Archive for the ‘yulsic’ Category

image

Tittle : Honesty
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Lenght : Chapter
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

Inspired by Drama Boys Before Flower.

Song lyric by :
*S – Without You
*Hyorin X Jooyoung (ft. Iron) – Erase
*NU’EST – I’m Bad
*Taeyeon – Love, That One Word (You’re All Surrounded OST)

Honesty
.
.
.
.
.
-Part 7-

Perjalanan bisnis lainnya, Jessica menghela nafas. Ibunya baru saja mengabari jika ia terpaksa pergi ke Jepang untuk perjalanan bisnis lainnya. Wanita paruh baya itu bahkan sudah memutuskan sambungan sebelum Jessica sempat memberitahu keadaan Krystal. Keadaan anak 8 tahun tersebut semakin melemah, tidak ada yang Jessica harapkan selain sang adik segera mendapat donor yang sesuai. Kehilangan itu menyakitkan, Jessica sudah pernah merasa beberapa kali kehilangan, setidaknya ia berharap tak merasakan rasa sakit itu lagi.

Jessica menghela nafas -sekali lagi- sebelum memutar kenop pintu dihadapannya. Di hadapan Krystal tak sedikitpun Jessica ingin terlihat lemah. Jika Jessica juga menangis, lantas pada siapa Krystal harus bergantung. Barangkali selama ini alasan Jessica tidak bisa mengekpresikan perasannya karena di usia yang baru menginjak 18 tahun ia sudah mengalami banyak hal yang menguras perasaan.

Jelas sekali saat Jessica datang ke kamar itu ia sama sekali tak menyangka kehadiran orang lain di dalam sana. Orang yang sama sekali tak diduganya. Orang yang akhir-akhir ini selalu mengabaikannya. Orang yang dirindunya, sungguh perasaan rindu itu selalu berusaha ia tepis tapi Jessica tidak tau jika cinta tak pernah mengenal logika.

Menyadari kehadiran Jessica, Yuri berdiri dari kursinya dengan canggung. Di atas kasur rumah sakitnya Krystal mengamati tingkah laku keduanya dengan mata kucingnya yang polos sementara satu tangannya masih memeluk boneka beruang pink yang Yuri berikan untuknya. Yuri bukan hanya kali ini saja datang menjenguknya. Gadis yang lebih tua tersebut kadang datang seminggu sekali atau dua minggu sekali.

“Krys.. aku pergi dulu.” Yuri berkata sambil mengusap rambut Krystal. Untuk gadis kecil itu juga Yuri memberikan senyum terbaiknya sementara untuk Jessica, ia bahkan menganggap gadis itu tak ada disana.

Jessica hanya bisa menghela nafas saat Yuri melewatinya begitu saja. Aku baik-baik saja, Jessica terus membisikkan kata-kata tersebut untuk hatinya yang terluka. Ia berusaha percaya, walau tanpa Yuri, ia baik-baik saja.

Seonggasyeotdeon gwichanhatdeon jansorido
Your annoying and irritating nagging
Neoui moksorin dasin deureul il eobseuni
Your voice, I can’t ever hear it again
Hoksina niga eomneun nal geokjeonghago itdamyeon
If you’re worried about me without you
Geureol pillyo eobseo ireoke nan pyeonanhae
There’s no need, I’m comfortable like this

Gireul geotda mundeuk neoui saenggagi nado
Even when I suddenly think of you while walking
Sure chwihan eoneu bame nega tteoollado
Even when I remember you on drunken nights
Seupgwancheoreom geoldeon jeonhwado, beoreutcheoreom neol chatdeon nae moseupdo
Calling you like a habit, looking for you like a habit
Ijeneun du beon dasi heorak andoejyo
That can never happen again

Seonggasyeotdeon gwichanhatdeon jansorido
Your annoying and irritating nagging
Neoui moksorin dasin deureul il eobseuni
Your voice, I can’t ever hear it again
Hoksina nega eomneun nal geokjeonghago itdamyeon
If you’re worried about me without you
Geureol pillyo eobseo ireoke nan pyeonanhae
There’s no need, I’m comfortable like this

“Unnie?” suara Krystal membuyarkan lamunannya. Jessica berusaha menarik kedua sudut bibirnya kearah berlawanan. Gadis itu duduk di pinggiran ranjang Krystal dan memeluknya. Cukup lama.

“Unnie?”

“Ne?”

“Apa unnie bertengkar dengan Yuri?” Terkejut. Jessica melepaskan pelukannya dan menatap wajah Krystal.

“A-aniyo!” Jessica menggelengkan kepalanya cepat. Krystal tau jika kakaknya berbohong, gadis kecil itu menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menggembungkan pipinya.

“Unnie bohong! Jika kalian tidak bertengkar kenapa kalian tidak saling bicara?”

“Aku tidak berbohong Soojung. Sudah kita jangan membicarakan ini lagi.” Jessica berusaha mengalihkan perhatian dari adiknya yang mendadak bersikap seperti seorang polisi yang sedang menginterogasi penjahat. Jessica tidak suka, terlebih saat ini ialah yang berada dalam tekanan.

“Aku tau kalau unnie berbohong.” Krystal menjulurkan lidahnya dan Jessica membalas perlakuan kekanak-kanakan tersebut. Setelahnya Jessica mengeluarkan buku baru dari dalam tasnya. Mengetahui Krystal selalu kebosanan, memangnya siapa yang tidak jika harus menghabiskan hari-harinya di rumah sakit. Jessica merasa iba pada adiknya yang tidak bisa hidup normal seperti anak seusianya.

“Maafkan unnie.”

“Maaf? Untuk apa? Unnie tidak salah.”

“Hmm.. aku merasa menjadi kakak yang tidak berguna. Aku ingin sekali kau mendapat donor lebih cepat tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk mewujudkan hal itu. Maaf karena aku adalah unnie yang buruk.”

“Aniyo. Unnie selalu menjagaku, membawa makanan untukku, unnie selalu melindungiku dari monster setiap malam, unnie selalu membacakan cerita untukku sebelum aku tidur… unnie adalah kakak terbaik yang pernah kumiliki.” Kata Krystal tulus. Jessica mengangukkan kepalanya dan memeluk adiknya sekali lagi, ia terharu bagaimana bisa anak 8 tahun memiliki pemikiran sedewasa itu.

“Gomawo. Soojung juga.. adalah adik terbaik yang pernah kumiliki. I Love You.”

“I Love You too dan unnie, aku yakin akan segera mendapatkan donor itu.”

“Jinja?”

“Ne, aku dan Yuri sudah membuat 800 bangau kertas.”

“Bangau kertas?” Jessica tidak mengerti. Krystal turun dari ranjangnya lalu mengambil sebuah box yang ia sembunyikan di bawah kasur. Krystal membukanya dan memperlihatkan isinya pada Jessica. Bangau kertas. Setiap datang berkunjung Yuri dan Krystal selalu menyempatkan membuat bangau-bangau ini bersama.

“Yuri bilang jika kita membuat 1000 bangau seperti ini maka satu permintaan akan terkabul. Kita tinggal membuat 200 lagi dan setelah itu aku akan meminta supaya dokter menemukan donor yang cocok untukku. Jadi, unnie tidak perlu merasa sedih lagi..”

“K-kalau begitu aku juga akan membantu kalian.”

Malam itu Jessica melipat bangau-bangau kertas sambil terus memikirkan Yuri.

“Unnie?”

“Apa?”

“Yuri bilang unnie menyukainya, apa itu benar?”

“…………………”

“Tidak apa-apa kalau unnie suka padanya. Aku juga suka padanya.” Jessica tertawa kecil mendengar ucapan adiknya.

~~~~~~~~~~~~~~~~

K-School dengan segala kemewahannya, rasanya tak lengkap jika Study Tour yang mereka adakan juga tak berbalut kemewahan. Setiap tahun sekolah tersebut selalu mengadakan Study Tour yang mengharuskan siswa-siswanya mengeluarkan budget yang tak sedikit. Tempat wisata paling populer serta akomodasi yang semuanya serba kelas satu. Maka tak heran setiap tahunnya acara Study Tour mereka selalu menjadi pemberitaan media, tak terkecuali tahun ini. Study Tour mereka kali ini bertemakan ‘Romance in France’.

Yuri, Sooyoung dan Hyoyeon sedang makan malam di restoran mewah milik keluarga Choi. Kenapa? Karena Sooyoung penasaran sekali dengan masakan koki baru mereka yang baru di datangkan dari Italy. Bukan hanya itu, dia menaruh ketertarikan lebih pada sang koki selain masakannya.

Hyoyeon terkesan dengan makan malam mereka. Sebenarnya Restoran Choi bukanlah restoran yang bisa direservasi secara pribadi dengan mudah. Walau Sooyoung adalah anak dari pemiliknya tak berlaku hak istimewa. Tuan Choi selalu mempunyai sekat antara urusan bisnis dan urusan pribadi namun sepertinya hal itu tak berlaku malam ini. Entah apa yang telah Sooyoung lakukan sampai-sampai mereka mendapat hak istimewa untuk menyewa restoran ini secara penuh selama semalam, hanya mereka bertiga.

“Katakan saja di pertemuan pertama kami aku membuat Alea terkesan.” Sooyoung merendahkan suaranya. Alea adalah nama koki baru kebanggan tuan Choi. Aleandra Vindratte Lamachita koki keturuanan Italy sekaligus kepala koki di restoran ini. Ia memegang kendali penuh sejak Tuan Choi memperkerjakannya disini, karena Alea pula Sooyoung bisa memesan tempat ini semaunya.

“Bravo! Bravo!” Hyoyeon tertawa karena terlalu bangga pada sahabatnya. Sementara Yuri belum mengeluarkan sepatah katapun sejak mereka menginjakkan kaki di tempat ini. Oh, ayolah butuh usaha keras untuk memesan tempat disini. Sooyoung dan Hyoyeon melakukannya demi Yuri karena mereka pikir Yuri perlu rileks untuk sementara waktu tapi sepertinya usaha mereka tidak berhasil. Apa sumber kebahagian gadis hitam ini hanya Jessica?

“Kudengar tahun ini Oh! Fashion akan mensponsori busana kita.” Hyoyeon berujar, mencoba mencari topik yang menarik karena sajian pasta yang ada di meja mereka tak cukup membuat Yuri terkesan. Sooyoung mengangukkan kepalanya, membenarkan. Hal itu -tentang Oh! Fashion- baru diputuskan siang ini saat rapat direksi.

Di Korea, siapa yang tidak mengenal Oh! Fashion. Mereka adalah trend center mode di Asia. Beberapa produknya bahkan sukses merajai pasar Eropa dan Amerika. Tahun ini, Nyonya Oh setuju untuk menyumbangkan beberapa rancangan terbarunya untuk memeriahkan K-School Study Tour. Jangan heran jika Raina memiliki selera Fashion yang begitu tinggi, bakat itu sudah mengalir dalam darahnya. Ibunya -nyonya Oh- merupakan founder Oh! Fashion yang kelak akan Raina warisi.

Hyoyeon jadi ingat, tahun lalu ayah Sooyoung juga menyumbang cukup besar untuk acara ini. Lalu tahun sebelumnya saat mereka berlibur ke Jeju, Kim Grup menyediakan hotel yang akan para siswa tempati dengan gratis.

“Tapi Hyo.. bukan itu berita besarnya.”

“Lalu apa?”

“Selain fashion, semua biaya ditanggung Kwon Grup.”

“S-semuanya? Sungguh?”

Semua biaya artinya termasuk penyediaan kapal ferri super mewah yang akan membawa mereka berlayar selama beberapa jam mengelilingi teluk  Marseille. Hyoyeon berdecak kagum.

“Daebak!! Aku baru sadar sekarang kalau keluargamu kaya sekali.” Hyoyeon tersenyum konyol sambil menepuk-nepuk pundak Yuri dengan gaya ahjumma.

Malam sudah larut namun Nyonya Jung masih berkutat dengan berkas kantornya. Kacamata tebal itu tak kunjung ia lepaskan. Jessica menatap ibunya prihatin, ia tau akhir-akhir ini ibunya -keluarga mereka- mengalami masa-masa sulit. Sudah sejak lama Jessica tak melihat wajah itu tersenyum. Wajahnya tak lagi berseri, bahkan sekarang ibunya terlihat lebih tua dari terakhir kali Jessica melihatnya.

Baru-baru ini pihak perusahaan dari Jepang menolak kerjasama yang ditawarkan Jung Grup. Belum lagi, sejak pembatalan pertunangan antara Taeyeon dan Jessica Kim Grup sudah berhenti menyuntikkan dananya pada Jung Grup. Hal itu tentu saja membuat keuangan mereka semakin sulit.

“Study Tour seharga 25 juta won tentu aku takkan ikut.” Jessica bersuara dan membuat nyonya Jung menoleh padanya.

“Apa maksudmu tidak ikut?”

“Aku tidak mau, lagipula uang sebanyak itu lebih baik digunakan untuk pengobatan Krystal.”

“Apa kau tidak percaya pada mommy?”

“Aku percaya, tapi jika terlalu berat mommy tidak perlu menanggungya sendiri.”

Jessica beranjak dari sofa sebelum ibunya sempat berkata lagi. Setelah ini gadis blonde itu juga berencana keluar dari klub Golf.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Taeyeon menghela nafas karena tidak tau tempat mana lagi yang harus ia tuju untuk menemukan Jessica. Seluruh penjuru sekolah telah ia telusuri tapi Jessica tidak ada dimanapun. Mengetahui Jessica ada kegiatan klub hari ini Taeyeon juga mendatangi klub golf tapi gadis itu kembali menelan kekecewaan begitu mendengar kabar jika Jessica sudah mengundurkan diri.

Taeyeon mengeluarkan ponselnya dan kembali menghubungi Jessica tapi lagi-lagi panggilannya dialihkan ke pesan suara.

“Sooyeon-ah jika kau mendengar pesan ini segera hubungi aku. Kumohon.”

Sebenarnya Taeyeon bisa saja mendatangi Jung mansion tapi tak ada jaminan mereka akan menyambut hangat kedatangannya. Terutama setelah apa yang dilakukan ayahnya. Pria itu, apa yang diketahuinya selain bisnis? Bahkan Presdir Kim juga menjadikan perasaan Taeyeon sebagai ladang bisnis.

Taeyeon mengacak rambutnya frustasi. Apa ini balasan atas perbuatannya? Apa ini karma karena ia mempermainkan perasaan Jessica sebelumnya? Kenapa Taeyeon harus terjebak dalam situasi serumit ini? Situasi yang memang sudah rumit sejak awal..

Kenapa?

Yuri meminta supir Nam untuk menghentikan laju mobilnya.

Jessica berjalan dengan tergesa menuju alamat yang tercantum diatas brosur yang ia pegang. Gadis itu harus bergeas sebelum tempat yang ia tuju tutup atau mungkin posisi yang ia inginkan sudah diambil orang lain. Saat itu Jessica sama sekali tidak menyadari jika seseorang terus memandanginya.

“Nona..” supir Nam memanggil saat majikannya sama sekali tak bersuara.

“Nona Yuri.. apa anda mau berangkat sekarang.” tanya supir Nam sekali lagi.

“Ne, kajja.” Mobil yang Yuri tumpangi kembali melaju sementara Jessica berhenti melangkah dan berbalik. Gadis itu merasa seseorang tengah memperhatikannya.

….atau perasaannya saja?

Nan geureoke joheun sarami anya
I’m not that great of a person
Neomu eoryeopge saenggakhajineun mara no
Don’t think too hard, no
Chakhan cheok doo doo roo doo doo roo
Don’t pretend to be nice doo doo roo doo doo roo
Urin wollae geureon sarang don’t say yeah yeah yeah~
We always had that kind of love, don’t say yeah

Neol saranghangeol jiwo (jiwo) you
I’ll erase my love for you (erase) you
Ni jeonhwabeonho jiwo (jiwo) moreuge
I’ll erase your number (erase) secretly
Urin andwae no no
We can’t ever be, no no
Wollae geureon sai yeah woo
That’s how we always were, yeah

