Archive for the ‘yulsic’ Category

Drabble #24

Posted: April 24, 2016 in drabble, ff snsd, yulsic
Tag:, , ,

Drabble #24

Tengah malam Jessica tiba-tiba terbangun karena haus, tidak biasanya. Saat itu keadaan dorm sudah sepi, lampu di kamarnya juga sudah mati. Jessica melirik ke samping lantas menemukan Yuri yang sudah tertidur pulas dengan lidah sedikit terjulur. Jika tidak mengenal Yuri dengan baik siapapun akan berpikir gadis itu terbangun, namun bagi Yuri tertidur dengan cara seperti itu adalah normal.

Dengan enggan Jessica menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya, memakai sandal lalu berjalan ke dapur.

Segera setelah segelas air mengaliri tenggorokan keringnya, Jessica merasa lebih baik.

Semuanya normal saja sampai ia melewati kamar TaeNy. Langkah kakinya di paksa berhenti begitu -secara tak sengaja- mendengar percakapan penghuni kamar yang mencurigakan.

“T-taetae.. p-pelan.”

“Tahan sebentar Ppany-ah.”

“Arrgghhh.. appo.”

Suara lirih serta rintihan. Apa ini? Taeyeon dan Tiffany tidak sedang melakukan apa yang ada dalam kepala Jessica bukan?

Jessica Jung! Sadarlah!

“Ssst Ppany-ah pelankan suaramu. Mereka bisa mendengar kita.”

“Apa kau tahu aku sedang kesakitan?”

“Arra.. arra, pertama kali memang akan terasa sakit tapi setelahnya kau akan merasa lebih baik.” Taeyeon tersenyum. Tiffany memejamkan matanya, tangannya berusaha meraih apa yang bisa diraihnya sementara untuk meredam rintihan kali ini ia menggigit ujung selimut.

Tangan Taeyeon kembali bersentuhan dengan kulit mulusnya, gadis pendek itu kembali memulai dengan gerakan yang begitu perlahan seperti seorang profesional. Tiffany hampir tidak percaya jika kali ini adalah kali pertama Taeyeon melakukanyya.

Jessica bergidik ngeri, dingin, seperti ada hantu yang baru saja melewatinya. Ia baru akan pergi namun kata-kata Taeyeon selanjutnya membuat langkah sang ice princess terhenti.

“Sebenarnya, Yuri pernah melakukan hal yang sama padaku.”

Yuri?

Jessica membulatkan matanya, demi semua timun di dunia untuk apa Taeyeon membawa-bawa nama kekasih Jessica?

“Aku belajar banyak darinya. Gerakan lembut tapi kuat. Yuri selalu menekan titik-titik yang tepat.”

“Aku jadi berkeringat!”

“Aku juga.”

Cukup! Jessica tak ingin mendengar apapun lagi.

Dalam mimpinya Yuri bersorak gembira, ia sedang menyemangati Sharapova yang sedang bertanding. Namun, mimpi indah itu berakhir setelah sang petenis memukul pantat Yuri dengan raketnya. Sangat keras. Yuri membuka matanya dan mendapati Jessica yang berdiri sambil berkacak pinggang. Ternyata bukan dipukul raket melainkan ditarik dari atas ranjang sampai pantatnya mendarat dengan keras di lantai.

“Sica apa yang-”

“Keluar!”

“Mwo?” Yuri masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Kali ini apa yang sudah dilakukannya?

“I said get out now! N.O.W!”

Taeyeon berhenti memijat kaki Tiffany yang terkilir saat mendengar teriakan Jessica. Bukan hanya Tiffany dan Taeyeon, semua member keluar dari kamar mereka.

“Sica tunggu! Memangnya aku salah apa?”

“Tanya dirimu sendiri!”

“Baby tung-” bantal yang mendarat diwajahnya membuat perkataan Yuri terhenti.

“Untuk selamanya kau tidur diluar!”

Mulut Yuri terbuka sementara member yang lain menatapnya dengan pandangan iba.

“Apa ada yang mau menampungku malam ini?” Yuri bertanya dengan puppy eyes, member yang lain menggelengkan kepala mereka dengan kompak lalu nenutup pintu kamar dengan gerakan kompak juga.

“Teman macam apa mereka itu? Kenapa pula aku harus tidur diluar, disini dingin, Sica bahkan tak memberiku selimut dan aku bahkan tidak tau apa salahku.”
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>END

Kita (PoemFic)

Posted: September 28, 2015 in ff snsd, yulsic, yulti
Tag:, , , , ,

image

Tittle : Kita
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Lenght : Oneshot
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri, Tiffany Hwang, Seo Juhyun, and Other Cast

Song Lyric by :
*Kyuhyun – The Way To Break Up (Poseidon OST)

Mari kuceritakan sebuah kisah
Tentang aku kamu dan mereka
Tentang luka dan cinta
Juga tentang rasa dan air mata

Kuceritakan dengan hati terluka
Dengarkan juga dengan luka yang kau bawa
Karena kita sama
Kau dan aku peran utama

Mari kulantunkan sebuah lagu
Dengan nada mengalun lembut
Dengan untaian kata sebagai syairnya
Lagu tentang dilepaskan juga ditinggalkan

Kubisikan di telingamu
Apa-apa yang ku rasa
Jika kau bertanya apa yang tersisa
Jawabanku, hanya aku dan dirimu, kita
.
.
.
.
.
.
-Kita-

Yuri masih termenung. Pagi ini gadis tanned itu patut bersyukur karena tak harus disibukan dengan setumpuk kegiatan, jadwalnya kosong selama satu hari ini. Yuri menggunakan kesempatan itu untuk termenung, sesuatu yang sudah lama tak dilakukannya. Mengenang masa lalu, memaksa sel-sel otaknya me-replay kejadian yang hampir ia lupa, kejadian yang mungkin jauh terkubur dalam sel kelabu otaknya.

Sudah lama sejak terakhir kali ia termenung. Semenjak memutuskan untuk kembali ke Amerika dan melakukan apa yang dikehendaki ayahnya sejak saat itu Yuri tak punya kesempatan untuk termenung. Sel-sel kelabu itu dipaksa bekerja keras sejak ia membuka mata hingga Yuri hampir menutup matanya lagi. Yuri berubah seperti android, dingin dan tak berperasaan. Yuri berubah seperti android, dan sang ayahlah yang memegang penuh atas kendali dirinya.

Tiap kali Yuri bercemin, ia tak menemukan apapun selain Kwon Yuri, CEO muda yang sukses namun tak berperasaan. Kejeniusannya dalam memimpin perusahaan tentu menarik perhatian siapapun. Banyak rekan kerja tuan Kwon yang menawari Yuri menjadi menantunya. Namun Yuri bergeming, gadis-gadis itu tak cukup untuk menarik perhatiannya. Sampai saat itu tak ada satupun yang bisa menerobos pagar es yang Yuri bangun untuk melindungi dirinya. Melindungi dirinya dari dunia luar yang mungkin akan membuatnya kembali terluka.

Sampai saat itu. Saat ia bertemu seorang gadis yang juga terluka seperti dirinya. Gadis yang mampu menarik sedikit rasa iba Yuri yang tersisa. Gadis yang juga berbagi luka yang sama seperti yang ia rasa. Gadis yang juga menyeka airmata karena kesakitan yang sama. Atas dasar itulah Yuri memutuskan untuk bertahan di sisi gadis itu.

