Archive for the ‘yulsic’ Category

Tittle : Oh My Ghost
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Gender Bender, Drama, Supranatural
Lenght : Series
Cast :
Kwon Yul
Jung Sooyeon
Kim Taeyeon
Im Yoong
Cho Kyuhyun
Choi Sooyoung
Seo Juhyun
Kim Heechul
Lee Junho
Kim Shinyoung
Other Cast

Disclaimer : This is Soshi Version of Drama ‘Oh My Ghost’. The Drama belong to TvN. The Plot and The Cast is not mine. Just For Fun.

Part : 2

 

Menjadi satu-satunya pekerja wanita otomatis membuat Sooyeon menjadi satu-satunya orang yang selalu keluar restoran terakhir. Malam ini cerah, setelah menatap langit malam beberapa saat gadis itupun melangkah pergi. Ada satu tempat yang ingin ditujunya malam ini. Pasar tradisional.

Kali ini bahan makanan yang dibeli Sooyeon cukup banyak. Gadis bertubuh mungil itu bahkan harus menyeret langkahnya saat berjalan. Tidak lama setelahnya Sooyeon sampai di kamarnya. Apartemen yang disewanya merupakan kamar kecil yang dipenuhi berbagai penangkal hantu seperti kertas-kertas jimat bertuliskan mantra, tempat pembakaran dupa, salib sampai bawang putih. Meski siapapun tahu di Korea tidak ada vampire.

Sooyeon ingat sejak masih anak-anak ia selalu bercita-cita menjadi chef terkenal. Mungkin karena itu pula ia rela bekerja di Sun Restauran meski setiap hari harus rela dimarahi. Bukankah hidup itu butuh perjuangan? Meskipun pahit selalu ada satu hal yang membuat kita semangat. Hal kecil namun sangat berarti. Kenangan yang membuat hati hangat. Sooyeon memilikinya tentu saja, salah satu kenangan masa kecilnya.

Kenangan masa kecil yang membuatnya ingin membuat bubur kubis malam ini.

Sejak kecil Sooyeon merupakan anak yang lemah dan sering sekali mengalami masalah pencernaan. Setiap hal itu terjadi sang nenek selalu membuatkannya bubur kubis. Sambil memotret semangkuk bubur kubis yang telah matang Sooyeon tersenyum, ia ingat bagaimana dulu neneknya suka menakutinya dengan jarum akupuntur jika Sooyeon tidak mau memakan bubur kubis itu.

”Memikirkan nenekku tidak hanya melegakan perutku tapi juga hatiku. Maka dari itu hari ini aku memposting resep bubur kubis ini.” Tulis Sooyeon dalam blog pribadinya. Satu rahasia dari Sooyeon yang tidak diketahui siapapun.

***
 

Keesokan harinya Sun Restoran dihebohkan oleh kedatangan Narsha Park. Seorang blogger makanan yang bahkan lebih terkenal dari selebritis. Sebutkan satu saja restoran terkenal di Korea yang belum pernah masuk situsnya, niscaya kau takkan menemukan satupun.

“Aku sangat iri padanya, kerjaannya cuma memotret dan menulis tapi dia sangat kaya.” Sooyoung bergumam sambil memandangi Narsha yang sedang sibuk dari balik meja pantry. Jenis pekerjaan Narsha adalah jenis pekerjaan yang membuat banyak orang iri.

Beberapa saat kemudian kedua alis Narsha berkerut setelah memandangi hasil bidikan kameranya. Gambarnya kurang bagus.

“Pelayan kemarilah.” Panggilnya pada Sooyeon.

“Ne?”

“Tolong panaskan mie ini. Hasil fotoku jadi kurang bagus karena mienya sudah dingin.” Perintah Narsha. Sooyeon ragu melakukannya, ada dua alasan. Pertama, mie pesanan Narsha merupakan buatan Chef, selama ini tidak ada seorangpun yang berani menyentuh masakan buatan Chef. Kedua, juga merupakan alasan yang paling penting, jika dihangatkan kembali maka mienya akan menjadi lembek.

Meski begitu Narsha tidak peduli, sebagai seorang blogger yang sudah bertahun-tahun bergelut dalam dunia kuliner Narsha tentu lebih berpengalaman dari seorang pelayan yang mungkin belum genap setahun bekerja di restoran. Wanita bermarga Park itu tetap memaksa Sooyeon dengan nada arogan.

“Kau lihat apa yang terjadi barusan?” Tanya Sooyoung. Junho menganggukkan kepalanya.

“Penilaianku berubah sekarang, daripada wanita dengan pekerjaan impian kurasa dia lebih seperti pemaksa yang berbicara seenaknya tapi memiliki sejuta pengikut.”

“Bukankah itu pengaruh internet, lagipula sekarang orang-orang lebih percaya apa yang ingin mereka percayai, tidak peduli apakah itu benar atau salah.”

“Kau benar.”

Minjun –anak Narsha- merengek minta di perhatikan ibunya. Anak berusia lima tahun itu merasa bosan karena sudah berjam-jam ia menemani sang ibu bekerja.

“Tunggu sebentar lagi sayang.” Ujar Narsha dengan tatapan tak lepas dari kamera di tangannya. Barulah setelah sang anak hampir tersiram kuah pasta panas yang dibawa Sooyeon perhatian Narsha kembali ke dunia nyata.

Sooyoung, Junho, Yoong dan Heechul ikut menoleh begitu Sooyeon menjerit. Minjun tiba-tiba menabrak Sooyeon dan hampir membuat mangkuk mie di tangannya jatuh, beruntung Sooyeon masih bisa menahannya, meski pada akhirnya tangannya harus tersiram kuah panas.

Narsha buru-buru menghampiri anaknya, beruntung Minjun sama sekali tak terluka. Walau begitu hal itu tak lantas membuat kegeramannya pada Sooyeon mereda. Ia tak habis pikir bagaimana restoran yang begitu terkenal memperkerjakan gadis sembrono seperti ini. “Kenapa kau ceroboh sekali saat membawa makanan panas?! Bagaimana kalau anakku sampai terkena luka bakar?!”

Sooyeon hanya bisa menunduk dan meminta maaf berkali-kali. Narsha yang tidak peduli terus saja bicara.

Yul yang baru muncul langsung berbicara pada Minjun. “Hai nak, siapa namamu?”

“Minjun.”

“Minjun-ah apa kau sudah masuk taman kanak-kanak?”

“Ne.” Minjun menganggukkan kepalanya.

“Apa kau tahu tidak boleh berlari-lari di dalam ruangan?”

“Ne ahjussi.”

“Sekarang apa kau tahu apa yang harus dilakukan saat kau salah?”

“Minta maaf.”

Saat Minjun mengakui kesalahannya, Narsha jadi tambah emosi dan tidak terima dengan perlakuan Yul.

“Anda marah karena saya mendisiplinkan anak anda? Saya juga marah karena anda mendisiplinkan pegawai saya.” Ujar Yul. “Kenapa menyalahkan orang yang tidak bersalah kalau anda sendiri yang tidak bisa mengontrol anak anda?”

“Situasi menggelikan macam apa ini?” dengus si blogger kesal.

“Aku tahu, memang menggelikan bukan? Menyuruh supnya dihangatkan padahal jelas-jelas mienya bisa jadi lembek. Dan saat mienya tidak enak anda-“

“Oppa!” Seohyun langsung menyela untuk memperingatkan Yul untuk tutup mulut tapi Yul tidak peduli. Yul tidak terima Narsha menyalah-nyalahkan Sooyeon atas kesalahan yang tidak gadis itu perbuat.

Pertengkaran keduanya semakin memanas, Sooyoung dan ketiga rekannya yang lain menonton dari balik meja pantry dengan takut-takut. Siapa sangka masalahnya bisa sepanjang ini. Yul dan Narsha masih beradu argument, Seohyun berusaha melerai keduanya tapi begitu melihat Seohyun yang terduduk diatas kursi roda, Narsha lantas mengatakan hal yang benar-benar kelewat batas. “Huh, sepertinya tidak ada orang normal di tempat ini.”

Seketika itu pula kemarahan Yul semakin memuncak. Narsha boleh menghina Yul, menghina masakannya, ataupun menghina restorannya, Yul tidak peduli. Tapi tak ada seorangpun yang boleh merendahkan adiknya. Siapapun itu Yul takkan membiarkannya, sekalipun seorang wanita.

Tanpa berpikir dua kali Yul menyeret Narsha dan anaknya keluar Sun Restaurant. “Maaf karena restoran kami hanya melayani pelanggan yang normal saja.”

Narsha berlalu dengan emosi memuncak. Sepanjang Yul masih bisa mendengarnya, blogger tersebut terus saja meneriakkan berbagai macam ancaman. Sementara Sooyeon yang berdiri di samping Yul terus menerus meminta maaf pada si blogger.

Yul jadi tambah kesal melihat sikap pegawainya yang satu itu. Terlebih lagi setelah meminta maaf pada si blogger, Sooyeon malah minta maaf lagi padanya.

***

Saat Yul membawanya ke halaman belakang restoran untuk di omeli, Sooyeon tampak gemetaran hebat. Untuk kesekian kalinya –karena sudah tak terhitung- Sooyeon membungkuk meminta maaf dan menyalahkan dirinya sendiri atas penyebab insiden tadi.

“Kau tahu apa yang tidak kusukai darimu? Sikapmulah yang membuatku kesal!” gerutu Yul.