~~~~~~~~~~~~~~~~

Sambil mengenakan apron biru muda bertuliskan ‘Lovely Day’ Jessica berdiri di depan sebuah restoran sambil membagi-bagikan brosur. Lovely Day merupakan restoran tempatnya bekerja paruh waktu -Jessica melakukannya tanpa sepengetahuan sang ibu. Hari itu Jessica memberanikan diri melamar di tempat ini dan tak disangka ia langsung di terima. Direktur LD -begitu para pekerja menyebutnya- Yang Yoseob langsung menerima Jessica tanpa berpikir dua kali. LD baru berdiri selama sebulan dan memang sedang membutuhkan beberapa pekerja, sebelumnya sudah ada Eunji, Chorong, Minwoo dan si kembar Youngmin Kwangmin. Selain membutuhkan pekerja, restoran baru mereka juga membutuhkan banyak promosi. Itulah alasan kenapa Jessica dan Youngmin berdiri di depan Lovely Day sambil membagikan brosur.

“Tuan dan Nyonya silahkan datang ke restoran kami.” Teriak Youngmin sementara Jessica sibuk memberikan selebaran pada para pejalan kaki yang lewat. Melakukan hal seperti ini tentu tak semudah yang ia lihat dalam drama. Walau tak sedikit yang merespon positif namun tak jarang pula Jessica harus menerima pengabaian dari calon pelanggannya. Meski begitu Jessica bertekad takkan menyerah karena untuk pertama kali dalam hidupnya Jessica melakukan semuanya atas usaha sendiri dan itu membuatnya bangga.

Beberapa saat kemudian namja yang serupa dengan Youngmin datang membawa dua gelas kopi panas untuk mereka. Namanya Kwangmin, dari yang Jessica tau mereka hanya berbeda 9 menit. Keduanya merupakan kembar identik karena itu mereka sangat serupa, yang membedakan hanya warna rambut mereka saja. Kwangmin memiliki rambut berwarna hitam sementara Youngmin memiliki rambut berwarna blonde.

“Fighting!!” Kwangmin tersenyum sebelum kembali ke dalam restoran untuk membantu Chorong melayani pelanggan. Sementara itu makhluk paling cerewet di LD -Eunji- sedang berdiri di belakang meja kasir. LD merupakan restoran berkonsep sederhana yang menjual bubur. Menurut penuturan Yoseob bubur yang ia jual di restoran ini adalah warisan turun-temurun keluarganya. Selain sebagai direktur Yoseob juga menjabat kepala Koki di tempat ini bersama satu koki lain -Minwoo.

“Jessica.. perutku sakit aku masuk ke dalam dulu ya?” Youngmin segera berlari tanpa menunggu jawaban Jessica. Akhirnya Jessica melanjutkan kegiatannya tanpa Youngmin, hari ini salju turun dan membuat udara bertambah dingin. Kepulan asap putih keluar dari mulutnya tiap kali ia bicara.

Sedetik kemudian Jessica menatap langit, menatap butiran-butiran salju yang berjatuhan layaknya kunang-kunang di malam hari.

“Malam ini sama seperti malam itu..” Yuri memandangi salju yang berjatuhan di sekitar mereka. Malam ini dan malam itu sama-sama hari pertama salju turun. Jessica tidak menjawab, gadis itu sibuk memandangi iris Yuri yang kecoklatan.

“Karena ini acara ulang tahun harusnya, ada cake, lilin dan hadiah..”

“Gwenchana, aku tidak perlu semua itu..”

“Baiklah, aku akan memberimu satu permintaan sebagai hadiah.”

“Ne?.. itu tidak perlu.”

“Kau tidak boleh menolak. Karena kita sudah tidak punya cake dan lilin setidaknya kau tidak boleh menolak hadiah dariku. Aku memberimu satu permintaan dan kau boleh meminta apapun.”

“Sungguh? Apapun?”

“Ne, apapun.”

Perlahan Yuri mendekatkan wajahnya dan membuat Jessica menahan nafas saat nafas hangat Yuri menyentuh pori-pori kulit wajahnya. Tanpa disadari semakin Yuri mendekat mata Jessica semakin berat dan tertutup dengan sendirinya, seakan-akan hal itu adalah satu-satunya hal yang dapat Jessica lakukan. Dan saat bibir lembut Yuri bersentuhan dengan bibirnya, Jessica merasa kakinya tidak menginjak bumi untuk pertama kalinya.

Ciuman itu… ciuman pertamanya.

Angin tiba-tiba bertiup kencang dan menerbangkan brosur-brosur berikut semua lamunan Jessica. Gadis itu tersentak dan segera memukul-mukul kepalanya sendiri. Sambil memunguti kertas-kertas yang berserakan di jalan Jessica terus berpikir. Bagaimana bisa ia memikirkan hal itu disaat seperti ini? Ia tidak boleh memikirkan seseorang yang jelas-jelas tak peduli lagi padanya, walau itu yang Jessica harapkan namun Jessica tak memungkiri jika hatinya terasa nyeri tiap kali Yuri mengabaikannya. Merindukan masa dimana Yuri selalu membuatnya kesal mungkin terdengar konyol tapi kali ini Jessica mengakuinya, ia merindukan Yuri. Merindukan gadis yang sekarang mungkin sedang dalam perjalanan menuju Perancis bersama tour super mewah K-School.

Dalam detik yang berjalan begitu lambat, Yuri berusaha untuk tidak peduli. Berusaha mengabaikan kerinduan yang semakin lama semakin mengikis logikanya. Otaknya tak lagi bekerja sempurna. Yuri berusaha, namun hari itu Yuri sudah tak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi karena yang ia inginkan saat itu hanya memeluk Jessica. Dan hari itu Yuri benar-benar melakukannya. Mendekap hangat tubuh rapuh sang putri. Dalam gerakan lambat, Yuri melakukannya seolah-olah Jessica mahakarya yang bisa hancur berkeping-keping jika Yuri terlalu keras menyentuhnya. Sangat berhati-hati seolah Jessica bisa menghilang kapan saja dari pandangannya.

Yuri terus mendekap Jessica sambil membisikan kata-kata cinta yang hampir meledak memenuhi rongga dadanya.
“Gadis jahat! Kenapa kau sama sekali tidak bertanya apa aku baik-baik saja atau tidak tanpamu?”

“Y-yuri?”

“Aku hampir mati karena merindukanmu. Jessica Jung… tolong berhenti menyiksa perasaanku.”

Sementara itu di Gimpo Airport, rombongan siswa K-School yang akan berangkat ke Perancis sudah berkumpul kecuali satu orang.

“Sebenarnya kemana si hitam itu pergi?” Sooyoung berdecak kesal, pesawat yang akan mereka tumpangi akan take off 15 menit lagi dan Yuri belum terlihat dimanapun.

“Apa kau bisa menghubunginya?”

“Aniyo.”

Melalui pengeras suara petugas bandara kembali meminta para penumpang pesawat Korean Air tujuan Perancis untuk segera memasuki pesawat. Hyoyeon tersenyum sambil menyeret kopernya sementara di belakangnya Sooyoung masih bersungut kesal. Bagaimana tidak jika Yuri sudah berjanji akan mentarktirnya makan di Perancis sepuasnya tapi di hari H si hitam itu malah menghilang bak ditelan bumi.

“Taeyeon juga menghilang, apa menurutmu ini tidak aneh? Yuri dan Taeyeon menghilang disaat bersamaan. Apa menurutmu mereka sengaja merencakannya?” Meski sudah memasuki pesawat Sooyoung tetap tak bisa menahan rasa penasarannya.

“Hal seperti ini bukan sesuatu yang bisa direncanakan tapi… mungkin mereka menghilang memang karena berencana menemui orang yang sama.”

“Aku.. tidak mengerti.” jawab Sooyoung bodoh.

Hyoyeon hanya mengangkat bahunya cuek sambil memasang headphone di telinganya. 14 jam perjalanan tentu bukan waktu yang singkat dan selama itu pula Hyoyeon lebih memilih mendengarkan lagu daripada mendengar rengekkan tak jelas dari sahabat shiksinnya. Ia penasaran berita besar apa yang akan menyambut kedatangan mereka setelah liburan panjang ini. Hyoyeon benar-benar penasaran.

Yuri melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Jessica yang masih mematung. Satu tangannya terangkat untuk mengelus pipi Jessica yang terlihat lebih tirus. Andai saja Jessica mengijinkannya, Yuri berjanji takkan membiarkan Jessica kembali terluka.

“Apa kau makan dengan baik selama aku tidak disisimu?” Yuri bertanya sementara Jessica menatap iris kecoklatan gadis dihadapannya. Tatapan teduh yang Jessica rindukan.

“Apa pernah sekali saja kau merindukanku?” Kali ini Yuri menangkup wajah Jessica dengan kedua telapak tangannya. Jessica memejamkan matanya, merasakan kehangatan Yuri yang menyapu setiap inchi wajahnya.

“Kenapa kau selalu berpaling?” Jessica berucap. Meski sudah berusaha sekuat tenaga, kalimat itu tetap keluar dengan suara gemetar.

