Archive for the ‘yulsic’ Category

Tittle : Oh My Ghost
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Gender Bender, Drama, Supranatural
Lenght : Series
Cast :
Kwon Yul
Jung Sooyeon
Kim Taeyeon
Im Yoong
Cho Kyuhyun
Choi Sooyoung
Seo Juhyun
Kim Heechul
Lee Junho
Kim Shinyoung
Other Cast

Disclaimer : This is Soshi Version of Drama ‘Oh My Ghost’. The Drama belong to TvN. The Plot and The Cast is not mine. Just For Fun.

Part : 2

 

Menjadi satu-satunya pekerja wanita otomatis membuat Sooyeon menjadi satu-satunya orang yang selalu keluar restoran terakhir. Malam ini cerah, setelah menatap langit malam beberapa saat gadis itupun melangkah pergi. Ada satu tempat yang ingin ditujunya malam ini. Pasar tradisional.

Kali ini bahan makanan yang dibeli Sooyeon cukup banyak. Gadis bertubuh mungil itu bahkan harus menyeret langkahnya saat berjalan. Tidak lama setelahnya Sooyeon sampai di kamarnya. Apartemen yang disewanya merupakan kamar kecil yang dipenuhi berbagai penangkal hantu seperti kertas-kertas jimat bertuliskan mantra, tempat pembakaran dupa, salib sampai bawang putih. Meski siapapun tahu di Korea tidak ada vampire.

Sooyeon ingat sejak masih anak-anak ia selalu bercita-cita menjadi chef terkenal. Mungkin karena itu pula ia rela bekerja di Sun Restauran meski setiap hari harus rela dimarahi. Bukankah hidup itu butuh perjuangan? Meskipun pahit selalu ada satu hal yang membuat kita semangat. Hal kecil namun sangat berarti. Kenangan yang membuat hati hangat. Sooyeon memilikinya tentu saja, salah satu kenangan masa kecilnya.

Kenangan masa kecil yang membuatnya ingin membuat bubur kubis malam ini.

Sejak kecil Sooyeon merupakan anak yang lemah dan sering sekali mengalami masalah pencernaan. Setiap hal itu terjadi sang nenek selalu membuatkannya bubur kubis. Sambil memotret semangkuk bubur kubis yang telah matang Sooyeon tersenyum, ia ingat bagaimana dulu neneknya suka menakutinya dengan jarum akupuntur jika Sooyeon tidak mau memakan bubur kubis itu.

”Memikirkan nenekku tidak hanya melegakan perutku tapi juga hatiku. Maka dari itu hari ini aku memposting resep bubur kubis ini.” Tulis Sooyeon dalam blog pribadinya. Satu rahasia dari Sooyeon yang tidak diketahui siapapun.

***
 

Keesokan harinya Sun Restoran dihebohkan oleh kedatangan Narsha Park. Seorang blogger makanan yang bahkan lebih terkenal dari selebritis. Sebutkan satu saja restoran terkenal di Korea yang belum pernah masuk situsnya, niscaya kau takkan menemukan satupun.

“Aku sangat iri padanya, kerjaannya cuma memotret dan menulis tapi dia sangat kaya.” Sooyoung bergumam sambil memandangi Narsha yang sedang sibuk dari balik meja pantry. Jenis pekerjaan Narsha adalah jenis pekerjaan yang membuat banyak orang iri.

Beberapa saat kemudian kedua alis Narsha berkerut setelah memandangi hasil bidikan kameranya. Gambarnya kurang bagus.

“Pelayan kemarilah.” Panggilnya pada Sooyeon.

“Ne?”

“Tolong panaskan mie ini. Hasil fotoku jadi kurang bagus karena mienya sudah dingin.” Perintah Narsha. Sooyeon ragu melakukannya, ada dua alasan. Pertama, mie pesanan Narsha merupakan buatan Chef, selama ini tidak ada seorangpun yang berani menyentuh masakan buatan Chef. Kedua, juga merupakan alasan yang paling penting, jika dihangatkan kembali maka mienya akan menjadi lembek.

Meski begitu Narsha tidak peduli, sebagai seorang blogger yang sudah bertahun-tahun bergelut dalam dunia kuliner Narsha tentu lebih berpengalaman dari seorang pelayan yang mungkin belum genap setahun bekerja di restoran. Wanita bermarga Park itu tetap memaksa Sooyeon dengan nada arogan.

“Kau lihat apa yang terjadi barusan?” Tanya Sooyoung. Junho menganggukkan kepalanya.

“Penilaianku berubah sekarang, daripada wanita dengan pekerjaan impian kurasa dia lebih seperti pemaksa yang berbicara seenaknya tapi memiliki sejuta pengikut.”

“Bukankah itu pengaruh internet, lagipula sekarang orang-orang lebih percaya apa yang ingin mereka percayai, tidak peduli apakah itu benar atau salah.”

“Kau benar.”

Minjun –anak Narsha- merengek minta di perhatikan ibunya. Anak berusia lima tahun itu merasa bosan karena sudah berjam-jam ia menemani sang ibu bekerja.

“Tunggu sebentar lagi sayang.” Ujar Narsha dengan tatapan tak lepas dari kamera di tangannya. Barulah setelah sang anak hampir tersiram kuah pasta panas yang dibawa Sooyeon perhatian Narsha kembali ke dunia nyata.

Sooyoung, Junho, Yoong dan Heechul ikut menoleh begitu Sooyeon menjerit. Minjun tiba-tiba menabrak Sooyeon dan hampir membuat mangkuk mie di tangannya jatuh, beruntung Sooyeon masih bisa menahannya, meski pada akhirnya tangannya harus tersiram kuah panas.

Narsha buru-buru menghampiri anaknya, beruntung Minjun sama sekali tak terluka. Walau begitu hal itu tak lantas membuat kegeramannya pada Sooyeon mereda. Ia tak habis pikir bagaimana restoran yang begitu terkenal memperkerjakan gadis sembrono seperti ini. “Kenapa kau ceroboh sekali saat membawa makanan panas?! Bagaimana kalau anakku sampai terkena luka bakar?!”

Sooyeon hanya bisa menunduk dan meminta maaf berkali-kali. Narsha yang tidak peduli terus saja bicara.

Yul yang baru muncul langsung berbicara pada Minjun. “Hai nak, siapa namamu?”

“Minjun.”

“Minjun-ah apa kau sudah masuk taman kanak-kanak?”

“Ne.” Minjun menganggukkan kepalanya.

“Apa kau tahu tidak boleh berlari-lari di dalam ruangan?”

“Ne ahjussi.”

“Sekarang apa kau tahu apa yang harus dilakukan saat kau salah?”

“Minta maaf.”

Saat Minjun mengakui kesalahannya, Narsha jadi tambah emosi dan tidak terima dengan perlakuan Yul.

“Anda marah karena saya mendisiplinkan anak anda? Saya juga marah karena anda mendisiplinkan pegawai saya.” Ujar Yul. “Kenapa menyalahkan orang yang tidak bersalah kalau anda sendiri yang tidak bisa mengontrol anak anda?”

“Situasi menggelikan macam apa ini?” dengus si blogger kesal.

“Aku tahu, memang menggelikan bukan? Menyuruh supnya dihangatkan padahal jelas-jelas mienya bisa jadi lembek. Dan saat mienya tidak enak anda-“

“Oppa!” Seohyun langsung menyela untuk memperingatkan Yul untuk tutup mulut tapi Yul tidak peduli. Yul tidak terima Narsha menyalah-nyalahkan Sooyeon atas kesalahan yang tidak gadis itu perbuat.

Pertengkaran keduanya semakin memanas, Sooyoung dan ketiga rekannya yang lain menonton dari balik meja pantry dengan takut-takut. Siapa sangka masalahnya bisa sepanjang ini. Yul dan Narsha masih beradu argument, Seohyun berusaha melerai keduanya tapi begitu melihat Seohyun yang terduduk diatas kursi roda, Narsha lantas mengatakan hal yang benar-benar kelewat batas. “Huh, sepertinya tidak ada orang normal di tempat ini.”

Seketika itu pula kemarahan Yul semakin memuncak. Narsha boleh menghina Yul, menghina masakannya, ataupun menghina restorannya, Yul tidak peduli. Tapi tak ada seorangpun yang boleh merendahkan adiknya. Siapapun itu Yul takkan membiarkannya, sekalipun seorang wanita.

Tanpa berpikir dua kali Yul menyeret Narsha dan anaknya keluar Sun Restaurant. “Maaf karena restoran kami hanya melayani pelanggan yang normal saja.”

Narsha berlalu dengan emosi memuncak. Sepanjang Yul masih bisa mendengarnya, blogger tersebut terus saja meneriakkan berbagai macam ancaman. Sementara Sooyeon yang berdiri di samping Yul terus menerus meminta maaf pada si blogger.

Yul jadi tambah kesal melihat sikap pegawainya yang satu itu. Terlebih lagi setelah meminta maaf pada si blogger, Sooyeon malah minta maaf lagi padanya.

***

Saat Yul membawanya ke halaman belakang restoran untuk di omeli, Sooyeon tampak gemetaran hebat. Untuk kesekian kalinya –karena sudah tak terhitung- Sooyeon membungkuk meminta maaf dan menyalahkan dirinya sendiri atas penyebab insiden tadi.

“Kau tahu apa yang tidak kusukai darimu? Sikapmulah yang membuatku kesal!” gerutu Yul.

Sooyeon selalu saja meminta maaf dan menyalahkan dirinya sendiri dalam situasi apapun, baik dia bersalah ataupun tidak. Bersikap seperti itu bukan berarti Sooyeon berbuat baik, justru sikapnya ini malah membuat orang lain di sekitarnya jadi tampak jahat. “Apa kau mengerti?”

“M-maafkan a-aku Chef.”

Yul menggelengkan kepalanya. Sooyeon sama sekali tidak mengerti inti dari omelannya dan membuat Yul mendesah frustasi. “Dapur bukanlah tempat yang mudah. Tempat ini adalah medan perang. Hanya orang-orang yang kuat saja yang mampu bertahan. Kau tidak akan punya kesempatan jika kau terus-terusan membuat dirimu jadi orang lemah.”

“Chef-“

“Daripada menjadi orang bodoh yang keras kepala dan membuat orang lain muak, pikirkan baik-baik apakah sebenarnya kau cocok di dapur atau tidak?!” Yul berlalu setelah mengatakannya sementara air mata Sooyeon perlahan menetes diatas kulit tangannya yang terasa menyengat.

 

***

 

Saat Yul kembali ke ruangannya, Seohyun sudah lebih dulu ada disana, menunggunya dengan cemas. Dari ekspressi Yul, Seohyun tahu sang kakak sudah memarahi Sooyeon habis-habisan.

“Oppa itu bukan kesalahan Sooyeon, lagipula menjadi baik bukan sebuah kejahatan.”

“Menjadi baik adalah sebuah kejahatan.” Sahut Yul.

“Pakai ini!” Sooyeon mendongak dan mendapati Yoong menyodorkan krim luka bakar padanya.

“Wanita itu jangan sampai mempunyai bekas luka.”

“Gomawo.”

“Ngomong-ngomong apa kita akan baik-baik saja? Narsha Park adalah blogger yang cukup berpengaruh.” Tanya Seohyun cemas.

“Memangnya blogger itu semacam jabatan resmi apa?” Yul kembali menggerutu. Entah kenapa akhir-akhir ini blogger jauh lebih menyebalkan daripada reporter. Siapa mereka berani member rating? Atas dasar apa penilaian mereka? Memangnya siapa yang ingin dia bohongi?

”Hariku sudah cukup buruk, apalagi yang mungkin lebih menyebalkan?” tepat setelah berkata seperti itu, sebuah pesan masuk di ponsel Yul. Sebuah undangan reuni SMA.

“Pesan dari siapa?”

“Bukan dari siapa-siapa. Hanya spam.” Yul langsung menghapusnya.

Kenapa? Karena saat SMA Yul memiliki kenangan yang tidak begitu menyenangkan. Satu-satunya alasan kenapa Yul tidak menyukai sifat Sooyeon karena, tiap kali melihat Sooyeon, Yul seperti bercermin pada masa lalunya.

 
Kelas sudah lama usai sementara Yul menjadi orang terakhir yang meninggalkan sekolah. Hari itu cuacanya tak begitu bersahat, angin musim gugur yang berhembus mulai membuatnya menggigil. Meski begitu Yul -sebagai anak terbully- harus rela mengerjakan tugas piket Dongju. Benar-benar cara menyedihkan untuk merayakan ulang tahun.

 

Sesampainya di rumah perasaan Yul tak lantas menjadi lebih baik. Terlebih setelah membaca pesan dari ibunya. Hari ini -di hari ulang tahunnya- sang ibu lagi-lagi tak ada. Tiap kali Yul menapakkan kakinya di tempat bernama rumah, hanya kesunyian yang setia menyambut kedatangannya.

 

Hari itu, sebagai tanda perayaan, ibunya menyuruh Yul memesan kimbab tapi Yul lebih memilih memanaskan air untuk memasak mie. Setidaknya hanya mie yang selalu ada untuknya.

 

Sementara itu kata-kata Yul masih terngiang-ngiang dikepala Sooyeon tak peduli seberapa keras gadis itu berusaha melupakannya. Sekarang Sooyeon bahkan tidak berani memandang wajah atasan killernya.

 ***

Dua orang polisi baru saja selesai makan malam di sebuah warung..

“Ne, aku akan datang sebentar lagi.” ujar Kyuhyun sambil membayar pada pemilik warung. Disampingnya Kangin pura-pura bergidik ngeri. Memang tidak ada yang bisa menandingi kemesraan pengantin baru.

“Sunbae bisa saja. Lagipula kami bukan pengantin baru. Bulan depan adalah perayaan anniversary kami yang pertama.” Kyuhyun kembali tersenyum. Waktu rasanya cepat berlalu sementara Kangin tertawa pada tingkah rekan kerjanya yang bersikap layaknya abg pubertas.

Beberapa saat setelahnya paman Kim datang sambil memberikan kembalian.

“Paman tunggu!” cegah Kyuhyun. Paman Kim berbalik dengan wajah bingung. Barulah setelah Kyuhyun memberitahunya bahwa uang kembaliannya lebih paman Kim mengerti. Menjadi tua tentu bukan pilihan. Ia sudah terlalu tua untuk mengerjakan semuanya seorang diri.

“Ngomong-ngomong dimana Jongin?”

“Aku juga tidak tahu kemana perginya anak itu.” keluh paman Kim. Tidak seperti kakaknya, anak termuda keluarga ini -Jongin- sama sekali tak bisa diandalkan.

Kyuhyun tersenyum simpati pada pria paruh baya itu. Mereka sudah saling mengenal sejak Kyuhyun dipindahtugaskan dari Daegu ke Seol. Ia paham betul mengapa paman Kim selalu terlihat kelelahan, ia juga paham betul kenapa senyum pria paruh baya itu tak setulus seperti pertama kali Kyuhyun menginjakan kaki di restoran sederhana ini. Meski begitu Kyuhyun hanya menyimpan alasan itu untuk dirinya sendiri.

Restoran paman Kim dulu sangat terkenal dan selalu ramai. Saat makan siang antrian bisa sangat mengular. Namun kini, bisnisnya sedang tidak terlalu baik. Banyak hal yang sudah berubah. Meski begitu Sampai saat ini Kyuhyun tidak sampai hati berpindah ke lain tempat. Walau tak dipungkiri Kangin sering sekali protes jika Kyuhyun mengajaknya makan di tempat ini.

“Kurasa sesekali kita harus makan di Sun Restaurant. Bukankah pasta buatan kakak iparmu sangat terkenal?” tanya Kangin semangat. Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan menuju Sun Restaurant. Tentu saja karena Kyuhyun akan menjemput istrinya, Seohyun.

 

***

 

Setelah menyerahkan Seohyun pada suaminya, Yul mendatangi sebuah pembukaan restoran yang dijalankan salah satu hoobae-nya.

“Semuanya terlihat seperti dapurku.” komentar pria tanned itu saat mengelilingi dapur milik Suho. Sementara Suho menanggapinya dengan gelak tawa.

“Itu karena aku sangat mengidolakan sunbae.”

Setelahnya acara puncak yang paling ditunggu pun tiba. Mendengar komentar Yul untuk masakan di restoran ini. Yul memasukan sesendok pasta ke mulutnya lalu mengunyahnya pelan. Pria tanned itu terdiam cukup lama, dan Suho pikir itu merupakan salah satu detik terpanjang dalam hidupnya.

“Kau tidak akan bangkrut.” Suho baru bisa bernafas lagi setelah Yul berkomentar seperti itu dengan nada jahil. Kata-kata Yul barusan juga bisa diartikan jika masakan Suho enak.

“Selain rasanya enak, teksturnya juga bagus.” lanjut Yul. Semuanya bersorak, merasa senang dengan penilaian Yul.

“Apa itu artinya sekarang aku sudah sejajar denganmu hyung?” Suho bertanya dengan mata berbinar.

“Eiii tentu saja tidak.” Protes Yul kekanakan. “karena aku adalah dewa yang masakannya memiliki citarasa surga, sementara kalian cuma manusia biasa.”

Ini dia Yul serta kepercayaan dirinya yang kadang-kadang menyebalkan.

“Ya! Tidak semua orang bisa mendengar nasehatku jadi dengarkan baik-baik. Jangan main-main dengan makanan. Apa yang kalian taruh diatas piring bukan cuma makanan tapi juga wajah kalian.”

***

Sooyeon baru sampai di kamar kosnya dan hal pertama yang dilakukan gadis itu adalah membakar dupa. Ritual yang selalu dilakukannya setiap malam untuk mengusir roh jahat –atas saran nenek. Bagaimanapun juga jika dunia merupakan lapangan tempat ia berperang maka kamar kos yang sempit ini merupakan tempat ternyaman Sooyeon untuk bersembunyi dari apapun yang ada diluar. Meski begitu belum sampai semenit bapak kos langsung membuka pintu kamarnya. Sooyeon buru-buru mematikan dupa tersebut tapi terlambat, lelaki paruh baya itu sudah terlanjur menangkap basah dirinya.

 Tuan Lee langsung memandang gadis pendiam itu dengan pandangan tak suka. Di kosan sempit dan tak memiliki ventilasi seperti yang dihuni Sooyeon, menyalakan dupa tentu bukan hal yang diperbolehkan. Selain menganggu para penhuni yang lain, jika tidak berhati-hati tuan Lee takut akan terjadi kebakaran.

“Sudah cukup aku memberimu toleransi nona Jung, mulai besok cari tempat tinggal yang lain saja.” Omel tuan Lee sambil berlalu.

Sooyeon tentu merasa sedih, tambah lagi satu kesulitan dalam hidupnya. Meski airmata sudah mengenangi sudut matanya, Sooyeon enggan menangis. Gadis itu duduk di sisi tempat tidurnya sementara pandangannya tertuju pada sebuah scrapbook yang berisi guntingan artikel-artikel majalah.

Sooyeon membuka halaman pertama benda itu dan menemukan Yul sedang tersenyum di dalamnya. Lalu di halaman kedua, ketiga dan seterusnya. Sooyeon ingat betul ia sudah mengidolakan Yul sejak SMA dan mengingat bagaimana kata-kata Yul begitu menginspirasinya untuk menjadi seorang chef juga. Meski begitu kata-kata Yul yang menyuruhnya untuk memikirkan baik-baik tentang apakah dia cocok di dapur atau tidak membuat keyakinan dan rasa percaya diri Sooyeon menjadi kerdil. Barangkali ia memang tidak bisa melakukan satu hal pun tanpa mengacaukannya kemudian. Termasuk melakukan hal disukainya.

Selanjutnya Sooyeon merobek sebuah kertas dan menulis surat.

***

Pintu restoran Suho berdenting sekali begitu seorang wanita cantik datang ke acara pembukaan restoran Suho. Semua pria menyambutnya dengan senang, Suho berdiri dan memperkenalkan wanita itu pada chef yang lain.

“Semuanya perkenalkan ini adalah Park Gyuri noona.” Kata Suho seiring dengan Gyuri yang memamerkan senyum termanisnya. Yul menatapnya sekilas lalu menganggukkan kepala, diantara yang lainnya mungkin Yul satu-satunya yang nampak kurang tertarik dengan kehadiran gadis itu.

“Oh iya hyung, minggu depan Gyuri noona berulang tahun dan noona ingin hyung menangani bagian makanannya.” Ujar Suho.

“Itu karena semua temanku adalah fansmu, chef Kwon.” Tambah Gyuri malu-malu.

Yul tertawa lalu menjawab dengan nada bercanda. “Tapi bagaimana ya, bayaranku cukup mahal nona Park.”

“Aku bersedia meminta berapapun yang anda minta tuan Kwon.” Balas Gyuri dengan santai. Kali ini Yul hanya menjawab dengan senyuman simpul.

“Hyung bisa meminta sangat banyak. Dia putri pemilik Young Chang Grup.” Bisik Suho dengan suara yang tak begitu pelan.

“Sebenarnya aku ingin menerimanya karena kau cantik tapi sepertinya aku ada janji hari itu, jadi maaf.” Tolak Yul.

 Malam beranjak larut dan itu menjadi alasan pria tanned itu untuk tidak berlama-lama disana.

“Kenapa harus cepat sekali hyung?” rengek Suho sambil mengantar sunbaenya sampai halaman depan.

“Itu karena aku masih ada urusan penting.”

Sebelum Yul benar-benar pergi ia menyerahkan amplop berisi uang untuk Suho. Sebuah bantuan kecil untuk bisnis barunya. Bagaimanapun Yul selalu suka pada anak muda yang memiliki semangat berbisnis. Awalnya Suho menolak tapi Yul tahu pria bermarga Kim itu hanya  malu.

“Hyung, kau tidak perlu sampai melakukannya-“

“Jangan banyak bicara! Terima saja!”

Suho menerima amplop tersebut dan melihat isinya, ia tersenyum lebar. “Saranghaeyo hyung!” 

*** 

Selesai urursan dengan Suho, Yul memutuskan untuk pergi ke pasar ikan. Mencoba melihat apa yang bagus disana, sekaligus memikirkan apa menu special untuk besok. Ditemani segelas kopi yang ia beli dari warung langganannya Yul menyusuri satu toko ke toko yang lain. Karena sudah sering datang kemari beberapa pedagang bahkan sudah mengenalnya dengan baik.

Setelah menulis suratnya Sooyeon berjalan ke dalam restoran dengan langkah lesu. Saat itu larut malam jadi tidak ada seorangpun disana. Sesaat, Sooyeon memandangi tiap sudut restoran itu dengan pandangan sedih. Meski tidak semua kenangan menyenangkan tapi restoran ini sudah seperti rumah kedua baginya. Sooyeon menghela nafas dan menaruh suratnya diatas meja.

Sooyeon baru saja akan pergi saat Yul tiba-tiba datang sambil membawa sekotak ikan yang ia beli dipasar beberapa saat lalu. Yul tentu saja keheranan melihat Sooyeon.

“Apa kau baru datang atau baru mau pulang?”

“Saya barusan datang, ah aniyo, saya mau pulang..” gumam Sooyeon gugup –seperti biasa. Sooyeon merasa perlu melarikan diri sebelum Yul melihat surat yang ditinggalkannya di meja.

“C-chef aku akan membantumu membawanya ke ruang penyimpanan.” Sooyeon menunjuk kotak berisi ikan yang ada di tangan Yul. Gadis itu buru-buru pergi setelah Yul memberikan kunci gudang padanya.

*** 

Dikamarnya, setelah selesai berganti baju Yul memutuskan untuk bersantai. Ia makan semangkuk ramen seraya menggoogling namanya sendiri. Yul langsung kecewa begitu mendapati namanya turun jadi nomor 3 dalam urutan nama chef terpopuler, tepat dibawah nama chef Shindong. Ia lebih kesal lagi saat mendatangi blognya chef Shindong dan menemukan banyak postingan foto chef berbadan subur itu bersama berbagai selebriti terkenal. Yul yakin sekali Shindong melakukannya karena kemampuannya kurang.

Beralih dari blog chef Shindong sekarang Yul membuka sebuah blog bernama YOU’RE MY SUNSHINE yang memposting resep bubur kubis. Yul berdecak kagum begitu membaca motto blog tersebut. “Kebahagiaan hidup, memimpikan meja yang hangat.”

Yul tersenyum membaca postingan sang blogger, meski hanya lewat tulisan ia bisa merasakan ketulusan sang blogger. Yul jadi bertanya-tanya, apa mungkin pemilik blogger ini merupakan seorang chef?

ILoveStrawberry : Sunshine-nim, masakanmu selalu mengandung kebahagiaan yang bisa dirasakan lewat citarasa. Aku adalah fan-mu. Fighting!

Yul menekan tombol kirim dan dengan begitu komentarnya tertinggal disana. Ia tersenyum.

Sementara diluar, Sooyeon memandangi gedung Sun Restaurant untuk terakhir kalinya. Mengingat semua kenangan saat ia bekerja disana. Bagaimana dulu Yul menyambut kedatangannya sebagai pegawai baru dengan wajah kakunya tapi walau begitu Sooyeon tersenyum amat bahagia. Betapa takutnya Sooyeon saat Yul marah-marah pada Sooyoung karena masakannya tidak enak. Dan saat Yul memeluknya dari belakang untuk mengajarinya cara mengiris bawang dengan benar, hal yang membuat Sooyeon gugup  sekaligus bahagia.

Chef aku ingin berterimakasih padamu karena sudah mau menerima orang sepertiku.
 Orang yang selalu membuat orang lain disekelilingnya kesusahan.
Aku selalu ingin melakukan yang terbaik tapi entah kenapa semua selalu berakhir tidak pada tempatnya.
Perkataanmu kemarin membuatku sadar chef, ingin melakukan sesuatu dan bisa melakukan sesuatu adalah dua hal yang berbeda.
Aku juga ingin minta maaf padamu dan semua orang di restoran atas semua masalah yang aku timbulkan.

Selamat tinggal.

 

Tapi ada kata-kata yang tidak bisa Sooyeon katakan dalam suratnya. “Aku belajar satu hal lagi berkatmu, chef. Perasaan manusia itu seperti demam. Sekali dimulai, seberapa banyakpun kau berusaha untuk tidak sakit, pada akhirnya hal itu akan berakhir setelah kau mengalami rasa sakitnya. Aku ingin menjadi chef seperti dirimu. Aku merasa gelisah dan bahagia karenamu. Aku terluka karenamu… lagi dan lagi. Aku sudah melewati rasa sakitnya jadi sekarang aku akan pergi. Bagi orang abnormal sepertiku, Sun Restauran sudah seperti rumah sendiri. Dan walaupun dunia mungkin akan mendorongku lagi tapi aku akan pergi. Selamat tinggal chef.”

Sooyeon membungkuk hormat pada gedung restorannya sebelum melangkah pergi.

 
*** 

Telepon Yul berdering. Pria tanned itu mengangkatnya dengan mata tertutup. Suara Sooyoung terdengar panik di ujung sana, dan selajutnya apa yang dikatakan laki-laki jangkung itu membuat kantuk Yul hilang sepenuhnya.

“Apa maksudmu Sooyeon pergi?”

Sesampainya di restoran Yul langsung membaca surat pengunduran diri yang ditinggalkan Sooyeon.

“Dia bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal secara langsung.” Ujar Seohyun sedih.

“Dia mungkin tidak berani, mengingat kepribadiannya yang seperti itu. Berikan gaji tiga bulan untuknya.” Jawab Yul.

Namun, masalahnya tidak selesai disitu. Beberapa saat kemudian Heechul muncul dengan panik karena kunci tempat penyimpanan makanan menghilang. Yul memijat pelipisnya, mengingat Sooyeon-lah orang terakhir yang masuk kesana, kemungkinan besar kuncinya terbawa gadis itu. Meski kesal Yul masih berusaha bersikap tenang.

”Junho coba kau hubungi Sooyeon.”

“Yes chef!”

“Yoong pergi cari tukang kunci.”

“Yes chef!”

“Heechul dan Sooyoung coba cari cara untuk membuka pintu itu.”

“Yes chef!”

Dilain tempat Sooyeon sedang berusaha mencari tempat tinggal  yang ada jendelanya. Tapi ia menunduk lesu begitu mengetahui mahalnya harga kamar berjendela. Junho meneleponnya tapi Sooyeon tidak mengangkatnya karena berpikir Junho akan menanyakan perihal pengunduran dirinya. Saat itu, tiba-tiba saja suara keras berdengung di telinga Sooyeon dan membuatnya sakit kepala.

Taeyeon yang masih terkurung dirumah dukun Shinyoung berteriak-teriak kebosanan dan membuat Shinyoung kesal.

“Ahhhh bosannn!! Aku sangat bosan sampai rasanya mau gila!” Taeyeon berguling di lantai rumah Shinyoung kesana kemari.

Jika ada satu hal saja, satu hal saja yang bisa Taeyeon lakukan agar Shinyoung mau melepasnya. Namun Taeyeon tahu tentu semua itu tak mungkin. Selama beberapa hari Taeyeon terkurung di ruangan ini bersama Shinyoung. Hanya Shinyoung seorang, sejak beberapa hari Taeyeon disini tak ada seorang pelanggan pun yang datang. Dan seperti yang sudah di duga Shinyoung akan menyalahkannya karena hal ini.

“Itu karena kau menghalangi keberuntunganku.” Shinyoung mengumpat sambil menaikkan celananya yang hampir melorot. Taeyeon yang belum menyerah kembali mencoba bernegosiasi.

“Karena itu tolong lepaskan aku. Jika kau melepaskanku aku janji akan hidup tenang seperti orang mati.”

“Kau memang sudah mati.” Jawab Shinyoung sambil menyeringai. Taeyeon kembali memutar bola matanya. Shinyoung tentu takkan melepaskan hantu pembuat onar seperti Taeyeon begitu saja.

Pembicaraan mereka terhenti begitu bel kediaman dukun paruhbaya itu berdering. Tteokbeokki pesanan Shinyoung baru saja sampai. Beberapa saat setelahnya Shinyoung berdebat dengan pengantar tteokpeokki tersebut karena Shinyoung ngotot membayar menggunakan kupon sementara pria pengantar tteokpeokki ngotot tak mau menerimanya.

“Kalau begini aku bisa rugi ahjumma!”

“Lalu kenapa kau mau mengantar pesananku?!”

“Itu karena sebelumnya aku kira ahjumma akan membayar dengan uang tunai!”

Taeyeon memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri.

Rasanya seperti terbebas dari dalam sangkar. Taeyeon tidak pernah berpikir udara luar begitu nikmat, tidak sampai hari ini. Ia tertawa-tawa sambil berlari sementara Shinyoung terengah-engah mengejarnya seraya mengeluarkan berbagai umpatan. Wanita bertubuh gempal itu tak memperdulikan pengantar tteokpeokki yang bersungut-sungut di belakangnya -dan mulai menganggap Shinyoung gila karena mengejar udara kosong.

“Gawat!” Panik Taeyeon, Shinyoung sudah hampir mendekatinya. Sejak kapan wanita itu bisa berlari cepat?

Bangunan apartemen Shinyoung sudah jauh di belakang mereka. Sekarang Taeyeon sampai di perempatan jalan, banyak orang. Kepala Taeyeon menoleh ke kanan ke kiri, mencari seorang yang bisa dimasukinya. Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang sedang mengantuk di halte bis. Taeyeon berlari lalu merasuki wanita itu.

Shinyoung terengah-engah dan memegangi kedua lututnya. Tak jauh di samping kirinya Taeyeon berusaha bersikap normal agar Shinyoung tak curiga sementara wanita itu terus memandangi belakang kepalanya. Untung saja beberapa detik setelahnya Shinyoung berpaling lalu berjalan ke arah lain. Dan sepertinya keberuntungan Taeyeon belum berakhir karena beberapa detik setelah itu, seorang pria yang memanggilnya ‘Sooyeon’ memberinya helm lalu membawanya pergi dengan sepeda motor. Pergi semakin jauh dari Shinyoung.

Pria yang membawa Taeyeon menghentikan motornya. Taeyeon mendongak dan membaca tulisan gedung yang ada di depannya. Tertulis ‘Sun Restaurant’. Keterkejutan Taeyeon belum tertatasi tapi si pria sudah menarik tangannya memasuki restaurant.

Sesampainya di dalam beberapa orang sudah berkumpul. Seorang pria tinggi kurus yang berdiri sambil menyilangkan tangannya, pria berambut sebahu yang menatap Taeyeon dengan pandangan iba, pria bermata berambut cokelat, lalu ada pria tanned yang menatapnya dengan mata marah yang disipitkan dengan kedua alis yang berkerut, ditambah pria tinggi bermata rusa yang membawanya kemari. Mendapati dirinya dipandangi seperti itu Taeyeon jadi tambah bingung.

Pria tanned yang terus merengut lantas mengulurkan tangan padanya. Taeyeon menatap tangan yang terulur itu sesaat sebelum menjabatnya seperti orang bodoh. Pria itu menghempaskan tangan Taeyeon dengan kesal.

“Berhenti bermain-main! Berikan kuncinya!”

“Kunci apa?” Tanya Taeyeon tak mengerti, ia hanya memasuki tubuh seseorang, kenapa jadi rumit begini?

Pria tanned yang nampak tidak puas dengan jawaban yang Taeyeon berikan lantas maju selangkah dan mulai meraba-raba tubuhnya -untuk mencari kunci. Taeyeon terkejut tentu saja, refleks ia menarik tangan si pria lalu dengan sebuah gerakan judo ia membanting pria itu ke lantai.

Semua yang ada disana melongo menatap ‘Taeyeon’ lalu beralih pada chef mereka yang berbaring di lantai dengan wajah merah padam.

TBC

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Drabble #24 (YulSic)

Posted: April 24, 2016 in drabble, ff snsd, yulsic
Tag:, , ,

Drabble #24

Tengah malam Jessica tiba-tiba terbangun karena haus, tidak biasanya. Saat itu keadaan dorm sudah sepi, lampu di kamarnya juga sudah mati. Jessica melirik ke samping lantas menemukan Yuri yang sudah tertidur pulas dengan lidah sedikit terjulur. Jika tidak mengenal Yuri dengan baik siapapun akan berpikir gadis itu terbangun, namun bagi Yuri tertidur dengan cara seperti itu adalah normal.

Dengan enggan Jessica menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya, memakai sandal lalu berjalan ke dapur.

Segera setelah segelas air mengaliri tenggorokan keringnya, Jessica merasa lebih baik.

Semuanya normal saja sampai ia melewati kamar TaeNy. Langkah kakinya di paksa berhenti begitu -secara tak sengaja- mendengar percakapan penghuni kamar yang mencurigakan.

“T-taetae.. p-pelan.”

“Tahan sebentar Ppany-ah.”

“Arrgghhh.. appo.”

Suara lirih serta rintihan. Apa ini? Taeyeon dan Tiffany tidak sedang melakukan apa yang ada dalam kepala Jessica bukan?

Jessica Jung! Sadarlah!

“Ssst Ppany-ah pelankan suaramu. Mereka bisa mendengar kita.”

“Apa kau tahu aku sedang kesakitan?”

“Arra.. arra, pertama kali memang akan terasa sakit tapi setelahnya kau akan merasa lebih baik.” Taeyeon tersenyum. Tiffany memejamkan matanya, tangannya berusaha meraih apa yang bisa diraihnya sementara untuk meredam rintihan kali ini ia menggigit ujung selimut.

Tangan Taeyeon kembali bersentuhan dengan kulit mulusnya, gadis pendek itu kembali memulai dengan gerakan yang begitu perlahan seperti seorang profesional. Tiffany hampir tidak percaya jika kali ini adalah kali pertama Taeyeon melakukanyya.

Jessica bergidik ngeri, dingin, seperti ada hantu yang baru saja melewatinya. Ia baru akan pergi namun kata-kata Taeyeon selanjutnya membuat langkah sang ice princess terhenti.

“Sebenarnya, Yuri pernah melakukan hal yang sama padaku.”

Yuri?

Jessica membulatkan matanya, demi semua timun di dunia untuk apa Taeyeon membawa-bawa nama kekasih Jessica?

“Aku belajar banyak darinya. Gerakan lembut tapi kuat. Yuri selalu menekan titik-titik yang tepat.”

“Aku jadi berkeringat!”

“Aku juga.”

Cukup! Jessica tak ingin mendengar apapun lagi.

Dalam mimpinya Yuri bersorak gembira, ia sedang menyemangati Sharapova yang sedang bertanding. Namun, mimpi indah itu berakhir setelah sang petenis memukul pantat Yuri dengan raketnya. Sangat keras. Yuri membuka matanya dan mendapati Jessica yang berdiri sambil berkacak pinggang. Ternyata bukan dipukul raket melainkan ditarik dari atas ranjang sampai pantatnya mendarat dengan keras di lantai.

“Sica apa yang-”

“Keluar!”

“Mwo?” Yuri masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Kali ini apa yang sudah dilakukannya?

“I said get out now! N.O.W!”

Taeyeon berhenti memijat kaki Tiffany yang terkilir saat mendengar teriakan Jessica. Bukan hanya Tiffany dan Taeyeon, semua member keluar dari kamar mereka.

“Sica tunggu! Memangnya aku salah apa?”

“Tanya dirimu sendiri!”

“Baby tung-” bantal yang mendarat diwajahnya membuat perkataan Yuri terhenti.

“Untuk selamanya kau tidur diluar!”

Mulut Yuri terbuka sementara member yang lain menatapnya dengan pandangan iba.

“Apa ada yang mau menampungku malam ini?” Yuri bertanya dengan puppy eyes, member yang lain menggelengkan kepala mereka dengan kompak lalu nenutup pintu kamar dengan gerakan kompak juga.

“Teman macam apa mereka itu? Kenapa pula aku harus tidur diluar, disini dingin, Sica bahkan tak memberiku selimut dan aku bahkan tidak tau apa salahku.”
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>END

Tittle : Honesty
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Lenght : Chapter
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

Inspired by Drama Boys Before Flower.

Song Lyrics by :
* Hyorin – Driving Me Crazy (Master’s Sun OST)
* Davichi – This Love (Descendant of the Sun OST)
* EXO – My Answer (Korean Ver)

Part 11
.
.
.
.
.

Yuri berlutut sambil memegangi kepalanya. Kenangan itu kembali berulang, berupa potongan-potongan, Yuri masih mencoba mengingat. Tapi ia tetap tak bisa, gelap masih menyelubunginya. Terasa begitu pekat seperti malam, penghlihatannya kabur. Sementara ia merasa terus berjalan di jalan panjang yang nampak tak memiliki akhir.

“Seseorang.. tolong selamatkan aku!” Lirihnya.

Victoria menemukan dirinya berjalan di lorong rumah sakit yang putih. Heels yang dikenakannya beradu dengan lantai, menimbulkan satu-satunya suara yang dapat Victoria dengar.

“Terlalu banyak tidur akan membuat tubuhmu kaku.” Ujar Jessica sambil meremas pelan telapak tangan Yuri. Jessica menunggu sambil tersenyum namun seperti sebelumnya, Yuri tak pernah memberikan respon. Meski begitu Jessica tak pernah merasa kecewa, ia yakin Yuri akan kembali. Seberapa lama pun itu, Jessica akan menunggu Yuri bangun karena kali ini giliran Jessica yang berjuang untuk mereka.

Satu tangannya beralih membelai pipi gadis koma itu. Luka-lukanya sudah pulih. Selain bibir pucatnya, Yuri terlihat baik-baik saja. Ia hanya terlihat sedang tertidur dengan begitu lelap. Seakan mimpinya begitu indah.

“Yul kau ingat tentang kejujuran yang kau minta saat terakhir kita bertemu?” Tanya Jessica, ia menarik nafas panjang sejenak, mengingat pertemuan terakhir mereka berarti mengingat kembali luka itu. Mengingat kembali rasa sakit itu. Tanpa ia sadari airmatanya mengalir. Jessica menganggkat tangan Yuri, membiarkan telapak tangan gadis itu menyentuh pipinya yang basah.

Jika ada satu hal yang paling Jessica sesali, maka itu adalah pertemuan terakhir mereka. Semua perkataannya malam itu. Andai waktu bisa berputar.

“Jangan pergi dengan cara seperti ini Yul. Aku masih berhutang padamu, berikan aku kesempatan untuk membayarnya.”

Victoria membuka pintu ruang rawat Yuri dan menemukan orang yang paling tak ingin ia lihat. Jessica Jung. Keduanya saling memandang sejenak sebelum Victoria berinisiatif memecahkan keheningan mencekam diantara mereka.

“Bukankah kau sudah berjanji akan menjauhi Yuri?”

***

Yuri memandang berderet-deret angka di hadapannya tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Menjelang ujian akhir, dua minggu terakhir Yuri dipaksa belajar keras oleh kekasihnya. Selama dua minggu itu, sambil menemani Krystal di rumah sakit, melalui telepon Jessica akan menjadi guru privatnya. Memaksa Yuri membaca buku-buku sejarah tebal yang membuat perutnya mendadak mulas. Memaksa Yuri belajar bahasa inggris, menghafal tenses serta memperbaiki pronounciation-nya yang justru membuat Krystal -yang bertugas mengawasi Yuri terpingkal-pingkal. Daripada terdengar seperti bahasa inggris, Yuri lebih terdengar seperti alien tersesat yang sedang buru-buru menanyakan toilet. Dan kali ini, seakan ‘siksaannya’ belum berakhir, Jessica memaksa Yuri mengerjakan setumpuk soal matematika. Sudah dua jam, namun Yuri bahkan belum menyelesaikan setengah dari total soal yang Jessica berikan.

Sebenarnya ada satu alasan kenapa Yuri belum juga bisa menyelesaikan soal yang Jessica berikan. Konsentrasinya terpecah belah. Tiap kali Jessica memberikan instruksi di telepon, pikiran Yuri melayang jauh ke LD. Jangan salahkan Yuri, salahkan Jessica yang hari ini suaranya terdengar begitu seksi. Yuri dapat membayangkan diseberang sana, Jessica mencuci piring sambil mengapit ponsel diantara telinga dan bahunya. Bagaimana bibir Jessica akan sedikit manyun saat ia marah karena Yuri tidak juga mengerti. Bagaimana keringat akan membuat pipi gadis itu berkilau, basah dan seksi. Bagaimana-

Yuri tersadar, sejak kapan ia menjadi mesum seperti ini?!

“Babo! Babo! Babo!”

“Yah! Kwon Yuri siapa yang bodoh?!”

“A-aniyo Sica! Aku yang bodoh.” Yuri jadi salah tingkah. Untung Jessica tidak bisa membaca pikirannya, kalau bisa, Yuri yakin ia sudah digantung dengan kaki terbalik diatas N Tower.

“Seharusnya kau mengalikannya terlebih dahulu baru membaginya!” Krystal berkata sambil menunjuk salah satu soal dengan gaya bossy. Persis seperti pertemuan pertama mereka. Hanya saja perbedaannya kali ini Yuri sudah mendapat restu dari gadis cilik ini…

“Kalau unnie memilih calon pendamping sepertimu, aku jadi mencemaskan masa depannya.”

…. atau tidak juga?

***

“Apa unnie benar-benar berencana mengajak kakakku kawin lari?” Tanya Krystal yang kini ada dalam gendongan Yuri. Krystal yang kebosanan di dalam kamar serta Yuri yang merasa kepalanya akan meledak karena terlalu banyak belajar memutuskan untuk berjalan-jalan di taman rumah sakit. Krystal menolak memakai kursi roda tapi Yuri dengan senang hati menggendongnya.

“Darimana kau tahu?” Takjub Yuri.

“Hanya tebakanku saja sebenarnya. Lagipula orang seperti Yuri unnie kan jalan pikirannya mudah di tebak?”

“Orang sepertiku? Maksudnya orang seperti apa?”

Kali ini Krystal tidak menjawab, gadis kecil itu malah terkekeh geli.

“Rencana kawin lari dengan kakakmu itu hanya rencana cadangan.”

“Lalu rencana betulannya apa?”

“Itu sih.. aku belum memikirkannya.”

“Sudah kuduga.” Ledek Krystal. “Jalan pikiran Yuri unnie kan memang sampai segitu.”

“Mwo?” Yuri berhenti dan langsung menurunkan Krystal di sebuah kursi panjang. Gadis kecil itu duduk sambil mendongakkan kepalanya.”Kenapa dari tadi kau terus meledekku eoh?”

“Apanya yang meledek? Itu kan kenyataan?” Krystal menjulurkan lidahnya. Yuri menyipitkan matanya lalu sedetik kemudian Krystal sudah tertawa-tawa karena Yuri mengeluarkan jurus rahasia SuperYul. Gelitikan maut.

“Ahahahahaha.. unnie!! H-hentikan! Ahahahaha.” Tawa Krystal menggema di taman rumah sakit. Sementara itu Yuri baru berhenti setelah Krystal berjanji akan meminta Jessica menikahi Yuri seorang. Yuri tersenyum lebar.

Kali ini keduanya memandangi pengunjung rumah sakit yang sedang menikmati waktu mereka sambil duduk bersisian. Pandangan Krystal terpaku pada beberapa anak yang berlarian dengan riang di depan mereka. Yuri tersenyum, meski selalu bersikap seperti orang dewasa, Krystal tetaplah anak berusia 8 tahun.

“Krystal-ah..” Yuri menyenggol Krystal dengan bahunya. Pandangan gadis cilik itu berpindah padanya.

“Mwo?”

“Sudah berapa bangau kertas yang kita buat?”

“Sembilan ratus.”

“Mau menambahnya sekarang?”

Dua minggu berikutnya waktu berlalu begitu cepat. Persis seperti yang Jessica katakan. Dengan latihan intens yang telah diberikan kekasihnya, Yuri bisa melewati ujian dengan baik. Begitu pula Sooyoung serta Hyoyeon yang mendadak ikut-ikutan menjadi siswa ‘teladan’ di ujian akhir mereka.

***

Tahun 2016 menjadi tahun keemasan bagi Kwon Grup. Seakan tidak ada habisnya membuat inovasi dalam dunia bisnis, kini perusahaan raksasa itu tengah menggarap sebuah proyek kerjasama bernilai jutaan dollar bersama perusahaan besar dari negeri Tiongkok. Kerjasama ini tentunya akan menjadi angin segar di tengah perekonomian Korea yang sedang lesu.

“Kami harap kerjasama ini bisa menjadi langkah awal untuk kemajuan yang akan datang.” Ucap tuan Kwon dalam pidatonya yang disaksikan seluruh masyarakat Korea dari layar televisi. Eunji berdecak kagum menyaksikan betapa berkharismanya pria paruh baya itu. Perkataannya seperti sebuah mantra. Tak heran kenapa Yuri juga begitu mempesona.

“Kurasa pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya itu benar.” Ujar Eunji.

“Noona! Bisakah noona berhenti menonton televisi dan membantu kami?” Tanya Youngmin yang baru masuk. Sudah satu jam ia bergulat dengan sapu dan kemoceng. Pinggangnya serasa mau patah. Cuaca hari ini memang begitu bersahabat, angin menebarkan bau musim semi yang segar namun hari ini tak banyak yang datang ke LD. Sementara itu untuk mengefektif dan efisienkan waktu Yoseob meminta semua karyawannya menggunakan kesempatan ini untuk bersih-bersih.

“Berhenti merengek seperti wanita Jo Youngmin! Lakukan saja tugasmu dengan benar.” Jawab Eunji galak. Youngmin jadi heran, Eunji yang salah tapi Eunji juga yang marah-marah. Dari dulu yeoja itu memang suka sekali menjadikan semua orang sebagai budaknya. Youngmin mendengus sebal sambil beralih pada Yoseob.

“Hyung! Noona tidak mau membantu dan malah menyebutku sebagai perempuan.” Adu Youngmin.

Yoseob cuma bisa menggelengkan kepalanya. “Biarkan saja, di tempat ini tidak ada satupun yang bisa menandinginya”

“Ya! Kalian berdua! Aku dengar itu! Awas kalian!” Geram Eunji.

“Y-youngmin-ah kajja kita pergi ke dapur. Kurasa di langit-langitnya sudah banyak sarang laba-laba.”

“N-ne hyung.”

Perhatian Jessica teralihkan dari Yoseob-Youngmin-Eunji pada ponselnya yang berdering.

“Yeobuseyo?”

“Yeobuseyo.”

“Kenapa suaramu lemas sekali?” Cemas Yuri di seberang sana. Disebuah tempat yang terpisahkan lautan. Jessica berusaha tersenyum meski sesuatu dalam dirinya terasa perih. Tapi Yuri tidak boleh tahu.

“Aku hanya sedikit kelelahan. Hari ini banyak sekali yang datang ke LD.”

“Geurae. Maaf baru bisa menghubungimu sekarang. Disini aku sibuk sekali, appa memperkenalkanku pada beberapa rekan bisnisnya.” Ujar Yuri. Segera setelah ujian akhirnya selesai Yuri diminta terbang ke Macau dan membantu sang ayah. Benar-benar minggu yang berat dan melelahkan. Terasa lebih berat lagi karena selama dua minggu ini ia tidak bisa bertemu Jessica. Sehari hanya bicara beberapa menit dan Yuri belum merasa cukup.

“Jeongmal bogoshipeo Sica-ya.” Yuri mulai merajuk, mengingat jadwalnya yang sudah padat sampai akhir bulan, Yuri baru bisa pulang menjelang hari kelulusannya. Pikiran Jessica melayang, masa SMA serta kisah cinta mereka pelan namun pasti bergerak menuju akhir.

“Nado bogoshipeo. Ingat kau harus baik-baik disana, jaga kesehatan, istirahat yang cukup dan jangan coba-coba melirik wanita lain!” Butuh usaha keras bagi Jessica agar suaranya terdengar normal di telinga Yuri.

“Hahaha.. ne arraseo. Sicababy juga jaga kesehatan ya, jangan lupa makan.”

“Aku tidak akan lupa.”

“Bagus! Anak pintar. Saranghae.”

“Nado saranghae.” Jawab Jessica. Tak lama setelahnya sambungan telepon berakhir. Meski begitu Yuri masih tersenyum lebar. Gadis tanned itu tidak sadar jika semenjak sepuluh menit yang lalu seseorang terus memperhatikannya.

“Telepon dari kekasihmu?” Tanya Mr. Kwon. Yuri berbalik dan menemukan sang ayah menyilangkan tangan di dadanya. Pria paruh baya itu memasang seringai yang membuat paras Yuri memerah.

“N-ne.” Jawab Yuri gugup.

Mr. Kwon tersenyum sambil menghampiri putrinya. Gadis kecilnya sudah jatuh cinta. Hal itu mengingatkan Mr. Kwon jika selama ini banyak waktu berharga yang ia lewatkan tanpa keluarganya. Tanpa istrinya, tanpa kedua anaknya.

Meski begitu Yuri dan Boa tetap bisa merasakan cinta sang ayah untuk mereka. Mr. Kwon merupakan pria tinggi, tegap dan tampan. Meski sebagian rambutnya sudah memutih, kharisma dalam dirinya sama sekali tak berkurang. Waktunya banyak digunakan untuk bisnis di luar negeri. Pribadinya tegas dan dikenal cerdas dalam memimpin perusahaan. Namun, dibalik semua itu Mr. Kwon merupakan pria berhati lembut -tepat seperti yang sering dikatakan nenek Yuri. Ia akan menjadi pria sempurna jika tidak selingkuh dari istrinya yang tengah sekarat.

“Suatu hari kenalkan gadis beruntung itu padaku, arraseo?” Mr. Kwon menepuk-nepuk pundak Yuri.

“Tentu saja.” Jawab Yuri semangat.

“Tuan.. Presdir Song sudah datang.” Ujar sekretaris pribadi tuan Kwon -Sekretaris Lee.

“Kajja Yuri-ah, appa akan memperkenalkanmu pada investor baru kita.”

***

Mrs. Kwon tersenyum tipis sambil meletakkan sekoper uang dihadapan Jessica. Nyonya besar itu memandang Jessica seakan-akan yeoja itu adalah serangga pengganggu yang harus segera dia singkirkan.

“Ambilah.. kalau kurang kau bisa memintanya lagi. Tinggal tuliskan berapa yang kau inginkan..” Nyonya besar itu tersenyum seolah-olah dirinya lah orang yang paling berkuasa atas segalanya.

Jessica berdiri dari kursinya dan bersiap-siap meninggalkan restoran mewah bergaya Eropa klasik tersebut. Alunan piano di ujung ruangan malah terdengar seperti musik horor dalam film. Ditambah Mrs. Kwon di hadapannya lengkaplah sudah.

“Mungkin kau tidak membutuhkannya tapi bagaimana dengan keluargamu? Terutama… adikmu?” Mrs. Kwon kembali menyeruput tehnya dengan tenang. Wanita ini memang bagai pemain catur yang berpikir masak-masak sebelum melangkah dan tak jauh beda dengan pemain poker yang bisa menggertak dengan kartu yang tak menguntungkan sekalipun.

Jessica terpaku tanpa berani memandang lawan bicaranya.

…Jessica

……Jessica?

“Jessica?” Eunji menepuk pundak gadis yang dipanggilnya. Jessica yang tersadar segera menatap sekelilingnya, Eunji menatapnya dengan khawatir.

“Aku sudah memanggilmu beberapa kali. Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Tidak ada.” Jessica berusaha menyembunyikan segala dukanya dengan senyum. Meski Eunji tak lantas percaya, ia juga tak ingin memaksa Jessica menceritakan yang sebenarnya.

“Geurae. Ini pesanan untuk meja 8 dan minuman ini untuk meja 7.”

“Arraseo. Akan segera kuantarkan.”

***

Grand Mall adalah mall terbesar di Macau. Bisa dibilang sebagai salah satu mall terlengkap juga di kota ini. Segala produk branded termasuk barang limited edition bisa ditemukan. Hari ini Yuri sengaja menyempatkan dirinya belanja untuk membelikan sepatu untuk Jessica. Untuk acara kelulusan nanti.

Sekretaris Lee sempat menyarankan beberapa branded tapi belum ada yang menarik perhatian Yuri. Kecuali mungkin sepatu silver yang dipajang di rak tertinggi di toko itu. Entah kenapa Yuri langsung menyukainya. Jessica akan sangat cocok mengenakannya.

Tapi begitu seorang wanita lebih dulu menghampiri sepatu tersebut Yuri langsung tahu kalau harinya takkan berjalan mudah. Segera saja Yuri mempercepat langkahnya. Mereka sampai disaat bersamaan tapi, thanks God, berkat tinggi tubuhnya Yuri berhasil mendapatkannya lebih dulu. Sepertinya sepatu ini memang ditakdirkan untuk menjadi milik Jessica.

Yuri tersenyum lebar, tidak sadar jika wanita dihadapannya menatapnya dengan pandangan membunuh. Tatapan mereka bertemu sekilas tapi Yuri tidak peduli, ia berbalik pergi.

“Tunggu!” Panggil wanita asing itu. Rupanya ia belum menyerah. Wanita asia yang Yuri taksir berusia 20-an.

“Mwo?” Tanya Yuri malas.

“Bisakah kau memberikan sepatu itu padaku. Kumohon.” Pinta wanita itu dengan wajah memelas. Seakan-akan ia tengah mempertaruhkan seluruh hidupnya.

“Tidak bisakah kau melihat kalau aku yang mengambilnya lebih dulu. Benda ini milikku.”

“T-tapi aku yang melihatnya lebih dulu. Lagipula sepatu itu tidak cocok untukmu.”

“Lalu?” Yuri tersenyum sinis lalu berbalik.

“Dua kali lipat! Aku akan membayar sepatu itu dua kali lipat.”

Yuri tak mengacuhkannya.

“Baiklah! Tiga kali lipat!”

“Aku tidak peduli, meskipun kau akan membayar 10 kali lipat aku tidak peduli. Jadi, silahkan minggir!”

“Kumohon! Aku sudah terbang dari Hongkong, lalu Paris lalu Macau hanya untuk mencarinya. Kumohon!”

“Itu bukan urusanku. Selamat tinggal.” Yuri berlalu sambil tersenyum menyebalkan.

Kesal dengan perlakuan gadis hitam yang baru ditemuinya wanita itu memutuskan untuk memberinya pelajaran. Sebuah lemparan tepat dikepala gadis itu rasanya cukup. Ia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, selalu, setidaknya sampai hari ini. Wanita itu melepaskan sepatu sebelah kirinya dan dengan satu lemparan kuat sepatu itu terbang dari tangannya.

“Argh!” Yuri meringis begitu sesuatu yang keras mengenai belakang kepalanya. Refleks ia berbalik dan menemukan wanita aneh -yang beberapa saat lalu berdebat dengan dirinya- tengah berdiri diatas sebelah sepatu, sementara sepatunya yang lain ada di depan kaki Yuri. Wanita itu melemparnya? Yang benar saja?!

Dengan kesal Yuri mengambil sepatu sialan itu dari lantai. Dengan tatapan sinis Yuri membalas tatapan wanita itu. Beberapa saat setelahnya Yuri tahu cara apa yang akan ia gunakan untuk membalas wanita gila itu. Yaitu dengan melempar sepatu wanita itu ke tengah-tengah air mancur yang ada di lobi mall.

“Rasakan itu!” Teriak Yuri sambil menjulurkan lidahnya.

Sementara si wanita pemilik sepatu menjerit kesal. Gadis itu! Wajahnya boleh saja tampan tapi kelakuannya tidak ada bagus-bagusnya, sangat menyebalkan!

***

Jessica akan menemui Mrs. Kwon… demi Krystal.

Jessica berdiri di depan Kwon Mansion selama beberapa menit. Memandang bangunan megah itu dengan perasaan hampa seiring bayangan Yuri, Krystal serta ibunya membayang di pelupuk mata.

Hari ini kondisi Krystal lagi-lagi semakin memburuk. Jantungnya kembali berhenti berdetak. Namun setiap kali hal itu terjadi justru Jessica yang merasa mati, berkali-kali.

“Kita harus segera menemukan donor Sooyeon. Secepatnya.” Terngiang kembali kata-kata tersebut di telinga Jessica berikut wajah bersimbah airmata ibunya.

“Mungkin kau tidak membutuhkannya tapi bagaimana dengan keluargamu? Terutama… adikmu?”

“Apa yang harus kulakukan?” Jessica memberanikan menatap wajah Mrs. Kwon dengan cairan bening yang mulai mengaburkan pandangannya. Jessica benar-benar tidak suka disaat dirinya lemah seperti ini.

Mrs. Kwon yang duduk di belakang meja kerjanya tersenyum dengan angkuh. Tidak peduli meski ia akan menghancurkan putrinya sendiri. Tidak peduli meski ia akan memisahkan dua orang yang saling mencintai. Tidak peduli meski ia menjual kehidupan hanya untuk kepentingannya sendiri.

“Kau hanya perlu meninggalkan anakku. Buatlah Jessica Jung dalam kehidupan Kwon Yuri hanya tinggal sejarah.”

Deutgo itnayo nae maeumeul
Are you listening to my heart?
Bogo itnayo nae nunmureul
Are you looking at my tears?
I sesange hana oroji dan hana
Only one in the world, just one
Nan neoyeoyaman haneunde oh
I need it to be you

Wae jakku naegeseo domangchinayo
Why do you keep running away from me?
Wae jakku naegeseo meoreojinayo
Why do you keep getting far from me?
Nae gyeote isseojwoyo nae soneul jabajwoyo
Stay by my side, hold my hand
Nal saranghandamyeon
If you love me

“Yeobuseyo?” sapa Yuri di seberang sana dengan suara ceria. Jessica langsung bisa membayangkan kekasihnya yang tersenyum lebar disana. Jessica berusaha tersenyum meski airmata terus saja mengalir di kedua pipinya. Jessica menghapus airmata itu dengan ujung hoodienya.

“Bogoshipeo.”

“Aku kira kau tidak merindukanku karena sejak tadi tidak bisa dihubungi.”

“Aku baru saja mengunjungi Krystal.”

“Arraseo. Bagaimana keadannya sekarang?”

“Krystal sudah dapat donor, operasinya akan dilaksanakan besok.”

“Jinja? Syukurlah. Besok aku akan mengambil penerbangan pagi-pagi sekali untuk kembali ke Korea.”

“Kau tidak perlu melakukannya Yul.”

“Aniyo. Aku sudah berjanji akan menemui Krystal sebelum operasinya. Aku juga akan ada disisimu.”

“Gomawo.”

“Kata yang salah. Kau seharusnya bilang saranghae.”

“Saranghae.”

“Wow! Ini pertama kalinya kau mengucapkan saranghae lebih dulu.” Takjub Yuri sambil tertawa. “Nado saranghae sica-ya. Jeongmal saranghae.”

Michige mandeureo niga
You drive me crazy
Nal ulge mandeureo niga
You make me cry
Gakkai sone japhil deuthae jabeumyeon
You’re close as if I can catch you but when I do
meoreojineun baramcheoreom
You get far away like the wind

Honjaseo haneun ge sarang
Love is what I do alone
Namneun geon nunmurin sarang
Love only leaves tears
Geureon geojigateun geureon babogateun sarang
A crappy foolish love

***

“Bangau-bangau itu benar-benar bekerja.” Ujar Krystal lemah sambil terbaring di ranjangnya. Yuri yang duduk di sisi ranjang Krystal lantas tersenyum.

“Tentu saja karena kita membuatnya sepenuh hati.”

Jessica yang menyaksikan keduanya hanya bisa menahan airmata begitupula nyonya Jung yang kali ini berusaha menahan kesedihannya. Meski matanya masih bengkak akibat menangis semalaman di malam sebelumnya.

“Boleh aku minta satu permintaan pada Yuri unnie?”

“Katakan.”

Krystal mengisyaratkan Yuri mendekat dengan tangannya. Setelah dibisiki, Yuri pun tersenyum lebar pada Krystal. Keduanya lantas saling mengaitkan jari kelingking mereka.

“Baiklah, aku berjanji.” Ucap Yuri sambil menatap Krystal penuh arti. Sementara di belakang mereka Jessica memandang mereka dengan curiga. Jika Yuri dan Krystal sudah bersama, Jessica selalu merasa dirinya orang ketiga.

“Apa yang kalian bicarakan?”

“Rahasia.” Jawab Yuri cepat. Krystal menganggukki. Jessica cemberut lantas menarik tangan Yuri dan mengambil alih tempatnya. Jessica lantas memeluk tubuh mungil adiknya cukup lama.

“Kau akan baik-baik saja.”

“Aku tahu. Gomawo unnie.” Krystal mengangguk dalam pelukan kakaknya.

Setelahnya giliran nyonya Jung berkali-kali menciumi wajah putri bungsunya. Wanita paruh baya itu baru berhenti setelah para suster membawa ranjang yang ditempati Krystal menuju ruang operasi.

Krystal memandangi lampu-lampu disepanjang koridor yang berkelebatan dalam pandangannya. Setelah memasuki ruang operasi pandangannya yang jelas perlahan-lahan berubah suram. Kesadarannya hilang tepat setelah suster menghitung di angka 20.

21…

22…

23…

24… 25…

“Bagaimana?” Tanya Mrs. Kwon pada orang yang paling ia percaya.

“Operasinya sudah di mulai nyonya tapi saya tidak bisa mendapat informasi lebih karena di depan ruang operasi ada nona Yuri juga.”

“Aku mengerti. Tetap kabarkan perkembangannya padaku.” Mrs. Kwon mengakhiri panggilannya. Sesaat kemudian matanya tertuju pada selembar foto yang menunjukkan kebersamaan putrinya bersama gadis itu, Jessica Jung, gadis yang sampai akhir permainan mereka masih angkuh.

“Saya tidak butuh uang anda.” Mrs. Kwon yang sedang menandatangani cek di tangannya lantas mendongak. Jika gadis ini tidak menyerah akan Yuri karena uang lalu karena apa?

“Saya hanya ingin anda menyelamatkan adik saya.”

“Aku sedang melakukannya. Adikmu harus di operasi dan aku akan memberikan uang untuk membayar biayanya.”

“Donor.”

“Mwo?”

“Saya tidak butuh uang anda. Saya hanya ingin nyonya mencarikan donor yang cocok untuk adik saya, secepatnya.”

“Dan kenapa kau meminta hal seperti itu padaku?”

“Karena anda adalah pemilik Kwon Hospital, rumah sakit terbaik di negara ini. Jika anda yang meminta mereka mencari donor untuk adik saya maka mereka akan melakukannya dengan cepat. Hanya itu yang saya inginkan.”

“Aku terkejut kau tidak meminta uang. Bukankah itu tujuanmu mendekati Yuri?”

“Mungkin nyonya tidak tahu tapi ada hal-hal di dunia ini yang sampai kapanpun tidak bisa dibeli dengan uang anda.”

“Benarkah? Dan katakan padaku apakah hal itu nona Jung?”

“Cinta… sesuatu yang takkan bisa dimengerti orang seperti anda nyonya Kwon.”

Mrs. Kwon berdiri lantas merobek-robek foto tersebut. Persetan dengan cinta, bukankah pada akhirnya ia yang menang? Bukan Jessica bersama cintanya.

***

Jessica memutuskan untuk pergi ke atap dan menyendiri. Hal yang akhir-akhir ini sering sekali ia lakukan. Karena hanya dengan kesendirian Jessica dapat jujur, dapat menumpahkan segala perasannya, dapat membiarkan dirinya yang rapuh menangis.

Seperti saat ini. Jessica terus terisak sambil memeluk kedua lututnya. Membiarkan dunia tahu betapa rapuhnya ia yang selalu bersembunyi dibalik topeng tegar andalannya.

Sementara itu Yuri yang sedari tadi mengikutinya hanya bisa ikut bersembunyi sambil mendengarkan isakan Jessica.

Siganeul doedollimyeon
If time returned
Gieokdo jiwojilkka
Would memories be erased?
Haebol sudo eoptneun maldeureul
Those words that couldn’t say
Naebaetneun geol ara
Do you know my words?

Neol himdeulge haettgo
I made you feel tired
Nunmullo salge haettdeon
Making you live in tears
Mianhan maeume geureon geoya
My heart feels sorry like this

Hajiman nan marya
But I have told you
Neoui bakkeseon sal su eopseo
I can’t live without you
Naegen neo hanaro
To me, it’s only you
Muldeun siganmani heulleogal ppuniya
Time only passes if it is filled with you

Saranghaeyo gomawoyo
I love you, thank you so much
Ttatteuthage nareul anajwo
Please warmly hug me
I sarang ttaemae naneun sal su isseo
So I can live in this love

***

Jessica yang baru selesai membasuh mukanya terkejut begitu mendapati Yuri sudah berdiri di hadapannya. Sejak kapan gadis tanned ini ada disana? Apa Yuri sengaja mengikutinya? Kalau begitu apa Yuri sempat memergokinya menangis? Jangan sampai hal itu terjadi.

“Aku mencarimu kemana-mana.”

“A-ah itu.. aku mencari toilet lalu tanpa sadar tersesat.”

“Aku membelikanmu kopi. Kau sudah selesai bukan? Ayo kita keluar dari sini.” Yuri tersenyum sambil menarik tangannya sementara tangan lainnya menjinjing kopi yang baru ia beli. Jessica balas tersenyum sambil mengeratkan genggaman pada jari-jari mereka yang bertautan. Andai waktu bisa berhenti saja. Karena sesungguhnya ia tak ingin melepas Yuri.

“Apa menurutmu Yuri akan bahagia jika kalian hidup bersama?”

“Sebagai seorang ibu aku sangat mengenalnya. Yuri tidak bisa menderita. Jika dia memilihmu jelas dia akan hidup menderita.”

“Kalian masih muda dan orang-orang muda cenderung suka melakukan kesalahan. Jadi nona Jung mari akhiri kesalahan ini.”

Jessica menghentikan langkahnya dan membuat Yuri yang berjalan disampingnya ikut berhenti. “Ada apa?”

“Untuk merayakan kelulusan nanti apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”

“Tempat yang ingin dikunjungi?”

“Ne, hanya kita berdua.”

“Ada.. dan kujamin kau akan suka.”

***

Seminggu kemudian kondisi Krystal perlahan membaik. Tidak ada penolakan tubuhnya terhadap jantung barunya.

“Krys bagaimana penampilanku?” Jessica memutar tubuhnya di depan ranjang Krystal untuk meminta pendapat adiknya. Krystal berpikir sejenak.

“Sepertinya ada yang kurang.”

“Hah? Apa?”

“Sepertinya aku tahu.” Yuri tiba-tiba datang sambil membawa kantung belanja yang langsung ia serahkan pada Jessica. “Pakailah.”

Jessica membuka kantung belanjaan itu dan menemukan sepasang sepatu yang sangat cantik.

“Nah! Sekarang baru bagus. Yul unnie apa hanya unnie saja yang dapat hadiah?”

“Tentu saja tidak. Princess Krystal juga dapat.” Yuri memberikan sebuah headband sambil mengacak rambut gadis kecil itu.

“Kajja!” Yuri menawarkan lengannya yang langsung disambut Jessica.

Setelah turun dari limosin yang sengaja Yuri pakai diacara spesial ini, keduanya memasuki lobi K-School yang dihias layaknya ballroom untuk pesta dansa. SooYoung yang mengenakan tuxedo putih melambai pada mereka, disampingnya seorang gadis yang juga mengenakan gaun putih berdiri disamping gadis jangkung itu sambil menundukkan kepalanya malu-malu. Entah kenapa Yuri pikir gadis mungil itu mengingatkannya pada seekor kelinci.

“Kau cantik sekali Jessica.” Puji Sooyoung.

“Gomawo.” Balas Jessica, Yuri berdehem, meskipun itu teman sendiri Yuri masih sering merasa cemburu. Apalagi Sooyoung terkenal player. Menyadari kecemburuan kekasih hitamnya Jessica lantas mengeratkan pelukannya pada lengan Yuri.

“Oh iya, Yul, Jessica perkenalkan ini Sunny.. dan Sunny ini adalah Yuri dan Jessica.”

Sunny bergantian menyalami pasangan kekasih di hadapannya. Setelahnya Sooyoung membisikkan sesuatu yang membuat Yuri kebingungan. “Dia kencanku seharga 3 juta Won.”

Sunny mengerling curiga pada gadis jangkung di sampingnya. Jujur saja ini adalah pertama kalinya ia menghadiri acara semacam ini, sama sekali bukan gayanya. Kalau bukan karena Sooyoung yang terus memaksa dan berjanji akan membeli setengah barang di dalam tokonya Sunny takkan sudi datang menemani gadis menyebalkan ini. Gadis yang setiap hari diam di depan tokonya.

Sementara Jessica juga penasaran apa yang Sooyoung bisikan pada Yuri. “Bukan apa-apa, itu urusan para seobang.”

Tak lama setelahnya pasangan HyoNic bergabung dengan mereka. Hyoyeon mengenakan tuxedo hitam seperti yang Yuri kenakan sementara Nicole nampak menawan dengan gaun merah yang melekat pas di tubuhnya.

Rangkaian demi rangkaian acara terlewati namun selama itu pula Yuri tak bisa mengalihkan perhatiannya dari Jessica. Ia tersenyum sendiri, bagi Yuri, memiliki Jessica menjadikannya manusia paling beruntung sedunia.

Nan ganghae boyeodo usgo isseodo
I may seem strong, I may be smiling
Honjail ttaega manha
But there are many times when I’m alone
Neul geokjeong hana eopseo boyeodo
I may seem like I don’t have any worries
Hal mari manha
But I have a lot to say
Cheom bon sungan neomuna kkeullyeoseo
The moment I first saw you, I was so attracted to you
Igeosjeogeot jaeji moshago malhaesseo
I didn’t weigh out my thoughts and just talked

“Saranghae.” Bisiknya ditelinga Jessica begitu acara dansa yang ditunggu-tunggu semua orang dimulai. Yuri meletakkan tangannya dipinggang Jessica sementara Jessica melingkarkan tangannya di leher Yuri.

“Sica jika cinta itu sebuah pertanyaan, jawabanku adalah dirimu.”

The answer is you
My answer is you

Nae modeun geol da boyeo jwo bwasseo
I showed you my everything
You are my everything
Neomu hwaksinhaeseo
Because I was so sure

Jessica mengeratkan pelukannya. Ia meletakkan kepalanya didada Yuri. Mendengar detak jantung Yuri yang berdebar keras. Jika waktu memang bisa terhenti, Jessica ingin hal itu terjadi saat ini.

Jom deo josimhal geol nal deo akkil geol
I should’ve been more careful
Nae mam dachiji anhge
I should’ve saved myself
Sum meomchwo beoril geot gateun
So I wouldn’t get heart
Ireon gibun na cheoeumingeol
I’ve never felt like this before, like my breath will stop
Meorissogen ontong ne saenggakman
My head is filled with thoughts of you
Neoui pyojeong useumsoriga deullyeo
Your face, the sound of your laughter

The answer is you (That it’s you)
My answer is you (Only you)

Nae modeun geol da boyeo jwo bwasseo
I showed you my everything
You are my everything
Neomu hwaksinhaeseo
Because I was so sure

Gidaryeossdan mal han madi na haji moshae sseugo jiune
I couldn’t say that I’ve waited for you so I’m writing then erasing
Neoui harul gunggeumhae haneun ge
Being curious about your day takes up all of my day
Naui haruui jeonbuin geol
So I’m writing then erasing

Gidarilge you you you
I’ll wait for you, you you you
Mam yeoreo jwo you you
Open your heart, you you
Nado nae mam eojjeol suga eopseo
I can’t help my heart
You are my everything
Yeongwonhalge my love
It’ll be forever, my love

Oh i’m nothing
Tteonaji ma
Don’t leave
Geunyang ne gyeoteman issge haejwo
Just let me stay by your side
Amuri saenggakhaedo oh it’s you
No matter how much I think about it oh it’s you
Nan neoraseo
Because it’s you
It’s you
It’s you

.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Tittle : Bodyguard
Author : RoyalSoosunatic
Lenght : Chapter
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

Inspired by Drama Boys Before Flower

Part 10
.
.
.
.
.

Payung-payung warna-warni mengembang layaknya jamur di musim hujan. Butiran-butiran salju menghantam jendela Lovely Day sore itu tanpa ampun. Di jalanan yang dapat Jessica lihat dari tempatnya berdiri berlusin-lusin orang berjalan sambil merapatkan mantel mereka sekedar menghalau udara dingin yang hampir membekukan seantero Korea. Beberapa menit lalu Kwangmin baru saja mengecek termometer digital yang dipasang di dekat pintu masuk dan mendapati suhu mencapai minus 5 derajat celcius. Lima derajat di bawah titik beku. Sementara itu perhatian Jessica teralihkan dari beberapa orang yang nampak tidak sabar menunggu bis di halte pada ponselnya yang masih tergeletak tanpa suara.

Seminggu berlalu sejak Mrs. Kwon memergoki mereka. Sejak saat itu ia belum bertemu dengan Yuri lagi. Yuri belum menghubunginya lagi. Disekolah, Sooyoung dan Hyoyeon terus berkelit dan mengatakan Yuri sedang pergi bisnis keluar negeri. Alasan semu tentu saja. Jessica tahu mereka menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya. Alasan sebenarnya mengapa Yuri tiba-tiba menghilang.

Jessica menghela nafas, perasaan resah itu muncul lagi. Ujung-ujung matanya serasa panas terbakar. Bayangan saat Yuri diseret ke dalam mobilnya kembali terulang dengan begitu jelas. Seakan kembali terulang di depan matanya. Tidak boleh. Ia tidak boleh menangis. Jessica cepat-cepat memperingati dirinya sendiri begitu cairan itu hampir meluruh di kedua pipinya. Jessica ingat Yuri tidak pernah menjanjikan jalan yang mudah baginya namun Jessica juga ingat Yuri berjanji takkan pernah menyerah.

Untuk saat ini, keyakinan itu yang membuatnya bertahan. Karena ia juga takkan menyerah, karena ia juga mencintai Yuri sebesar gadis tanned itu mencintainya.

Yoseob duduk di sebelahnya sambil menyodorkan segelas Americano yang asapnya masih mengepul. Jessica memandang bosnya sejenak sebelum beralih ke sekelilingnya. Sudah seminggu terakhir Lovely Day seperti kehilangan daya tariknya. Bisa dihitung dengan jari berapa pelanggan sehari yang membuat pintu restoran itu berdenting. Jessica tak habis pikir, begitupula Yoseob dan karyawan lainnya. Seharusnya dimusim dingin seperti ini bubur hangat menjadi pilihan utama namun sebaliknya orang-orang yang berjalan di trotoar melewati toko itu begitu saja seakan bangunan itu tak ada disana.

Youngmin dan Jessica berusaha membagikan brosur seperti di bulan-bulan pertama mereka. Membuat promosi di sosial media serta diskon besar-besaran. Meski begitu sampai saat ini belum ada satupun dari sekian usaha itu yang sudah berbuah nyata.

“Inilah bisnis. Tidak selamanya pelanggan banyak dan tidak selamanya pula tidak ada pelanggan. Kita hanya harus bersabar sedikit.” Yoseob berkata dengan tenang sambil menyesap americanonya sendiri.

“Beberapa bulan terakhir kita selalu sibuk. Hal yang baik dari kejadian ini adalah kita jadi punya kesempatan untuk bersih-bersih.” Masih dengan senyumannya, Yoseob memandang Youngmin yang sibuk mengepel lantai, Chorong dan Eunji yang sibuk mengelap meja, Kwangmin yang mengelap jendela dan Minwoo yang jadi sering sekali menggosok kompor sampai mengkilap -membuat si kembar berpikir mereka bisa bercermin disana. Senyuman Yoseob menular pada gadis blonde itu, Jessica menyinggungkan senyum tipis di bibirnya.

Andai saja Jessica bisa bersikap sepositif Yoseob, tapi ia tak bisa. Seminggu terakhir tak ada satu hal pun yang berjalan baik. Seakan seseorang sudah memutar roda kehidupannya yang mulai membaik.

Jessica bangkit dan berencana membantu Youngmin. Meski begitu ia masih sempat memandang pintu masuk, berharap lonceng di atasnya berdering, lalu dengan ajaibnya Yuri lengkap dengan senyum bodohnya muncul disana.

***

Krystal memandang dokter yang meletakan stetoskop di dadanya dengan wajah pucat. Dokter muda itu tersenyum lalu memberikan petuah-petuah yang sudah Krystal hafal di luar kepalanya. Serangkaian apa saja yang boleh dan tidak boleh ia lakukan dan yang lebih penting jangan sampai Krystal lupa meminum obatnya.

Krystal merengut dan membuat kedua alis tebalnya bertautan. Apa yang membuat dokter ini berpikir Krystal akan lupa minum obat. Sudah dua tahun ia menetap di rumah sakit dan sudah lima tahun sejak Krystal di diagnosa penyakit ini. Pil-pil itu sudah menjadi bagian hidupnya. Apa yang membuat sang dokter berpikir Krystal akan lupa meminumnya?

Gadis kecil itu hanya terlalu lelah.

Jessica berdiri di sisi ranjang tanpa bergerak. Seperti sebuah mesin rusak. Maka saat dokter meminta Jessica mengikutinya, butuh usaha besar dari Jessica untuk memerintahkan sendi-sendinya bergerak.

Lorong rumah sakit yang putih dan panjang itu begitu sepi. Dokter Kang merendahkan suaranya, meski begitu suaranya menggema dengan keras di telinga Jessica. Seperti sebuah palu yang dihantamkan keras di kepalanya.

“Nona Jung adik anda benar-benar membutuhkan donor secepatnya.” Suara dokter Kang penuh nada simpatik. “Operasi apapun lagi tidak bisa menolongnya.”

Jessica membiarkan kata-kata itu berdengung. Satu detik, lima detik, duapuluh detik, keheningan menggantung diudara yang dipenuhi bau steril tersebut. Satu-satunya suara yang dapat Jessica dengar adalah detak jantungnya sendiri. Degupan yang memukul-mukul keras rongganya. Kerongkongannya tercekat, namun Jessica tahu ia harus menanyakan hal itu, mengetahui kemungkinan terburuk.

“B-berapa lama?” Suranya begitu kering sampai Jessica pikir oranglainlah yang baru saja bicara.

“Tiga bulan.. paling lama.” jawab dokter Kang penuh penyesalan. Mendengar hal itu Jessica tak lagi menahan airmatanya. Pertahanannya runtuh, ia hancur, mencair secair-cairnya. Kakinya yang lemas meluruh ke lantai rumah sakit, airmatanya mengalir deras sementara tangannya menutup mulut untuk meredam isakannnya yang memilukan.

***

Kedua lengannya masih dicengkram dengan kuat sementara telapak tangan Yuri terus terkepal erat. Yuri pikir hari ini takkan menjadi lebih buruk lagi namun ternyata ia salah. Di ruang utama mansion luas tersebut neneknya sedang duduk sambil minum teh. Sungguh kedatangan tak terduga.

Langkah Mrs. Kwon berhenti begitu melihat mertuanya tersebut. Ia membungkuk sedikit untuk memberikan penghormatan namun seperti biasa wanita tua itu akan mengabaikannya, seakan Mrs. Kwon tak ada disana. Suasana tak nyaman memenuhi udara sementara Mrs. Kwon memasang wajah datarnya, berusaha bersikap normal, meski begitu Yuri dapat melihat rahang ibunya yang mengeras.

Sudah biasa bagi Mrs. Kwon untuk diperlakukan seperti sampah oleh ibu mertuanya. Wanita itu tentu tidak memiliki kriteria untuk dapat dijadikan menantu idaman bagi nenek Kwon. Bagi wanita tua itu kedatangan wanita ini sendiri sudah menjadi bencana bagi keluarga mereka. Entah racun apa yang sudah wanita jalang ini berikan pada putranya sampai-sampai ia rela mengkhianati istrinya terdahulu -Han Soohee. Dan Hyori benci mengetahui kenyataan jika selamanya di rumah ini ia hanya akan menjadi bayangan Soohee, wanita yang sudah lama mati.

“Memang pepatah itu benar kan? Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.” Nenek Kwon menatap Yuri sekilas lalu memandang Mrs. Kwon. “Ibu dan anak sama saja.”

Kepala Yuri berdenyut nyeri. Saat masih kecil Yuri selalu bertanya, kenapa nenek tidak menyukainya seperti ia menyukai Boa unnie? Kenapa ia selalu mengatakan Yuri mendapat sifat pembangkang dari ibunya tapi tak pernah mengatakan hal serupa pada Boa unnie? Kenapa hanya Boa unnie yang selalu nenek ajak ke peringatan kematian ibu mereka? Kenapa nenek selalu tidak menyukainya? Kenapa nenek selalu memukulnya dengan rotan setiap Yuri melakukan kesalahan, tidak peduli apapun kesalahan itu.

Setelah lima tahun hidupnya di dunia Yuri mengerti, karena ia dan Boa unnie memiliki ibu yang berbeda.

Saat ini Yuri tak bisa menentukan mana yang lebih buruk. Ibunya atau neneknya.

***

“Arrgghhhh!!!” Kesal Mrs. Kwon, semua barang yang sebelumnya berjejer rapi di atas meja kerjanya kini berserakan di lantai. Ia muak pada mertuanya, sudah cukup baginya diperlakukan seperti sampah di rumahnya sendiri. Iya, rumahnya sendiri. Tidak ada seorangpun yang bisa mencegah dirinya berkuasa dirumahnya sendiri, tidak Boa tidak juga nenek sihir tua menyebalkan itu. Mrs. Kwon sudah kehilangan banyak untuk mendapatkan semua ini maka ia tak boleh gagal. Tentu saja tidak, kemenangan terjamin karena ia memiliki kartu yang bagus, Yuri.

Diatas kertas Yuri merupakan putri sah keluarga ini, yang perlu ia lakukan adalah memastikan Yuri berada digenggamannya. Tentu saja harus, seorang anak harus berbakti pada orangtuanya bukan? Hal pertama yang harus Mrs. Kwon lakukan adalah memastikan tidak ada rumput liar dilapangan golfnya. Kalaupun ada rumput liar itu harus segera disingkirkan sebelum bertambah banyak.

“Sekretaris Kang..” panggil Mrs. Kwon pada lelaki yang sedari tadi berdiri di samping pintu masuk. Pelayannya yang paling setia. Pria ini sudah mengikutinya sejak wanita ini masih dipanggil Mrs. Kim. Benar-benar kesetiaan yang tidak bisa ditandingi siapapun.

“Cari info tentang gadis itu. Semuanya, semua yang perlu kuketahui.”

Jessica meraba bulu di tengkuknya yang beberapa hari ini terus meremang. Aneh, beberapa hari terakhir Jessica selalu merasa seseorang mengikutinya. Jessica berhenti melangkah lantas berbalik ke belakang namun seperti sebelumnya tidak ada seorangpun di jalanan sepi itu selain dirinya.

Jessica kembali melanjutkan perjalanan, kali ini langkahnya lebih cepat. Jessica berencana pergi ke rumah sakit dan gadis itu rasa Krystal sudah lama menunggunya. Namun beberapa detik setelahnya seseorang meremas pundaknya dan membuat jantung Jessica serasa melompat dari tubuhnya. Gadis itu memekik keras.

“Ahhh noona mianhe.. mianhe.” Minwoo jadi salah tingkah. Menyadari pria itu bukan orang jahat Jessica pun mengelus dadanya.

“Sebenarnya apa yang kau lakukan?!” Kesal Jessica.

Minwoo nyengir sambil mengangkat kantung belanja di tangannya. “Aku baru selesai belanja di minimarket itu lalu aku melihat noona. Aku hanya berencana menyapa, tidak tahu noona akan sekaget itu.”

“Itu karena.. akhir-akhir ini aku menderita paranoid akut. Seperti seseorang terus mengikutiku.”

“Seseorang? Nuguya? Sasaeng fans?”

“Aniyo! Memangnya kau pikir aku artis.”

***

Kwangmin tersenyum lebar begitu beberapa pria memasuki restoran. Ditengah bisnis yang sedang lesu-lesunya, pelanggan bagaikan oasis di padang pasir. Oleh karena itu Kwangmin memasang senyum selebar-lebarnya.

“Tuan silahkan duduk.” Ujar Kwangmin tersenyum ramah. Pria bertubuh kekar yang ada di hadapan Kwangmin menyeringai pada laki-laki kurus itu.

“Tidak perlu beramah-ramah, kami hanya datang untuk memberi kalian pelajaran.”

Sedetik kemudian suasana menjadi tak terkendali. Kursi dan meja berterbangan di restoran kecil ini. Beberapa di antaranya menghantam meja kasir, serta membuat sebuah jendela pecah.

“Apa-apaan ini?!” Yoseob terkejut mendapati kekacauan di depan matanya. Ia lantas melayangkan tinjunya pada salah satu pengacau. Bukan hanya Yoseob, semua karyawan juga berusaha melawan.

Pukulan-pukulan serta tendangan-tendangan, suasana menjadi lebih tak terkendali dari sebelumnya. Apapun bisa dijadikan senjata saat ini. Minwoo memasukan kepala seorang pria botak ke dalam panci. Kwangmin menahan pukulan seorang pria dengan papan menu yang sukses membuat papan malang itu terbelah dua. Youngmin yang dikejar dua pria -yang jelas lebih besar darinya- bersembunyi di bawah meja lalu melayangkan tinju yang sangat keras pada selangkangan kedua pria itu.

“Andweee!!” Eunji dan Chorong yang tersudur di meja kasir berteriak begitu seorang menghampiri mereka dengan pisau di tangannya. Pria itu tersenyum, benar-benar seorang maniak. Jessica mengambil potongan kaki kursi yang patah lalu menghantamkannya pada punggung si pria. Cukup mengejutkan tapi tak cukup untuk membuat pria kekar itu tumbang.

Pria itu berbalik lalu mendorong tubuh Jessica sampai membentur meja. Kepala Jessica berputar, saat menyentuh pelipisnya, cairan merah kental mengalir disana.

“Yaa!! Dasar kurang ajar!!” Eunji maju dan menjambak rambut si pria sementara Chorong terus menampar-nampar wajah pria itu.

Merasa kekacauan yang mereka timbulkan cukup, akhirnya para berandalan itu pergi.

“Kalian brengsek!! Jangan lari!! Aku belum selesai dengan kalian!!” Minwoo masih berteriak-teriak sambil mengacungkan spatulanya ke udara.

“Jessica gwenchana?” Chorong dan Eunji membantunya berdiri. Jessica meringis kesakitan, kepalanya terus berdenyut nyeri sementara siku dan lututnya serasa perih.

***

Para karyawan LD sedang membereskan kekacauan di restoran mereka. Dan Youngmin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bicara.

“Menyebalkan sekali! Direktur siapa sebenarnya orang-orang gila itu?”

“Mollayo.” Yoseob yang berdiri di sudut ruangan tampak berpikir keras.

“Apa direktur meminjam uang kepada rentenir untuk membuka restoran ini lalu tidak bisa bayar? Jadi si rentenir menyuruh orang-orang itu menghancurkan tempat ini?”

“Jangan berkata macam-macam! Aku tidak pernah meminjam uang pada siapapun.”

“Tapi kalau begitu aku jadi bingung. Siapa orang-orang itu dan apa yang mereka inginkan dengan menghancurkan tempat ini?”

“Jangan banyak bicara! Kerja saja yang benar.” Jawab Yoseob sambil berlalu.

Youngmin menggembungkan kedua pipinya sementara Kwangmin menatap kembarannya tajam. “Direktur sedang kesal jadi kau jangan menambah kekesalannya!”

Yoseob pergi ke ruangannya untuk memeriksa keadaan Jessica yang sedang diobati Eunji.

“Apa kau yakin tidak ingin pergi ke rumah sakit?” Eunji bertanya sekali lagi.

“Tidak usah, aku baik-baik saja.”

“Kau yakin?”

“Ne, sungguh.”

“Jessica hari ini kau pulang awal saja lalu istirahat. Aku akan mengantarmu.”

“T-tapi direktur-” Jessica merasa tidak enak pada karyawan lainnya.

“Jangan membantah! Ini perintah atasan.” Yoseob bersikeras dan akhirnya Jessica setuju.

Berbeda dengan yang lainnya Yoseob tahu kenapa orang-orang itu menghancurkan restorannya.

“Jangan pekerjakan Jessica Jung di tempat ini lagi!” Ucap seorang pria pada Yoseob sebelum ia mengajak teman-temannya pergi.

Sambil mengemudi sesekali Yoseob mencuri pandang ke arah Jessica yang duduk di sebelahnya.

“Mulai sekarang kau harus lebih hati-hati, arraseo?” Ucap Yoseob tulus. Entah kenapa laki-laki itu punya perasaan buruk tentang ini.

***

Dengan punggung yang disandarkan di kaki ranjang, Yuri duduk sambil memeluk lututnya. Sudah seminggu ia terkurung seperti tahanan. Pintu kamarnya hanya terbuka tiga kali sehari, yaitu saat pelayan mengantarkan makanan. Selebihnya pintu itu terkunci dan dua penjaga selalu berjaga disana, 24 jam sehari. Benar-benar memuakkan.

Meski begitu Yuri tetap makan karena ia harus bertahan hidup. Meski bukan untuk dirinya sendiri, Yuri akan melakukannya untuk orang yang dicintainya. Yuri tahu ia hanya perlu menunggu.

Pintu kamarnya terbuka sekali lagi…

“Apa kau benar-benar tidak berusaha melepaskan diri?”

Yuri mendongak dan mendapati Boa berdiri sambil menyilangkan tangan di dadanya. Yuri tersenyum pada kakaknya. “Untuk apa? Aku tahu unnie akan menyelamatkan aku.”

“Dasar bodoh!”

Yuri kembali tersenyum. Boa memang akan selalu menyelamatkannya. Tidak peduli kesulitan apapun itu. Sejak Yuri kecil Boa selalu menjadi kakak, ayah, sekaligus ibu baginya. Tanpa sadar ketergantungan Yuri pada kakaknya menjadi besar.

Dimasa kecilnya saat sang nenek memukuli Yuri, Boa akan ikut menangis bersamanya. Saat sang nenek mengatakan Yuri anak haram atau ia bukan bagian dari keluarga ini, Boa akan memeluknya dan menutup telinga Yuri. Lalu ia akan berbisik, membisikan kata-kata yang akan membuat Yuri berhenti menangis.

“Jangan dengarkan nenek. Jangan dengarkan siapapun yang berkata buruk tentangmu. Kau adalah adikku. Kau keluargaku. Aku menyayangimu dan akan selalu melindungimu. Arraseo?”

***

“Apa yang dia lakukan disini?” Gayoon bergidik ngeri sambil memandang Jessica yang berjalan ke arah mereka. Raina dan Hyuna ikut menolehkan kepala mereka lantas ikut bergidik ngeri. Seakan-akan Jessica memiliki penyakit menular yang berbahaya.

Meski begitu Jessica tidak peduli, dengan wajah dinginnya Jessica tetap melangkah ke dalam ruang eksklisif klub golf yang sudah lama ia tinggalkan. Tujuannya hanya satu, untuk menemui Sooyoung dan Hyoyeon. Menanyakan kabar pada dua orang tersebut perihal Yuri. Sudah hampir dua minggu, dan Yuri belum juga menghubunginya.

“Sooyoung-ah!” Panggil Jessica setengah berteriak, meski ia tidak bermaksud seperti itu. Gadis jangkung itu menoleh padanya, sedetik kemudian mata Sooyoung membulat melihat luka-luka di tubuh Jessica. Hyoyeon yang berdiri di samping gadis jangkung itu sama terkejutnya.

“A-apa yang terjadi?”

***

“Suho-ya biarkan kami menggunakan tempat ini sekarang.”

“N-ne.” Jawab Suho sambil mengajak beberapa anggota klub siaran keluar. Untuk memberi Sooyoung privasi.

“Duduklah!” Sooyoung tersenyum sambil mempersilahkan Jessica duduk di sofa ujung ruangan. Tempat yang biasa digunakan anggota klub untuk bersantai. Terlebih Sooyoung yang sering sekali tidur disini karena membolos pelajaran sejarah.

“Apa kau bisa mengingat salah satu dari mereka?” Tanya Sooyoung. Ia masih merasa geram tentang apa yang dialami Jessica. “Mungkin saja kita bisa menemukan siapa mereka. Dan setelah itu aku akan meremukkan tulang-tulang bajingan itu!”

“A-aku tidak begitu mengingatnya. Kejadiannya sangat cepat.” Jessica memejamkan matanya, mencoba memeras otak. Selain bertubuh kekar apa lagi ciri yang dimiliki pria-pria itu? Jessica masih berpikir keras lalu secuil ingatan muncul, pria yang mendorongnya memiliki tato kalajengking di lehernya.

“Sebuah tato kalajengking?” Hyoyeon memastikan. Jessica menganggukkan kepalanya.

“Sepertinya kami tahu harus mencari mereka kemana.”

“Lalu bagaimana dengan Yuri? Apa kalian sudah bisa menghubunginya?” Tanya Jessica penuh harap.

“Belum. Kami sudah beberapa kali ke rumahnya tapi para pelayan bilang Yuri tidak ada.”

“Apa Yuri benar-benar pergi ke luar negeri?” Tanya Jessica sekali lagi. Sooyoung dan Hyoyeon saling pandang.

“Jessica ada satu hal yang harus kau ketahui mengenai Mrs. Kwon. Dia itu benar-benar wanita berdarah dingin. Kau tentu ingat apa yang dia lakukan pada Taeyeon dan Jiwoong oppa? Wanita itu bisa melakukan yang lebih buruk. Lebih buruk dari apa yang bisa kau bayangkan.”

***

Di dalam bis Jessica duduk di kursi paling belakang sambil memandangi gelang ‘Yuri Now’ miliknya. Pikirannya jauh melayang.

“Yuri Now berarti sekarang Kwon Yuri yang memilki hati pemakai gelang ini. Jangan dilepas atau aku akan..”

“Akan apa?”

“Akan menikahimu disini. Saat ini juga!”

Jessica menghela nafas. Betapa ia merindukan Yuri. Jika gadis tanned itu mendengarnya, Jessica yakin kepalanya akan langsung membesar.

Jessica berdiri sambil menyelempangkan tas di bahunya. Halte yang ia tuju sudah sampai.

Sambil berjalan Jessica memijat-mijat kakinya yang terasa pegal. Seharian ini ia berdiri di bawah cuaca dingin sambil membagikan brosur bersama Youngmin. Beberapa pria yang selama beberapa hari mengikutinya tersenyum di belakang punggung Jessica. Jessica berbalik dan terjatuh karena kaget. Ternyata perasaannya benar, ia memang diikuti.

“Selamat malam cantik.” Pria berjenggot dengan jaket kulit lusuh tersenyum padanya dengan senyum menjijikkan.

“A-apa yang kalian inginkan?” Jantung Jessica di dadanya bertalu kencang. Satu hal yang ada di pikirannya, melarikan diri. Jessica harus lari. Namun sebelum ia sempat berbalik dan melangkah, pria yang lain menangkap tangan Jessica lalu memelintirnya kebelakang. Sedetik kemudian mulutnya disumpal, membuat jeritan Jessica tertahan.

Airmata mengenang disudut mata gadis blonde itu saat kelima pria tak dikenal itu menyeretnya ke dalam gang yang sempit. Perpaduan rasa sakit serta rasa takut yang menyerangnya seperti mimpi buruk. Pria dengan jenggot dan jaket lusuh yang sebelumnya lantas membelai wajah Jessica dengan mata berbinar-binar. Seakan baru menemukan setumpuk emas dadakan. Jessica menggelengkan kepalanya cepat. Berusaha berontak, menggerak-gerakan tubuhnya, menendang ke segala arah namun usahanya sia-sia. Pria berjaket lusuh itu lantas menamparnya. Sudut bibir Jessica berdarah.

“Gadis cantik sepertimu tidak seharusnya berjalan sendirian malam-malam begini, berbahaya.” Pria itu berkata dengan nada mengejek dan disambut tertawaan keempat temannya. Bau alkohol menguar dari mulut mereka. Sampah masyarakat. Jessica masih berusaha melawan namun cengkraman di pundaknya terasa semakin kuat, semakin sakit, seakan pria-pria brengsek itu sengaja ingin mematahkan tulang-tulangnya.

Sedetik kemudian punggung Jessica membentur tembok gang dengan keras. Ia terjatuh. Pria-pria itu tertawa sambil merobek kancing-kancing kemejanya dengan buas. Jessica menangis, lemah, tak berdaya dan ketakutan setengah mati.

Buk! Sebuah pukulan mendarat di punggung salah satu pria dan membuat maniak brengsek itu tersungkur di tanah yang lembab dan busuk. Melalui pandangannya yang kabur karena rasa sakit dan airmata Jessica melihat sesosok berdiri dengan balok kayu di tangannya.

Kejadian selanjutnya terasa begitu cepat bagi Jessica. Bagaimana sosok itu terus melancarakan serangan-serangan. Pukulan serta tendangan tanpa rasa takut hingga akhirnya kelima pria itu terpaksa lari terbirit-birit.

“Mianhe.. mianhe..” Jessica mengangkat kepalanya sedikit dan mendapati Yuri yang menangis keras sambil memeluknya. Jessica tersenyum lemah sambil melingkarkan tangannya di pinggang Yuri, di pinggang penyelamatnya. Seperti mimpi indah, akhirnya Jessica bisa kembali merasakan pelukan hangat Yuri, mendengar suaranya, dan menghirup aroma tubuhnya.

“Aku tahu… kau pasti datang.. Yuri-ah.” Gumam Jessica sebelum kesadaran meninggalkan dirinya sepenuhnya.

***

Brak!!

Pintu ruang kerja Mrs. Kwon terbuka keras. Wanita paruh baya itu mendongak dari foto-foto Jessica dan menemukan wajah murka putrinya. Yuri berjalan mendekat dengan rahang terkatup serta tangan yang terkepal erat. Gadis tanned itu seperti siap meledak kapan saja. Mrs. Kwon balik menatap Yuri dengan wajah tak bersalah, wanita itu bahkan masih sempat menyelipkan foto-foto Jessica dibalik file kerjanya. Yuri yang sedang emosi tidak sempat memperhatikan hal itu.

“Apa yang umma lakukan?”

“Mwo?”

“Jawab aku! APA YANG UMMA LAKUKAN?!”

“Apa sekarang kau sudah berani berteriak pada ibumu? Hanya karena Boa memintaku melepaskanmu bukan berarti aku tidak bisa mengurungmu lagi, kau tahu itu.”

“Jangan pernah gangggu Jessica! Atau aku tidak akan pernah memaafkanmu!”

“Jadi ini semua tentang gadis itu. Kau pikir aku punya banyak waktu untuk mengurusi gadismu? Apapun yang kau bicarakan aku sama sekali tak mengerti.”

***

Yuri masih memandangi gadis yang terbaring di hadapannya dengan rasa bersalah. Jessica sudah banyak menderita karenanya, Yuri tahu itu.

“Nngg.. Yul..”

“Sica? Sica kau sudah sadar?”

“Dimana aku?”

“Rumah sakit. Aku khawatir sekali. Apa kau baik-baik saja sekarang?”

Jessica tersenyum lalu menepuk tempat di sebelahnya. Yuri mengerti, ia naik ke tempat tidur Jessica lantas berbaring di sebelah gadis itu. Tangan kanannya memeluk pinggang Jessica sementara tangan kirirnya di bawah kepala Jessica.

“Mianhe..” ucap Yuri sekali lagi sambil menatap kedua mata Jessica.

“Aku baik-baik saja Kwon Yuri. Kenapa sejak pertama kita bertemu lagi kau hanya mengucapkan kata maaf. Apa kau tidak merindukanku?”

“Aku merindukanmu, hanya saja-”

Jessica membelai pipi Yuri dan meminta gadis tanned itu tidak melanjutkan kata-katanya karena Jessica tahu Yuri hanya akan menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi. Itu yang selalu dia lakukan.

“Aku juga merindukanmu.. sangat.” Jessica bergumam sambil meletakkan kepalanya diatas dada Yuri. Mendengar debar jantung orang yang sangat dicintainya. Yuri tersenyum mendengar pengakuan Jessica.

“Aku berpikir setelah lulus nanti aku akan langsung menikahimu.” Yuri berkata sambil tersenyum lebar. Iya dia memang sudah punya rencana, setelah lulus nanti lebih baik ia pergi dari rumah dan -mungkin- kawin lari dengan Jessica.

Jessica memutar kedua bola matanya mendengar perkataan Yuri.

“Kau bahkan belum belajar untuk ujian akhir dan sudah berani mengajakku menikah?”

“M-memangnya kenapa? Lagipula kita masih punya sebulan sebelum ujian akhir.”

“Waktu itu berlalu dengan cepat Yuri. Mollayo?”

“Arraseo arraseo! Aku pasti akan belajar dengan giat Sicababy.”

Yuri kembali memandang Jessica dengan intens. Tangannya terangkat untuk menyentuh pelipis Jessica lalu beralih ke sudut bibirnya yang terluka.

“Apa ini masih sakit?”

“Tidak.. tidak lagi.”

“Aku tahu… cara menyembuhkannya dengan cepat.” Yuri berbisik di telinganya. Jessica memejamkan matanya begitu kepala Yuri mendekat. Pertama-tama kecupan itu mendarat di atas pelipisnya, lalu di sudut bibirnya. Namun, saat Yuri bermaksud memperdalam ciuman mereka pintu ruang rawat Jessica terbuka.

“Unnie!” Panggil Krystal. Yuri terkejut sampai terjatuh dari ranjang. Muka Jessica bersemu merah.

Krystal Jung 1 – Kwon Yuri 0
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>TBC