memang tak lagi menjadi prioritas utamanya. Setelah seharian melewati waktu yang melelahkan satu-satunya yang Jessica inginkan saat ini hanya pulang lalu tidur. Lagipula Jessica bukan tipe gadis -seperti kebanyakan gadis lain- yang tergila-gila pada hal cheesy romantic dan semacamnya. Malam Valentine dan malam lain apa bedanya?

Dengan tangan yang masih memegang kemudi, sesekali gadis blonde itu mencuri pandang ke arah ponselnya yang sengaja ia letakan diatas dashboard -supaya mudah terlihat. Benda yang tampak damai itu membuat Jessica kesal. Oke, oke! Jessica berbohong -soal tidak suka hal-hal cheesy romantic dan semacamnya- karena pada kenyataannya Jessica juga ingin melewati malam Valentine bersama orang yang ia sayangi. Terlebih lagi mereka sudah lama tak bertemu -seminggu. Jessica mengerti jika kekasihnya sedang melakukan tugas mulia, hanya saja sebagai seorang wanita ia merasa kecewa karena di nomor duakan. Bukankah, setidaknya orang itu memberinya kabar atau membalas pesan yang Jessica kirim untuknya.

“Si bodoh itu!” Jessica mendesis pelan.

Sampai di persimpangan mobil Jessica dipaksa berhenti oleh seorang polisi. Jessica mengerutkan keningnya bingung. Gadis blonde itu tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Memang tadi ia sedikit mengumpat tapi polisi ini takkan mendengarnya bukan? Lagipula tidak masuk akal jika seseorang ditilang karena ia mengumpat. Walau begitu sebagai warga negara yang baik Jessica tetap menepikan mobilnya sesuai perintah.

“Selamat malam nona.” Sapa polisi bername tag Kwon Yuri dengan ramah seraya mempersilahkan Jessica turun dari mobilnya. Jessica mendelik sebal sebelum menjawab pertanyaan itu seadanya sambil menuruti perintah sang polisi.

“Malam.”

“Anda tau apa kesalahan anda?” Masih dengan senyuman ramah yang menghiasi wajahnya polisi bernama Yuri itu bertanya.

“Aniyo.” Jawab Jessica angkuh.

“Kesalahan anda adalah… sudah mencuri hati saya nona Jung.”

Jessica membulatkan matanya begitu polisi -yang seharusnya menilangnya- tersebut berlutut di hadapannya. Terlebih lagi ia mengatakan hal-hal aneh -namun cheesy. Paras Jessica matang, gadis itu menyuruh Yuri berdiri tapi Yuri menolak.

“Kwon Yuri apa yang-” kata-kata Jessica terhenti begitu Yuri menyodorkan kotak berisi cincin di hadapannya.

“Sica karena kau sudah mencuri hatiku kuharap kau mau bertanggung jawab. Menikahlah denganku Jessica Jung Sooyeon?” Pinta Yuri penuh harap. Gadis tanned itu masih setia berlutut menunggu jawaban sang kekasih.

Mendengar permintaan Yuri yang begitu tulus, Jessica tak lagi menahan emosinya. Gadis blonde itu menghambur kepelukan Yuri dan membuat keduanya terjatuh di atas aspal. Dalam pelukan Yuri, Jessica terisak sambil mengangukkan kepalanya.

“Babo!!”

“Aku akan menganggap itu sebagai ‘Iya’.”

Yuri berdiri bersama Jessica yang masih ada dalam pelukannya. Sedetik kemudian Yuri mendudukkan Jessica diatas kap mobil mereka lalu memasangkan cincin di jarinya.

“Saranghae.” ucap keduanya bersamaan sambil saling tersenyum. Setelahnya Yuri mengecup bibirnya lembut dan membuat para pengguna jalan yang sedari tadi menjadi penonton drama kecil itu ikut bersorak gembira.

Boleh Jessica jujur sekarang? Ini adalah Valentine terbaik yang pernah ia alami.

.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

In MY Room (Oneshot)

Posted: Februari 19, 2015 in ff snsd, one shot, yulsic
Tag:, , ,

Tittle : In MY Room
Author : RoyalSooosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Comedy Romantic
Lenght : Ficlet
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri and Other Cast

In MY Room
.
.
.
.
.

Jessica mendengus kesal sementara orang hitam-mesum-menyebalkan yang belakangan Jessica tau bernama Kwon Yuri duduk di sebelahnya dengan ekspressi yang memuakkan -menururt Jessica. Sekali lagi, sekarang bahkan belum genap 24 jam ia menginjakkan kaki di Korea tapi masalah terus bertubi-tubi menghampirinya. Dan kenapa lagi-lagi dengan orang mesum ini?