“Karena, jika aku terus melihatmu aku tak bisa menahan diri untuk berlari kearahmu dan memelukmu.” jawab Yuri tulus. Jessica perlahan mengangkat tangannya dan balas memeluk Yuri. Kali ini ia tak lagi takut.

Di dalam mobilnya Taeyeon tersenyum getir. Kenyataannya gadis itu tidak pernah menutup mata. Tidak sama sekali. Taeyeon selalu berada dalam kesadaran penuh untuk memahami dalam situasi apa mereka sekarang. Dirinya, Jessica, juga Yuri.

“Jangan bermain dengan perasaan Kim Taeyeon atau kau akan terjebak di dalamnya.”

Sekarang Taeyeon yakin ia sudah terjebak terlalu dalam sehingga tak ada jalan untuk kembali.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yo baby I was wrong Is give me a one more chance

A naega jeongmal michyeosseossna bwa
I think I’m really crazy
Geureohge neoreul bonaego
After letting you go
Ibeuro oneun balgeoreum mada
With each step I take on my way back
Geu dongan hamkke bonaessdeon sigandeul
All the times we spent together
Jakku nae daril butjapgo mot geotge haneungeol
They keep holding onto my legs, stopping me from walking
Na gwaenhi dwi doraseo, neodo eopsneunde
So I turned around, pointlessly, when you’re not even there

Mianhadago halkka na jigeum dangjang
Should I say I’m sorry right now?
Negero dallyeoga saranghanda halkka
Should I run to you and say I love you?
Sumanheun gomin soge nan geujeo
With all these countless dilemmas
Meonghani haneulman bogo isseo
I’m just blankly staring at the sky
Ireomyeon nega nal michyeossda malhalkka
If I do this, will you call me crazy?
Charari naeil achime jeonhwahalkka
Should I just call you tomorrow morning?
Ulgo isseul ni moseubi nan jakkuman
I keep thinking of you crying
Tteoolla michil geot man gata
And it’s driving me crazy

Naega nappeun nomiya cham mianhae
I’m a bad guy, I’m so sorry
Naege neo gateun yeojan gwabunhande
A girl like you is too good for me
I’m bad I’m bad I’m bad
My baby I’m bad I’m bad
Ijeneun deo isang neoege sangcheojuji anha
I won’t hurt you anymore
Jebal nae gyeoteseo tteonaji mara
Please don’t leave me
My babe My babe My babe
l love you my babe my babe my baby

Apa cinta selalu membuat seseorang menjadi idiot? Kim Taeyeon bukan pengecualian, terbukti saat ia membajak ruang siaran K-School, Taeyeon benar-benar tak tau apa yang telah merasukinya.

“Ya!! Kim Taeyeon!! Kau benar-benar membuatku emosi!! Cepat buka pintunya!!” Sooyoung berteriak kesal sambil menendang-nendang pintu ruang siaran yang dikunci dari dalam. Yuri berdiri disampingnya sambil mengepalkan tangannya erat. Di dalam sana Taeyeon sedang berdiri sambil menggenggam tangan Jessica.

Gadis blonde itu masih terkejut dengan fakta yang baru Taeyeon sampaikan. Tentang hubungan Taeyeon yang sebenarnya dengan Yuri. “…kau mengerti sekarang? Dia takkan bisa melindungimu jadi tetaplah disisiku.” tegas Taeyeon.

Jessica tidak menjawab, ia hanya tidak tau harus berekasi seperti apa. Taeyeon yang tidak sabar langsung menarik tengkuk Jessica dan mengecup bibirnya. Jessica berusaha melepaskan diri namun penolakan Jessica justru membuat Taeyeon semakin bernafsu untuk memperdalam ciuman mereka. Karena Taeyeon bertekad, ia takkan kehilangan sesuatu lagi karena Kwon Yuri. Takkan pernah.

Menyaksikan kejadian itu, Sooyoung hanya membulatkan matanya sementara tidak dengan Yuri. Gadis tanned itu menendang pintu ruang siaran dengan emosi sampai kenopnya rusak. Sooyoung mendesah frustasi karena ruang kesayangannya di sekolah akan berubah menjadi area baku hantam dalam hitungan detik. Sooyoung berusaha melerai namun terlambat. Yuri terlanjur memegang kerah baju Taeyeon dan mendaratkan pukulan yang membuat gadis itu tersungkur.

“Bukankah aku sudah meminta jangan libatkan Jessica?!” Yuri berteriak padanya. Taeyeon tersenyum seraya menyeka darah di sudut bibirnya. Gadis itu lantas bangkit seolah tak terjadi apa-apa. Berbeda dengan Yuri yang diliputi emosi, ekspressi Taeyeon justru terlihat sangat tenang.

“Koreksi, bukan melibatkan tapi sejak awal Jessica memang bagian dari permainan kita.” kali ini Taeyeon menyeringai.

Cukup. Yuri tak lagi mau mengerti kelakuan Taeyeon kali ini. Gadis tanned itu kembali menerjang tubuh Taeyeon dan terus memukulinya sampai wajah Taeyeon berdarah-darah. Jessica berteriak dan mendorong tubuh Yuri. Kalau bukan karena Jessica yang memeluk tubuhnya untuk menghentikan Yuri tentu gadis berkulit kecoklatan tersebut takkan berhenti memukuli Taeyeon.

“Apa yang kau inginkan Kim Taeyeon?”

“Kau dan aku. Race car.”

“Aku tidak punya urusan lagi denganmu.”

“Aku mulai sadar jika kita, aniyo, kau dan aku tidak bisa berada di tempat yang sama. Ini tergantung kau yang pergi atau aku yang pergi.”
“Apa maksudmu?”

“Kau menang aku pergi. Aku menang kau yang pergi.” Taeyeon tersenyum penuh percaya diri. Hal inipun sekaligus akan menjadi ajang pembuktian, siapa diantara mereka berdua yang layak untuk melindungi Jessica.

Yuri menatap Jessica sekilas sebelum beralih kembali pada Taeyeon. “Ayo kita lakukan.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Micheseo?” Hyoyeon tak habis pikir dengan keputusan yang Yuri buat. Gadis tanned itu bahkan membuat keputusan tanpa meminta persetujuan Hyoyeon dan Sooyoung -yang notabennya adalah sahabat sejati Yuri. Namun diantara keduanya, Sooyoung-lah yang paling merasa kesal. Saat itu Sooyoung ada disana, ia berdiri disana namun Yuri tak menganggap kehadirannya. Yuri langsung menyetujui tantangan Taeyeon seakan Sooyoung cuma hiasan dinding.

“Dia sengaja melakukannya karena dia ingin kau pergi.” ujar Sooyoung.

“Aku tidak akan kalah.” jawab Yuri penuh percaya diri. Walaupun diantara mereka berempat Taeyeon merupakan orang dengan skil mengemudi paling handal. Bahkan mungkin Taeyeon bisa mengemudi dengan mata tertutup.

Di rumah sakit Jessica sedang menemani Krystal. Jessica sedang melihat Krystal menggambar namun jujur saja pikirannya sedang berada di tempat lain.

“Yuri!!” Krystal memekik gembira begitu seseorang membuka pintu. Yuri menyembulkan kepalanya sambil tersenyum bodoh. Gadis tanned itu memasuki kamar Krystal sambil menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.

“Untukmu.” Yuri memberikan sekotak cokelat pada Krystal.

“…dan ini untukmu.” Sementara untuk Jessica, Yuri memberinya setangkai mawar.

“A-apa yang kau lakukan disini?”

“Tenang saja, aku datang untuk Krystal bukan untukmu.” Yuri menjulurkan lidahnya. Setelahnya ia menarik tangan Jessica, memaksanya berpindah sementara ia menempati tempat Jessica. Krystal tertawa kecil sementara Jessica mendengus sebal. Yuri tidak memperdulikan Jessica dan mulai membuat bangau-bangau kertas bersama Krystal, itulah tujuannya datang kemari.

Setelah berjam-jam menunggu seperti obat nyamuk akhirnya Jessica bisa berduaan dengan Yuri. Sungguh, ini pertama kalinya Jessica merasa cemburu dengan adiknya sendiri namun yang lebih konyol lagi. Objek yang membuatnya cemburu adalah makhluk hitam bernama Kwon Yuri. Seakan tak ada hal lain yang lebih bagus saja.

Keduanya berjalan di lorong rumah sakit. Yuri menggenggam tangannya, menautkan jari-jari mereka sementara Jessica membalas genggaman lembut tersebut. Ajaibnya jari-jari mereka langsung menyatu seakan-akan telah diciptakan untuk saling melengkapi.

“Sebenarnya.. bagaimana perasaanmu terhadap Taeyeon?” Jessica bertanya sementara Yuri mulai mengayunkan tangan mereka sambil bersenandung.

“Hubungan?” Yuri menatap Jessica sambil memicingkan matanya. “Kenapa? Cemburu?” Gadis itu melanjutkan perkataannya sambil tersenyum jahil.

Hal itu tentu saja membuat Jessica cemberut. Sebenarnya kapan Yuri akan bersikap serius?

“Taeyeon.. terlihat sangat membencimu.”

Sampai di sebuah bangku taman, Yuri menyuruh Jessica duduk. Gadis tanned tersebut juga melepas mantelnya dan memakaikannya pada Jessica. “Aku tau kau ini putri es tapi setidaknya gunakan pakaian yang lebih tebal saat keluar, udara akhir-akhir ini dingin sekali.”

“Kau akan kedinginan jika memberikan ini padaku.” Jessica bermaksud melepas mantel merah tersebut dan mengembalikan pada pemiliknya begitu melihat Yuri kedinginan namun Yuri menahannya.

“Karena itu mulai sekarang gunakan pakaian hangat supaya aku tidak perlu kedinginan lagi demi dirimu.”

“Tidak ada yang memintamu melakukannya.” Jessica mendelik sebal. Yuri tertawa kecil lalu memeluk gadis blonde itu dari samping. Jessica berusaha melepaskan diri tapi usahanya sia-sia.

“Taeyeon pasti sudah menceritakan semuanya padamu.”

“Hm?”

“Tentang kami maksudku.” Kali ini Yuri menyembunyikan wajahnya di bahu Jessica. Yuri memejamkan matanya sementara Jessica mengangguk kecil, mengingat kejadian di ruang siaran beberapa waktu lalu berikut fakta-fakta yang diungkapkan Taeyeon. Mengingat ruang siaran berarti mengingat ciuman itu, sungguh untuk hal yang satu itu Jessica hanya ingin… melupakannya.

“Tapi aku yakin Taeyeon tidak bercerita kalau dia sampai menangis berhari-hari dan kabur ke rumah Hyoyeon.”

“A-aniyo.”

“Saat itu kami masih sangat muda. Dan perubahan selalu menjadi hal yang tidak mudah. Hubungan kami sangat baik sampai hari itu. Aku selalu menceritakan apapun pada Taeyeon, termasuk pertemuan kita di Amerika dulu. Sejak hari itu kami tak pernah bicara, tidak dengan cara yang sama. Dan sejak hari itu aku kehilangan sahabatku Kim Taeyeon.”

“Itu pasti tidak mudah.”

“Aku tidak pernah membencinya, tidak jika alasannya masalah keluarga kami. Di hari aku menghajarnya, satu-satunya alasan adalah karena dia melibatkan dirimu.”

“Yuri..”

“Aku tidak cukup bodoh untuk berjanji ‘kau tidak akan menangis saat bersamaku’. Aku juga tidak cukup bodoh untuk menjanjikan jalan yang mudah untukmu karena aku.. aku hanya bisa berjanji, selama kau disisiku aku akan melindungimu semampuku.”

Amudo moreuge najocha moreuge
Without anyone knowing, without even me knowing
Eonjebuteoinji geudaega nae mame
I don’t know when but you came into my heart
Eojedo nunmuri oneuldo nunmuri heulleo
Tears fell yesterday and tears are falling again today
Gogaereul sugin chaero nan geudael bonae
With my head down low, I’m looking at you

Sarangeun geureohge geudaega moreuge
Love has come without you knowing
Amu iyu eobsi geudaereul nae mame
Without any reason, you’re in my heart
Hollo ireohge imal doenoeimyeo uneun
All alone, I repeat these words as I cry
Nareul geudaeneun aneunji
Do you know?

Neon nae ane geulyeonoheun hanmadi
The one word that you draw inside of me
Neul naeane sumgyeowassdeon hanmadi
The one word that is always hidden inside of me
Geudaereul barabogo issneunde neul gyeote issneunde
I’m looking at you, I’m always by your side
Sarang geu hanmadiman mothae
But I can’t say the words I love you

Eonjena nae yeope geudaeman nae yeope
Always be by my side, only you be by my side
Isseo dallan mareun ajigdo nae ane
Those words are still inside of me
Hollo ireohge imal doenoeimyeo uneun
All alone, I repeat these words as I cry
Nareul geudaeneun aneunji
Do you know?