Sooyeon selalu saja meminta maaf dan menyalahkan dirinya sendiri dalam situasi apapun, baik dia bersalah ataupun tidak. Bersikap seperti itu bukan berarti Sooyeon berbuat baik, justru sikapnya ini malah membuat orang lain di sekitarnya jadi tampak jahat. “Apa kau mengerti?”

“M-maafkan a-aku Chef.”

Yul menggelengkan kepalanya. Sooyeon sama sekali tidak mengerti inti dari omelannya dan membuat Yul mendesah frustasi. “Dapur bukanlah tempat yang mudah. Tempat ini adalah medan perang. Hanya orang-orang yang kuat saja yang mampu bertahan. Kau tidak akan punya kesempatan jika kau terus-terusan membuat dirimu jadi orang lemah.”

“Chef-“

“Daripada menjadi orang bodoh yang keras kepala dan membuat orang lain muak, pikirkan baik-baik apakah sebenarnya kau cocok di dapur atau tidak?!” Yul berlalu setelah mengatakannya sementara air mata Sooyeon perlahan menetes diatas kulit tangannya yang terasa menyengat.

 

***

 

Saat Yul kembali ke ruangannya, Seohyun sudah lebih dulu ada disana, menunggunya dengan cemas. Dari ekspressi Yul, Seohyun tahu sang kakak sudah memarahi Sooyeon habis-habisan.

“Oppa itu bukan kesalahan Sooyeon, lagipula menjadi baik bukan sebuah kejahatan.”

“Menjadi baik adalah sebuah kejahatan.” Sahut Yul.

“Pakai ini!” Sooyeon mendongak dan mendapati Yoong menyodorkan krim luka bakar padanya.

“Wanita itu jangan sampai mempunyai bekas luka.”

“Gomawo.”

“Ngomong-ngomong apa kita akan baik-baik saja? Narsha Park adalah blogger yang cukup berpengaruh.” Tanya Seohyun cemas.

“Memangnya blogger itu semacam jabatan resmi apa?” Yul kembali menggerutu. Entah kenapa akhir-akhir ini blogger jauh lebih menyebalkan daripada reporter. Siapa mereka berani member rating? Atas dasar apa penilaian mereka? Memangnya siapa yang ingin dia bohongi?

”Hariku sudah cukup buruk, apalagi yang mungkin lebih menyebalkan?” tepat setelah berkata seperti itu, sebuah pesan masuk di ponsel Yul. Sebuah undangan reuni SMA.

“Pesan dari siapa?”

“Bukan dari siapa-siapa. Hanya spam.” Yul langsung menghapusnya.

Kenapa? Karena saat SMA Yul memiliki kenangan yang tidak begitu menyenangkan. Satu-satunya alasan kenapa Yul tidak menyukai sifat Sooyeon karena, tiap kali melihat Sooyeon, Yul seperti bercermin pada masa lalunya.

 
Kelas sudah lama usai sementara Yul menjadi orang terakhir yang meninggalkan sekolah. Hari itu cuacanya tak begitu bersahat, angin musim gugur yang berhembus mulai membuatnya menggigil. Meski begitu Yul -sebagai anak terbully- harus rela mengerjakan tugas piket Dongju. Benar-benar cara menyedihkan untuk merayakan ulang tahun.

 

Sesampainya di rumah perasaan Yul tak lantas menjadi lebih baik. Terlebih setelah membaca pesan dari ibunya. Hari ini -di hari ulang tahunnya- sang ibu lagi-lagi tak ada. Tiap kali Yul menapakkan kakinya di tempat bernama rumah, hanya kesunyian yang setia menyambut kedatangannya.

 

Hari itu, sebagai tanda perayaan, ibunya menyuruh Yul memesan kimbab tapi Yul lebih memilih memanaskan air untuk memasak mie. Setidaknya hanya mie yang selalu ada untuknya.

 

Sementara itu kata-kata Yul masih terngiang-ngiang dikepala Sooyeon tak peduli seberapa keras gadis itu berusaha melupakannya. Sekarang Sooyeon bahkan tidak berani memandang wajah atasan killernya.

 ***

Dua orang polisi baru saja selesai makan malam di sebuah warung..

“Ne, aku akan datang sebentar lagi.” ujar Kyuhyun sambil membayar pada pemilik warung. Disampingnya Kangin pura-pura bergidik ngeri. Memang tidak ada yang bisa menandingi kemesraan pengantin baru.

“Sunbae bisa saja. Lagipula kami bukan pengantin baru. Bulan depan adalah perayaan anniversary kami yang pertama.” Kyuhyun kembali tersenyum. Waktu rasanya cepat berlalu sementara Kangin tertawa pada tingkah rekan kerjanya yang bersikap layaknya abg pubertas.

Beberapa saat setelahnya paman Kim datang sambil memberikan kembalian.

“Paman tunggu!” cegah Kyuhyun. Paman Kim berbalik dengan wajah bingung. Barulah setelah Kyuhyun memberitahunya bahwa uang kembaliannya lebih paman Kim mengerti. Menjadi tua tentu bukan pilihan. Ia sudah terlalu tua untuk mengerjakan semuanya seorang diri.

“Ngomong-ngomong dimana Jongin?”

“Aku juga tidak tahu kemana perginya anak itu.” keluh paman Kim. Tidak seperti kakaknya, anak termuda keluarga ini -Jongin- sama sekali tak bisa diandalkan.

Kyuhyun tersenyum simpati pada pria paruh baya itu. Mereka sudah saling mengenal sejak Kyuhyun dipindahtugaskan dari Daegu ke Seol. Ia paham betul mengapa paman Kim selalu terlihat kelelahan, ia juga paham betul kenapa senyum pria paruh baya itu tak setulus seperti pertama kali Kyuhyun menginjakan kaki di restoran sederhana ini. Meski begitu Kyuhyun hanya menyimpan alasan itu untuk dirinya sendiri.

Restoran paman Kim dulu sangat terkenal dan selalu ramai. Saat makan siang antrian bisa sangat mengular. Namun kini, bisnisnya sedang tidak terlalu baik. Banyak hal yang sudah berubah. Meski begitu Sampai saat ini Kyuhyun tidak sampai hati berpindah ke lain tempat. Walau tak dipungkiri Kangin sering sekali protes jika Kyuhyun mengajaknya makan di tempat ini.

“Kurasa sesekali kita harus makan di Sun Restaurant. Bukankah pasta buatan kakak iparmu sangat terkenal?” tanya Kangin semangat. Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan menuju Sun Restaurant. Tentu saja karena Kyuhyun akan menjemput istrinya, Seohyun.

 

***

 

Setelah menyerahkan Seohyun pada suaminya, Yul mendatangi sebuah pembukaan restoran yang dijalankan salah satu hoobae-nya.

“Semuanya terlihat seperti dapurku.” komentar pria tanned itu saat mengelilingi dapur milik Suho. Sementara Suho menanggapinya dengan gelak tawa.

“Itu karena aku sangat mengidolakan sunbae.”

Setelahnya acara puncak yang paling ditunggu pun tiba. Mendengar komentar Yul untuk masakan di restoran ini. Yul memasukan sesendok pasta ke mulutnya lalu mengunyahnya pelan. Pria tanned itu terdiam cukup lama, dan Suho pikir itu merupakan salah satu detik terpanjang dalam hidupnya.

“Kau tidak akan bangkrut.” Suho baru bisa bernafas lagi setelah Yul berkomentar seperti itu dengan nada jahil. Kata-kata Yul barusan juga bisa diartikan jika masakan Suho enak.

“Selain rasanya enak, teksturnya juga bagus.” lanjut Yul. Semuanya bersorak, merasa senang dengan penilaian Yul.

“Apa itu artinya sekarang aku sudah sejajar denganmu hyung?” Suho bertanya dengan mata berbinar.

“Eiii tentu saja tidak.” Protes Yul kekanakan. “karena aku adalah dewa yang masakannya memiliki citarasa surga, sementara kalian cuma manusia biasa.”

Ini dia Yul serta kepercayaan dirinya yang kadang-kadang menyebalkan.

“Ya! Tidak semua orang bisa mendengar nasehatku jadi dengarkan baik-baik. Jangan main-main dengan makanan. Apa yang kalian taruh diatas piring bukan cuma makanan tapi juga wajah kalian.”

***

Sooyeon baru sampai di kamar kosnya dan hal pertama yang dilakukan gadis itu adalah membakar dupa. Ritual yang selalu dilakukannya setiap malam untuk mengusir roh jahat –atas saran nenek. Bagaimanapun juga jika dunia merupakan lapangan tempat ia berperang maka kamar kos yang sempit ini merupakan tempat ternyaman Sooyeon untuk bersembunyi dari apapun yang ada diluar. Meski begitu belum sampai semenit bapak kos langsung membuka pintu kamarnya. Sooyeon buru-buru mematikan dupa tersebut tapi terlambat, lelaki paruh baya itu sudah terlanjur menangkap basah dirinya.

 Tuan Lee langsung memandang gadis pendiam itu dengan pandangan tak suka. Di kosan sempit dan tak memiliki ventilasi seperti yang dihuni Sooyeon, menyalakan dupa tentu bukan hal yang diperbolehkan. Selain menganggu para penhuni yang lain, jika tidak berhati-hati tuan Lee takut akan terjadi kebakaran.