Sementara itu direktur perumahan duduk di depan keduanya layaknya seorang pengadil. Jessica hanya berharap saja pengadil itu bersikap bijaksana seperti selayaknya karena kalau tidak Jessica akan membekukannya.

“Jadi begini nona Jung dan nona Kwon..” direktur Lee mulai bersuara. Jessica menegakkan tubuhnya dengan ekspressi tidak sabaran, disampingnya Yuri tersenyum sinis. Untuk apa repot-repot toh pada akhirnya ia yang akan menang dan gadis violent tersebut yang harus angkat kaki dari apartemen mereka, bukan, miliknya.

“Akta kepemilikan yang diserahkan nona Kwon memang asli.” ucap direktur Lee. Jessica membelalakan matanya tak percaya. Bagaimana bisa apartemen yang dibeli ayahnya -untuknya- adalah milik Yuri? Pasti ada kesalahan! Pasti!

“Kau dengar itu?!” Kwon Yuri menyeringai sementara Jessica berusaha mati-matian menahan hasrat untuk mengacak wajah Yuri disini, saat ini juga. Insiden kain pel beberapa waktu lalu nampaknya belum memberi Yuri pelajaran.

“Ekhmm.” Direktur Lee berdehem untuk mengalihkan perhatian dua gadis yang tengah saling menatap dengan aura pembunuh di hadapannya.

“Sebenarnya nona Kwon, Akta kepemilikan yang dimiliki nona Jung juga asli.” Lanjut pria paruh baya tersebut.

“MWO?!” Yuri dan Jessica sama-sama terkejut.

“B-bagaimana bisa?” Tanya keduanya bersamaan -lagi.

“Hal itu memang bisa saja terjadi. Sepertinya tuan Jung sengaja membeli apartemen itu setengah harga lalu nona Kwon membayar sisanya. Karena itulah kenapa Apartemen itu memiliki dua Akta kepemilikan yang keduanya sah.”

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

Yuri dan Jessica sama-sama duduk di ruang tengah apartemen ‘mereka’ tanpa bersuara. Di sudut ruangan manajer Yun menelan ludahnya dengan ekspresi takut. Bagaimana tidak tidak jika Yuri terus melotot padanya.

“I-itu karena kau bilang ingin membeli apartemen di kawasan Cheondamdong dengan harga murah. Inilah satu-satunya yang bisa kudapat.” jelas pria berkacamata tersebut seraya menyesali nasibnya. Kenapa kehidupan itu begitu sulit.

Yuri berdiri sambil berkacak pinggang. Tidak ada gunanya melampiaskan kekesalannya pada manajer Yun, saat ini Jessica adalah masalah yang lebih penting.

“Aku akan membayar sisa setengahnya dan kau boleh keluar dari tempat ini.” Putus Yuri akhirnya. Tidak mungkin kan jika Yuri benar-benar harus berbagi tempat dengan gadis penyihir ini? Membayangkannya saja membuat seluruh bulu di punggungnya berdiri.

“Mwoya?!” Jessica tertawa sinis dan menolak tawaran Yuri mentah-mentah. Gadis hitam itu benar-benar bertindak seenak jidatnya dan membuat Jessica kesal, dia mau menyogok Jessica dengan uang? Jessica kan bukan pengemis, lagipula kenapa ia yang harus pergi? Jessica adalah orang yang lebih dulu datang. Maka jika ada orang yang harus pergi maka Yuri-lah orangnya.

“Kenapa tidak kau saja yang pergi dasar penjahat mesum?!”

“Mwo?! Penjahat mesum? Bukankah aku sudah menjelaskannya padamu? Dengar ya aku benar- benar lelah malam ini dan tidak mau berdebat jadi kumohon pergilah dengan damai nona Jung. Berikan nomor rekeningmu aku akan segera mentransfer uangnya.” Ucap Yuri angkuh dan membuat Jessica semakin kesal.

“I don’t need your money and i’ll never leave this place. Because it’s MINE. You got it?”

“Ya!! Aku bahkan sudah berbaik hati dengan tidak melaporkanmu ke polisi.”

“Polisi? Justru aku yang lebih berhak melaporkanmu ke polisi dasar mesum!!”

“Mwoya? Aku yang korban disini! Apa kau lupa kau sudah memukul wajahku dengan kain pel?! Wanita ini benar-benar!”

“SSTTOOOPPPPP!!” Manajer Yun berteriak dan membuat Yuri dan Jessica berhenti bersedebat. Keduanya seperti Tom and Jerry saja. Sebenarnya hal ini bisa diselesaikan dengan cara baik-baik hanya saja sifat keduanya yang keras kepala membuat permasalahan ini lebih rumit.

