Archive for the ‘yulsic’ Category

Tittle : Oh My Ghost
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Gender Bender, Drama, Supranatural
Lenght : Series
Cast :
Kwon Yul
Jung Sooyeon
Kim Taeyeon
Im Yoong
Cho Kyuhyun
Choi Sooyoung
Seo Juhyun
Kim Heechul
Lee Junho
Kim Shinyoung
Other Cast

Disclaimer : This is Soshi Version of Drama ‘Oh My Ghost’. The Drama belong to TvN. The Plot and The Cast is not mine. Just For Fun.

Part : 2

 

Menjadi satu-satunya pekerja wanita otomatis membuat Sooyeon menjadi satu-satunya orang yang selalu keluar restoran terakhir. Malam ini cerah, setelah menatap langit malam beberapa saat gadis itupun melangkah pergi. Ada satu tempat yang ingin ditujunya malam ini. Pasar tradisional.

Kali ini bahan makanan yang dibeli Sooyeon cukup banyak. Gadis bertubuh mungil itu bahkan harus menyeret langkahnya saat berjalan. Tidak lama setelahnya Sooyeon sampai di kamarnya. Apartemen yang disewanya merupakan kamar kecil yang dipenuhi berbagai penangkal hantu seperti kertas-kertas jimat bertuliskan mantra, tempat pembakaran dupa, salib sampai bawang putih. Meski siapapun tahu di Korea tidak ada vampire.

Sooyeon ingat sejak masih anak-anak ia selalu bercita-cita menjadi chef terkenal. Mungkin karena itu pula ia rela bekerja di Sun Restauran meski setiap hari harus rela dimarahi. Bukankah hidup itu butuh perjuangan? Meskipun pahit selalu ada satu hal yang membuat kita semangat. Hal kecil namun sangat berarti. Kenangan yang membuat hati hangat. Sooyeon memilikinya tentu saja, salah satu kenangan masa kecilnya.

Kenangan masa kecil yang membuatnya ingin membuat bubur kubis malam ini.

Sejak kecil Sooyeon merupakan anak yang lemah dan sering sekali mengalami masalah pencernaan. Setiap hal itu terjadi sang nenek selalu membuatkannya bubur kubis. Sambil memotret semangkuk bubur kubis yang telah matang Sooyeon tersenyum, ia ingat bagaimana dulu neneknya suka menakutinya dengan jarum akupuntur jika Sooyeon tidak mau memakan bubur kubis itu.

”Memikirkan nenekku tidak hanya melegakan perutku tapi juga hatiku. Maka dari itu hari ini aku memposting resep bubur kubis ini.” Tulis Sooyeon dalam blog pribadinya. Satu rahasia dari Sooyeon yang tidak diketahui siapapun.

***
 

Keesokan harinya Sun Restoran dihebohkan oleh kedatangan Narsha Park. Seorang blogger makanan yang bahkan lebih terkenal dari selebritis. Sebutkan satu saja restoran terkenal di Korea yang belum pernah masuk situsnya, niscaya kau takkan menemukan satupun.

“Aku sangat iri padanya, kerjaannya cuma memotret dan menulis tapi dia sangat kaya.” Sooyoung bergumam sambil memandangi Narsha yang sedang sibuk dari balik meja pantry. Jenis pekerjaan Narsha adalah jenis pekerjaan yang membuat banyak orang iri.

Beberapa saat kemudian kedua alis Narsha berkerut setelah memandangi hasil bidikan kameranya. Gambarnya kurang bagus.

“Pelayan kemarilah.” Panggilnya pada Sooyeon.

“Ne?”

“Tolong panaskan mie ini. Hasil fotoku jadi kurang bagus karena mienya sudah dingin.” Perintah Narsha. Sooyeon ragu melakukannya, ada dua alasan. Pertama, mie pesanan Narsha merupakan buatan Chef, selama ini tidak ada seorangpun yang berani menyentuh masakan buatan Chef. Kedua, juga merupakan alasan yang paling penting, jika dihangatkan kembali maka mienya akan menjadi lembek.

Meski begitu Narsha tidak peduli, sebagai seorang blogger yang sudah bertahun-tahun bergelut dalam dunia kuliner Narsha tentu lebih berpengalaman dari seorang pelayan yang mungkin belum genap setahun bekerja di restoran. Wanita bermarga Park itu tetap memaksa Sooyeon dengan nada arogan.

“Kau lihat apa yang terjadi barusan?” Tanya Sooyoung. Junho menganggukkan kepalanya.

“Penilaianku berubah sekarang, daripada wanita dengan pekerjaan impian kurasa dia lebih seperti pemaksa yang berbicara seenaknya tapi memiliki sejuta pengikut.”

“Bukankah itu pengaruh internet, lagipula sekarang orang-orang lebih percaya apa yang ingin mereka percayai, tidak peduli apakah itu benar atau salah.”

“Kau benar.”

Minjun –anak Narsha- merengek minta di perhatikan ibunya. Anak berusia lima tahun itu merasa bosan karena sudah berjam-jam ia menemani sang ibu bekerja.

“Tunggu sebentar lagi sayang.” Ujar Narsha dengan tatapan tak lepas dari kamera di tangannya. Barulah setelah sang anak hampir tersiram kuah pasta panas yang dibawa Sooyeon perhatian Narsha kembali ke dunia nyata.

Sooyoung, Junho, Yoong dan Heechul ikut menoleh begitu Sooyeon menjerit. Minjun tiba-tiba menabrak Sooyeon dan hampir membuat mangkuk mie di tangannya jatuh, beruntung Sooyeon masih bisa menahannya, meski pada akhirnya tangannya harus tersiram kuah panas.

Narsha buru-buru menghampiri anaknya, beruntung Minjun sama sekali tak terluka. Walau begitu hal itu tak lantas membuat kegeramannya pada Sooyeon mereda. Ia tak habis pikir bagaimana restoran yang begitu terkenal memperkerjakan gadis sembrono seperti ini. “Kenapa kau ceroboh sekali saat membawa makanan panas?! Bagaimana kalau anakku sampai terkena luka bakar?!”

Sooyeon hanya bisa menunduk dan meminta maaf berkali-kali. Narsha yang tidak peduli terus saja bicara.

Yul yang baru muncul langsung berbicara pada Minjun. “Hai nak, siapa namamu?”

“Minjun.”

“Minjun-ah apa kau sudah masuk taman kanak-kanak?”

“Ne.” Minjun menganggukkan kepalanya.

“Apa kau tahu tidak boleh berlari-lari di dalam ruangan?”

“Ne ahjussi.”

“Sekarang apa kau tahu apa yang harus dilakukan saat kau salah?”

“Minta maaf.”

Saat Minjun mengakui kesalahannya, Narsha jadi tambah emosi dan tidak terima dengan perlakuan Yul.

“Anda marah karena saya mendisiplinkan anak anda? Saya juga marah karena anda mendisiplinkan pegawai saya.” Ujar Yul. “Kenapa menyalahkan orang yang tidak bersalah kalau anda sendiri yang tidak bisa mengontrol anak anda?”

“Situasi menggelikan macam apa ini?” dengus si blogger kesal.

“Aku tahu, memang menggelikan bukan? Menyuruh supnya dihangatkan padahal jelas-jelas mienya bisa jadi lembek. Dan saat mienya tidak enak anda-“

“Oppa!” Seohyun langsung menyela untuk memperingatkan Yul untuk tutup mulut tapi Yul tidak peduli. Yul tidak terima Narsha menyalah-nyalahkan Sooyeon atas kesalahan yang tidak gadis itu perbuat.

Pertengkaran keduanya semakin memanas, Sooyoung dan ketiga rekannya yang lain menonton dari balik meja pantry dengan takut-takut. Siapa sangka masalahnya bisa sepanjang ini. Yul dan Narsha masih beradu argument, Seohyun berusaha melerai keduanya tapi begitu melihat Seohyun yang terduduk diatas kursi roda, Narsha lantas mengatakan hal yang benar-benar kelewat batas. “Huh, sepertinya tidak ada orang normal di tempat ini.”

Seketika itu pula kemarahan Yul semakin memuncak. Narsha boleh menghina Yul, menghina masakannya, ataupun menghina restorannya, Yul tidak peduli. Tapi tak ada seorangpun yang boleh merendahkan adiknya. Siapapun itu Yul takkan membiarkannya, sekalipun seorang wanita.

Tanpa berpikir dua kali Yul menyeret Narsha dan anaknya keluar Sun Restaurant. “Maaf karena restoran kami hanya melayani pelanggan yang normal saja.”

Narsha berlalu dengan emosi memuncak. Sepanjang Yul masih bisa mendengarnya, blogger tersebut terus saja meneriakkan berbagai macam ancaman. Sementara Sooyeon yang berdiri di samping Yul terus menerus meminta maaf pada si blogger.

Yul jadi tambah kesal melihat sikap pegawainya yang satu itu. Terlebih lagi setelah meminta maaf pada si blogger, Sooyeon malah minta maaf lagi padanya.

***

Saat Yul membawanya ke halaman belakang restoran untuk di omeli, Sooyeon tampak gemetaran hebat. Untuk kesekian kalinya –karena sudah tak terhitung- Sooyeon membungkuk meminta maaf dan menyalahkan dirinya sendiri atas penyebab insiden tadi.

“Kau tahu apa yang tidak kusukai darimu? Sikapmulah yang membuatku kesal!” gerutu Yul.

Sooyeon selalu saja meminta maaf dan menyalahkan dirinya sendiri dalam situasi apapun, baik dia bersalah ataupun tidak. Bersikap seperti itu bukan berarti Sooyeon berbuat baik, justru sikapnya ini malah membuat orang lain di sekitarnya jadi tampak jahat. “Apa kau mengerti?”

“M-maafkan a-aku Chef.”

Yul menggelengkan kepalanya. Sooyeon sama sekali tidak mengerti inti dari omelannya dan membuat Yul mendesah frustasi. “Dapur bukanlah tempat yang mudah. Tempat ini adalah medan perang. Hanya orang-orang yang kuat saja yang mampu bertahan. Kau tidak akan punya kesempatan jika kau terus-terusan membuat dirimu jadi orang lemah.”

“Chef-“

“Daripada menjadi orang bodoh yang keras kepala dan membuat orang lain muak, pikirkan baik-baik apakah sebenarnya kau cocok di dapur atau tidak?!” Yul berlalu setelah mengatakannya sementara air mata Sooyeon perlahan menetes diatas kulit tangannya yang terasa menyengat.

 

***

 

Saat Yul kembali ke ruangannya, Seohyun sudah lebih dulu ada disana, menunggunya dengan cemas. Dari ekspressi Yul, Seohyun tahu sang kakak sudah memarahi Sooyeon habis-habisan.

“Oppa itu bukan kesalahan Sooyeon, lagipula menjadi baik bukan sebuah kejahatan.”

“Menjadi baik adalah sebuah kejahatan.” Sahut Yul.

“Pakai ini!” Sooyeon mendongak dan mendapati Yoong menyodorkan krim luka bakar padanya.

“Wanita itu jangan sampai mempunyai bekas luka.”

“Gomawo.”

“Ngomong-ngomong apa kita akan baik-baik saja? Narsha Park adalah blogger yang cukup berpengaruh.” Tanya Seohyun cemas.

“Memangnya blogger itu semacam jabatan resmi apa?” Yul kembali menggerutu. Entah kenapa akhir-akhir ini blogger jauh lebih menyebalkan daripada reporter. Siapa mereka berani member rating? Atas dasar apa penilaian mereka? Memangnya siapa yang ingin dia bohongi?

”Hariku sudah cukup buruk, apalagi yang mungkin lebih menyebalkan?” tepat setelah berkata seperti itu, sebuah pesan masuk di ponsel Yul. Sebuah undangan reuni SMA.

“Pesan dari siapa?”

“Bukan dari siapa-siapa. Hanya spam.” Yul langsung menghapusnya.

Kenapa? Karena saat SMA Yul memiliki kenangan yang tidak begitu menyenangkan. Satu-satunya alasan kenapa Yul tidak menyukai sifat Sooyeon karena, tiap kali melihat Sooyeon, Yul seperti bercermin pada masa lalunya.

 
Kelas sudah lama usai sementara Yul menjadi orang terakhir yang meninggalkan sekolah. Hari itu cuacanya tak begitu bersahat, angin musim gugur yang berhembus mulai membuatnya menggigil. Meski begitu Yul -sebagai anak terbully- harus rela mengerjakan tugas piket Dongju. Benar-benar cara menyedihkan untuk merayakan ulang tahun.

 

Sesampainya di rumah perasaan Yul tak lantas menjadi lebih baik. Terlebih setelah membaca pesan dari ibunya. Hari ini -di hari ulang tahunnya- sang ibu lagi-lagi tak ada. Tiap kali Yul menapakkan kakinya di tempat bernama rumah, hanya kesunyian yang setia menyambut kedatangannya.

 

Hari itu, sebagai tanda perayaan, ibunya menyuruh Yul memesan kimbab tapi Yul lebih memilih memanaskan air untuk memasak mie. Setidaknya hanya mie yang selalu ada untuknya.

 

Sementara itu kata-kata Yul masih terngiang-ngiang dikepala Sooyeon tak peduli seberapa keras gadis itu berusaha melupakannya. Sekarang Sooyeon bahkan tidak berani memandang wajah atasan killernya.

 ***

Dua orang polisi baru saja selesai makan malam di sebuah warung..

“Ne, aku akan datang sebentar lagi.” ujar Kyuhyun sambil membayar pada pemilik warung. Disampingnya Kangin pura-pura bergidik ngeri. Memang tidak ada yang bisa menandingi kemesraan pengantin baru.

“Sunbae bisa saja. Lagipula kami bukan pengantin baru. Bulan depan adalah perayaan anniversary kami yang pertama.” Kyuhyun kembali tersenyum. Waktu rasanya cepat berlalu sementara Kangin tertawa pada tingkah rekan kerjanya yang bersikap layaknya abg pubertas.

Beberapa saat setelahnya paman Kim datang sambil memberikan kembalian.

“Paman tunggu!” cegah Kyuhyun. Paman Kim berbalik dengan wajah bingung. Barulah setelah Kyuhyun memberitahunya bahwa uang kembaliannya lebih paman Kim mengerti. Menjadi tua tentu bukan pilihan. Ia sudah terlalu tua untuk mengerjakan semuanya seorang diri.

“Ngomong-ngomong dimana Jongin?”

“Aku juga tidak tahu kemana perginya anak itu.” keluh paman Kim. Tidak seperti kakaknya, anak termuda keluarga ini -Jongin- sama sekali tak bisa diandalkan.

Kyuhyun tersenyum simpati pada pria paruh baya itu. Mereka sudah saling mengenal sejak Kyuhyun dipindahtugaskan dari Daegu ke Seol. Ia paham betul mengapa paman Kim selalu terlihat kelelahan, ia juga paham betul kenapa senyum pria paruh baya itu tak setulus seperti pertama kali Kyuhyun menginjakan kaki di restoran sederhana ini. Meski begitu Kyuhyun hanya menyimpan alasan itu untuk dirinya sendiri.

Restoran paman Kim dulu sangat terkenal dan selalu ramai. Saat makan siang antrian bisa sangat mengular. Namun kini, bisnisnya sedang tidak terlalu baik. Banyak hal yang sudah berubah. Meski begitu Sampai saat ini Kyuhyun tidak sampai hati berpindah ke lain tempat. Walau tak dipungkiri Kangin sering sekali protes jika Kyuhyun mengajaknya makan di tempat ini.

“Kurasa sesekali kita harus makan di Sun Restaurant. Bukankah pasta buatan kakak iparmu sangat terkenal?” tanya Kangin semangat. Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan menuju Sun Restaurant. Tentu saja karena Kyuhyun akan menjemput istrinya, Seohyun.

 

***

 

Setelah menyerahkan Seohyun pada suaminya, Yul mendatangi sebuah pembukaan restoran yang dijalankan salah satu hoobae-nya.

“Semuanya terlihat seperti dapurku.” komentar pria tanned itu saat mengelilingi dapur milik Suho. Sementara Suho menanggapinya dengan gelak tawa.

“Itu karena aku sangat mengidolakan sunbae.”

Setelahnya acara puncak yang paling ditunggu pun tiba. Mendengar komentar Yul untuk masakan di restoran ini. Yul memasukan sesendok pasta ke mulutnya lalu mengunyahnya pelan. Pria tanned itu terdiam cukup lama, dan Suho pikir itu merupakan salah satu detik terpanjang dalam hidupnya.

“Kau tidak akan bangkrut.” Suho baru bisa bernafas lagi setelah Yul berkomentar seperti itu dengan nada jahil. Kata-kata Yul barusan juga bisa diartikan jika masakan Suho enak.

“Selain rasanya enak, teksturnya juga bagus.” lanjut Yul. Semuanya bersorak, merasa senang dengan penilaian Yul.

“Apa itu artinya sekarang aku sudah sejajar denganmu hyung?” Suho bertanya dengan mata berbinar.

“Eiii tentu saja tidak.” Protes Yul kekanakan. “karena aku adalah dewa yang masakannya memiliki citarasa surga, sementara kalian cuma manusia biasa.”

Ini dia Yul serta kepercayaan dirinya yang kadang-kadang menyebalkan.

“Ya! Tidak semua orang bisa mendengar nasehatku jadi dengarkan baik-baik. Jangan main-main dengan makanan. Apa yang kalian taruh diatas piring bukan cuma makanan tapi juga wajah kalian.”

***

Sooyeon baru sampai di kamar kosnya dan hal pertama yang dilakukan gadis itu adalah membakar dupa. Ritual yang selalu dilakukannya setiap malam untuk mengusir roh jahat –atas saran nenek. Bagaimanapun juga jika dunia merupakan lapangan tempat ia berperang maka kamar kos yang sempit ini merupakan tempat ternyaman Sooyeon untuk bersembunyi dari apapun yang ada diluar. Meski begitu belum sampai semenit bapak kos langsung membuka pintu kamarnya. Sooyeon buru-buru mematikan dupa tersebut tapi terlambat, lelaki paruh baya itu sudah terlanjur menangkap basah dirinya.

 Tuan Lee langsung memandang gadis pendiam itu dengan pandangan tak suka. Di kosan sempit dan tak memiliki ventilasi seperti yang dihuni Sooyeon, menyalakan dupa tentu bukan hal yang diperbolehkan. Selain menganggu para penhuni yang lain, jika tidak berhati-hati tuan Lee takut akan terjadi kebakaran.

“Sudah cukup aku memberimu toleransi nona Jung, mulai besok cari tempat tinggal yang lain saja.” Omel tuan Lee sambil berlalu.

Sooyeon tentu merasa sedih, tambah lagi satu kesulitan dalam hidupnya. Meski airmata sudah mengenangi sudut matanya, Sooyeon enggan menangis. Gadis itu duduk di sisi tempat tidurnya sementara pandangannya tertuju pada sebuah scrapbook yang berisi guntingan artikel-artikel majalah.

Sooyeon membuka halaman pertama benda itu dan menemukan Yul sedang tersenyum di dalamnya. Lalu di halaman kedua, ketiga dan seterusnya. Sooyeon ingat betul ia sudah mengidolakan Yul sejak SMA dan mengingat bagaimana kata-kata Yul begitu menginspirasinya untuk menjadi seorang chef juga. Meski begitu kata-kata Yul yang menyuruhnya untuk memikirkan baik-baik tentang apakah dia cocok di dapur atau tidak membuat keyakinan dan rasa percaya diri Sooyeon menjadi kerdil. Barangkali ia memang tidak bisa melakukan satu hal pun tanpa mengacaukannya kemudian. Termasuk melakukan hal disukainya.

Selanjutnya Sooyeon merobek sebuah kertas dan menulis surat.

***

Pintu restoran Suho berdenting sekali begitu seorang wanita cantik datang ke acara pembukaan restoran Suho. Semua pria menyambutnya dengan senang, Suho berdiri dan memperkenalkan wanita itu pada chef yang lain.

“Semuanya perkenalkan ini adalah Park Gyuri noona.” Kata Suho seiring dengan Gyuri yang memamerkan senyum termanisnya. Yul menatapnya sekilas lalu menganggukkan kepala, diantara yang lainnya mungkin Yul satu-satunya yang nampak kurang tertarik dengan kehadiran gadis itu.

“Oh iya hyung, minggu depan Gyuri noona berulang tahun dan noona ingin hyung menangani bagian makanannya.” Ujar Suho.

“Itu karena semua temanku adalah fansmu, chef Kwon.” Tambah Gyuri malu-malu.

Yul tertawa lalu menjawab dengan nada bercanda. “Tapi bagaimana ya, bayaranku cukup mahal nona Park.”

“Aku bersedia meminta berapapun yang anda minta tuan Kwon.” Balas Gyuri dengan santai. Kali ini Yul hanya menjawab dengan senyuman simpul.

“Hyung bisa meminta sangat banyak. Dia putri pemilik Young Chang Grup.” Bisik Suho dengan suara yang tak begitu pelan.

“Sebenarnya aku ingin menerimanya karena kau cantik tapi sepertinya aku ada janji hari itu, jadi maaf.” Tolak Yul.

 Malam beranjak larut dan itu menjadi alasan pria tanned itu untuk tidak berlama-lama disana.

“Kenapa harus cepat sekali hyung?” rengek Suho sambil mengantar sunbaenya sampai halaman depan.

“Itu karena aku masih ada urusan penting.”

Sebelum Yul benar-benar pergi ia menyerahkan amplop berisi uang untuk Suho. Sebuah bantuan kecil untuk bisnis barunya. Bagaimanapun Yul selalu suka pada anak muda yang memiliki semangat berbisnis. Awalnya Suho menolak tapi Yul tahu pria bermarga Kim itu hanya  malu.

“Hyung, kau tidak perlu sampai melakukannya-“

“Jangan banyak bicara! Terima saja!”

Suho menerima amplop tersebut dan melihat isinya, ia tersenyum lebar. “Saranghaeyo hyung!” 

*** 

Selesai urursan dengan Suho, Yul memutuskan untuk pergi ke pasar ikan. Mencoba melihat apa yang bagus disana, sekaligus memikirkan apa menu special untuk besok. Ditemani segelas kopi yang ia beli dari warung langganannya Yul menyusuri satu toko ke toko yang lain. Karena sudah sering datang kemari beberapa pedagang bahkan sudah mengenalnya dengan baik.

Setelah menulis suratnya Sooyeon berjalan ke dalam restoran dengan langkah lesu. Saat itu larut malam jadi tidak ada seorangpun disana. Sesaat, Sooyeon memandangi tiap sudut restoran itu dengan pandangan sedih. Meski tidak semua kenangan menyenangkan tapi restoran ini sudah seperti rumah kedua baginya. Sooyeon menghela nafas dan menaruh suratnya diatas meja.

Sooyeon baru saja akan pergi saat Yul tiba-tiba datang sambil membawa sekotak ikan yang ia beli dipasar beberapa saat lalu. Yul tentu saja keheranan melihat Sooyeon.

“Apa kau baru datang atau baru mau pulang?”

“Saya barusan datang, ah aniyo, saya mau pulang..” gumam Sooyeon gugup –seperti biasa. Sooyeon merasa perlu melarikan diri sebelum Yul melihat surat yang ditinggalkannya di meja.

“C-chef aku akan membantumu membawanya ke ruang penyimpanan.” Sooyeon menunjuk kotak berisi ikan yang ada di tangan Yul. Gadis itu buru-buru pergi setelah Yul memberikan kunci gudang padanya.

*** 

Dikamarnya, setelah selesai berganti baju Yul memutuskan untuk bersantai. Ia makan semangkuk ramen seraya menggoogling namanya sendiri. Yul langsung kecewa begitu mendapati namanya turun jadi nomor 3 dalam urutan nama chef terpopuler, tepat dibawah nama chef Shindong. Ia lebih kesal lagi saat mendatangi blognya chef Shindong dan menemukan banyak postingan foto chef berbadan subur itu bersama berbagai selebriti terkenal. Yul yakin sekali Shindong melakukannya karena kemampuannya kurang.

Beralih dari blog chef Shindong sekarang Yul membuka sebuah blog bernama YOU’RE MY SUNSHINE yang memposting resep bubur kubis. Yul berdecak kagum begitu membaca motto blog tersebut. “Kebahagiaan hidup, memimpikan meja yang hangat.”

Yul tersenyum membaca postingan sang blogger, meski hanya lewat tulisan ia bisa merasakan ketulusan sang blogger. Yul jadi bertanya-tanya, apa mungkin pemilik blogger ini merupakan seorang chef?

ILoveStrawberry : Sunshine-nim, masakanmu selalu mengandung kebahagiaan yang bisa dirasakan lewat citarasa. Aku adalah fan-mu. Fighting!

Yul menekan tombol kirim dan dengan begitu komentarnya tertinggal disana. Ia tersenyum.

Sementara diluar, Sooyeon memandangi gedung Sun Restaurant untuk terakhir kalinya. Mengingat semua kenangan saat ia bekerja disana. Bagaimana dulu Yul menyambut kedatangannya sebagai pegawai baru dengan wajah kakunya tapi walau begitu Sooyeon tersenyum amat bahagia. Betapa takutnya Sooyeon saat Yul marah-marah pada Sooyoung karena masakannya tidak enak. Dan saat Yul memeluknya dari belakang untuk mengajarinya cara mengiris bawang dengan benar, hal yang membuat Sooyeon gugup  sekaligus bahagia.

Chef aku ingin berterimakasih padamu karena sudah mau menerima orang sepertiku.
 Orang yang selalu membuat orang lain disekelilingnya kesusahan.
Aku selalu ingin melakukan yang terbaik tapi entah kenapa semua selalu berakhir tidak pada tempatnya.
Perkataanmu kemarin membuatku sadar chef, ingin melakukan sesuatu dan bisa melakukan sesuatu adalah dua hal yang berbeda.
Aku juga ingin minta maaf padamu dan semua orang di restoran atas semua masalah yang aku timbulkan.

Selamat tinggal.

 

Tapi ada kata-kata yang tidak bisa Sooyeon katakan dalam suratnya. “Aku belajar satu hal lagi berkatmu, chef. Perasaan manusia itu seperti demam. Sekali dimulai, seberapa banyakpun kau berusaha untuk tidak sakit, pada akhirnya hal itu akan berakhir setelah kau mengalami rasa sakitnya. Aku ingin menjadi chef seperti dirimu. Aku merasa gelisah dan bahagia karenamu. Aku terluka karenamu… lagi dan lagi. Aku sudah melewati rasa sakitnya jadi sekarang aku akan pergi. Bagi orang abnormal sepertiku, Sun Restauran sudah seperti rumah sendiri. Dan walaupun dunia mungkin akan mendorongku lagi tapi aku akan pergi. Selamat tinggal chef.”

Sooyeon membungkuk hormat pada gedung restorannya sebelum melangkah pergi.

 
*** 

Telepon Yul berdering. Pria tanned itu mengangkatnya dengan mata tertutup. Suara Sooyoung terdengar panik di ujung sana, dan selajutnya apa yang dikatakan laki-laki jangkung itu membuat kantuk Yul hilang sepenuhnya.

“Apa maksudmu Sooyeon pergi?”

Sesampainya di restoran Yul langsung membaca surat pengunduran diri yang ditinggalkan Sooyeon.

“Dia bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal secara langsung.” Ujar Seohyun sedih.

“Dia mungkin tidak berani, mengingat kepribadiannya yang seperti itu. Berikan gaji tiga bulan untuknya.” Jawab Yul.

Namun, masalahnya tidak selesai disitu. Beberapa saat kemudian Heechul muncul dengan panik karena kunci tempat penyimpanan makanan menghilang. Yul memijat pelipisnya, mengingat Sooyeon-lah orang terakhir yang masuk kesana, kemungkinan besar kuncinya terbawa gadis itu. Meski kesal Yul masih berusaha bersikap tenang.

”Junho coba kau hubungi Sooyeon.”

“Yes chef!”

“Yoong pergi cari tukang kunci.”

“Yes chef!”

“Heechul dan Sooyoung coba cari cara untuk membuka pintu itu.”

“Yes chef!”

Dilain tempat Sooyeon sedang berusaha mencari tempat tinggal  yang ada jendelanya. Tapi ia menunduk lesu begitu mengetahui mahalnya harga kamar berjendela. Junho meneleponnya tapi Sooyeon tidak mengangkatnya karena berpikir Junho akan menanyakan perihal pengunduran dirinya. Saat itu, tiba-tiba saja suara keras berdengung di telinga Sooyeon dan membuatnya sakit kepala.

Taeyeon yang masih terkurung dirumah dukun Shinyoung berteriak-teriak kebosanan dan membuat Shinyoung kesal.

“Ahhhh bosannn!! Aku sangat bosan sampai rasanya mau gila!” Taeyeon berguling di lantai rumah Shinyoung kesana kemari.

Jika ada satu hal saja, satu hal saja yang bisa Taeyeon lakukan agar Shinyoung mau melepasnya. Namun Taeyeon tahu tentu semua itu tak mungkin. Selama beberapa hari Taeyeon terkurung di ruangan ini bersama Shinyoung. Hanya Shinyoung seorang, sejak beberapa hari Taeyeon disini tak ada seorang pelanggan pun yang datang. Dan seperti yang sudah di duga Shinyoung akan menyalahkannya karena hal ini.

“Itu karena kau menghalangi keberuntunganku.” Shinyoung mengumpat sambil menaikkan celananya yang hampir melorot. Taeyeon yang belum menyerah kembali mencoba bernegosiasi.

“Karena itu tolong lepaskan aku. Jika kau melepaskanku aku janji akan hidup tenang seperti orang mati.”

“Kau memang sudah mati.” Jawab Shinyoung sambil menyeringai. Taeyeon kembali memutar bola matanya. Shinyoung tentu takkan melepaskan hantu pembuat onar seperti Taeyeon begitu saja.

Pembicaraan mereka terhenti begitu bel kediaman dukun paruhbaya itu berdering. Tteokbeokki pesanan Shinyoung baru saja sampai. Beberapa saat setelahnya Shinyoung berdebat dengan pengantar tteokpeokki tersebut karena Shinyoung ngotot membayar menggunakan kupon sementara pria pengantar tteokpeokki ngotot tak mau menerimanya.

“Kalau begini aku bisa rugi ahjumma!”

“Lalu kenapa kau mau mengantar pesananku?!”

“Itu karena sebelumnya aku kira ahjumma akan membayar dengan uang tunai!”

Taeyeon memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri.

Rasanya seperti terbebas dari dalam sangkar. Taeyeon tidak pernah berpikir udara luar begitu nikmat, tidak sampai hari ini. Ia tertawa-tawa sambil berlari sementara Shinyoung terengah-engah mengejarnya seraya mengeluarkan berbagai umpatan. Wanita bertubuh gempal itu tak memperdulikan pengantar tteokpeokki yang bersungut-sungut di belakangnya -dan mulai menganggap Shinyoung gila karena mengejar udara kosong.

“Gawat!” Panik Taeyeon, Shinyoung sudah hampir mendekatinya. Sejak kapan wanita itu bisa berlari cepat?

Bangunan apartemen Shinyoung sudah jauh di belakang mereka. Sekarang Taeyeon sampai di perempatan jalan, banyak orang. Kepala Taeyeon menoleh ke kanan ke kiri, mencari seorang yang bisa dimasukinya. Pandangannya tertuju pada seorang wanita yang sedang mengantuk di halte bis. Taeyeon berlari lalu merasuki wanita itu.

Shinyoung terengah-engah dan memegangi kedua lututnya. Tak jauh di samping kirinya Taeyeon berusaha bersikap normal agar Shinyoung tak curiga sementara wanita itu terus memandangi belakang kepalanya. Untung saja beberapa detik setelahnya Shinyoung berpaling lalu berjalan ke arah lain. Dan sepertinya keberuntungan Taeyeon belum berakhir karena beberapa detik setelah itu, seorang pria yang memanggilnya ‘Sooyeon’ memberinya helm lalu membawanya pergi dengan sepeda motor. Pergi semakin jauh dari Shinyoung.

Pria yang membawa Taeyeon menghentikan motornya. Taeyeon mendongak dan membaca tulisan gedung yang ada di depannya. Tertulis ‘Sun Restaurant’. Keterkejutan Taeyeon belum tertatasi tapi si pria sudah menarik tangannya memasuki restaurant.

Sesampainya di dalam beberapa orang sudah berkumpul. Seorang pria tinggi kurus yang berdiri sambil menyilangkan tangannya, pria berambut sebahu yang menatap Taeyeon dengan pandangan iba, pria bermata berambut cokelat, lalu ada pria tanned yang menatapnya dengan mata marah yang disipitkan dengan kedua alis yang berkerut, ditambah pria tinggi bermata rusa yang membawanya kemari. Mendapati dirinya dipandangi seperti itu Taeyeon jadi tambah bingung.

Pria tanned yang terus merengut lantas mengulurkan tangan padanya. Taeyeon menatap tangan yang terulur itu sesaat sebelum menjabatnya seperti orang bodoh. Pria itu menghempaskan tangan Taeyeon dengan kesal.

“Berhenti bermain-main! Berikan kuncinya!”

“Kunci apa?” Tanya Taeyeon tak mengerti, ia hanya memasuki tubuh seseorang, kenapa jadi rumit begini?

Pria tanned yang nampak tidak puas dengan jawaban yang Taeyeon berikan lantas maju selangkah dan mulai meraba-raba tubuhnya -untuk mencari kunci. Taeyeon terkejut tentu saja, refleks ia menarik tangan si pria lalu dengan sebuah gerakan judo ia membanting pria itu ke lantai.

Semua yang ada disana melongo menatap ‘Taeyeon’ lalu beralih pada chef mereka yang berbaring di lantai dengan wajah merah padam.

TBC

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Drabble #24 (YulSic)

Posted: April 24, 2016 in drabble, ff snsd, yulsic
Tag:, , ,

Drabble #24

Tengah malam Jessica tiba-tiba terbangun karena haus, tidak biasanya. Saat itu keadaan dorm sudah sepi, lampu di kamarnya juga sudah mati. Jessica melirik ke samping lantas menemukan Yuri yang sudah tertidur pulas dengan lidah sedikit terjulur. Jika tidak mengenal Yuri dengan baik siapapun akan berpikir gadis itu terbangun, namun bagi Yuri tertidur dengan cara seperti itu adalah normal.

Dengan enggan Jessica menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya, memakai sandal lalu berjalan ke dapur.

Segera setelah segelas air mengaliri tenggorokan keringnya, Jessica merasa lebih baik.

Semuanya normal saja sampai ia melewati kamar TaeNy. Langkah kakinya di paksa berhenti begitu -secara tak sengaja- mendengar percakapan penghuni kamar yang mencurigakan.

“T-taetae.. p-pelan.”

“Tahan sebentar Ppany-ah.”

“Arrgghhh.. appo.”

Suara lirih serta rintihan. Apa ini? Taeyeon dan Tiffany tidak sedang melakukan apa yang ada dalam kepala Jessica bukan?

Jessica Jung! Sadarlah!

“Ssst Ppany-ah pelankan suaramu. Mereka bisa mendengar kita.”

“Apa kau tahu aku sedang kesakitan?”

“Arra.. arra, pertama kali memang akan terasa sakit tapi setelahnya kau akan merasa lebih baik.” Taeyeon tersenyum. Tiffany memejamkan matanya, tangannya berusaha meraih apa yang bisa diraihnya sementara untuk meredam rintihan kali ini ia menggigit ujung selimut.

Tangan Taeyeon kembali bersentuhan dengan kulit mulusnya, gadis pendek itu kembali memulai dengan gerakan yang begitu perlahan seperti seorang profesional. Tiffany hampir tidak percaya jika kali ini adalah kali pertama Taeyeon melakukanyya.

Jessica bergidik ngeri, dingin, seperti ada hantu yang baru saja melewatinya. Ia baru akan pergi namun kata-kata Taeyeon selanjutnya membuat langkah sang ice princess terhenti.

“Sebenarnya, Yuri pernah melakukan hal yang sama padaku.”

Yuri?

Jessica membulatkan matanya, demi semua timun di dunia untuk apa Taeyeon membawa-bawa nama kekasih Jessica?

“Aku belajar banyak darinya. Gerakan lembut tapi kuat. Yuri selalu menekan titik-titik yang tepat.”

“Aku jadi berkeringat!”

“Aku juga.”

Cukup! Jessica tak ingin mendengar apapun lagi.

Dalam mimpinya Yuri bersorak gembira, ia sedang menyemangati Sharapova yang sedang bertanding. Namun, mimpi indah itu berakhir setelah sang petenis memukul pantat Yuri dengan raketnya. Sangat keras. Yuri membuka matanya dan mendapati Jessica yang berdiri sambil berkacak pinggang. Ternyata bukan dipukul raket melainkan ditarik dari atas ranjang sampai pantatnya mendarat dengan keras di lantai.

“Sica apa yang-”

“Keluar!”

“Mwo?” Yuri masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Kali ini apa yang sudah dilakukannya?

“I said get out now! N.O.W!”

Taeyeon berhenti memijat kaki Tiffany yang terkilir saat mendengar teriakan Jessica. Bukan hanya Tiffany dan Taeyeon, semua member keluar dari kamar mereka.

“Sica tunggu! Memangnya aku salah apa?”

“Tanya dirimu sendiri!”

“Baby tung-” bantal yang mendarat diwajahnya membuat perkataan Yuri terhenti.

“Untuk selamanya kau tidur diluar!”

Mulut Yuri terbuka sementara member yang lain menatapnya dengan pandangan iba.

“Apa ada yang mau menampungku malam ini?” Yuri bertanya dengan puppy eyes, member yang lain menggelengkan kepala mereka dengan kompak lalu nenutup pintu kamar dengan gerakan kompak juga.

“Teman macam apa mereka itu? Kenapa pula aku harus tidur diluar, disini dingin, Sica bahkan tak memberiku selimut dan aku bahkan tidak tau apa salahku.”
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>END

Tittle : Bodyguard
Author : RoyalSoosunatic
Lenght : Chapter
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

Inspired by Drama Boys Before Flower

Part 10
.
.
.
.
.

Payung-payung warna-warni mengembang layaknya jamur di musim hujan. Butiran-butiran salju menghantam jendela Lovely Day sore itu tanpa ampun. Di jalanan yang dapat Jessica lihat dari tempatnya berdiri berlusin-lusin orang berjalan sambil merapatkan mantel mereka sekedar menghalau udara dingin yang hampir membekukan seantero Korea. Beberapa menit lalu Kwangmin baru saja mengecek termometer digital yang dipasang di dekat pintu masuk dan mendapati suhu mencapai minus 5 derajat celcius. Lima derajat di bawah titik beku. Sementara itu perhatian Jessica teralihkan dari beberapa orang yang nampak tidak sabar menunggu bis di halte pada ponselnya yang masih tergeletak tanpa suara.

Seminggu berlalu sejak Mrs. Kwon memergoki mereka. Sejak saat itu ia belum bertemu dengan Yuri lagi. Yuri belum menghubunginya lagi. Disekolah, Sooyoung dan Hyoyeon terus berkelit dan mengatakan Yuri sedang pergi bisnis keluar negeri. Alasan semu tentu saja. Jessica tahu mereka menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya. Alasan sebenarnya mengapa Yuri tiba-tiba menghilang.

Jessica menghela nafas, perasaan resah itu muncul lagi. Ujung-ujung matanya serasa panas terbakar. Bayangan saat Yuri diseret ke dalam mobilnya kembali terulang dengan begitu jelas. Seakan kembali terulang di depan matanya. Tidak boleh. Ia tidak boleh menangis. Jessica cepat-cepat memperingati dirinya sendiri begitu cairan itu hampir meluruh di kedua pipinya. Jessica ingat Yuri tidak pernah menjanjikan jalan yang mudah baginya namun Jessica juga ingat Yuri berjanji takkan pernah menyerah.

Untuk saat ini, keyakinan itu yang membuatnya bertahan. Karena ia juga takkan menyerah, karena ia juga mencintai Yuri sebesar gadis tanned itu mencintainya.

Yoseob duduk di sebelahnya sambil menyodorkan segelas Americano yang asapnya masih mengepul. Jessica memandang bosnya sejenak sebelum beralih ke sekelilingnya. Sudah seminggu terakhir Lovely Day seperti kehilangan daya tariknya. Bisa dihitung dengan jari berapa pelanggan sehari yang membuat pintu restoran itu berdenting. Jessica tak habis pikir, begitupula Yoseob dan karyawan lainnya. Seharusnya dimusim dingin seperti ini bubur hangat menjadi pilihan utama namun sebaliknya orang-orang yang berjalan di trotoar melewati toko itu begitu saja seakan bangunan itu tak ada disana.

Youngmin dan Jessica berusaha membagikan brosur seperti di bulan-bulan pertama mereka. Membuat promosi di sosial media serta diskon besar-besaran. Meski begitu sampai saat ini belum ada satupun dari sekian usaha itu yang sudah berbuah nyata.

“Inilah bisnis. Tidak selamanya pelanggan banyak dan tidak selamanya pula tidak ada pelanggan. Kita hanya harus bersabar sedikit.” Yoseob berkata dengan tenang sambil menyesap americanonya sendiri.

“Beberapa bulan terakhir kita selalu sibuk. Hal yang baik dari kejadian ini adalah kita jadi punya kesempatan untuk bersih-bersih.” Masih dengan senyumannya, Yoseob memandang Youngmin yang sibuk mengepel lantai, Chorong dan Eunji yang sibuk mengelap meja, Kwangmin yang mengelap jendela dan Minwoo yang jadi sering sekali menggosok kompor sampai mengkilap -membuat si kembar berpikir mereka bisa bercermin disana. Senyuman Yoseob menular pada gadis blonde itu, Jessica menyinggungkan senyum tipis di bibirnya.

Andai saja Jessica bisa bersikap sepositif Yoseob, tapi ia tak bisa. Seminggu terakhir tak ada satu hal pun yang berjalan baik. Seakan seseorang sudah memutar roda kehidupannya yang mulai membaik.

Jessica bangkit dan berencana membantu Youngmin. Meski begitu ia masih sempat memandang pintu masuk, berharap lonceng di atasnya berdering, lalu dengan ajaibnya Yuri lengkap dengan senyum bodohnya muncul disana.

***

Krystal memandang dokter yang meletakan stetoskop di dadanya dengan wajah pucat. Dokter muda itu tersenyum lalu memberikan petuah-petuah yang sudah Krystal hafal di luar kepalanya. Serangkaian apa saja yang boleh dan tidak boleh ia lakukan dan yang lebih penting jangan sampai Krystal lupa meminum obatnya.

Krystal merengut dan membuat kedua alis tebalnya bertautan. Apa yang membuat dokter ini berpikir Krystal akan lupa minum obat. Sudah dua tahun ia menetap di rumah sakit dan sudah lima tahun sejak Krystal di diagnosa penyakit ini. Pil-pil itu sudah menjadi bagian hidupnya. Apa yang membuat sang dokter berpikir Krystal akan lupa meminumnya?

Gadis kecil itu hanya terlalu lelah.

Jessica berdiri di sisi ranjang tanpa bergerak. Seperti sebuah mesin rusak. Maka saat dokter meminta Jessica mengikutinya, butuh usaha besar dari Jessica untuk memerintahkan sendi-sendinya bergerak.

Lorong rumah sakit yang putih dan panjang itu begitu sepi. Dokter Kang merendahkan suaranya, meski begitu suaranya menggema dengan keras di telinga Jessica. Seperti sebuah palu yang dihantamkan keras di kepalanya.

“Nona Jung adik anda benar-benar membutuhkan donor secepatnya.” Suara dokter Kang penuh nada simpatik. “Operasi apapun lagi tidak bisa menolongnya.”

Jessica membiarkan kata-kata itu berdengung. Satu detik, lima detik, duapuluh detik, keheningan menggantung diudara yang dipenuhi bau steril tersebut. Satu-satunya suara yang dapat Jessica dengar adalah detak jantungnya sendiri. Degupan yang memukul-mukul keras rongganya. Kerongkongannya tercekat, namun Jessica tahu ia harus menanyakan hal itu, mengetahui kemungkinan terburuk.

“B-berapa lama?” Suranya begitu kering sampai Jessica pikir oranglainlah yang baru saja bicara.

“Tiga bulan.. paling lama.” jawab dokter Kang penuh penyesalan. Mendengar hal itu Jessica tak lagi menahan airmatanya. Pertahanannya runtuh, ia hancur, mencair secair-cairnya. Kakinya yang lemas meluruh ke lantai rumah sakit, airmatanya mengalir deras sementara tangannya menutup mulut untuk meredam isakannnya yang memilukan.

***

Kedua lengannya masih dicengkram dengan kuat sementara telapak tangan Yuri terus terkepal erat. Yuri pikir hari ini takkan menjadi lebih buruk lagi namun ternyata ia salah. Di ruang utama mansion luas tersebut neneknya sedang duduk sambil minum teh. Sungguh kedatangan tak terduga.

Langkah Mrs. Kwon berhenti begitu melihat mertuanya tersebut. Ia membungkuk sedikit untuk memberikan penghormatan namun seperti biasa wanita tua itu akan mengabaikannya, seakan Mrs. Kwon tak ada disana. Suasana tak nyaman memenuhi udara sementara Mrs. Kwon memasang wajah datarnya, berusaha bersikap normal, meski begitu Yuri dapat melihat rahang ibunya yang mengeras.

Sudah biasa bagi Mrs. Kwon untuk diperlakukan seperti sampah oleh ibu mertuanya. Wanita itu tentu tidak memiliki kriteria untuk dapat dijadikan menantu idaman bagi nenek Kwon. Bagi wanita tua itu kedatangan wanita ini sendiri sudah menjadi bencana bagi keluarga mereka. Entah racun apa yang sudah wanita jalang ini berikan pada putranya sampai-sampai ia rela mengkhianati istrinya terdahulu -Han Soohee. Dan Hyori benci mengetahui kenyataan jika selamanya di rumah ini ia hanya akan menjadi bayangan Soohee, wanita yang sudah lama mati.

“Memang pepatah itu benar kan? Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.” Nenek Kwon menatap Yuri sekilas lalu memandang Mrs. Kwon. “Ibu dan anak sama saja.”

Kepala Yuri berdenyut nyeri. Saat masih kecil Yuri selalu bertanya, kenapa nenek tidak menyukainya seperti ia menyukai Boa unnie? Kenapa ia selalu mengatakan Yuri mendapat sifat pembangkang dari ibunya tapi tak pernah mengatakan hal serupa pada Boa unnie? Kenapa hanya Boa unnie yang selalu nenek ajak ke peringatan kematian ibu mereka? Kenapa nenek selalu tidak menyukainya? Kenapa nenek selalu memukulnya dengan rotan setiap Yuri melakukan kesalahan, tidak peduli apapun kesalahan itu.

Setelah lima tahun hidupnya di dunia Yuri mengerti, karena ia dan Boa unnie memiliki ibu yang berbeda.

Saat ini Yuri tak bisa menentukan mana yang lebih buruk. Ibunya atau neneknya.

***

“Arrgghhhh!!!” Kesal Mrs. Kwon, semua barang yang sebelumnya berjejer rapi di atas meja kerjanya kini berserakan di lantai. Ia muak pada mertuanya, sudah cukup baginya diperlakukan seperti sampah di rumahnya sendiri. Iya, rumahnya sendiri. Tidak ada seorangpun yang bisa mencegah dirinya berkuasa dirumahnya sendiri, tidak Boa tidak juga nenek sihir tua menyebalkan itu. Mrs. Kwon sudah kehilangan banyak untuk mendapatkan semua ini maka ia tak boleh gagal. Tentu saja tidak, kemenangan terjamin karena ia memiliki kartu yang bagus, Yuri.

Diatas kertas Yuri merupakan putri sah keluarga ini, yang perlu ia lakukan adalah memastikan Yuri berada digenggamannya. Tentu saja harus, seorang anak harus berbakti pada orangtuanya bukan? Hal pertama yang harus Mrs. Kwon lakukan adalah memastikan tidak ada rumput liar dilapangan golfnya. Kalaupun ada rumput liar itu harus segera disingkirkan sebelum bertambah banyak.

“Sekretaris Kang..” panggil Mrs. Kwon pada lelaki yang sedari tadi berdiri di samping pintu masuk. Pelayannya yang paling setia. Pria ini sudah mengikutinya sejak wanita ini masih dipanggil Mrs. Kim. Benar-benar kesetiaan yang tidak bisa ditandingi siapapun.

“Cari info tentang gadis itu. Semuanya, semua yang perlu kuketahui.”

Jessica meraba bulu di tengkuknya yang beberapa hari ini terus meremang. Aneh, beberapa hari terakhir Jessica selalu merasa seseorang mengikutinya. Jessica berhenti melangkah lantas berbalik ke belakang namun seperti sebelumnya tidak ada seorangpun di jalanan sepi itu selain dirinya.

Jessica kembali melanjutkan perjalanan, kali ini langkahnya lebih cepat. Jessica berencana pergi ke rumah sakit dan gadis itu rasa Krystal sudah lama menunggunya. Namun beberapa detik setelahnya seseorang meremas pundaknya dan membuat jantung Jessica serasa melompat dari tubuhnya. Gadis itu memekik keras.

“Ahhh noona mianhe.. mianhe.” Minwoo jadi salah tingkah. Menyadari pria itu bukan orang jahat Jessica pun mengelus dadanya.

“Sebenarnya apa yang kau lakukan?!” Kesal Jessica.

Minwoo nyengir sambil mengangkat kantung belanja di tangannya. “Aku baru selesai belanja di minimarket itu lalu aku melihat noona. Aku hanya berencana menyapa, tidak tahu noona akan sekaget itu.”

“Itu karena.. akhir-akhir ini aku menderita paranoid akut. Seperti seseorang terus mengikutiku.”

“Seseorang? Nuguya? Sasaeng fans?”

“Aniyo! Memangnya kau pikir aku artis.”

***

Kwangmin tersenyum lebar begitu beberapa pria memasuki restoran. Ditengah bisnis yang sedang lesu-lesunya, pelanggan bagaikan oasis di padang pasir. Oleh karena itu Kwangmin memasang senyum selebar-lebarnya.

“Tuan silahkan duduk.” Ujar Kwangmin tersenyum ramah. Pria bertubuh kekar yang ada di hadapan Kwangmin menyeringai pada laki-laki kurus itu.

“Tidak perlu beramah-ramah, kami hanya datang untuk memberi kalian pelajaran.”

Sedetik kemudian suasana menjadi tak terkendali. Kursi dan meja berterbangan di restoran kecil ini. Beberapa di antaranya menghantam meja kasir, serta membuat sebuah jendela pecah.

“Apa-apaan ini?!” Yoseob terkejut mendapati kekacauan di depan matanya. Ia lantas melayangkan tinjunya pada salah satu pengacau. Bukan hanya Yoseob, semua karyawan juga berusaha melawan.

Pukulan-pukulan serta tendangan-tendangan, suasana menjadi lebih tak terkendali dari sebelumnya. Apapun bisa dijadikan senjata saat ini. Minwoo memasukan kepala seorang pria botak ke dalam panci. Kwangmin menahan pukulan seorang pria dengan papan menu yang sukses membuat papan malang itu terbelah dua. Youngmin yang dikejar dua pria -yang jelas lebih besar darinya- bersembunyi di bawah meja lalu melayangkan tinju yang sangat keras pada selangkangan kedua pria itu.

“Andweee!!” Eunji dan Chorong yang tersudur di meja kasir berteriak begitu seorang menghampiri mereka dengan pisau di tangannya. Pria itu tersenyum, benar-benar seorang maniak. Jessica mengambil potongan kaki kursi yang patah lalu menghantamkannya pada punggung si pria. Cukup mengejutkan tapi tak cukup untuk membuat pria kekar itu tumbang.

Pria itu berbalik lalu mendorong tubuh Jessica sampai membentur meja. Kepala Jessica berputar, saat menyentuh pelipisnya, cairan merah kental mengalir disana.

“Yaa!! Dasar kurang ajar!!” Eunji maju dan menjambak rambut si pria sementara Chorong terus menampar-nampar wajah pria itu.

Merasa kekacauan yang mereka timbulkan cukup, akhirnya para berandalan itu pergi.

“Kalian brengsek!! Jangan lari!! Aku belum selesai dengan kalian!!” Minwoo masih berteriak-teriak sambil mengacungkan spatulanya ke udara.

“Jessica gwenchana?” Chorong dan Eunji membantunya berdiri. Jessica meringis kesakitan, kepalanya terus berdenyut nyeri sementara siku dan lututnya serasa perih.

***

Para karyawan LD sedang membereskan kekacauan di restoran mereka. Dan Youngmin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bicara.

“Menyebalkan sekali! Direktur siapa sebenarnya orang-orang gila itu?”

“Mollayo.” Yoseob yang berdiri di sudut ruangan tampak berpikir keras.

“Apa direktur meminjam uang kepada rentenir untuk membuka restoran ini lalu tidak bisa bayar? Jadi si rentenir menyuruh orang-orang itu menghancurkan tempat ini?”

“Jangan berkata macam-macam! Aku tidak pernah meminjam uang pada siapapun.”

“Tapi kalau begitu aku jadi bingung. Siapa orang-orang itu dan apa yang mereka inginkan dengan menghancurkan tempat ini?”

“Jangan banyak bicara! Kerja saja yang benar.” Jawab Yoseob sambil berlalu.

Youngmin menggembungkan kedua pipinya sementara Kwangmin menatap kembarannya tajam. “Direktur sedang kesal jadi kau jangan menambah kekesalannya!”

Yoseob pergi ke ruangannya untuk memeriksa keadaan Jessica yang sedang diobati Eunji.

“Apa kau yakin tidak ingin pergi ke rumah sakit?” Eunji bertanya sekali lagi.

“Tidak usah, aku baik-baik saja.”

“Kau yakin?”

“Ne, sungguh.”

“Jessica hari ini kau pulang awal saja lalu istirahat. Aku akan mengantarmu.”

“T-tapi direktur-” Jessica merasa tidak enak pada karyawan lainnya.

“Jangan membantah! Ini perintah atasan.” Yoseob bersikeras dan akhirnya Jessica setuju.

Berbeda dengan yang lainnya Yoseob tahu kenapa orang-orang itu menghancurkan restorannya.

“Jangan pekerjakan Jessica Jung di tempat ini lagi!” Ucap seorang pria pada Yoseob sebelum ia mengajak teman-temannya pergi.

Sambil mengemudi sesekali Yoseob mencuri pandang ke arah Jessica yang duduk di sebelahnya.

“Mulai sekarang kau harus lebih hati-hati, arraseo?” Ucap Yoseob tulus. Entah kenapa laki-laki itu punya perasaan buruk tentang ini.

***

Dengan punggung yang disandarkan di kaki ranjang, Yuri duduk sambil memeluk lututnya. Sudah seminggu ia terkurung seperti tahanan. Pintu kamarnya hanya terbuka tiga kali sehari, yaitu saat pelayan mengantarkan makanan. Selebihnya pintu itu terkunci dan dua penjaga selalu berjaga disana, 24 jam sehari. Benar-benar memuakkan.

Meski begitu Yuri tetap makan karena ia harus bertahan hidup. Meski bukan untuk dirinya sendiri, Yuri akan melakukannya untuk orang yang dicintainya. Yuri tahu ia hanya perlu menunggu.

Pintu kamarnya terbuka sekali lagi…

“Apa kau benar-benar tidak berusaha melepaskan diri?”

Yuri mendongak dan mendapati Boa berdiri sambil menyilangkan tangan di dadanya. Yuri tersenyum pada kakaknya. “Untuk apa? Aku tahu unnie akan menyelamatkan aku.”

“Dasar bodoh!”

Yuri kembali tersenyum. Boa memang akan selalu menyelamatkannya. Tidak peduli kesulitan apapun itu. Sejak Yuri kecil Boa selalu menjadi kakak, ayah, sekaligus ibu baginya. Tanpa sadar ketergantungan Yuri pada kakaknya menjadi besar.

Dimasa kecilnya saat sang nenek memukuli Yuri, Boa akan ikut menangis bersamanya. Saat sang nenek mengatakan Yuri anak haram atau ia bukan bagian dari keluarga ini, Boa akan memeluknya dan menutup telinga Yuri. Lalu ia akan berbisik, membisikan kata-kata yang akan membuat Yuri berhenti menangis.

“Jangan dengarkan nenek. Jangan dengarkan siapapun yang berkata buruk tentangmu. Kau adalah adikku. Kau keluargaku. Aku menyayangimu dan akan selalu melindungimu. Arraseo?”

***

“Apa yang dia lakukan disini?” Gayoon bergidik ngeri sambil memandang Jessica yang berjalan ke arah mereka. Raina dan Hyuna ikut menolehkan kepala mereka lantas ikut bergidik ngeri. Seakan-akan Jessica memiliki penyakit menular yang berbahaya.

Meski begitu Jessica tidak peduli, dengan wajah dinginnya Jessica tetap melangkah ke dalam ruang eksklisif klub golf yang sudah lama ia tinggalkan. Tujuannya hanya satu, untuk menemui Sooyoung dan Hyoyeon. Menanyakan kabar pada dua orang tersebut perihal Yuri. Sudah hampir dua minggu, dan Yuri belum juga menghubunginya.

“Sooyoung-ah!” Panggil Jessica setengah berteriak, meski ia tidak bermaksud seperti itu. Gadis jangkung itu menoleh padanya, sedetik kemudian mata Sooyoung membulat melihat luka-luka di tubuh Jessica. Hyoyeon yang berdiri di samping gadis jangkung itu sama terkejutnya.

“A-apa yang terjadi?”

***

“Suho-ya biarkan kami menggunakan tempat ini sekarang.”

“N-ne.” Jawab Suho sambil mengajak beberapa anggota klub siaran keluar. Untuk memberi Sooyoung privasi.

“Duduklah!” Sooyoung tersenyum sambil mempersilahkan Jessica duduk di sofa ujung ruangan. Tempat yang biasa digunakan anggota klub untuk bersantai. Terlebih Sooyoung yang sering sekali tidur disini karena membolos pelajaran sejarah.

“Apa kau bisa mengingat salah satu dari mereka?” Tanya Sooyoung. Ia masih merasa geram tentang apa yang dialami Jessica. “Mungkin saja kita bisa menemukan siapa mereka. Dan setelah itu aku akan meremukkan tulang-tulang bajingan itu!”

“A-aku tidak begitu mengingatnya. Kejadiannya sangat cepat.” Jessica memejamkan matanya, mencoba memeras otak. Selain bertubuh kekar apa lagi ciri yang dimiliki pria-pria itu? Jessica masih berpikir keras lalu secuil ingatan muncul, pria yang mendorongnya memiliki tato kalajengking di lehernya.

“Sebuah tato kalajengking?” Hyoyeon memastikan. Jessica menganggukkan kepalanya.

“Sepertinya kami tahu harus mencari mereka kemana.”

“Lalu bagaimana dengan Yuri? Apa kalian sudah bisa menghubunginya?” Tanya Jessica penuh harap.

“Belum. Kami sudah beberapa kali ke rumahnya tapi para pelayan bilang Yuri tidak ada.”

“Apa Yuri benar-benar pergi ke luar negeri?” Tanya Jessica sekali lagi. Sooyoung dan Hyoyeon saling pandang.

“Jessica ada satu hal yang harus kau ketahui mengenai Mrs. Kwon. Dia itu benar-benar wanita berdarah dingin. Kau tentu ingat apa yang dia lakukan pada Taeyeon dan Jiwoong oppa? Wanita itu bisa melakukan yang lebih buruk. Lebih buruk dari apa yang bisa kau bayangkan.”

***

Di dalam bis Jessica duduk di kursi paling belakang sambil memandangi gelang ‘Yuri Now’ miliknya. Pikirannya jauh melayang.

“Yuri Now berarti sekarang Kwon Yuri yang memilki hati pemakai gelang ini. Jangan dilepas atau aku akan..”

“Akan apa?”

“Akan menikahimu disini. Saat ini juga!”

Jessica menghela nafas. Betapa ia merindukan Yuri. Jika gadis tanned itu mendengarnya, Jessica yakin kepalanya akan langsung membesar.

Jessica berdiri sambil menyelempangkan tas di bahunya. Halte yang ia tuju sudah sampai.

Sambil berjalan Jessica memijat-mijat kakinya yang terasa pegal. Seharian ini ia berdiri di bawah cuaca dingin sambil membagikan brosur bersama Youngmin. Beberapa pria yang selama beberapa hari mengikutinya tersenyum di belakang punggung Jessica. Jessica berbalik dan terjatuh karena kaget. Ternyata perasaannya benar, ia memang diikuti.

“Selamat malam cantik.” Pria berjenggot dengan jaket kulit lusuh tersenyum padanya dengan senyum menjijikkan.

“A-apa yang kalian inginkan?” Jantung Jessica di dadanya bertalu kencang. Satu hal yang ada di pikirannya, melarikan diri. Jessica harus lari. Namun sebelum ia sempat berbalik dan melangkah, pria yang lain menangkap tangan Jessica lalu memelintirnya kebelakang. Sedetik kemudian mulutnya disumpal, membuat jeritan Jessica tertahan.

Airmata mengenang disudut mata gadis blonde itu saat kelima pria tak dikenal itu menyeretnya ke dalam gang yang sempit. Perpaduan rasa sakit serta rasa takut yang menyerangnya seperti mimpi buruk. Pria dengan jenggot dan jaket lusuh yang sebelumnya lantas membelai wajah Jessica dengan mata berbinar-binar. Seakan baru menemukan setumpuk emas dadakan. Jessica menggelengkan kepalanya cepat. Berusaha berontak, menggerak-gerakan tubuhnya, menendang ke segala arah namun usahanya sia-sia. Pria berjaket lusuh itu lantas menamparnya. Sudut bibir Jessica berdarah.

“Gadis cantik sepertimu tidak seharusnya berjalan sendirian malam-malam begini, berbahaya.” Pria itu berkata dengan nada mengejek dan disambut tertawaan keempat temannya. Bau alkohol menguar dari mulut mereka. Sampah masyarakat. Jessica masih berusaha melawan namun cengkraman di pundaknya terasa semakin kuat, semakin sakit, seakan pria-pria brengsek itu sengaja ingin mematahkan tulang-tulangnya.

Sedetik kemudian punggung Jessica membentur tembok gang dengan keras. Ia terjatuh. Pria-pria itu tertawa sambil merobek kancing-kancing kemejanya dengan buas. Jessica menangis, lemah, tak berdaya dan ketakutan setengah mati.

Buk! Sebuah pukulan mendarat di punggung salah satu pria dan membuat maniak brengsek itu tersungkur di tanah yang lembab dan busuk. Melalui pandangannya yang kabur karena rasa sakit dan airmata Jessica melihat sesosok berdiri dengan balok kayu di tangannya.

Kejadian selanjutnya terasa begitu cepat bagi Jessica. Bagaimana sosok itu terus melancarakan serangan-serangan. Pukulan serta tendangan tanpa rasa takut hingga akhirnya kelima pria itu terpaksa lari terbirit-birit.

“Mianhe.. mianhe..” Jessica mengangkat kepalanya sedikit dan mendapati Yuri yang menangis keras sambil memeluknya. Jessica tersenyum lemah sambil melingkarkan tangannya di pinggang Yuri, di pinggang penyelamatnya. Seperti mimpi indah, akhirnya Jessica bisa kembali merasakan pelukan hangat Yuri, mendengar suaranya, dan menghirup aroma tubuhnya.

“Aku tahu… kau pasti datang.. Yuri-ah.” Gumam Jessica sebelum kesadaran meninggalkan dirinya sepenuhnya.

***

Brak!!

Pintu ruang kerja Mrs. Kwon terbuka keras. Wanita paruh baya itu mendongak dari foto-foto Jessica dan menemukan wajah murka putrinya. Yuri berjalan mendekat dengan rahang terkatup serta tangan yang terkepal erat. Gadis tanned itu seperti siap meledak kapan saja. Mrs. Kwon balik menatap Yuri dengan wajah tak bersalah, wanita itu bahkan masih sempat menyelipkan foto-foto Jessica dibalik file kerjanya. Yuri yang sedang emosi tidak sempat memperhatikan hal itu.

“Apa yang umma lakukan?”

“Mwo?”

“Jawab aku! APA YANG UMMA LAKUKAN?!”

“Apa sekarang kau sudah berani berteriak pada ibumu? Hanya karena Boa memintaku melepaskanmu bukan berarti aku tidak bisa mengurungmu lagi, kau tahu itu.”

“Jangan pernah gangggu Jessica! Atau aku tidak akan pernah memaafkanmu!”

“Jadi ini semua tentang gadis itu. Kau pikir aku punya banyak waktu untuk mengurusi gadismu? Apapun yang kau bicarakan aku sama sekali tak mengerti.”

***

Yuri masih memandangi gadis yang terbaring di hadapannya dengan rasa bersalah. Jessica sudah banyak menderita karenanya, Yuri tahu itu.

“Nngg.. Yul..”

“Sica? Sica kau sudah sadar?”

“Dimana aku?”

“Rumah sakit. Aku khawatir sekali. Apa kau baik-baik saja sekarang?”

Jessica tersenyum lalu menepuk tempat di sebelahnya. Yuri mengerti, ia naik ke tempat tidur Jessica lantas berbaring di sebelah gadis itu. Tangan kanannya memeluk pinggang Jessica sementara tangan kirirnya di bawah kepala Jessica.

“Mianhe..” ucap Yuri sekali lagi sambil menatap kedua mata Jessica.

“Aku baik-baik saja Kwon Yuri. Kenapa sejak pertama kita bertemu lagi kau hanya mengucapkan kata maaf. Apa kau tidak merindukanku?”

“Aku merindukanmu, hanya saja-”

Jessica membelai pipi Yuri dan meminta gadis tanned itu tidak melanjutkan kata-katanya karena Jessica tahu Yuri hanya akan menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi. Itu yang selalu dia lakukan.

“Aku juga merindukanmu.. sangat.” Jessica bergumam sambil meletakkan kepalanya diatas dada Yuri. Mendengar debar jantung orang yang sangat dicintainya. Yuri tersenyum mendengar pengakuan Jessica.

“Aku berpikir setelah lulus nanti aku akan langsung menikahimu.” Yuri berkata sambil tersenyum lebar. Iya dia memang sudah punya rencana, setelah lulus nanti lebih baik ia pergi dari rumah dan -mungkin- kawin lari dengan Jessica.

Jessica memutar kedua bola matanya mendengar perkataan Yuri.

“Kau bahkan belum belajar untuk ujian akhir dan sudah berani mengajakku menikah?”

“M-memangnya kenapa? Lagipula kita masih punya sebulan sebelum ujian akhir.”

“Waktu itu berlalu dengan cepat Yuri. Mollayo?”

“Arraseo arraseo! Aku pasti akan belajar dengan giat Sicababy.”

Yuri kembali memandang Jessica dengan intens. Tangannya terangkat untuk menyentuh pelipis Jessica lalu beralih ke sudut bibirnya yang terluka.

“Apa ini masih sakit?”

“Tidak.. tidak lagi.”

“Aku tahu… cara menyembuhkannya dengan cepat.” Yuri berbisik di telinganya. Jessica memejamkan matanya begitu kepala Yuri mendekat. Pertama-tama kecupan itu mendarat di atas pelipisnya, lalu di sudut bibirnya. Namun, saat Yuri bermaksud memperdalam ciuman mereka pintu ruang rawat Jessica terbuka.

“Unnie!” Panggil Krystal. Yuri terkejut sampai terjatuh dari ranjang. Muka Jessica bersemu merah.

Krystal Jung 1 – Kwon Yuri 0
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Here I Am (SongFic)

Posted: Januari 31, 2016 in one shot, yulsic
Tag:, , , ,

Tittle : Here I Am
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance, Drama
Lenght : Ficlet
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

Song Lyric :
*Yesung – Here I Am

Here I Am
.
.
.
.
.
.

Aku masih menununggu menunggu menunggu
Kasih tatap aku
Berikan hangat yang dulu
Biarkan sekali lagi kurengkuh dirimu dalam pelukku

Sekali lagi tenggelamkan dalam rasa ini
Cinta yang kau bilang sebesar bumi
Yang kau bilang secerah mentari
Ucap sekali lagi tiga kata yang jauh di dalam nurani

Tak butuh mata tak butuh telinga
Hanya debaran dalam dada
Kau bilang debaran itu hanya untukku
Karena sampai saat ini debaran ini juga masih untukmu
Hanya untukmu

.
.
.
.
.
.

Pinggyega piryo haesseossna bwa
I think I needed an excuse
Pyeonuijeom apeseo sureul jogeum masyeosseo
I drank a little in front of the market
Jeongmal jogeum indedo sesangi heuryeojineun ge
It was really little but the world has gotten blurry
Jom chwihan geot gata na
I think I’m a little drunk

Yuri tahu ia hanya butuh alasan. Siapa saja tahu ia peminum yang baik, namun akhir-akhir ini seteguk soju saja bisa membuatnya kehilangan akal sehat. Ah bukan, agaknya bukan soju yang membuatnya kehilangan akal sehat, melainkan pintu tertutup yang selalu ia datangi tiga bulan terakhir.

Dalam pandangan Yuri tiga bulan terakhir dunia menjadi kabur. Seakan waktu disekelilingnya berlari sementara ia tak bisa merasakan apapun selain rasa sakit serta kerinduan yang perlahan namun pasti mengikis jiwanya. Mengikis akal sehatnya.

Sigyereul ilheo beoryeossna bwa
I think I lost my watch
Hanjjok pari heojeonhae baraboda arasseo
I realized only after looking at my arm because it felt empty
Sigye tasdo anigo nae pal wie issdeon
It’s not the watch’s fault
Ne son hana neukkil su eopsdan geol
I couldn’t even feel your touch on my arm

Segalanya menjadi serba salah setelah gadis itu pergi. Seperti seseorang sudah membalikkan kehidupan sempurnanya. Iya, sempurna, tidak masalah seberapa sulit keadaan yang mereka hadapi asalkan bersama gadis itu Yuri selalu merasa bisa melawan dunia. Dunia yang selalu berlaku tak adil pada mereka.

Tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri ditengah badai ini. Sejujurnya Yuri terlalu sakit untuk bisa merasakan apapun selain rasa sakit itu sendiri.

Maeil gadeon girinde
I walked this way every day
Eotteohge ireohge nega johahaneun ge manhassneunji
But I didn’t know there were so many things you liked here
Sone japhineun dero sulgiune sagin sassneunde
Out of drunkenness, I bought what I could
Neon ajik geu gose saneunji
I wonder if you still live there

Dimana-mana Yuri bisa melihat gadis itu. Seakan seluruh hidupnya hanya berpusat pada Jessica. Memang, kehidupan Yuri hanya berpusat pada gadis itu. Yuri bernafas untuk membuat gadis itu tersenyum. Jantung Yuri berdetak untuk membuat Jessica bahagia. Lalu apa mungkin Yuri masih bisa hidup jika alasannya direnggut?

Jujur saja melewati jalanan yang dipenuhi memori ini tanpa kehadiran Jessica menjadi sebuah siksaan. Kenyataan yang memukul keras kepalanya. Kenyataan yang berteriak keras padanya. Mengingatkan bahwa tawa serta rasa yang selalu Yuri puja sudah lama berlalu. Sesuatu yang harus ia kubur dalam kotak kenangan. Meski begitu sampai saat itu Yuri terus meratap karena tak sanggup.

Mun yeoreobwa naega yeogi wassjanha
Open the door, here I am
Wae molla nega johahadeon hwabune
Why don’t you know?
Kkoccdo jogeum sassneunde
I bought the plant and flowers that you like
(Igeot bwa) nega sajun syeocheue
Look, I’m wearing the shirt you bought me
Ne hyanggi ppaego modeun ge dorawassneunde
Everything has come back except for your scent
Neoman eopsne mun yeoreobwa
Only you’re not here, so open the door

Kadang Yuri bertanya mengapa ia harus meratap? Toh tanpa gadis itu dunia tidak berakhir. Semuanya masih terlihat sama. Orang-orang masih tertawa, dunia masih berputar, matahari masih terbit. Namun setelah melihat kenangan itu sekali lagi, merasakan sakitnya sekali lagi akhirnya Yuri sadar ternyata yang berakhir itu dunianya. Dunia mereka berdua.

Geuri swiun marinde geu ttaen wae
They are such easy words
Geureohge saranghandan mari eoryeowossneunji
But why was it so hard to say I love you back then?
Uri heeojin hue ne moseup boiji anhado
Even though I couldn’t see you after we broke up
Neon ajik nae mame saneun ji
You still live in my heart

“Saranghae.”

Yuri memejamkan matanya rapat-rapat. Bisikan itu seakan diterbangkan angin.

Tiga kata itu
Seharusnya aku mengatakan lebih banyak
Membiarkanmu mendengar lebih banyak
‘Saranghae’

Mun yeoreobwa naega yeogi wassjanha
Open the door, here I am
Wae molla nega johahadeon hwabune
Why don’t you know?
Kkoccdo jogeum sassneunde
I bought the plant and flowers that you like
(Igeot bwa) nega sajun syeocheue
Look, I’m wearing the shirt you bought me
Ne hyanggi ppaego modeun ge dorawassneunde
Everything has come back except for your scent
Neoman eopsne mun yeoreobwa
Only you’re not here, so open the door

Airmata Yuri mengalir. Ia ingat dokter membawa Jessica kedalam ruang operasi. Tujuh jam penantian yang menguras semua energi gadis tanned itu. Yuri sadar seharusnya hari itu ia merayakan Anniversary bersama gadis itu dan bukan malah menuduhnya selingkuh dengan laki-laki lain. Seharusnya malam itu Jessica berbaring disisinya dengan bahagia bukannya berbaring di ranjang operasi untuk bertahan hidup.

Yuri kembali menatap pintu yang tertutup itu.

Bul kyeojin ne bang changgae heurishage boyeo
The light is on in your room, I can see you faintly
Ireumeul bulleobojiman
I tried calling out your name
Nae moksori daheul geosman gata
It feels like my voice could reach you
Nae maeumdo daheul geosman gata
It feels like my heart could reach you
Jebal dathin i mun jom yeoreobwa
Please open this closed door
Naege dorawa
Come back to me

Yuri hanya bisa membiarkan saja saat Mrs. Jung menamparnya. “Ini salahmu! Ini semua salahmu!”

Ini memang salahku.

“Sejak awal kami tidak menyetujui hubungan kalian, tapi kau malah membawa putriku lari!”

Maaf karena sudah membuatmu berkorban banyak Sica.

“Sekarang lihat apa yang kau perbuat padanya?!”

Aku mencintaimu, sangat.
Meski begitu dari awal seharusnya kau tidak perlu masuk dalam kehidupanku yang menyedihkan.
Kwon Yuri yang menyedihkan.

“Pergi! PERGI DARI KEHIDUPAN PUTRIKU!”

Mun yeoreobwa naega yeogi wassjanha
Open the door, here I am
Wae molla nega johahadeon hwabune
Why don’t you know?
Kkoccdo jogeum sassneunde
I bought the plant and flowers that you like
(Igeot bwa) nega sajun syeocheue
Look, I’m wearing the shirt you bought me
Ne hyanggi ppaego modeun ge dorawassneunde
Everything has come back except for your scent
Neoman eopsne mun yeoreobwa
Only you’re not here, so open the door

Mun yeoreobwa
Open the door

Pintu bercat cokelat itu akhirnya terbuka namun Yuri buru-buru berbalik sambil menghapus airmatanya.

“Tunggu nona! Kenapa kau selalu berdiri di depan rumah kami?”

“Tidak apa-apa.” Yuri menjawab tanpa berbalik. “Kurasa aku salah rumah.”

Gadis tanned itu melangkah pergi meninggalkan Jessica yang masih terpaku. Jessica yang tidak akan pernah mengingat Kwon Yuri, Jessica yang takkan mengingat kenangan mereka, Jessica yang takkan mengingat apa yang pernah mereka miliki.

Meski begitu ia tetap Jessica yang sama yang akan selalu Yuri cintai.

.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>END