“Sudah cukup aku memberimu toleransi nona Jung, mulai besok cari tempat tinggal yang lain saja.” Omel tuan Lee sambil berlalu.

Sooyeon tentu merasa sedih, tambah lagi satu kesulitan dalam hidupnya. Meski airmata sudah mengenangi sudut matanya, Sooyeon enggan menangis. Gadis itu duduk di sisi tempat tidurnya sementara pandangannya tertuju pada sebuah scrapbook yang berisi guntingan artikel-artikel majalah.

Sooyeon membuka halaman pertama benda itu dan menemukan Yul sedang tersenyum di dalamnya. Lalu di halaman kedua, ketiga dan seterusnya. Sooyeon ingat betul ia sudah mengidolakan Yul sejak SMA dan mengingat bagaimana kata-kata Yul begitu menginspirasinya untuk menjadi seorang chef juga. Meski begitu kata-kata Yul yang menyuruhnya untuk memikirkan baik-baik tentang apakah dia cocok di dapur atau tidak membuat keyakinan dan rasa percaya diri Sooyeon menjadi kerdil. Barangkali ia memang tidak bisa melakukan satu hal pun tanpa mengacaukannya kemudian. Termasuk melakukan hal disukainya.

Selanjutnya Sooyeon merobek sebuah kertas dan menulis surat.

***

Pintu restoran Suho berdenting sekali begitu seorang wanita cantik datang ke acara pembukaan restoran Suho. Semua pria menyambutnya dengan senang, Suho berdiri dan memperkenalkan wanita itu pada chef yang lain.

“Semuanya perkenalkan ini adalah Park Gyuri noona.” Kata Suho seiring dengan Gyuri yang memamerkan senyum termanisnya. Yul menatapnya sekilas lalu menganggukkan kepala, diantara yang lainnya mungkin Yul satu-satunya yang nampak kurang tertarik dengan kehadiran gadis itu.

“Oh iya hyung, minggu depan Gyuri noona berulang tahun dan noona ingin hyung menangani bagian makanannya.” Ujar Suho.

“Itu karena semua temanku adalah fansmu, chef Kwon.” Tambah Gyuri malu-malu.

Yul tertawa lalu menjawab dengan nada bercanda. “Tapi bagaimana ya, bayaranku cukup mahal nona Park.”

“Aku bersedia meminta berapapun yang anda minta tuan Kwon.” Balas Gyuri dengan santai. Kali ini Yul hanya menjawab dengan senyuman simpul.

“Hyung bisa meminta sangat banyak. Dia putri pemilik Young Chang Grup.” Bisik Suho dengan suara yang tak begitu pelan.

“Sebenarnya aku ingin menerimanya karena kau cantik tapi sepertinya aku ada janji hari itu, jadi maaf.” Tolak Yul.

 Malam beranjak larut dan itu menjadi alasan pria tanned itu untuk tidak berlama-lama disana.

“Kenapa harus cepat sekali hyung?” rengek Suho sambil mengantar sunbaenya sampai halaman depan.

“Itu karena aku masih ada urusan penting.”

Sebelum Yul benar-benar pergi ia menyerahkan amplop berisi uang untuk Suho. Sebuah bantuan kecil untuk bisnis barunya. Bagaimanapun Yul selalu suka pada anak muda yang memiliki semangat berbisnis. Awalnya Suho menolak tapi Yul tahu pria bermarga Kim itu hanya  malu.

“Hyung, kau tidak perlu sampai melakukannya-“

“Jangan banyak bicara! Terima saja!”

Suho menerima amplop tersebut dan melihat isinya, ia tersenyum lebar. “Saranghaeyo hyung!” 

*** 

Selesai urursan dengan Suho, Yul memutuskan untuk pergi ke pasar ikan. Mencoba melihat apa yang bagus disana, sekaligus memikirkan apa menu special untuk besok. Ditemani segelas kopi yang ia beli dari warung langganannya Yul menyusuri satu toko ke toko yang lain. Karena sudah sering datang kemari beberapa pedagang bahkan sudah mengenalnya dengan baik.

Setelah menulis suratnya Sooyeon berjalan ke dalam restoran dengan langkah lesu. Saat itu larut malam jadi tidak ada seorangpun disana. Sesaat, Sooyeon memandangi tiap sudut restoran itu dengan pandangan sedih. Meski tidak semua kenangan menyenangkan tapi restoran ini sudah seperti rumah kedua baginya. Sooyeon menghela nafas dan menaruh suratnya diatas meja.

Sooyeon baru saja akan pergi saat Yul tiba-tiba datang sambil membawa sekotak ikan yang ia beli dipasar beberapa saat lalu. Yul tentu saja keheranan melihat Sooyeon.

“Apa kau baru datang atau baru mau pulang?”

“Saya barusan datang, ah aniyo, saya mau pulang..” gumam Sooyeon gugup –seperti biasa. Sooyeon merasa perlu melarikan diri sebelum Yul melihat surat yang ditinggalkannya di meja.

“C-chef aku akan membantumu membawanya ke ruang penyimpanan.” Sooyeon menunjuk kotak berisi ikan yang ada di tangan Yul. Gadis itu buru-buru pergi setelah Yul memberikan kunci gudang padanya.

*** 

Dikamarnya, setelah selesai berganti baju Yul memutuskan untuk bersantai. Ia makan semangkuk ramen seraya menggoogling namanya sendiri. Yul langsung kecewa begitu mendapati namanya turun jadi nomor 3 dalam urutan nama chef terpopuler, tepat dibawah nama chef Shindong. Ia lebih kesal lagi saat mendatangi blognya chef Shindong dan menemukan banyak postingan foto chef berbadan subur itu bersama berbagai selebriti terkenal. Yul yakin sekali Shindong melakukannya karena kemampuannya kurang.

Beralih dari blog chef Shindong sekarang Yul membuka sebuah blog bernama YOU’RE MY SUNSHINE yang memposting resep bubur kubis. Yul berdecak kagum begitu membaca motto blog tersebut. “Kebahagiaan hidup, memimpikan meja yang hangat.”

Yul tersenyum membaca postingan sang blogger, meski hanya lewat tulisan ia bisa merasakan ketulusan sang blogger. Yul jadi bertanya-tanya, apa mungkin pemilik blogger ini merupakan seorang chef?

ILoveStrawberry : Sunshine-nim, masakanmu selalu mengandung kebahagiaan yang bisa dirasakan lewat citarasa. Aku adalah fan-mu. Fighting!

Yul menekan tombol kirim dan dengan begitu komentarnya tertinggal disana. Ia tersenyum.

Sementara diluar, Sooyeon memandangi gedung Sun Restaurant untuk terakhir kalinya. Mengingat semua kenangan saat ia bekerja disana. Bagaimana dulu Yul menyambut kedatangannya sebagai pegawai baru dengan wajah kakunya tapi walau begitu Sooyeon tersenyum amat bahagia. Betapa takutnya Sooyeon saat Yul marah-marah pada Sooyoung karena masakannya tidak enak. Dan saat Yul memeluknya dari belakang untuk mengajarinya cara mengiris bawang dengan benar, hal yang membuat Sooyeon gugup  sekaligus bahagia.

Chef aku ingin berterimakasih padamu karena sudah mau menerima orang sepertiku.
 Orang yang selalu membuat orang lain disekelilingnya kesusahan.
Aku selalu ingin melakukan yang terbaik tapi entah kenapa semua selalu berakhir tidak pada tempatnya.
Perkataanmu kemarin membuatku sadar chef, ingin melakukan sesuatu dan bisa melakukan sesuatu adalah dua hal yang berbeda.
Aku juga ingin minta maaf padamu dan semua orang di restoran atas semua masalah yang aku timbulkan.

Selamat tinggal.

 

Tapi ada kata-kata yang tidak bisa Sooyeon katakan dalam suratnya. “Aku belajar satu hal lagi berkatmu, chef. Perasaan manusia itu seperti demam. Sekali dimulai, seberapa banyakpun kau berusaha untuk tidak sakit, pada akhirnya hal itu akan berakhir setelah kau mengalami rasa sakitnya. Aku ingin menjadi chef seperti dirimu. Aku merasa gelisah dan bahagia karenamu. Aku terluka karenamu… lagi dan lagi. Aku sudah melewati rasa sakitnya jadi sekarang aku akan pergi. Bagi orang abnormal sepertiku, Sun Restauran sudah seperti rumah sendiri. Dan walaupun dunia mungkin akan mendorongku lagi tapi aku akan pergi. Selamat tinggal chef.”

Sooyeon membungkuk hormat pada gedung restorannya sebelum melangkah pergi.

 
*** 

Telepon Yul berdering. Pria tanned itu mengangkatnya dengan mata tertutup. Suara Sooyoung terdengar panik di ujung sana, dan selajutnya apa yang dikatakan laki-laki jangkung itu membuat kantuk Yul hilang sepenuhnya.

“Apa maksudmu Sooyeon pergi?”

Sesampainya di restoran Yul langsung membaca surat pengunduran diri yang ditinggalkan Sooyeon.

“Dia bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal secara langsung.” Ujar Seohyun sedih.

“Dia mungkin tidak berani, mengingat kepribadiannya yang seperti itu. Berikan gaji tiga bulan untuknya.” Jawab Yul.

Namun, masalahnya tidak selesai disitu. Beberapa saat kemudian Heechul muncul dengan panik karena kunci tempat penyimpanan makanan menghilang. Yul memijat pelipisnya, mengingat Sooyeon-lah orang terakhir yang masuk kesana, kemungkinan besar kuncinya terbawa gadis itu. Meski kesal Yul masih berusaha bersikap tenang.

”Junho coba kau hubungi Sooyeon.”

“Yes chef!”

“Yoong pergi cari tukang kunci.”

“Yes chef!”

“Heechul dan Sooyoung coba cari cara untuk membuka pintu itu.”

“Yes chef!”

Dilain tempat Sooyeon sedang berusaha mencari tempat tinggal  yang ada jendelanya. Tapi ia menunduk lesu begitu mengetahui mahalnya harga kamar berjendela. Junho meneleponnya tapi Sooyeon tidak mengangkatnya karena berpikir Junho akan menanyakan perihal pengunduran dirinya. Saat itu, tiba-tiba saja suara keras berdengung di telinga Sooyeon dan membuatnya sakit kepala.

Taeyeon yang masih terkurung dirumah dukun Shinyoung berteriak-teriak kebosanan dan membuat Shinyoung kesal.

“Ahhhh bosannn!! Aku sangat bosan sampai rasanya mau gila!” Taeyeon berguling di lantai rumah Shinyoung kesana kemari.

Jika ada satu hal saja, satu hal saja yang bisa Taeyeon lakukan agar Shinyoung mau melepasnya. Namun Taeyeon tahu tentu semua itu tak mungkin. Selama beberapa hari Taeyeon terkurung di ruangan ini bersama Shinyoung. Hanya Shinyoung seorang, sejak beberapa hari Taeyeon disini tak ada seorang pelanggan pun yang datang. Dan seperti yang sudah di duga Shinyoung akan menyalahkannya karena hal ini.

“Itu karena kau menghalangi keberuntunganku.” Shinyoung mengumpat sambil menaikkan celananya yang hampir melorot. Taeyeon yang belum menyerah kembali mencoba bernegosiasi.

“Karena itu tolong lepaskan aku. Jika kau melepaskanku aku janji akan hidup tenang seperti orang mati.”

“Kau memang sudah mati.” Jawab Shinyoung sambil menyeringai. Taeyeon kembali memutar bola matanya. Shinyoung tentu takkan melepaskan hantu pembuat onar seperti Taeyeon begitu saja.

Pembicaraan mereka terhenti begitu bel kediaman dukun paruhbaya itu berdering. Tteokbeokki pesanan Shinyoung baru saja sampai. Beberapa saat setelahnya Shinyoung berdebat dengan pengantar tteokpeokki tersebut karena Shinyoung ngotot membayar menggunakan kupon sementara pria pengantar tteokpeokki ngotot tak mau menerimanya.

“Kalau begini aku bisa rugi ahjumma!”

“Lalu kenapa kau mau mengantar pesananku?!”

“Itu karena sebelumnya aku kira ahjumma akan membayar dengan uang tunai!”

Taeyeon memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri.

Rasanya seperti terbebas dari dalam sangkar. Taeyeon tidak pernah berpikir udara luar begitu nikmat, tidak sampai hari ini. Ia tertawa-tawa sambil berlari sementara Shinyoung terengah-engah mengejarnya seraya mengeluarkan berbagai umpatan. Wanita bertubuh gempal itu tak memperdulikan pengantar tteokpeokki yang bersungut-sungut di belakangnya -dan mulai menganggap Shinyoung gila karena mengejar udara kosong.

“Gawat!” Panik Taeyeon, Shinyoung sudah hampir mendekatinya. Sejak kapan wanita itu bisa berlari cepat?

Bangunan apartemen Shinyoung sudah jauh di belakang mereka. Sekarang Taeyeon sampai di perempatan jalan, banyak orang. Kepala Taeyeon menoleh ke kanan ke kiri, mencari seorang yang bisa dimasukinya. Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang sedang mengantuk di halte bis. Taeyeon berlari lalu merasuki wanita itu.

Shinyoung terengah-engah dan memegangi kedua lututnya. Tak jauh di samping kirinya Taeyeon berusaha bersikap normal agar Shinyoung tak curiga sementara wanita itu terus memandangi belakang kepalanya. Untung saja beberapa detik setelahnya Shinyoung berpaling lalu berjalan ke arah lain. Dan sepertinya keberuntungan Taeyeon belum berakhir karena beberapa detik setelah itu, seorang pria yang memanggilnya ‘Sooyeon’ memberinya helm lalu membawanya pergi dengan sepeda motor. Pergi semakin jauh dari Shinyoung.

Pria yang membawa Taeyeon menghentikan motornya. Taeyeon mendongak dan membaca tulisan gedung yang ada di depannya. Tertulis ‘Sun Restaurant’. Keterkejutan Taeyeon belum tertatasi tapi si pria sudah menarik tangannya memasuki restaurant.

Sesampainya di dalam beberapa orang sudah berkumpul. Seorang pria tinggi kurus yang berdiri sambil menyilangkan tangannya, pria berambut sebahu yang menatap Taeyeon dengan pandangan iba, pria bermata berambut cokelat, lalu ada pria tanned yang menatapnya dengan mata marah yang disipitkan dengan kedua alis yang berkerut, ditambah pria tinggi bermata rusa yang membawanya kemari. Mendapati dirinya dipandangi seperti itu Taeyeon jadi tambah bingung.

Pria tanned yang terus merengut lantas mengulurkan tangan padanya. Taeyeon menatap tangan yang terulur itu sesaat sebelum menjabatnya seperti orang bodoh. Pria itu menghempaskan tangan Taeyeon dengan kesal.

“Berhenti bermain-main! Berikan kuncinya!”

“Kunci apa?” Tanya Taeyeon tak mengerti, ia hanya memasuki tubuh seseorang, kenapa jadi rumit begini?

Pria tanned yang nampak tidak puas dengan jawaban yang Taeyeon berikan lantas maju selangkah dan mulai meraba-raba tubuhnya -untuk mencari kunci. Taeyeon terkejut tentu saja, refleks ia menarik tangan si pria lalu dengan sebuah gerakan judo ia membanting pria itu ke lantai.

Semua yang ada disana melongo menatap ‘Taeyeon’ lalu beralih pada chef mereka yang berbaring di lantai dengan wajah merah padam.

TBC

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Drabble #24 (YulSic)

Posted: April 24, 2016 in drabble, ff snsd, yulsic
Tag:, , ,

Drabble #24

Tengah malam Jessica tiba-tiba terbangun karena haus, tidak biasanya. Saat itu keadaan dorm sudah sepi, lampu di kamarnya juga sudah mati. Jessica melirik ke samping lantas menemukan Yuri yang sudah tertidur pulas dengan lidah sedikit terjulur. Jika tidak mengenal Yuri dengan baik siapapun akan berpikir gadis itu terbangun, namun bagi Yuri tertidur dengan cara seperti itu adalah normal.

Dengan enggan Jessica menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya, memakai sandal lalu berjalan ke dapur.

Segera setelah segelas air mengaliri tenggorokan keringnya, Jessica merasa lebih baik.

Semuanya normal saja sampai ia melewati kamar TaeNy. Langkah kakinya di paksa berhenti begitu -secara tak sengaja- mendengar percakapan penghuni kamar yang mencurigakan.

“T-taetae.. p-pelan.”

“Tahan sebentar Ppany-ah.”

“Arrgghhh.. appo.”

Suara lirih serta rintihan. Apa ini? Taeyeon dan Tiffany tidak sedang melakukan apa yang ada dalam kepala Jessica bukan?

Jessica Jung! Sadarlah!

“Ssst Ppany-ah pelankan suaramu. Mereka bisa mendengar kita.”

“Apa kau tahu aku sedang kesakitan?”

“Arra.. arra, pertama kali memang akan terasa sakit tapi setelahnya kau akan merasa lebih baik.” Taeyeon tersenyum. Tiffany memejamkan matanya, tangannya berusaha meraih apa yang bisa diraihnya sementara untuk meredam rintihan kali ini ia menggigit ujung selimut.

Tangan Taeyeon kembali bersentuhan dengan kulit mulusnya, gadis pendek itu kembali memulai dengan gerakan yang begitu perlahan seperti seorang profesional. Tiffany hampir tidak percaya jika kali ini adalah kali pertama Taeyeon melakukanyya.

Jessica bergidik ngeri, dingin, seperti ada hantu yang baru saja melewatinya. Ia baru akan pergi namun kata-kata Taeyeon selanjutnya membuat langkah sang ice princess terhenti.

“Sebenarnya, Yuri pernah melakukan hal yang sama padaku.”

Yuri?

Jessica membulatkan matanya, demi semua timun di dunia untuk apa Taeyeon membawa-bawa nama kekasih Jessica?

“Aku belajar banyak darinya. Gerakan lembut tapi kuat. Yuri selalu menekan titik-titik yang tepat.”

“Aku jadi berkeringat!”

“Aku juga.”

Cukup! Jessica tak ingin mendengar apapun lagi.

Dalam mimpinya Yuri bersorak gembira, ia sedang menyemangati Sharapova yang sedang bertanding. Namun, mimpi indah itu berakhir setelah sang petenis memukul pantat Yuri dengan raketnya. Sangat keras. Yuri membuka matanya dan mendapati Jessica yang berdiri sambil berkacak pinggang. Ternyata bukan dipukul raket melainkan ditarik dari atas ranjang sampai pantatnya mendarat dengan keras di lantai.