Neon nae ane geulyeonoheun hanmadi
The one word that you draw inside of me
Neul naeane sumgyeowassdeon hanmadi
The one word that is always hidden inside of me
Geudaereul barabogo issneunde neul gyeote issneunde
I’m looking at you, I’m always by your side
Sarang geu hanmadiman mothae
But I can’t say the words I love you

Nae gaseumi haneun mal
Words that my heart says
Naboda neol salanghae neol saranghae haejugo sipeunde
I love you more than myself  I want to love you

Neon nae ane geulyeonoheun hanmadi
The one word that you draw inside of me
Neul naeane sumgyeowassdeon hanmadi
The one word that is always hidden inside of me
Geudaereul barabogo issneunde neul gyeote issneunde
I’m looking at you, I’m always by your side
Sarang geu hanmadiman mothae
But I can’t say the words I love you

Jessica memejamkan matanya begitu Yuri mendekatkan wajahnya. Untuk kedua kalinya bibir mereka saling bertautan dalam ritme yang begitu lambat sementara jantung keduanya berdebar dengan debaran cepat yang selaras. Semuanya terasa begitu sempurna.

~~~~~~~~~~~~~~~

“Jangan khawatir, aku lebih baik dari Taeyeon.” Yuri tersenyum pada Jessica sebelum ia memasuki sirkuit. Di tempat penonton Hyoyeon, Sooyoung dan Jessica harap-harap cemas.

Sebagai seseorang yang kompetitif Taeyeon mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Mereka hanya perlu melakukan 3 lap sementara peraturan sudah jelas ditetapkan sebelumnya. Yang menang tinggal dan yang kalah pergi. Mudah saja.

Taeyeon dan Yuri sama-sama mengendarai Lamborghini Reventon. Yuri menggunakan warna hitam dan Taeyeon meggunakan warna putih. Wasit mengangkat bendera. Di belakang garis start, Taeyeon dan Yuri menyalakan mobil mereka. Tak pelak mesin kedua mobil mewah tersebut langsung menderu halus.

Begitu wasit menjatuhkan benderanya Taeyeon langsung melesat jauh meninggalkan Yuri. Mereka melaju diatas kecepatan 180 km per jam.

“Shit!!” Yuri berdecak kesal dan menambah kecepatannya walau begitu mobil Taeyeon sudah terlalu jauh. Lap pertama Taeyeon bisa mengungguli Yuri dengan mudah.

Tidak mau menyerah Yuri menambah kecepatannya, di tikungan terakhir sebelum lap kedua Yuri berhasil menyalip Taeyeon dan mendahuluinya. Pertandingan semakin panas tentu saja. Siapapun yang berhasil unggul di putaran ketiga sudah pasti menjadi pemenangnya. Taeyeon menambah kecepatannya dan membuat mobil keduanya melaju berdampingan. Tersisa dua tikungan.

Taeyeon menginjak pedal gasnya lebih keras namun secepat ia melaju secepat itu pula bayangan kebersamaan Jessica dan Yuri melintas di hadapannya. Konsetrasinya buyar, mobil Taeyeon berputar dalam lintasan dan menyenggol mobil Yuri. Taeyeon mencengkram setirnya lebih kuat. Mobil putih berhenti setelah menabrak pagar pembatas lintasan sementara mobil hitam berhenti dalam lintasan setelah hampir terbalik, beruntung Yuri masih bisa mengendalikannya.

Taeyeon memukul setirnya saat melihat Jessica berlari kearah mobil Yuri, saat itu Taeyeon  sadar ia sudah kalah.

“Kim Taeyeon kau baik-baik saja?” tanya Sooyoung khawatir. Taeyeon keluar dari dalam mobil tanpa menjawab pertanyaan Sooyoung.

“Aku akan bicara padanya.” Hyoyeon mengikuti sepupunya dari belakang sementara di kejauhan Jessica masih memeluk Yuri.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Seperti sebelumnya, suara beep dari mesin EKG di samping ranjang Yuri merupakan satu-satunya suara yang menjawab setiap perkataan Jessica. Yuri masih menutup matanya dan enggan merespon sekitarnya. Gadis tanned itu masih terlelap, seolah mimpinya terlalu indah hingga ia enggan untuk bangun.

“Kau dan Taeng sama-sama keras kepala.” Jessica tersenyum sambil memandang wajah Yuri. Jessica ingat -di masa SMA mereka- setelah race car yang dilakukan keduanya, sebulan kemudian Taeyeon memutuskan untuk pergi ke Amerika. Walaupun saat itu tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang tapi Taeyeon tetap memutuskan untuk pergi.

Walau begitu hubungan Taeyeon dan Yuri tak seburuk sebelumnya. Sore itu di bandara, sebelum berangkat ke Amerika Taeyeon membisikan sesuatu pada Yuri yang langsung membuat gadis berkulit kecoklatan tersebut cemberut kesal.

“Aku penasaran apa yang Taeng katakan padamu saat itu?” Jessica kembali bertanya, walau ia tau Yuri takkan menjawabnya.

“Oh ya.. aku punya sesuatu.” Jessica mengeluarkan bangau kertas berwarna merah yang ia dapat dari anak lelaki yang datang ke LD tempo hari.

“Aku ingat saat kau dan Krystal membuat 1000 bangau seperti ini..” Jessica kembali tersenyum pada gadis koma yang terbaring di hadapannya.

“Jika aku membuat 1000 bangau lalu meminta kau bangun, apa benar-benar akan terjadi seperti saat kalian meminta donor untuk Krystal?” Jessica bukanlah tipe orang yang percaya pada mitos tapi ia percaya pada keajaiban. Saat ini ia butuh keajaiban, karena dokter bilang Yuri butuh keajaiban untuk dapat kembali sadar.

“Sooyeon-ah..” Taeyeon membuka pintu dan tersenyum padanya. Setelahnya Taeyeon masuk dan menyapa Yuri.

“Kwon Yuri hari ini salju turun, kau harus bangun dan merasakannya.” Ucap Taeyeon dan membuat Jessica tersenyum. Ia ingat bagaimana Yuri selalu menggilai salju, bahkan Yuri takkan malu untuk berguling diatasnya seperti anak kecil.

“Akhir-akhir ini yang kau lakukan hanya tidur.” Kali ini Taeyeon duduk di pinggiran ranjang Yuri.

“Akhir-akhir ini juga Sooyeon sering menangis karenamu. Apa kau lupa apa yang pernah kukatakan padamu di bandara? Jika kau membuatnya menangis aku tak segan-segan untuk merebutnya kembali.”

Jessica terkejut dengan perkataan Taeyeon -rupanya kata-kata itulah yang membuat Yuri cemberut saat itu- namun keterkejutan itu tak berlangsung lama. Jessica cepat menguasai dirinya, ia segera memukul pelan pundak Taeyeon.

“Jangan macam-macam Kim Taeyeon. Tiffany bisa menghabisimu jika mendengarnya.” Jessica mengeluarkan glare yang justru semakin menghangatkan suasana. Tiffany Hwang namun berubah menjadi Tiffany Kim setelah Taeyeon menikahinya. Tiffany adalah gadis keturunan Korea-Amerika yang berprofesi sebagai dokter. Singkat cerita, mereka bertemu, lalu jatuh cinta, dan memutuskan untuk menikah sebelum kembali ke Korea. Hal itupun menjadikan kisah mereka bertiga -Taeyeon,Yuri, dan Jessica- hanya bagian dari masa lalu yang Jessica simpan dalam memori terdalamnya. Bagi Taeyeon, Tiffany adalah masa depan juga kebahagiaannya dan Jessica bersykur Taeyeon bisa merasakan hal itu. Jauh di dalam hatinya Jessica juga berharap ada sedikit kebahagian yang tersisa untuknya dan Yuri….

Victoria keluar dari terminal kedatangan bandara dengan mata sembab. Bagaimana tidak jika orang yang sangat ia cintai sudah terbaring koma selama seminggu di rumah sakit dan selama itu pula Victoria belum berkesempatan untuk mengunjunginya.

“Yuri-ah aku datang..”

.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Ini chap yang lumayan panjang, semoga ga bikin bosen. Kalo ada typo maaf2 aja ya, males editnya #authormales.
Kalo ada yng pensaran sama mobil Taeri, ini dia…

image

Tittle : Honesty
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Lenght : Chapter
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

Song lyric by :
*Yesung ft Luna – And I Love You
* LeL ft Linzy of FIESTAR – What My Heart Wants To Say (OST. High School Love On)

Inspired by Drama Boys Before Flower.

Honesty
.
.
.
.
.
-Part 6-

Satu tangan Jessica masih menggenggam tangan Yuri sementara tangan lainnya mengelus pipi gadis tanned tersebut. Menyadari tak ada satupun hal berarti yang bisa dilakukannya, sejam terakhir Jessica hanya mentap gadis koma yang terbaring di hadapannya dengan penuh kerinduan. Akan lebih baik jika Yuri kali ini juga hanya membodohinya seperti waktu itu. Jessica bahkan sangat berharap jika Yuri terbangun dan tersenyum padanya. Ada banyak yang Jessica harapakan dari Yuri selain bunyi beep monoton yang yang selalu memenuhi ruangan ini.

“Apa kau makan dengan baik selama aku tidak disisimu?”

“………………..”

“Apa pernah sekali saja kau merindukanku?”

“Kenapa kau selalu berpaling?”

“Aku juga. Jika aku terus melihatmu aku tak bisa menahan diri untuk berlari kearahmu dan memelukmu.”

“……………….”

“Jadi kumohon Yuri-ah.. kembalilah padaku.” Jessica berusaha menahan tangisnya. Ironis memang, saat perpisahan mereka dulu yang Jessica inginkan hanya kebahagiaan untuk mereka berdua bukan drama yang lebih banyak menguras airmata.

~~~~~~~~~~~~~~

Jessica bangun dan mendapati dirinya berada di kamar IU. Kepalanya pusing, semalam mereka pergi ke klub dan… Jessica tidak ingat lagi. Aigoo, gadis itu bodoh sekali.

“Jessica kau sudah bangun?” IU datang sambil membawa segelas air dan aspirin untuknya. Cukup membantu.

IU tersenyum kecil menyaksikan sahabatnya yang tampak linglung. “Kau mabuk setelah mencoba tequilla, apa kau lupa?”

Wajah Jessica bersemu merah, untuk orang yang baru pertama kali datang, suasana dan apapun yang ada dalam klub tentu akan terasa asing begitupula dengan Jessica. Mengetahui sahabatnya seorang ‘pemula’ IU hanya memesankan orang juice untuknya, tapi Jessica yang penasaran juga ingin memesan minuman yang IU pesan. Tequilla. Jessica hanya minum satu gelas dan ia tidak ingat apapun lagi. Memalukan.

“Aku membawamu pulang kesini karena takut ibumu marah, tidak masalah kan?”

“Ne. Gomawo.”

Beberapa jam setelahnya Jessica menapakkan kaki di lantai Jung Mansion dengan takut. Ia sudah bersiap dengan amarah sang ibu tapi tidak terjadi satupun dari jutaan hal buruk yang diperkirakannya. Rumahnya terasa damai, bahkan terlalu damai dan itu membuat Jessica justru merasa heran.

“Bibi Park, apa yang terjadi? Dimana mommy?”

“Pagi-pagi sekali nyonya sudah pergi ke kantor.”

“Kantor? Apa yang terjadi?” Jessica kembali bertanya sementara bibi Park -kepala pelayan di rumah mereka- hanya menyalakan televisi untuk menjawab semua rasa penasaran Jessica.

Bursa saham pagi ini dibuka dengan penurunan harga saham Jung Grup yang sangat signifikan. Hal tersebut tentu saja menjadi buah bibir media. Nyonya Jung segera mengadakan rapat darurat dengan para komisaris juga pemegang saham yang menuntut pertangung jawabannya sebagai CEO. Semua orang di berbagai tempat menjadikan berita ‘terancam bangkrutnya Jung Grup’ sebagai bahan utama. Seakan tak ada hal yang lebih menarik untuk dibicarakan, tak terkecuali di K-School.

~~~~~~~~~~~~~~

“Kukira kau takkan berada disini lagi.” Raina tersenyum manis pada Jessica sambil memamerkan  tongkat golf rancangan desainer terkenal miliknya. Ekskul golf di sekolah ini merupakan ekskul yang hanya diikuti pewaris perusahaan. Orang-orang yang menempati kasta tertinggi di sekolah mereka. Seperti sebuah tradisi sekolah ini membagi siswanya menjadi beberapa kasta. Kasta pertama pewaris perusahaan, kasta kedua pewaris saham, kasta ketiga anak dari pejabat publik dan yang terakhir kasta keempat sekaligus terendah ditempati orang-orang dari kelas peduli sosial.

Jessica berusaha menutup mata dan menulikan telinganya. Ia hanya berpegang pada janji ibunya, bahwa wanita paruh baya tersebut akan menyerahkan Jung Grup padanya dalam keadaan sempurna. Jessica berusaha menjalani kehidupan ‘normalnya’ di sekolah. Raina kembali tersenyum padanya. “Kali ini apa kau yakin Taeyeon mau terjatuh ke dalam lumpur bersamamu?”

Jessica diam, ia terlalu lelah untuk mendebat.

“Kenapa kau harus menjadi orang yang paling khawatir tentang itu Raina-ssi?” Yuri kembali melibatkan dirinya. Matanya berkilat tajam, Raina tentu saja tak punya keberanian untuk mendebat Yuri. Gayoon dan Hyuna menarik tangan Raina dan pergi dari sana.

“Setidaknya katakan sesuatu pada mereka! Apa kau tidak merasa tersinggung?!” Yuri memegang tanganya namun Jessica buru-buru menepisnya.

“Sikapmu selama inilah yang membuat mereka semakin merendahkanku!” Jessica menatap mata Yuri dan menangis. Untuk pertama kalinya, gejolak perasaan itu tak lagi membuat Jessica mampu bertahan di balik topeng tegarnya. Ia mengingat bagaimana cara menjijikan orang menatap dirinya. Bagaimana cara mereka mencemooh Jessica dengan tatapan mereka. Apa yang Raina juga teman-temannya lakukan hanya sebagian kecil dari apa yang Jessica alami.

Bertunangan dengan Taeyeon hanya demi perusahaan saja sudah cukup. Jessica tak mau orang-orang menganggapnya mendekati Yuri juga untuk mendapat keuntungan lebih. Ia bukan seorang pesakitan yang harus diasingkan. Jessica hanya seorang gadis biasa yang mengorbankan cinta juga masa depannya untuk keluarganya. Benar, jika ia mengenali Yuri sejak awal. Benar jika Jessica mengingat pertemuan pertama mereka juga permintaan yang pernah ia janjikan pada Yuri. Benar Jessica mencintai gadis tanned itu. Benar jika pemicu detak jantungnya selama ini adalah Yuri tapi apa itu bisa merubah semuanya? Tidak.

“Aku tidak butuh dirimu Kwon Yuri, jadi biarkan Taeyeon saja yang melindungiku.”

Maybe if I got over you
Perhaps I wouldn’t know such tears
My heart was once loving
But farewell makes it not calm anymore
The one I love won’t come back again,
The one I’m madly in love with
My heart is only faithful to you, waiting is all that I can do

I love you and…
Throughout the night I try to erase you from my mind
You’re right in front of me, yet I cannot reach you
I can’t forget you, I miss you
What I breathe is like death
I am to scared

~~~~~~~~~~~~~~~

“APA KAU BUTA?!” Teriakan Yuri membuat seluruh aktifitas anak-anak di kantin K-School terhenti sementara. Sudah sejak lama mereka tak mendengar Yuri berbicara dengan suara sekeras itu. Sejak Jessica menginjakkan kakinya pertama kali ke sekolah ini Yuri yang awalnya selalu membully anak-anak dari kelas peduli sosial berubah. Namun, hari ini kebiasaan lama tersebut sepertinya kembali.

Himchan berdiri depan Yuri dengan kaki gemetar. Jika saja ia tidak berhati-hati dan memperhatikan jalan ia takkan tersandung dan membuat makanan yang dibawanya tumpah dan mengotori sepatu Yuri.

“A-aku sungguh minta maaf.” Himchan berkata dengan sungguh-sungguh.

“Menurutmu jika kata maaf itu berguna, untuk apa ada polisi dan penjara?” jawab Yuri angkuh. Ekspresi tenangnya justru membuat Himchan semakin ketakutan. Di sekeliling mereka murid-murid yang lain mulai berkerumun dan menjadikan penderitaan Himchan sebagai tontonan yang menarik.

Sooyoung menatap Himchan dengan perasaan iba namun ia tak bisa berbuat apa-apa sementara pandangan Hyoyeon tertuju pada Jessica yang juga ada disana. Dulu, gadis itu yang bisa menghentikan kekacauan ini tapi sekarang Hyoyeon ragu. Yuri bahkan sudah tak pernah membicarakan Jessica lagi, seakan nama itu adalah kata terlarang dalam kamus hidupnya. Dari kejauhan Jessica memandang Yuri dengan tatapan sayu sementara Yuri tak sedikitpun melihat ke arahnya. Tak sekalipun, sejak hari itu. Bukankah itu yang Jessica inginkan?

“Kurasa akhir-akhir ini aku terlalu baik.” Yuri berdiri dari kursinya sambil menjatuhkan baki berisi makanan miliknya ke lantai. Makanan itu jatuh berantakan bersatu dengan makanan milik Himchan yang lebih dulu jatuh. Himchan semakin ketakutan.

“Berlututlah.” Perintah Yuri. Himchan berlutut sambil berusaha menahan airmatanya saat seragamnya bersatu dengan lantai yang kotor. Untuk kalangan atas seperti kebanyakan siswa disini seragam seharga satu juta won mungkin tak seberapa tapi untuk dirinya yang hanya merupakan anak dari pegawai kantor rendahan seragam tersebut sangat berharga. Himchan ingat orangtuanya berpesan agar ia menjaga seragam itu baik-baik. Himchan ingat bagaimana wajah senang orangtuanya saat Himchan masuk sekolah tersebut sebagai murid beasiswa.

“Masa depanmu akan cerah jika kau masuk kesana. Murid lulusan K-School akan diterima dengan mudah di universitas manapun di negeri ini.”

“Bersihkan sepatuku!” Yuri berujar lagi. Himchan mengelurkan sapu tangan dari saku blazernya dengan tangan gemetar.

“Bukan dengan sapu tangan tapi… jilat.” pernyataan Yuri yang selanjutnya membuat mata Himchan membulat. Laki-laki itu segera mendongak dan menatap mata Yuri, berharap ada pengampunan untuknya. Ia tau sebagai siswa kelas peduli sosial melawan Yuri bukan hal yang bisa dilakukannya. Yuri bisa melakukan apapun, bukan hanya padanya tapi juga pada ayahnya yang memang bekerja pada Kwon Grup.

Bukan hanya Himchan yang terkejut tapi semua orang. Bahkan Hyoyeon juga beranggapan kali ini Yuri sudah sangat keterlaluan.

“Kapan aku meminta pendapatmu Kim Hyoyeon?” Yuri berkata sambil mendorong tubuh gadis yang lebih pendek tersebut sebelum pandangannya beralih kembali pada Himchan. Menunggu lelaki tersebut menjilat sepatunya.

“Kalau kau melakukannya aku akan memaafkanmu dan melupakan kejadian ini.”

Himchan mengepalkan tangannya dan menunduk perlahan.

“Hentikan!” kali ini giliran Jessica yang bersuara. Yuri tersenyum sinis tanpa melirik Jessica sedikitpun.

“Kau keterlaluan Kwon Yuri.”

“Wae? Apa kau mau menggantikannya?” Balas Yuri. Jessica tersentak, Yuri tak pernah berbicara dengan nada sedingin itu padanya. Menyadari Jessica tak kunjung membalas perkataannya Yuri tau jika gadis itu tak punya apapun lagi yang ingin ia sampaikan. Dalam sekejap dari seorang pahlawan super Yuri sudah berubah sempurna menjadi penjahat. Pandangannya beralih kearah Himchan.

“Apa sekarang kau juga tuli? Lakukan!”

Jessica berbalik dan memejamkan matanya. Yuri menjauhkan kakinya tepat sebelum Himchan benar-benar menjilat sepatunya. Kali ini Yuri melirik punggung Jessica sekilas sebelum pergi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kembali menjadi penyelamat, Presdir Kim menawarkan proyek taman hiburan di pulau Jeju pada Jung Grup. Kerjasama tersebut berhasil menstabilkan saham Jung Grup yang tengah goyah. Tidak sampai disitu, dengan bertambahnya kerjasama Kim dan Jung Grup maka pertunangan Taeyeon dan Jessica pun kembali menjadi buah bibir.

“Nona Kim anda harus ikut dengan kami.” Malam itu Taeyeon sedang menghabiskan waktunya di rumah Jessica saat sekelompok bodyguard suruhan ayahnya menyeretnya keluar. Taeyeon yang tidak mengerti tentu saja berontak. Gadis itu baru berhenti saat sekretaris Yoon memperlihatkan sesuatu padanya.

Berita tentang Jessica berikut foto-fotonya bersama seorang pria di kamar hotel.

Entah darimana atau dari siapa berita itu berasal yang pasti sekarang Jessica sangat tertekan. Foto itu memang dirinya tapi Jessica berani bersumpah ia tidak mengenal siapa pria yang bersamanya, Jessica juga tidak ingat kapan foto itu diambil. Nyonya Jung berusaha menjelaskan tapi Presir Kim yang keras hati terlanjur membatalkan pertunangan Taeyeon dan Jessica.

“Appa! Kenapa appa melakukannya?!” Taeyeon tentu saja tak terima dengan keputusan sepihak sang ayah. Namun ia tak bisa berbuat banyak, bahkan sekedar untuk menyelamatkan Jessica yang kembali di bully di sekolah. Kali ini bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Tidak ada seorangpun yang berdiri di sisinya. Tidak ada Taeyeon. Tidak ada Yuri. Bahkan IU saja selalu menghindarinya, tapi Jessica mengerti gadis itu tak ingin menderita seperti dirinya. Jessica juga tak ingin membiarkan sahabatnya menderita seperti dirinya.

Setelah lelah menghancurkan semua barang di dalam kamarnya Taeyeon hanya bisa menunduk. Bersandar ke pintu sambil menenggelamkan wajah diantara lututnya. Tidak ada gunanya. Taeyeon sudah mencoba berbagai cara tapi ia tetap tak bisa keluar dari kamar ini. Dengan belasan bodyguard yang menjaga pintu dan mengawasi setiap pergerakannya tertutup sudah kemungkinan Taeyeon untuk melarikan diri dari tempat ini.

“Sooyeon maaf. Maafkan aku!”

“T-tolong!” Teriak Jessica di sela suara kecipak air. Bermaksud menenangkan diri dengan berenang Jessica berakhir hampir tenggelam di tengah kolam karena kaki dan tangannya kram.

Tidak ada seorangpun disana saat itu selain dirinya. Jessica berusaha kembali meminta pertolongan namun suaranya tercekat, percuma saja, takkan ada yang datang. Ia tak bisa lagi mempertahankan kepalanya di permukaan. Paru-parunya mulai dipenuhi air dan pandangannya mulai menutup perlahan.

“Selamat pagi paman!” Hyoyeon berdiri di depan kediaman keluarga Kim sambil tersenyum. Presdir Kim yang baru selesai melakukan jalan paginya tersenyum.

“Hyonie.. sudah lama sekali sejak terakhir kau datang kemari.” Presdir Kim menyambut Hyoyeon dalam pelukannya. Walau hubungannya dan Taeyeon retak akhir-akhir ini tapi Hyoyeon tetaplah keponakan kesayangan Presdir Kim.

“Memang sudah lama, aku sengaja datang karena merindukan paman.”

“Kau pandai bicara seperti ayahmu.”

“Jeongmal? Terimakasih pujiannya paman.” Hyoyeon tersipu dan membuat Presdir Kim tergelak. “Sebenarnya paman aku datang kemari untuk menemui Taeyeon.”

“Taeyeon?”

“Kami sebenarnya punya tugas akhir yang harus dikerjakan bersama dan aku tidak bisa melakukan apa-apa karena Taeyeon tidak pernah datang kesekolah.” Hyoyeon beralasan. Presdir Kim tidak berpikir terlalu lama dan mempercayai alasan Hyoyeon.

“Kau memang anak yang rajin. Masuklah, Taeyeon ada di kamarnya.” Presdir Kim pamit setelah Hyoyeon mengucapkan terimakasih sekali lagi. Hyoyeon mengamati keadaan sekitar sebelum masuk ke dalam.

“Seberapa parah?” Sooyoung bertanya melalui earphone di telinganya.
“Boleh dibilang.. cukup menantang.” Hyoyeon tersenyum penuh percaya diri. Di halaman depan saja mereka sudah melihat 5 orang bodyguard yang berjaga layaknya serdadu. Masuk ke dalam rumah Hyoyeon kembali mendapati 5 orang bodyguard yang berjaga di depan tangga serta dua orang lainnya di depan pintu kamar Taeyeon.

Hyoyeon tersenyum geli membayangkan dirinya merupakan seorang pangeran yang akan menyelamatkan pangeran lainnya dari seekor naga. Mereka -Hyoyeon dan sooyoung- berencana membantu Taeyeon kabur. Keduanya tidak tahan saja melihat Jessica yang selalu di bully di sekolah dan Yuri -jangan harapkan anak itu-  yang sudah tidak peduli lagi pada Jessica sepertinya tidak berencana melakukan apapun. Akhir-akhir ini yang dilakukannya hanya pulang pergi luar negeri untuk membantu bisnis orangtuanya, sama seperti Taeyeon sekarang Yuri jarang sekali datang ke sekolah.

“Business trip my ass, aku tau si hitam itu hanya menghindar.” Di seberang sana Sooyoung mengatakan hal yang baru saja terlintas di kepala Hyoyeon.

Taeyeon mendengar pintu kamarnya diketuk lembut. Seseorang meminta ijin masuk. Taeyeon tak peduli, ia hanya menatap kosong pada jendela. Itu mungkin pelayan yang hanya ingin mengantarkan makanan dan membereskan kekacauan yang Taeyeon buat lalu pergi seperti biasanya. Jika yang datang bukan pelayan bisa jadi itu ibu tirinya -yang menurut Taeyeon- pura-pura khawatir padanya. Khawatir karena sudah 3 hari Taeyeon tak menyentuh makananannya. Lelah meminta pada akhirnya Taeyeon hanya diam dan tak bersuara.

“Bangunlah!” Taeyeon menegakkan tubuhnya. Suara itu, jelas sekali bukan suara pelayan maupun suara ‘ibunya’.

“Hyoyeon?”

“Saatnya menyelamatkan sang puteri.”

Disaat Jessica merasakan tubuhnya semakin ringan gadis itu bertanya, apa ia  benar-benar akan berakhir seperti ini?

Cahaya. Jessica membuka matanya dan melihat cahaya juga sebuah wajah.

“Noona gwenchanayo?” Baro bernafas lega. Setelah 15 menit melakukan CPR akhirnya usahanya membuahkan hasil. Jessica terbatuk dan mengeluarkan sejumlah air dari dalam mulutnya. Nafasnya masih serasa sesak namun Jessica berusaha duduk dengan bantuan Baro. Laki-laki itu juga membalut tubuh Jessica yang kedinginan dengan handuk.

“Gomawo..” Jessica mengucapnya dengan suara pelan.

“Gwenchana noona. Semuanya baik-baik saja sekarang.” Baro kembali menenangkannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Noona yakin baik-baik saja? Aku bisa mengantarmu?” Baro bertanya sekali lagi, Jessica menggelengkan kepalanya. Keduanya sudah berada di luar gedung olahraga. Jessica tersenyum meyakinkan walau begitu Baro tidak bisa menyembunyikan wajah cemasnya, setelah apa yang terjadi hari ini siapapun pasti akan lebih mengkhawatirkan Jessica. Belum lagi wajah Jessica masih terlihat pucat.

Baro mengantarnya sampai gerbang depan. Keduanya sedang menunggu kedatangan Taeyeon. Beberapa saat lalu gadis itu menghubungi Jessica dan menanyakan keberadaannya.

Taeyeon turun dengan tergesa dari dalam taksi. Dengan baju yang ia pinjam dari Hyoyeon, Taeyeon berhasil meloloskan diri. Mereka sepakat untuk bertukar tempat sementara waktu.

Begitu melihat Jessica, Taeyeon langsung menenggelamkan gadis blonde itu dalam pelukannya. Selama seminggu ini ia sungguh mencemaskan Jessica sampai rasanya mau mati. Taeyeon tau, dengan segudang rencana jahatnya untuk Yuri beberapa waktu lalu seharusnya melihat Jessica terluka merupakan hal yang paling ia inginkan. Pembatalan peetunangannya dengan Jessica merupakan apa yang selama ini diharapkannya tapi tidak, dengan semua hal yang telah terjadi saat ini Taeyeon sama sekali tak menginginkannya, ia sama sekali tidak bahagia, ia hanya ingin Jessica baik-baik saja. Taeyeon sadar jika apa yang dikatakan Hyoyeon benar. Taeyeon bermain dengan perasaan dan pada akhirnya ia terjatuh dalam permainannya sendiri.

~~~~~~~~~~~~~~~

“Aku sudah memasukan obat ke dalam minuman Jessica sebelum dia berenang. Aku yakin gadis itu akan tenggelam.” Gayoon tersenyum licik. Raina dan Hyuna juga ikut tersenyum, hal itu terus berlangsung sampai Yuri datang.

“Bukankah aku sudah memperingatkan kalian sebelumnya untuk berhenti mengganggunya?!” Teriak Yuri dan membuat Raina cs ketakutan.

“K-kami hanya m-memberinya pelajaran.”

“Kalian akan menerima pembalasan dariku jika terjadi sesuatu padanya!”

“Yuri-ah-”

“Apa kalian mengerti?!”

“N-ne.”

Setelah Raina dan kawan-kawannya pergi Yuri langsung menekan sederet angka di ponselnya untuk menghubungi seseorang. “Baro-ya selamatkan Jessica!”

Yuri menghela nafas dan menyandarkan punggungnya ke dinding. Walau terkesan tak peduli selama ini Yuri selalu memperhatikan Jessica, bagaimanapun mengalihkan perhatian seluruhnya dari gadis itu bukanlah sesuatu yang pandai ia lakukan. Yuri selalu memperhatikan Jessica tapi tak pernah datang langsung padanya, bukan karena Yuri tak mau tapi karena Jessica tak menginginkannya. Tidak ada seorang pun yang tau seberapa besar keinginan Yuri untuk berlari melindungi gadis itu tapi sekali lagi Yuri tak bisa, karena keadaan seperti inilah yang Jessica minta padanya.

“Yeobuseyo?”

“Kami sudah menemukan siapa orang yang menyebar foto-foto tersebut.”

“Jinja? Nuguya?”

“IU Lee.”

~~~~~~~~~~~~~~~~

“Jangan sentuh itu!!” IU tiba-tiba datang dan merebut benda itu dari tangan Jessica dengan emosi. Gadis blonde itu tersentak, siapa sangka IU akan semarah itu.

“Mianhe.” ucap Jessica sementara IU masih memegang buku tahunan itu di dadanya dengan wajah memerah. Keduanya terdiam sampai IU berdehem untuk menetralisir suasana canggung diantara mereka. Gadis itu sadar jika sikapnya sangat berlebihan, Jessica pasti heran
karenanya.

“M-maaf. Aku hanya tidak suka siapapun melihatnya.”

“Gwenchana, aku yang seharusnya minta maaf karena
sudah melihat benda milikmu tanpa ijin.”

“Gwenchana.. aku saja yang berlebihan.” IU tersenyum dan membuat Jessica ikut tersenyum. Setelahnya IU mengamit lengan Jessica.

“Bagaimana kalau kita pergi ke club?”

“Club?” Jessica memastikan. IU mengangukkan kepalanya semangat.

Jessica sebenarnya agak risih karena ini pertama kalinya ia pergi ke tempat seperti ini. Musik berdegup kencang dan memekakan telinga namun IU nampak menikmati semua itu. Gadis itu seperti sudah terbiasa dan langsung bisa berbaur dengan kerumunan orang yang memang datang ke tempat seperti ini untuk mencari kesenangan.

Mereka duduk di kursi depan bar sambil memesan orange jus. Tanpa sepengetahuan Jessica, IU menyerahkan bungkusan kecil pada bartender dan mengedipkan sebelah matanya. Meminta sang bartender mencampur serbuk yang ada dalam bungkusan kedalam minuman Jessica.

“Dia terlalu naif dan percaya bisa mabuk hanya karena segelas tequilla.” IU berujar. Tak lagi menyembunyikan dirinya dalam topeng gadis polos seperti apa yang selama ini ia perlihatkan pada Jessica. Ialah orang yang sudah menjebak Jessica. IU sengaja mencampur minuman Jessica dengan obat bius, membawanya ke hotel dan mengambil foto-foto toplessnya bersama laki-laki lalu menyebarkannya di internet. IU merencanakan semua itu dengan sempurna.

Yuri berdiri di depannya dengan wajah tenangnya. Berbeda dengan IU yang tak bisa lagi menahan emosinya. Rencananya. Semuanya hampir berhasil, nyaris berhasil, andai saja Yuri tidak mengungkap semuanya.

“Kenapa kau melakukannya?”

“Karena aku mencintai Taeyeon. Alasanku kembali ke Korea hanya untuk Taeyeon, aku sudah menunggu sangat lama tapi yang dia lihat hanya Jessica.. apa kau tau rasanya menjadi aku?”

“Perasaanmu.. tidak bisa menjadi alasan untuk membenarkan tindakanmu, Jieun-ssi. Jessica percaya padamu… dan kau mengkhianatinya.”

Mau mendengar kisah? Tentang si cantik dan Si Buruk Rupa. Bukan seorang putri dan seorang pangeran, hanya sepasang gadis kecil yang duduk di taman kanak-kanak. Si Cantik adalah Kim Taeyeon sementara Si Buruk Rupa adalah Lee Jieun. Seperti dalam kisah klasiknya, Si Buruk Rupa menyukai Si Cantik tapi Si Cantik menolak karena ia, karena gadis itu seorang buruk rupa.

“Taeyeon adalah pangeranku.”

“Aniyo.. aku tidak mau denganmu Jieun-ah, kau itu jelek!”

“Sekarang aku mengerti kau memang jelek Jieun-ssi. Namun yang jelek itu bukan wajahmu tapi.. hatimu.” Yuri berbalik dan pergi sementara IU jatuh berlutut dan menangis.

~~~~~~~~~~~~~~~

Esok harinya media pemberitaan Korea dihebohkan dengan pemberitaan keterlibatan IU dalam skandal Jessica. Sejak hari itu pula nama Jessica kembali bersih namun hal yang sebaliknya terjadi pada IU. Semua orang mengetahui masa lalunya sekarang. Ia menjadi murid yang paling dikucilkan di K-School.

Banyak rumor yang beredar bahwa IU sudah sering melakukan operasi plastik untuk merubah wajahnya. Wajah cantik itu tidak ia dapat secara alami. IU juga sengaja pindah ke Amerika dan mengganti namanya dari Lee Jieun menjadi IU Lee.

“Lihatlah apa yang bisa uang lakukan. Seekor bebek saja bisa berubah menjadi angsa.” Raina mencemooh sambil menatap TV plasma yang dipasang di kantin sekolah mereka, yang sedang menampilkan foto-foto lama IU dan membandingkannya dengan fotonya saat ini. IU hanya bisa bersembunyi di balik pilar, tidak berani menemui siapapun. Jessica menjadi salah satu dari sekian murid yang ia lihat berkumpul di depan televisi.

“Jessica-ssi kami minta maaf karena sudah beranggapan salah terhadapmu.” Raina beralih kearah Jessica.

“Yang bitch itu ternyata temanmu.” Raina kembali bersuara. Jessica mengertakan giginya, walau IU sudah melakukan sesuatu yang sangat buruk padanya ia tetap tak terima jika seseorang memanggil IU dengan sebutan kotor seperti itu.

“Jaga mulutmu Raina-ssi sebelum sepatuku mendarat disana!”

~~~~~~~~~~~~~~~~

IU menemui Jessica di lorong sekolah tempat pertama mereka bertemu sambil membawa segenggam maaf. Mereka saling pandang untuk beberapa saat. Keduanya tau, setelah apa yang terjadi semuanya tak akan pernah sama lagi, takkan pernah.

“Aku tau aku tak pantas mengatakan ini tapi tetap… maafkan aku.”

“Aku.. tidak bisa.” Ucap Jessica terluka. “Aku adalah orang jahat jadi jangan merasa bersalah terhadapku.” Lanjutnya. Ia tau IU akan pergi setelah ini, itu artinya Jessica akan kehilangan.

“Ne, a-aku sama sekali tidak merasa bersalah.” IU mulai terisak, Jessica memalingkan wajahnya.

“Pergilah… hiduplah lebih baik di tempat lain.” Jessica berbalik dan pergi.

“Jessica tunggu!”

“Apa?”

~~~~~~~~~~~~~~~~

Bermain bola tangan, Jessica sangat benci dengan permainan yang menguras tenaga. Belum lagi fakta bahwa Raina cs selalu menjadikan permainan ini sebagai kegiatan untuk menganggunya. Gayoon sengaja melempar bola yang seharusnya diarahkan pada Jessica ke tempat yang jauh dan sulit Jessica jangkau.

“Ups! Mian! Aku tidak sengaja.” Gayoon berdalih saat Han Ssaem menatapnya tajam.

Jessica terus berlari mengejar bola yang terus menggelinding menjauh. Benda bulat tersebut baru berhenti menggelinding setelah mengenai kaki seseorang. Jessica mendongakkan kepalanya dan mendapati Yuri, Sooyoung dan Hyoyeon berdiri di hadapannya.

Mereka bertatapan sekilas sebelum Yuri membuang pandangannya. Hyoyeon dan Sooyoung sibuk menyapa siswa lain juga Han Ssaem sekaligus meminta maaf karena datang terlambat. Semua ini karena Sooyoung menghabiskan lebih dari 2 jam hanya untuk sarapan.

Jessica masih menatap Yuri namun disaat gadis blonde itu akan mengeluarkan suaranya Yuri sudah berjalan melewatinya begitu saja.

“Kwon Yuri adalah orang yang membuatku sadar Jessica.” Perkataan IU di pertemuan terakhir mereka kembali terngiang di telinga Jessica.

“Dia selalu memperhatikanmu, selalu.”

That’s not how I feel but I made you sad again
That’s not how I feel, I’ve never hated you
I hope our love will never change
I hope we will always smile
Thank you

So many things happened so far
There were times when things were hard and tiring
Love is still so hard for us
I’m sorry

That’s not how I feel but misunderstandings bring other misunderstandings
That’s not how I feel, you’re still so great
I hate myself for being the fool who keeps repeating my mistakes
I’m always only about you
.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

I tried my best but sorry for failed part guys *bow*

Drabble #23 (YulSic)

Posted: Februari 25, 2015 in drabble, ff snsd, yulsic
Tag:, ,

Drabble #23

Yuri yang masih mengantuk melangkah kedapur untuk mengambil segelas air. Sudah menjadi kebiasaannya setiap bangun pagi langsung meneguk segelas air. Kepalanya serasa berputar. Semalam ia pulang sangat larut dari kantor, itu karena pesta yang diadakan sang ayah mertua untuknya. Pesta untuk merayakan pengangkatannya sebagai CEO baru KJ-Won Coporation.

Selesai minum perhatian Yuri langsung tertuju pada sebuah piring diatas meja. Piring itu berisi sesuatu yang tak jelas bentuknya, hitam, dan keras. Sangat keras sampai Yuri berpikir bisa menjadikannya bola baseball. Kalau lebih beruntung lagi Yuri bahkan bisa membuat homerun dengan benda ini. Ngomong-ngomong Yuri adalah pemain baseball terbaik di kampus semasa ia kuliah.

“Ah.. ini pasti buatan Yoong.” Yuri ingat sekarang. Kemarin anak semata wayangnya tersebut bilang Taman Kanak-kanak tempat ia sekolah memang mengadakan lomba membuat kerajinan dari tanah liat. Tak lama setelahnya Jessica melangkah ke dapur, namun setelahnya ibu muda itu keheranan melihat ‘suaminya’ yang tertawa-tawa sambil memegang-

“Ya! Kwon Yuri apa yang-”

“Wae? Aku cuma mau melihatnya sebentar. Ini buatan Yoong kan?” tanya Yuri penuh percaya diri. Wajah Jessica memerah.

Yuri pikir Jessica marah padanya karena ia menertawakan hasil karya anak mereka. “Bukan begitu maksudku Sica. Aku cuma ingin tertawa saja setiap melihat bentuknya… sebenarnya apa yang Yoong pikirkan saat membuatnya? Bentuknya klise sekali, menurutmu ini bentuk apa?”

Bukannya menjawab, Jessica malah mendelik tajam.

“Arraseo, aku tidak akan menyakiti hati Yoong. Bagaimanapun aku ini adalah ayah yang baik. Walaupun bentuknya hancur, aku akan tetap memberinya pujian.” Yuri mengangukkan kepalanya mantap.

“Ini keras sekali. Jika tidak digunakan untuk bermain baseball kita bisa menggunakannya untuk lempar tangkap bersama Hani.” Kwon Yuri memang briliant.

Tak lama setelahnya, Yoona datang ke dapur sambil mengucek matanya. Anak itu juga masih menggunakan piyama bergambar rusa yang Yuri belikan untuknya minggu lalu.

“Appa! Appa mau lihat kerajinan buatan Yoong?”

“Appa sudah melihatnya Yoong. Ini kan?” Yuri menunjukkan benda di tangannya tapi Yoona menggeleng.

“Bukan. Tapi ini..” Yoona mengambil tanah liat berbentuk keroro dari saku piyamanya dan menunjukkannya pada Yuri sambil tersenyum. “Bagus kan appa?”

“Ne.” Bagus. Lebih ‘berbentuk’ dari benda yang Yuri pegang. Tapi tunggu! Jika ini bukan buatan Yoong lalu-

“Itu cokelat muffle buatanku.” ucap Jessica tenang. Skat mat!! Yuri dapat merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri.

“B-begitu ya baby.. ini terlihat mengagumkan.”

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

Pertama. Jessica dan segala hal yang berhubungan dengan dapur bukan pasangan serasi.

Kedua. Kwon Yuri. CEO baru KJ-Won tidaklah begitu pintar.

“Yoong?” Taeyeon keheranan melihat Yoona yang berdiri sendirian di depan pintu rumahnya. Padahal seharusnya Yoong datang bersama Yuri dan Jessica. Wanita pendek itu ingat betul ia sudah memberitahu YulSic tentang pesta ulang tahun Tiffany sejak seminggu lalu. Mereka tidak lupa, iya kan?

“Orang tuamu mana?”

“Aku datang duluan karena appa dan umma sedang bermain gulat. Ahjussi, Hyunnie ada kan?”
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Hit Me Baby (Oneshot)

Posted: Februari 20, 2015 in ff snsd, one shot, yulsic
Tag:, , ,

Tittle : Hit Me Baby
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Comedy Romantic
Lenght : Oneshot
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri and Other Cast

Hit Me Baby
.
.
.
.
.
.

Dulu Jessica pernah mendengar peribahasa yang berbunyi ‘Semakin manusia dibatasi semakin manusia tersebut ingin melewati batas itu’. Peribahasa ini maknanya hampir sama dengan paham yang Jessica anut saat ini. ‘Semakin sering melihat Kwon Yuri maka semakin kau ingin memukul wajahnya’.

Hari pertama, Jessica terbangun dan mendapati wajah mesum Yuri saat ia membuka pintu kamar. Jessica baru ingat jika sekarang ia punya teman ‘serumah’ yang sangat manis.

Yuri mengangkat spidol permanen yang sedari tadi di pegangnya seraya menyeringai kearah Jessica.

“Kau lihat garis pembatas itu? Kanan milikmu dan kiri milikku. Untuk menjaga privasi masing-masing terutama privasiku mulai sekarang kita berbagi wilayah. Jangan berani masuk ke wilayahku atau kau akan mati, arraseo?!” Yuri memperingatinya. Demi semua timun di dunia, rasanya Jessica adalah orang yang lebih pantas berkata seperti itu. Ia, adalah pihak yang jelas-jelas selalu dirugikan disini.

Masih dengan mulut terbuka Jessica menelusuri garis yang telah Yuri buat. Si hitam itu benar-benar merencakan semuanya dengan sempurna, dan ini tidak adil. Wilayah Yuri terdiri dari satu kamar, ruang tamu dan ruang keluarga sementara wilayah Jessica terdiri dari satu kamar, kamar mandi dan dapur.

“Tidak perlu protes, jika dihitung luasnya sama.”

“Apanya yang sama, dasar idiot!!” Jessica murka, tapi Yuri tidak peduli. Ia memang sudah merencanakan ini sejak semalam. Tidak masalah jika Yuri harus kehilangan dapur, lagipula ia bisa makan diluar atau memesan makanan siap saji sedangkan masalah kamar mandi Yuri tak perlu khawatir karena kamarnya memiliki kamar mandi sendiri. Kwon Yuri, benar-benar pintar dan menawan.

“Awas kau!!” geram Jessica seiring rencana-rencana jahat tentang cara-bagaimana-melenyapkan-kwon-Yuri-dengan-cepat berseliweran di kepalanya. Yuri pura-pura tuli. Gadis tanned itu berjalan menjauh seraya bersenandung kecil.

“Pagi yang indah~”

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

“Kau ingin mengalahkanku? Kau perlu belajar banyak!” Kali ini giliran Jessica yang menyeringai. Gadis blonde itu berdiri penuh kemenangan di depan pintu keluar. Wilayah yang sampai kapanpun takkan bisa Yuri injak dengan kakinya. Karena terlalu bersemangat saat membuat garis batas tadi pagi, Yuri baru sadar jika pintu keluar ada di wilayah Jessica. Kenapa pintu akses yang memisahkan dirinya dengan alam bebas harus ada di wilayah gadis penyihir tersebut. Miris. Yuri terus meruntuki kebodohannya.

“Kau benar-benar takkan mengijinkanku melewati garis itu?” Tanya Yuri putus asa. Jessica menjawab dengan anggukkan mantap. Yuri sudah terlambat pergi ke lokasi syuting sementara Jessica masih berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. Layaknya tentara yang menjaga daerah perbatasan suatu negara. Siap mempertaruhkan hidup dan matinya.

“Aigoo! Jinja! Lalu bagaimana aku bisa keluar?”

“Kau bisa membuat lubang di dinding wilayahmu.” jawab Jessica enteng.

“Micheseo?!”

“Ah.. benar juga. Setelah kupikir itu akan merusak dindingnya. Bagaimana kalau kau loncat saja dari jendela? Itu cara tercepat dan termudah.”

“Baiklah. Apa maumu?” Yuri mengacak rambutnya frustasi. Jessica tersenyum penuh kemenangan. Sejak awal Kwon Yuri sudah salah karena menyalakan genderang perang diantara mereka.

“Kita gambar lagi garis pembatas ini dari awal. Dan kali ini kau dan aku yang melakukannya. Akan kupastikan kau tidak bisa berbuat curang lagi kali ini karena aku akan benar-benar menghajarmu jika kau kembali melakukannya!”

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

YC Entertainment, Seoul

“Bukankah aku sudah menyuruhmu mengawasinya?” Presdir Park -presdir Manajemen tempat Yuri bernaung- menggebrak meja di hadapannya. Manajer Yun mulai berkeringat dingin.

“Rasanya aku sudah bosan mendengar keluhan dari setiap kru yang syuting bersamanya!” Kesal Pria paruh baya tersebut. Pasalnya ini bukan pertama kalinya Yuri terlambat atau tiba-tiba menghilang dari lokasi syuting. Sebenarnya kapan bocah itu akan bersikap profesional sekali saja. Presdir Park kembali menghela nafas, kali ini ia berencana memarahi Yuri habis-habisan.

Beberapa saat setelahnya Yuri datang ke ruangan Presdir Park sambil mengunyah permen karet. Sama sekali tidak merasa sudah melakukan kesalahan apapun. Saat Yuri datang wajah kesal Predir Park langsung dibuat-buat ramah. Nada keras yang ia gunakan saat berbicara dengan Manajer Yun pun diturunkan beberapa oktaf.

“Yuri-ah bagaimana kabarmu?” tanya Presdir Park. Yuri melepas kacamata hitamnya setelah duduk di kursi yang tepat berada di depan Presdir. Gadis tanned itu lantas memijat daerah di kedua matanya.

“Beberapa hari terakhir sangat melelahkan.” Yuri menjawab sambil mendelik ke arah Manajer Yun. Pria berkacamata tersebut menelan ludahnya -lagi.

Presdir menarik nafas panjang, ia berencana menumpahkan semua unek-uneknya pada Yuri. “Yuri-ah kau tau kan pagi ini Produser Shin meneleponku-”

Sebelum Presdir Park sempat melanjutkan kata-katanya Yuri memotong. “Sebenarnya pagi ini Predir Kim dari YJ Entertainment juga meneleponku.”