“Daripada kalian berdebat, aku punya ide yang mungkin bisa membantu.”

“Mwoya? Aku dan penyihir ini tinggal bersama? Tidak mau!” Yuri menolak mentah-mentah begitu manajer Yun mengutarakan isi kepalanya. Ya, karena keduanya begitu keras kepala dan menolak untuk mengalah bukankah akan lebih baik jika mereka tinggal bersama. Hanya sementara waktu.

“Aku juga tidak mau mempertaruhkan hidupku dengan tinggal bersama orang mesum ini.” Jessica menunjuk Yuri dengan ekspressi horor. Walau hanya sementara Jessica tak bisa menerima ide gila itu. Yuri mendengus kesal, panggilan ‘kasih sayang’ Jessica untuknya membuat telinga Yuri terasa panas. Apa tidak ada kata-kata yang lebih baik? Yuri jadi merasa dirinya kotor.

Yuri tidak tahan lagi, gadis itu mencengkram pergelangan tangan Jessica. “Berhenti memanggilku mesum dasar penyihir.”

“A-apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!”

“Tidak. Sebelum kau bersumpah tidak akan memanggilku mesum lagi.” Ancam Yuri. Jessica berontak namun tenaga Yuri yang jauh lebih kuat darinya membuat usaha Jessica sia-sia. Yuri menyeringai saat gadis blonde itu mulai panik. Jessica berpikir cepat, gadis blonde itu menendang tulang kering di kaki Yuri dan membuat gadis tanned itu meringis kesakitan. Yuri lengah dan Jessica memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kabur. Jessica bermaksud lari namun Yuri terlebih dahulu menarik pergelangan tangannya. Gadis blonde itu terjatuh dengan Yuri yang ada di atasnya.

Mata Jessica membulat dan sebelum Yuri sempat menyadari dimana tangannya mendarat, Jessica lebih dulu menamparnya.

Plak!

“Itu pasti sakit.” Manajer Yun meringis sambil memengangi pipinya. Ikut prihatin dengan apa yang dialami sang majikan.

Setelah keadaan kembali tenang, Yuri dan Jessica duduk di sofa ruang tengah dengan posisi saling memunggungi. Dalam kepalanya Yuri bersumpah takkan menakut-nakuti Jessica lagi, satu tamparan saja cukup. Sementara Jessica memegangi dadanya sambil memasang ice glare. Pada akhirnya -walaupun tidak mau- keduanya terpaksa tinggal bersama sampai manajer Yun menemukan solusi yang lebih baik.

Sebelum benar-benar pergi pria berkacamata tersebut menyerahkan sebuah Stun Gun pada Jessica. “Untuk jaga-jaga saja.” bisiknya.

“Ya!! Apa maksudmu oppa?! Akulah korban sebenarnya disini!” Protes Yuri seraya menunjuk pipi kirinya yang terdapat bekas telapak tangan Jessica.

Untuk keduanya, hari-hari selanjutnya tentu akan menjadi hari yang berat, atau mungkin tidak?
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

P.S
Baca Juga :
1. Replay
2. In MY Room
3. Hit Me Baby
4. Lucifer

Drabble #21

Di dorm mereka, Yuri berteriak histeris sambil menjulurkan lidahnya. Wajah gadis tanned itu berubah merah sementara matanya berkaca-kaca. Bukan, Yuri bukan sedang jatuh cinta, patah hati atau semacamnya. Yuri hanya sedang kepedasan karena lomba makan bodoh yang dilakukannya bersama Sooyoung.

Awalnya Sooyoung mengejek Yuri karena dia tidak bisa makan pedas dan Yuri yang menganggapnya serius tentu tak terima. Gadis tanned itu tentu tak mau jika ‘seobang’ lainnya menjulukinya dengan monyet hitam yang takut pedas. Tidak! Bagaimana dengan harga dirinya? Jadilah Yuri dan Sooyoung mengadakan lomba makan makanan pedas sebagai pembuktian.

Sooyoung yang sudah menghabiskan 5 mangkuk ramyun ekstra pedas, Donkasseu, Dak bal, dan Bibim Naengmyeon langsung terkapar di tengah dorm mereka. Sunny memutar kedua bola matanya, tidak memperdulikan  kekasihnya yang kembali bersikap kekanakan.

Yuri masih berteriak-teriak histeris kali ini sambil loncat-loncat walau pada kenyataannya dia baru menghabiskan semangkuk ramyun pedas.
“Tolong!!”