“Sica apa yang-”

“Keluar!”

“Mwo?” Yuri masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Kali ini apa yang sudah dilakukannya?

“I said get out now! N.O.W!”

Taeyeon berhenti memijat kaki Tiffany yang terkilir saat mendengar teriakan Jessica. Bukan hanya Tiffany dan Taeyeon, semua member keluar dari kamar mereka.

“Sica tunggu! Memangnya aku salah apa?”

“Tanya dirimu sendiri!”

“Baby tung-” bantal yang mendarat diwajahnya membuat perkataan Yuri terhenti.

“Untuk selamanya kau tidur diluar!”

Mulut Yuri terbuka sementara member yang lain menatapnya dengan pandangan iba.

“Apa ada yang mau menampungku malam ini?” Yuri bertanya dengan puppy eyes, member yang lain menggelengkan kepala mereka dengan kompak lalu nenutup pintu kamar dengan gerakan kompak juga.

“Teman macam apa mereka itu? Kenapa pula aku harus tidur diluar, disini dingin, Sica bahkan tak memberiku selimut dan aku bahkan tidak tau apa salahku.”
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>END

Kita (PoemFic)

Posted: September 28, 2015 in ff snsd, yulsic, yulti
Tag:, , , , ,

image

Tittle : Kita
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Lenght : Oneshot
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri, Tiffany Hwang, Seo Juhyun, and Other Cast

Song Lyric by :
*Kyuhyun – The Way To Break Up (Poseidon OST)

Mari kuceritakan sebuah kisah
Tentang aku kamu dan mereka
Tentang luka dan cinta
Juga tentang rasa dan air mata

Kuceritakan dengan hati terluka
Dengarkan juga dengan luka yang kau bawa
Karena kita sama
Kau dan aku peran utama

Mari kulantunkan sebuah lagu
Dengan nada mengalun lembut
Dengan untaian kata sebagai syairnya
Lagu tentang dilepaskan juga ditinggalkan

Kubisikan di telingamu
Apa-apa yang ku rasa
Jika kau bertanya apa yang tersisa
Jawabanku, hanya aku dan dirimu, kita
.
.
.
.
.
.
-Kita-

Yuri masih termenung. Pagi ini gadis tanned itu patut bersyukur karena tak harus disibukan dengan setumpuk kegiatan, jadwalnya kosong selama satu hari ini. Yuri menggunakan kesempatan itu untuk termenung, sesuatu yang sudah lama tak dilakukannya. Mengenang masa lalu, memaksa sel-sel otaknya me-replay kejadian yang hampir ia lupa, kejadian yang mungkin jauh terkubur dalam sel kelabu otaknya.

Sudah lama sejak terakhir kali ia termenung. Semenjak memutuskan untuk kembali ke Amerika dan melakukan apa yang dikehendaki ayahnya sejak saat itu Yuri tak punya kesempatan untuk termenung. Sel-sel kelabu itu dipaksa bekerja keras sejak ia membuka mata hingga Yuri hampir menutup matanya lagi. Yuri berubah seperti android, dingin dan tak berperasaan. Yuri berubah seperti android, dan sang ayahlah yang memegang penuh atas kendali dirinya.

Tiap kali Yuri bercemin, ia tak menemukan apapun selain Kwon Yuri, CEO muda yang sukses namun tak berperasaan. Kejeniusannya dalam memimpin perusahaan tentu menarik perhatian siapapun. Banyak rekan kerja tuan Kwon yang menawari Yuri menjadi menantunya. Namun Yuri bergeming, gadis-gadis itu tak cukup untuk menarik perhatiannya. Sampai saat itu tak ada satupun yang bisa menerobos pagar es yang Yuri bangun untuk melindungi dirinya. Melindungi dirinya dari dunia luar yang mungkin akan membuatnya kembali terluka.

Sampai saat itu. Saat ia bertemu seorang gadis yang juga terluka seperti dirinya. Gadis yang mampu menarik sedikit rasa iba Yuri yang tersisa. Gadis yang juga berbagi luka yang sama seperti yang ia rasa. Gadis yang juga menyeka airmata karena kesakitan yang sama. Atas dasar itulah Yuri memutuskan untuk bertahan di sisi gadis itu.

Lima tahun berlalu, Yuri berbohong jika rasa itu tak pernah ada. Kebersamaan itu menumbuhkan rasa yang sangat Yuri kenal. Rasa yang sebelumnya membuatnya mati rasa. Namun, orang berbeda, rasa berbeda. Yuri mungkin merasa namun ia tau kadarnya tak pernah sama. Tak sebesar ia mencinta gadis yang pernah menyakitinya. Mungkinkah?

Yuri menghela nafasnya, memalingkan pandangannya pada jarum jam tangannya yang terus berdetak. Waktu semakin melaju namun ingatannya justru terus kembali ke masa lalu. Dikala masa lalu itu kembali dan meminta sebuah kesempatan untuknya Yuri jadi bimbang.

Yuri memejamkan matanya, mencoba meraba hatinya. Mencari tau apa yang sebenarnya ia rasa, dan apa yang diinginkannya. Haruskah ia kembali? Lalu bagaimana dengan gadis terluka yang selama ini selalu disisinya?

“Aku sudah di LA.” Jessica menjawab dengan suara serak sisa menangis semalam. Walau ia berusaha nada suaranya masih terdengar kacau.

“Sungguh? Sejak kapan?” balas Tiffany.

“Kemarin.” Jessica menjawab lagi. Tangan kirinya memegang telepon sementara tangan kanannya menuangkan segelas air ke dalam gelas.

“Jessie! Kenapa tidak memberitahuku dari awal? Aku bisa menjemputmu kau tau? Dimana semalam kau menginap huh?” Tiffany, yeoja itu, masih dengan antusiasmenya yang berlebihan juga runtuyan pertanyaan yang membuat telinga Jessica panas.

“Hotel.”

“Jinja? Hotel apa? Katakan, aku akan menjemputmu!”

“Sebenarnya tidak perlu Tiff. Aku akan datang ke rumahmu menggunakan taksi.” Tolak Jessica halus. Pertama, Jessica tak mau merepotkan sahabatnya tersebut. Kedua, gadis blonde itu tak ingin menerima runtuyan pertanyaan lain dari Tiffany karena melihat matanya sembab. Semalam Jessica menangis, menangisi Yuri lebih tepatnya tapi Jessica benar-benar tak mau membahasnya. Namun, Tiffany tentu tak menerima penolakan. Yeoja penggila pink tersebut tetap bersikeras menjemput Jessica. Mau tak mau Jessica memberikan alamat hotelnya.

“Kau tau Jessie, aku tak mau memberikan biaya tambahan karena membiarkan wedding planer-ku naik taksi dan menginap di hotel.”

“Daddy!!” Lamunan Yuri terhenti begitu sepasang tangan mungil memeluknya dari belakang. Yuri berbalik dan menemukan malaikat kecilnya tengah tersenyum.

~~~~~~~~~~~~~~~

“Jessie!” Tiffany segera menenggelamkan Jessica dalam pelukan begitu mereka bertemu.

“Sudah lama ya..” Tiffany memutar tubuh sahabatnya. Lama tak bertemu Tiffany takjub karena tak ada perubahan yang signifikan dari Jessica. Semuanya masih sama, ia masih Jessica yang Tiffany kenal. Jessica yang dingin dan hanya tersenyum dengan senyuman dingin yang membuatnya terlihat arogan. Sementara Tiffany sendiri, begitu banyak hal yang berubah dari dirinya. Begitu banyak.

“5 tahun..” Jessica memberikan perhitungan yang tepat. Tiffany mengangguk sebelum tersenyum dengan eye smile andalannya.

“Kajja! Kita pergi sekarang.. aku yakin kau sudah tidak sabar bertemu Hyunie. Dia anak yang manis, sama seperti ibunya.” Ucap Tiffany antusias.

“Percaya diri sekali.” Cibir Jessica sebelum akhirnya mereka tertawa bersama.

~~~~~~~~~~~~~~~

“Apa kau sudah menemukannya?” Tiffany bertanya antusias mengenai cinta Jessica yang hilang. Walau tak pernah bertemu mereka tak pernah putus komunikasi. Tiffany mengetahui semua kisah Jessica begitu pula sebaliknya. Jessica mengangukkan kepalanya.

“Kurasa aku terlambat.” Jessica tertawa hambar, matanya memperhatikan deretan gedung pencakar langit yang mereka lewati.

“Wae?” Tiffany bertanya lagi saat menyadari ada yang tidak beres dengan Jessica. “Kukira kau takkan menyerah semudah itu.”

Menyerah. Kata itu tak pernah ada dalam kamus Jessica selama tahun-tahun terakhir ini. Ia sudah mencari Yuri dengan membuang kata lelah juga menyerah dari kamus hidupnya.

Jessica ingat bagaimana dirinya selalu datang ke restoran Sooyoung untuk meminta alamat Yuri ataupun sedikit informasi mengenai dirinya namun nihil. Yuri hanya menghilang begitu saja seakan ia hanya sebuah mitos. Jessica bahkan meragu jika kenangan indah itu nyata atau bagian dari khayalan semu semata. Tapi, sekali lagi kata lelah dan menyerah sudah lama Jessica hapus dari kamus hidupnya. Sampai hari itu tiba.

“Sunye sepupuku di Amerika ia mengenal Yuri, dia bekerja pada Yuri sebagai asisten.” perkataan Sunny beberapa waktu lalu mampu memupuk harapan Jessica.

“Bawa dia kembali Jessica.” Jessica tersenyum begitu Sunny menepuk pundaknya.

“Aku lupa mengucapkan ini, tapi selamat Tiffany Hwang!” Jessica tersenyum jahil dan membuat paras Tiffany yang sedang mengemudi bersemu merah.

“Dia orang yang baik.” ucap Tiffany malu-malu. Tentu saja, tunangan Tiffany tentu orang yang baik. Lebih baik dari pria Thailand yang langsung meninggalkannya begitu mengetahui Tiffany mengandung anak mereka.

“Selama ini dia satu-satunya orang yang selalu berdiri di pihakku.. tapi Jessie hubungan kami tidak mudah.” Tiffany merawang mengingat tunangannya. Ia merasa berhutang banyak pada orang tersebut. Bahkan disaat pernikahan mereka hanya tinggal dua minggu Tiffany masih merasa belum pantas untuk mendampinginya. Selama ini orang itu selalu melindunginya dan yang Tiffany lakukan hanya membuat perjuangannya terasa semakin berat. Statusnya dan Seohyun adalah batu sandungan terbesar dalam hubungan mereka. Bahkan sampai saat ini, hal itu pula yang menyebabkan mereka belum mendapat restu dari orangtua tunangan Tiffany. Namun Tiffany ingin bersikap egois dan membiarkan orang itu tetap disisinya.

“Apa kau mencintainya?” Jessica bertanya dan langsung mendapat anggukan mantap dari Tiffany.

“Kurasa itu cukup. Itu berarti aku hanya harus menjadi wedding planer yang baik untukmu.”

~~~~~~~~~~~~~~~~

“Yul perkenalkan ini Jessie sahabatku.. dan Jessie ini Yuri calon suamiku.”

Jessica tersenyum getir. Salahnya, ia tak pernah memberitahu Tiffany siapa nama masa lalunya dan Tiffany tak pernah memberitahu nama sang penyelamat. Jessica mengulurkan tangannya dengan hati berdarah, bersikap seolah tak saling mengenal adalah hal terbaik yang ada dalam kepalanya. Yuri menerima uluran tangan itu tanpa menatap wajah Jessica. Dunia itu sempit atau takdir tengah mempermainkan mereka?

“Hyunie ayo beri salam pada aunty Jessie.”

“Annyeonghaseyo.” gadis kecil tersebut membungkukkan tubuhnya.

“Kalian pergi kemana?” Tiffany bertanya seraya menunduk dan memeluk Seohyun, anaknya, Hwang Seohyun.

“Daddy dan Hyunie membawa Jollie jalan-jalan.” Jawab Seohyun. Jollie adalah nama boneka beruang pink yang kini ada dalam pelukannya. Yuri baru saja membawa Seohyun dan Jollie berjalan di taman.

“Jinja?”

“Ne~”

“Yul apa kau mau tinggal untuk sarapan? Aku sudah memasak makanan kesukaanmu.”

“T-tidak terimakasih, aku harus pergi karena mendadak ada meeting.” Faktanya Yuri hanya ingin pulang, tidur, dan saat ia bangun semuanya akan kembali normal. Yuri hanya berharap apa yang terjadi hari ini hanya bagian dari mimpi buruknya.

“Baiklah. Hati-hati.” Tiffany berucap. Yuri menunduk untuk mengecup kening Seohyun sebelum ia pergi. Sementara itu Jessica masih terpaku di tempatnya.

“Jessie? Kenapa kau menatap Yuri seperti itu? Ah, jangan bilang kau tertarik padanya?” Goda Tiffany.

“Aku? ANIYO!!” Jessica menyangkal keras dan membuat Tiffany keheranan di buatnya.

“Rileks Jessie.. aku cuma bercanda. Ternyata kau masih tidak bisa diajak bercanda.” Tiffany terkekeh seraya menggandeng tangan Seohyun ke dapur. Meninggalkan Jessica yang kini menundukkan kepalanya. Andai Tiffany tau.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Mari kuceritakan sebuah kisah
Tentang aku kamu dan mereka
Tentang luka dan cinta
Juga tentang rasa dan air mata

Kuceritakan dengan hati terluka
Dengarkan juga dengan luka yang kau bawa
Karena kita sama
Kau dan aku peran utama

Mari kulantunkan sebuah lagu
Dengan nada mengalun lembut
Dengan untaian kata sebagai syairnya
Lagu tentang dilepaskan juga ditinggalkan

Serba tidak disengaja. Sejak awal ia mengenal Yuri tak pernah ada satupun kejadian yang ada dalam rencananya. Semuanya mengalir begitu saja, seperti air, tenang namun menghanyutkan.

Tiffany masih ingat, malam itu ia berjalan menyusuri malam dengan kaki telanjang. Tak peduli walau permukaan aspal yang kasar menggores dan melukai telapak kakinya. Ia hanya ingin bebas. Melepaskan diri dari kesakitan yang membuatnya berpikir mungkin mati akan terasa beribu kali lebih baik. Tidak ada yang tersisa dari dirinya, tidak ada Nickhun, tidak ada keluarganya. Nickhun -kekasihnya- pergi setelah mengetahui Tiffany hamil sementara keluarga yang terlanjur kecewa mengusirnya dari rumah.

Tiffany berdiri di pagar pembatas jembatan. Menatap permukaan air yang akan menenggelamkan tubuhnya dengan pandangan nanar. Tepat sebelum ia melompat seseorang ‘menyelamatkannya’. Dan seperti dalam sebuah dongeng klasik, orang itu adalah pangerannya, Kwon Yuri.

Bukan tipe pangeran dongeng yang berpenampilan necis dan mengendarai kuda putih. Kwon Yuri hanya seorang gadis biasa, berpenampilan biasa, kalau boleh dibilang ia terlihat sama hancurnya dengan Tiffany. Dari sorot matanya Tiffany bisa menyimpulkan jika pangeran itu juga tengah terluka. Tiffany bisa menyimpulkan jika mereka berbagi luka juga airmata yang sama.

Tiffany batal mengkahiri hidupnya malam itu dan dengan tangan gemetar ia menerima sapu tangan Yuri dan menyeka airmatanya.

“Setelahnya kami kembali bertemu. Dulu aku adalah seorang sekretaris dan Yuri merupakan Direktur baruku.” Tiffany menyesap Americano-nya sebelum kembali melanjutkan.

Tiffany menerawang. Mengingat setiap kebersamaannya bersama Yuri. Mereka yang sama-sama punya cerita, mereka yang bersama-sama mencoba saling menyembuhkan luka. Yuri merupakan orang yang selalu ada di saat paling sulit dalam hidupnya. Gadis tanned itu yang datang setiap pagi untuk merawat Tiffany yang sakit saat ia hamil, disaat tak ada seorangpun yang peduli. Gadis tanned itu yang menggenggam tangannya saat Tiffany berjuang antara hidup dan mati ketika melahirkan Seohyun.

“Saat Seohyun masih berumur beberapa bulan Yuri sering sekali menginap di rumahku dan bangun tengah malam untuk menenangkan Seohyun yang menangis.”

“Dia bahkan menginjinkan Seohyun memanggilnya Daddy agar Seohyun tidak merasa berbeda.”

Jessica tersenyum lemah. Cairan itu kembali menggenang dan mengaburkan pandangannya. Jessica mengerti sekarang, mengerti kenapa Yuri memilih untuk tidak bersamanya. Jessica mengerti akan ada lebih banyak hati yang terluka. Ini memang salahnya sejak awal. Haruskah ia menyerah sekarang? Tidak bisakah ia bersikap egois untuk kali ini?

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Hujannya deras sekali.” Tiffany berucap sambil memandangi air yang mengalir di jendela apartemennya. Jessica duduk di sofa sambil mengelus rambut Seohyun yang berbaring di pangkuannya. Gadis kecil itu mulai terlelap sambil memeluk Jollie.

“Sepertinya Yuri akan terlambat.” Tiffany menghela nafas setelah membaca pesan yang Yuri kirimkan. Jessica mengangguk mengerti. Mereka berencana membicarakan tema pernikahan seperti apa yang mereka inginkan, ya, Jessica akan menjalankan tugasnya sebagai wedding planner. Walau ini bukan alasannya untuk menemui Yuri tapi ini alasan Jessica menemui Tiffany.

“Mommy…” Seohyun bergumam. Mata sayunya menatap sang ibu. Tiffany tersenyum lantas memindahkan Seohyun ke dalam pelukannya.

“Apa setelah kalian menikah, daddy akan tinggal bersama kita?”

“Ne.. dan namamu akan berubah menjadi Kwon Seohyun.”

“That’s cool.” Ucap Seohyun. Tiffany tertawa kecil melihat keantusiasan dalam nada bicara anaknya. Jessica menerawang, kenangan-kenangannya bersama Yuri kembali menyeruak. Jika sebelumnya hal itu menjadi kekuatan bagi Jessica untuk bertahan kali kenangan itu membuat dadanya berdenyut nyeri. Jessica tau kali ini ia sudah kalah sepenuhnya. Jessica tau ia takkan mampu mengambil senyuman itu dari bibir Tiffany juga dari malaikat kecil yang bernama Seohyun.

Jessica terpojok. Hujan terus mengguyur tubuhnya. Kemeja yang ia kenakan robek. Keempat pria yang ada di hadapannya bertambah liar. Bau alkohol masih menyeruak. Jessica berlutut dan memeluk lututnya yang gemetar. Ia ketakutan dan menangis adalah satu-satunya cara yang dapat ia lakukan.

Jessica memejamkan matanya rapat-rapat seraya terus memanggil nama Yuri dalam kepalanya. Gadis tanned itu selalu menjadi penyelamat untuknya. Apakah kali ini Yuri akan kembali menyelamatkannya?

Salah satu dari pria tersebut menarik Jessica dan membekap mulutnya sementara pria lainnya memegang kedua tangannya. Namun, sebelum mereka sempat berbuat lebih jauh satu sosok lain lebih dulu datang dan membuat salah seorang pria tersungkur dengan balok kayu di tangannya.

Doa Jessica terjawab, Yuri kembali datang menyelamatkannya. Ia berhasil mengalahkan keempat pria tersebut walau Yuri sendiri terluka. “S-sica kau lupa membawa payungmu.”

“Y-yuri-” Jessica tidak bisa mengatakan hal lain selain terus memeluk Yuri dan mengulang-ulang namanya dengan suara bergetar.

Yuri hanya tersenyum sambil mengelus lembut kepala Jessica.”Gwencahana. Semuanya baik-baik saja sekarang.”

I’m used to days without you now
Tomorrow will be a little more comfortable
I will forget you little by little

Sometimes, I will think of you
Only good memories will remain

My meaningless day will probably pass by
Our one of a kind love is like it never happened
Even if I say I miss you, I can’t ever see you
Even if it hurts, I need to withstand it

Even if it hurts, pretending that it’s nothing
Even if tears fall, knowing how to hide them
Placing it in one side of the heart
And knowing how to smile as if nothing’s wrong
This is the way to break up

Only my welled up tears remember you
And there are so many traces of happiness
To me, love is such a painful thing
Even if it hurts, I need to withstand it
I will probably forget like this

Tiga puluh menit setelahnya Yuri datang dengan baju yang basah kuyup dan membuat Tiffany sedikit mengomel.

“Kenapa tidak tunggu sampai hujannya reda?”

“Aku tidak mau membuat kalian menunggu lama.”

“Kenapa kau selalu memaksakan diri huh? Silly.”

“Mianhe.” Tiffany tertawa kecil sebelum memberikan kecupan singkat di bibir Yuri. Jessica? Gadis blonde itu mengalihkan pandangannya dan pura-pura tak peduli.

Setelah Yuri mengeringkan diri dan mengganti bajunya mereka bertiga mulai berdiskusi mengenai konsep pernikahan seperti apa yang mereka inginkan. Seperti biasa Tiffany yang lebih banyak bicara dan membuat Jessica kewalahan mencatat apa yang keluar dari mulutnya sementara Yuri lebih banyak diam dan lebih penurut. Ia akan menyetujui apapun yang Tiffany inginkan. Yuri yang sangat berbeda dari yang Jessica kenal.

Dari sudut matanya Jessica merasa Yuri terus memperhatikannya namun Jessica pikir ia hanya berhalusinansi. Terlebih Yuri selalu menghindari kontak mata dengannya. Jessica berusaha tersenyum dan bekerja sebagai seorang profesional, ia dan Yuri hanya masa lalu yang bahkan tak pernah terikat. Bersikap seperti tak saling mengenal merupakan pilihan terbaik, terlebih ia tak ingin Tiffany membaca kecanggungan antara Yuri dan dirinya lalu membuat spekulasi. Jessica benar-benar tak ingin membuat situasi sulit ini bertambah lebih sulit.