Lima tahun berlalu, Yuri berbohong jika rasa itu tak pernah ada. Kebersamaan itu menumbuhkan rasa yang sangat Yuri kenal. Rasa yang sebelumnya membuatnya mati rasa. Namun, orang berbeda, rasa berbeda. Yuri mungkin merasa namun ia tau kadarnya tak pernah sama. Tak sebesar ia mencinta gadis yang pernah menyakitinya. Mungkinkah?

Yuri menghela nafasnya, memalingkan pandangannya pada jarum jam tangannya yang terus berdetak. Waktu semakin melaju namun ingatannya justru terus kembali ke masa lalu. Dikala masa lalu itu kembali dan meminta sebuah kesempatan untuknya Yuri jadi bimbang.

Yuri memejamkan matanya, mencoba meraba hatinya. Mencari tau apa yang sebenarnya ia rasa, dan apa yang diinginkannya. Haruskah ia kembali? Lalu bagaimana dengan gadis terluka yang selama ini selalu disisinya?

“Aku sudah di LA.” Jessica menjawab dengan suara serak sisa menangis semalam. Walau ia berusaha nada suaranya masih terdengar kacau.

“Sungguh? Sejak kapan?” balas Tiffany.

“Kemarin.” Jessica menjawab lagi. Tangan kirinya memegang telepon sementara tangan kanannya menuangkan segelas air ke dalam gelas.

“Jessie! Kenapa tidak memberitahuku dari awal? Aku bisa menjemputmu kau tau? Dimana semalam kau menginap huh?” Tiffany, yeoja itu, masih dengan antusiasmenya yang berlebihan juga runtuyan pertanyaan yang membuat telinga Jessica panas.

“Hotel.”

“Jinja? Hotel apa? Katakan, aku akan menjemputmu!”

“Sebenarnya tidak perlu Tiff. Aku akan datang ke rumahmu menggunakan taksi.” Tolak Jessica halus. Pertama, Jessica tak mau merepotkan sahabatnya tersebut. Kedua, gadis blonde itu tak ingin menerima runtuyan pertanyaan lain dari Tiffany karena melihat matanya sembab. Semalam Jessica menangis, menangisi Yuri lebih tepatnya tapi Jessica benar-benar tak mau membahasnya. Namun, Tiffany tentu tak menerima penolakan. Yeoja penggila pink tersebut tetap bersikeras menjemput Jessica. Mau tak mau Jessica memberikan alamat hotelnya.

“Kau tau Jessie, aku tak mau memberikan biaya tambahan karena membiarkan wedding planer-ku naik taksi dan menginap di hotel.”

“Daddy!!” Lamunan Yuri terhenti begitu sepasang tangan mungil memeluknya dari belakang. Yuri berbalik dan menemukan malaikat kecilnya tengah tersenyum.

~~~~~~~~~~~~~~~

“Jessie!” Tiffany segera menenggelamkan Jessica dalam pelukan begitu mereka bertemu.

“Sudah lama ya..” Tiffany memutar tubuh sahabatnya. Lama tak bertemu Tiffany takjub karena tak ada perubahan yang signifikan dari Jessica. Semuanya masih sama, ia masih Jessica yang Tiffany kenal. Jessica yang dingin dan hanya tersenyum dengan senyuman dingin yang membuatnya terlihat arogan. Sementara Tiffany sendiri, begitu banyak hal yang berubah dari dirinya. Begitu banyak.

“5 tahun..” Jessica memberikan perhitungan yang tepat. Tiffany mengangguk sebelum tersenyum dengan eye smile andalannya.

“Kajja! Kita pergi sekarang.. aku yakin kau sudah tidak sabar bertemu Hyunie. Dia anak yang manis, sama seperti ibunya.” Ucap Tiffany antusias.

“Percaya diri sekali.” Cibir Jessica sebelum akhirnya mereka tertawa bersama.

~~~~~~~~~~~~~~~

“Apa kau sudah menemukannya?” Tiffany bertanya antusias mengenai cinta Jessica yang hilang. Walau tak pernah bertemu mereka tak pernah putus komunikasi. Tiffany mengetahui semua kisah Jessica begitu pula sebaliknya. Jessica mengangukkan kepalanya.

“Kurasa aku terlambat.” Jessica tertawa hambar, matanya memperhatikan deretan gedung pencakar langit yang mereka lewati.

“Wae?” Tiffany bertanya lagi saat menyadari ada yang tidak beres dengan Jessica. “Kukira kau takkan menyerah semudah itu.”

Menyerah. Kata itu tak pernah ada dalam kamus Jessica selama tahun-tahun terakhir ini. Ia sudah mencari Yuri dengan membuang kata lelah juga menyerah dari kamus hidupnya.

Jessica ingat bagaimana dirinya selalu datang ke restoran Sooyoung untuk meminta alamat Yuri ataupun sedikit informasi mengenai dirinya namun nihil. Yuri hanya menghilang begitu saja seakan ia hanya sebuah mitos. Jessica bahkan meragu jika kenangan indah itu nyata atau bagian dari khayalan semu semata. Tapi, sekali lagi kata lelah dan menyerah sudah lama Jessica hapus dari kamus hidupnya. Sampai hari itu tiba.

“Sunye sepupuku di Amerika ia mengenal Yuri, dia bekerja pada Yuri sebagai asisten.” perkataan Sunny beberapa waktu lalu mampu memupuk harapan Jessica.

“Bawa dia kembali Jessica.” Jessica tersenyum begitu Sunny menepuk pundaknya.

“Aku lupa mengucapkan ini, tapi selamat Tiffany Hwang!” Jessica tersenyum jahil dan membuat paras Tiffany yang sedang mengemudi bersemu merah.

“Dia orang yang baik.” ucap Tiffany malu-malu. Tentu saja, tunangan Tiffany tentu orang yang baik. Lebih baik dari pria Thailand yang langsung meninggalkannya begitu mengetahui Tiffany mengandung anak mereka.

“Selama ini dia satu-satunya orang yang selalu berdiri di pihakku.. tapi Jessie hubungan kami tidak mudah.” Tiffany merawang mengingat tunangannya. Ia merasa berhutang banyak pada orang tersebut. Bahkan disaat pernikahan mereka hanya tinggal dua minggu Tiffany masih merasa belum pantas untuk mendampinginya. Selama ini orang itu selalu melindunginya dan yang Tiffany lakukan hanya membuat perjuangannya terasa semakin berat. Statusnya dan Seohyun adalah batu sandungan terbesar dalam hubungan mereka. Bahkan sampai saat ini, hal itu pula yang menyebabkan mereka belum mendapat restu dari orangtua tunangan Tiffany. Namun Tiffany ingin bersikap egois dan membiarkan orang itu tetap disisinya.

“Apa kau mencintainya?” Jessica bertanya dan langsung mendapat anggukan mantap dari Tiffany.