“Berisik Kwon!!” teriak Taeyeon kesal. Bagaimana tidak jika dia sedang sakit gigi dan tak ada seorangpun yang mau mengerti keadaannya.

“Yul coba makan sesuatu yang manis.” usul Tiffany. Yuri berhenti meloncat, secepat kilat gadis tanned itu mencari gula ke dapur dan ternyata persedian gula di dorm mereka habis.

“Kenapa bisa habis?” Yuri meratapi nasibnya sementara Hyoyeon hanya bisa memamerkan deretan gigi putihnya. Tadi pagi Hyoyeon mandi susu tapi karena susunya tidak manis jadi dia menambahnya dengan gula -yang banyak.

“Ah benar permen! Siapa yang punya permen?”

Semuanya menggelengkan kepalanya. Yuri hampir menyerah sampai matanya menangkap sosok kekasihnya yang tengah menonton televisi bersama duo maknae. Yuri berlari ke arah Jessica dan langsung mencium bibirnya.

“Ya!! Apa yang kau lakukan?” kesal Jessica.

“Aku sedang berusaha menghilangkan rasa pedas di mulutku. Fany bilang caranya dengan menggunakan sesuatu yang manis, karena bibirmu manis baby jadi aku menggunakannya.” ucap Yuri tanpa rasa bersalah. Jessica tersenyum namun setelahnya dia merendam kepala Yuri di dalam wastafel.

Sementara Sooyoung yang masih terkapar mulai tertawa. Walau setelah ini dia harus menemui dokter setidaknya Sooyoung tau kalau dia sudah menang.

Sementara itu duo maknae yang melihat adegan YulSic…

“U-unie barusan itu apa?” Seohyun bertanya dengan suara terbata.

“Mollayo.” jawab Yoona, tak sadar jika hidungnya mimisan.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Tittle : Si Putri Rapuh
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Lenght : Oneshot
Cast : Jessica jung, Kwon Yuri, Sunny Lee, Choi Sooyoung and Other Cast

Song lyric by :
*Cho Kyuhyun – At Close
*Cho Kyuhyun – Moment of Farewell

Why did I realize this love now?
Why are tears coming now?
Why didn’t I know you?
Love is so… My love is so foolish
.
.
.
.
.

“Permisi.” Yuri berdiri dan membungkukkan tubuhnya. Sementara Jessica masih memandang punggung Yuri dengan airmata yang meluruh di kedua pipinya.

Your back side was really pretty
I finally realized this after seeing you leave
So my heart aches when tears fall
I finally realized this after seeing you cry, after seeing you leave

It’s too late but I’m sorry, I didn’t realize how good you were
I’m such a fool, I’m such a fool
Don’t leave me, although you will leave even if I hold onto you
I’m so pathetic, I’m so pathetic

Why did I realize this love now?
Why are tears coming now?
Why didn’t I know you?
Love is so… Love is so foolish

~~~~~~~~~~~~~~~~

Masih kuingat
Kala itu matahari bersinar hangat
Menyinari semua kecuali satu
Dirimu, malaikatku

Sambil membawa kamera jenis DSLR yang Yuri kalungkan di lehernya gadis tanned itu menyusuri sepanjang aliran sungai Han. Menikmati waktu liburnya, jika Yuri beruntung tentu dia bisa mendapat pemandangan yang bagus untuk di potret. Lumayan untuk menambah koleksi fotonya. Mungkin saja suatu hari nanti saat keadaan sudah membaik Yuri bisa mengadakan pameran hasil jepretannya sendiri. Ya, suatu saat nanti, sampai saat itu tiba Yuri hanya bisa berdoa dan terus berusaha.

Sejak memutuskan untuk kembali ke Korea Yuri memang harus bekerja keras, memeras keringat untuk mencari sesuap nasi nyatanya bukan isapan jempol belaka. Sejak Yuri menolak untuk meneruskan perusahaan sang ayah gadis tanned itu meninggalkan Amerika dan memutuskan kembali ke Korea. Tanah kelahirannya yang juga akan menjadi tempat dimana Yuri memulai segalanya dari awal. Tempat awal dimana Yuri akan membuktikan pada ayahnya jika apa yang selama ini Yuri suka dan apa yang selama ini Yuri yakini -sebagai jalan hidupnya- bukan sesuatu yang pantas dianggap remeh seperti yang selalu sang ayah katakan padanya.

“Kau tidak akan bisa hidup dengan hanya menjadi seorang fotografer!”

“Satu langkah kau meninggalkan rumah ini, kau bukan lagi anakku!!”

Lamunan Yuri terhenti begitu matanya menangkap sesosok gadis yang tengah sendiri. Gadis bertubuh mungil dengan rambut blonde tersebut berdiri di sisi sungai, tidak beranjak sedikitpun walau angin dingin menerpa tubuhnya. Yuri menautkan kedua alisnya, bahkan dirinya saja yang sudah mengenakan mantel tebal masih merasa dingin apalagi gadis ini yang mengenakan pakaian yang terbilang tipis. Angin malam di penghujung musim gugur itu benar-benar luar biasa.

Lama Yuri memperhatikan gadis itu tapi belum ada tanda-tanda si gadis akan beranjak dari tempatnya. Seakan menghiraukan dunia sekitarnya, mata gadis itu masih fokus pada permukaan air sungai yang beriak dan berkilauan terkena cahaya lampu. Yuri tersenyum kecil sebelum mengangkat kamera dan memotret gadis misterius itu diam-diam. Baiklah, Yuri tau jika perbuatan itu sedikit tidak sopan tapi mau bagaimana lagi, Yuri tak bisa menahan dirinya. Gadis itu merupakan objek yang sangat sempurna malam ini.

Atau boleh kusebut putri dari negeri dongeng?
Atau barangkali tidak juga
Kudengar semua putri memiliki akhir bahagia
Tapi sepertinya yang ini berbeda

Yuri tertegun begitu gadis asing itu menangis tanpa suara. Airmata gadis itu membuat Yuri bertanya. Apa gerangan yang membuat objek sempurnanya tersebut bersedih? Apa yang membuat makhluk sempurna itu menitikan air matanya?

Yuri masih terpaku di tempatnya. Karena tidak punya cukup keberanian untuk bertanya akhirnya Yuri membiarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut bersemayam di kepalanya sampai akhirnya si gadis misterius itu pergi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yang satu ini rapuh
Membuatku takut untuk sekedar menyentuhnya
Yang satu ini terluka
Salahkah jika aku ingin melindunginya

Jessica pasrah saja saat sahabatnya -Sunny- menarik tangannya dari kantor. Gadis blonde itu tidak punya tenaga sama sekali untuk berontak.

“Kita makan siang di luar kali ini. Restoran Youngie-ku sedang mengadakan diskon, selain itu kurasa kau butuh suasana baru.” Sepanjang perjalanan Sunny terus berceloteh sementara Jessica hanya memberikan tanggapan sekedarnya. Sisa menangis semalam masih menyisakan bengkak di matanya, masih sangat jelas walau Jessica berusaha semaksimal mungkin menyamarkannya dengan make-up. Jessica yakin Sunny -bahkan semua orang- menyadarinya, tapi Jessica beruntung tak ada seorangpun yang ingin membahasnya.

Jessica tau jika dirinya memang menyedihkan. Menangisi kekasih yang telah meninggalkannya tanpa sebuah jawaban terdengar begitu bodoh. Tapi Jessica tetap tak bisa menyembunyikan perasaan sakitnya terlebih malam kemarin, malam anniversary mereka. Malam yang biasanya mereka rayakan dengan penuh suka cita.

“Nah, kita sampai..” Sunny memarkirkan mobilnya dengan hati-hati. Keduanya lantas melangkah ke dalam dan langsung disambut seorang pelayan.

Sunny sudah memesan makan siangnya sementara Jessica masih membolak-balik buku menu di tangannya. Tidak ada satupun yang menggugah selera gadis berparas dingin tersebut. Sunny berdecak kesal sementara pelayan berkulit kecoklatan yang melayani mereka masih menunggu dengan sabar sambil mengenakan apron dan memegang pulpen dan memo di tangannya.

Jessica masih berpikir, sementara si pelayan masih memandangi Jessica sambil mengulum senyumnya. Tersenyum pada takdir yang mendengar doanya.

“Jika boleh saya sarankan bagaimana kalau Bindaetuk? “

“Nah, itu enak Jess, aku pernah mencobanya. Youngie sendiri yang memasaknya.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Ini namanya takdir Yul. Bukan cuma sebuah kebetulan jika gadis misterius yang kau sukai ternyata sahabat kekasihku. Lakukan langkah selanjutnya buddy.” Sooyoung sibuk berceloteh sambil memasak Chop Chae pesanan untuk meja nomor 9. Yuri tersenyum sambil memandangi Jessica yang tengah duduk bersama Sunny melalui kaca kecil di pintu yang memisahkan pantry dan ruang utama restoran.

Awalnya Yuri tidak sengaja menceritakan semuanya pada Sooyoung -tentang ketertarikannya pada sosok Jessica. Sooyoung yang pada dasarnya bermulut ember tentu tak bisa menyembunyikan fakta menarik itu dari kekasihnya. Setelah Sunny tau, gadis pendek itu jadi bersemangat untuk lebih mendekatkan keduanya. Sunny pikir Yuri adalah orang yang tepat yang bisa mengalihkan pikiran juga perasaan Jessica dari masa lalunya. Sudah terlalu lama Jessica terjebak juga terlalu banyak airmata gadis itu yang tumpah hanya untuk menangisi sesuatu yang tak pasti. Karena hal itulah setiap makan siang Sunny menyeret Jessica dengan paksa ke tempat ini.

Yuri tersenyum sambil meletakkan pesanan Sunny dan Jessica diatas meja. Dua buah Seafood Pancake, Dumplings, Edamamme, Backwoods Blueberry Lemonade juga Black Raspberry ProseccoRita . Namun alis Jessica berkerut begitu Yuri juga meletakkan Chocolate Mousse di mejanya.

“Maaf Yuri-ssi kurasa kami tidak memesan ini.” Jessica menunjuk makanan itu dengan jarinya. Mungkin saja Yuri lupa lalu salah menaruh makanan untuk orang lain di meja mereka.

“Aniyo. Itu dessert baru kami. Karena kalian adalah pelanggan setia maka kami memberikannya secara gratis. Silahkan menikmati.” Yuri tersenyum dan berlalu. Jessica mengangukkan kepalanya dan tidak mempermasalhkan hal itu lebih jauh sementara Sunny mengulum senyumnya. Gadis pendek itu tau Yuri berbohong soal hal gratis tersebut. Yuri memang sengaja memberikan cake itu untuk Jessica. Bukan cuma cake kadang-kadang gadis tanned itu juga membelikan coffe, ice cream, waffle atau yang lainnya. Hal itu terus berlangsung selama setahun penuh.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica masih terpaku pada layar laptopnya. Kliennya kali ini meminta Jessica membuat konsep unik untuk pesta pernikahan mereka. Sebagai seorang weeding planner yang baik tentu Jessica tak ingin klien yang sudah percaya padanya kecewa. Maka dari itu sejak beberapa jam lalu Jessica sibuk menjelajah dunia maya, berharap bisa menemukan inspirasi.

Berbeda dengan Jessica Sunny terlihat lebih santai. Sambil memandangi Jessica, Sunny memutar-mutar pulpen di tangannya.

“Kudengar Yuri baru pindah ke dekat apartemenmu.”

“Dia tetanggaku sekarang.”

“Jessie kalau menurutmu Yuri bagaimana?” Sunny bertanya, Jessica menoleh sebentar kearah yeoja pendek tersebut sebelum kembali fokus pada pekerjannya. Matanya bergerak cepat sementara jari-jari kurusnya menari lincah diatas keyboard. Disisi lain Sunny jadi tidak sabar menunggu jawaban sahabatnya. Pasalnya siapapun tau selama ini Yuri selalu menunjukkan perasaannya secara terang-terangan tapi Jessica tidak pernah memberikan respon. Hal itu membuat Sunny bertanya, selama ini kira-kira apa yang ada dalam benak sahabatnya.

“Dia baik.” jawab Jessica singkat. Sunny menjadi gemas karena sikap acuhnya.

“Hanya itu?”

“Memangnya kau ingin mendengar apa lagi?” Jessica balik bertanya.

“Aku cuma mau bilang saja jika Yuri itu sangat tampan. Jika kau terus ‘menggantungnya’ tidak lama lagi akan ada seseorang yang mengambilnya darimu.” Sunny bergurau.

Yang satu ini rapuh
Membuatku takut untuk sekedar menyentuhnya
Yang satu ini terluka
Salahkah jika aku ingin melindunginya

Sepulang kerja Jessica memutuskan menggunakan bis untuk pulang namun malang karena sifat pelupanya gadis berambut blonde itu justru harus terjebak di halte. Seoul yang hari itu cerah mendadak diguyur hujan lebat dan Jessica yang lupa membawa payung tidak bisa kemana-mana. Beruntung Yuri datang dan membawa payung untuknya.

“Aku sengaja datang karena bibi  pemilik apartemen bilang kau meninggalkan payungmu di depan pintu.”

Setelahnya, mereka berjalan berdampingan di bawah satu payung dalam keheningan. Yuri menoleh pada Jessica yang hanya melihat kedepan. Gadis bertubuh mungil tersebut sedikit mengigil, blazer yang membungkus tubuhnya juga agak basah terkena cipratan air hujan. Yuri tersenyum kecil, walau semua orang takut pada gadis berparas dingin ini tapi Yuri berbeda. Yuri merasa Jessica sengaja bersikap sedingin itu untuk menyembunyikan lukanya, Jessica adalah gadis yang kuat, yang tak ingin seorangpun mengasihaninya. Sejak pertama Yuri melihat gadis ini menangis malam itu, sesuatu dalam diri Yuri membuatnya ingin melindungi Jessica. Walau selama ini Jessica terkesan membangun benteng pembatas yang sangat kokoh diantara mereka.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi-pagi sekali Jessica berteriak histeris karena saat dia bangun seekor kecoa terbang dan mendarat tepat di wajahnya. Yuri segera berlari ke tempat gadis itu dengan khawatir. Takut terjadi apa-apa pada Jessica. Setelah mengetahui hal apa yang membuat gadis yang disukainya menjerit histeris Yuri berusaha keras menahan tawanya. Perlahan Yuri menghampiri Jessica yang masih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Gwenchana, dia sudah pergi.”

“Jinja?” Jessica mengintip dari balik selimut seperti anak kecil dan menemukan Yuri yang tersenyum padanya. Bukan, bukan tersenyum tapi tertawa. Yuri berpikir jika Jessica yang tengah ketakutan sangat menggemaskan.

“Ya!! Jangan menertawaiku!” Hal itu tentu saja membuat Jessica kesal.

Jessica tengah kesulitan dengan beberapa kantung belanjaan, Yuri langsung mengambil alih barang-barang itu darinya. Seiring berjalannya waktu keduanya semakin dekat tapi hubungan mereka hanya sebatas teman. Jessica tersenyum dan membiarkan gadis tanned itu membawakan barang-barangnya. Yuri itu baik, terlalu baik malah. Sering kali Jessica merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaan gadis tanned tersebut.

Walau begitu Jessica tak pernah meminta Yuri pergi. Jessica tau dia telah bersikap egois dengan menolak untuk melepas masa lalunya dan membiarkan Yuri di sisisinya di saat yang bersamaan.

“Sica kau ingin makan apa malam ini? Aku bisa memasaknya untukmu.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica sedang melakukan sedikit renovasi pada apartemennya . Gadis blonde itu merasa sudah bosan dan ingin mencari suasana baru karenanya Jessica ingin mengubah warna cat di ruangannya. Yuri yang sebenarnya hanya membantu berakhir mengerjakan semua yang harus Jessica lakukan. Sementara Yuri mengecat Jessica duduk diatas sofa dan tertawa padanya. Yuri memandang gadis blonde itu heran.

“Kau terlihat seperti zebra Yul.” Jessica terus tertawa sambil memegangi perutnya. Cat yang Yuri gunakan sebagian melumuri tangan dan wajahnya.

“Mwo? Zebra?”

“Ne. Lihat penampilanmu Yul. Hitam dan putih.”

“Mwoya?! Aku tidak hitam. Warna kulitku ini disebut eksotis.” Yuri menggembungkan kedua pipinya protes.

“Sama saja.” balas Jessica sambil menjulurkan lidahnya. Yuri menghampiri gadis blonde itu dengan kesal.

“Y-ya! Apa yang akan kau lakukan?”

“Menggelitikimu.” Yuri tersenyum evil sementara Jessica membulatkan matanya dan mulai berlari menghindar.

“Ya! Kwon Yuri jangan coba-coba!”

“Ahahaha.. berhenti disitu Sica!”

Mereka berdua terus berlari seperti anak kecil. Yuri yang pada dasarnya lebih cepat bisa meraih ujung baju Jessica namun sedetik kemudian gadis blonde itu menepis tangannya. Jessica berlari ke dalam kamarnya dan membanting pintunya keras. Yuri meringis kesakitan sambil memegangi hidungnya yang terkena hantaman pintu.

“Babo! Ini salahmu sendiri kan? Harusnya kau tidak mengejarku.” Sambil mengompres hidung Yuri, Jessica terus mengomelinya.

“Sica.. kau terlihat semakin sexy saat marah. Sexyca!”

“Babo!” perkataan Yuri sukses membuat Jessica menoyor kepalanya hingga gadis itu terjungkal kebelakang. Yuri memanyunkan bibirnya sambil mengusap-usap pantatnya yang sakit. Jessica sepertinya senang sekali membuat dirinya tersiksa.

“Apa princess Jessica sudah siap?” Yuri tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Hari ini mereka akan menghadiri pesta pernikahan Sooyoung dan Sunny.

“Terimakasih Prince Yul.”  Jessica balas tersenyum dan mengaitkan tangannya di tangan Yuri. “….yang hitam.” lanjut Jessica sambil tersenyum jahil.

“Selalu seperti itu.”

Pesta pernikahan Sooyoung dan Sunny berlangsung meriah. Yuri dan Jessica berada disana hingga larut. Semua orang merasa turut berbahagia untuk Sooyoung dan Sunny begitupun Jessica. Siapa sangka gadis pendek tukang aegyo di SMA mereka akhirnya menjadi seorang istri.

Di dalam taksi yang membawa mereka pulang, Yuri dan Jessica tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jessica terus berpikir, orang itu juga pernah berjanji akan menikahinya. Jika saja gadis itu tidak menghilang tanpa kabar apa mungkin sekarang Jessica sudah menjadi seorang istri seperti Sunny?

“Sica tunggu!” Jessica yang bermaksud masuk ke dalam apartemennya terhenti begitu Yuri memanggil namanya. Gadis yang lebih tinggi itu berdiri beberapa langkah dari Jessica.

“Jessica aku ingin mengatakan sesuatu.” Yuri tersenyum gugup sambil terus mengusap tengkuknya. Jessica menghela nafas mengetahui akan kemana pembicaraan ini.

“Mianhe Yuri-ah jangan sekarang. Aku lelah sekali. Selamat malam.” Ujar Jessica sambil membukan pintu apartemennya dan masuk ke dalam. Meninggalkan Yuri yang tampak kecewa.

“B-baiklah. Selamat malam.” Yuri menundukkan kepalanya dan berbalik. Gadis tanned itu memasuki apartemennya dengan lemas. Yuri mengerti, mungkin sampai saat ini Jessica belum siap menerima hatinya.

Tepat setelah masuk Jessica menyandarkan punggungnya ke pintu. Satu-satunya alasan Jessica buru-buru pergi karena dia tak sanggup melihat wajah sedih Yuri. Jessica tak cukup kuat untuk menerima fakta jika dirinya sudah menyakiti perasaan gadis tanned itu untuk kesekian kalinya. Jessica tau dirinya tidak bisa menerima Yuri lebih dari apa mereka sekarang. Walau begitu Jessica berharap tak ada satupun yang berubah di antara mereka.

“Mianhe.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kusebut diriku ‘penjaga’
Karena aku memang menjaga hatinya
Hati putri rapuh yang pada akhirnya kusadari
Selamanya takkan pernah kumiliki

Kehidupan Jessica dan Yuri berjalan seperti seharusnya. Gadis blonde itu bersyukur tak sedikitpun Yuri merubah sikapnya. Semuanya berjalan baik sampai masa lalu Jessica datang dengan membawa luka lama juga pertanyaan yang tak kunjung terjawab.

“Taeyeon-ah..” Jessica mendekap wajah Yuri. Gadis blonde yang mabuk itu lantas mencium bibir Yuri. Jessica terus melumat bibir gadis tanned itu sambil menangis, keduanya menangis.

“S-sica geumanhae..”

Tak bisa kusebut diriku penyembuh luka
Bagaimana bisa jika sang putri tak pernah bernafas untukku
Jika sang pangeran datang kembali
Lantas harus kemana kubawa diri ini?

“Sica.. kau akan pergi?” Yuri bertanya dengan suara serak. Gadis tanned itu tau suatu hari saat seperti ini akan tiba namun jauh di dalam lubuk hatinya Yuri masih berharap Jessica mau melihat hatinya sekali lagi.

“Mianhe Yuri-ah..” Jessica meninggalkan apartemen mereka tanpa berbalik lagi. Jessica tau dia akan berubah lemah saat menatap wajah Yuri.

Yuri menangis sambil menatap punggung Jessica yang menjauh dari pandangannya, juga menjauh dari hatinya.

“Yul Jessica memberikan undangan ini untukmu.” Sooyoung memberikan undangan itu pada Yuri seraya menatap sahabatnya tersebut dengan pandangan iba.

“Nona Yuri  tuan sedang sakit keras dan beliau meminta anda kembali.”

“Sampai jumpa Yul.” Sooyoung memeluk Yuri untuk terakhir kalinya. Ya, pada akhirnya Yuri memutuskan untuk menyerah pada Jessica, pada perasaan, pada mimpinya juga pada apa yang selama ini diyakininya.

I’m holding onto you, I’m trying
But the thoughts in my head are scattering in this moment

You didn’t hate me enough to break up
But you didn’t care enough to love me
You already brought your cold words one by one
And I have nothing really to say

We each have different memories
Maybe I feel sorry, maybe I want to run away right now
I’m just filled with resentment during the moment of farewell
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END