~~~~~~~~~~~~~~~~

“Sunny..”

“Jessica? Ya! Kenapa kau baru menghubungiku sekarang? Bagaimana, apa kau sudah bertemu dengan Yuri?”

“Sunny kenapa rasanya sakit sekali?”

“Sakit? Apa kau sedang tidak sehat.”

“Iya Sunny, aku sedang sakit. Sangat sakit.”

Sudah lewat tengah malam tapi lampu di ruang kerja Yuri masih menyala. Gadis tanned itu sedang mengerjakan beberapa berkas. Akhir-akhir ini Yuri sering sekali bekerja sampai larut dan membuat orang-orang disekitarnya khawatir.

Mengetahui putrinya masih terjaga, nyonya Kwon datang dan membawakan segelas susu hangat untuk Yuri. Mengetahui susu hangat bisa sedikit mengurangi insomnia. Ya, Yuri selalu beralasan jika insomnianya kambuh walau pada kenyataannya ia hanya melakukan itu agar pikirannya teralihkan dari Tiffany dan Jessica.

“Yul kau bisa menyelesaikan pekerjaan itu besok, tidurlah.” Ucap nyonya Kwon sambil mengelus pundak Yuri. Yuri tersenyum pada wanita paruh baya yang sangat ia cintai tersebut. Satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya. Satu-satunya orang yang selalu berdiri di pihaknya.

“Jangan khawatir aku akan segera tidur setelah menyelesaikannya.” Yuri balas mengelus tangan sang ibu yang masih ada di pundaknya.

“Jangan terlalu memaksakan diri.”

“Ne.”

Yuri menghela nafas dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi begitu ibunya sudah pergi. Ruangan itu kembali terasa sunyi. Komputer yang sedang menampilkan berkas-berkas kantor merupakam satu-satu kehidupan yang dapat terdeteksi di ruangan ini. Tangan Yuri perlahan bergerak, menutup berkas yang beberapa jam ia tekuni lantas membuka file lain yang Yuri yakin akan melukainya. File yang berisi semua kenangannya tentang Korea dan… Jessica.

Yuri termenung menatap foto yang silih berganti menghiasi layar komputer di hadapannya. Seiring hal itu ingatannya tentang Jessica juga Korea kembali berputar. Rasa hangat kembali menjalari relung hatinya, memenuhi ruang kosong itu. Yuri takkan memungkiri jika Jessica pernah memberikan lebih dari sekedar rasa sakit untuknya. Gadis berparas dingin itu juga pernah memberinya bahagia, membuatnya merasakan debaran lembut menghanyutkan yang menjadi candu, yang membuat Yuri ingin merasakannya lagi dan lagi. Jessica pernah membuatnya merasa dan masih membuatnya merasa.

~~~~~~~~~~~~~~~~

“Itu bukan ekspressi calon pengantin.” Ujar tuan Kwon. Yuri baru bergabung di meja makan, lengkap dengan wajah lesu serta lingkaran hitam di bawah matanya. Efek dari hanya tidur 3 jam. Yuri terdiam, tak ingin membalas kata-kata sinis ayahnya. Pembicaraan seperti ini bukan yang pertama kalinya, Yuri tau dan ia tak ingin terjebak dalam hal yang berulang-ulang.

Sang ayah -sampai saat ini- tak pernah menyetujui rencana pernikahannya dengan Tiffany. Berpikir jika Tiffany adalah pengaruh buruk untuk Yuri serta kemungkinan besar Tiffany mendekati Yuri karena uang semata. Namun, Yuri lebih mengenal Tiffany. Ia dan Tiffany telah melewati banyak hal sulit bersama, lebih dari apa yang bisa ayahnya bayangkan.

“Kau tau belum terlambat untuk meninggalkannya. Aku bisa mencarikanmu gadis yang lebih baik dari wanita itu-”

Yuri berdiri dan pergi sebelum tuan Kwon bisa menyelesaikan kata-katanya. Ayahnya boleh melakukan apapun pada Yuri tapi sungguh Yuri tidak rela jika ayahnya mengatakan hal-hal yang buruk mengenai Tiffany.

“Jessie siapa nama orang yang sedang kau cari itu. Kurasa aku bisa membantumu menemukannya.” Tiffany berucap sambil meletakkan pancake berbalut saus strawberry kesukaan Seohyun. Tiffany tidak sadar jika permintannya hampir saja membuat Jessica tersedak.

Jessica masih berpikir, jujur saja ia belum siap dengan pertanyaan semacam ini. Jawaban apa yang harus Jessica berikan? Akan sangat mustahil jika Jessica menjawab ‘Aku sudah menemukannya Tiff. Orang itu adalah tunanganmu Kwon Yuri. Binggo!’. Jessica bernafas lega begitu telepon Tiffany berdering, untuk sesaat mengalihkan perhatian Tiffany darinya.

“Yeobuseyo?”

“Apa? Aku tidak bisa Carol.. kau tau kan hari ini aku harus fitting gaun bersama Yuri?”

“Baiklah-baiklah. Iya, aku mengerti.” Tiffany menutup teleponnya dengan wajah kesal.

“Ada apa?” Jessica bertanya.

“Jessie aku ada urusan mendadak, hari ini bisakah kau menemani Yuri fitting baju. Setelah urusanku selesai aku akan menyusul kalian.” Tiffany memelas.

“T-tapi.. tapi-”

“Thanks Jessie.” Tiffany tersenyum jahil sambil memberinya wink. Setelahnya ia segera pergi untuk mengantar Seohyun ke sekolah lalu bekerja. Jessica menghela nafas di tempatnya duduk. Jessica bukannya tidak mau memberi bantuan tapi ia tau hal ini takkan mudah, untuk dirinya juga Yuri.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Satu jam yang begitu menegangkan, Jessica bahkan sampai lupa kapan terakhir kali ia bernafas. Yuri masih mengenakan tuxedo yang akan dipakainya di acara pernikahan sementara sang desainer tengah memperhatikan. Mencoba memperbaiki atau mungkin menambahkan detail yang masih dirasa kurang. Jessica duduk sambil memainkan jarinya.

“Nona.. sekarang giliran anda untuk mencoba gaunnya..” lamunan Jessica terhenti begitu seseorang menarik tangannya menuju fitting room.

“T-tunggu! Tapi aku bukan-” tapi semuanya terlambat.

Jessica keluar dari fitting room sambil mengenakan gaun pengantin dan membuat Yuri terpaku.

“Woahh.. nona anda cantik sekali.” kagum pelayan-pelayan yang ada disana. Walau tak mengatakan apapun sebenarnya Yuri setuju dengan pendapat para pelayan tersebut. Jessica cantik, sudah sejak lama Yuri mengakuinya.

Gaun sederhana itu melekat sempurna di tubuh ramping Jessica. Sekarang Yuri mengerti kenapa Jessica memilih konsep sederhana dalam pernikahan impiannya. Alasannya karena ia sendiri, Jessica Jung, akan membuat apapun yang dikenakannya terlihat mewah. Pernahkan Yuri mengatakan jika Jessica adalah gambaran sempurna dari kesempurnaan? Gadis itu seperti tidak nyata, ya, tidak nyata, setidaknya yang satu itu hanya untuk Yuri.

“Apa kami boleh mengambil foto kalian berdua?” tanya salah seorang pelayan.

Keduanya mendadak saling tatap, sama-sama meminta persetujuan masing-masing. Canggung, apa yang mereka lakukan rasanya mendadak serba salah. Dan untuk sesaat seakan tak ada udara yang bisa mereka hirup.

“Kau sudah menangani ribuan pernikahan orang lain bukan?” Yuri bertanya.

“Hmm..” Jessica mengangguk, Yuri menggeser duduknya lebih dekat. Malam itu diatap apartemen murahan yang mereka sewa keduanya memutuskan untuk pesta. Hanya mereka berdua, beberapa kotak ayam goreng dan beberapa botol soju. “Apa kau tidak tau aku adalah wedding planer terbaik se-Korea Selatan?”

“Aku tau, hanya saja aku penasaran, konsep pernikahan seperti apa yang kau inginkan?”

“Sederhana saja.”

“Ne?”

“Aku ingin konsep pernikahan yang sederhana saja. Pernikahan di gereja dan dihadiri orang-orang terdekat saja. Aku hanya ingin mengenakan gaun pernikahan yang sederhana, musik yang sederhana. Aku ingin semuanya terasa begitu sakral. Hanya itu.”

“Dan menikahi orang yang kau cintai?”

“Apa?”

“Bukankah yang paling penting itu adalah menikahi orang yang kita cintai?”

“Ya.. kau benar. Dan menikahi orang yang kucintai.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hujan kembali mengguyur malam itu. Tiffany terburu-buru membuka pintu apartemennya begitu seseorang menekan bel.

“Yul?” Heran Tiffany begitu melihat Yuri berdiri dengan wajah yang begitu pucat. Yuri membalas pertanyaan itu dengan senyuman lemah sebelum akhirnya jatuh pingsan.

Tiffany panik dan berusaha menyadarkan Yuri. Suhu tubuhnya begitu panas sampai Tiffany berpikir ia akan terbakar hanya dengan memeluk Yuri. Tiffany melakukan berbagai cara untuk menyadarkan Yuri namun gadis tanned itu sama sekali tak merespon.

Beberapa saat kemudian..

Di dalam kamar dokter sedang memeriksa keadaan Yuri sementara Tiffany, Jessica dan Seohyun menunggu dengan cemas di luar.

Jessica menggeser duduknya lebih dekat dan meremas tangan Tiffany lembut. Diantara mereka bertiga Tiffany mungkin yang paling khawatir karena baru pertama kalinya kondisi Yuri drop seperti ini. Sementara Jessica diliputi rasa bersalah, jika saja ia tak pernah datang ke Amerika, jika saja ia tak bersikeras meminta Yuri kembali mungkin semua ini takkan terjadi.

Pintu kamar yang baru terbuka menarik perhatian mereka. Tiffany lebih dulu memasuki kamar dan melihat keadaan Yuri bersama Seohyun. Sementara Jessica mengantar dokter sampai pintu depan.

Yuri tergolek lemah dengan jarum infus yang menancap di tangan kirinya.

“Mommy.. apa Daddy baik-baik saja?” Seohyun menatap ibunya dengan tatapam sedih. Tiffany tersenyum dan mengelus kepala gadis kecilnya.

“Daddy baik-baik saja sayang.” Jawab Tiffany sambil mengelus rambut gadis kecilnya. Cukup lama mereka berada di sana sampai Tiffany harus pergi untuk menidurkan Seohyun.

“Jessie tolong jaga Yuri sebentar.”

“Tidak masalah.”

Jessica duduk di tepian kasur sambil menyeka keringat di wajah Yuri. Dipandanginya wajah Yuri lama, untuk terakhir kalinya ia melakukan itu. Jessica hanya ingin mengingat setiap detail wajah orang yang dicintainya, ingatan yang kelak akan Jessica lihat sesekali. Memang setelah perdebatan yang panjang dengan dirinya sendiri akhirnya Jessica mengambil keputusan. Ia akan pergi dari kehidupan Yuri.

Tangannya terangkat untuk mengelus wajah Yuri. Jessica mengigit bibir bawahnya untuk menahan isakannya. Jessica tau ia tidak berhak melakukannya hanya saja ini untuk pertama dan terakhir kalinya.

“Maafkan aku Yuri-ah. Aku mencintaimu.” bisik Jessica sambil mecium bibir Yuri.

Tiffany yang mengintip dari celah pintu segera menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia yang awalnya berniat mengambil mainan Seohyun yang tertinggal justru harus melihat sesuatu yang selama ini berusaha Yuri dan Jessica sembunyikan darinya.

“Jujur saja aku bukan peminum yang baik.” Tiffany keheranan mendengar pengakuan Yuri. Ya, Yuri gadis yang baru saja mengagalkan aksi bunuh dirinya. Jika Yuri bukan peminum yang baik lantas kenapa ia mengajak Tiffany ke tempat ini.

Menyadari gadis di hadapannya keheranan Yuri pun menjelaskan. “Aku butuh seseorang untuk menemaniku.”

“Dan kenapa kau berpikir aku adalah orang yang tepat?” tantang Tiffany. Yuri tersenyum kecil sebelum menyesap tequilla pesanannya dalam sekali teguk.

“Lalu kenapa kau setuju ikut denganku?” Yuri balik bertanya. Saat itu Tiffany tidak menjawab karena tidak tau jawaban apa yang pantas ia berikan. Kenapa ia setuju ikut dengan Yuri? Kenapa ia setuju untuk ikut bersama orang asing yang bahkan dapat melakukan hal yang lebih buruk padanya dari apa yang pernah Nickhun lakukan. Kenapa? Dulu Tiffany tidak tau, tapi kini ia tau, karena Tiffany percaya pada Yuri.

Yuri menghabiskan teguk demi teguk sampai ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Sementara Tiffany duduk di hadapannya. Tatapannya tak lepas dari gadis mabuk yang kini tertidur sambil menangis.

“Jessica.. kajima.” Dan saat mendengar itu Tiffany tau jika mereka berdiri di garis yang sama. Hidup ini ironis.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Aku akan pulang ke Korea.” Pagi itu Jessica memberikan pernyataan yang hampir membuat Tiffany tersedak sarapannya sendiri.

“Kenapa mendadak sekali? Pernikahanku besok Jessie.”

“Maafkan aku, kakek mendadak sakit dan aku harus segera pulang.” Jessica memberikam seulas senyum. Setidaknya, Jessica sudah merencanakan pernikahan Tiffany dengan baik, hal terakhir yang bisa ia berikan untuk sahabatnya.

Hari sudah hampir gelap saat Tiffany memasuki ruangan Yuri dengan nafas tersenggal.

“Fany-ah ada apa?”

“Jessica akan pulang hari ini, kejar dia Yul dan katakan kalau kau masih mencintainya! Jangan sampai kau kehilangannya lagi!”

“Apa? D-darimana kau-”

“Aku tau semuanya.. aku tau. Kejar dia Yul.”

Jessica menatap tiket di tangannya sekali lagi.

Hal yang dilakukan Yuri selanjutnya justru diluar dugaan Tiffany. Gadis tanned itu malah memeluknya, dengan begitu erat sampai Tiffany dapat mendengar debaran jantung Yuri yang begitu keras.

“Dia pernah melepasku Fany.. dan aku takkan melakukan hal yang sama padamu. Aku mencintaimu.” Yuri menatap kedua matanya dan membuat Tiffany menangis. Untuk pertama kalinya, kata-katanya Yuri terdengar begitu tulus. Dan Tiffany selalu percaya pada Yuri.

Pesawat yang Jessica tumpangi sudah lepas landas. Meski tidak berhasil, Jessica tidak menyesal karena pernah berjuang. Satu hal yang Jessica sadari, cinta itu tak pernah egois.

.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>> END

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini: