Posts Tagged ‘ff snsd’

Tittle : Oh My Ghost
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Gender Bender, Drama, Supranatural
Lenght : Series
Cast :
Kwon Yul
Jung Sooyeon
Kim Taeyeon
Im Yoong
Cho Kyuhyun
Choi Sooyoung
Seo Juhyun
Kim Heechul
Lee Junho
Kim Shinyoung
Other Cast

Disclaimer : This is Soshi Version of Drama ‘Oh My Ghost’. The Drama belong to TvN. The Plot and The Cast is not mine. Just For Fun.

Part : 2

 

Menjadi satu-satunya pekerja wanita otomatis membuat Sooyeon menjadi satu-satunya orang yang selalu keluar restoran terakhir. Malam ini cerah, setelah menatap langit malam beberapa saat gadis itupun melangkah pergi. Ada satu tempat yang ingin ditujunya malam ini. Pasar tradisional.

Kali ini bahan makanan yang dibeli Sooyeon cukup banyak. Gadis bertubuh mungil itu bahkan harus menyeret langkahnya saat berjalan. Tidak lama setelahnya Sooyeon sampai di kamarnya. Apartemen yang disewanya merupakan kamar kecil yang dipenuhi berbagai penangkal hantu seperti kertas-kertas jimat bertuliskan mantra, tempat pembakaran dupa, salib sampai bawang putih. Meski siapapun tahu di Korea tidak ada vampire.

Sooyeon ingat sejak masih anak-anak ia selalu bercita-cita menjadi chef terkenal. Mungkin karena itu pula ia rela bekerja di Sun Restauran meski setiap hari harus rela dimarahi. Bukankah hidup itu butuh perjuangan? Meskipun pahit selalu ada satu hal yang membuat kita semangat. Hal kecil namun sangat berarti. Kenangan yang membuat hati hangat. Sooyeon memilikinya tentu saja, salah satu kenangan masa kecilnya.

Kenangan masa kecil yang membuatnya ingin membuat bubur kubis malam ini.

Sejak kecil Sooyeon merupakan anak yang lemah dan sering sekali mengalami masalah pencernaan. Setiap hal itu terjadi sang nenek selalu membuatkannya bubur kubis. Sambil memotret semangkuk bubur kubis yang telah matang Sooyeon tersenyum, ia ingat bagaimana dulu neneknya suka menakutinya dengan jarum akupuntur jika Sooyeon tidak mau memakan bubur kubis itu.

”Memikirkan nenekku tidak hanya melegakan perutku tapi juga hatiku. Maka dari itu hari ini aku memposting resep bubur kubis ini.” Tulis Sooyeon dalam blog pribadinya. Satu rahasia dari Sooyeon yang tidak diketahui siapapun.

***
 

Keesokan harinya Sun Restoran dihebohkan oleh kedatangan Narsha Park. Seorang blogger makanan yang bahkan lebih terkenal dari selebritis. Sebutkan satu saja restoran terkenal di Korea yang belum pernah masuk situsnya, niscaya kau takkan menemukan satupun.

“Aku sangat iri padanya, kerjaannya cuma memotret dan menulis tapi dia sangat kaya.” Sooyoung bergumam sambil memandangi Narsha yang sedang sibuk dari balik meja pantry. Jenis pekerjaan Narsha adalah jenis pekerjaan yang membuat banyak orang iri.

Beberapa saat kemudian kedua alis Narsha berkerut setelah memandangi hasil bidikan kameranya. Gambarnya kurang bagus.

“Pelayan kemarilah.” Panggilnya pada Sooyeon.

“Ne?”

“Tolong panaskan mie ini. Hasil fotoku jadi kurang bagus karena mienya sudah dingin.” Perintah Narsha. Sooyeon ragu melakukannya, ada dua alasan. Pertama, mie pesanan Narsha merupakan buatan Chef, selama ini tidak ada seorangpun yang berani menyentuh masakan buatan Chef. Kedua, juga merupakan alasan yang paling penting, jika dihangatkan kembali maka mienya akan menjadi lembek.

Meski begitu Narsha tidak peduli, sebagai seorang blogger yang sudah bertahun-tahun bergelut dalam dunia kuliner Narsha tentu lebih berpengalaman dari seorang pelayan yang mungkin belum genap setahun bekerja di restoran. Wanita bermarga Park itu tetap memaksa Sooyeon dengan nada arogan.

“Kau lihat apa yang terjadi barusan?” Tanya Sooyoung. Junho menganggukkan kepalanya.

“Penilaianku berubah sekarang, daripada wanita dengan pekerjaan impian kurasa dia lebih seperti pemaksa yang berbicara seenaknya tapi memiliki sejuta pengikut.”

“Bukankah itu pengaruh internet, lagipula sekarang orang-orang lebih percaya apa yang ingin mereka percayai, tidak peduli apakah itu benar atau salah.”

“Kau benar.”

Minjun –anak Narsha- merengek minta di perhatikan ibunya. Anak berusia lima tahun itu merasa bosan karena sudah berjam-jam ia menemani sang ibu bekerja.

“Tunggu sebentar lagi sayang.” Ujar Narsha dengan tatapan tak lepas dari kamera di tangannya. Barulah setelah sang anak hampir tersiram kuah pasta panas yang dibawa Sooyeon perhatian Narsha kembali ke dunia nyata.

Sooyoung, Junho, Yoong dan Heechul ikut menoleh begitu Sooyeon menjerit. Minjun tiba-tiba menabrak Sooyeon dan hampir membuat mangkuk mie di tangannya jatuh, beruntung Sooyeon masih bisa menahannya, meski pada akhirnya tangannya harus tersiram kuah panas.

Narsha buru-buru menghampiri anaknya, beruntung Minjun sama sekali tak terluka. Walau begitu hal itu tak lantas membuat kegeramannya pada Sooyeon mereda. Ia tak habis pikir bagaimana restoran yang begitu terkenal memperkerjakan gadis sembrono seperti ini. “Kenapa kau ceroboh sekali saat membawa makanan panas?! Bagaimana kalau anakku sampai terkena luka bakar?!”

Sooyeon hanya bisa menunduk dan meminta maaf berkali-kali. Narsha yang tidak peduli terus saja bicara.

Yul yang baru muncul langsung berbicara pada Minjun. “Hai nak, siapa namamu?”

“Minjun.”

“Minjun-ah apa kau sudah masuk taman kanak-kanak?”

“Ne.” Minjun menganggukkan kepalanya.

“Apa kau tahu tidak boleh berlari-lari di dalam ruangan?”

“Ne ahjussi.”

“Sekarang apa kau tahu apa yang harus dilakukan saat kau salah?”

“Minta maaf.”

Saat Minjun mengakui kesalahannya, Narsha jadi tambah emosi dan tidak terima dengan perlakuan Yul.

“Anda marah karena saya mendisiplinkan anak anda? Saya juga marah karena anda mendisiplinkan pegawai saya.” Ujar Yul. “Kenapa menyalahkan orang yang tidak bersalah kalau anda sendiri yang tidak bisa mengontrol anak anda?”

“Situasi menggelikan macam apa ini?” dengus si blogger kesal.

“Aku tahu, memang menggelikan bukan? Menyuruh supnya dihangatkan padahal jelas-jelas mienya bisa jadi lembek. Dan saat mienya tidak enak anda-“

“Oppa!” Seohyun langsung menyela untuk memperingatkan Yul untuk tutup mulut tapi Yul tidak peduli. Yul tidak terima Narsha menyalah-nyalahkan Sooyeon atas kesalahan yang tidak gadis itu perbuat.

Pertengkaran keduanya semakin memanas, Sooyoung dan ketiga rekannya yang lain menonton dari balik meja pantry dengan takut-takut. Siapa sangka masalahnya bisa sepanjang ini. Yul dan Narsha masih beradu argument, Seohyun berusaha melerai keduanya tapi begitu melihat Seohyun yang terduduk diatas kursi roda, Narsha lantas mengatakan hal yang benar-benar kelewat batas. “Huh, sepertinya tidak ada orang normal di tempat ini.”

Seketika itu pula kemarahan Yul semakin memuncak. Narsha boleh menghina Yul, menghina masakannya, ataupun menghina restorannya, Yul tidak peduli. Tapi tak ada seorangpun yang boleh merendahkan adiknya. Siapapun itu Yul takkan membiarkannya, sekalipun seorang wanita.

Tanpa berpikir dua kali Yul menyeret Narsha dan anaknya keluar Sun Restaurant. “Maaf karena restoran kami hanya melayani pelanggan yang normal saja.”

Narsha berlalu dengan emosi memuncak. Sepanjang Yul masih bisa mendengarnya, blogger tersebut terus saja meneriakkan berbagai macam ancaman. Sementara Sooyeon yang berdiri di samping Yul terus menerus meminta maaf pada si blogger.

Yul jadi tambah kesal melihat sikap pegawainya yang satu itu. Terlebih lagi setelah meminta maaf pada si blogger, Sooyeon malah minta maaf lagi padanya.

***

Saat Yul membawanya ke halaman belakang restoran untuk di omeli, Sooyeon tampak gemetaran hebat. Untuk kesekian kalinya –karena sudah tak terhitung- Sooyeon membungkuk meminta maaf dan menyalahkan dirinya sendiri atas penyebab insiden tadi.

“Kau tahu apa yang tidak kusukai darimu? Sikapmulah yang membuatku kesal!” gerutu Yul.

Sooyeon selalu saja meminta maaf dan menyalahkan dirinya sendiri dalam situasi apapun, baik dia bersalah ataupun tidak. Bersikap seperti itu bukan berarti Sooyeon berbuat baik, justru sikapnya ini malah membuat orang lain di sekitarnya jadi tampak jahat. “Apa kau mengerti?”

“M-maafkan a-aku Chef.”

Yul menggelengkan kepalanya. Sooyeon sama sekali tidak mengerti inti dari omelannya dan membuat Yul mendesah frustasi. “Dapur bukanlah tempat yang mudah. Tempat ini adalah medan perang. Hanya orang-orang yang kuat saja yang mampu bertahan. Kau tidak akan punya kesempatan jika kau terus-terusan membuat dirimu jadi orang lemah.”

“Chef-“

“Daripada menjadi orang bodoh yang keras kepala dan membuat orang lain muak, pikirkan baik-baik apakah sebenarnya kau cocok di dapur atau tidak?!” Yul berlalu setelah mengatakannya sementara air mata Sooyeon perlahan menetes diatas kulit tangannya yang terasa menyengat.

 

***

 

Saat Yul kembali ke ruangannya, Seohyun sudah lebih dulu ada disana, menunggunya dengan cemas. Dari ekspressi Yul, Seohyun tahu sang kakak sudah memarahi Sooyeon habis-habisan.

“Oppa itu bukan kesalahan Sooyeon, lagipula menjadi baik bukan sebuah kejahatan.”

“Menjadi baik adalah sebuah kejahatan.” Sahut Yul.

“Pakai ini!” Sooyeon mendongak dan mendapati Yoong menyodorkan krim luka bakar padanya.

“Wanita itu jangan sampai mempunyai bekas luka.”

“Gomawo.”

“Ngomong-ngomong apa kita akan baik-baik saja? Narsha Park adalah blogger yang cukup berpengaruh.” Tanya Seohyun cemas.

“Memangnya blogger itu semacam jabatan resmi apa?” Yul kembali menggerutu. Entah kenapa akhir-akhir ini blogger jauh lebih menyebalkan daripada reporter. Siapa mereka berani member rating? Atas dasar apa penilaian mereka? Memangnya siapa yang ingin dia bohongi?

”Hariku sudah cukup buruk, apalagi yang mungkin lebih menyebalkan?” tepat setelah berkata seperti itu, sebuah pesan masuk di ponsel Yul. Sebuah undangan reuni SMA.

“Pesan dari siapa?”

“Bukan dari siapa-siapa. Hanya spam.” Yul langsung menghapusnya.

Kenapa? Karena saat SMA Yul memiliki kenangan yang tidak begitu menyenangkan. Satu-satunya alasan kenapa Yul tidak menyukai sifat Sooyeon karena, tiap kali melihat Sooyeon, Yul seperti bercermin pada masa lalunya.

 
Kelas sudah lama usai sementara Yul menjadi orang terakhir yang meninggalkan sekolah. Hari itu cuacanya tak begitu bersahat, angin musim gugur yang berhembus mulai membuatnya menggigil. Meski begitu Yul -sebagai anak terbully- harus rela mengerjakan tugas piket Dongju. Benar-benar cara menyedihkan untuk merayakan ulang tahun.

 

Sesampainya di rumah perasaan Yul tak lantas menjadi lebih baik. Terlebih setelah membaca pesan dari ibunya. Hari ini -di hari ulang tahunnya- sang ibu lagi-lagi tak ada. Tiap kali Yul menapakkan kakinya di tempat bernama rumah, hanya kesunyian yang setia menyambut kedatangannya.

 

Hari itu, sebagai tanda perayaan, ibunya menyuruh Yul memesan kimbab tapi Yul lebih memilih memanaskan air untuk memasak mie. Setidaknya hanya mie yang selalu ada untuknya.

 

Sementara itu kata-kata Yul masih terngiang-ngiang dikepala Sooyeon tak peduli seberapa keras gadis itu berusaha melupakannya. Sekarang Sooyeon bahkan tidak berani memandang wajah atasan killernya.

 ***

Dua orang polisi baru saja selesai makan malam di sebuah warung..

“Ne, aku akan datang sebentar lagi.” ujar Kyuhyun sambil membayar pada pemilik warung. Disampingnya Kangin pura-pura bergidik ngeri. Memang tidak ada yang bisa menandingi kemesraan pengantin baru.

“Sunbae bisa saja. Lagipula kami bukan pengantin baru. Bulan depan adalah perayaan anniversary kami yang pertama.” Kyuhyun kembali tersenyum. Waktu rasanya cepat berlalu sementara Kangin tertawa pada tingkah rekan kerjanya yang bersikap layaknya abg pubertas.

Beberapa saat setelahnya paman Kim datang sambil memberikan kembalian.

“Paman tunggu!” cegah Kyuhyun. Paman Kim berbalik dengan wajah bingung. Barulah setelah Kyuhyun memberitahunya bahwa uang kembaliannya lebih paman Kim mengerti. Menjadi tua tentu bukan pilihan. Ia sudah terlalu tua untuk mengerjakan semuanya seorang diri.

“Ngomong-ngomong dimana Jongin?”

“Aku juga tidak tahu kemana perginya anak itu.” keluh paman Kim. Tidak seperti kakaknya, anak termuda keluarga ini -Jongin- sama sekali tak bisa diandalkan.

Kyuhyun tersenyum simpati pada pria paruh baya itu. Mereka sudah saling mengenal sejak Kyuhyun dipindahtugaskan dari Daegu ke Seol. Ia paham betul mengapa paman Kim selalu terlihat kelelahan, ia juga paham betul kenapa senyum pria paruh baya itu tak setulus seperti pertama kali Kyuhyun menginjakan kaki di restoran sederhana ini. Meski begitu Kyuhyun hanya menyimpan alasan itu untuk dirinya sendiri.

Restoran paman Kim dulu sangat terkenal dan selalu ramai. Saat makan siang antrian bisa sangat mengular. Namun kini, bisnisnya sedang tidak terlalu baik. Banyak hal yang sudah berubah. Meski begitu Sampai saat ini Kyuhyun tidak sampai hati berpindah ke lain tempat. Walau tak dipungkiri Kangin sering sekali protes jika Kyuhyun mengajaknya makan di tempat ini.

“Kurasa sesekali kita harus makan di Sun Restaurant. Bukankah pasta buatan kakak iparmu sangat terkenal?” tanya Kangin semangat. Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan menuju Sun Restaurant. Tentu saja karena Kyuhyun akan menjemput istrinya, Seohyun.

 

***

 

Setelah menyerahkan Seohyun pada suaminya, Yul mendatangi sebuah pembukaan restoran yang dijalankan salah satu hoobae-nya.

“Semuanya terlihat seperti dapurku.” komentar pria tanned itu saat mengelilingi dapur milik Suho. Sementara Suho menanggapinya dengan gelak tawa.

“Itu karena aku sangat mengidolakan sunbae.”

Setelahnya acara puncak yang paling ditunggu pun tiba. Mendengar komentar Yul untuk masakan di restoran ini. Yul memasukan sesendok pasta ke mulutnya lalu mengunyahnya pelan. Pria tanned itu terdiam cukup lama, dan Suho pikir itu merupakan salah satu detik terpanjang dalam hidupnya.

“Kau tidak akan bangkrut.” Suho baru bisa bernafas lagi setelah Yul berkomentar seperti itu dengan nada jahil. Kata-kata Yul barusan juga bisa diartikan jika masakan Suho enak.

“Selain rasanya enak, teksturnya juga bagus.” lanjut Yul. Semuanya bersorak, merasa senang dengan penilaian Yul.

“Apa itu artinya sekarang aku sudah sejajar denganmu hyung?” Suho bertanya dengan mata berbinar.

“Eiii tentu saja tidak.” Protes Yul kekanakan. “karena aku adalah dewa yang masakannya memiliki citarasa surga, sementara kalian cuma manusia biasa.”

Ini dia Yul serta kepercayaan dirinya yang kadang-kadang menyebalkan.

“Ya! Tidak semua orang bisa mendengar nasehatku jadi dengarkan baik-baik. Jangan main-main dengan makanan. Apa yang kalian taruh diatas piring bukan cuma makanan tapi juga wajah kalian.”

***

Sooyeon baru sampai di kamar kosnya dan hal pertama yang dilakukan gadis itu adalah membakar dupa. Ritual yang selalu dilakukannya setiap malam untuk mengusir roh jahat –atas saran nenek. Bagaimanapun juga jika dunia merupakan lapangan tempat ia berperang maka kamar kos yang sempit ini merupakan tempat ternyaman Sooyeon untuk bersembunyi dari apapun yang ada diluar. Meski begitu belum sampai semenit bapak kos langsung membuka pintu kamarnya. Sooyeon buru-buru mematikan dupa tersebut tapi terlambat, lelaki paruh baya itu sudah terlanjur menangkap basah dirinya.

 Tuan Lee langsung memandang gadis pendiam itu dengan pandangan tak suka. Di kosan sempit dan tak memiliki ventilasi seperti yang dihuni Sooyeon, menyalakan dupa tentu bukan hal yang diperbolehkan. Selain menganggu para penhuni yang lain, jika tidak berhati-hati tuan Lee takut akan terjadi kebakaran.

“Sudah cukup aku memberimu toleransi nona Jung, mulai besok cari tempat tinggal yang lain saja.” Omel tuan Lee sambil berlalu.

Sooyeon tentu merasa sedih, tambah lagi satu kesulitan dalam hidupnya. Meski airmata sudah mengenangi sudut matanya, Sooyeon enggan menangis. Gadis itu duduk di sisi tempat tidurnya sementara pandangannya tertuju pada sebuah scrapbook yang berisi guntingan artikel-artikel majalah.

