Posts Tagged ‘ff snsd’

Honesty (YulSic/Part 8)

Posted: April 4, 2015 in ff snsd, yulsic
Tag:, , ,

Tittle : Honesty
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Lenght : Chapter
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

Inspired by Drama Boys Before Flower.

Song lyric by:
*EXO Chen – Best Luck (OST. It’s Okay That’s Love)
*SHINee – Honesty

Honesty
.
.
.
.
.
-Part 8-

Pagi ini Jessica berjalan di lorong sekolah dengan perasaan heran. Bagaimana tidak jika setiap siswa yang berpapasan dengannya tersenyum kearahnya. Ya, tersenyum, satu dari sejuta kemungkinan paling mustahil yang pernah ada dalam benak Jessica. Bukan berarti Jessica tidak ingin akrab dengan siapapun atau semacamnya hanya saja gadis blonde tersebut sudah terlalu nyaman dalam kesendiriannya di sekolah ini.

“Jessica-ssi..” Raina besama Gayoon dan Hyuna menyapa. Menyingkirkan siswa-siswa lain yang sebelumnya mengerubuni Jessica. Selanjutnya gadis bermarga Oh tersebut memberinya sekaleng kopi sambil tersenyum.

“Untukmu.”

“Gomawo?” Jessica mengambil kopi tersebut seraya berterimakasih sambil masih diliputi rasa heran. Hal besar apa yang telah terjadi sampai-sampai K-School bersikap ‘ramah’ padanya? Apa semua siswa di sekolah ini baru saja membenturkan kepala mereka?

“Sore ini kami akan belanja bersama, apa kau mau bergabung?” kali ini giliran perkataan Gayoon yang mengejutkannya. Oke, benar-benar ada yang salah disini dan Jessica harus mencaritahunya.

“Kurasa.. aku harus pergi.”

Usut punya usut ternyata sebelum ini Yuri mengupdate status di media sosialnya yang berbunyi,

Mulai sekarang Jessica Jung adalah pacarku, aku akan menggantung siapapun yang berani menganggangunya.

Hal itu tentu saja membuat siapapun takkan berani menyentuh Jessica lagi, bahkan walau hanya ujung rambutnya.

“Kenapa kau melakukannya?” Jessica menaikkan sebelah alisnya sementara gadis yang ia tanyai hanya tersenyum bodoh.

“Kwon Yuri memangnya kapan aku pernah bilang kalau kita pacaran?”  Jika dipikir lagi, agaknya perkataan Jessica ada benarnya. Sejak awal tidak pernah ada pernyataan dari kedua belah pihak tapi sekali lagi, bukan Yuri namanya jika ia tidak -terlalu- percaya diri.

“Aku tau sebenarnya kau menyukai kata pacaran itu.”

~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica sedang dalam perjalan menuju Lovely Day saat ia merasa seseorang mengikutinya. Jessica berbalik namun tak menemukan apapun selain jalanan yang sepi. Merasa tak ada apapun Jessica kembali melanjutkan perjalannya, walau begitu kali ini gadis tersebut mempercepat langkah kakinya. Entah kenapa Jessica merasa ada sesuatu yang salah. Beberapa pria berjas muncul di hadapannya dan mengejutkan Jessica.

“Siapa kalian?” Jessica bertanya sambil memasang kuda-kuda. Jessica terlalu fokus pada beberapa pria di depannya sampai tidak menyadari kehadiran orang lain dibelakangnya. Sedetik kemudian pria yang tersisa itu membekap mulut Jessica dengan sapu tangan. Jessica meronta namun tak berlangsung lama karena bau tajam dari obat bius lebih dulu melumpuhkannya.

“Kami sudah mendapatkannya.”

~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica terus terlelap sementara Yuri terus memandanginya. Jika sedang tidur Jessica terlihat sangat manis, siapapun takkan menyangka jika gadis ini begitu violent. Walau violent tapi Yuri rela menjadi korban abadinya. Sooyoung tekekeh geli melihat tingkah sahabatnya. Yuri terus memandang Jessica dengan tatapan berlumuran cinta, Sooyoung bahkan bergurau pandangan Yuri bisa melubangi wajah Jessica.

Perlahan Yuri mengangkat tangannya dan menggarisi wajah sang putri tidur dengan jari telunjuknya. Matanya, hidungnya, alisnya, bibirnya. Tunggu, Yuri berhenti sebelum jarinya menyentuh bibir Jessica. Bibir merona yang membuat jantungnya berpacu, khusus untuk bagian yang satu itu Yuri ingin melakukan inspeksi dengan cara berbeda. Gadis tanned itu menyeringai dan mendekatkan wajahnya pada Jessica.

Jessica setengah terlelap sementara setengah lagi pikirannya sedang berpikir. Jessica bisa saja bangun namun ia terlalu mencintai tempatnya berbaring. Kamarnya. Kasur empuk, suara burung, dan udara segar yang berasal dari taman belakang. Namun kali ini, Jessica merasa berbeda dengan kamarnya, kasurnya memang empuk tapi tidak terasa seperti biasanya, dibanding suara burung Jessica malah mendengar suara dengungan sekumpulan lebah, dan entah kenapa tempat ini sekarang berbau citrus dan mint. Seperti aroma Yuri.

Yuri?

Terkejut, Jessica membuka mata dan mendapati wajah Yuri yang begitu dekat dengannya. “Apa yang kau lakukan?!” Teriak Jessica histeris sebelum ia menendang Yuri dan membuat gadis tanned itu tersungkur. Yuri meringis sambil memegangi perutnya yang telah Jessica tendang.

Tak memperdulikan Yuri, Jessica segera mengedarkan pandangannya dan mendapati dirinya berada di tempat asing. Jessica juga segera mengecek semua bagian tubuhnya. Gadis itu baru bisa bernafas lega setelah yakin pakaiannya masih lengkap.

“Aku tidak percaya Kwon Yuri! Aku tidak percaya!”

“Apanya?”

“Kau. Mencoba. Melakukan. Sesuatu. Padaku!”

“A-aniyo!” Bantah Yuri. Tadinya Yuri memang berencana mencium Jessica sedikit tapi ternyata sang putri bisa bangun tanpa ciuman sang pangeran. Dan dengan baiknya Jessica memberinya sesuatu yang lebih manis dari ciuman, apalagi kalau tendangan cintanya. Yuri jadi berpikir Jessica cocok jadi pemain sepak bola.

Jessica masih memandang Yuri dengan tatapan kesal.

“Apa kau yang menyuruh orang-orang itu membiusku?” Jesssica bertanya lagi setelah ia mengingat semuanya. Yuri mengangukkan kepalanya tanpa rasa bersalah walau secara teknis dialah dalang dibalik ‘penculikan’ Jessica.

Mendengar ada keributan Sooyoung dan pasangan HyoNic pun menghampiri keduanya. Setelahnya Nicole menjelaskan kalau mereka sedang dalam perjalanan menuju pulau pribadi keluarga Kwon, juga menggunakan jet pribadi milik mereka.

“Bagaimana? Aku romantis kan?” Yuri bertanya penuh percaya diri. Ia tidak tau saja jika Jessica tak pernah sekalipun berpikir, mengajak seseorang berlibur dengan cara membiusnya merupakan hal yang ‘romantis’.

“Kwon Yuri.. kau tau apa?”

“Apa?”

“Ingatkan aku untuk menghajarmu setelah ini.”

~~~~~~~~~~~~~~~~

Pulau pribadi milik keluarga Kwon memiliki fasilitas yang terbilang lengkap. Mulai dari bandara, pelabuhan, resort & spa, lapangan golf, restoran, taman hiburan sampai arena pacu kuda. Pulau ini beriklim hangat dan membuat bunga-bunga bermekaran sepanjang tahun.

Jessica merentangkan kedua tangannya, membiarkan angin membelai wajah dan mengacak-acak rambutnya. Sepanjang jalan matanya dimanjakan dengan pemandangan menakjubkan. Di sebelah kanan jalanan lengang tersebut terdapat bukit-bukit yang ditumbuhi banyak bunga sementara di sisi kirinya ada garis pantai dengan pasir putih yang serasa memanggil-manggil Jessica untuk berbaring di atasnya. Jessica merasa sedang berada di dua dunia dalam waktu bersamaan. Keduanya sedang menuju Kwon Resort yang ada di dekat pantai. Yuri tertawa kecil sembari mengacak rambut Jessica. Di belakang Ferrari 458 yang Yuri kendarai ada pasangan Hyonic yang mengedarai Mercedes-Benz SLS AMG disusul Sooyoung lajang bersama teman kencannya Porsche 911 GT3.

Resort tempat mereka menginap langsung menghadap kearah laut. Pantai berpasir putih yang masih perawan. Sejauh mata memandang hanya ada biru dan putih. Jessica masih takjub sementara Yuri berdiri dengan senyuman bangga di sampingnya.

“Apa kau mengakuinya sekarang? Aku memang lebih baik darinya…”

“Jangan terlalu percaya diri, kau bahkan tidak mengalahkan Taeyeon di balapan itu.” Jessica menjulurkan lidahnya seperti anak kecil.

“Itu karena si pendek curang. Sebenarnya aku bisa mengalahkannya dengan mudah.” Protes Yuri. Jessica tidak mau membahasnya lebih lanjut. Ia segera mengikuti Sooyoung yang lebih dulu masuk ke tempat mereka menginap. Di belakangnya Yuri bersungut kesal.

“Kita lihat nanti nona Jung.” Ucap Yuri penuh percaya diri.

“Selamat datang.” Sapaan ramah itu menyambut kelimanya. Para pegawai disana membungkuk tanda hormat pada majikan mereka. Jessica lagi-lagi dibuat takjub dengan desain interior resort ini. Semuanya terlihat begitu memikat. Warna emas yang mendominasi ruangan membuat Jessica merasa sedang berada di negeri dongeng. Mungkin dalam ballroom dimana Cinderella melakukan pesta dansa yang membuatnya bertemu dengan sang pangeran. Furniture dalam ruangan ini juga tertata dengan begitu apik. Klasik dan menarik.

“Yuri lah yang mendesain ballroom ini.” Sooyoung berucap dan membuat Jessica memandang Yuri dengan tatapan takjub. Siapa sangka Yuri punya bakat lain selain mengacau di sekolah.

“Tidak perlu mengatakannya. Aku memang mengagumkan.” ucap Yuri seraya kembali memperlihatkan seringai itu. Jessica memutar bola matanya dan rasa takjub itu hanya bertahan beberapa detik saja.

“Tunjukkan kami kamarnya Mark.”

“Tentu nona.” Manajer berkebangsaan Irlandia tersebut langsung memimpin jalan. Menuntun kelimanya menuju kamar yang akan mereka huni selama beberapa hari kedepan. Yuri berjalan sambil menggenggam tangan Jessica, dalam kediaman yang nyaman.

“Kita akan bertemu saat makan malam.” Sooyoung berucap kemudian menyusul Hyoyeon dan Nicole yang lebih dulu pergi.

“Di dalam aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu, hari ini biarkan aku yang menuntunmu, mengerti?” Yuri berucap sekali lagi sebelum pergi ke kamarnya sendiri. Mereka tidur terpisah, tentu saja. Jessica menghela nafas, tapi ini bukan seperti ia kecewa atau semacamnya, sebaliknya Jessica justru merasa lega. Siapa yang tau apa yang bisa Yuri lakukan saat Jessica tengah terlelap -seperti dalam pesawat contohnya.

Mawar, lebih tepatnya kelopak bunga mawar yang bertebaran diatas tempat tidur. Jessica menggelengkan kepala tapi kemudian tersenyum membayangkan Yuri berpikir keras semalaman untuk menyiapkan kejutan untuknya -walau untuk kasus bunga mawar ini memang agak berlebihan. Selain bunga mawar Jessica menemukan sebuah dress dengan note kecil bertuliskan tulisan tangan Yuri.

Princess, bersihkan dirimu dan pakai dress cantik ini, lalu makan malam di meja nomor 9.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sambil mengenakan dress putih yang sudah Yuri siapkan untuknya Jessica berjalan menuju restoran yang terletak di lantai dasar. Anehnya ia tidak bisa menemukan Yuri di meja nomor 9 tempat mereka janji bertemu.

Mencariku?

Sebuah pesan masuk di ponselnya dan membuat Jessica tersenyum. Yuri seakan bisa membaca pikirannya.

Belum saatnya kita bertemu jadi untuk sekarang, nikmati makan malammu.

Jessica menikmati makan malam yang disajikan pelayan dengan ponsel yang ia letakan di samping. Makan malam yang menyenangkan. Yuri benar-benar memilihkannya spot yang bagus. Dari tempatnya duduk saat ini Jessica bisa melihat pantai yang dipenuhi turis. Orang-orang diluar sana begitu menikmati waktu mereka. Selain itu alunan musik romantis juga menambah poin yang akan Jessica berikan pada Yuri malam ini.

Amuraedo nan niga joha
Anyway I really like you
Amureon maldo eobsi utdeon nareul anajwo babe
You hugged me when I was quietly smiling babe
Oneureul gidaryeotjyo geudae dalkomhan nareul bwayo geudae
I waited for today, for your sweetness, look at me
Jikyeojulgeyo babe
I’ll protect you babe

Maeil maeil kkumeul kkujyo
I dream every day
Geudae soneul japgo naraga yeongwonhi eonje kkajina
Of holding your hand and flying forever, until always

Bogo sipeun naui sarang unmyeong ijyo pihalsudo eobtjyo
My love I miss you, It’s destiny you can’t avoid it
Every day I’m so lucky sumgyeowatdeon
Every day I’m so lucky
Nae mameul gobaek hallae neoreul saranghae
I want to confess my hidden heart, I love you

Sebuah pesan kembali masuk.

Siap untuk kejutan selanjutnya?

Jessica menganggukkan kepalanya walau Yuri tak ada disana. Beberapa saat kemudian seorang pelayan memberinya kotak kecil. Jessica membuka kotak itu dan menemukan sebuah benda berkilauan di dalamnya. Sebuah kalung dengan bandul berbentuk setengah hati. Alis gadis itu bertautan, bingung.

Sisanya akan kuberikan nanti.

Yuri kembali mengiriminya pesan.

Ngomong-ngomong aku tidak akan pernah mencintaimu dengan ‘setengah’ hati.

“Cheesy..” Jessica bergumam dengan wajah memerah.

Tteollideon nae ipsuldo geudae seolledeon i maeumdo geudae
My trembling lips, your fluttering heart
Nae sarangijyo babe
I’m happy because of you
Ireonge sarang ingeol aljyo
I know that this is love
Geudaega isseo haengbok hajyo sarangiyeyo babe
I’m happy because of you, This is love babe

Maeil maeil kkumeul kkujyo
I dream every day
Geudae soneul japgo naraga yeongwonhi eonje kkajina
Of holding your hand and flying forever, until always

Bogo sipeun naui sarang unmyeongijyo pihalsudo eobtjyo
My love I miss you, It’s destiny you can’t avoid it
Every day I’m so lucky sumgyeowatdeon
Every day I’m so lucky
Nae mameul gobaek hallae neoreul saranghae
I want to confess my hidden heart, I love you

Selesai makan malam, Nicole menuntun Jessica menuju lantai tertinggi. Yuri berdiri di samping helikopter sambil tersenyum padanya. Gadis tanned itu mengenakan pakaian yang serasi dengan Jessica.

Yuri mengulurkan tangannya dan Jessica menerima uluran itu malu-malu. Sungguh pemandangan langka. Setelahnya Yuri mengajaknya berkeliling menggunakan helikopter.

Jessica sebenarnya takut ketinggian tapi bersama Yuri yang duduk di sampingnya Jessica jadi melupakan semua ketakutannya.

“Sekarang apa lagi?”

“Kau akan tau nanti.” Yuri menjawab sambil merebut kotak kecil dari tangan Jessica dan mengambil isinya.  Sementara Jessica hanya bisa menundukkan kepalanya saat Yuri memakaikan kalung di lehernya.

“Aku benar kan, cocok sekali untukmu.”

“Gomawo Yuri-ah.”

“Lihat ke bawah.”

“Ne?”

“Lihat ke bawah sana.”

Cahaya. Orang-orang yang ada di pantai berdiri sambil memegang lightstick. Berjejer membentuk barisan teratur. Dari atas sini Jessica bisa melihat bentuknya dengan jelas.

Setengah hati.

“Yuri-ah ini..” Jessica tidak bisa berkata-kata saking takjubnya. Entahlah, Yuri membuatnya merasa begitu hidup.

“Setengah hati lainnya. Mereka akan utuh jika kau membiarkannya bersatu.”

“Kwon Yuri. Kau adalah orang bodoh paling romantis yang ada di dunia.”

“Aku baru pertama kali mendengarnya, kata-katamu sangat original.”

“Aku mencintaimu.”

“Dan itu adalah kata terindah yang pernah kudengar.”

Naui modureul geolmankeum neol saranghago akkyeojundago
I love you so much that I could risk my everything
Geudae yaksokhalgeyo sigan jina modu byeonhaedo
I’ll promise you that I’ll care for you
I sesangi kkeutnanda haedo naui saranga
Even if time passes and everything changes

Geudae naege haengunijyo pihalsudo eobtjyo
You are my luck, I can’t avoid it
Every day I’m so lucky sumgyeowatdeon
Every day I’m so lucky
Nae mameul gobaek hallae neoreul saranghae
I want to confess my hidden heart, I love you

“Mmm.. jadi Sica..”

“Mwo?”

“Apa sekarang aku boleh menciummu?”

~~~~~~~~~~~~~~~~

“Ya!! Yoseob kenapa kau selalu menyuruh kekasihku membagikan brosur?” tanya Yuri kesal. Yoseob melirik Yuri -yang bersikap bossy- sesaat tanpa berniat memberinya jawaban. Sebenarnya, Yoseob tak ingin mengatakan hal yang sama berulang-ulang, lagipula ia bukan pria yang banyak bicara seperti Youngmin.

“Jessica itu bekerja untukku. Aku berhak menyuruhnya melakukan apapun selama tidak melanggar hukum.”

“Mwoya? Dia itu kekasihku! Apa kau tidak mengenal Kwon Yuri?”

“Kenal atau tidak kenal.. apa bedanya?” Yoseob adalah satu-satunya orang yang takkan terpengaruh dengan status Yuri.

Sejak mereka ‘official’ Yuri sering sekali datang ke LD dan mengacau disana. Lebih tepatnya ia mengganggu Jessica dan memaksanya kencan di saat jam kerja. Untungnya Jessica adalah pegawai profesional yang tak mudah tergoda dengan tawaran menggiurkan kekasihnya. Jessica tetap bekerja dan membuat Yuri harus menunggunya berjam-jam sambil cemberut. Dan kalau sudah begini justru Yoseob yang dibuat pusing dengan tingkah Yuri yang begitu menyebalkan.

Dari balik meja kasir, Eunji tertawa kecil melihat tingkah direkturnya dengan Yuri. “Kalian cepat akrab ya?” godanya. Mendengar hal itu Yuri dan Yoseob sama-sama bergidik ngeri.

“Jika saja kehadirannya tidak mendatangkan pelanggan-pelanggan ini, sudah sejak lama aku mengusirnya.” Yoseob tertawa sebelum lanjut memasak. Kurva keuntungan LD selalu melonjak tiap kali Yuri duduk untuk menunggu Jessica disana. Kebanyakan pelanggan datang ke LD karena tertarik melihat kehadiran Yuri, dan sejak saat itu Yoseob menobatkan Yuri sebagai best luck-nya Lovely Day.

“Yuri-ssi tampan sekali..” beberapa pelanggan LD yang merupakan murid-murid SMA saling berbisik. Yuri duduk di kursi sambil menyilangkan kaki dan memasang senyum bisnisnya. Inilah, salah satu keuntungan wajahnya sering muncul di televisi. Sepertinya Yuri memang cocok jadi bintang iklan.

“Bukankah itu Jessica Jung?” salah seorang pejalan kaki berhenti untuk melihat wajahnya. Jessica sudah terbiasa dengan hal yang seperti ini, bahkan Jessica sudah bisa menebak kalimat apa yang akan keluar dari mulut mereka selanjutnya.

“Bukankah kau pewaris Jung Grup? Untuk apa kau bekerja di tempat seperti ini?”

Jessica tersenyum terpaksa dan berharap mereka segera pergi.

“Ya! Apa kau lupa jika Jung Grup sudah bangkrut? Kudengar sekarang saham mereka diambil alih pihak asing.”

“Jeongmal?”

“Jadi karena itu kau bekerja nona Jung?”

Jessica hanya ingin kedua pejalan kaki itu segera pergi namun yang terjadi justru sebaliknya. Mereka malah menanyakan pertanyaan yang tak ingin Jessica jawab. Bukan karena tidak tau tapi karena Jessica tak ingin mengingatnya.

“Jika kalian punya banyak waktu untuk mengurusi hidup orang lain kurasa kalian juga punya banyak waktu untuk segera pergi dan pura-pura tidak tau.” Ucapan Yuri membuat kedua pejalan kaki itu segera pergi. Inilah alasan kenapa Yuri sering kali menemani Jessica. Untuk melindunginya dari orang-orang yang mungkin saja akan menyakiti perasaan Jessica.

Jessica tersenyum pada Yuri sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara Yuri masih menggerutu seperti seorang ahjumma.

Naboda nareul ihaehaeseo
You understood me better than myself
Naega muneojiryeo halttae
When I was on the verge of breaking down
Naboda himdeuleohaneun ne moseube
Seeing you having a harder time than I did
Tto aicheoreom uleosseo
Made me cry like a child

Uri saien ggeni isseo
There’s a connection in our relationship
Mallon seolmyeonghal su eobsneun emcheognan
A huge one that I can’t explain in words
Uri aegi, chueogi chagogchagog
Our conversations, piled with memories
Oneuldo gesog iajyeo
Continue on today

Neul geu jariae isseonal ji kyeojwoseo
Because you’ve always been there to protect me
Neul naega badeul binan daesinhaeseo
Because you’ve taken the criticism that I should receive
Amu maldo eobsi nal gamssajun ne museubeul ijen
You have shielded me without a word and now
Nega geoulcheoreom bichuryeo hae
I will reflect you like a mirror

~~~~~~~~~~~~~

Yuri menyilangkan tangan di dada dengan wajah cemberut. Gadis tanned itu bahkan memalingkan wajahnya. Menyadari kali ini kekasihnya serius, Jessica berusaha menahan tawanya.

Keduanya sedang berada di sebuah taman hiburan. Kesabaran Yuri menunggu Jessica bekerja hari ini dibayar dengan kencan ke taman hiburan. Ingin bersikap romantis, Yuri mencoba permainan panah dan berjanji akan mendapatkan boneka beruang besar untuk Jessica -seperti dalam drama. Namun, dengan kemampuan payah yang dimilikinya setelah 99 kali percobaan Yuri hanya mendapat sebuah gantungan kunci. Sungguh tidak sepadan dengan harga 99 kali percobaannya, uang yang Yuri keluarkan untuk percobaan saja masih lebih mahal dari hadiah yang didapatnya. Jessica sudah menghitungnya dan uang untuk 99 kali percobaan itu sebenarnya bisa digunakan untuk membeli sepasang boneka beruang yang menjadi hadiah utama. Menyadari ‘kepintaran’ kekasihnya, Jessica tidak bisa berhenti tertawa dan membuat Yuri kesal.

“Ya sudah Yul aku minta maaf. Maafkan aku ya?” Kata Jessica lembut. Yuri tak bergeming. Gantungan kunci berbentuk Mickey yang ada dalam genggaman Jessica tersenyum lebar dan entah kenapa Yuri jadi merasa benda menyebalkan itu juga tengah tertawa padanya.

“Tidak mau.” jawab Yuri keras kepala. Jessica jadi harus berusaha lebih keras.

“Yuri-ah~ mianhe~” Jessica beraegyo sambil menggoyang-goyangkan lengan gadis yang lebih tinggi. Yuri berbalik tapi masih memasang wajah cemberut.

“Sebagai permintaan maaf kau harus membelikanku itu!” ucapnya sambil menunjuk salah satu stand makanan.

“Bungeoppang?”

“Hmm…”

“Geurae…”

“Kau makan seperti anak kecil…” Jessica tertawa kecil sementara Yuri masih mengipasi mulutnya.

“Mana aku tau kalau ini panas?”

“Alasan..”

“Kau mau mencobanya?”

“Aniyo. Aku tidak suka kacang merah.”

“Sayang sekali, padahal ini rasanya sangat enak.”

Keduanya melanjutkan perjalanan sampai satu stand menarik perhatian Yuri.

“Selamat datang nona.. apa anda mau membuat gelang?” ucap sang penjaga stand.

“Iya.. aku mau.” jawab Yuri semangat.

~~~~~~~~~~~~~~~

Duduk di dalam bis yang mereka tumpangi. Jessica menatap gelang berbahan silikon yang kini melingkari pergelangan tangannya. Gelang warna merah yang bertuliskan ‘Yuri Now’.

“Apa artinya?”

“Yuri Now berarti sekarang Kwon Yuri yang memilki hati pemakai gelang ini. Jangan dilepas atau aku akan..”

“Akan apa?”

“Akan menikahimu disini. Saat ini juga!”

“Dasar idiot!”

Neul geu jariae isseonal ji kyeojwoseo
Because you’ve always been there to protect me
Neul naega badeul binan daesinhaeseo
Because you’ve taken the criticism that I should receive
Amu maldo eobsi nal gamssajun ne museubeul ijen
You have shielded me without a word and now
Anhajuryeo hae
I will hold you

Himdeuleojyeo pogihago sipeulttae
When it becomes tiring and I want to give up
Yaghan mame domangchigo sipeul ttae
When I am weak and I want to run away
Jageun ne soni neogen gajang keun him dwineun geol
Your small hand becomes my biggest strength
Pyeongseng noel wihan norael bulleo julge
For the rest of my life, I’ll sing a song for you

Neul geu jarie isseo nalmidgo jikyeojun nege
You have always been there, believing in me and protecting me
Gomaum domeun norael jeonhalge
I’ll convey this song of appreciation

Yuri tertawa dan setelahnya ia memaksa Jessica menyandarkan kepala di pundaknya.

“Aku harap kau tidak bertambah tinggi lagi.” Jessica bergumam sambil mulai memejamkan matanya.

“Wae?”

“Karena aku sudah nyaman di posisi ini.” Setelahnya mereka tak bicara lagi. Yuri tau dalam beberapa menit saja Jessica akan benar-benar tertidur. Jalan mereka masih panjang, bukan hanya jalan yang ditempuh bis tapi juga ‘jalan’ yang lain. Yuri menggenggam lembut tangan Jessica.

Gilgodo gininyeonwi ggeune
At the end of this very long connection
Eodiyeo daheul ji moreul jogchagyeog ggeute
At the end of this train stop, unaware of where it’ll reach
Seoro beweogamyeo manheun geoseul neuggyeo
We learn as we go on and feel many things
Maeum phyohyeonhagin hangsang nejeo
I’m always late at expressing my emotions
Gaseumeneun ijhyeojiji anhgessji
You won’t be forgotten in my heart, right?
Nunenun namgyeojyeo osgo issgaessji
You’ll remain in my eyes as you smile, right?
Nawi gippeumi neoege hengbogi dwindamyeon
If my joy can become your happiness
Gomawo
I’ll be thankful
.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Hit Me Baby (Oneshot)

Posted: Februari 20, 2015 in ff snsd, one shot, yulsic
Tag:, , ,

Tittle : Hit Me Baby
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Comedy Romantic
Lenght : Oneshot
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri and Other Cast

Hit Me Baby
.
.
.
.
.
.

Dulu Jessica pernah mendengar peribahasa yang berbunyi ‘Semakin manusia dibatasi semakin manusia tersebut ingin melewati batas itu’. Peribahasa ini maknanya hampir sama dengan paham yang Jessica anut saat ini. ‘Semakin sering melihat Kwon Yuri maka semakin kau ingin memukul wajahnya’.

Hari pertama, Jessica terbangun dan mendapati wajah mesum Yuri saat ia membuka pintu kamar. Jessica baru ingat jika sekarang ia punya teman ‘serumah’ yang sangat manis.

Yuri mengangkat spidol permanen yang sedari tadi di pegangnya seraya menyeringai kearah Jessica.

“Kau lihat garis pembatas itu? Kanan milikmu dan kiri milikku. Untuk menjaga privasi masing-masing terutama privasiku mulai sekarang kita berbagi wilayah. Jangan berani masuk ke wilayahku atau kau akan mati, arraseo?!” Yuri memperingatinya. Demi semua timun di dunia, rasanya Jessica adalah orang yang lebih pantas berkata seperti itu. Ia, adalah pihak yang jelas-jelas selalu dirugikan disini.

Masih dengan mulut terbuka Jessica menelusuri garis yang telah Yuri buat. Si hitam itu benar-benar merencakan semuanya dengan sempurna, dan ini tidak adil. Wilayah Yuri terdiri dari satu kamar, ruang tamu dan ruang keluarga sementara wilayah Jessica terdiri dari satu kamar, kamar mandi dan dapur.

“Tidak perlu protes, jika dihitung luasnya sama.”

“Apanya yang sama, dasar idiot!!” Jessica murka, tapi Yuri tidak peduli. Ia memang sudah merencanakan ini sejak semalam. Tidak masalah jika Yuri harus kehilangan dapur, lagipula ia bisa makan diluar atau memesan makanan siap saji sedangkan masalah kamar mandi Yuri tak perlu khawatir karena kamarnya memiliki kamar mandi sendiri. Kwon Yuri, benar-benar pintar dan menawan.

“Awas kau!!” geram Jessica seiring rencana-rencana jahat tentang cara-bagaimana-melenyapkan-kwon-Yuri-dengan-cepat berseliweran di kepalanya. Yuri pura-pura tuli. Gadis tanned itu berjalan menjauh seraya bersenandung kecil.

“Pagi yang indah~”

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

“Kau ingin mengalahkanku? Kau perlu belajar banyak!” Kali ini giliran Jessica yang menyeringai. Gadis blonde itu berdiri penuh kemenangan di depan pintu keluar. Wilayah yang sampai kapanpun takkan bisa Yuri injak dengan kakinya. Karena terlalu bersemangat saat membuat garis batas tadi pagi, Yuri baru sadar jika pintu keluar ada di wilayah Jessica. Kenapa pintu akses yang memisahkan dirinya dengan alam bebas harus ada di wilayah gadis penyihir tersebut. Miris. Yuri terus meruntuki kebodohannya.

“Kau benar-benar takkan mengijinkanku melewati garis itu?” Tanya Yuri putus asa. Jessica menjawab dengan anggukkan mantap. Yuri sudah terlambat pergi ke lokasi syuting sementara Jessica masih berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. Layaknya tentara yang menjaga daerah perbatasan suatu negara. Siap mempertaruhkan hidup dan matinya.

“Aigoo! Jinja! Lalu bagaimana aku bisa keluar?”

“Kau bisa membuat lubang di dinding wilayahmu.” jawab Jessica enteng.

“Micheseo?!”

“Ah.. benar juga. Setelah kupikir itu akan merusak dindingnya. Bagaimana kalau kau loncat saja dari jendela? Itu cara tercepat dan termudah.”

“Baiklah. Apa maumu?” Yuri mengacak rambutnya frustasi. Jessica tersenyum penuh kemenangan. Sejak awal Kwon Yuri sudah salah karena menyalakan genderang perang diantara mereka.

“Kita gambar lagi garis pembatas ini dari awal. Dan kali ini kau dan aku yang melakukannya. Akan kupastikan kau tidak bisa berbuat curang lagi kali ini karena aku akan benar-benar menghajarmu jika kau kembali melakukannya!”

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

YC Entertainment, Seoul

“Bukankah aku sudah menyuruhmu mengawasinya?” Presdir Park -presdir Manajemen tempat Yuri bernaung- menggebrak meja di hadapannya. Manajer Yun mulai berkeringat dingin.

“Rasanya aku sudah bosan mendengar keluhan dari setiap kru yang syuting bersamanya!” Kesal Pria paruh baya tersebut. Pasalnya ini bukan pertama kalinya Yuri terlambat atau tiba-tiba menghilang dari lokasi syuting. Sebenarnya kapan bocah itu akan bersikap profesional sekali saja. Presdir Park kembali menghela nafas, kali ini ia berencana memarahi Yuri habis-habisan.

Beberapa saat setelahnya Yuri datang ke ruangan Presdir Park sambil mengunyah permen karet. Sama sekali tidak merasa sudah melakukan kesalahan apapun. Saat Yuri datang wajah kesal Predir Park langsung dibuat-buat ramah. Nada keras yang ia gunakan saat berbicara dengan Manajer Yun pun diturunkan beberapa oktaf.

“Yuri-ah bagaimana kabarmu?” tanya Presdir Park. Yuri melepas kacamata hitamnya setelah duduk di kursi yang tepat berada di depan Presdir. Gadis tanned itu lantas memijat daerah di kedua matanya.

“Beberapa hari terakhir sangat melelahkan.” Yuri menjawab sambil mendelik ke arah Manajer Yun. Pria berkacamata tersebut menelan ludahnya -lagi.

Presdir menarik nafas panjang, ia berencana menumpahkan semua unek-uneknya pada Yuri. “Yuri-ah kau tau kan pagi ini Produser Shin meneleponku-”

Sebelum Presdir Park sempat melanjutkan kata-katanya Yuri memotong. “Sebenarnya pagi ini Predir Kim dari YJ Entertainment juga meneleponku.”

Setelah mendengar pernyataan Yuri Predir Park menegakkan tubuhnya. Presdir Kim adalah saingan utamanya dalam bisnis ini. Untuk apa ia menelepon Yuri? Apa pria itu berencana melakukan cara-cara kotor untuk merebut artisnya?

“Dia bertanya kapan kontrak kerjaku denganmu berakhir.” Lanjut Yuri. Mengetahui dugaannya benar, wajah Presdir Park memucat. Ia tentu saja takkan membiarkan Presdir Kim merebut Yuri. Gadis tanned itu adalah aset perusahaan paling berharga yang dimilikinya. Jika Presdir Kim ingin merebut Yuri ia harus melangkahi mayat Presdir Park dulu. Sedetik kemudian Presdir Park menelan kekesalannya pada Yuri berikut semua unek-unek yang semula ingin ia tumpahkan pada gadis tersebut.

“Jadi, apa yang ingin Presdir katakan padaku?”

“I-itu… tidak ada. Sebenarnya Yuri-ah kalau kulihat kulitmu semakin hari semakin bersinar saja.”

“Itu karena pola hidup sehatku.”

“Uri Yuri memang orang yang ahli dalam menjalani hal itu. Begini Yuri-ah kemarin pihak Etude Cosmetic menawari kontrak kerja, kau mau melakukannya?”

“Atur saja jadwalnya.”

“Baiklah kau boleh pergi. Bersenang-senanglah.” Presdir Park melambaikan tangannya sementara Yuri meninggalkan ruangan tersebut dengan senyum kemenangan. Manajer Yun menggelengkan kepalanya. Ia sudah sering melihat hal seperti ini. Presdir Park hanya bisa marah padanya namun membentak Yuri saja tidak berani.

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

Beberapa hari tinggal bersama, Yuri dan Jessica tidak menganggap keberadaan satu sama lain. Setiap kali -tanpa sengaja- berpapasan keduanya akan saling membuang muka. Saling menyapa pun menjadi hal paling tabu di ‘rumah’ mereka.

Beberapa hari tinggal bersama juga membuat keduanya saling mengetahui kebiasaan buruk masing-masing. Orang yang terlanjur saling benci memang pada dasarnya akan selalu menganggap apapun yang dilakukan musuhnya sebagai sesuatu yang salah.

Penilaian Jessica tentang Yuri selama beberapa hari ini adalah. Pertama dia adalah artis yang arogan, sombong, berantakan, keras kepala, bodoh dan selalu seenaknya sendiri. Dan mesum tentu saja, Jessica takkan lupa yang satu itu.

Pagi ini Yuri kembali menerima beberapa paket dari fansnya. Bunga, cokelat, boneka dan sebuah cake. Namun seperti pagi sebelumnya, Yuri membuang semua barang itu ke tempat sampah. Bahkan tanpa melihat benda itu untuk kedua kalinya. Si arogan ini benar-benar tak menghargai apa yang telah orang lain berikan untuknya. Memang barangnya tidak seberapa hanya saja seharusnya Yuri memikirkan perasaan orang yang memberi itu untuknya.

Jessica menyilangkan tangan di dadanya seraya menatap Yuri penuh kebencian.

“Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu? Kalau kau menginginkannya kau bisa mengambilnya nona Jung.” Yuri tersenyum meremehkan sambil menunjuk barang-barang di dalam tempat sampah.

Tolong siapapun musnahkan makhluk jelek ini dari muka bumi sekarang juga!

Tidak hanya Jessica yang memberi Yuri penilaian, diam-diam Yuri juga memberi Jessica penilaiannya. Menurutnya Jessica adalah penyihir violent, berisik, pengatur, pemalas, dan dingin. Ya, Yuri memang berencana memanggil Jessica penyihir sampai gadis itu berhenti memanggilnya mesum.

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

Musim liburan akan segera berakhir dan itu sangat menyebalkan bagi Jessica. Hari ini Jessica sengaja datang ke sebuah toko untuk membeli seragam baru. Akan menjadi sejarah karena selama hidupnya Jessica tidak pernah mengenakan seragam.

Di ujung sana, Tiffany mendengarkan keluhan sahabatnya dengan seksama. Sedari tadi Jessica bercerita tanpa henti. Jessica yang ini agak banyak bicara, seperti bukan Jessica saja tapi sebagai pendengar yang baik Tiffany mencoba tidak menyela. Walau begitu saat nama ‘Kwon Yuri’ keluar dari mulut Jessica, Tiffany sempat berpikir. Entah kenapa nama itu seperti tidak asing di telinganya.

Jessica memasuki toko tersebut masih sambil menelepon. Gadis blonde itu baru memutuskan sambungan teleponnya saat seseorang menabraknya dan mengotori bajunya dengan kopi. Jessica merengut sebal, apa menabrak orang sudah menjadi hobi penduduk Korea atau semacamnya? Ini adalah baju kesayangan Jessica dan gadis itu tau betul jika noda kopi bukan noda yang mudah dihilangkan. Namun, hal yang paling membuat Jessica kesal adalah, kenapa harus orang ini -lagi. Gadis dengan penyamaran bodohnya. Seakan dunia ini tak cukup luas untuk mereka berdua.

Yuri berusaha mengalihkan pandangannya kemanapun asal bukan Jessica. Gadis tanned itu tidak berani memandang wajah Jessica yang kini menatapnya dengan wajah sangar.

“Aku tidak sengaja.” ucap Yuri angkuh. Ayolah, minta maaf tidak pernah ada dalam kamus hidupnya.

Jessica masih memandangnya kesal. “Kenapa kau dan wajah menyebalkanmu itu selalu ada di setiap tempat yang kudatangi?”

“Maaf mengecewakanmu penyihir tapi aku ini artis terkenal, orang-orang rela memberikan apapun untuk bisa bertemu denganku. Kau seharusnya bersyukur!” balas Yuri sombong.

“Tapi tunggu! Kenapa kau bisa ada disini? Kau sengaja mengikutiku? Aishhh.. seharusnya aku menduga ini dari awal.” Heboh Yuri. Jessica memutar kedua bola matanya, sama sekali tidak berniat meladeni perkataan gadis besar kepala di hadapannya. Perdebatan di rumah saja cukup.

Di dalam toko, tanpa ada perjanjian keduanya setuju untuk bersikap layaknya orang yang tidak saling mengenal. Dan Jessica dengan rela hati berusaha melupakan insiden tabrak juga kopi tumpah beberapa saat lalu.

Disisi lain Yuri sesekali mencuri pandang ke arah Jessica. Ternyata gadis blonde tersebut datang kemari untuk membeli seragam sama sepertinya. Yuri sebenarnya tidak mau pergi ke sekolah tapi Manajer Yun dan Presdir Park terus memaksanya. Semuanya gara-gara berita yang dibuat Reporter Nam. Reporter tua yang selalu cari gara-gara dengan Yuri. Sebenarnya kalaupun Yuri -dalam setahun- hanya hadir di sekolah beberapa kali itu bukan masalah. Tapi Reporter Nam membesar-besarkan masalah itu dan membuat para Netizen mengkritik Yuri. Tidak bertanggung jawab, malas, dan sebagainya.

“Karena itu Yuri-ah mulai semester baru nanti datanglah ke sekolah. Kau tidak mau kan dianggap menggunakan popularitas untuk masuk sekolah bergengsi tersebut?” bujuk Presdir Park. Yuri menghela nafas, ia tidak punya pilihan lain.

“Seragam itu tidak cocok untukmu.” komentar Yuri saat melihat Jessica bercermin di depan fitting room dengan seragam melekat di tubuhnya. Jessica melirik Yuri sebentar sambil memicingkan mata namun Yuri hanya melihat lurus cermin yang ada di hadapan mereka. Kalau dipikir lagi sebenarnya Jessica juga merasa seragam ini ukurannya terlalu longgar.

“Wajahmu terlalu tua untuk mengenakan seragam SMA.” Yuri tertawa setelah mengatakannya dan baru berhenti setelah Jessica meninju perutnya. Si bodoh itu, rasanya tak seharipun tidak meminta Jessica memukulnya.

“Dasar penyihir violent!!”

.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

P.S
Baca Juga :
1. Replay
2. In MY Room
3. Hit Me Baby
4. Lucifer

Drabble #22 (YulSic)

Posted: Februari 19, 2015 in drabble, yulsic
Tag:, , ,

Drabble #22

Malam Valentine Jessica duduk di belakang kemudi. BMW Z10 yang dikendarainya membelah jalanan Seoul yang tampak padat lancar. Ramalan cuaca tadi pagi memang mengatakan jika malam Valentine kali ini Seoul akan dinaungi cuaca yang cerah -walau dingin. Benar-benar cocok untuk pasangan muda-mudi yang mungkin merayakan malam Valentine bersama kekasih mereka.

Sementara untuk Jessica yang bukan lagi gadis SMA, membuat ‘cokelat cinta’ memang tak lagi menjadi prioritas utamanya. Setelah seharian melewati waktu yang melelahkan satu-satunya yang Jessica inginkan saat ini hanya pulang lalu tidur. Lagipula Jessica bukan tipe gadis -seperti kebanyakan gadis lain- yang tergila-gila pada hal cheesy romantic dan semacamnya. Malam Valentine dan malam lain apa bedanya?

Dengan tangan yang masih memegang kemudi, sesekali gadis blonde itu mencuri pandang ke arah ponselnya yang sengaja ia letakan diatas dashboard -supaya mudah terlihat. Benda yang tampak damai itu membuat Jessica kesal. Oke, oke! Jessica berbohong -soal tidak suka hal-hal cheesy romantic dan semacamnya- karena pada kenyataannya Jessica juga ingin melewati malam Valentine bersama orang yang ia sayangi. Terlebih lagi mereka sudah lama tak bertemu -seminggu. Jessica mengerti jika kekasihnya sedang melakukan tugas mulia, hanya saja sebagai seorang wanita ia merasa kecewa karena di nomor duakan. Bukankah, setidaknya orang itu memberinya kabar atau membalas pesan yang Jessica kirim untuknya.

“Si bodoh itu!” Jessica mendesis pelan.

Sampai di persimpangan mobil Jessica dipaksa berhenti oleh seorang polisi. Jessica mengerutkan keningnya bingung. Gadis blonde itu tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Memang tadi ia sedikit mengumpat tapi polisi ini takkan mendengarnya bukan? Lagipula tidak masuk akal jika seseorang ditilang karena ia mengumpat. Walau begitu sebagai warga negara yang baik Jessica tetap menepikan mobilnya sesuai perintah.

“Selamat malam nona.” Sapa polisi bername tag Kwon Yuri dengan ramah seraya mempersilahkan Jessica turun dari mobilnya. Jessica mendelik sebal sebelum menjawab pertanyaan itu seadanya sambil menuruti perintah sang polisi.

“Malam.”

“Anda tau apa kesalahan anda?” Masih dengan senyuman ramah yang menghiasi wajahnya polisi bernama Yuri itu bertanya.

“Aniyo.” Jawab Jessica angkuh.

“Kesalahan anda adalah… sudah mencuri hati saya nona Jung.”

Jessica membulatkan matanya begitu polisi -yang seharusnya menilangnya- tersebut berlutut di hadapannya. Terlebih lagi ia mengatakan hal-hal aneh -namun cheesy. Paras Jessica matang, gadis itu menyuruh Yuri berdiri tapi Yuri menolak.

“Kwon Yuri apa yang-” kata-kata Jessica terhenti begitu Yuri menyodorkan kotak berisi cincin di hadapannya.

“Sica karena kau sudah mencuri hatiku kuharap kau mau bertanggung jawab. Menikahlah denganku Jessica Jung Sooyeon?” Pinta Yuri penuh harap. Gadis tanned itu masih setia berlutut menunggu jawaban sang kekasih.

Mendengar permintaan Yuri yang begitu tulus, Jessica tak lagi menahan emosinya. Gadis blonde itu menghambur kepelukan Yuri dan membuat keduanya terjatuh di atas aspal. Dalam pelukan Yuri, Jessica terisak sambil mengangukkan kepalanya.

“Babo!!”

“Aku akan menganggap itu sebagai ‘Iya’.”

Yuri berdiri bersama Jessica yang masih ada dalam pelukannya. Sedetik kemudian Yuri mendudukkan Jessica diatas kap mobil mereka lalu memasangkan cincin di jarinya.

“Saranghae.” ucap keduanya bersamaan sambil saling tersenyum. Setelahnya Yuri mengecup bibirnya lembut dan membuat para pengguna jalan yang sedari tadi menjadi penonton drama kecil itu ikut bersorak gembira.

Boleh Jessica jujur sekarang? Ini adalah Valentine terbaik yang pernah ia alami.

.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

In MY Room (Oneshot)

Posted: Februari 19, 2015 in ff snsd, one shot, yulsic
Tag:, , ,

Tittle : In MY Room
Author : RoyalSooosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Comedy Romantic
Lenght : Ficlet
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri and Other Cast

In MY Room
.
.
.
.
.

Jessica mendengus kesal sementara orang hitam-mesum-menyebalkan yang belakangan Jessica tau bernama Kwon Yuri duduk di sebelahnya dengan ekspressi yang memuakkan -menururt Jessica. Sekali lagi, sekarang bahkan belum genap 24 jam ia menginjakkan kaki di Korea tapi masalah terus bertubi-tubi menghampirinya. Dan kenapa lagi-lagi dengan orang mesum ini?

Sementara itu direktur perumahan duduk di depan keduanya layaknya seorang pengadil. Jessica hanya berharap saja pengadil itu bersikap bijaksana seperti selayaknya karena kalau tidak Jessica akan membekukannya.

“Jadi begini nona Jung dan nona Kwon..” direktur Lee mulai bersuara. Jessica menegakkan tubuhnya dengan ekspressi tidak sabaran, disampingnya Yuri tersenyum sinis. Untuk apa repot-repot toh pada akhirnya ia yang akan menang dan gadis violent tersebut yang harus angkat kaki dari apartemen mereka, bukan, miliknya.

“Akta kepemilikan yang diserahkan nona Kwon memang asli.” ucap direktur Lee. Jessica membelalakan matanya tak percaya. Bagaimana bisa apartemen yang dibeli ayahnya -untuknya- adalah milik Yuri? Pasti ada kesalahan! Pasti!

“Kau dengar itu?!” Kwon Yuri menyeringai sementara Jessica berusaha mati-matian menahan hasrat untuk mengacak wajah Yuri disini, saat ini juga. Insiden kain pel beberapa waktu lalu nampaknya belum memberi Yuri pelajaran.

“Ekhmm.” Direktur Lee berdehem untuk mengalihkan perhatian dua gadis yang tengah saling menatap dengan aura pembunuh di hadapannya.

“Sebenarnya nona Kwon, Akta kepemilikan yang dimiliki nona Jung juga asli.” Lanjut pria paruh baya tersebut.

“MWO?!” Yuri dan Jessica sama-sama terkejut.

“B-bagaimana bisa?” Tanya keduanya bersamaan -lagi.

“Hal itu memang bisa saja terjadi. Sepertinya tuan Jung sengaja membeli apartemen itu setengah harga lalu nona Kwon membayar sisanya. Karena itulah kenapa Apartemen itu memiliki dua Akta kepemilikan yang keduanya sah.”

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

Yuri dan Jessica sama-sama duduk di ruang tengah apartemen ‘mereka’ tanpa bersuara. Di sudut ruangan manajer Yun menelan ludahnya dengan ekspresi takut. Bagaimana tidak tidak jika Yuri terus melotot padanya.

“I-itu karena kau bilang ingin membeli apartemen di kawasan Cheondamdong dengan harga murah. Inilah satu-satunya yang bisa kudapat.” jelas pria berkacamata tersebut seraya menyesali nasibnya. Kenapa kehidupan itu begitu sulit.

Yuri berdiri sambil berkacak pinggang. Tidak ada gunanya melampiaskan kekesalannya pada manajer Yun, saat ini Jessica adalah masalah yang lebih penting.

“Aku akan membayar sisa setengahnya dan kau boleh keluar dari tempat ini.” Putus Yuri akhirnya. Tidak mungkin kan jika Yuri benar-benar harus berbagi tempat dengan gadis penyihir ini? Membayangkannya saja membuat seluruh bulu di punggungnya berdiri.

“Mwoya?!” Jessica tertawa sinis dan menolak tawaran Yuri mentah-mentah. Gadis hitam itu benar-benar bertindak seenak jidatnya dan membuat Jessica kesal, dia mau menyogok Jessica dengan uang? Jessica kan bukan pengemis, lagipula kenapa ia yang harus pergi? Jessica adalah orang yang lebih dulu datang. Maka jika ada orang yang harus pergi maka Yuri-lah orangnya.

“Kenapa tidak kau saja yang pergi dasar penjahat mesum?!”

“Mwo?! Penjahat mesum? Bukankah aku sudah menjelaskannya padamu? Dengar ya aku benar- benar lelah malam ini dan tidak mau berdebat jadi kumohon pergilah dengan damai nona Jung. Berikan nomor rekeningmu aku akan segera mentransfer uangnya.” Ucap Yuri angkuh dan membuat Jessica semakin kesal.

“I don’t need your money and i’ll never leave this place. Because it’s MINE. You got it?”

“Ya!! Aku bahkan sudah berbaik hati dengan tidak melaporkanmu ke polisi.”

“Polisi? Justru aku yang lebih berhak melaporkanmu ke polisi dasar mesum!!”

“Mwoya? Aku yang korban disini! Apa kau lupa kau sudah memukul wajahku dengan kain pel?! Wanita ini benar-benar!”

“SSTTOOOPPPPP!!” Manajer Yun berteriak dan membuat Yuri dan Jessica berhenti bersedebat. Keduanya seperti Tom and Jerry saja. Sebenarnya hal ini bisa diselesaikan dengan cara baik-baik hanya saja sifat keduanya yang keras kepala membuat permasalahan ini lebih rumit.

“Daripada kalian berdebat, aku punya ide yang mungkin bisa membantu.”

“Mwoya? Aku dan penyihir ini tinggal bersama? Tidak mau!” Yuri menolak mentah-mentah begitu manajer Yun mengutarakan isi kepalanya. Ya, karena keduanya begitu keras kepala dan menolak untuk mengalah bukankah akan lebih baik jika mereka tinggal bersama. Hanya sementara waktu.

“Aku juga tidak mau mempertaruhkan hidupku dengan tinggal bersama orang mesum ini.” Jessica menunjuk Yuri dengan ekspressi horor. Walau hanya sementara Jessica tak bisa menerima ide gila itu. Yuri mendengus kesal, panggilan ‘kasih sayang’ Jessica untuknya membuat telinga Yuri terasa panas. Apa tidak ada kata-kata yang lebih baik? Yuri jadi merasa dirinya kotor.

Yuri tidak tahan lagi, gadis itu mencengkram pergelangan tangan Jessica. “Berhenti memanggilku mesum dasar penyihir.”

“A-apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!”

“Tidak. Sebelum kau bersumpah tidak akan memanggilku mesum lagi.” Ancam Yuri. Jessica berontak namun tenaga Yuri yang jauh lebih kuat darinya membuat usaha Jessica sia-sia. Yuri menyeringai saat gadis blonde itu mulai panik. Jessica berpikir cepat, gadis blonde itu menendang tulang kering di kaki Yuri dan membuat gadis tanned itu meringis kesakitan. Yuri lengah dan Jessica memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kabur. Jessica bermaksud lari namun Yuri terlebih dahulu menarik pergelangan tangannya. Gadis blonde itu terjatuh dengan Yuri yang ada di atasnya.

Mata Jessica membulat dan sebelum Yuri sempat menyadari dimana tangannya mendarat, Jessica lebih dulu menamparnya.

Plak!

“Itu pasti sakit.” Manajer Yun meringis sambil memengangi pipinya. Ikut prihatin dengan apa yang dialami sang majikan.

Setelah keadaan kembali tenang, Yuri dan Jessica duduk di sofa ruang tengah dengan posisi saling memunggungi. Dalam kepalanya Yuri bersumpah takkan menakut-nakuti Jessica lagi, satu tamparan saja cukup. Sementara Jessica memegangi dadanya sambil memasang ice glare. Pada akhirnya -walaupun tidak mau- keduanya terpaksa tinggal bersama sampai manajer Yun menemukan solusi yang lebih baik.

Sebelum benar-benar pergi pria berkacamata tersebut menyerahkan sebuah Stun Gun pada Jessica. “Untuk jaga-jaga saja.” bisiknya.

“Ya!! Apa maksudmu oppa?! Akulah korban sebenarnya disini!” Protes Yuri seraya menunjuk pipi kirinya yang terdapat bekas telapak tangan Jessica.

Untuk keduanya, hari-hari selanjutnya tentu akan menjadi hari yang berat, atau mungkin tidak?
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

P.S
Baca Juga :
1. Replay
2. In MY Room
3. Hit Me Baby
4. Lucifer

Drabble #21

Di dorm mereka, Yuri berteriak histeris sambil menjulurkan lidahnya. Wajah gadis tanned itu berubah merah sementara matanya berkaca-kaca. Bukan, Yuri bukan sedang jatuh cinta, patah hati atau semacamnya. Yuri hanya sedang kepedasan karena lomba makan bodoh yang dilakukannya bersama Sooyoung.

Awalnya Sooyoung mengejek Yuri karena dia tidak bisa makan pedas dan Yuri yang menganggapnya serius tentu tak terima. Gadis tanned itu tentu tak mau jika ‘seobang’ lainnya menjulukinya dengan monyet hitam yang takut pedas. Tidak! Bagaimana dengan harga dirinya? Jadilah Yuri dan Sooyoung mengadakan lomba makan makanan pedas sebagai pembuktian.

Sooyoung yang sudah menghabiskan 5 mangkuk ramyun ekstra pedas, Donkasseu, Dak bal, dan Bibim Naengmyeon langsung terkapar di tengah dorm mereka. Sunny memutar kedua bola matanya, tidak memperdulikan  kekasihnya yang kembali bersikap kekanakan.

Yuri masih berteriak-teriak histeris kali ini sambil loncat-loncat walau pada kenyataannya dia baru menghabiskan semangkuk ramyun pedas.
“Tolong!!”

“Berisik Kwon!!” teriak Taeyeon kesal. Bagaimana tidak jika dia sedang sakit gigi dan tak ada seorangpun yang mau mengerti keadaannya.

“Yul coba makan sesuatu yang manis.” usul Tiffany. Yuri berhenti meloncat, secepat kilat gadis tanned itu mencari gula ke dapur dan ternyata persedian gula di dorm mereka habis.

“Kenapa bisa habis?” Yuri meratapi nasibnya sementara Hyoyeon hanya bisa memamerkan deretan gigi putihnya. Tadi pagi Hyoyeon mandi susu tapi karena susunya tidak manis jadi dia menambahnya dengan gula -yang banyak.

“Ah benar permen! Siapa yang punya permen?”

Semuanya menggelengkan kepalanya. Yuri hampir menyerah sampai matanya menangkap sosok kekasihnya yang tengah menonton televisi bersama duo maknae. Yuri berlari ke arah Jessica dan langsung mencium bibirnya.

“Ya!! Apa yang kau lakukan?” kesal Jessica.

“Aku sedang berusaha menghilangkan rasa pedas di mulutku. Fany bilang caranya dengan menggunakan sesuatu yang manis, karena bibirmu manis baby jadi aku menggunakannya.” ucap Yuri tanpa rasa bersalah. Jessica tersenyum namun setelahnya dia merendam kepala Yuri di dalam wastafel.

Sementara Sooyoung yang masih terkapar mulai tertawa. Walau setelah ini dia harus menemui dokter setidaknya Sooyoung tau kalau dia sudah menang.

Sementara itu duo maknae yang melihat adegan YulSic…

“U-unie barusan itu apa?” Seohyun bertanya dengan suara terbata.

“Mollayo.” jawab Yoona, tak sadar jika hidungnya mimisan.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END