Setelah mendengar pernyataan Yuri Predir Park menegakkan tubuhnya. Presdir Kim adalah saingan utamanya dalam bisnis ini. Untuk apa ia menelepon Yuri? Apa pria itu berencana melakukan cara-cara kotor untuk merebut artisnya?

“Dia bertanya kapan kontrak kerjaku denganmu berakhir.” Lanjut Yuri. Mengetahui dugaannya benar, wajah Presdir Park memucat. Ia tentu saja takkan membiarkan Presdir Kim merebut Yuri. Gadis tanned itu adalah aset perusahaan paling berharga yang dimilikinya. Jika Presdir Kim ingin merebut Yuri ia harus melangkahi mayat Presdir Park dulu. Sedetik kemudian Presdir Park menelan kekesalannya pada Yuri berikut semua unek-unek yang semula ingin ia tumpahkan pada gadis tersebut.

“Jadi, apa yang ingin Presdir katakan padaku?”

“I-itu… tidak ada. Sebenarnya Yuri-ah kalau kulihat kulitmu semakin hari semakin bersinar saja.”

“Itu karena pola hidup sehatku.”

“Uri Yuri memang orang yang ahli dalam menjalani hal itu. Begini Yuri-ah kemarin pihak Etude Cosmetic menawari kontrak kerja, kau mau melakukannya?”

“Atur saja jadwalnya.”

“Baiklah kau boleh pergi. Bersenang-senanglah.” Presdir Park melambaikan tangannya sementara Yuri meninggalkan ruangan tersebut dengan senyum kemenangan. Manajer Yun menggelengkan kepalanya. Ia sudah sering melihat hal seperti ini. Presdir Park hanya bisa marah padanya namun membentak Yuri saja tidak berani.

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

Beberapa hari tinggal bersama, Yuri dan Jessica tidak menganggap keberadaan satu sama lain. Setiap kali -tanpa sengaja- berpapasan keduanya akan saling membuang muka. Saling menyapa pun menjadi hal paling tabu di ‘rumah’ mereka.

Beberapa hari tinggal bersama juga membuat keduanya saling mengetahui kebiasaan buruk masing-masing. Orang yang terlanjur saling benci memang pada dasarnya akan selalu menganggap apapun yang dilakukan musuhnya sebagai sesuatu yang salah.

Penilaian Jessica tentang Yuri selama beberapa hari ini adalah. Pertama dia adalah artis yang arogan, sombong, berantakan, keras kepala, bodoh dan selalu seenaknya sendiri. Dan mesum tentu saja, Jessica takkan lupa yang satu itu.

Pagi ini Yuri kembali menerima beberapa paket dari fansnya. Bunga, cokelat, boneka dan sebuah cake. Namun seperti pagi sebelumnya, Yuri membuang semua barang itu ke tempat sampah. Bahkan tanpa melihat benda itu untuk kedua kalinya. Si arogan ini benar-benar tak menghargai apa yang telah orang lain berikan untuknya. Memang barangnya tidak seberapa hanya saja seharusnya Yuri memikirkan perasaan orang yang memberi itu untuknya.

Jessica menyilangkan tangan di dadanya seraya menatap Yuri penuh kebencian.

“Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu? Kalau kau menginginkannya kau bisa mengambilnya nona Jung.” Yuri tersenyum meremehkan sambil menunjuk barang-barang di dalam tempat sampah.

Tolong siapapun musnahkan makhluk jelek ini dari muka bumi sekarang juga!

Tidak hanya Jessica yang memberi Yuri penilaian, diam-diam Yuri juga memberi Jessica penilaiannya. Menurutnya Jessica adalah penyihir violent, berisik, pengatur, pemalas, dan dingin. Ya, Yuri memang berencana memanggil Jessica penyihir sampai gadis itu berhenti memanggilnya mesum.

°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•

Musim liburan akan segera berakhir dan itu sangat menyebalkan bagi Jessica. Hari ini Jessica sengaja datang ke sebuah toko untuk membeli seragam baru. Akan menjadi sejarah karena selama hidupnya Jessica tidak pernah mengenakan seragam.

Di ujung sana, Tiffany mendengarkan keluhan sahabatnya dengan seksama. Sedari tadi Jessica bercerita tanpa henti. Jessica yang ini agak banyak bicara, seperti bukan Jessica saja tapi sebagai pendengar yang baik Tiffany mencoba tidak menyela. Walau begitu saat nama ‘Kwon Yuri’ keluar dari mulut Jessica, Tiffany sempat berpikir. Entah kenapa nama itu seperti tidak asing di telinganya.

Jessica memasuki toko tersebut masih sambil menelepon. Gadis blonde itu baru memutuskan sambungan teleponnya saat seseorang menabraknya dan mengotori bajunya dengan kopi. Jessica merengut sebal, apa menabrak orang sudah menjadi hobi penduduk Korea atau semacamnya? Ini adalah baju kesayangan Jessica dan gadis itu tau betul jika noda kopi bukan noda yang mudah dihilangkan. Namun, hal yang paling membuat Jessica kesal adalah, kenapa harus orang ini -lagi. Gadis dengan penyamaran bodohnya. Seakan dunia ini tak cukup luas untuk mereka berdua.

Yuri berusaha mengalihkan pandangannya kemanapun asal bukan Jessica. Gadis tanned itu tidak berani memandang wajah Jessica yang kini menatapnya dengan wajah sangar.

“Aku tidak sengaja.” ucap Yuri angkuh. Ayolah, minta maaf tidak pernah ada dalam kamus hidupnya.

Jessica masih memandangnya kesal. “Kenapa kau dan wajah menyebalkanmu itu selalu ada di setiap tempat yang kudatangi?”

“Maaf mengecewakanmu penyihir tapi aku ini artis terkenal, orang-orang rela memberikan apapun untuk bisa bertemu denganku. Kau seharusnya bersyukur!” balas Yuri sombong.

“Tapi tunggu! Kenapa kau bisa ada disini? Kau sengaja mengikutiku? Aishhh.. seharusnya aku menduga ini dari awal.” Heboh Yuri. Jessica memutar kedua bola matanya, sama sekali tidak berniat meladeni perkataan gadis besar kepala di hadapannya. Perdebatan di rumah saja cukup.

Di dalam toko, tanpa ada perjanjian keduanya setuju untuk bersikap layaknya orang yang tidak saling mengenal. Dan Jessica dengan rela hati berusaha melupakan insiden tabrak juga kopi tumpah beberapa saat lalu.

Disisi lain Yuri sesekali mencuri pandang ke arah Jessica. Ternyata gadis blonde tersebut datang kemari untuk membeli seragam sama sepertinya. Yuri sebenarnya tidak mau pergi ke sekolah tapi Manajer Yun dan Presdir Park terus memaksanya. Semuanya gara-gara berita yang dibuat Reporter Nam. Reporter tua yang selalu cari gara-gara dengan Yuri. Sebenarnya kalaupun Yuri -dalam setahun- hanya hadir di sekolah beberapa kali itu bukan masalah. Tapi Reporter Nam membesar-besarkan masalah itu dan membuat para Netizen mengkritik Yuri. Tidak bertanggung jawab, malas, dan sebagainya.

“Karena itu Yuri-ah mulai semester baru nanti datanglah ke sekolah. Kau tidak mau kan dianggap menggunakan popularitas untuk masuk sekolah bergengsi tersebut?” bujuk Presdir Park. Yuri menghela nafas, ia tidak punya pilihan lain.

“Seragam itu tidak cocok untukmu.” komentar Yuri saat melihat Jessica bercermin di depan fitting room dengan seragam melekat di tubuhnya. Jessica melirik Yuri sebentar sambil memicingkan mata namun Yuri hanya melihat lurus cermin yang ada di hadapan mereka. Kalau dipikir lagi sebenarnya Jessica juga merasa seragam ini ukurannya terlalu longgar.

“Wajahmu terlalu tua untuk mengenakan seragam SMA.” Yuri tertawa setelah mengatakannya dan baru berhenti setelah Jessica meninju perutnya. Si bodoh itu, rasanya tak seharipun tidak meminta Jessica memukulnya.

“Dasar penyihir violent!!”

.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

P.S
Baca Juga :
1. Replay
2. In MY Room
3. Hit Me Baby
4. Lucifer

Drabble #22 (YulSic)

Posted: Februari 19, 2015 in drabble, yulsic
Tag:, , ,

Drabble #22

Malam Valentine Jessica duduk di belakang kemudi. BMW Z10 yang dikendarainya membelah jalanan Seoul yang tampak padat lancar. Ramalan cuaca tadi pagi memang mengatakan jika malam Valentine kali ini Seoul akan dinaungi cuaca yang cerah -walau dingin. Benar-benar cocok untuk pasangan muda-mudi yang mungkin merayakan malam Valentine bersama kekasih mereka.

Sementara untuk Jessica yang bukan lagi gadis SMA, membuat ‘cokelat cinta’ memang tak lagi menjadi prioritas utamanya. Setelah seharian melewati waktu yang melelahkan satu-satunya yang Jessica inginkan saat ini hanya pulang lalu tidur. Lagipula Jessica bukan tipe gadis -seperti kebanyakan gadis lain- yang tergila-gila pada hal cheesy romantic dan semacamnya. Malam Valentine dan malam lain apa bedanya?

Dengan tangan yang masih memegang kemudi, sesekali gadis blonde itu mencuri pandang ke arah ponselnya yang sengaja ia letakan diatas dashboard -supaya mudah terlihat. Benda yang tampak damai itu membuat Jessica kesal. Oke, oke! Jessica berbohong -soal tidak suka hal-hal cheesy romantic dan semacamnya- karena pada kenyataannya Jessica juga ingin melewati malam Valentine bersama orang yang ia sayangi. Terlebih lagi mereka sudah lama tak bertemu -seminggu. Jessica mengerti jika kekasihnya sedang melakukan tugas mulia, hanya saja sebagai seorang wanita ia merasa kecewa karena di nomor duakan. Bukankah, setidaknya orang itu memberinya kabar atau membalas pesan yang Jessica kirim untuknya.

“Si bodoh itu!” Jessica mendesis pelan.

Sampai di persimpangan mobil Jessica dipaksa berhenti oleh seorang polisi. Jessica mengerutkan keningnya bingung. Gadis blonde itu tidak merasa melakukan kesalahan apapun. Memang tadi ia sedikit mengumpat tapi polisi ini takkan mendengarnya bukan? Lagipula tidak masuk akal jika seseorang ditilang karena ia mengumpat. Walau begitu sebagai warga negara yang baik Jessica tetap menepikan mobilnya sesuai perintah.

“Selamat malam nona.” Sapa polisi bername tag Kwon Yuri dengan ramah seraya mempersilahkan Jessica turun dari mobilnya. Jessica mendelik sebal sebelum menjawab pertanyaan itu seadanya sambil menuruti perintah sang polisi.

“Malam.”

“Anda tau apa kesalahan anda?” Masih dengan senyuman ramah yang menghiasi wajahnya polisi bernama Yuri itu bertanya.

“Aniyo.” Jawab Jessica angkuh.

“Kesalahan anda adalah… sudah mencuri hati saya nona Jung.”

Jessica membulatkan matanya begitu polisi -yang seharusnya menilangnya- tersebut berlutut di hadapannya. Terlebih lagi ia mengatakan hal-hal aneh -namun cheesy. Paras Jessica matang, gadis itu menyuruh Yuri berdiri tapi Yuri menolak.

“Kwon Yuri apa yang-” kata-kata Jessica terhenti begitu Yuri menyodorkan kotak berisi cincin di hadapannya.

“Sica karena kau sudah mencuri hatiku kuharap kau mau bertanggung jawab. Menikahlah denganku Jessica Jung Sooyeon?” Pinta Yuri penuh harap. Gadis tanned itu masih setia berlutut menunggu jawaban sang kekasih.

Mendengar permintaan Yuri yang begitu tulus, Jessica tak lagi menahan emosinya. Gadis blonde itu menghambur kepelukan Yuri dan membuat keduanya terjatuh di atas aspal. Dalam pelukan Yuri, Jessica terisak sambil mengangukkan kepalanya.

“Babo!!”

“Aku akan menganggap itu sebagai ‘Iya’.”

Yuri berdiri bersama Jessica yang masih ada dalam pelukannya. Sedetik kemudian Yuri mendudukkan Jessica diatas kap mobil mereka lalu memasangkan cincin di jarinya.

“Saranghae.” ucap keduanya bersamaan sambil saling tersenyum. Setelahnya Yuri mengecup bibirnya lembut dan membuat para pengguna jalan yang sedari tadi menjadi penonton drama kecil itu ikut bersorak gembira.

Boleh Jessica jujur sekarang? Ini adalah Valentine terbaik yang pernah ia alami.

.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END