“Kurasa itu cukup. Itu berarti aku hanya harus menjadi wedding planer yang baik untukmu.”

~~~~~~~~~~~~~~~~

“Yul perkenalkan ini Jessie sahabatku.. dan Jessie ini Yuri calon suamiku.”

Jessica tersenyum getir. Salahnya, ia tak pernah memberitahu Tiffany siapa nama masa lalunya dan Tiffany tak pernah memberitahu nama sang penyelamat. Jessica mengulurkan tangannya dengan hati berdarah, bersikap seolah tak saling mengenal adalah hal terbaik yang ada dalam kepalanya. Yuri menerima uluran tangan itu tanpa menatap wajah Jessica. Dunia itu sempit atau takdir tengah mempermainkan mereka?

“Hyunie ayo beri salam pada aunty Jessie.”

“Annyeonghaseyo.” gadis kecil tersebut membungkukkan tubuhnya.

“Kalian pergi kemana?” Tiffany bertanya seraya menunduk dan memeluk Seohyun, anaknya, Hwang Seohyun.

“Daddy dan Hyunie membawa Jollie jalan-jalan.” Jawab Seohyun. Jollie adalah nama boneka beruang pink yang kini ada dalam pelukannya. Yuri baru saja membawa Seohyun dan Jollie berjalan di taman.

“Jinja?”

“Ne~”

“Yul apa kau mau tinggal untuk sarapan? Aku sudah memasak makanan kesukaanmu.”

“T-tidak terimakasih, aku harus pergi karena mendadak ada meeting.” Faktanya Yuri hanya ingin pulang, tidur, dan saat ia bangun semuanya akan kembali normal. Yuri hanya berharap apa yang terjadi hari ini hanya bagian dari mimpi buruknya.

“Baiklah. Hati-hati.” Tiffany berucap. Yuri menunduk untuk mengecup kening Seohyun sebelum ia pergi. Sementara itu Jessica masih terpaku di tempatnya.

“Jessie? Kenapa kau menatap Yuri seperti itu? Ah, jangan bilang kau tertarik padanya?” Goda Tiffany.

“Aku? ANIYO!!” Jessica menyangkal keras dan membuat Tiffany keheranan di buatnya.

“Rileks Jessie.. aku cuma bercanda. Ternyata kau masih tidak bisa diajak bercanda.” Tiffany terkekeh seraya menggandeng tangan Seohyun ke dapur. Meninggalkan Jessica yang kini menundukkan kepalanya. Andai Tiffany tau.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Mari kuceritakan sebuah kisah
Tentang aku kamu dan mereka
Tentang luka dan cinta
Juga tentang rasa dan air mata

Kuceritakan dengan hati terluka
Dengarkan juga dengan luka yang kau bawa
Karena kita sama
Kau dan aku peran utama

Mari kulantunkan sebuah lagu
Dengan nada mengalun lembut
Dengan untaian kata sebagai syairnya
Lagu tentang dilepaskan juga ditinggalkan

Serba tidak disengaja. Sejak awal ia mengenal Yuri tak pernah ada satupun kejadian yang ada dalam rencananya. Semuanya mengalir begitu saja, seperti air, tenang namun menghanyutkan.

Tiffany masih ingat, malam itu ia berjalan menyusuri malam dengan kaki telanjang. Tak peduli walau permukaan aspal yang kasar menggores dan melukai telapak kakinya. Ia hanya ingin bebas. Melepaskan diri dari kesakitan yang membuatnya berpikir mungkin mati akan terasa beribu kali lebih baik. Tidak ada yang tersisa dari dirinya, tidak ada Nickhun, tidak ada keluarganya. Nickhun -kekasihnya- pergi setelah mengetahui Tiffany hamil sementara keluarga yang terlanjur kecewa mengusirnya dari rumah.

Tiffany berdiri di pagar pembatas jembatan. Menatap permukaan air yang akan menenggelamkan tubuhnya dengan pandangan nanar. Tepat sebelum ia melompat seseorang ‘menyelamatkannya’. Dan seperti dalam sebuah dongeng klasik, orang itu adalah pangerannya, Kwon Yuri.

Bukan tipe pangeran dongeng yang berpenampilan necis dan mengendarai kuda putih. Kwon Yuri hanya seorang gadis biasa, berpenampilan biasa, kalau boleh dibilang ia terlihat sama hancurnya dengan Tiffany. Dari sorot matanya Tiffany bisa menyimpulkan jika pangeran itu juga tengah terluka. Tiffany bisa menyimpulkan jika mereka berbagi luka juga airmata yang sama.

Tiffany batal mengkahiri hidupnya malam itu dan dengan tangan gemetar ia menerima sapu tangan Yuri dan menyeka airmatanya.

“Setelahnya kami kembali bertemu. Dulu aku adalah seorang sekretaris dan Yuri merupakan Direktur baruku.” Tiffany menyesap Americano-nya sebelum kembali melanjutkan.

Tiffany menerawang. Mengingat setiap kebersamaannya bersama Yuri. Mereka yang sama-sama punya cerita, mereka yang bersama-sama mencoba saling menyembuhkan luka. Yuri merupakan orang yang selalu ada di saat paling sulit dalam hidupnya. Gadis tanned itu yang datang setiap pagi untuk merawat Tiffany yang sakit saat ia hamil, disaat tak ada seorangpun yang peduli. Gadis tanned itu yang menggenggam tangannya saat Tiffany berjuang antara hidup dan mati ketika melahirkan Seohyun.

“Saat Seohyun masih berumur beberapa bulan Yuri sering sekali menginap di rumahku dan bangun tengah malam untuk menenangkan Seohyun yang menangis.”

“Dia bahkan menginjinkan Seohyun memanggilnya Daddy agar Seohyun tidak merasa berbeda.”

Jessica tersenyum lemah. Cairan itu kembali menggenang dan mengaburkan pandangannya. Jessica mengerti sekarang, mengerti kenapa Yuri memilih untuk tidak bersamanya. Jessica mengerti akan ada lebih banyak hati yang terluka. Ini memang salahnya sejak awal. Haruskah ia menyerah sekarang? Tidak bisakah ia bersikap egois untuk kali ini?

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Hujannya deras sekali.” Tiffany berucap sambil memandangi air yang mengalir di jendela apartemennya. Jessica duduk di sofa sambil mengelus rambut Seohyun yang berbaring di pangkuannya. Gadis kecil itu mulai terlelap sambil memeluk Jollie.

“Sepertinya Yuri akan terlambat.” Tiffany menghela nafas setelah membaca pesan yang Yuri kirimkan. Jessica mengangguk mengerti. Mereka berencana membicarakan tema pernikahan seperti apa yang mereka inginkan, ya, Jessica akan menjalankan tugasnya sebagai wedding planner. Walau ini bukan alasannya untuk menemui Yuri tapi ini alasan Jessica menemui Tiffany.

“Mommy…” Seohyun bergumam. Mata sayunya menatap sang ibu. Tiffany tersenyum lantas memindahkan Seohyun ke dalam pelukannya.

“Apa setelah kalian menikah, daddy akan tinggal bersama kita?”

“Ne.. dan namamu akan berubah menjadi Kwon Seohyun.”

“That’s cool.” Ucap Seohyun. Tiffany tertawa kecil melihat keantusiasan dalam nada bicara anaknya. Jessica menerawang, kenangan-kenangannya bersama Yuri kembali menyeruak. Jika sebelumnya hal itu menjadi kekuatan bagi Jessica untuk bertahan kali kenangan itu membuat dadanya berdenyut nyeri. Jessica tau kali ini ia sudah kalah sepenuhnya. Jessica tau ia takkan mampu mengambil senyuman itu dari bibir Tiffany juga dari malaikat kecil yang bernama Seohyun.

Jessica terpojok. Hujan terus mengguyur tubuhnya. Kemeja yang ia kenakan robek. Keempat pria yang ada di hadapannya bertambah liar. Bau alkohol masih menyeruak. Jessica berlutut dan memeluk lututnya yang gemetar. Ia ketakutan dan menangis adalah satu-satunya cara yang dapat ia lakukan.

Jessica memejamkan matanya rapat-rapat seraya terus memanggil nama Yuri dalam kepalanya. Gadis tanned itu selalu menjadi penyelamat untuknya. Apakah kali ini Yuri akan kembali menyelamatkannya?

Salah satu dari pria tersebut menarik Jessica dan membekap mulutnya sementara pria lainnya memegang kedua tangannya. Namun, sebelum mereka sempat berbuat lebih jauh satu sosok lain lebih dulu datang dan membuat salah seorang pria tersungkur dengan balok kayu di tangannya.

Doa Jessica terjawab, Yuri kembali datang menyelamatkannya. Ia berhasil mengalahkan keempat pria tersebut walau Yuri sendiri terluka. “S-sica kau lupa membawa payungmu.”

“Y-yuri-” Jessica tidak bisa mengatakan hal lain selain terus memeluk Yuri dan mengulang-ulang namanya dengan suara bergetar.

Yuri hanya tersenyum sambil mengelus lembut kepala Jessica.”Gwencahana. Semuanya baik-baik saja sekarang.”

I’m used to days without you now
Tomorrow will be a little more comfortable
I will forget you little by little

Sometimes, I will think of you
Only good memories will remain

My meaningless day will probably pass by
Our one of a kind love is like it never happened
Even if I say I miss you, I can’t ever see you
Even if it hurts, I need to withstand it

Even if it hurts, pretending that it’s nothing
Even if tears fall, knowing how to hide them
Placing it in one side of the heart
And knowing how to smile as if nothing’s wrong
This is the way to break up

Only my welled up tears remember you
And there are so many traces of happiness
To me, love is such a painful thing
Even if it hurts, I need to withstand it
I will probably forget like this

Tiga puluh menit setelahnya Yuri datang dengan baju yang basah kuyup dan membuat Tiffany sedikit mengomel.

“Kenapa tidak tunggu sampai hujannya reda?”

“Aku tidak mau membuat kalian menunggu lama.”

“Kenapa kau selalu memaksakan diri huh? Silly.”

“Mianhe.” Tiffany tertawa kecil sebelum memberikan kecupan singkat di bibir Yuri. Jessica? Gadis blonde itu mengalihkan pandangannya dan pura-pura tak peduli.

Setelah Yuri mengeringkan diri dan mengganti bajunya mereka bertiga mulai berdiskusi mengenai konsep pernikahan seperti apa yang mereka inginkan. Seperti biasa Tiffany yang lebih banyak bicara dan membuat Jessica kewalahan mencatat apa yang keluar dari mulutnya sementara Yuri lebih banyak diam dan lebih penurut. Ia akan menyetujui apapun yang Tiffany inginkan. Yuri yang sangat berbeda dari yang Jessica kenal.

Dari sudut matanya Jessica merasa Yuri terus memperhatikannya namun Jessica pikir ia hanya berhalusinansi. Terlebih Yuri selalu menghindari kontak mata dengannya. Jessica berusaha tersenyum dan bekerja sebagai seorang profesional, ia dan Yuri hanya masa lalu yang bahkan tak pernah terikat. Bersikap seperti tak saling mengenal merupakan pilihan terbaik, terlebih ia tak ingin Tiffany membaca kecanggungan antara Yuri dan dirinya lalu membuat spekulasi. Jessica benar-benar tak ingin membuat situasi sulit ini bertambah lebih sulit.

~~~~~~~~~~~~~~~~

“Sunny..”

“Jessica? Ya! Kenapa kau baru menghubungiku sekarang? Bagaimana, apa kau sudah bertemu dengan Yuri?”

“Sunny kenapa rasanya sakit sekali?”

“Sakit? Apa kau sedang tidak sehat.”

“Iya Sunny, aku sedang sakit. Sangat sakit.”

Sudah lewat tengah malam tapi lampu di ruang kerja Yuri masih menyala. Gadis tanned itu sedang mengerjakan beberapa berkas. Akhir-akhir ini Yuri sering sekali bekerja sampai larut dan membuat orang-orang disekitarnya khawatir.

Mengetahui putrinya masih terjaga, nyonya Kwon datang dan membawakan segelas susu hangat untuk Yuri. Mengetahui susu hangat bisa sedikit mengurangi insomnia. Ya, Yuri selalu beralasan jika insomnianya kambuh walau pada kenyataannya ia hanya melakukan itu agar pikirannya teralihkan dari Tiffany dan Jessica.

“Yul kau bisa menyelesaikan pekerjaan itu besok, tidurlah.” Ucap nyonya Kwon sambil mengelus pundak Yuri. Yuri tersenyum pada wanita paruh baya yang sangat ia cintai tersebut. Satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya. Satu-satunya orang yang selalu berdiri di pihaknya.

“Jangan khawatir aku akan segera tidur setelah menyelesaikannya.” Yuri balas mengelus tangan sang ibu yang masih ada di pundaknya.

“Jangan terlalu memaksakan diri.”

“Ne.”

Yuri menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi begitu ibunya sudah pergi. Ruangan itu kembali terasa sunyi. Komputer yang sedang menampilkan berkas-berkas kantor merupakam satu-satu kehidupan yang dapat terdeteksi di ruangan ini. Tangan Yuri perlahan bergerak, menutup berkas yang beberapa jam ia tekuni lantas membuka file lain yang Yuri yakin akan melukainya. File yang berisi semua kenangannya tentang Korea dan… Jessica.

Yuri termenung menatap foto yang silih berganti menghiasi layar komputer di hadapannya. Seiring hal itu ingatannya tentang Jessica juga Korea kembali berputar. Rasa hangat kembali menjalari relung hatinya, memenuhi ruang kosong itu. Yuri takkan memungkiri jika Jessica pernah memberikan lebih dari sekedar rasa sakit untuknya. Gadis berparas dingin itu juga pernah memberinya bahagia, membuatnya merasakan debaran lembut menghanyutkan yang menjadi candu, yang membuat Yuri ingin merasakannya lagi dan lagi. Jessica pernah membuatnya merasa dan masih membuatnya merasa.

~~~~~~~~~~~~~~~~

“Itu bukan ekspressi calon pengantin.” Ujar tuan Kwon. Yuri baru bergabung di meja makan, lengkap dengan wajah lesu serta lingkaran hitam di bawah matanya. Efek dari hanya tidur 3 jam. Yuri terdiam, tak ingin membalas kata-kata sinis ayahnya. Pembicaraan seperti ini bukan yang pertama kalinya, Yuri tau dan ia tak ingin terjebak dalam hal yang berulang-ulang.

Sang ayah -sampai saat ini- tak pernah menyetujui rencana pernikahannya dengan Tiffany. Berpikir jika Tiffany adalah pengaruh buruk untuk Yuri serta kemungkinan besar Tiffany mendekati Yuri karena uang semata. Namun, Yuri lebih mengenal Tiffany. Ia dan Tiffany telah melewati banyak hal sulit bersama, lebih dari apa yang bisa ayahnya bayangkan.

“Kau tau belum terlambat untuk meninggalkannya. Aku bisa mencarikanmu gadis yang lebih baik dari wanita itu-”

Yuri berdiri dan pergi sebelum tuan Kwon bisa menyelesaikan kata-katanya. Ayahnya boleh melakukan apapun pada Yuri tapi sungguh Yuri tidak rela jika ayahnya mengatakan hal-hal yang buruk mengenai Tiffany.

“Jessie siapa nama orang yang sedang kau cari itu. Kurasa aku bisa membantumu menemukannya.” Tiffany berucap sambil meletakkan pancake berbalut saus strawberry kesukaan Seohyun. Tiffany tidak sadar jika permintannya hampir saja membuat Jessica tersedak.

Jessica masih berpikir, jujur saja ia belum siap dengan pertanyaan semacam ini. Jawaban apa yang harus Jessica berikan? Akan sangat mustahil jika Jessica menjawab ‘Aku sudah menemukannya Tiff. Orang itu adalah tunanganmu Kwon Yuri. Binggo!’. Jessica bernafas lega begitu telepon Tiffany berdering, untuk sesaat mengalihkan perhatian Tiffany darinya.

“Yeobuseyo?”

“Apa? Aku tidak bisa Carol.. kau tau kan hari ini aku harus fitting gaun bersama Yuri?”

“Baiklah-baiklah. Iya, aku mengerti.” Tiffany menutup teleponnya dengan wajah kesal.

“Ada apa?” Jessica bertanya.

“Jessie aku ada urusan mendadak, hari ini bisakah kau menemani Yuri fitting baju. Setelah urusanku selesai aku akan menyusul kalian.” Tiffany memelas.

“T-tapi.. tapi-”

“Thanks Jessie.” Tiffany tersenyum jahil sambil memberinya wink. Setelahnya ia segera pergi untuk mengantar Seohyun ke sekolah lalu bekerja. Jessica menghela nafas di tempatnya duduk. Jessica bukannya tidak mau memberi bantuan tapi ia tau hal ini takkan mudah, untuk dirinya juga Yuri.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Satu jam yang begitu menegangkan, Jessica bahkan sampai lupa kapan terakhir kali ia bernafas. Yuri masih mengenakan tuxedo yang akan dipakainya di acara pernikahan sementara sang desainer tengah memperhatikan. Mencoba memperbaiki atau mungkin menambahkan detail yang masih dirasa kurang. Jessica duduk sambil memainkan jarinya.

“Nona.. sekarang giliran anda untuk mencoba gaunnya..” lamunan Jessica terhenti begitu seseorang menarik tangannya menuju fitting room.

“T-tunggu! Tapi aku bukan-” tapi semuanya terlambat.

Jessica keluar dari fitting room sambil mengenakan gaun pengantin dan membuat Yuri terpaku.

“Woahh.. nona anda cantik sekali.” kagum pelayan-pelayan yang ada disana. Walau tak mengatakan apapun sebenarnya Yuri setuju dengan pendapat para pelayan tersebut. Jessica cantik, sudah sejak lama Yuri mengakuinya.

Gaun sederhana itu melekat sempurna di tubuh ramping Jessica. Sekarang Yuri mengerti kenapa Jessica memilih konsep sederhana dalam pernikahan impiannya. Alasannya karena ia sendiri, Jessica Jung, akan membuat apapun yang dikenakannya terlihat mewah. Pernahkan Yuri mengatakan jika Jessica adalah gambaran sempurna dari kesempurnaan? Gadis itu seperti tidak nyata, ya, tidak nyata, setidaknya yang satu itu hanya untuk Yuri.

“Apa kami boleh mengambil foto kalian berdua?” tanya salah seorang pelayan.

Keduanya mendadak saling tatap, sama-sama meminta persetujuan masing-masing. Canggung, apa yang mereka lakukan rasanya mendadak serba salah. Dan untuk sesaat seakan tak ada udara yang bisa mereka hirup.

“Kau sudah menangani ribuan pernikahan orang lain bukan?” Yuri bertanya.

“Hmm..” Jessica mengangguk, Yuri menggeser duduknya lebih dekat. Malam itu diatap apartemen murahan yang mereka sewa keduanya memutuskan untuk pesta. Hanya mereka berdua, beberapa kotak ayam goreng dan beberapa botol soju. “Apa kau tidak tau aku adalah wedding planer terbaik se-Korea Selatan?”

“Aku tau, hanya saja aku penasaran, konsep pernikahan seperti apa yang kau inginkan?”

“Sederhana saja.”

“Ne?”

“Aku ingin konsep pernikahan yang sederhana saja. Pernikahan di gereja dan dihadiri orang-orang terdekat saja. Aku hanya ingin mengenakan gaun pernikahan yang sederhana, musik yang sederhana. Aku ingin semuanya terasa begitu sakral. Hanya itu.”

“Dan menikahi orang yang kau cintai?”

“Apa?”

“Bukankah yang paling penting itu adalah menikahi orang yang kita cintai?”

“Ya.. kau benar. Dan menikahi orang yang kucintai.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hujan kembali mengguyur malam itu. Tiffany terburu-buru membuka pintu apartemennya begitu seseorang menekan bel.

“Yul?” Heran Tiffany begitu melihat Yuri berdiri dengan wajah yang begitu pucat. Yuri membalas pertanyaan itu dengan senyuman lemah sebelum akhirnya jatuh pingsan.

Tiffany panik dan berusaha menyadarkan Yuri. Suhu tubuhnya begitu panas sampai Tiffany berpikir ia akan terbakar hanya dengan memeluk Yuri. Tiffany melakukan berbagai cara untuk menyadarkan Yuri namun gadis tanned itu sama sekali tak merespon.

Beberapa saat kemudian..

Di dalam kamar dokter sedang memeriksa keadaan Yuri sementara Tiffany, Jessica dan Seohyun menunggu dengan cemas di luar.

Jessica menggeser duduknya lebih dekat dan meremas tangan Tiffany lembut. Diantara mereka bertiga Tiffany mungkin yang paling khawatir karena baru pertama kalinya kondisi Yuri drop seperti ini. Sementara Jessica diliputi rasa bersalah, jika saja ia tak pernah datang ke Amerika, jika saja ia tak bersikeras meminta Yuri kembali mungkin semua ini takkan terjadi.

Pintu kamar yang baru terbuka menarik perhatian mereka. Tiffany lebih dulu memasuki kamar dan melihat keadaan Yuri bersama Seohyun. Sementara Jessica mengantar dokter sampai pintu depan.

Yuri tergolek lemah dengan jarum infus yang menancap di tangan kirinya.

“Mommy.. apa Daddy baik-baik saja?” Seohyun menatap ibunya dengan tatapam sedih. Tiffany tersenyum dan mengelus kepala gadis kecilnya.

“Daddy baik-baik saja sayang.” Jawab Tiffany sambil mengelus rambut gadis kecilnya. Cukup lama mereka berada di sana sampai Tiffany harus pergi untuk menidurkan Seohyun.

“Jessie tolong jaga Yuri sebentar.”

“Tidak masalah.”

Jessica duduk di tepian kasur sambil menyeka keringat di wajah Yuri. Dipandanginya wajah Yuri lama, untuk terakhir kalinya ia melakukan itu. Jessica hanya ingin mengingat setiap detail wajah orang yang dicintainya, ingatan yang kelak akan Jessica lihat sesekali. Memang setelah perdebatan yang panjang dengan dirinya sendiri akhirnya Jessica mengambil keputusan. Ia akan pergi dari kehidupan Yuri.

Tangannya terangkat untuk mengelus wajah Yuri. Jessica mengigit bibir bawahnya untuk menahan isakannya. Jessica tau ia tidak berhak melakukannya hanya saja ini untuk pertama dan terakhir kalinya.

“Maafkan aku Yuri-ah. Aku mencintaimu.” bisik Jessica sambil mecium bibir Yuri.

Tiffany yang mengintip dari celah pintu segera menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia yang awalnya berniat mengambil mainan Seohyun yang tertinggal justru harus melihat sesuatu yang selama ini berusaha Yuri dan Jessica sembunyikan darinya.

“Jujur saja aku bukan peminum yang baik.” Tiffany keheranan mendengar pengakuan Yuri. Ya, Yuri gadis yang baru saja mengagalkan aksi bunuh dirinya. Jika Yuri bukan peminum yang baik lantas kenapa ia mengajak Tiffany ke tempat ini.

Menyadari gadis di hadapannya keheranan Yuri pun menjelaskan. “Aku butuh seseorang untuk menemaniku.”

“Dan kenapa kau berpikir aku adalah orang yang tepat?” tantang Tiffany. Yuri tersenyum kecil sebelum menyesap tequilla pesanannya dalam sekali teguk.

“Lalu kenapa kau setuju ikut denganku?” Yuri balik bertanya. Saat itu Tiffany tidak menjawab karena tidak tau jawaban apa yang pantas ia berikan. Kenapa ia setuju ikut dengan Yuri? Kenapa ia setuju untuk ikut bersama orang asing yang bahkan dapat melakukan hal yang lebih buruk padanya dari apa yang pernah Nickhun lakukan. Kenapa? Dulu Tiffany tidak tau, tapi kini ia tau, karena Tiffany percaya pada Yuri.

Yuri menghabiskan teguk demi teguk sampai ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Sementara Tiffany duduk di hadapannya. Tatapannya tak lepas dari gadis mabuk yang kini tertidur sambil menangis.

“Jessica.. kajima.” Dan saat mendengar itu Tiffany tau jika mereka berdiri di garis yang sama. Hidup ini ironis.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Aku akan pulang ke Korea.” Pagi itu Jessica memberikan pernyataan yang hampir membuat Tiffany tersedak sarapannya sendiri.

“Kenapa mendadak sekali? Pernikahanku besok Jessie.”

“Maafkan aku, kakek mendadak sakit dan aku harus segera pulang.” Jessica memberikam seulas senyum. Setidaknya, Jessica sudah merencanakan pernikahan Tiffany dengan baik, hal terakhir yang bisa ia berikan untuk sahabatnya.

Hari sudah hampir gelap saat Tiffany memasuki ruangan Yuri dengan nafas tersenggal.

“Fany-ah ada apa?”

“Jessica akan pulang hari ini, kejar dia Yul dan katakan kalau kau masih mencintainya! Jangan sampai kau kehilangannya lagi!”

“Apa? D-darimana kau-”

“Aku tau semuanya.. aku tau. Kejar dia Yul.”

Jessica menatap tiket di tangannya sekali lagi.

Hal yang dilakukan Yuri selanjutnya justru diluar dugaan Tiffany. Gadis tanned itu malah memeluknya, dengan begitu erat sampai Tiffany dapat mendengar debaran jantung Yuri yang begitu keras.

“Dia pernah melepasku Fany.. dan aku takkan melakukan hal yang sama padamu. Aku mencintaimu.” Yuri menatap kedua matanya dan membuat Tiffany menangis. Untuk pertama kalinya, kata-katanya Yuri terdengar begitu tulus. Dan Tiffany selalu percaya pada Yuri.

Pesawat yang Jessica tumpangi sudah lepas landas. Meski tidak berhasil, Jessica tidak menyesal karena pernah berjuang. Satu hal yang Jessica sadari, cinta itu tak pernah egois.

.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>> END

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Tittle : Dark Evil Girl
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Comedy Romance, Drama
Lenght : Chapter
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung, Im YoonA, Seo Juhyun and Other Cast

Dark Evil Girl
.
.
.
.
.
.

Part 3 : Steal Your First Kiss

“Tetap awasi Jessica Jung.” ucap Taecyeon di telepon. Beberapa orang yang sedari tadi mengawasi Jessica mengangguk mengerti dan melanjutkan misi mereka.

Minggu ketiga..

Setelah peristiwa penamparan itu Yuri tak pernah bicara lagi pada Jessica. Hal yang baik memang tapi entah kenapa Jessica justru merasa berasalah. Yuri yang tenang dan tak banyak bicara justru membuat Jessica  terlihat seperti orang jahat.

Yuri yang berjalan sambil mendengarkan musik mendongakkan kepala saat seseorang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Yuri melepas earphone di telinganya. “Wae?”

“Ada yang bisa kukerjakan?”

“……………..”

“Apa kau tidak punya tugas?”

“Tidak.”

“Jinja? Ini.. mengejutkan. Sungguh tidak ada yang bisa kukerjakan?”

“Tidak ada.”  Yuri memutar bola matanya dan berlalu.

Jessica menggigit bibirnya lalu menahan pergelangan tangan Yuri. “Sungguh tidak ada satupun?”

“Tidak satupun.” Yuri memegang pundak Jessica dengan tangannya yang bebas lalu mendorongnya ke samping. “Minggirlah! Kau menghalangi jalanku.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Kwon Yoona?”

“Jessica-ssi?”

“Bisa kita bicara sebentar?”

“Tentu.. tentu saja.”

Keduanya memutuskan untuk bicara di pinggir lapangan. Saat itu lapangan sekolah sedang penuh karena beberapa siswa sedang belajar olahraga.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Yoona setelah menaruh peralatan menggambarnya di samping. Yoona adalah seorang pelukis sketsa, ia senang sekali menggambar tentang kehidupan sehari-hari dan Jessica akui karya tangan Yoona sangat bagus. Ia pernah melihatnya sekali pada pameran sekolah saat mereka masih duduk di tingkat pertama.

“I-ini.. tentang Yuri.” jawab Jessica ragu.

“Kenapa dengan Yuri?”

“Beberapa hari yang lalu saat kencan kami bertemu dengan namja bernama Taecyeon. Sepertinya mereka dalam keadaan yang tidak baik. Aku penasaran saja kenapa keduanya terlihat begitu saling membenci? A-aku.. belum pernah melihat ekspressi yang Yuri tunjukkan saat melihat Taecyeon sebelumnya.” Jessica menjelaskan dan beberapa saat setelahnya ekspressi Yoona juga berubah suram.

“Jessica-ssi.. kau adalah orang pertama yang menyadarinya.”

“Huh?” Jessica tidak mengerti dengan maksud perkataan Yoona. Sesaat setelahnya Yoona mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara Yuri,Taecyeon dan Eunhye.

Nam Eunhye adalah teman masa kecil Yuri dan Yoona. Mereka bertiga bersahabat sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ayah Eunhye merupakan salah satu pekerja di kediaman keluarga Kwon.

“Yuri selalu memperlakukan Eunhye seperti adik kecilnya, dia selalu melindungi kami. Sampai setahun yang lalu sesuatu yang buruk menimpa Eunhye dan membuat Yuri sangat marah… merasa bersalah.”

Malam itu kesucian Eunhye direnggut paksa oleh seorang ahjussi mabuk yang ditemuinya di stasiun bawah tanah.

“Yuri merasa sangat bersalah karena malam itu seharusnya dia menjemput Eunhye tapi Yuri terlambat. Yuri selalu menyalahkan dirinya sendiri.”

“Lalu apa hubungannya dengan Taecyeon?”

“Taecyeon adalah kekasih Eunhye.”

Berbulan-bulan setelah kejadian itu mereka mencari pelakunya. Namun mereka mendapat fakta yang mencengangkan. Pelaku itu ternyata orang suruhan tuan Ok yang ternyata tidak setuju dengan hubungan Eunhye dan anaknya, Taecyeon.

Sampai disini Jessica tidak bisa berkata apa-apa.

“Eunhye memutuskan hubungannya dengan Taecyeon. Yuri membantunya dengan cara berpura-pura menjadi kekasih Eunhye. Taecyeon membenci Yuri sejak hari itu.”

“L-lalu bagaimana dengan gadis bernama Eunhye itu?”

“Dia bunuh diri, sebulan setelah hubungannya dan Taecyeon berakhir.”

Alasan kenapa Taecyeon begitu membenci Yuri karena ia berpikir Yuri lah orang yang paling bertanggung jawab atas kematian Eunhye. Sedangkan alasan kenapa Yuri tak pernah mengungkapkan yang sebenarnya karena ia ingin menjaga kehormatan Eunhye.

“Jessica-ssi tolong jaga Yuri.”

“Ne?”

“Bukankah sekarang kalian bersama?”

“O-oh itu.. i-iya.”

“Walaupun Yuri selalu bersikap kasar dan susah diatur tapi sebenarnya dia baik. Kakakku yang satu itu hanya punya cara unik untuk menunjukkan rasa sayangnya.”

“Ne, aku mengerti.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Seobang?” Panggil Jessica dan membuat perhatian seluruh siswa di kantin tertuju padanya.

“Wae?”

“Hari ini.. ayo kita kencan.”

Yuri mengerutkan keningnya namun sebelum Jessica sempat protes gadis yang lebih tua tersebut lebih dulu menyeret tangannya.

“Kita mau kemana?”

“Taman hiburan.”

Keduanya duduk sambil memandangi ferris wheel yang bersinar terang. Lampunya warna-warni seperti bintang. Jessica mengosok-gosokan kedua telapak tangannya. Menyadari hal itu Yuri segera menarik tangannya dan menyeretnya ke suatu tempat. Jika dipikir lagi ‘kencan’ mereka rasanya tak pernah lepas dari seret dan paksa.

Yuri mengajaknya membeli jaket. Ia mengacak-acak pakaian yang dipajang namun tak menemukan jaket yang cukup tebal.

“Maafkan kami.” Jessica mewakilinya minta maaf pada pedagang yang terlihat kesal.

Pada akhirnya Yuri membayar jaket yang dipakai pedangangnya. Sepasang jaket couple.

“A-aku tidak mau memakainya.” protes Jessica.

“Wae? Kau malu?”

“B-bukan begitu. Hanya saja-”

“Terserah padamu! Lagipula kenapa kau harus malu jika kau adalah orang pertama yang mengajakku kencan ke tempat ini.” Yuri berbalik dan berjalan lebih dulu di depannya. Jessica menghela nafas, sungguh Yuri adalah bad girl paling sensitif yang pernah dikenalnya.

“Apa kau marah?”

“………………….”

“Ya!! Kwon Yuri tunggu!” Jessica berteriak sambil berusaha menyamakan langkahnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Aku ingin mengatakan sesuatu.” ujar Jessica. Keduanya berdiri bersisian sambil bersandar pada pembatas jembatan.

“Aku tidak tau jika presiden sekolah kita banyak bicara. Apa kau benar-benar nona Jung yang dingin itu?”

“Aku serius!”

“Katakan saja.”

“Apa yang terjadi pada Eunhye sama sekali bukan salahmu.”

“……………….”

“………………..”

“Aku pasti akan mengembalikan gelangmu.” Yuri bersuara setelah keduanya terdiam cukup lama.

“Jinja? Ah~ itu melegakkan.” Jessica mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum.

“Kau belum mengatakan padaku kenapa gelang itu sangat berharga.”

“Karena.. gelang itu milik orang yang sangat penting.”

“Siapa? Cinta pertamamu?” tanya Yuri lagi, Jessica tak lantas menjawab hanya saja wajahnya yang bersemu merah membuat Yuri tak perlu mendapat jawaban langsung dari gadis blonde itu lagi.

“Berhenti tersenyum seperti itu! Kau terlihat aneh.” Kali ini Yuri berkata sambil menoyor kepala Jessica.

“Ya!!” Jessica berteriak dan bersiap membalas namun Yuri lebih dulu kabur. “Jangan lari Kwon Evil Yuri!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

12 tahun lalu…

10

9

8

7

6

5

4

“3…. 2…. 1! Selesai! Yoong siap atau tidak aku akan mencarimu.” Yuri membuka matanya dan melihat ke sekiling taman. Berusaha mencari keberadaan saudara kembarnya yang saat ini sedang bersembunyi di suatu tempat.

Saat sedang mencari Yoona, Yuri tiba-tiba mendengar seseorang menangis. Seorang gadis yang seumuran dengannya sedang diganggu sekelompok anak lelaki.

Yuri berlari kearah gadis itu dan menolongnya. Dengan tubuh kecilnya Yuri mendorong anak-anak lelaki yang lebih besar sampai mereka pergi.

“Uljima..” Yuri berkata sambil membantu gadis kecil itu berdiri.

“Gomawo.” Si gadis kecil berkata sambil menghapus sisa-sisa airmatanya.

Tiba-tiba saja Yuri mendengar suara ibunya. “Yoona-ya! Ayo pulang!”

Yuri tersenyum menyadari ibu mereka sudah menjemput. Setelah melihat Yoona berlari ke dalam mobil Yuri juga segera berlari kearah ibunya.

“Sampai jumpa.” Ucap Yuri pada gadis kecil itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tempat itu dipenuhi bunyi menghentak serta diterangi cahaya yang remang-remang. Yuri duduk memperhatikan lautan manusia yang menari di bawah lampu disko dari tempat favoritnya. Yongguk juga duduk di sampingnya sementara Jiyoung sedang bercumbu dengan salah satu gadisnya di sudut klub.

“Jangan bilang kau sedang memikirkan presiden kita.” goda Yongguk sementara Yuri menanggapinya dengan tersenyum sinis.

“Apa aku punya alasan untuk memikirkannya?”

“Mungkin.. atau sebenarnya tidak, karena seingatku seminggu lagi hubungan kalian akan berakhir.” Yongguk tertawa geli memikirkan Yuri yang mungkin benar-benar terjebak dalam permainannya sendiri.

“Kau tau? Kwon Yuri tidak pernah jatuh cinta.”

“Justru itu! Bukankah akan lebih menarik jika hal itu benar-benar terjadi.” Yongguk menjentikkan jarinya dengan semangat.

“Jangan menggangguku. Pergilah menari dan benturkan kepalamu pada salah satu gadis disana!” Yuri berkata lalu menyesap tequilla pesanannya. Yongguk tentu tak perlu banyak waktu untuk menenggelamkan dirinya dalam lautan manusia yang semakin malam semakin menggila.

Setelah Yongguk pergi satu sosok lain menghampiri Yuri, kali ini seorang gadis.

“Perlu aku temani?” tanya Bora menggoda, gadis itu mengeluarkan salah satu batang nikotin dari dalam kotak silver, menyalakan pematik lalu menghisap batang yang sudah menyala tersebut. Menghisap lalu menghembuskan asap dari mulutnya.

Yuri menatap gadis yang memakai rok mini tersebut lama. “Baiklah-baiklah aku mengerti.” Bora mengalah dan mematikan rokoknya. Yuri tidak suka pada seorang perokok, terutama jika orang tersebut adalah seorang gadis.

“Aku melakukannya untuk mendapat perhatianmu.”

“Perhatianku? Wae?”

Bora sudah mengenal Yuri cukup lama. Gadis itu tau walau Yuri selalu berganti kekasih seperti ganti baju setidaknya seminggu sekali Yuri akan meluangkan waktu untuknya. Tapi sejak Yuri bersama Jessica, hari ini adalah pertama kalinya Yuri kembali datang ke klub.

“Gadis bernama Jessica itu mulai membuatku terancam.” Bora menyilangkan kakinya dan cemberut. Sementara itu Yuri tergelak mendengar pengakuannya.

“Apa kau cemburu?”

“Mungkin.. lagipula aku tidak punya hak untuk cemburu.”

“Itulah nikmatnya tidak terikat, kau tidak perlu dicemburui.”

“Benarkah kau tidak ingin terikat? Bahkan tidak denganku?”

“Kurasa.” Yuri menyeringai, setelahnya ia menarik tengkuk Bora dan mulai mencumbui gadis itu.

“Jangan sampai kau termakan kata-katamu sendiri sayang.” ujar Bora di tengah desahannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Yuri?”

“Aniyo! Aku tidak bersamanya.”

“Ah ne~ selamat malam.”

Jessica menutup teleponnya dan saat mendongak ia lebih dulu menabrak tubuh seseorang. Yoona. Jika Jessica terpaksa tinggal di sekolah sampai larut karena tugas lalu apa yang Yoona lakukan?

“Aku menghilangkan sesuatu di kolam renang dan berniat mencarinya.” Yoona tersenyum sambil mengacungkan kunci pintu gedung olahraga di depan wajahnya. Jessica mengangguk mengerti sebelum menawarkan diri untuk menemani Yoona. Arena kolam itu terlalu luas dan malam-malam seperti ini pasti disana sangat sepi.

“Terimakasih.” Yoona tersenyum. Berbeda sekali dengan Yuri yang jarang terlihat ramah. Jessica mendesah frustasi, kenapa pula ia harus memikirkan gadis arogan itu. Lupakan, lupakan!

Yoona dan Jessica menyusuri setiap sudut memakai senter, benda yang mereka cari adalah sebuah kalung yang sudah pasti akan bersinar jika terkena cahaya. Harusnya tidak terlalu sulit tapi setelah berjam-jam mencari benda itu tak kunjung mereka temukan. Pada akhirnya Yoona mengajak Jessica duduk di kursi yang menghadap ke arah kolam.

“Maaf jadi merepotkanmu Jessica-ssi.”

“Gwenchana, lagipula kita teman. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan.”

“Aku khawatir benda itu jatuh ke dalam kolam.”

“Kalau seperti itu pasti sulit, lebih baik kita mencarinya besok.” usul Jessica. Yoona menyetujinya.

“Sebenarnya, kalau benda itu benar-benar terjatuh ke dalam kolam rasanya aneh juga.”

“Eh? Kenapa?”

“Karena aku tidak bisa berenang. Selama pelajaran olahraga tadi siang aku cuma duduk memperhatikan dari pinggir.”

Yoona tidak bisa berenang karena ia mempunyai trauma masa kecil dengan kolam renang. Trauma itu masih berlanjut sampai saat ini.

“Jessica.. kau boleh tertawa jika kau mau?” Yoona menggoda gadis itu.

Jessica cepat-cepat menggelengkan kepalanya dan berkata dengan panik. “A-aniya! Aku tidak akan menertawakanmu karena hal seperti itu.”

Melihat reaksi Jessica yang berlebihan Yoona pun tertawa kecil. “Kau lucu sekali, sekarang aku tau kenapa Yuri menyukaimu.” ucapnya sambil mengacak rambut Jessica pelan.

Paras Jessica bersemu. Saat itu ia tidak tau tindakan Yoona atau justru perkataannya yang membuat dadanya bergemuruh.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hari sudah sangat larut saat Jessica sampai di rumah. Yoona mengantarnya, sebagai ucapan terimakasih karena Jessica sudah mau membantunya.

“Sampai jumpa.” Yoona melambaikan tangannya dari dalam mobil, Jessica mengucapkan terimakasih lalu melambaikan tangannya saat mobil Yoona mulai melaju.

“Kenapa baru pulang?”

“Omona!” Jessica menebah dadanya kaget. Bagaimana tidak jika baru saja ia berniat memasuki pekarangan rumahnya Yuri tiba-tiba muncul dari tempat yang gelap dan mengejutkannya.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Menunggumu.”

“Menungguku? U-untuk apa?”

“Hanya ingin melihatmu sebentar.”

“W-wae?”

“Apa hari ini seseorang meneleponmu?”

“Seseorang? Siapa?”

“Seseorang dari keluargaku.”

“Oh.. iya, ibumu. Beberapa jam yang lalu ibumu menelepon.”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia bertanya apa aku bersamamu? Atau aku tau dimana keberadaanmu.”

“Apa yang kau katakan padanya?”

“Aku bilang tidak tau.”

“Dasar bodoh.”

“Ya!! Jangan seenaknya memanggil orang lain bodoh. Kau bahkan tak sepintar itu.” Marah Jessica. Dasar Kwon Yuri, apa malam-malam begini dia datang ke rumah orang hanya untuk cari masalah?

“Berisik! Sebenarnya aku datang kesini cuma mau bilang, jika lain kali ibuku atau siapapun meneleponmu bilang saja aku bersamamu, mengerti?”

“Kenapa? Tunggu! Apa kau secara tidak langsung memintaku menutupi perbuatan aneh-anehmu di luar sana?” tuduh Jessica dan membuat Yuri menoyor kepalanya -lagi. Dasar tidak sopan, geram Jessica.

“Aku tidak aneh, kau yang aneh! Pokoknya lakukan saja, jangan banyak bertanya.”

“Aku tidak mau!”

“Mwo?”

“Shireo! Shireo! Shireo!”

“Kau mau menantangku nona Jung?”

“Kalau iya kenapa?”

“Kuingatkan, kau akan menyesal.”

“Aku. Tidak. Takut. Padamu.” Tegas Jessica. Kwon Yuri pernah memprovokasinya sekali, saat itu Jessica cuma diam, tapi kali ini Jessica bertekad takkan tinggal diam. Keadilan harus ditegakkan.

Kwon Yuri mencengkram tangannya dan menatapnya tajam. Jessica tidak tingggal diam, ia melawan tatapan Yuri dengan ice glare andalannya. Orang-orang tentu tidak menjulukinya ice princess tanpa alasan.

“Bukankah sudah kubilang kau akan menyesal?” Yuri bergumam sebelum mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Jessica. Ciuman yang sangat singkat itu membuat Jessica mematung.

“Aku melakukannya karena kau banyak bicara.”

Setelah tersadar Jessica berteriak dan memukul pundak Yuri dengan tasnya -sangat keras. Yuri terkekeh geli melihat Jessica yang berlari ke dalam rumah dengan kecepatan yang melebihi flash.

“Gadis hitam yang jahat! Aku membencimu!” Jessica mengutuk Yuri dalam kepalanya. Kwon Yuri sudah mencuri ciuman pertamanya.

“AKU MEMBENCIMU KWON YURI!!”

.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC