Archive for the ‘yulsic’ Category

Tittle : Dark Evil Girl
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Comedy Romance, Drama
Lenght : Oneshot
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung, Im YoonA, Seo Juhyun and Other Cast

Dark Evil Girl
.
.
.
.
.
.

Part 5 : I Love You

“Kita lihat saja nanti. Sampai jumpa.” Taecyeon mengakhiri panggilannya.

Kwon Yuri mungkin selalu mengecohnya dengan mengencani banyak gadis tapi Taecyeon tau gadis bernama Jessica Jung ini berbeda. Taecyeon bisa melihat dari cara Yuri menatap gadis itu, bagaimana cara Yuri memperlakukannya. Itu cinta. Sesuatu yang sudah lama hilang darinya. Sesuatu yang sudah Yuri renggut paksa darinya. Tapi, tidak apa-apa. Sebentar lagi Yuri akan merasakan apa yang ia rasa selama ini. Taecyeon akan membuat Yuri merasa bagaimana sakitnya kehilangan orang yang dicintainya. Tak lama lagi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Minggu keempat..

Sejak pagi Yuri belum melihat Jessica dan itu membuatnya merasa khawatir.

“Maaf Sunny-ssi..”

“Ne?”

“Apa kau melihat Jessica?”

“Jessica? Sejak pagi aku belum melihatnya.. kukira dia pergi bersamamu Yuri-ssi?”

Setelah mendengar hal itu Yuri tau ada sesuatu yang salah. Yuri mengambil ponselnya dan kembali menghubungi Jessica. Kali ini ponsel Jessica tak lagi nonaktif hanya saja ada orang yang tak pernah Yuri harapkan menjawab panggilannya.

“OK TAECYEON BRENGSEK!! KATAKAN DIMANA JESSICA?!”

Pagi itu saat Jessica menunggu bis di halte biasa tiba-tiba sekelompok orang yang tak dikenal mendatanginya dan menyeretnya ke dalam mobil. Jessica berusaha meronta namun pengaruh dari obat bius lebih dulu melumpuhkannya.

Siang ini saat terbangun Jessica sudah mendapati dirinya berada di sebuah gudang tua dengan keadaan terikat di sebuah kursi. Orang-orang yang pagi ini menyeretnya tak terlihat di manapun, di sudut ruangan ia hanya melihat Taecyeon yang berbicara di ponsel bersama seseorang. Ponselnya.

“Rileks Kwon Yuri… aku tidak akan melakukan apapun pada kekasihmu selama kau mengikuti perintahku.”

“…………………”

“Datanglah ke gudang tua di daerah Daegu, sendiri, jika aku menemukanmu membawa orang lain aku akan memotong jari Jessica dan mengirimkannya padamu!”

Jessica membelalakan matanya mendengar perkataan Taecyeon. Ia ingin berteriak namun mulutnya ditutup lakban. Setelah melihat Taecyeon tersenyum pada pistol di tangannya jauh di dalam hatinya Jessica berharap Yuri tak cukup bodoh untuk menuruti perkataan Taecyeon. Ia tau lelaki bertubuh kekar tersebut bermaksud melakukan sesuatu yang buruk pada mereka. Andai saja Taecyeon memberinya kesempatan bicara, ia akan menjelaskan semuanya. Mengatakan yang sebenarnya. Bahwa Yuri bukanlah orang yang bertanggung jawab atas kematian Eunhye. Jessica tau jika kebenaran ini terungkap Taecyeon pasti akan berubah pikiran.

Yuri mengacak rambutnya, ini semua salahnya. Jika terjadi sesuatu pada Jessica, Yuri takkan memaafkan dirinya sendiri. Saat itu yang ada dalam pikirannya hanya Jessica. Yuri tidak peduli walau ia memacu motornya dengan kecepatan maksimal, ia tidak peduli walau hal itu mungkin akan membuatnya terlibat dalam sebuah kecelakaan, ia hanya peduli pada Jessica.

“Sica.. kau harus baik-baik saja.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Gudang tua itu terletak di sekitar tambak garam, tepat di pinggir pantai. Matahari sudah hampir tenggelam saat Yuri sampai disana. Yuri tau betul kenapa Taecyeon memilih tempat ini. Tempat ini adalah tempat ditemukannya jasad Eunhye setelah seminggu menghilang.

Kepala Yuri berdenyut nyeri, seandainya saja Taecyeon tau jika Yuri juga terluka karena kepergian Eunhye.

Lima orang pria bertubuh kekar sudah menunggunya di depan. Sebelum menginjinkan Yuri masuk mereka lebih dulu mengikat tangannya ke belakang. Yuri tidak bisa melawan perintah Taecyeon. Tidak jika keselamatan Jessica menjadi taruhannya.

Jessica tidak tau sudah berapa lama ia berada di tempat ini. Sisa-sisa airmata yang mengering terlihat di wajahnya yang tersorot cahaya kekuningan matahari senja dari balik celah-celah. Selama hidupnya Jessica tidak pernah merasa setakut ini.

“Kwon Yuri sudah datang bos.” ucap salah seorang pria sambil mendorong tubuh Yuri sampai gadis itu berlutut di depan kaki Taecyeon. Dari celah kedua kaki Taecyeon, Yuri dapat melihat Jessica. Meski terikat gadis blonde itu tampak tidak terluka, Yuri tersenyum setidaknya Jessica baik-baik saja. Pandangan mereka bertemu beberapa detik sebelum Taecyeon menendang wajah Yuri dengan lututnya.

Yuri terjatuh dan meringis kesakitan. Hidungnya berdarah dan pandangannya berputar.

“Kau tau sudah sejak lama aku ingin melakukan ini?!”

Yuri memutuskan untuk tidak melawan. Selain karena kedua tangannya terikat kebelakang, keadaan saat ini juga takkan menguntungkannya. Jika ia melawan Taecyeon atau anak buahnya sudah pasti akan melukai Jessica.

“Eunhye takkan senang melihatmu melakukan ini.” ucap Yuri. Taecyeon memegang kerah baju gadis itu lalu memukul wajahnya.

“Sayangnya dia tak ada disini untuk melarangku melakukannya.” Taecyeon berkata dengan nada terluka. “Dan semua itu karenamu! Brengsek! Kau bahkan tidak berhak untuk menyebut nama Eunhye dengan mulut kotormu!”

Jessica menggelengkan kepalanya cepat bersamaan dengan airmatanya yang kembali mengalir deras. Menyaksikan bagaimana Taecyeon dan anak buahnya memukuli Yuri tanpa ampun membuat hatinya serasa diremas.

Yuri terbatuk saat lelaki-lelaki bertubuh kekar tersebut terus menendangi tubuhnya yang sudah tak bisa ia gerakkan. Gadis tanned itu bahkan merasakan beberapa tulang rusuknya patah. Meski pandangannya mulai kabur, Yuri berusaha untuk tetap terjaga. Ia tidak bisa menyerah sekarang, tidak sebelum ia memastikan sendiri Jessica sudah aman.

“Cukup!” ucap Taecyeon sambil menatap Yuri yang meringkuk tak berdaya di bawah kakinya. “Sekarang lepaskan ikatannya.”

Tepat setelah ikatan tangannya terlepas Yuri berusaha berdiri. Walau dengan susah payah, pada akhirnya ia masih bisa berdiri tegak.

“Kuakui kau cukup hebat Kwon Yuri.” Taecyeon bertepuk tangan dan tertawa.

“J-jika kau sudah puas, sekarang tolong lepaskan Jessica.” Pinta Yuri sungguh-sungguh.

“Aku mungkin akan melakukannya setelah kau mencium kakiku!” jawab lelaki itu.

Yuri menatap Jessica sebentar dan mengatakan ‘uljima’ tanpa suara padanya. Meminta gadis blonde itu untuk berhenti menangis. Setelahnya ia benar-benar berlutut dan mencium ujung sepatu Taecyeon.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Yoona-ssi..”

“Ne Sunny.. ada yang bisa kubantu?”

“Ini tentang Yuri dan Jessica. Sejak pagi Jessica tidak terlihat di sekolah dan baru saja Yuri menanyakan keberadaannya padaku. Dia terlihat sangat khawatir.”

“Jinja? Lalu sekarang Yuri dimana?”

“Dia langsung pergi dengan wajah pucat setelah menerima telepon.”

“A-apa kau tau siapa yang menghubunginya?”

“Yuri sempat meneriakkan nama orang itu. Seseorang bernama Taecyeon.”

“Baiklah, aku mengerti. Terimakasih Sunny.”

Sejak mendengar penuturan Sunny, Yoona sudah merasa ada yang tidak beres. Dengan melacak keberadaan Yuri melalui ponselnya Yoona akhirnya menemukan keberadaan keduanya. Gadis itu hanya berharap ia tidak terlambat.

Setelah Yuri mencium kakinya, Taecyeon tertawa dan bertepuk tangan. Sesaat setelahnya ia berjalan ke arah Jessica, melepaskan ikatan gadis itu dan memintanya berlari ke arah Yuri.

Jessica menangis, satu-satunya hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah memeluk Yuri dan pergi dari sini.

Beberapa langkah sebelum Jessica sampai, Taecyeon tersenyum dan mengeluarkan pistol yang sedari tadi ia sembunyikan di balik jaketnya. Jessica tersenyum sementara Yuri membelalakan matanya. Taecyeon menarik pelatuk benda tersebut. Dengan sisa-sisa kekuatannya Yuri berlari memeluk Jessica dan membalik posisi mereka. Membuat peluru yang seharusnya mengenai Jessica malah mengenainya.

Dor!

Dor!

Dor!

Tiga bunyi ledakan terdengar memekakan telinga.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Kenapa hanya berdiri disitu nona Jung? Mau bergabung bersama kami?”

“Kwon Yuri aku takkan membiarkanmu kali ini.”

“Apa ini yang kau cari… nona Jung?”
“Bagaimana benda itu bisa ada padamu?”

“Kembalikan gelangku.”
“Aku akan melakukannya setelah kau melakukan sesuatu untukku.”
“Apa?”
“Jadilah pacarku.”

“SICABABY!!”
“Ne s-seobang?”
“Hari ini kita kencan.”

“Apa gelang itu benar-benar berharga untukmu?”

“Mwoya? D-dijodohkan? Aku tidak mau!”
“Aku sudah punya pacar.”

“AARRGHH!! LEPASKANNN!!”
“……………”
“AKU TIDAKK MAU!!”
“Diam.”
“SSHIIRREEOO!! DASAR SILUMAN BAYANGAN!”
“Kau bilang apa?”
“Siluman bayangan! Ayo lepaskan aku!”
“Kau akan diam atau aku harus melakukan sesuatu padamu?”

“Kau! Benar-benar gadis hitam yang jahat!”

“Kalau kau mau kau boleh mengambilnya.”
“Dia bukan pacarku.”

“Nona Jung kau boleh pulang.. atau ikut dengannya jika kau mau.”

“Kau tau apa? Kau pantas mendapatkannya dan aku.. Jessica Jung takkan pernah meminta maaf karena hal ini.”

“Apa yang terjadi pada Eunhye sama sekali bukan salahmu.”

“Aku pasti akan mengembalikan gelangmu.”

“Kau mau menantangku nona Jung?”
“Kalau iya kenapa?”
“Kuingatkan, kau akan menyesal.”
“Aku. Tidak. Takut. Padamu.”

“Aku melakukannya karena kau banyak bicara.”

Dua peluru yang Taecyeon lesakkan berhasil menembus punggung Yuri sementara satu tembakan lainnya merupakan tembakan peringatan dari polisi. Tanpa mereka sadari polisi sudah mengepung gudang tua tersebut.

“Serahkan diri kalian!” Dalam sekejap saja para petugas berhasil melumpuhkan Taecyeon bersama seluruh anak buahnya.

Yoona berlari ke arah Jessica yang memeluk tubuh Yuri yang bersimbah darah.

“Y-yuri? Yuri lihat aku kau akan baik-baik saja.” Jessica menggenggam tangan Yuri dan berusaha meredakan ketakutannya sendiri.

Yuri tidak bisa berkata apa-apa karena ia terus terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Airmata Jessica berjatuhan di wajah Yuri. Bagi Yuri di dunia ini hanya ada mereka berdua sekarang.

“Uljima..” Yuri berkata sambil membantu gadis kecil itu berdiri.
“Gomawo.” Si gadis kecil berkata sambil menghapus sisa-sisa airmatanya.

Yuri mengeluarkan sesuatu dari saku blazernya lalu menaruhnya diatas telapak tangan Jessica. Gelang itu. “A-aku k-kembalikan..”

Jessica menggelengkan kepalanya cepat. “A-aniya! Kau tidak perlu mengembalikannya padaku. Gelang itu milikmu.”

“K-kau i-ngat?”

“Ne.” Airmata Jessica tak berhenti mengalir melihat wajah Yuri yang makin memucat. Faktanya Jessica tidak pernah melupakan gadis kecil itu, tidak pernah sekalipun, ia hanya salah mengenalinya.

“Terimakasih sudah kembali menyelamatkanku.. Kwon Yuri.”

Yuri tersenyum merasakan genggaman di tangannya yang semakin erat. Rasa sakit yang melumpuhkan semua indera di tubuhnya tak lagi terasa, faktanya Yuri merasa tubuhnya semakin ringan. Meski begitu, semakin lama nafas yang ia tarik semakin pendek dan semakin sesak. Pupil matanya tak lagi fokus sementara kelopak matanya terasa semakin berat.

Yuri tau ia harus mengatakan kata-kata itu sekarang atau Jessica takkan pernah tau perasaannya yang sebenarnya. Bahwa Yuri mencintai Jessica, ia mencintai gadis itu sejak pertama Jessica menginjakkan kakinya di gerbang SMA Jiguk, bahwa pada hari penerimaan siswa baru Yuri jatuh cinta pada pandangan pertama padanya, bahwa perasaannya pada Jessica semakin kuat sejak Yuri tau Jessica adalah gadis kecil yang pernah ia selamatkan, dulu.

“A-aku.. mencintaimu.” Pengakuan itu harusnya terdengar indah untuk Jessica tapi tidak, tidak jika mengetahui kata-kata itu adalah kalimat perpisahan Yuri untuknya.

“A-aku juga.. aku mencintaimu.”

Yuri tersenyum lalu memejamkan matanya, tubuhnya terkulai lemas dalam pelukan Jessica. Sekeras apapun Jessica memanggil, sekuat apapun ia mengguncang tubuh Yuri, ia tak mendapat jawaban.

Yoona memeluknya, memisahkan Jessica dari Yuri yang mulai mendapat penanganan para medis. Berharap gadis tanned itu masih bisa kembali walau dengan kemungkinan yang paling mustahil sekalipun.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Beberapa bulan kemudian…

“Aku akan melakukan berbagai cara supaya kau bebas.” ucap tuan Ok serius sementara itu dari balik kaca yang memisahkan mereka Taecyeon tersenyum miris. Ia sudah mendengar kejadian yang sebenarnya dari Yoona. Dari situ Taecyeon sadar bahwa ia sudah menjadi orang paling brengsek sedunia.

“Tidak perlu appa. Aku sudah menerima hukuman atas kesalahan yang kulakukan, kuharap appa juga bisa melakukan hal yang sama.”

Hari kelulusan yang ditunggu-tunggu pun tiba. Yoona sebagai lulusan terbaik memberikan pidato di acara tersebut. Jessica duduk di barisan tamu undangan bersama kedua orangtuanya, sang paman, kakek Kwon dan kedua orangtua Yoona. Semua orang ada disini, tentu akan terasa lengkap jika orang itu juga ada disini.

Beberapa saat setelahnya ponsel Jessica berdering.

“Ya!! Kwon Yuri!! Dimana kau? Ini hari terakhir kita sebagai siswa SMA dan kau masih saja terlambat!”

“Aku masih di jalan, tiba-tiba saja motorku mogok.”

“Itulah kenapa aku menyuruhmu untuk berangkat bersama Yoona. Berhentilah menggunakan sepeda motor untuk tebar pesona!”

“Iya iya, aku tau Sicababy. Aku akan sampai sebentar lagi. Saranghae.”

“Nado saranghae.” Saat telepon Yuri berakhir Jessica mendapati semua orang menatapnya dengan tatapan jahil.

“M-mwo?”

“Tidak ada.” jawab kakek Kwon sambil kembali pura-pura fokus pada pidato Yoona. Aksinya diikuti yang lain.

Jessica menutup wajah dengan kedua tangannya. Di salah satu jarinya tersemat cincin pertunangannya dengan Yuri. Mereka bertunangan sebulan setelah Yuri keluar dari rumah sakit dan berencana menikah setelah lulus kuliah. Semoga saja Yuri bisa bertahan selama itu. Semoga.

Sementara itu di sudut ruangan…

“Apa rencanamu setelah lulus?” tanya Jiyoung pada Yongguk.

“Ikut mengelola kedai mie milik keluargaku. Kau sendiri?”

“Aku akan mewujudkan cita-citaku menjadi penari latar.”

“Eh?”
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Tittle : Dark Evil Girl
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Comedy Romance, Drama
Lenght : Chapter
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung, Im YoonA, Seo Juhyun and Other Cast

Dark Evil Girl
.
.
.
.
.
.

Part 4 : The Truth

Jessica menghabiskan berjam-jam menelisuri tiap sudut kolam untuk mencari kalung milik Yoona. Ia mungkin sudah gila tapi rasanya wajar saja mengingat orang akan rela melakukan apa saja demi orang yang mereka suka. Walau begitu ia tetap melakukannya tanpa sepengetahuan Yoona, mengingat bagaimana Yoona, gadis itu tentu takkan membiarkan Jessica melakukannya.

Jessica berpegangan pada sisi kolam dengan nafas tersenggal. Kenapa pula kolam renang di sekolah mereka harus seluas arena olimpiade. Jessica melepas kacamata renangnya saat ponselnya berdering. Benda yang sudah dibungkus plastik tersebut layarnya berkedip dan menampilkan nama ‘Dark Evil Girl’. Julukan yang ia berikan pada Yuri.

Jessica bergidik ngeri, kejadian tadi malam kembali berputar di kepalanya. Gadis blonde itu memutuskan untuk mengabaikan Yuri setelah kejadian itu. Ia masih marah.

Bermaksud meletakkan ponsel tersebut kembali di pinggir kolam, sialnya benda tersebut malah jatuh dan tercebur. Jessica lagi-lagi mendesah frustasi. Ia kembali menyelam setelah memakai kacamata renangnya lagi.

Ponsel Jessica berada di dasar kolam, tepat di samping sebuah benda berkilauan yang ia cari-cari seharian ini. Kalung milik Yoona. Jessica bersorak gembira.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Sicababy!” Panggil Yuri. Ia dan Jessica masing-masing berada di ujung lorong. Jessica menunduk menyembunyikan wajahnya lalu berbalik arah. Kali ini ia akan melakukan apa saja untuk bisa menghindari Yuri. Melihat Jessica menghindarinya, Yuri berlari mengejar gadis itu.

Karena Yuri lebih tinggi dan lebih cepat darinya ia berhasil menggenggam tangan Jessica.

“Hari ini kita kencan.”

“Aku tidak bisa, banyak urusan.” Jessica berusaha melepaskan cengkraman Yuri di lengannya. Gadis blonde itu berpikir cepat.

“Urusan apa?”

“A-aku..” berpikir Jessica, berpikir!

“Aku akan mengerjakan tugas kelompok bersama… Yoseob!” Pria berkacamata yang lewat di hadapan mereka menoleh begitu Jessica memanggil namanya. Ia dan Jessica sudah sekelas selama setahun namun baru kali ini Jessica menyebut namanya, mengejutkan memang mengingat bagaimana penampilan Yoseob, ia heran Jessica menyadari kehadirannya di sekolah ini.

Yuri menyipitkan matanya, menatap Jessica yang kini melingkarkan tangannya di lengan Yoseob dengan mesra. Gadis ini terlihat begitu mencurigakan. Menyadari hal itu Jessica segera mengalihkan pembicaraan.

“Yoseob-ah kita pergi sekarang saja ya?”

“Ne?” Yoseob yang tidak mengerti dengan situasinya tentu saja bingung namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh Jessica lebih dulu menariknya. Pergi dari hadapan Yuri -yang Jessica yakin- tengah menatap tajam mereka. Jessica bisa merasakan bulu-bulu di punggungnya berdiri.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hidungnya memerah, setelah menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi pada Yoseob, Jessica memutuskan untuk menemui Yoona di ruang kesenian dan mengembalikan kalung yang sudah ia temukan.

Jessica bersin dan segera mengelap hidungnya dengan tissue. Sepertinya ia jadi flu karena terlalu lama berendam dalam air. Tadi siang masih tidak apa-apa tapi sore ini ia terus saja bersin-bersin.

Pintu galeri lukis terbuka sedikit, Jessica menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan dan seketika matanya terbelalak. Di dalam sana Yoona tengah berciuman dengan Seo Juhyun. Berusaha pergi diam-diam tanpa ketahuan Jessica malah bersin dan menarik perhatian keduanya.

“J-jessica?” Yoona tergagap sementara Juhyun menundukkan kepalanya dan buru-buru meninggalkan ruangan. Jessica masih berdiri di ambang pintu seperti orang bodoh.

Dulu ia pernah memergoki Yuri sekarang ia memergoki Yoona. Apakah ia ditakdirkan untuk merusak momen orang lain?

Jessica berbalik dan berlari menjauhi Yoona. Yoona adalah orang yang sudah disukainya sejak lama dan melihatnya berciuman dengan orang lain rasanya.. entahlah. Apa ia benar-benar patah hati?

Jessica duduk di bangku halte sambil memandangi ujung sepatunya. Sesaat setelahnya Jessica mengacak rambutnya sendiri.

“Memalukan!” erangnya, sekarang apa yang harus diperbuatnya saat ia kembali bertemu Yoona. Rasanya pasti sangat canggung.

“Sudah kuduga kau ada disini.” Jessica mendongakkan kepalanya dan mendapati Yuri sudah berada di hadapannya. Gadis tanned itu berada diatas sepeda motornya.

Tunggu dulu! Yuri? Jessica berdiri dan bermaksud pergi namun kata-kata Yuri selanjutnya membuat langkahnya terhenti.

“Kau mau menghindariku lagi?” tanya Yuri tenang. Bagaimana dia bisa tau, batin Jessica.

“Aku tidak menghindarimu.” Sangkal Jessica.

“Katakan itu pada orang yang berpura-pura mendekati Yoseob.” cibir Yuri. Jessica mengentakkan kakinya dan berbalik menatap Yuri, tepat saat itu Yuri melemparkan helm padanya.

“Pakailah! Kita akan pergi ke suatu tempat.”

“Kemana?”

“Bukankah sudah kubilang jangan banyak bertanya?”

Teringat kejadian semalam Jessica segera memegang bibirnya. Walau enggan ia tetap naik ke atas sepeda motor Yuri, duduk di belakang gadis tanned itu.

“Pegangan! Aku akan ngebut.”

“Aku akan membunuhmu jika kau melakukannya!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yuri dan Jessica berdiri bersisian di pinggiran sungai Han. “Apa kau pernah patah hati?” Jessica bertanya.

Yuri menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak, karena aku tidak pernah jatuh cinta.”

“Sudah kuduga, kau memang orang yang tidak punya perasaan.”

“Apa itu pujian? Terimakasih.”

Jessica memutar bola matanya, sejak awal seharusnya dia tau bercerita pada Yuri bukan pilihan tepat. Selain karena Yuri tidak punya perasaan gadis tanned tersebut juga takkan menanggapi kata-katanya dengan serius.

“Aku tidak tau kenapa malam ini aku memutuskan untuk berada dengamu disini.”

“Karena tak ada seorangpun yang mau menolak tawaran kencan seorang Kwon Yuri. Berutunglah karena kau tidak menjadi orang bodoh pertama yang melakukannya.”

“Entah kenapa.. menjadi orang bodoh mungkin akan terasa lebih baik.”

“Kemarikan tanganmu!”

“Apa?” Heran Jessica. Sedetik kemudian Yuri menarik tangan Jessica alu meletakkan sesuatu disana. Obat flu.

“B-bagaimana kau tau-”

“Bukankah itu terlihat jelas? Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan sampai terkena flu?”

“B-bukan urusanmu.” Jessica menundukkan kepala menyembunyikan parasnya yang tiba-tiba terasa panas. Fakta jika Yuri peduli padanya membuat jantungnya berdebar tak beraturan. Mungkin Yuri tidak sejahat itu.

Yuri terkekeh geli melihat sikap malu-malu sang Presiden. “Jangan besar kepala nona Jung, aku membelikannya bukan karena aku peduli padamu.”

“Ne?”

“Karena aku takut kau menularkan virus padaku saat kita bersama.”

“Ha! Lucu sekali Kwon Yuri! Dan satu lagi.. satu-satunya orang yang besar kepala disini cuma dirimu!” Jessica berdecak sebal. Kenapa sehari saja Yuri tidak bisa tidak membuatnya kesal, rasanya semua kekagumannya pada Yuri beberapa detik lalu menguap tak bersisa.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Jessica malam ini kita akan makan malam di rumah keluarga Kwon.” ucap ayahnya.

“Ne.” Jawab Jessica dengan lemas. Ia, ayahnya dan ibunya turun dari limosin yang sengaja kakek Kwon persiapkan untuk menjemput mereka. Jessica terkagum-kagum. Ia memang sering mendengar jika keluarga Kwon keluarga kaya tapi siapa sangka jika mereka sekaya ini. Rumah mereka terlihat seperti istana sementara halaman depannya saja Jessica yakin lebih luas dari rumah mereka.

“Aku senang kalian datang.” Kakek Kwon tersenyum menyambut kedatangan calon cucu mantunya. Pria tua itu tampak sumringah sama seperti kedua orangtua Yuri yang berdiri di sampingnya. Di belakang mereka berjejer pelayan yang membungkukkan tubuhnya pada Jessica. Melihat hal itu Jessica jadi merasa masuk ke dalam sebuah dongeng. Ia adalah seorang putri sementara pangerannya adalah si Evil Kwon Yuri. Ngomong-ngomong dimana Yuri dan Yoona? Bukankah seharusnya mereka ada disini juga?

“Yuri sedang bersiap-siap sementara Yoona sedang dalam perjalanan kemari.” jelas nyonya Kwon.

Yuri baru bergabung setelah mereka semua berada di ruang makan. Sementara Yoona menyusul tak lama setelahnya. Yuri duduk di sebelah Jessica dan tersenyum sementara Jessica membalasnya dengan senyuman terpaksa. Yuri menatapnya dengan mata berkilat-kilat, Jessica tau arti tatapan itu. Pervert!

Yoona duduk di depan mereka, tepat di samping ibunya. Selama acara berlangsung Jessica terus mencuri pandang ke arah gadis itu, berharap bisa menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. Jessica merasa bodoh karena saat itu yang ia lakukan hanya berlari. Bukankah setidaknya ia harus minta maaf?

“Bagaimana hubungan kalian?” tanya kakek Kwon antusias, Jessica berpikir sejenak tapi saat Yuri menjawab pertanyaan itu untuknya Jessica sadar. Yang dimaksud kakek Kwon adalah hubungannya dengan Yuri.

“Kami baik-baik saja.” ucap Yuri. Jessica mengangguk menyetujui pernyataan Yuri.

“Baguslah, karena tujuan aku mengundang kalian kemari sebenarnya untuk mengumumkan sesuatu.” ucapnya serius. Semuanya mendengarkan dengan seksama.

“Aku berencana mempercepat acara pertunangan antara Yuri dan Jessica.” Lanjutnya. Jessica sampai tersedak saking kagetnya.

“Sooyeon-ah kau baik-baik saja?” tanya ibunya.

Jessica masih terbatuk-batuk sementara Yuri mengelus-elus punggungnya.

“Dia baik-baik saja omonim. Sica hanya terlalu senang.” kata Yuri seenaknya dan membuat Jessica menatapnya horor. Apa si hitam ini sudah gila?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Acara makan malam dilanjutkan dengan obrolan ringan di ruang tamu. Sementara Yuri dan Jessica saling terdiam saat kedua ibu mereka sibuk mendiskusikan konsep tunangan seperti apa dan berapa jumlah tamu yang akan diundang.

Kenapa jadi begini?

“Yul kenapa kau tidak memainkan sesuatu untuk Jessica?” Tuan Kwon berkata sambil menunjuk Grand Piano putih yang berdiri di ujung ruangan.

“Kau bisa bermain piano?” Tuan Jung menanyakan pertanyaan yang ingin Jessica ajukan. Siapa sangka Yuri punya keahlian lain selain mengacau. Mungkin Jessica lupa jika Yuri pernah bermain piano untuk Juhyun.

“Permainan piano Yuri sangat bagus.. saat kecil dia sering mengikuti kompetisi dan mendapat banyak penghargaan.” jelas Yoona dan membuat Yuri tersipu.

“Sebenarnya tidak sehebat itu.”

“Kenapa tidak kau mainkan sebuah lagu dan biarkan Jessica menilaimu.” Putus kakek Kwon.Yuri melihat Jessica sebentar sebelum berjalan kearah Grand piano tersebut dan memainkannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sementara pembicaraan para orangtua mulai serius kakek Kwon meminta Yuri mengajak Jessica berkeliling. Mereka menyusuri taman Kwon mansion. Yuri berjalan lebih dulu sementara Jessica mengikutinya dari belakang.

“Omo!” Jessica mengusap-usap kepalanya, karena Yuri berhenti tiba-tiba ia jadi menabrak punggung gadis tanned itu.

“Apa kau tidak bisa melihat?” sinis Yuri. Jessica berdecak sebal.

“Kau yang seharusnya tidak berhenti tiba-tiba.” Protes Jessica. Yuri menyembunyikan poselnya yang berdering di balik punggungnya. Panggilan itulah yang membuatnya tiba-tiba berhenti.

“Aku ada urusan, nona Jung kau tidak akan tersesat jika aku meninggalkanmu disini, iya kan?”

“Tenanglah aku tidak sebodoh itu.”

Yuri berjalan dengan langkah cepat sambil mengangkat teleponnya. Jessica mendengus sebal, kenapa Yuri harus mengangkat telepon itu jauh-jauh darinya. Yuri pasti sengaja karena ia tidak mau Jessica menguping. Pasti telepon itu merupakan telepon dari salah satu gadisnya. Dan kenapa pula Jessica harus kesal karena hal ini? Apa dia cemburu?

“Tidak mungkin!!”

“Jessica?” Seseorang memegang pundaknya.

“APA?!” Jessica berteriak tanpa sadar dan membuat Yoona terkejut.

“Maaf.. apa aku mengejutkanmu?”

“A-aniya! Aku kira kau orang lain.”

“Bisa kita bicara sebentar?”

“T-tentu saja.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yoona mengajaknya duduk bersisian di atas ayunan yang ada di taman. Jika seperti ini Jessica jadi merasa benar-benar kembali ke masa lalu. Saat sekelompok anak lelaki menganggunya sampai Jessica jatuh dari ayunan lalu saat Yoona datang menolongnya. Ah, gelang itu! Jessica lupa kalau benda itu masih ada pada Yuri. Jika saja benda itu ada padanya mungkin Jessica bisa membuat Yoona mengingat masa lalu mereka.

“Kejadian kemarin pasti membuatmu terkejut kan?”

“Sedikit.” jujur Jessica. “Apa kau dan Juhyun-”

“Kami tidak seperti yang kau pikirkan.” ralat Yoona. Jessica mengangukkan kepalanya mengerti.

“Kau menyukai Juhyun?” tanya Jessica. Yoona mengangukkan kepalanya. Jessica tersenyum, mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk melupakan cinta pertamanya. Yoona menyukai orang lain dan Jessica tidak bisa berbuat apa-apa akan hal itu.

“Tapi aku tidak tau kalau Juhyun mempunyai perasaan yang sama atau tidak.”

“Aku yakin dia juga menyukaimu.”

“Benarkah? Kenapa?”

“Karena tak ada seorangpun yang takkan menyukai Kwon Yoona.”

“Gomawo.” Yoona tersenyum tulus dan Jessica membalasnya. Jessica sudah melepas cinta pertamanya dan seharusnya ia patah hati saat ini tapi… apakah perasaan patah hati itu terasa seringan ini?

Gadis blonde itu tiba-tiba teringat ia harus mengembalikan sesuatu. Lucu sekali bagaimana Yoona kehilangan sesuatu dan Jessica berakhir sebagai seseorang yang selalu menemukannya. Jessica akan mengembalikan kalung Yoona, sedangkan gelangnya nanti. Saat ia sudah berhasil mengambilnya dari Yuri.

“Ini..”

“D-darimana kau mendapatkannya?”

“Kau benar, benda itu terjatuh ke dalam kolam.”

“Terimakasih banyak. Benda ini sangat berharga untukku.”

“Jinja? Wae?”

“Hadiah ulang tahun dari orangtuaku.” Jelas Yoona.

Saat Yuri dan Yoona berumur 6 tahun orangtuanya memberikan sepasang gelang dan kalung sebagai hadiah ulang tahun. Yuri mendapat kalung sementara Yoona mendapat gelang.

“Supaya kami saling menjaga appa menyuruhku memakai kalung milik Yuri dan Yuri memakai gelang milikku.”

“G-gelang?”

“Ne. Tapi suatu hari Yuri tanpa sengaja menghilangkan gelang milikku. Sehari setelahnya sesuatu yang buruk terjadi, aku diculik dan sampai saat ini Yuri berpikir itu salahnya. Salahnya karena dia tidak bisa menjaga gelang itu dengan baik. Walaupun semua orang tau itu sama sekali bukan salahnya.”

Saat berusaha kabur dari orang-orang yang menculiknya Yoona justru tenggelam di kolam renang. Karena itulah ia trauma. Beruntung polisi berhasil menyelamatkannya, walau setelahnya Yoona sempat koma selama seminggu dan menolak bicara pada siapapun selama setahun penuh.

“Sejak saat itu Yuri selalu bersikap protektif pada orang yang disayanginya terutama padaku.”

Sampai disini Jessica tidak bisa berkata apa-apa. Apakah ini juga berarti anak yang menolongnya ditaman 12 tahun lalu bukan Yoona melainkan Yuri? Apakah Yuri juga mengingatnya setelah melihat gelang itu? Apakah Yuri sudah lama mengenalinya?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ok Taecyeon. Nama yang terpampang pada layar ponselnya membuat rahang Yuri mengeras. Ia harus mengangkat telepon itu, tapi tidak di depan Jessica.

“Omo!”

“Apa kau tidak bisa melihat?”

“Kau yang seharusnya tidak berhenti tiba-tiba.”

“Aku ada urusan, nona Jung kau tidak akan tersesat jika aku meninggalkanmu disini, iya kan?”

“Tenanglah aku tidak sebodoh itu.”

“Yeobuseyo?”

“Terlihat seperti makan malam keluarga yang menyenangkan.” Suara Taecyeon mulai terdengar dari ujung sana.

“Kau memata-matai kami?” Yuri mengepalkan tangannya.

“Aniyo, aku hanya menebak tapi dilihat dari nada bicaramu sepertinya tebakanku benar.” Di ujung sana Taecyeon mengeluarkan tawa yang dibalas Yuri dengan satu senyuman sinis.

“Apa yang kau inginkan?”

“Apa sekarang berbincang dengan teman lama juga dilarang? Aku hanya ingin berbincang denganmu Kwon Yuri.”

“Kau tau aku mulai muak?”

“Baiklah baiklah. Benar-benar tipe orang yang tidak sabar…” Taecyeon berdecak sementara Yuri memasang ekspresi datar.

“…………………”

“Entah kenapa aku merasa akan terjadi sesuatu yang buruk pada gadismu, sebagai teman yang baik aku memperingatkanmu untuk menjaganya baik-baik.”

“Jika kau berani menyentuh Jessica, kuingatkan, rumah sakit bukan lagi tujuanmu!”

“Kita lihat saja nanti. Sampai jumpa.”

.
.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Tittle : Dark Evil Girl
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Comedy Romance, Drama
Lenght : Chapter
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung, Im YoonA, Seo Juhyun and Other Cast

Dark Evil Girl
.
.
.
.
.
.

Part 3 : Steal Your First Kiss

“Tetap awasi Jessica Jung.” ucap Taecyeon di telepon. Beberapa orang yang sedari tadi mengawasi Jessica mengangguk mengerti dan melanjutkan misi mereka.

Minggu ketiga..

Setelah peristiwa penamparan itu Yuri tak pernah bicara lagi pada Jessica. Hal yang baik memang tapi entah kenapa Jessica justru merasa berasalah. Yuri yang tenang dan tak banyak bicara justru membuat Jessica  terlihat seperti orang jahat.

Yuri yang berjalan sambil mendengarkan musik mendongakkan kepala saat seseorang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Yuri melepas earphone di telinganya. “Wae?”

“Ada yang bisa kukerjakan?”

“……………..”

“Apa kau tidak punya tugas?”

“Tidak.”

“Jinja? Ini.. mengejutkan. Sungguh tidak ada yang bisa kukerjakan?”

“Tidak ada.”  Yuri memutar bola matanya dan berlalu.

Jessica menggigit bibirnya lalu menahan pergelangan tangan Yuri. “Sungguh tidak ada satupun?”

“Tidak satupun.” Yuri memegang pundak Jessica dengan tangannya yang bebas lalu mendorongnya ke samping. “Minggirlah! Kau menghalangi jalanku.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Kwon Yoona?”

“Jessica-ssi?”

“Bisa kita bicara sebentar?”

“Tentu.. tentu saja.”

Keduanya memutuskan untuk bicara di pinggir lapangan. Saat itu lapangan sekolah sedang penuh karena beberapa siswa sedang belajar olahraga.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Yoona setelah menaruh peralatan menggambarnya di samping. Yoona adalah seorang pelukis sketsa, ia senang sekali menggambar tentang kehidupan sehari-hari dan Jessica akui karya tangan Yoona sangat bagus. Ia pernah melihatnya sekali pada pameran sekolah saat mereka masih duduk di tingkat pertama.

“I-ini.. tentang Yuri.” jawab Jessica ragu.

“Kenapa dengan Yuri?”

“Beberapa hari yang lalu saat kencan kami bertemu dengan namja bernama Taecyeon. Sepertinya mereka dalam keadaan yang tidak baik. Aku penasaran saja kenapa keduanya terlihat begitu saling membenci? A-aku.. belum pernah melihat ekspressi yang Yuri tunjukkan saat melihat Taecyeon sebelumnya.” Jessica menjelaskan dan beberapa saat setelahnya ekspressi Yoona juga berubah suram.

“Jessica-ssi.. kau adalah orang pertama yang menyadarinya.”

“Huh?” Jessica tidak mengerti dengan maksud perkataan Yoona. Sesaat setelahnya Yoona mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara Yuri,Taecyeon dan Eunhye.

Nam Eunhye adalah teman masa kecil Yuri dan Yoona. Mereka bertiga bersahabat sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ayah Eunhye merupakan salah satu pekerja di kediaman keluarga Kwon.

“Yuri selalu memperlakukan Eunhye seperti adik kecilnya, dia selalu melindungi kami. Sampai setahun yang lalu sesuatu yang buruk menimpa Eunhye dan membuat Yuri sangat marah… merasa bersalah.”

Malam itu kesucian Eunhye direnggut paksa oleh seorang ahjussi mabuk yang ditemuinya di stasiun bawah tanah.

“Yuri merasa sangat bersalah karena malam itu seharusnya dia menjemput Eunhye tapi Yuri terlambat. Yuri selalu menyalahkan dirinya sendiri.”

“Lalu apa hubungannya dengan Taecyeon?”

“Taecyeon adalah kekasih Eunhye.”

Berbulan-bulan setelah kejadian itu mereka mencari pelakunya. Namun mereka mendapat fakta yang mencengangkan. Pelaku itu ternyata orang suruhan tuan Ok yang ternyata tidak setuju dengan hubungan Eunhye dan anaknya, Taecyeon.

Sampai disini Jessica tidak bisa berkata apa-apa.

“Eunhye memutuskan hubungannya dengan Taecyeon. Yuri membantunya dengan cara berpura-pura menjadi kekasih Eunhye. Taecyeon membenci Yuri sejak hari itu.”

“L-lalu bagaimana dengan gadis bernama Eunhye itu?”

“Dia bunuh diri, sebulan setelah hubungannya dan Taecyeon berakhir.”

Alasan kenapa Taecyeon begitu membenci Yuri karena ia berpikir Yuri lah orang yang paling bertanggung jawab atas kematian Eunhye. Sedangkan alasan kenapa Yuri tak pernah mengungkapkan yang sebenarnya karena ia ingin menjaga kehormatan Eunhye.

“Jessica-ssi tolong jaga Yuri.”

“Ne?”

“Bukankah sekarang kalian bersama?”

“O-oh itu.. i-iya.”

“Walaupun Yuri selalu bersikap kasar dan susah diatur tapi sebenarnya dia baik. Kakakku yang satu itu hanya punya cara unik untuk menunjukkan rasa sayangnya.”

“Ne, aku mengerti.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Seobang?” Panggil Jessica dan membuat perhatian seluruh siswa di kantin tertuju padanya.

“Wae?”

“Hari ini.. ayo kita kencan.”

Yuri mengerutkan keningnya namun sebelum Jessica sempat protes gadis yang lebih tua tersebut lebih dulu menyeret tangannya.

“Kita mau kemana?”

“Taman hiburan.”

Keduanya duduk sambil memandangi ferris wheel yang bersinar terang. Lampunya warna-warni seperti bintang. Jessica mengosok-gosokan kedua telapak tangannya. Menyadari hal itu Yuri segera menarik tangannya dan menyeretnya ke suatu tempat. Jika dipikir lagi ‘kencan’ mereka rasanya tak pernah lepas dari seret dan paksa.

Yuri mengajaknya membeli jaket. Ia mengacak-acak pakaian yang dipajang namun tak menemukan jaket yang cukup tebal.

“Maafkan kami.” Jessica mewakilinya minta maaf pada pedagang yang terlihat kesal.

Pada akhirnya Yuri membayar jaket yang dipakai pedangangnya. Sepasang jaket couple.

“A-aku tidak mau memakainya.” protes Jessica.

“Wae? Kau malu?”

“B-bukan begitu. Hanya saja-”

“Terserah padamu! Lagipula kenapa kau harus malu jika kau adalah orang pertama yang mengajakku kencan ke tempat ini.” Yuri berbalik dan berjalan lebih dulu di depannya. Jessica menghela nafas, sungguh Yuri adalah bad girl paling sensitif yang pernah dikenalnya.

“Apa kau marah?”

“………………….”

“Ya!! Kwon Yuri tunggu!” Jessica berteriak sambil berusaha menyamakan langkahnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Aku ingin mengatakan sesuatu.” ujar Jessica. Keduanya berdiri bersisian sambil bersandar pada pembatas jembatan.

“Aku tidak tau jika presiden sekolah kita banyak bicara. Apa kau benar-benar nona Jung yang dingin itu?”

“Aku serius!”

“Katakan saja.”

“Apa yang terjadi pada Eunhye sama sekali bukan salahmu.”

“……………….”

“………………..”

“Aku pasti akan mengembalikan gelangmu.” Yuri bersuara setelah keduanya terdiam cukup lama.

“Jinja? Ah~ itu melegakkan.” Jessica mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum.

“Kau belum mengatakan padaku kenapa gelang itu sangat berharga.”

“Karena.. gelang itu milik orang yang sangat penting.”

“Siapa? Cinta pertamamu?” tanya Yuri lagi, Jessica tak lantas menjawab hanya saja wajahnya yang bersemu merah membuat Yuri tak perlu mendapat jawaban langsung dari gadis blonde itu lagi.

“Berhenti tersenyum seperti itu! Kau terlihat aneh.” Kali ini Yuri berkata sambil menoyor kepala Jessica.

“Ya!!” Jessica berteriak dan bersiap membalas namun Yuri lebih dulu kabur. “Jangan lari Kwon Evil Yuri!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

12 tahun lalu…

10

9

8

7

6

5

4

“3…. 2…. 1! Selesai! Yoong siap atau tidak aku akan mencarimu.” Yuri membuka matanya dan melihat ke sekiling taman. Berusaha mencari keberadaan saudara kembarnya yang saat ini sedang bersembunyi di suatu tempat.

Saat sedang mencari Yoona, Yuri tiba-tiba mendengar seseorang menangis. Seorang gadis yang seumuran dengannya sedang diganggu sekelompok anak lelaki.

Yuri berlari kearah gadis itu dan menolongnya. Dengan tubuh kecilnya Yuri mendorong anak-anak lelaki yang lebih besar sampai mereka pergi.

“Uljima..” Yuri berkata sambil membantu gadis kecil itu berdiri.

“Gomawo.” Si gadis kecil berkata sambil menghapus sisa-sisa airmatanya.

Tiba-tiba saja Yuri mendengar suara ibunya. “Yoona-ya! Ayo pulang!”

Yuri tersenyum menyadari ibu mereka sudah menjemput. Setelah melihat Yoona berlari ke dalam mobil Yuri juga segera berlari kearah ibunya.

“Sampai jumpa.” Ucap Yuri pada gadis kecil itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tempat itu dipenuhi bunyi menghentak serta diterangi cahaya yang remang-remang. Yuri duduk memperhatikan lautan manusia yang menari di bawah lampu disko dari tempat favoritnya. Yongguk juga duduk di sampingnya sementara Jiyoung sedang bercumbu dengan salah satu gadisnya di sudut klub.

“Jangan bilang kau sedang memikirkan presiden kita.” goda Yongguk sementara Yuri menanggapinya dengan tersenyum sinis.

“Apa aku punya alasan untuk memikirkannya?”

“Mungkin.. atau sebenarnya tidak, karena seingatku seminggu lagi hubungan kalian akan berakhir.” Yongguk tertawa geli memikirkan Yuri yang mungkin benar-benar terjebak dalam permainannya sendiri.

“Kau tau? Kwon Yuri tidak pernah jatuh cinta.”

“Justru itu! Bukankah akan lebih menarik jika hal itu benar-benar terjadi.” Yongguk menjentikkan jarinya dengan semangat.

“Jangan menggangguku. Pergilah menari dan benturkan kepalamu pada salah satu gadis disana!” Yuri berkata lalu menyesap tequilla pesanannya. Yongguk tentu tak perlu banyak waktu untuk menenggelamkan dirinya dalam lautan manusia yang semakin malam semakin menggila.

Setelah Yongguk pergi satu sosok lain menghampiri Yuri, kali ini seorang gadis.

“Perlu aku temani?” tanya Bora menggoda, gadis itu mengeluarkan salah satu batang nikotin dari dalam kotak silver, menyalakan pematik lalu menghisap batang yang sudah menyala tersebut. Menghisap lalu menghembuskan asap dari mulutnya.

Yuri menatap gadis yang memakai rok mini tersebut lama. “Baiklah-baiklah aku mengerti.” Bora mengalah dan mematikan rokoknya. Yuri tidak suka pada seorang perokok, terutama jika orang tersebut adalah seorang gadis.

“Aku melakukannya untuk mendapat perhatianmu.”

“Perhatianku? Wae?”

Bora sudah mengenal Yuri cukup lama. Gadis itu tau walau Yuri selalu berganti kekasih seperti ganti baju setidaknya seminggu sekali Yuri akan meluangkan waktu untuknya. Tapi sejak Yuri bersama Jessica, hari ini adalah pertama kalinya Yuri kembali datang ke klub.

“Gadis bernama Jessica itu mulai membuatku terancam.” Bora menyilangkan kakinya dan cemberut. Sementara itu Yuri tergelak mendengar pengakuannya.

“Apa kau cemburu?”

“Mungkin.. lagipula aku tidak punya hak untuk cemburu.”

“Itulah nikmatnya tidak terikat, kau tidak perlu dicemburui.”

“Benarkah kau tidak ingin terikat? Bahkan tidak denganku?”

“Kurasa.” Yuri menyeringai, setelahnya ia menarik tengkuk Bora dan mulai mencumbui gadis itu.

“Jangan sampai kau termakan kata-katamu sendiri sayang.” ujar Bora di tengah desahannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Yuri?”

“Aniyo! Aku tidak bersamanya.”

“Ah ne~ selamat malam.”

Jessica menutup teleponnya dan saat mendongak ia lebih dulu menabrak tubuh seseorang. Yoona. Jika Jessica terpaksa tinggal di sekolah sampai larut karena tugas lalu apa yang Yoona lakukan?

“Aku menghilangkan sesuatu di kolam renang dan berniat mencarinya.” Yoona tersenyum sambil mengacungkan kunci pintu gedung olahraga di depan wajahnya. Jessica mengangguk mengerti sebelum menawarkan diri untuk menemani Yoona. Arena kolam itu terlalu luas dan malam-malam seperti ini pasti disana sangat sepi.

“Terimakasih.” Yoona tersenyum. Berbeda sekali dengan Yuri yang jarang terlihat ramah. Jessica mendesah frustasi, kenapa pula ia harus memikirkan gadis arogan itu. Lupakan, lupakan!

Yoona dan Jessica menyusuri setiap sudut memakai senter, benda yang mereka cari adalah sebuah kalung yang sudah pasti akan bersinar jika terkena cahaya. Harusnya tidak terlalu sulit tapi setelah berjam-jam mencari benda itu tak kunjung mereka temukan. Pada akhirnya Yoona mengajak Jessica duduk di kursi yang menghadap ke arah kolam.

“Maaf jadi merepotkanmu Jessica-ssi.”

“Gwenchana, lagipula kita teman. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan.”

“Aku khawatir benda itu jatuh ke dalam kolam.”

“Kalau seperti itu pasti sulit, lebih baik kita mencarinya besok.” usul Jessica. Yoona menyetujinya.

“Sebenarnya, kalau benda itu benar-benar terjatuh ke dalam kolam rasanya aneh juga.”

“Eh? Kenapa?”

“Karena aku tidak bisa berenang. Selama pelajaran olahraga tadi siang aku cuma duduk memperhatikan dari pinggir.”

Yoona tidak bisa berenang karena ia mempunyai trauma masa kecil dengan kolam renang. Trauma itu masih berlanjut sampai saat ini.

“Jessica.. kau boleh tertawa jika kau mau?” Yoona menggoda gadis itu.

Jessica cepat-cepat menggelengkan kepalanya dan berkata dengan panik. “A-aniya! Aku tidak akan menertawakanmu karena hal seperti itu.”

Melihat reaksi Jessica yang berlebihan Yoona pun tertawa kecil. “Kau lucu sekali, sekarang aku tau kenapa Yuri menyukaimu.” ucapnya sambil mengacak rambut Jessica pelan.

Paras Jessica bersemu. Saat itu ia tidak tau tindakan Yoona atau justru perkataannya yang membuat dadanya bergemuruh.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hari sudah sangat larut saat Jessica sampai di rumah. Yoona mengantarnya, sebagai ucapan terimakasih karena Jessica sudah mau membantunya.

“Sampai jumpa.” Yoona melambaikan tangannya dari dalam mobil, Jessica mengucapkan terimakasih lalu melambaikan tangannya saat mobil Yoona mulai melaju.

“Kenapa baru pulang?”

“Omona!” Jessica menebah dadanya kaget. Bagaimana tidak jika baru saja ia berniat memasuki pekarangan rumahnya Yuri tiba-tiba muncul dari tempat yang gelap dan mengejutkannya.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Menunggumu.”

“Menungguku? U-untuk apa?”

“Hanya ingin melihatmu sebentar.”

“W-wae?”

“Apa hari ini seseorang meneleponmu?”

“Seseorang? Siapa?”

“Seseorang dari keluargaku.”

“Oh.. iya, ibumu. Beberapa jam yang lalu ibumu menelepon.”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia bertanya apa aku bersamamu? Atau aku tau dimana keberadaanmu.”

“Apa yang kau katakan padanya?”

“Aku bilang tidak tau.”

“Dasar bodoh.”

“Ya!! Jangan seenaknya memanggil orang lain bodoh. Kau bahkan tak sepintar itu.” Marah Jessica. Dasar Kwon Yuri, apa malam-malam begini dia datang ke rumah orang hanya untuk cari masalah?

“Berisik! Sebenarnya aku datang kesini cuma mau bilang, jika lain kali ibuku atau siapapun meneleponmu bilang saja aku bersamamu, mengerti?”

“Kenapa? Tunggu! Apa kau secara tidak langsung memintaku menutupi perbuatan aneh-anehmu di luar sana?” tuduh Jessica dan membuat Yuri menoyor kepalanya -lagi. Dasar tidak sopan, geram Jessica.

“Aku tidak aneh, kau yang aneh! Pokoknya lakukan saja, jangan banyak bertanya.”

“Aku tidak mau!”

“Mwo?”

“Shireo! Shireo! Shireo!”

“Kau mau menantangku nona Jung?”

“Kalau iya kenapa?”

“Kuingatkan, kau akan menyesal.”

“Aku. Tidak. Takut. Padamu.” Tegas Jessica. Kwon Yuri pernah memprovokasinya sekali, saat itu Jessica cuma diam, tapi kali ini Jessica bertekad takkan tinggal diam. Keadilan harus ditegakkan.

Kwon Yuri mencengkram tangannya dan menatapnya tajam. Jessica tidak tingggal diam, ia melawan tatapan Yuri dengan ice glare andalannya. Orang-orang tentu tidak menjulukinya ice princess tanpa alasan.

“Bukankah sudah kubilang kau akan menyesal?” Yuri bergumam sebelum mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Jessica. Ciuman yang sangat singkat itu membuat Jessica mematung.

“Aku melakukannya karena kau banyak bicara.”

Setelah tersadar Jessica berteriak dan memukul pundak Yuri dengan tasnya -sangat keras. Yuri terkekeh geli melihat Jessica yang berlari ke dalam rumah dengan kecepatan yang melebihi flash.

“Gadis hitam yang jahat! Aku membencimu!” Jessica mengutuk Yuri dalam kepalanya. Kwon Yuri sudah mencuri ciuman pertamanya.

“AKU MEMBENCIMU KWON YURI!!”

.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Tittle : Dark Evil Girl
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Comedy Romance, Drama
Lenght : Chapter
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung, Im YoonA, Seo Juhyun and Other Cast

Dark Evil Girl
.
.
.
.
.
.

Part 2 : Here Comes Trouble

“Jessica! Yuri mencarimu!” Sooyoung berkata sebelum melirik Yuri yang berdiri dengan senyuman bisnis di pintu masuk ruang rapat kesiswaan. Jessica mendesah frustasi. Rasanya hidupnya tidak bisa lebih hancur dari sekarang.

“Wae seobang?”

“Hari ini kita kencan baby.”

Yuri berjalan sambil menggandeng tangan Jessica dan bersenandung kecil. Saat melewati lorong yang dipenuhi siswa lagi-lagi keduanya menjadi pusat perhatian. Meski begitu Jessica sudah tak merasa serisih dulu. Seminggu bersama Yuri membuatnya kebal akan tatapan mematikan yang diberikan fans-fans Yuri saat mereka bergandengan tangan. Demi gelang itu, 3 minggu lagi, Jessica hanya perlu bertahan bersama Yuri selama 3 minggu lagi.

Di dalam kafe yang biasa mereka datangi, Yuri kembali menikmati cheese cake favoritnya sementara di depannya -seperti biasa- Jessica mengerjakan tugas sekolah dengan wajah merengut. Yuri tersenyum tanpa sadar.

“Apa gelang itu benar-benar berharga untukmu?”

“Menurutmu untuk apa aku melakukan semua ini?”

“Kenapa bisa sangat berharga?”

“Karena itu milik seseorang yang…” Jessica mengangkat kepalanya dan mendapati Yuri yang tengah menatapnya dengan rasa penasaran. “Itu sama sekali bukan urusanmu.”

Jessica melanjutkan kata-katanya dengan ketus lalu kembali menunduk. Mencoba memfokuskan diri pada sederet soal yang harus segera ia temukan jawabannya karena yang Jessica inginkan saat ini hanya menjauh dari Yuri. Arrgggghh!! Kenapa iris hitam pekat gadis kecoklatan itu tiba-tiba harus terus terbayang di kepalanya?!

12 tahun yang lalu…

Jessica sedang bermain bersama boneka kesayangannya di atas ayunan saat sekelompok anak laki-laki datang menganggunya. Mereka mendorong ayunan yang Jessica duduki dengan keras sampai gadis kecil itu terjatuh. Jessica menangis karena lututnya terluka.

Saat itu gadis yang seumuran dengannya datang menolong. Ia melawan kelompok anak laki-laki tersebut sampai mereka pergi.

“Uljima..”

“Gomawo.” Jessica berkata sambil menghapus sisa-sisa airmatanya.

Saat itu Jessica belum sempat memperkenalkan namanya karena anak itu  dipanggil ibunya. “Yoona-ya! Ayo pulang!”

“Sampai jumpa.” Yoona melambaikan tangannya dan berlari. Jessica terdiam di tempatnya sampai ia melihat sesuatu di dekat sepatunya. Sebuah gelang. Gelang milik Yoona yang selalu ia bawa sampai sekarang.

“Tunggu! Kau meninggalkan ini! Tunggu!” Jessica mencoba mengejar mobil yang membawa Yoona namun kaki kecilnya tak cukup cepat.

“Ya!! Apa yang kau pikirkan huh?” Yuri menjentikkan jarinya dan membuat Jessica tersadar.

“Bukan urusanmu.”

“Kenapa kau selalu memasang ekspressi itu padaku?”

“Apa kau masih harus bertanya?”

“Baiklah. Terserah saja, lagipula aku tidak peduli. Jika tugasmu sudah selesai kau boleh pergi.” Ucap Yuri tak acuh. Jessica mendelik sebal sebelum meninggalkan kafe.

Satu hari menyebalkan lagi bersama Kwon Yuri. Jika boleh memilih Jessica tentu saja lebih memilih menghabiskan waktu bersama Yoona, walau sampai saat ini gadis itu belum mengingatnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica memasukan tangan ke saku hoodienya sambil berjalan. Sesampainya di pekarangan rumah, deretan mobil yang terparkir di halaman yang tak begitu luas tersebut membuatnya terheran-heran. Bagaimana tidak jika tak ada satupun dari mobil itu yang dikenalnya. Bukan sedan tua milik ayahnya maupun truck rongsok kebanggaan sang paman. Mobil itu semuanya mobil mewah yang Jessica taksir harganya milyaran won.

“Aku pulang.” Jessica membuka sepatu dan mendapati keluarga besarnya sedang berkumpul sambil mengobrol bersama orang-orang yang tak Jessica kenal. Mungkin pemilik mobil diluar?

“Itu putri kami.” ujar ayahnya.

“Sooyeon, ayo beri salam.”

“Annyeonghaseyo, Jessica imnida.”

“Aigoo.. putrimu manis sekali.” kata pria yang paling tua diantara tamu-tamu keluarga Jung. Dari yang Jessica lihat setidaknya ada 3 orang tak dikenal yang ada disana.

Pertama sorang wanita paruh baya yang memakai gaun juga berprilaku seperti seorang sosialita, lihat saja perhiasan juga tas branded yang dikenakannya. Kedua seorang pria paruh baya berpenampilan necis, jas rapi, sepatu mengkilap yang Jessica yakin sudah disemir selama berjam-jam. Jangan lupakan arloji mahal yang melingkar di tangan kirinya. Keduanya seperti pasangan raja dan ratu dari kerajaan modern, tak lagi muda namun tetap menawan. Yang ketiga adalah seorang kakek yang sebelumnya menyebut Jessica manis. Pria berusia senja yang berwajah ramah dan dari cara bicaranya Jessica yakin pria ini begitu berwibawa.

“Kemarilah Sooyeon kami ingin bicara padamu.” Perkataan tuan Jung sukses menyadarkan Jessica. Entah kenapa kali ini Jessica merasa ayahnya sedikit berbeda. Jessica mengangguk sebelum menghampiri para tetua yang sudah lebih dulu berkumpul. Sebelumnya Jessica melirik sang paman yang terus menatapnya dengan pandangan gusar. Apa pria itu punya sesuatu untuk dikatakan?

“Ada apa?” Jessica kembali bertanya.

“Selamat malam nona.” Sapa kepala pelayan Han.

“Selamat malam.” Yuri duduk di sofa setelah melepar tasnya sembarangan. Sudah beberapa hari ini majikannya yang satu itu berubah, Yuri lebih banyak tersenyum dan ajaibnya masalah yang ditimbulkannya semakin hari semakin berkurang.

“Apa terjadi sesuatu yang menyenangkan hari ini nona?”

“Ne.” Yuri kembali tersenyum saat mengingat Jessica. Tunggu! Jessica? Aniyo! Yuri tidak tersenyum karena gadis itu! Jessica sama sekali bukan alasannya bahagia hari ini.

Yuri terus menggelengkan kepalanya dan membuat pelayan Han berubah heran. “Ada apa nona?”

“Bukan apa-apa. Oh iya, kenapa disini sepi sekali? Kemana semua orang?”

“Nona Yoona masih belum pulang dari tempat les sementara komisaris bersama nyonya dan Presdir sedang berkunjung ke tempat kerabat.”

“Kerabat? Nuguya?”

“Maaf saya kurang tau nona.”

“Baiklah. Aku mau mandi.”

“Silahkan. Saya akan menyuruh pelayan menyiapkan air hangat untuk anda.”

“Mwoya? D-dijodohkan? Aku tidak mau!” Tolak Jessica keras. Bagaimana mungkin kedua orangtuanya berpikir untuk menjodohkan Jessica dengan orang yang sama sekali tidak Jessica kenal hanya karena perjanjian bodoh yang dibuat sang kakek bersama sahabatnya puluhan tahun lalu.

Kakek Jung bersama kakek pemaksa yang sekarang ada di hadapan Jessica adalah sepasang sahabat sejak mereka sama-sama di kamp militer. Dulu keduanya telah berjanji, untuk mempererat tali persaudaraan di antara mereka, kakek Jung dan kakek pemaksa -mulai sekarang Jessica memutuskan untuk memanggil si kakek dengan sebutan itu- berjanji untuk menjodohkan anak mereka. Sekarang, walaupun kakek Jung sudah tiada sebagai sahabat sejati kakek pemaksa tetap ingin mewujudkan janji itu.

“Aku ingin agar Jaein tersenyum di surga.” ujarnya.

Jessica memalingkan wajahnya, perasaannya campur aduk. Entahlah. Lagipula kenapa di masa lalu kakeknya harus membuat perjanjian seperti ini, bagaimana dengan perasaannya? Bagaimana dengan impiannya? Jessica, tentu saja masih terlalu muda untuk menikah.

Seperti bisa membaca kekhwatiran gadis muda di hadapannya, anak kakek pemaksa segera menjelaskan.

“Walaupun perjodohan kami tetap takkan memaksa kalian untuk langsung menikah. Kami akan memberikan waktu pada kalian untuk saling mengenal terlebih dahulu. Aku juga punya 2 putri, kau boleh memilih salah satu diantara mereka nantinya.” ucap pria klimis tersebut.

“Sooyeon…” panggil nyonya Jung sambil memegang tangannya.

“A-aku tidak mau.”

“W-wae?” kakek pemaksa mulai terdengar khawatir.

“Aku sudah punya pacar.” jawab Jessica ragu. Apa yang baru saja dikatakannya? Mendengar keraguan dari nada bicara Jessica kakek Kwon mengulum senyumnya. Sebagai informasi saja tidak pernah ada kata menyerah dalam kamus keluarganya.

“Benarkah?”

“N-ne.”

“Siapa?”

“A-aku tidak bisa mengatakannya.”

“Kalau begitu kau berbohong. Kalau begitu tidak ada alasan untuk menolak. Tanggal pertunangannya langsung kita tentukan saja.”

“T-tunggu!” Jessica tidak tau apa yang dipikirkannya saat itu tapi yang pasti ia menelpon Yuri dan memintanya datang. Meminta Yuri untuk membantunya berpura-pura di depan keluarganya dan ‘calon’ besannya. Yuri awalnya menolak -tentu saja- karena ia bukanlah tipe orang yang peduli dengan urusan orang lain tapi Jessica terus memohon-memohon dan memohon. Yuri akhirnya setuju untuk membantu setelah Jessica berjanji akan terus mengerjakan tugasnya sampai akhir semester.

“Dasar pemeras!”

“Bayaran yang setimpal karena kau akan mendapat bantuan eksklusif dari seorang Kwon Yuri.”

Jessica menggandeng tangan Yuri dengan enggan ke dalam rumah. Tidak lupa di dalam sana ia akan bersikap romantis bersama Yuri, Jessica pasti bisa melakukannya karena mereka sudah sering ‘bermesraan’ di sekolah. Sementara tatapan Yuri masih terpaku pada deretan mobil yang terparkir di halaman depan rumah Jessica. Sebelumnya ia tidak menyadarinya tapi lama kelamaan mobil itu terasa familiar.

Jangan-jangan…

“Appa.. umma dan Kakek, pacarku sudah datang. Perkenalkan ini Kwon Yuri.. dan Yuri-ah ini-”

“Kakek! Appa dan umma juga? Apa yang kalian lakukan disini?” heran Yuri. Jessica membulatkan matanya. Apa?

Si kakek pemaksa berdiri lalu memeluk Yuri. “Kenapa kau tidak bilang jika kekasihmu adalah cucuku. Kurasa ini yang namanya takdir.”

Mulut Jessica terbuka lebar, tidak, ini sama sekali bukan apa yang direncakannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Di beranda rumahnya Jessica menghela nafas lalu menatap langit. Sedetik kemudian Jessica menghela nafas lalu menatap langit lagi, sepertinya bintang pun mendadak enggan menampakkan dirinya. Jessica menghela nafas lalu menatap langit kembali.

“Sudah 55 kali.” ujar Yunho yang -tidak ada siapapun yang tau sejak kapan- duduk di sebelahnya.

“Apanya?” Jessica mengerutkan alisnya. Yunho tidak menjawab melainkan menghela nafas dengan berat. Kali ini Jessica memusatkan seluruh perhatiannya pada sang paman.

“Seharusnya aku yang berada di posisimu. Mianhe.” ucap Yunho tulus. Ini semua memang salahnya, jika saja ia tak menolak untuk menikahi putri kakek Kwon 15 tahun lalu tentu Jessica tidak perlu menggantikan posisinya. Inilah alasan tatapan iba yang ia berikan pada Jessica sebelumnya.

“Aku juga heran kenapa paman sampai menolak? Melihat bagaimana ayah Yuri, kurasa adiknya sangat cantik.”

“Kau benar, dia adalah wanita tercantik yang pernah kulihat. Dia baik hati, selalu tersenyum, singkatnya dia sempurna. Namanya Kwon Hyeri”

“Lalu kenapa?”

“Justru karena dia terlalu sempurna aku merasa tidak pantas untuknya. Saat itu aku hanya seorang pengangguran, aku ragu jika bisa membuatnya bahagia.” ujar Yunho tulus. Meski begitu pernyataan kedua pamannya membuat Jessica hampir terkikik geli, saat itu Yunho hanya pengangguran, lalu apa bedanya, sampai sekarang ia tetap seorang pengangguran. Oh bukan! Saat ini Yunho bukan hanya seorang pengangguran, ia juga seorang bujangan tua.

“Apanya yang lucu?”

“Tidak ada. Lalu apa yang terjadi dengan wanita itu sekarang?”

“Dia sudah menikah dan hidup bahagia dengan laki-laki yang lebih baik dariku.”

“Aku kagum sekaligus merasa kasihan padamu.” jujur Jessica.

“Terimakasih.” jawab Yunho. Sesaat kemudian keduanya menatap langit, kali ini satu bintang mulai bersinar, disaat yang bersamaan Jessica dan Yunho menghela nafas mereka.

Jessica yang bermaksud mencari penyelesaian justru membuat masalahnya semakin rumit. Setelah mengetahui Yuri dan dirinya ‘bersama’ kakek Kwon pasti semakin berharap banyak pada mereka.

Kenapa semuanya jadi seperti ini?

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah hari itu, hampir tidak ada kejadian yang membuat Jessica lebih terkejut lagi. Hari-harinya berjalan normal -atau itu yang diharapkannya- selain fakta bahwa dirinya akan terikat dalam sebuah perjodohan dan waktunya melayani Yuri akan lebih lama -sampai akhir semester-  semuanya masih berada dalam tahap yang dapat Jessica toleransi. Sebenarnya, Jessica berbohong, jujur saja beberapa hari ini ia selalu mencari berbagai alasan untuk menghindari Yuri. Mulai dari bersembunyi di toilet, berkamuflase di dekat semak-semak sampai menyelipkan diri diantara rak-rak buku di perpustakaan seperti hari ini.

“Mau lari kemana lagi?” suara husky Yuri membuat Jessica tersentak. Bagaimana bisa Yuri menemukannya.

“Ya! Nona Jung! Aku bicara padamu.” Ucap Yuri lagi.

“Pergilah! Aku tidak bisa menemanimu hari ini. Aku sedang sibuk!” Jessica berucap seraya -berpura-pura- memfokuskan diri pada buku yang dibacanya. Yuri tersenyum sinis sebelum menurunkan buku yang sedang Jessica baca.

“Aku baru tau jika kau bisa membaca buku terbalik.” ledeknya. Jessica langsung salah tingkah.

“I-ini namanya tren.”

“Jangan banyak alasan! Ikut aku!” Yuri menyeretnya. Jessica memberontak tentu saja, berpegangan pada apapun yang bisa ia raih dijalan yang mereka lewati. Meski begitu tenaga Yuri yang lebih besar membuat usaha Jessica sia-sia.

“AARRGHH!! LEPASKANNN!!”

“……………”

“AKU TIDAKK MAU!!”

“Diam.”

“SSHIIRREEOO!! DASAR SILUMAN BAYANGAN!”

“Kau bilang apa?”

“Siluman bayangan! Ayo lepaskan aku!” Jessica berucap dan membuat cengkraman Yuri di lengannya terasa semakin kuat. Demi Tuhan, menghindari Yuri adalah hal yang paling ingin Jessica lakukan saat ini. Rasanya tidak masalah mereka membuat satu sekolah salah paham akan ‘hubungan’ mereka tapi kasusnya akan berberda jika yang dibicarakan merupakan kakek Kwon juga kedua orangtuanya. Memang awalnya ini salahnya, tapi Jessica sudah bertekad akan memperbaiki semuanya, dari hal yang paling dasar tentunya.

“A-aku sudah berencana akan mengatakan yang sebenarnya pada kakek. Fakta kalau sebenarnya kau dan aku bukan apa-apa.” kata Jessica, Yuri menatapnya tajam. Apa gadis pendek dihadapannya benar-benar serius?

“Ikut aku!”

“Kwon Yuri tunggu! Bisakah kau mendengarkan aku sebentar! Ya!!”

“Bisakah kau diam?”

“Aku tidak mau! Kubilang lepaskan!”

“Kau akan diam atau aku harus melakukan sesuatu padamu?” Yuri berhenti melangkah dan mendekatkan kepalanya.

“S-sesuatu? Apa?” gugup Jessica. Shit! Lagi-lagi tatapan itu. Yuri menarik salah satu sudut bibirnya sambil memperhatikan bibir Jessica. Menyadari hal itu Jessica segera menutup mulut dengan tangannya.

“Setidaknya kau tau caranya diam.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yuri membawa Jessica ke tempat kencan favorit mereka. Sepertinya tempat ini sudah menjadi perekam setia kemesraan -ralat- penderitaan Jessica. Lebih tepatnya penyiksaan yang Yuri lakukan padanya.

“Kenapa kau pikir aku akan membiarkanmu mengatakan yang sebenarnya pada kakek?” Yuri menyilangkan tangannya sementara Jessica balas menatapnya tajam. Mengatakan kebenaran berarti termasuk alasan mereka berpura-pura pacaran. Kedua orangtuanya bisa menggantung Yuri jika mereka tau, dengan alasan itu tentu saja Yuri takkan membiarkan Jessica mengatakan yang sebenarnya.

“Kenapa tidak?”

“Karena jika kau melakukannya kau takkan pernah melihat benda ini lagi.” Ancam Yuri. Gadis tanned itu menyeringai sambil mengangkat gelang berharga Jessica di depan wajahnya.

“Kau! Benar-benar gadis hitam yang jahat!”

“Terimakasih.” balas Yuri sambil tersenyum manis. Jessica beranjak karena tak tahan lagi dengan sifat menyebalkan Yuri. Gadis blonde itu berdiri dan mengambil tasnya tapi lagi-lagi Yuri menahannya.

“Apa kau lupa untuk apa aku membawamu kesini?”

Setumpuk tugas, hanya itu yang Jessica lihat selanjutnya. Kwon Yuri yang belum bebas dari masa hukuman sudah membuat masalah baru. Kali ini ia ketahuan -berencana- bolos dengan cara memanjat pagar sekolah. Aksinya dipergoki guru Yun yang akhirnya memberinya hukuman menulis seribu kalimat permintaan maaf yang berbunyi ‘Saya Kwon Yuri bersalah dan berjanji takkan mengulangi perbuatan bolos lagi’.

Jessica meringis sambil memijat tangannya yang pegal karena kalimat sialan tersebut sementara Yuri yang seharusnya bertanggung jawab justru tersenyum sambil memandangi Jessica yang menderita karena perbuatannya sambil menyantap Cheese cake seperti yang biasa dilakukannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica menggerutu pada Yuri yang berjalan di depannya. Seharian ini Jessica sudah mengerjakan tugas sekolah yang seharusnya Yuri kerjakan, Jessica pikir setelah semuanya selesai ia bisa bebas tapi nyatanya Yuri masih memaksa Jessica untuk menemaninya.

“Pacar barumu?”  Yuri menoleh dan mendapati Taecyeon yang berdiri tak jauh dari mereka. Lagi-lagi orang ini.

Jessica mengangkat kepalanya dan mendapati Yuri tengah memberikan tatapan yang sebelumnya belum pernah ia lihat pada Taecyeon.

“Kenapa aku merasa kau tidak punya hal lain untuk dilakukan selain mengikutiku kemanapun?!” Yuri berdecak dan membuat laki-laki bertubuh kekar di hadapannya tertawa.

“Kenapa kau percaya diri sekali?”

“Bukankah aku sudah memperingatkanmu? Berhenti menunjukkan wajahmu di hadapanku.” Yuri kembali berucap dan membuat Taecyeon mengepalkan tinjunya. Ia memang ingin melayangkannya ke wajah Yuri tapi ini tempat umum, Taecyeon menahan dirinya. Ialah orang yang seharusnya memprovokasi Yuri, bukan sebaliknya.

“Pacarmu cantik juga.” Taecyeon beralih pada Jessica yang masih berdiri di balik punggung Yuri. Menatap gadis itu dengan pandangan seduktif. Jessica paling membenci jenis tatapan seperti itu, ia kembali menyembunyikan dirinya di balik punggung Yuri. Yuri menarik tangannya lalu mendorong Jessica kedepan, tepat ke hadapan Taecyeon.

“Kalau kau mau kau boleh mengambilnya.” ucapan Yuri tentu saja membuat Jessica membulatkan matanya. Mengambil? Apa Yuri sudah gila? Memangnya Jessica apa? Barang?

“Dia bukan pacarku.” lanjutnya.

“Nona Jung kau boleh pulang.. atau ikut dengannya jika kau mau.” tepat setelah mengatakannya Yuri pergi. Jessica menatapnya tak percaya, seiring dengan hal itu apa yang pernah terjadi di toilet sekolah waktu itu kembali berputar di kepala Jessica. Saat itu Yuri memprovokasi dirinya dan Jessica diam saja. Namun, kali ini Jessica takkan tinggal diam.

“Kwon Yuri!” panggilnya. Yuri berbalik dan sebelum ia menyadari semuanya sebuah tamparan mendarat di pipinya dengan keras. Jessica menamparnya dan membuat pipi Yuri serasa terbakar. Taecyeon tersenyum sinis. Yuri masih memegangi pipinya.

“Kau tau apa? Kau pantas mendapatkannya dan aku.. Jessica Jung takkan pernah meminta maaf karena hal ini.” Jessica berbalik pergi, berjalan dengan langkah cepat ke arah berlawanan dengan arah yang akan Yuri tuju. Taecyeon juga pergi, sementara Yuri masih berdiri disana.

.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Tittle : Dark Evil Girl
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Comedy Romance, Drama
Lenght : Chapter
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung, Im YoonA, Seo Juhyun and Other Cast

Dark Evil Girl
.
.
.
.
.
.

Part 1 : The Different Twins

Jessica berjalan dengan wajah merah padam bukan karena sengatan matahari di musim panas, mengingat bagaimana anak-anak klub basket menikmati sengatan matahari serta dihujani sorakan manja puluhan siswi yang menamakan diri mereka basket lovers. Sejak pagi Jessica berada di ruang rapat panitia kelulusan yang dilengkapi AC terbaru, diselimuti udara dingin yang terasa seperti belaian surgawi. Lantas kenapa wajahnya merah padam? Itu karena ia tanpa sengaja memergoki Yuri yang tengah bercumbu bersama ‘salah satu gadisnya’ di bilik toilet. Semakin cepat ia berjalan, rasanya suara desahan serta kecapan itu semakin jelas di telinganya.

Kenapa salah satu? Karena Jessica tau setidaknya orang seperti Yuri takkan mempunyai hanya satu pasangan atau bertahan dengan seorang gadis lebih dari seminggu. Bayangkan saja hampir setengah populasi sekolah pernah Yuri kencani dan setengah sisanya masih memuja Yuri. Kwon Yuri, pembuat onar nomor satu disekolah mereka. Jessica, tentu saja tak termasuk dalam daftar orang yang mengidolakan Yuri, semua tugas sekolah dan tugas sebagai Presiden siswa saja sudah membuat seluruh perhatiannya tersita. Dan satu lagi Yuri sama sekali bukan tipenya.

“Kwon Yuri brengsek!” Jessica berteriak dan menghentakkan kakinya. Ia tak sadar jika suara kerasnya menarik banyak perhatian. Siswa-siswa di sekelilingnya kaget mendengar ia mengumpat -mengingat betapa beradabnya gadis itu- namun Jessica sedang marah besar sampai tidak peduli pada sekelilingnya lagi.

Sedetik kemudian Jessica memukul kepalanya sendiri. Merasa bodoh karena diam saja saat Yuri memprovokasi dirinya.

“Kenapa hanya berdiri disitu nona Jung? Mau bergabung bersama kami?” Yuri berkata sambil menunjukkan seringai khasnya dan demi apapun Jessica sangat membenci seringai itu.

“Kenapa kau mengatakan itu, eoh?” Hyuna memanyunkan bibirnya manja, protes dengan apa yang dikatakan Yuri pada Jessica sebelumnya. Sementara Yuri masih tersenyum sambil mengancingkan kancing seragam yeoja bermarga Kim itu satu-persatu.

“Wae? Kau takut nona Jung akan melaporkan kita?” Yuri mengeluarkan suaranya. Hyuna menggelengkan kepanya lalu melingkarkan tangannya di leher Yuri. Fakta bahwa Jessica merupakan Presiden siswa dan fakta ia mempunyai kekuasaan penuh tentu saja Hyuna sadari namun lebih dari itu ia terlalu memuja seorang Kwon Yuri hingga bisa mengambil resiko.

“Aku tidak peduli dia akan melaporkan kita atau apapun..” ia berbisik di telinga Yuri dengan nada yang begitu seduktif. “Aku hanya kesal karena kita berhenti sebelum mencapai klimaks.” Tepat setelah kalimat itu Hyuna kembali mencium Yuri.

~~~~~~~~~~~~~~~

“Nona Yoona.. makan malam sudah siap.” Pelayan Han berdiri di pintu kamar Yoona sementara gadis yang dipanggil menoleh dan tersenyum.

“Ne.. aku akan segera turun.” Yoona menjawab sambil melepas kacamata bacanya.

Sesampainya di ruang makan Yoona membungkukan tubuhnya sebelum duduk di tempatnya. Di ruang makan mewah itu sudah ada kakek beserta kedua orang tuanya, hampir lengkap, tinggal satu orang lagi.

“Dimana Yuri?” tanya kakek Kwon. Yuri adalah saudara kembar Yoona.

“Nona Yuri sedang belajar.. dan beliau meminta agar tidak di ganggu Tuan.” jawab pelayan Han. Kakek Kwon tampak terkejut, sejujurnya bukan hanya pria paruh baya itu saja, semua yang ada disana terkejut. Karena satu hal yang pasti, Yuri tidak pernah belajar.

Jessica berjalan cepat dengan beberapa buku di tangan. Lorong sekolah malam itu terlihat sepi berbanding terbalik dengan suasana hiruk pikuk seperti siang hari. Langkahnya menggema di lorong yang diterangi cahaya remang-remang. Setiap malam, setelah proses belajar mengajar selesai salah satu tempat paling ramai di bumi ini berubah menjadi sepi tak berpenghuni dan entah kenapa Jessica suka sekali dengan ketenangan yang ditawarkan sekolah setelah matahari terbenam. Entahlah, mungkin karena ia sudah terbiasa meninggalkan tempat ini saat sudah larut. Sudah sangat terbiasa hingga merasa suasana malam sekolah seperti miliknya sendiri.

Beberapa buku masih ia bawa di tangan kirinya. Demi mewujudkan impian masuk universitas yang ia inginkan tak jarang Jessica bertahan dan belajar di sekolah hingga larut. Alasannya untuk tinggal di sekolah lebih lama selain memang banyak tugas yang dibebankan pada seorang Presiden siswa.

Langkah gadis blonde itu terhenti begitu sebuah bayangan melintas tak jauh dari tempatnya berdiri. Jessica tersentak dan berhenti melangkah. Tak lama setelahnya suara samar-samar mulai terdengar dan membuat Jessica menelan ludahnya.

Hantu?

“Kenapa wajahmu tegang begitu? Seperti pertama kali melakukannya saja.” Ejek Yuri sambil duduk diatas sepeda motornya. Yongguk berdehem sementara Jiyoung berusaha menahan tawa.

Di depan mereka tersaji suasana SMA Jiguk saat malam hari. Bangunan megah itu tampak gelap gulita walau beberapa bagian disinari lampu yang tampak remang-remang. Dibanding berada di gedung ini saat malam tiba Yongguk lebih memilih pergi ke klub lantas bersenang-senang dengan gadis-gadis.

“Kalian tentu ingat 5 tahun yang lalu salah seorang siswa bunuh diri dengan cara melompat dari atas atap?” Yuri berujar dengan suara seraknya yang direndah-rendahkan. Nyali Yongguk semakin menciut sementara bulu kuduknya semakin meremang. Punggungnya terasa hangat seakan-akan seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Di sampingnya Jiyoung terkikik geli.

“H-hentikan.” Yongguk mulai gusar.

“Wae? Kalau kau takut kau bisa pergi sekarang! Aku dan Jiyoung akan pergi berdua.. tapi sebelum itu bersiap-siap duduk di posisi terakhir.” Yuri mengangkat bahunya dan mulai memanjat pagar sekolah yang tinggi. Sementara Jiyoung mengatakan ‘pecundang’ tanpa suara pada Yongguk dan mulai mengikuti gerakan Yuri. Tak butuh waktu lama keduanya sudah berada di sisi yang berlawanan.

Yongguk mendesah frustasi sebelum memanjat dengan ragu. Ia sebenarnya sangat takut tapi dibanding makhluk apa yang mungkin akan mereka temui di dalam, ujian besok tentunya lebih menakutkan. Laki-laki jangkung itu bahkan menggigil dengan hanya membayangkan bagaimana ia harus duduk berjam-jam sambil memandangi soal yang sama sekali tak ia mengerti. Walau terpaksa, pada akhirnya ia memilih mengikuti rencana Yuri dan Jiyoung untuk mencuri kunci jawaban untuk ujian besok.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Dilorong ini konon sering muncul arwah nenek memakai hanbok sementara di ruang kesehatan ada laki-laki tanpa kepala.”

“H-hentikan Y-Yul!” Yongguk berucap sambil memegang erat lengan Jiyoung. Laki-laki yang lebih pendek tentu saja menghempaskan tangan Yongguk.

“Memangnya kau pikir aku laki-laki seperti apa?”

“Y-ya! Kalian berdua tunggu aku!”

Ketiganya berhenti berlari begitu sampai di depan ruang guru. Yuri menyeringai sambil mengeluarkan obeng dari saku jaket kulitnya lalu membuka pintu ruang guru yang terkunci dengan mudah seperti seorang pencuri profesional.

“Kalau saja kau bukan seorang Chabeol kami pasti menganggapmu pencuri sungguhan.” kagum Jiyoung.

“Memang.. pencuri kunci jawaban.” Yuri kembali menyeringai sebelum memasuki ruangan gelap itu dengan gaya bossy. Ia hanya perlu mencuri semua data dari komputer guru Kang.

“Kenapa guru Kang?” Jiyoung duduk di kursi lalu menyalakan komputer milik guru yang Yuri maksud.

“Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka. File itu diberi nama ‘X’.”

“Dapat.” Jiyoung segera memindahkan data yang dimaksud ke dalam flashdisk yang Yuri bawa dalam sekejap. Setelahnya mereka bertiga berhighfive sambil tertawa-tawa. Membayangkan bagaimana wajah kaget guru-guru saat ketiga berandal sekolah ini tiba-tiba mendapat nilai sempurna. Yongguk ikut tertawa dan nampak melupakan ketakutannya sejenak. Ya, hanya sejenak karena setelahnya mereka mendengar barang suara terjatuh.

“Hantu!” Sontak Yongguk melompat kedalam pelukan Jiyoung.

“Ya! Menyingkir dariku!”

Yuri berjalan ke asal suara. Ia melihat keluar. Memperhatikan lorong sekolah yang kosong. Mungkin mereka salah dengar atau itu hanya suara kucing.

“Tidak ada apa-apa.” Katanya tenang. “Kita sudah selesai dan harus segera pergi dari sini. Bereskan kembali tempat ini pastikan terlihat perisis seperti sebelum kita datang. Jangan sampai ada yang curiga.” lanjutnya.

Jessica bersembunyi di balik salah satu pilar sambil menutup mulutnya. Apa yang ia lihat dan dengar sebelumnya sangat mengejutkan. Kwon Yuri benar-benar pembuat masalah. Gadis blonde itu baru bisa bernafas lega setelah yakin Yuri dan komplotannya pergi jauh kearah berlawanan.

“Kwon Yuri aku takkan membiarkanmu kali ini.”

~~~~~~~~~~~~~~~~

Derap langkah itu membuat Yuri mengangkat kepalanya. Sedetik kemudian gadis tanned itu menyeringai mendapati segerombolan siswa SMA Ilseong berjalan kearahnya.

“Keparat-keparat ini.” gumamnya.

“Apa kabar Kwon Yuri? Kuharap kau tidak terlalu merindukan kehadiranku.”  ucap Taecyeon sambil duduk di depannya.

“Aku? Tentu saja tidak.. tapi kepalan tanganku berkata lain.” Balas Yuri. Taecyeon menggertakan rahangnya namun kembali rileks setelah menarik nafas panjang dan menghembuskannya.

“Gadis yang beda lagi huh?” Taecyeon bertanya pada Yuri namun pandangannya tertuju pada Hyuna. Yuri tau tatapan itu, ia segera menyembunyikan Hyuna di balik punggungnya.

“Aku tidak tau kau bisa mengganti Eunhye semudah itu.” Taecyeon berkata dengan nada tenang yang justru membuat Yuri muak.

Baiklah hubungan mereka tak serumit ini dulu. Dulu, sebelum Yuri akhirnya mengencani Nam Eunhye lalu mencampakkannya seperti yang biasa Yuri lakukan. Siapa yang tau jika Ok Taecyeon, anak pemilik Ilseong Grup ternyata menaruh hati pada gadis itu. Gadis yang akhirnya bunuh diri setelah dicampakan -setidaknya itulah yang selalu Taecyeon percayai selama ini. Sejak kejadian itu Taecyeon sangat membenci Yuri.

“Kenapa Eunhye lebih memilih orang brengsek sepertimu daripada aku?”

“Kurasa karena aku lebih tampan. Jujur saja Taecyeon aku sama sekali tidak punya urusan denganmu jadi mulai saat ini jangan pernah tunjukkam wajahmu di hadapanku lagi.”

Yuri berlalu setelah mengatakannya sementara Taecyeon mengepalkan tangannya. Ia ingin sekali memukul Yuri tapi Taecyeon tau akan ada saatnya ia bisa membalas Yuri dengan cara yang lebih menyakitkan. Akan ada saatnya dimana ia bisa membuat Yuri merasakan apa yang ia rasakan. Taecyeon hanya perlu menunggu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Yoong.” Yoona menoleh begitu Yuri menepuk pundaknya.

“Ujian kali ini aku ingin taruhan denganmu.” lanjut Yuri. Yoona mengerutkan sebelah alisnya. Kenapa tiba-tiba Yuri terlihat begitu percaya diri.

“Wae? Bukankah kubilang aku sudah belajar.”

“Baiklah. Apa yang kau inginkan?” Yoona setuju untuk ikut permainan Yuri walau sebenarnya agak kekanak-kanakan.

“Kau lihat gadis itu.” Yuri menunjuk gadis berkacamata tebal yang duduk bersebrangan dengan mereka dengan jari telunjuknya. Yoona mengikuti arah yang Yuri maksud sampai matanya terhenti pada sosok Seo Juhyun. Gadis berkacamata tebal serta berkawat gigi yang selalu menjadi bahan olok-olokan sekolah. Seo Juhyun yang tidak populer.

“Kenapa dengannya?”

“Siapapun.. diantara kita berdua yang mendapatkan nilai yang lebih rendah di ujian kali ini harus mengencani gadis itu.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja. Lagipula Kwon Yuri tidak pernah mengingkari janji. Oh ya, satu lagi, kita juga harus menyatakan perasaan padanya dengan cara yang sangat romantis dan disaksikan seluruh sekolah. Bagaimana?”

“Menurutku itu agak keterlaluan. Aku tidak mau.”

“Apa aku sedang mendengar Kwon Yoona ketakutan?”

“Bukan begitu Yul… hanya saja menurutku tidak baik mempermainkan perasaan orang lain.”

“Baiklah. Aku tidak mau memaksamu lagipula aku bisa memainkannya bersama Yongguk atau Jiyoung.”

“Tunggu!” Yoona menahan pergelangan tangan Yuri. “Baiklah.. aku ikut.”

“Itu baru namanya semangat.” Yuri tertawa sambil berlalu dengan kepercayaan diri yang tinggi sementara Yoona duduk dan kembali menekuri bukunya. Walau begitu sesekali ia sempat melirik Seo Juhyun. Satu hal yang pasti Yoona menyetujui permainan ini hanya karena ia ingin menyelamatkan Juhyun yang malang dari sifat kekanak-kanakan saudara kembarnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Di dalam kelas 12-3

Ujian semester dimulai. Kertas-kertas bertuliskan soal serta lembar-lembar jawaban mulai dibagikan. Para peserta mulai mengerjakan soal yang mereka dapat setelah Mars SMA Jiguk berkumandang di seluruh penjuru sekolah melalui pengeras suara.

Yuri tersenyum membayangkan Yoona yang akan memacari Juhyun dan bagaimana ekspressi terkesan guru-guru nanti padanya. Ia juga sudah mempersiapkan mental untuk mendapat pujian dari kakek Kwon dan kedua orang tuanya.

“Kwon Yuri! Apanya yang lucu? Berhenti tersenyum seperti itu!” Tegur guru Kim.

“Ne~ Mianheyo songsaengnim~.”

“Anak ini!”

Pada ujian itu Yuri mengerjakannya dengan mudah, semudah ia memikat hati puluhan wanita yang sudah dikencaninya.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Dua minggu kemudian hasil ujian semester pun keluar dan membuat Yuri terkejut.

96…….
97…….
98. Lee Jiyoung
99. Bang Yongguk
100. Kwon Yuri

“M-mwo? Bagaimana bisa?” Kesal Yuri sambil memegang kerah baju Yongguk. Hasil ini bahkan lebih buruk dari ujiannya semester lalu. Yuri tak habis pikir, padahal ia sangat yakin jika kunci jawaban yang didapatnya sudah sangat akurat.

“Y-yul! A-aku tidak bisa bernafas.. lepaskan aku.” mohon Yongguk sementara Jiyoung sudah melarikan diri lebih dulu.

Yoona yang lagi-lagi berada di peringakat pertama menggelengkan kepalanya. Gadis rusa itu berpikir keras, kapan sebenarnya sifat Yuri akan berubah? Walaupun mereka kembar identik entah kenapa selain wajah dan postur tubuh tak ada satupun yang mirip antara dirinya dan Yuri. Mereka seperti dua sisi kutub yang berlawanan.

Jessica memperhatikan Yuri dari kejauhan sambil tersenyum penuh kemenangan. Kunci jawaban yang didapat Yuri memang benar hanya saja di saat-saat terakhir Jessica membeberkan apa yang ia lihat pada guru Kang hingga akhirnya guru Kang mengganti semua soal ujian dengan yang baru.

“I got you.. Kwon Yuri.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica sedang membasuh wajahnya di wastafel saat ia mendengar suara desahan dari salah satu bilik kamar mandi. Wajahnya memanas, tanpa harus berpikir keras pun Jessica sudah tau siapa mereka.

Yuri dan Hyuna keluar dari bilik itu dengan bibir yang masih saling bertautan. Jessica yang tanpa sengaja melihat refleksi keduanya dari cermin langsung memejamkan matanya rapat-rapat. Sekeras apapun keinginananya untuk menghindar dari situasi ini, Jessica tidak bisa berbuat apa-apa saat kakinya sama sekali tak bisa digerakkan.

Kali ini adalah kali kedua Jessica mendapati Hyuna dan Yuri yang bercumbu dan situasi ini benar-benar menyebalkan sampai Jessica berharap ia mempunyai ilmu tak terlihat. Siapa yang bisa menduga sudah sematang apa parasnya. Disaat Jessica berpikir keduanya akan berbuat lebih jauh -yang mana sama sekali tak diharapkannya- suara Yuri terdengar.

“Hyuna.. kita berakhir.”

“T-tapi Yul.. wae? Kau tau aku sangat mencintaimu? Kenapa?”

“Aku sudah bosan. Sampai jumpa.” Yuri pergi sementara Hyuna menangis dan terjatuh ke lantai. Jantung Jessica berdegup kencang, seakan ia tengah terlibat dalam scene drama atau sebagainya. Orang bernama Kwon Yuri itu apa mungkin bisa bersikap lebih brengsek lagi. Baru beberapa menit yang lalu ia mencumbui gadis ini seakan tiada hari esok tapi beberapa detik setelahnya ia membuangnya seakan gadis ini cuma barang bekas. Tidak dapat dipercaya.

“Uljima.” Jessica menghampiri Hyuna dan memberikan beberapa lembar tissue padanya.

Sudah dipastikan, harus ada seseorang yang memberi si arogan Kwon Yuri itu pelajaran. Harus.

Di dalam gedung teater milik sekolah.

Yuri menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sudah tiga kali ia melakukannya. Siapa sangaka karena taruhan bodoh yang dibuatnya sendiri Yuri harus berakhir seperti ini. Memutuskan gadis paling seksi di sekolahnya hanya untuk mengencani seorang nerd. Ayolah, ini bahkan tidak sebanding. Walau begitu Yuri tetap akan menepati janjinya karena seperti apa yang ia katakan sebelumnya, ia adalah Kwon Yuri, dan Kwon Yuri tidak pernah mengingkari janji.

Gadis tanned itu perlahan menapaki anak tangga satu persatu lalu melangkah pasti hingga sampai di depan sebuah grand piano. Anak-anak klub teater yang sedang berlatih berhenti.

Yuri duduk di depan grand piano tersebut dan mulai menekan tuts tuts piano dengan jari-jarinya. Alunan indah mulai membuai setiap pasang telinga yang ada disana, tak terkecuali telinga Seo Juhyun. Sebagai informasi saja anak berkacamata tebal tersebut merupakan manajer klub teater.

Sebagai seorang yang sudah sangat akhli dalam hal-hal romantis Yuri tampak begitu menikmati permainannya. Benar saja, semua yang ada disana terpukau sampai akhirnya Yuri berhenti bermain.

“Lagu itu.. untuk Seo Juhyun.” Yuri berbalik dan menunjukkan senyum seribu megawatt miliknya. Juhyun tampak kikuk saat Yuri berjalan kearahnya sementara anggota klub teater yang lain dibuat kaget dengan pernyataan Yuri. Bagaimana bisa Yuri menyatakan cintanya pada Juhyun disaat masih banyak gadis lain -yang menurut mereka- lebih baik.

“Juhyun.. sebenarnya sudah sejak lama aku menyukaimu.”

“Y-Yuri-ssi..”

“Tolong.. jadilah pacarku.”

“…………………”

“Juhyun-ssi?”

“Mianhe. Aku tidak bisa Yuri-ssi.. a-aku menyukai orang lain.”

“Mwo?!” Kali ini adalah pertama kalinya seorang Kwon Yuri mendapat penolakan.

“Mungkin hari ini bukan hari keberuntunganmu.” hibur Jiyoung dan Yongguk. Tepatnya kedua lelaki itu tengah menghibur harga diri Yuri yang terluka.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Ada apa dengan Presiden?” Sooyoung bertanya pada Sunny yang ada di sebelahnya. Gadis jangkung itu begitu penasaran karena akhir-akhir ini Jessica lebih sering terlihat murung bahkan melamun.

“Apa dia sedih karena berada di bawah Kwon Yoona lagi?”

“Bukan.. kurasa karena dia kehilangan gelangnya.” balas Sunny sambil berbisik. Sooyoung mengangguk mengerti. Bagi Jessica gelang itu lebih berharga dari apapun, pantas saja jika ia sampai sesedih itu.

Jessica kembali menghela nafasnya tanpa sadar. Gadis itu sudah mencari kemanapun, menyusuri tiap sudut rumah juga sekolahnya namun hasilnya nihil. Andai saja ia tidak ceroboh.

“Jessica.. mau pulang bersama kami?” tawar Sooyoung dan Sunny. Jessica menggelengkan kepalnya.

“Tidak terimakasih. Kalian duluan saja aku masih ada urusan.”

“Baiklah. Sampai jumpa.”

Jessica melambaikan tangannya. Hari ini ia berencana mencari gelang itu sekali, siapa tau keberuntungan masih berpihak padanya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yuri berdiri dengan tangan yang ia silangkan di dada sambil terus memperhatikan Jessica yang nampak sedang mencari-cari sesuatu. Sedetik kemudian salah satu sudut bibirnya terangkat, entah kenapa Yuri merasa apa yang akan terjadi selanjutnya akan menyenangkan.

“Apa ini yang kau cari… nona Jung?” Yuri mengangkat benda berkilauan di depan wajahnya. Jessica menoleh dan seketika matanya membulat. Bagaimana bisa benda yang ia cari-cari -gelangnya yang berharga- ada di tangan Yuri?

“Bagaimana benda itu bisa ada padamu?” tanyanya sambil menghampiri Yuri. Jessica berusaha mengambil gelang itu tapi Yuri lebih dulu menyembunyikan di balik punggungnya.

“Tidak semudah itu miss presiden.” Yuri tersenyum disaat Jessica menatap tajam dirinya.

“Ternyata gelang ini benar-benar milikmu. Berarti dugaanku tepat, nona Jung kau adalah orang yang menjatuhkan tempat sampah malam itu. Kau adalah orang yang mengetahui apa yang kami lakukan malam itu, benar kan?”

“A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti?”

“Masih mau mengelak? Apa kau tidak tau jika aku menemukan gelang ini di lorong malam itu..” Yuri kembali tersenyum penuh kemenangan saat Jessica tidak kembali menyangkal.

“Sebenarnya memang aku yang salah. Seharusnya kami lebih berhati-hati, katakan nona Jung, kau adalah orang yang bertanggung jawab atas nilai kami, iya kan?”

“Jika iya, lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Akan kupastikan kau akan menyesal karena sudah berurusan denganku.” Yuri melangkah maju dan membuat nafas Jessica tercekat.

“Aku tidak takut padamu.” Jessica memasang wajah dinginnya, agar Kwon Yuri tidak tau jika ia tengah merasa terintimidasi saat ini.

“Baiklah, kalau begitu temui aku di taman kota siang nanti..” kali ini Yuri berbisik di telinganya. Jessica menggertakan giginya menahan kekesalan.

“Itupun kalau kau masih mengiginkan benda ini.” Sekali lagi Yuri menunjukan benda berkilauan di tangannya di depan wajah Jessica diiringi seringai khasnya. Jessica sudah mengutuk gadis tanned itu di dalam kepalanya.

Yuri berbalik pergi sambil tersenyum memikirkan balasan apa yang cocok ia berikan atas perbuatan Jessica. Firasatnya benar, apa yang akan terjadi selanjutnya ternyata memang akan menyenangkan.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Siang itu Jessica menemui Yuri di taman kota. Jika bukan demi gelangnya yang berharga Jessica takkan sudi melakukannya. Kwon Yuri adalah orang paling brengsek yang ia kenal -Jessica masih ingat apa yang Yuri lakukan pada Hyuna beberapa hari lalu. Kadang-kadang Jessica berpikir bagaimana bisa Yoona bersaudara dengan Yuri?

Senyuman menyebalkan itu kembali muncil diwajah Yuri begitu melihat Jessica berdiri di depannya.

“Kembalikan gelangku.”

“Aku akan melakukannya setelah kau melakukan sesuatu untukku.”

“Apa?”

“Jadilah pacarku.”

“MWO?!” Jessica membulatkan matanya, kali ini ia yakin Kwon Yuri sudah benar-benar gila.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Mwoya? Kau dan Yuri? Kalian bersama? Tapi kukira kau menyukai Yoona?” Sunny memastikan. Kabar jika Yuri dan Jessica bersama seketika merebak di seantero SMA Jiguk namun Sunny belum percaya sebelum ia mendengar penjelasan dari mulut Jessica sendiri.

“Ceritanya panjang. Aku begitu frustasi saat ini.” Jessica mengacak rambutnya sendiri, sementara Sunny mulai memandangnya dengan pandangan iba.

“Jessica Jung? Yang benar saja..” Jiyoung tak habis pikir. Oke, Jessica memang cantik dan tak dapat dipungkiri jika gadis itu merupakan salah satu pujaan di sekolah mereka hanya saja Jessica merupakan tipe yang takkan mau bergaul bersama murid berandal di sekolah mereka, terlebih bersama Yuri.

“Kenapa harus Jessica.. dan kenapa dia bisa setuju untuk berpacaran denganmu?” Yongguk menanyakan pertanyaan yang sebelumnya terlintas di kepala Jiyoung.

“Karena Jessica merupakan gadis yang cocok untuk memulihkan imejku setelah insiden penolakan Seo Juhyun terlebih karena dia merupakan orang yang bertanggung jawab atas kegagalan kita di ujian kemarin. Sementara untuk alasan kedua… katakan saja kalau dia menyukaiku.” Yuri tersenyum penuh arti sementara Yongguk dan Jiyoung saling pandang.

Dan sejak saat itu Kwon Yuri dan Jessica Jung resmi menjadi sepasang ‘kekasih’ dengan Kwon Yuri yang memegang kendali penuh. Walaupun agak mengejutkan -sebenarnya sangat- murid-murid SMA Jiguk mulai terbiasa dengan kemesraan yang sering YulSic -singkatan Yuri dan Jessica yang diberikan para penghuni SMA Jiguk- tunjukkan di depan umum. Kemesraan yang sebenarnya selalu membuat Jessica mual dan seluruh bulu kuduknya berdiri.

“Sicababy buka mulutmu.” Jessica bergidik ngeri, Yuri memutuskan untuk mulai memanggilnya dengan sebutan itu. Jessica menunjukkan senyum penuh keterpaksaannya sebelum memakan kimchi yang Yuri sodorkan di depan mulutnya.

Jessica hanya perlu bertahan dalam mimpi buruk ini selama sebulan. Hanya sebulan yang begitu melelahkan dan semuanya akan kembali seperti semula.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Buku-buku Juhyun terjatuh saat beberapa siswi yang sering mengerjainya kembali bertingkah. Juhyun menghela nafas lantas berlutut untuk memunguti buku-bukunya yang berserakan di lantai sampai tangan lain membantunya.

“Yoona?” Juhyun seakan tak mempercayai penglihatannya. Yoona tersenyum sambil menawarkan diri untuk membawa sebagian buku yang seharusnya Juhyun bawa namun gadis berkacamata tebal itu menolak keras.

“Tidak perlu!”

“Wae? Buku-buku itu terlalu banyak jika kau membawanya sendiri.” Yoona memberi penjelasan namun Juhyun tetap menolak dan membuat Yoona keheranan. Gadis bermata bulat itu terus memandangi Juhyun yang menjauhinya dengan langkah cepat.

Satu hal yang tidak Yoona ketahui adalah, Juhyun menjauhinya bukan karena ia tak suka dengan bantuan kecil yang Yoona berikan tapi karena sejak hari itu jantungnya terus berdebar cepat tiap kali ia berdekatan dengan Yoona. Sejak Yoona memutuskan untuk melindunginya. Sejak Yoona memutuskan untuk menceritakan rencana Yuri padanya. Sejak Yoona memintanya untuk menolak Yuri.

“Kenapa kau melakukannya Yoona-ssi?”

“Karena aku tidak mau Yuri membuatmu terluka.”

Yuri menunggu di depan gerbang sekolah bersama sepeda motor kesayangannya sementara Jessica meringis mendapati hal itu. Ia bermaksud menghindar tapi terlambat, Yuri lebih dulu melihatnya dan memanggilnya dengan suara yang begitu keras. “SICABABY!!”

“Orang itu!”

Jessica berjalan cepat kearah Yuri yang memasang senyum bodoh di wajahnya. Yuri pasti sengaja ingin mempermalukannya.

“Ne s-seobang?” tanya Jessica dengan ekspressi imut yang dibuat-buat. Sejak Yuri memanggilnya ‘Sicababy’ Jessica diharuskan memanggil Yuri dengan sebutan ‘Seobang’ supaya orang-orang tau betapa lovey-doveynya mereka. Lagi-lagi Jessica bergidik ngeri.

“Hari ini kita kencan.” Yuri tersenyum manis sambil memasangkan helm di kepala Jessica sementara batin gadis berambut pirang tersebut mulai berteriak ‘Tidak!’.

Di sebuah kafe, Yuri sedang menikmati sepotong cheese cake, di depannya Jessica sedang mengerjakan tugas sekolah yang seharusnya Yuri kerjakan. Inilah ‘kencan’ yang Yuri maksud. Setiap Yuri mengajaknya kencan, Jessica selalu berakhir mengerjakan setumpuk tugas sekolah yang diberikan pada Yuri. Begitulah betapa evilnya seorang Kwon Yuri.

“Kau boleh pulang setelah menyelesaikannya.”

Jessica memejamkan mata untuk menahan kekesalan pada makhluk hitam di hadapannya. Jika tatapan mata bisa membunuh, Kwon Yuri sudah pasti tinggal sejarah sejak lama.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

I’m back with YulSic…