Sooyeon membuka halaman pertama benda itu dan menemukan Yul sedang tersenyum di dalamnya. Lalu di halaman kedua, ketiga dan seterusnya. Sooyeon ingat betul ia sudah mengidolakan Yul sejak SMA dan mengingat bagaimana kata-kata Yul begitu menginspirasinya untuk menjadi seorang chef juga. Meski begitu kata-kata Yul yang menyuruhnya untuk memikirkan baik-baik tentang apakah dia cocok di dapur atau tidak membuat keyakinan dan rasa percaya diri Sooyeon menjadi kerdil. Barangkali ia memang tidak bisa melakukan satu hal pun tanpa mengacaukannya kemudian. Termasuk melakukan hal disukainya.

Selanjutnya Sooyeon merobek sebuah kertas dan menulis surat.

***

Pintu restoran Suho berdenting sekali begitu seorang wanita cantik datang ke acara pembukaan restoran Suho. Semua pria menyambutnya dengan senang, Suho berdiri dan memperkenalkan wanita itu pada chef yang lain.

“Semuanya perkenalkan ini adalah Park Gyuri noona.” Kata Suho seiring dengan Gyuri yang memamerkan senyum termanisnya. Yul menatapnya sekilas lalu menganggukkan kepala, diantara yang lainnya mungkin Yul satu-satunya yang nampak kurang tertarik dengan kehadiran gadis itu.

“Oh iya hyung, minggu depan Gyuri noona berulang tahun dan noona ingin hyung menangani bagian makanannya.” Ujar Suho.

“Itu karena semua temanku adalah fansmu, chef Kwon.” Tambah Gyuri malu-malu.

Yul tertawa lalu menjawab dengan nada bercanda. “Tapi bagaimana ya, bayaranku cukup mahal nona Park.”

“Aku bersedia meminta berapapun yang anda minta tuan Kwon.” Balas Gyuri dengan santai. Kali ini Yul hanya menjawab dengan senyuman simpul.

“Hyung bisa meminta sangat banyak. Dia putri pemilik Young Chang Grup.” Bisik Suho dengan suara yang tak begitu pelan.

“Sebenarnya aku ingin menerimanya karena kau cantik tapi sepertinya aku ada janji hari itu, jadi maaf.” Tolak Yul.

 Malam beranjak larut dan itu menjadi alasan pria tanned itu untuk tidak berlama-lama disana.

“Kenapa harus cepat sekali hyung?” rengek Suho sambil mengantar sunbaenya sampai halaman depan.

“Itu karena aku masih ada urusan penting.”

Sebelum Yul benar-benar pergi ia menyerahkan amplop berisi uang untuk Suho. Sebuah bantuan kecil untuk bisnis barunya. Bagaimanapun Yul selalu suka pada anak muda yang memiliki semangat berbisnis. Awalnya Suho menolak tapi Yul tahu pria bermarga Kim itu hanya  malu.

“Hyung, kau tidak perlu sampai melakukannya-“

“Jangan banyak bicara! Terima saja!”

Suho menerima amplop tersebut dan melihat isinya, ia tersenyum lebar. “Saranghaeyo hyung!” 

*** 

Selesai urursan dengan Suho, Yul memutuskan untuk pergi ke pasar ikan. Mencoba melihat apa yang bagus disana, sekaligus memikirkan apa menu special untuk besok. Ditemani segelas kopi yang ia beli dari warung langganannya Yul menyusuri satu toko ke toko yang lain. Karena sudah sering datang kemari beberapa pedagang bahkan sudah mengenalnya dengan baik.

Setelah menulis suratnya Sooyeon berjalan ke dalam restoran dengan langkah lesu. Saat itu larut malam jadi tidak ada seorangpun disana. Sesaat, Sooyeon memandangi tiap sudut restoran itu dengan pandangan sedih. Meski tidak semua kenangan menyenangkan tapi restoran ini sudah seperti rumah kedua baginya. Sooyeon menghela nafas dan menaruh suratnya diatas meja.

Sooyeon baru saja akan pergi saat Yul tiba-tiba datang sambil membawa sekotak ikan yang ia beli dipasar beberapa saat lalu. Yul tentu saja keheranan melihat Sooyeon.

“Apa kau baru datang atau baru mau pulang?”

“Saya barusan datang, ah aniyo, saya mau pulang..” gumam Sooyeon gugup –seperti biasa. Sooyeon merasa perlu melarikan diri sebelum Yul melihat surat yang ditinggalkannya di meja.

“C-chef aku akan membantumu membawanya ke ruang penyimpanan.” Sooyeon menunjuk kotak berisi ikan yang ada di tangan Yul. Gadis itu buru-buru pergi setelah Yul memberikan kunci gudang padanya.

*** 

Dikamarnya, setelah selesai berganti baju Yul memutuskan untuk bersantai. Ia makan semangkuk ramen seraya menggoogling namanya sendiri. Yul langsung kecewa begitu mendapati namanya turun jadi nomor 3 dalam urutan nama chef terpopuler, tepat dibawah nama chef Shindong. Ia lebih kesal lagi saat mendatangi blognya chef Shindong dan menemukan banyak postingan foto chef berbadan subur itu bersama berbagai selebriti terkenal. Yul yakin sekali Shindong melakukannya karena kemampuannya kurang.

Beralih dari blog chef Shindong sekarang Yul membuka sebuah blog bernama YOU’RE MY SUNSHINE yang memposting resep bubur kubis. Yul berdecak kagum begitu membaca motto blog tersebut. “Kebahagiaan hidup, memimpikan meja yang hangat.”

Yul tersenyum membaca postingan sang blogger, meski hanya lewat tulisan ia bisa merasakan ketulusan sang blogger. Yul jadi bertanya-tanya, apa mungkin pemilik blogger ini merupakan seorang chef?

ILoveStrawberry : Sunshine-nim, masakanmu selalu mengandung kebahagiaan yang bisa dirasakan lewat citarasa. Aku adalah fan-mu. Fighting!

Yul menekan tombol kirim dan dengan begitu komentarnya tertinggal disana. Ia tersenyum.

Sementara diluar, Sooyeon memandangi gedung Sun Restaurant untuk terakhir kalinya. Mengingat semua kenangan saat ia bekerja disana. Bagaimana dulu Yul menyambut kedatangannya sebagai pegawai baru dengan wajah kakunya tapi walau begitu Sooyeon tersenyum amat bahagia. Betapa takutnya Sooyeon saat Yul marah-marah pada Sooyoung karena masakannya tidak enak. Dan saat Yul memeluknya dari belakang untuk mengajarinya cara mengiris bawang dengan benar, hal yang membuat Sooyeon gugup  sekaligus bahagia.

Chef aku ingin berterimakasih padamu karena sudah mau menerima orang sepertiku.
 Orang yang selalu membuat orang lain disekelilingnya kesusahan.
Aku selalu ingin melakukan yang terbaik tapi entah kenapa semua selalu berakhir tidak pada tempatnya.
Perkataanmu kemarin membuatku sadar chef, ingin melakukan sesuatu dan bisa melakukan sesuatu adalah dua hal yang berbeda.
Aku juga ingin minta maaf padamu dan semua orang di restoran atas semua masalah yang aku timbulkan.

Selamat tinggal.

 

Tapi ada kata-kata yang tidak bisa Sooyeon katakan dalam suratnya. “Aku belajar satu hal lagi berkatmu, chef. Perasaan manusia itu seperti demam. Sekali dimulai, seberapa banyakpun kau berusaha untuk tidak sakit, pada akhirnya hal itu akan berakhir setelah kau mengalami rasa sakitnya. Aku ingin menjadi chef seperti dirimu. Aku merasa gelisah dan bahagia karenamu. Aku terluka karenamu… lagi dan lagi. Aku sudah melewati rasa sakitnya jadi sekarang aku akan pergi. Bagi orang abnormal sepertiku, Sun Restauran sudah seperti rumah sendiri. Dan walaupun dunia mungkin akan mendorongku lagi tapi aku akan pergi. Selamat tinggal chef.”

Sooyeon membungkuk hormat pada gedung restorannya sebelum melangkah pergi.

 
*** 

Telepon Yul berdering. Pria tanned itu mengangkatnya dengan mata tertutup. Suara Sooyoung terdengar panik di ujung sana, dan selajutnya apa yang dikatakan laki-laki jangkung itu membuat kantuk Yul hilang sepenuhnya.

“Apa maksudmu Sooyeon pergi?”

Sesampainya di restoran Yul langsung membaca surat pengunduran diri yang ditinggalkan Sooyeon.

“Dia bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal secara langsung.” Ujar Seohyun sedih.

“Dia mungkin tidak berani, mengingat kepribadiannya yang seperti itu. Berikan gaji tiga bulan untuknya.” Jawab Yul.

Namun, masalahnya tidak selesai disitu. Beberapa saat kemudian Heechul muncul dengan panik karena kunci tempat penyimpanan makanan menghilang. Yul memijat pelipisnya, mengingat Sooyeon-lah orang terakhir yang masuk kesana, kemungkinan besar kuncinya terbawa gadis itu. Meski kesal Yul masih berusaha bersikap tenang.

”Junho coba kau hubungi Sooyeon.”

“Yes chef!”

“Yoong pergi cari tukang kunci.”

“Yes chef!”

“Heechul dan Sooyoung coba cari cara untuk membuka pintu itu.”

“Yes chef!”

Dilain tempat Sooyeon sedang berusaha mencari tempat tinggal  yang ada jendelanya. Tapi ia menunduk lesu begitu mengetahui mahalnya harga kamar berjendela. Junho meneleponnya tapi Sooyeon tidak mengangkatnya karena berpikir Junho akan menanyakan perihal pengunduran dirinya. Saat itu, tiba-tiba saja suara keras berdengung di telinga Sooyeon dan membuatnya sakit kepala.

Taeyeon yang masih terkurung dirumah dukun Shinyoung berteriak-teriak kebosanan dan membuat Shinyoung kesal.

“Ahhhh bosannn!! Aku sangat bosan sampai rasanya mau gila!” Taeyeon berguling di lantai rumah Shinyoung kesana kemari.

Jika ada satu hal saja, satu hal saja yang bisa Taeyeon lakukan agar Shinyoung mau melepasnya. Namun Taeyeon tahu tentu semua itu tak mungkin. Selama beberapa hari Taeyeon terkurung di ruangan ini bersama Shinyoung. Hanya Shinyoung seorang, sejak beberapa hari Taeyeon disini tak ada seorang pelanggan pun yang datang. Dan seperti yang sudah di duga Shinyoung akan menyalahkannya karena hal ini.

“Itu karena kau menghalangi keberuntunganku.” Shinyoung mengumpat sambil menaikkan celananya yang hampir melorot. Taeyeon yang belum menyerah kembali mencoba bernegosiasi.

“Karena itu tolong lepaskan aku. Jika kau melepaskanku aku janji akan hidup tenang seperti orang mati.”

“Kau memang sudah mati.” Jawab Shinyoung sambil menyeringai. Taeyeon kembali memutar bola matanya. Shinyoung tentu takkan melepaskan hantu pembuat onar seperti Taeyeon begitu saja.

Pembicaraan mereka terhenti begitu bel kediaman dukun paruhbaya itu berdering. Tteokbeokki pesanan Shinyoung baru saja sampai. Beberapa saat setelahnya Shinyoung berdebat dengan pengantar tteokpeokki tersebut karena Shinyoung ngotot membayar menggunakan kupon sementara pria pengantar tteokpeokki ngotot tak mau menerimanya.

“Kalau begini aku bisa rugi ahjumma!”

“Lalu kenapa kau mau mengantar pesananku?!”

“Itu karena sebelumnya aku kira ahjumma akan membayar dengan uang tunai!”

Taeyeon memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri.

Rasanya seperti terbebas dari dalam sangkar. Taeyeon tidak pernah berpikir udara luar begitu nikmat, tidak sampai hari ini. Ia tertawa-tawa sambil berlari sementara Shinyoung terengah-engah mengejarnya seraya mengeluarkan berbagai umpatan. Wanita bertubuh gempal itu tak memperdulikan pengantar tteokpeokki yang bersungut-sungut di belakangnya -dan mulai menganggap Shinyoung gila karena mengejar udara kosong.

“Gawat!” Panik Taeyeon, Shinyoung sudah hampir mendekatinya. Sejak kapan wanita itu bisa berlari cepat?

Bangunan apartemen Shinyoung sudah jauh di belakang mereka. Sekarang Taeyeon sampai di perempatan jalan, banyak orang. Kepala Taeyeon menoleh ke kanan ke kiri, mencari seorang yang bisa dimasukinya. Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang sedang mengantuk di halte bis. Taeyeon berlari lalu merasuki wanita itu.

Shinyoung terengah-engah dan memegangi kedua lututnya. Tak jauh di samping kirinya Taeyeon berusaha bersikap normal agar Shinyoung tak curiga sementara wanita itu terus memandangi belakang kepalanya. Untung saja beberapa detik setelahnya Shinyoung berpaling lalu berjalan ke arah lain. Dan sepertinya keberuntungan Taeyeon belum berakhir karena beberapa detik setelah itu, seorang pria yang memanggilnya ‘Sooyeon’ memberinya helm lalu membawanya pergi dengan sepeda motor. Pergi semakin jauh dari Shinyoung.

Pria yang membawa Taeyeon menghentikan motornya. Taeyeon mendongak dan membaca tulisan gedung yang ada di depannya. Tertulis ‘Sun Restaurant’. Keterkejutan Taeyeon belum tertatasi tapi si pria sudah menarik tangannya memasuki restaurant.

Sesampainya di dalam beberapa orang sudah berkumpul. Seorang pria tinggi kurus yang berdiri sambil menyilangkan tangannya, pria berambut sebahu yang menatap Taeyeon dengan pandangan iba, pria bermata berambut cokelat, lalu ada pria tanned yang menatapnya dengan mata marah yang disipitkan dengan kedua alis yang berkerut, ditambah pria tinggi bermata rusa yang membawanya kemari. Mendapati dirinya dipandangi seperti itu Taeyeon jadi tambah bingung.

Pria tanned yang terus merengut lantas mengulurkan tangan padanya. Taeyeon menatap tangan yang terulur itu sesaat sebelum menjabatnya seperti orang bodoh. Pria itu menghempaskan tangan Taeyeon dengan kesal.

“Berhenti bermain-main! Berikan kuncinya!”

“Kunci apa?” Tanya Taeyeon tak mengerti, ia hanya memasuki tubuh seseorang, kenapa jadi rumit begini?

Pria tanned yang nampak tidak puas dengan jawaban yang Taeyeon berikan lantas maju selangkah dan mulai meraba-raba tubuhnya -untuk mencari kunci. Taeyeon terkejut tentu saja, refleks ia menarik tangan si pria lalu dengan sebuah gerakan judo ia membanting pria itu ke lantai.

Semua yang ada disana melongo menatap ‘Taeyeon’ lalu beralih pada chef mereka yang berbaring di lantai dengan wajah merah padam.

TBC

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Drabble #24 (YulSic)

Posted: April 24, 2016 in drabble, ff snsd, yulsic
Tag:, , ,

Drabble #24

Tengah malam Jessica tiba-tiba terbangun karena haus, tidak biasanya. Saat itu keadaan dorm sudah sepi, lampu di kamarnya juga sudah mati. Jessica melirik ke samping lantas menemukan Yuri yang sudah tertidur pulas dengan lidah sedikit terjulur. Jika tidak mengenal Yuri dengan baik siapapun akan berpikir gadis itu terbangun, namun bagi Yuri tertidur dengan cara seperti itu adalah normal.

Dengan enggan Jessica menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya, memakai sandal lalu berjalan ke dapur.

Segera setelah segelas air mengaliri tenggorokan keringnya, Jessica merasa lebih baik.

Semuanya normal saja sampai ia melewati kamar TaeNy. Langkah kakinya di paksa berhenti begitu -secara tak sengaja- mendengar percakapan penghuni kamar yang mencurigakan.

“T-taetae.. p-pelan.”

“Tahan sebentar Ppany-ah.”

“Arrgghhh.. appo.”

Suara lirih serta rintihan. Apa ini? Taeyeon dan Tiffany tidak sedang melakukan apa yang ada dalam kepala Jessica bukan?

Jessica Jung! Sadarlah!

“Ssst Ppany-ah pelankan suaramu. Mereka bisa mendengar kita.”

“Apa kau tahu aku sedang kesakitan?”

“Arra.. arra, pertama kali memang akan terasa sakit tapi setelahnya kau akan merasa lebih baik.” Taeyeon tersenyum. Tiffany memejamkan matanya, tangannya berusaha meraih apa yang bisa diraihnya sementara untuk meredam rintihan kali ini ia menggigit ujung selimut.

Tangan Taeyeon kembali bersentuhan dengan kulit mulusnya, gadis pendek itu kembali memulai dengan gerakan yang begitu perlahan seperti seorang profesional. Tiffany hampir tidak percaya jika kali ini adalah kali pertama Taeyeon melakukanyya.

Jessica bergidik ngeri, dingin, seperti ada hantu yang baru saja melewatinya. Ia baru akan pergi namun kata-kata Taeyeon selanjutnya membuat langkah sang ice princess terhenti.

“Sebenarnya, Yuri pernah melakukan hal yang sama padaku.”

Yuri?

Jessica membulatkan matanya, demi semua timun di dunia untuk apa Taeyeon membawa-bawa nama kekasih Jessica?

“Aku belajar banyak darinya. Gerakan lembut tapi kuat. Yuri selalu menekan titik-titik yang tepat.”

“Aku jadi berkeringat!”

“Aku juga.”

Cukup! Jessica tak ingin mendengar apapun lagi.

Dalam mimpinya Yuri bersorak gembira, ia sedang menyemangati Sharapova yang sedang bertanding. Namun, mimpi indah itu berakhir setelah sang petenis memukul pantat Yuri dengan raketnya. Sangat keras. Yuri membuka matanya dan mendapati Jessica yang berdiri sambil berkacak pinggang. Ternyata bukan dipukul raket melainkan ditarik dari atas ranjang sampai pantatnya mendarat dengan keras di lantai.

“Sica apa yang-”

“Keluar!”

“Mwo?” Yuri masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Kali ini apa yang sudah dilakukannya?

“I said get out now! N.O.W!”

Taeyeon berhenti memijat kaki Tiffany yang terkilir saat mendengar teriakan Jessica. Bukan hanya Tiffany dan Taeyeon, semua member keluar dari kamar mereka.

“Sica tunggu! Memangnya aku salah apa?”

“Tanya dirimu sendiri!”

“Baby tung-” bantal yang mendarat diwajahnya membuat perkataan Yuri terhenti.

“Untuk selamanya kau tidur diluar!”

Mulut Yuri terbuka sementara member yang lain menatapnya dengan pandangan iba.

“Apa ada yang mau menampungku malam ini?” Yuri bertanya dengan puppy eyes, member yang lain menggelengkan kepala mereka dengan kompak lalu nenutup pintu kamar dengan gerakan kompak juga.

“Teman macam apa mereka itu? Kenapa pula aku harus tidur diluar, disini dingin, Sica bahkan tak memberiku selimut dan aku bahkan tidak tau apa salahku.”
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>END

Bodyguard (YulSic/Part 6)

Posted: November 28, 2015 in Uncategorized
Tag:, , ,

Tittle : Bodyguard
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance, Angst
Lenght : Series
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

6th
.
.
.
.
.

Pria itu menengok kebelakang untuk memastikan tidak ada seorangpun yang mengikutinya. Malam itu salju turun deras sekali sehingga membuat sebagian besar penduduk Korea malas melakukan aktifitas di luar.

Pria itu terus berjalan sambil menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Langkahnya baru terhenti setelah melihat satu sosok lain yang telah menunggunya. Seseorang yang sengaja mengajaknya bertemu di tempat yang sepi. Pria itu tak banyak bertanya, ia mengerti. Itu semua karena informasi yang akan ia bagi sangat rahasia. Mereka harus meminimalisir segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Mengingat betapa rahasianya infornasi yang akan ia bagi, bahkan nyamuk sekalipun tidak boleh mendengarnya.

“Katakan padaku seberapa banyak informasi yang sudah kau dapat!” Pria yang telah menunggu berkata tenang.

Pria yang baru datang pun siap memberikan laporannya. Hasil dari penyelidikan yang sudah dilakukannya beberapa minggu terakhir.

“Saya sudah mengetahui jika Kwon Yuri merupakan anak Kwon Sangwoo. Saya juga yakin mereka mempunyai tujuan yang buruk terhadap Presiden dan nona Jung. Meski begitu saya akan tetap melakukan penyelidikan karena saya yakin selain mereka, masih ada orang dalam yang terlibat dalam rencana mereka.”

Pria yang mendengarkan tersenyum puas, laporan itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan ia menghabisi pria ini. Sebuah pistol ia todongkan di kepala pria malang itu.

“T-tuan apa yang-”

“Kau sudah terlalu banyak tau, Mir. Selamat tinggal.”

Dor!

Hidupnya berakhir.

Bukankah dunia ini seperti lelucon. Bagaimana sebuah kehidupan bisa berakhir karena sebuah tarikan pelatuk. Berapa banyak manusia yang dengan senang hati menjalankan tugas malaikat maut. Bagi pria itu, hidup ini memang lelucon. Jika kematian saja bisa datang dan pergi, tidak bisakah ia tertawa?

~~~~~~~~~~

Udara benar-benar dingin hari ini sampai Taeyeon merasa otaknya akan ikut membeku. Jika bukan karena Yuri memintanya mencari kebenaran tentu Taeyeon tak mau melakukan hal ini. Ia berdiri di depan sebuah bangunan tua yang hampir rubuh. Tingkat kemiringan bangunan itu bahkan sudah melebihi menara pisa. Taeyeon yakin, gempa berkekuatan 2 SR saja bisa meratakannya dengan tanah. Sementara itu di belakangnya, Yongguk berdiri sambil bersandar di sedan tua milik Taeyeon. Sepuluh menit, dan ia akan menunggu dengan sabar sampai Taeyeon menyelesaikan tugasnya.

Taeyeon menghela nafas sekali lagi, bukan karena takut, lebih pada terlalu bersemangat. Sudah lama ia tidak melakukan hal menyenangkan seperti ini. Matanya berkilat tajam.

“Yongguk-ah.. aku pergi.”

“Arra.. arra.” Yongguk melambaikan tangannya sambil mulai menyalakan stopwatch. Sepuluh menit yang Taeyeon minta mulai dari sekarang.

Taeyeon berjalan di lorong apartemen tua tersebut. Ia tak salah, penampilan dalam dan luar bangunan tua ini tak jauh berbeda. Lantainya yang miring membuat Taeyeon merasa sedang berada di dunia lain, belum lagi bau busuk yang di timbulkan sampah yang berserakan di pinggir jalan, Taeyeon harus mendengus beberapa kali karena hal itu.

Sebenarnya, penampilan kumuh bangunan ini sengaja untuk kamuflase. Orang awam tentu takkan menyangka jika tempat ini merupakan gudang uang. Gudangnya bisnis terlarang -terutama obat- omset para pengedar di tempat ini bahkan mencapai milyaran won per-tahun. Dan Kwon Sangwoo lah yang menjadi bandarnya.

Taeyeon bergidik ngeri tiap mengingat ia juga bagian dari lingkaran hitam itu. Lingkaran hitam yang sudah mengurungnya sejak ia masih kanak-kanak. Seperti kutukan, bedanya, bahkan pangeran tampan saja tak bisa mematahkan kutukan itu. Mereka yang sudah masuk ke dalam lingkaran yang Sangwoo buat, takkan bisa keluar -setidaknya hidup-hidup.

Namun, untuk kali ini tujuannya datang kemari bukan untuk membawa ‘barang’ dan bukan juga untuk menagih pengedar yang ‘mangkir’ bayar.

Sampai di depan kamar yang ia tuju, Taeyeon menendang pintu itu dengan sangat keras sampai-sampai semua baut engselnya hampir terlepas. Lupakan tata krama, karena ia sudah sangat muak sampai-sampai hampir muntah di tempat.

Jowon sebagai orang pertama yang menyadari kehadiran Taeyeon segera membereskan uang yang berserakan diatas meja. Mungkin hasil judi semalam, Taeyeon tidak peduli.

“Aku ingin bertemu dengan bos kalian.” ucap Taeyeon dingin.

Jowon tak lantas menjawab, pria gemulai itu malah bersembunyi di balik Haejun yang sudah memasang posisi siaga.

“Bos sedang tidak bisa diganggu.” Jaehyuk memberanikan diri bicara.

Taeyeon tersenyum, namun tak lantas membuat atmosfir mencekam di ruangan itu menipis.

Aku tidak datang kesini untuk berdiskusi.” ucap Taeyeon sekali lagi. Gadis itu berani bertaruh, ketiga pria ini sudah tau alasannya dan Taeyeon tak perlu repot-repot menjelaskan pada mereka kenapa ia harus menemui Namgil.

Jowon menelun ludahnya takut-takut, sementara Jaehyuk dan Haejun saling lirik. Mencoba mencari saat yang tepat untuk menyerang. Kedua pria itu maju bersamaan dan membuat Taeyeon tersenyum sinis.

Sisa waktunya 8 menit..

Taeyeon menghindar sedetik sebelum tinju Haejun menyentuh wajahnya. Sebaliknya Taeyeon balas melintir tangan Haejun dan melemparnya dengan gerakan yang sangat berkelas. Haejun mengerang kesakitan saat tubuhnya menghantam meja makan dan langsung mematahnya jadi 2 bagian.

Jaehyuk berusaha menyerangnya dari belakang, namun Taeyeon lebih dulu berputar dan memberinya tendangan di daerah sensitif. Jaehyuk tersungkur, dua tendangan dari dua orang berbeda namun selalu mendarat di tempat yang sama. Sekarang pria itu patut mengkhawatirkan masa depannya.

Haejun kembali bangkit dan meraih sebuah tongkat untuk dijadikan senjata. Sebuah pukulan diarahkan ke kepala Taeyeon namun Taeyeon berhasil menahan tongkat itu dengan tangannya. Meski begitu sekarang ia terpojok karena Haejun terus mendorong tubuhnya hingga membentur dinding. Sambil menahan tongkat di lehernya Taeyeon berpikit cepat, ia menendang ulu hati Haejun dengan lututnya yang seketika membuat pria itu tersungkur.

Melihat kedua rekannya sudah K.O, Jowon mengambil pistol dari balik jaketnya dengan tangan gemetar. Taeyeon menendang tangan pria itu sebelum ia sempat menarik pelatuk, dan secepat kilat benda itu sudah berpindah tangan padanya.

Namgil berteriak kesal, kegaduhan di luar membuatnya tidak bisa mencapai klimaks. Pria itu mengumpat sebelum melilitkan selimut di tubuhnya. Ia berniat keluar dan memarahi anak buahnya karena sudah ribut disaat yang terdengar seharusnya hanya suara desahan dari teman wanitanya.

Namgil yang sebelumnya berniat berteriak kembali menelan kata-katanya. Sebuah pistol menempel di pelipisnya. Taeyeon tersenyum pada pria itu, ia punya pertanyaan, dan jika Namgil berbohong atau mengelak, Taeyeon takkan segan membuat peluru yang ada di pistol yang sedang ia pegang berpindah ke kepala Namgil.

“Siapa yang menyuruhmu menculik nona Jung?”

~~~~~~~~~~

Yuri selalu berpikir dunia ini hitam tanpa putih. Layaknya sakit tanpa obat. Hanya sekumpulan pertanyaan tanpa jawaban. Lihatlah bagaimana ia selalu tertawa pada drama yang disajikan benda bulat bernama bumi. Kebahagian itu cuma fatamorgana. Bagaimana semua orang hanya berlomba mengenyangkan perut mereka dan tak jarang  mengharuskan memakan bangkai saudara sendiri.

Yuri tersenyum miris, pandangan sinis ayahnya tentang kehidupan sepertinya sudah berhasil merasukinya sedemikian rupa. Yuri ingat, ayahnya selalu berpendapat orang-orang berdasi yang memegang roda pemerintahan itu sesungguhnya tak layak tinggal di bumi. Kelak, jika roda kehidupan sudah berhenti berputar, kelak dimana ‘akhir’ yang dijanjikan Tuhan datang, mereka, tikus-tikus politik itu akan hangus. Terbakar dan menjadi kerak.

Satu sentakan saja membuat Yuri terjaga. Jessica hadir dan mengubah pandangan Yuri. Barulah ia tau jika dunia tak hanya menghadirkan duka, selalu ada sesuatu yang bisa membuat bahagia, suka.

Lantas, Yuri bertanya, jika orang-orang seperti itu tak pantas lalu siapa yang pantas tinggal di bumi? Apa mereka yang setiap hari pergi ke rumah peribadatan? Mereka yang selama hidup selalu berbuat baik? Atau justru orang-orang seperti mereka -ia dan ayahnya- yang melenyapkan orang-orang yang mereka anggap tak pantas dengan cara mereka sendiri? Jika iya, lantas apa yang membuat mereka pantas?

Yuri mengingat semuanya, saat itu adalah ulang tahunnya yang ke-17. Sangwoo memberinya hadiah yang takkan pernah Yuri lupakan seumur hidupnya. Sebuah kebenaran.

Kebenaran tentang asal-usulnya yang sebenarnya. Kebenaran mengenai Yuri yang bukan merupakan anak kandungnya. Kebenaran mengenai negara yang sudah mengkhianati mereka. Kebenaran pahit yang ia terima sambil berurai airmata. Yuri tidak pernah menangis, tidak sehebat hari itu. Yuri juga tidak pernah merasa sakit sekaligus setakut hari itu. Yuri tidak pernah merasa semarah hari itu juga.

“Ibumu bunuh diri setelah mengetahui ayahmu tewas. Maaf baru mengatakannya sekarang, itu karena aku menunggu saat yang tepat, saat dimana kau benar-benar siap Yuri-ah. Aku tidak mau kehilanganmu seperti aku kehilangan sahabatku.”

Yuri mengeluarkan sesuatu dari saku hoodienya. Sebuah tabung kecil yang berisi pil yang seharusnya ia berikan pada Jessica sejak lama. Yuri memandang benda itu sejenak sebelum melepasnya. Membiarkan tabung kecil itu jatuh dan terbawa aliran sungai di bawah kakinya. Yuri sudah melepasnya, melepas masa lalunya yang kelam, melepas rasa dendam karena ketidakadilan yang sudah merenggut nyawa kedua orangtua kandungnya. Bersama Jessica.. ia ingin memulai awal yang indah.

Hanya untuk kali ini.. Yuri ingin berbeda dari ayahnya -Kwon Sangwoo.

~~~~~~~~~~

Sangwoo duduk sambil memutar-mutar gelas wine di tangannya. Sementara pria yang duduk di depannya nampak tak sabar.

“Berapa lama lagi?”

“Sebentar lagi.” Ujar Sangwoo yakin. Pria itu mencibir. Keyakinan Sangwoo terdengar menggelikan sekarang.

“Sudah sampai sejauh ini, kau masih yakin Yuri bisa menghabisi Jessica?”

“Aku tidak yakin.” Sangwoo meletakkan gelasnya dan membuat alis pria yang duduk di hadapannya bertautan.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak yakin tapi aku tetap akan membuat dia melakukannya.” jawab Sangwoo serius.

Kali ini pria di hadapannya tersenyum sinis sambil mencondongkan tubuhnya. Matanya tajam seperti elang, Sangwoo juga bisa melihat api dendam yang berkobar ganas disana. “Aku tidak berbisnis denganmu, untuk gagal bersamamu juga.”

“Aku pegang janjiku, Lee Taemin. Asal kau juga tetap pada jalur. Jangan sampai kejadian seperti kemarin terulang.” ancam Sangwoo.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>TBC

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini: