A Handsome Girl (TaeRi/Part 2)

Posted: Juni 23, 2015 in Uncategorized
Tag:, ,

Tittle : A Handsome Girl
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Comedy Romance, Action
Lenght : Chapter
Cast : Kim Taeyeon, Kwon Yuri, and Other Cast

Song lyric by :
*Baekhyun EXO – Beautiful (EXO Next Door OST)

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari komik berjudul Alien Street karya Minako Narita

A Handsome Girl
.
.
.
.
.
.

Sore harinya Shinyoung meminta bertemu di kedai kopi langganan mereka.

“Laporannya sama sekali belum dibuat? Apa saja kerjamu selama 5 hari di rumah Yuri?”

“Yuri itu sifatnya tidak jelas, susah menuliskannya.”

“Tidak jelas?”

“Kadang-kadang dia hebat dan kuat, kadang-kadang tidak bisa serius, kadang-kadang menyebalkan, kadang-kadang dewasa, kadang-kadang suka tebar pesona tapi kadang-kadang dingin sekali.” Taeyeon menjelaskan dan setelahnya giliran Shinyoung yang dibuat bingung.

“Aku jadi tidak paham. Tapi berusahalah, karena walaupun tidak begitu bagus tapi tulisanmu menarik.” Ucap Shinyoung sementara Taeyeon memutar bola matanya. Perkataan Shinyoung barusan dinamakan ‘memuji sambil menjatuhkan’.

“Direktur Kim..”

“Aku serius Taeyeon-ah. Belakangan ini anak rektor yang kamu sebut-sebut itu tak pernah bertingkah lagi. Mungkin karena tulisanmu.”

“Benarkah?” Taeyeon tidak percaya. Mengingat apa yang telah dilakukan kedua berandal itu padanya, Taeyeon tidak yakin sama sekali.

Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Shinyoung, Taeyeon melihat Chaerin dan Minzy meminta sumbangan untuk Christmas Charity. Apa benar mereka sudah tobat? Taeyeon tidak terlalu memperdulikan hal itu, lagipula walaupun uang itu nanti akan mereka gunakan sendiri, masih lebih baik daripada mereka memeras orang lain seperti dulu.

Memang benar kelihatannya berubah 180 derajat tapi.. apa benar seseorang bisa berubah begitu saja?

“Hei.. apa yang kau pikirkan?” Yuri menggerakan tangannya di depan wajah Taeyeon yang sedari tadi melamun.

“Chaerin dan Minzy.”

“Kedua orang itu minta sumbangan, iya kan?”

“Mereka memang kelihatan jadi alim tapi aku tidak percaya  mereka mengumpulkan uang itu untuk disumbangkan. Pasti dihabiskan sendiri.”

“Jangan begitu. Rencananya setengahnya akan disumbangkan ke gereja.”

“B-bagaimana kamu bisa tau?”

“Sebenarnya.. aku cuma berkunjung ke rumah pak rektor dan bertemu anaknya itu. Kami cuma ngobrol sebentar.”

“Lalu?”

“Waku itu aku melihat bahwa sebenarnya anak itu mahasiswa yang baik dan penuh semangat. Sekarang dia sudah kusuruh untuk menghentikan pencarian dana.”

Ngobrol? Sebelum menerbitkan koran itu Taeyeon juga bermaksud melakukannya karena ia pikir itu adalah cara yang baik untuk mengetahui yang sebenarnya. Tapi jangankan ngobrol… mereka malah mengancam Taeyeon sampai Taeyeon terpaksa pulang. Tapi kepada Yuri mereka mau bicara.

Taeyeon mengerti, mungkin karena dalam segi apapun Yuri memang lebih unggul dari mereka. Sedangkan Taeyeon tidak punya apa-apa. Tidak ada yang bisa diharapkan darinya.

“….karena itu memakan waktu beberapa tahun..”

“Huh?” Yuri tidak mengerti. Taeyeon tersenyum sinis. Seharusnya, orang jenius seperti Yuri bisa mengerti maksud perkataannya dengan mudah.

“Aku bertekad untuk mencari pemecahan permasalahan ini tapi setelah kamu datang, semuanya dapat kamu atasi dengan mudah hanya dalam sehari.” Kenyataan yang begitu ironis ini membuat Taeyeon marah. Yuri terpaku, ia tidak menyangka Taeyeon akan merasa seperti itu.

“Maaf.” Yuri berbisik lalu berbalik pergi. Giliran Taeyeon yang dibuat terpaku. Taeyeon sudah membuat Yuri sedih padahal Yuri telah melakukan hal yang baik.

Sampai saat pulang keduanya belum bicara lagi. Di dalam mobil, Yuri duduk di kursi belakang sementara Taeyeon terus meliriknya melalui kaca spion. Yuri duduk sambil mendekap kakinya dan membuatnya kelihatan jauh lebih muda. Oh bukan, ia bukan kelihatan lebih muda tapi selama ini ia berlagak dewasa. Setiap berkenalan ia pura-pura pasang wajah dewasa. Tinggi badannya juga cukup membantu, Taeyeon benci yang satu itu.

Baru kali ini Taeyeon melihat Yuri yang berumur 15 tahun. Apa Taeyeon keterlaluan?

~~~~~~~~~~~~~~~~

“Selamat pagi paman.”

“Selamat pagi Taeyeon-ah, bisa tolong bangunkan nona Yuri?”

“Eh? Memangnya dia belum bangun?”

“Belum, dan sejak kemarin nona Yuri terus mengurung diri di kamar.”

“B-benarkah?”

“Ne. Aku penasaran apa telah terjadi sesuatu..” heran butler Cha.

Taeyeon berjalan cepat melintasi lorong serta menaiki anak tangga menuju kamar Yuri. Gadis itu mulai merasa bersalah, siapa sangka jika Yuri begitu sensitif.

Taeyeon mengetuk pintu kamar Yuri beberapa kali. Disaat Taeyeon pikir akan ada ‘sesuatu’ diluar dugaannya Yuri malah bersikap seperti tak pernah terjadi apapun.

“Kamu kok kelihatan tenang-tenang saja?”

“Memangnya ada apa?” tanya Yuri polos. Taeyeon menyerah kali ini, ia tidak tau lagi bagaimana harus menghadapi Yuri.

“Taeyeon kamu suka kamarku?” Yuri kembali mengeluarkan pertanyaan yang membuat Taeyeon gemas.

“Bukan itu!!”

“Lalu?”

“Sudahlah! Ayo sarapan!” Taeyeon melangkah lebih dulu. Sedetik kemudian Yuri menarik tangannya hingga mereka berada dalam posisi berhadapan.

“Y-yuri kamu mau apa?” gugup Taeyeon.

“Mengambil ini.” Yuri mengambil benda bulat kecil yang -entah sejak kapan- menempel di kerah hoodie Taeyeon.

“Apa itu?”

“Alat penyadap.”

“Mwoya? Alat penyadap? T-tapi untuk apa?” Taeyeon tidak mengerti. Sungguh, mereka seperti dalam film spionase saja. Yuri tak lantas menjawab melainkan menarik tangan Taeyeon.

“Antarkan aku ke perpustakaan, ada yang ingin kucari. Pukul 12 jemput lagi, oke?”

“B-baiklah.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yuri bersandar di gerbang perpustakaan sambil melihat arlojinya. Waktu menunjukkan pukul 12 kurang 3 menit, Yuri jadi bertanya apakah Taeyeon akan datang tepat pada waktunya?

“Yuri!”

Yuri berbalik dan menemukan seorang pria misterius di belakangnya. “Kamu Kwon Yuri kan?”

“Ya, memangnya kenapa?”

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu sebentar saja.” Melihat dari cara bicara si pria, Yuri tau ada sesuatu yang tak beres. Faktanya ia akan terjebak dalam posisi sulit dan belum ada tanda-tanda kedatangan Taeyeon.

Sedetik kemudian Yuri merasa pria itu menodongkan sesuatu di punggunya. Sebuah pistol. Yuri tak punya pilihan selain menuruti keinginan si pria, ia berjalan menuju mobil yang terparkir di depannya. Satu menit lagi, dan Yuri berharap Taeyeon akan benar-benar datang tepat waktu.

Doa Yuri terjawab, Taeyeon datang tepat sebelum Yuri memasuki mobil si pria. Yuri mendorong tubuh pria itu lalu berlari ke jalan, ia melompat ke atas kap mobil yang dikendarai Taeyeon. Hal itu tentu saja membuta Taeyeon terkejut tapi Yuri sama sekali tidak punya waku untuk menjelaskan.

“Kabur! Ayo cepat!”

“Apa?”

“Kubilang cepat!”

Yuri berteriak, memaksa Taeyeon menekan pedal gas lebih keras. Di belakang mereka mobil lain mengejar dengan jarak  yang semakin dekat.

Yuri berusaha memanjat untuk naik ke kursi penumpang. Ia berhasil walau dengan susah payah. Taeyeon semakin panik karena tidak mengerti apa yang terjadi.

“Pakai kecepatan penuh!”

“I-iya, tapi apakah kamu baik-baik saja?”

“Aku tidak apa-apa. Yang penting sekarang kita harus bisa lolos. Mereka mau menculikku.”

“Mwo? Menculik? T-tapi kenapa?”

“Mungkin mereka penggemarku yang fanatik.” Ucap Yuri sekenanya. Walau penggemarnya memang banyak tapi Taeyeon yakin takkan seekstrim ini. Menculik? Itu menyeramkan terlebih lagi mereka sampai menggunakan pistol segala. “Mereka mengincar ban mobil kita.”

Tangan Taeyeon gemetaran. Ia sama sekali bukan penggemar film action dan tak pernah sekalipun terpikir untuk terlibat dalam action yang sesungguhnya.

“Jangan turunkan kecepatannya!”

“Di depan ada lampu merah.”

“Memangnya kenapa? Kalau kamu takut warna merah itu artinya kamu tidak bisa makan apel.”

“Disaat seperti ini jangan mengatakan hal-hal yang tidak penting!” kesal Taeyeon.

Yuri menoleh kebelakang. Mobil yang mengejar mereka sudah sejajar, hanya saja kali ini tanpa tembakan. Mungkin para penculik itu sadar mereka tak bisa menggunakan pistol di tempat umum.

“Mereka lama-lama pasti akan bosan juga.” Ujar Yuri.

“Maksudmu kita harus terus seperti ini sampai mereka bosan?” Taeyeon tidak percaya. Hari ini adalah pertama kalinya Taeyeon berkendara segila ini, jantungnya hampir copot dan Yuri memintanya untuk lebih lama.

“Sebenarnya, berat juga kalau harus kejar-kejaran seperti ini.” Yuri menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Bagaimana bisa orang yang hampir diculik masih bersikap setenang ini?

“Makanya cari akal dong! Bagaimana ini?” Taeyeon mulai tidak sabar.

“Kita gunakan siasat ‘Masuk empang menghindari kejaran tawon’. Diperempatan jalan nanti di pojok kiri ada bangunan, kita masuk ke situ!”

“Ma-masuk?”

GUBRAAK!!

“Berhasil… kelihatannya mereka sudah tidak mengejar kita lagi.” Yuri bersorak gembira begitu mobilnya berhasil menerobos pintu -atau lebih tepatnya menghancurkan pintu- bangunan tersebut. Berbeda dengan Yuri, Taeyeon sama sekali tidak menganggap ini sebagai keberuntungan. Sebagai informasi saja, bangunan yang mereka masuki adalah kantor polisi.

Sesampainya di rumah Taeyeon terus berlari mengejar Yuri yang berjalan di depannya. “Yuri tunggu! Kenapa kamu tidak menceritakan yang sebenarnya?”

Mengingat Yuri yang rela membayar denda karena menabrak kantor polisi demi meloloskan diri, hanya orang bodoh yang percaya apa yang terjadi hari ini hanya ulah dari ‘penggemar fanatik’.

“Kenapa kamu penasaran?”

“Karena kamu bilang ada yang ingin menculikmu tapi sekarang kamu tidak mau menceritakannya. Apa sebenarnya tujuanmu?”

“Aku tau kenapa mereka mau menculikku. Biar masalah ini aku urus sendiri.”

“Mana mungkin kalau cuma kamu sendiri-”

“Pokoknya kamu tidak perlu ikut campur! Dan jangan ceritakan masalah ini pada siapapun.”

“T-tapi..”

“Nah, selamat tidur..” Yuri memasuki kamarnya, namun sebelum itu ia sempat memberikan flying kiss untuk Taeyeon.

“Dasar babo!”

Dikasurnya, sambil berbaring Taeyeon terus berpikir. Walaupun Yuri seorang perempuan, jiwanya seperti laki-laki sejati.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Pukul 6 pagi. Sejak tinggal disini baru pertama kalinya Taeyeon bangun sepagi ini. Gadis itu merentangkan kedua tangannya lalu membuka jendela. Membiarkan udara segar memasuki kamarnya.

Matanya lantas tertuju pada Yuri yang sedang jogging. Taeyeon memang tau setiap hari Yuri bangun pagi tapi ia baru tau kalau Yuri jogging segala.

Annyeong naege dagawa
Hello, you came to me
Sujubeun hyanggireul angyeo judeon neo
Giving me your shy scent
Huimihan kkumsogeseo
In my hazy dream
Nuni busidorok banjjagyeosseo
You were shining, dazzling

Seolleime nado moreuge
With a fluttering heart, without knowing
Hanbaldubal nege dagaga
I went to you, step by step
Neoui gyeote nama
And I stayed by your side

Neoui misoe nae maeumi noganaeryeo
My heart melts at your smile
Nuni majuchyeosseulttaen
When our eyes meet
Dugeungeoryeo
My heart pounds

Oh neoege hago sipeun geu mal
Oh words I want to say you to
You’re beautiful

Beberapa saat setelahnya, Hani berlari kearahnya. Hani merupakan anjing kesayangan Yuri. Gadis tanned itu tertawa begitu Hani menjilati wajahnya, Taeyeon ikut tersenyum, hari ini adalah pertama kalinya ia melihat Yuri sebahagia itu. Selain itu, sifat Yuri juga sudah banyak berubah dibanding saat Taeyeon pertama kali kesini.

Merasa diperhatikan Yuri menoleh keatas dan melihat Taeyeon yang melambaikan tangan ke arahnya. Yuri mendengus dan memalingkan wajahnya dan membuat Taeyeon heran.

“Yuri! Kamu marah? Memangnya apa salahku?”

“Kamu seharusnya tidak mengintip diam-diam seperti itu.”

“Ne?!”

“Sial! Tom & Jerry sudah selesai!”

“Aku memang telah melihat sesuatu yang mungkin kamu tidak ingin kulihat tapi tak perlu semarah itu. Kelakuanmu seperti anak 15 tahun!” setelah Taeyeon mengatakannya keduanya terdiam cukup lama.

“Aku tau. Kamu memang tidak pernah menganggapku apapun selain anak berusia 15 tahun..” Yuri pergi setelah mengatakannya sementara Taeyeon memukul kepalanya dengan gulungan koran.

Sore harinya…

“Kenapa tiba-tiba ingin menemaniku belanja?” tanya Butler Cha. Di sampingnya Taeyeon sibuk mencari barang yang tertera dalam daftar.

“Aku bosan saja, lagipula hari ini aku tidak perlu mengantar Yuri kemanapun.”

“Bagaimana hubunganmu dengan nona Yuri?”

“Kami seperti yang paman lihat, selalu bertengkar.”

“Aku sudah bekerja pada keluarga Kwon sejak nona Yuri masih berusia 2 tahun. Kumohon maklumi sikapnya, dia bersikap seperti itu karena dia kesepian.”

“Aku mengerti.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Butler Cha tolong buatkan kopi 3 cangkir dan antarkan ke depan. Kita sedang ada tamu.” Sore itu sepulang mengantar butler Cha belanja Taeyeon dikejutkan dengan tamu yang Yuri maksud. Mereka adalah Chaerin dan Minzy.

“Katanya mereka ahli soal mobil, karena kemarin mobilku rusak aku minta mereka memperbaikinya.”

Minzy masih menilik dengan seksama bumper mobil Yuri yang sudah harus diganti. “Bagian depan dan bawahnya juga penyok. Sebenarnya mobil ini kenapa?”

Ketiga orang itu terlibat perbincangan yang seru sementara Taeyeon menyaksikan dari pinggir. Jujur saja ia baru tau kalau Chaerin dan Minzy tertarik dalam bidang otomotif, selain mengendarai mereka juga sering mereparasi.

“Tengah malam kami juga sering balapan.” ujar Chaerin. Memang hobi yang mengerikan, tapi itu dulu. Mereka sudah tak pernah melakukannya lagi sekarang. Sementara Yuri mulai terlibat obrolan seru bersama dua teman barunya, Taeyeon yang terlupakan mulai merasa kacau.

“Yuri kalau kamu tidak ada acara nanti malam ikut pesta bersama kami saja.” tawar Minzy. Tidak bermaksud memanfaatkan hanya saja jika Yuri ikut pasti banyak orang yang akan datang.

“Aku memang tidak punya rencana tapi disana acaranya apa?” Yuri mulai tertarik. Taeyeon mendengus sebal. Begitu mendengar kata pesta wajah Yuri langsung berubah senang, apa dia lupa kalau hampir mati?

“Pokoknya kita akan gila-gilaan semalam suntuk. Itu akan menjadi pelajaran bergaul yang bagus.” Kali ini giliran Chaerin yang bersuara. Pada akhirnya, karena terbujuk, Yuri memutuskan untuk ikut begitupula dengan Taeyeon. Alasannya, karena Yuri masih terlalu ‘muda’ untuk sebuah pesta dan harus ada seseorang lebih dewasa untuk mengawasinya. Lebih dari itu Taeyeon belum percaya sepenuhnya pada Chaerin dan Minzy.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pada pesta malam itu Yuri menjadi pusat perhatian. Baik laki-laki dan perempuan menglilinginya.

“Yuri-ssi tampan sekali.”

“Mau kencan denganku tidak?”

“Yuri-ssi tipe pacarmu seperti apa?”

“Norak!” Taeyeon mengawasi dari jauh sambil mendengus sebal. Karena tidak ada apapun untuk dilakukan akhirnya Taeyeon mencari orang lain untuk di interview.

“Selamat malam, saya wartawan. Apa komentar anda tentang Yuri?” Taeyeon mulai bertanya dan seperti dugaannya, setiap orang memberi komentar macam-macam.

“Kalau dikatakan dengan satu kata, pujaan.”

“Dia adalah orang yang paling diidamkan di seluruh bumi saat ini.”

“Dia bintang drama, mungkin lebih cocok berperan laki-laki.”

“Tampan. Cuma melihatnya saja membuat bahagia.”

“Keren.”

“Mm… sepertinya dia sudah berubah. Selalu bercanda.”

“Dia adalah jenius di kampus dan harapan masa depan.” Walau komentarnya macam-macam, kebanyakan tetap positif. Bahkan profesor Lee masih menyangjungnya secara berapi-api -walau Yuri sering bolos.

“Nah, apa kamu tau siapa sahabatnya?” tanya Taeyeon pada Hyuna. Ia termasuk orang yang pernah dekat dengan Yuri. Mendengar pertanyaan Taeyeon, Hyuna jadi bingung sendiri.

“Lho.. bukannya kalian tinggal serumah?” Balas Hyuna, seketika hal itu membuat Taeyeon tertegun. Ia menoleh kearah Yuri dan menemukan Yuri yang sedang tertawa gembira bersama orang-orang yang mengelilinginya. Benar-benar berbeda dengan Yuri yang sering Taeyeon lihat di rumah. Apakah pada setiap orang Yuri selalu menyembunyikan wajah aslinya? Layaknya bermacam-macam peran yang dimainkannya diatas panggung.

“Teman-teman ayo kumpul! Sebentar lagi tahun baru! Ayo hitung mundur dari 10 bersama-sama.”

10

9

8

7

6

5

4

Taeyeon mendongakkan kepala saat seseorang memegang tangannya. “Mari buat permintaan bersama-sama.” Ucap Yuri sambil tersenyum.

3

2

1

“HAPPY NEW YEAR!!” Teriakan serta bunyi terompet terdengar dimana-mana namun Yuri dan Taeyeon memejamkan mata seraya membuat permohonan dalam hati.

Hal manis itu tak berlangsung lama karena -tepat seperti dugaan Taeyeon- Chaerin dan Minzy membuat masalah. Mereka memaksa Yuri minum soju dan Yuri yang terlalu polos mau saja melakukannya.

“Wah hebat! Yuri minum satu botol sekali teguk!”

“Kalian memang keterlaluan! Dia ini baru berumur 15 tahun!”

Pulangnya Yuri benar-benar mabuk. Gadis tanned itu merasa mau muntah dan meminta Taeyeon tidak meninggalkannya. Malam itu mereka tidur dalam satu kamar.

Jika mata Yuri terpejam benar-benar seperti anak kecil, seperti malaikat. Walaupun sejak pertama kesini Taeyeon selalu dibuat marah-marah tapi entah kenapa Taeyeon justru semakin betah. Walau sejak pertama bertemu Yuri sudah membuatnya kesal tapi bila Taeyeon menyadarinya, sebagian kenakalan Yuri wajar dilakukan anak-anak. Taeyeon bisa maklum. Sekarang Taeyeon tidak begitu anti lagi terhadap hal itu… Kenakalan-kenakalan Yuri seperti penghangat malam yang sepi.

Paginya…

“Kakiku mati rasa!!” Histeris Taeyeon.

“Itu karena semalaman kakimu kupinjam untuk bantal.” jawab Yuri enteng.

“Kan kamu yang suruh aku jangan kemana-mana?! Jadi aku hanya menurut saja.”

“Mau saja kukerjai.”

“Kamu jadi lebih waras kalau sedang mabuk!”

“Jangan bicara keras-keras, kepalaku masih pusing.”

Yuri berkata sambil berjalan menuju kamarnya sendiri, Taeyeon mengikutinya dibelakang dengan sebal. Ia takut Yuri masih memerlukan bantuannya. Begitu memasuki kamar Yuri keduanya dibuat terkejut dengan kondisi kamar yang berantakan. Sepertinya seseorang sudah masuk kedalam untuk mencari sesuatu.

Pencuri?!

Satu kata itu seketika terlintas di kepala Taeyeon. Yuri menghampiri lemari dan membuka lacinya. Walaupun kamarnya berantakan tapi tak ada satupun barang berharga yang hilang, hal itu seketika menghanguskan dugaan Taeyeon tentang pencuri.

“Apa mugkin pelakunya adalah orang-orang yang mau menculikmu waktu itu?”

“Mungkin.”

“Menurutku alat penyerapnya juga!”

“Maksudmu alat penyadap?”

“Hahaha… kamu juga sering salah.” Taeyeon beralasan sambil tertawa canggung, membuat Yuri memutar kedua bola matanya.

Tapi, dipikir bagaimanapun juga sepertinya ini bukan masalah sepele. Dan memikirkan hal itu membuat Taeyeon khawatir. “Yuri-ah kalau sudah begini kamu tidak bisa menghadapinya sendirian. Katakan apa yang bisa kubantu!”

“Kalau kamu memang mau membantu, tolong bereskan kamarku.” jawab Yuri sambil pergi. Taeyeon kehabisan kata-kata. Bukan bantuan seperti ini yang Taeyeon maksud. Lagipula kenapa Yuri harus langsung ngeloyor pergi begitu, orang ini benar-benar!

~~~~~~~~~~~~~~~~

Taeyeon berpikir sambil memutar-mutar pulpen di tangannya. Ia sudah tinggal satu bulan di rumah Yuri, kita lihat apa yang sudah Taeyeon dapat.

Selain dirinya, penghuni rumah ini ada 2 orang lagi. Yang pertama butler Cha. Pria berkebangsaan Inggris-Korea, usia 52 tahun, pelayan yang sangat ramah.

Kemudian yang jadi topik permasalahnnya, Kwon Yuri… dia…

Taeyeon mengacak rambutnya frustasi. Jika sudah membahas tentang Yuri tulisannya jadi macet. Jarang sekali ada orang yang penampilan luar dengan aslinya begitu lain seperti Yuri. Dia adalah orang yanh selalu berusaha menyembunyikan wajah aslinya.

Boleh Taeyeon tulis seperti itu?

Hal yang paling membuat Taeyeon frustasi adalah, besok sudah mulai kuliah. Jika sampai saat itu laporannya masih belum selesai, sudah dipastikan Shinyoung akan mengamuk.

“Baiklah, akan kutanyakan langsung pada orangnya.”

Taeyeon mengetuk pintu itu beberapa kali namun tak ada jawaban. “YYUURRIII!!!”

Taeyeon berteriak namun tetap tak ada jawaban. “Apakah dia sedang melamun lagi?” Taeyeon bergumam sementara tangannya perlahan memutar kenop pintu. Ia takkan dipenjaran hanya karena masuk ke kamar Yuri -lagi- tanpa ijin kan?

Taeyeon tidak tau saja jika keputusannya untuk masuk bisa membuatnya menemukan fakta yang mencengangkan. Ia melihat Yuri baru saja keluar dari sebuah ruang rahasia. Ternyata selama ini dibelakang rak buku terdapat pintu masuk menuju sebuah ruang rahasia. Siapa yang menyangkan ada tempat seperti itu disini.

Keduanya sama-sama terkejut. Begitu Taeyeon memergokinya Yuri langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. “Ampun! Jangan dipukul! Aku tidak sengaja.”

“Y-yuri kamu kenapa?”

“Tadi aku bermaksud merubah susunan perabot kamarku. Tapi waktu aku menggeser rak buku, dindingnya ikut terdorong dan terbelah.”

“Jangan pura-pura bodoh!” Kesal Taeyeon. Gadis yang lebih pendek itu mendorong tubuh Yuri ke samping, ia masuk ke dalam ruang rahasia dan menemukan banyak peralatan memasak yang berkarat.

“Apa ini dapur rahasia?” Ayolah, Taeyeon benar-benar tidak mengerti.

“Betul! Cuciannya sudah menumpuk, aku jadi malu.”

“Kalau mendengar jawabanmu yang terus terang, aku yakin ini bukan dapur. Apa yang ingin kau sembunyikan dariku?” Selidik Taeyeon, kali ini gadis pendek itu sudah banyak belajar. Yuri tersenyum kecil, melihat keseriusan Taeyeon, Yuri jadi berpikir mungkin sebaiknya ia memberitahu Taeyeon. Tak ada gunanya menyembunyikan segalanya, lebih dari itu Yuri yakin Taeyeon orang yang bisa dipercaya.

“Ini adalah ruang rahasia tempatku meneliti lumut.”

“Lumut? Untuk apa meneliti benda seperti itu?”

“Kamu memang tidak akan mengerti Taeyeon.”

“Maka dari itu, jelaskan padaku!”

“Baiklah. Kamu ingat orang-orang yang mau menculikku waktu itu? Mereka mengincar lumut ini.”

“B-benarkah? T-tapi kenapa?” Taeyeon heran, bagaimana benda seperti ini bisa begitu berharga.

Yuri mengambil sebuah sendok lalu mengolesinya dengan lumut yang ia buat. Beberapa saat setelahnya sendok itu mulai berkarat dan patah. Dan saat itu pula Taeyeon tak bisa berkata apa-apa.

“Lumut ini bisa jadi senjata yang mematikan. Bayangkan jika seseorang menaburkannya di atas Seoul saat musim hujan..” Yuri bertanya.

“Mesin-mesin pasti lumpuh.” jawab Taeyeon. Alisnya bertautan, masalah menjadi lebih serius dari yang ia bayangkan.

Yuri melihat sekelilingnya. Sejak kamarnya berhasil dimasuki hari itu, tempat ini merupakan satu-satunya tempat yang belum dipasangi alat penyadap. Namun begitu, Yuri yakin jika pencuri-pencuri itu pasti akan kembali.

“Taeyeon-ah masalah ini tidak boleh diketahui orang lain. Maka dari itu mulai sekarang kamu pun harus hati-hati kalau bicara.”

“I-iya. Yuri-ah kamu sudah tau siapa yang mengincar lumut ini, sekarang apa rencanamu?”

“Sebaiknya… tidak kukatakan kepadamu. Jadi lupakan saja.”

“Y-YA!! Sudah sejauh ini! Mana bisa memintaku menyerah! Lagipula berbahaya jika kamu sendirian!”

“Cerewet! Jangan ikut campur urusanku!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sore itu perpustakaan kota tampak ramai. Taeyeon sengaja duduk di sudut ruangan sambil merenung. Memang ia datang ke tempat ini bukan untuk membaca buku pengetahuan, jujur saja Taeyeon bukan tipe orang yang gemar membaca walau ia bercita-cita menjadi wartawan terkenal. Mungkin karena ini pula -seperti yang pernah dikatakan Shinyoung- gaya tulisannya tak terlalu bagus. Oke, kembali ke permasalah awal, entah kenapa setelah merenung dan berusaha mengingat wajah orang yang berusaha menculik Yuri waktu itu Taeyeon seperti menemukan sesuatu. Wajah orang itu, Taeyeon merasa ia pernah melihatnya di  suatu tempat, tapi dimana?

Taeyeon mendesah frustasi begitu ia tak kunjung dapat mengingatnya. Ia memang tak sepintar Yuri. Kalau seperti ini Taeyeon benar-benar merasa tidak berguna.

….Cerewet!!

Jangan ikut campur urusanku!!…

Taeyeon menopang dagunya begitu kata-kata Yuri kembali terngiang di telinganya.

Mungkin sebaiknya Taeyeon tidak ikut campur.

Lagipula apa yang bisa dilakukannya?

“Taetae?”

Tunggu! Suara ini..

“Tiffany.”

Pada pertemuan tak disangka tersebut, Tiffany mengajaknya mengobrol di kafe terdekat. Segelas cokelat panas dan sepotong cheese cake. Jika dipikir lagi, rasanya sudah lama sejak terakhir mereka bertemu.

“Apa kabar Taetae? Apa saja yang kamu kerjakan selama libur?”

“Aku tidak punya waktu libur.” jawab Taeyeon jujur. Tiffany yang duduk di hadapannya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba Taeyeon teringat hal penting yang pernah Tiffany ucapkan padanya.

“Kamu sendiri apa sudah memperkenalkan Nickhun pada orang tuamu?” pertanyaan Taeyeon membuat ekspressi ceria Tiffany menguap.

“Fany-ah ada apa?”

“Kami.. baru bertengkar.” Taeyeon tertegun, pantas saja. Jika saja Taeyeon tau, ia takkan memilih topik ini dan membuat Tiffany sedih.

“Kami belum bicara lagi sejak hari itu.” Mata Tiffany berkaca-kaca. Taeyeon mengenggam tangan gadis di hadapannya perlahan, walau ia merasa iba tapi untuk hal yang satu ini Taeyeon tak bisa berkata ataupun melakukan apa-apa, percuma saja membicarakannya.

Lagipula, bagus juga kalau Tiffany dan Nickhun putus. Mungkin Taeyeon bisa punya banyak waktu lagi bersama-sama Tiffany. Dan- Astaga!! Kim Taeyeon kenapa kau berpikir yang bukan-bukan!!

“Maaf pembicaraannya jadi seperti ini!” Gadis bereyes smile itu menghapus airmata di sudut matanya dengan tissue yang Taeyeon berikan.

“Taeyeon cuma kamu orang yang bisa kuajak membicarakan hal ini.”

“Tapi Fany-ah.. aku kira kamu sudah tidak menganggapku lagi.” Jawab Taeyeon sambil memandangi kepulan asap dari cokelat panasnya. Giliran Tiffany yang terpaku, ia tak pernah mengira Taeyeon akan merasa seperti itu.

“Sejujurnya, aku juga merasakan hal yang sama.”

“Hah?”

“Karena aku dengar kamu sudah tinggal di rumah Yuri.”

Yuri…

“Sebelumnya aku pernah bertemu dengannya di kampus.” Ujar Tiffany. Taeyeon tidak tau jika Tiffany sudah kenal Yuri sebelumnya tapi kemudian dia ingat, Yuri adalah orang populer dan setengah dari populasi kampus mereka pasti mengenalnya.

“Dia marah karena mendengar kamu sudah tidak punya tempat tinggal lagi. Dia bilang seharusnya jangan main usir begitu.”

“J-jadi Yuri sudah tau aku diusir dari kos?!”

“Bukankah itu sebabnya dia mengajakmu tinggal di rumahnya?”

“Bukan.. aku tinggal disitu karena aku bekerja sebagai sopir. Dirumah itu tidak ada yang bisa jadi sopir.”

“Bukankah dia punya seorang pelayan.”

“Ya.. butler Cha.”

“Sebelumnya, jika Yuri tidak menggunakan sepeda dia selalu diantar pelayan itu.”

Astaga.. Tayeon benar-benar tidak tau.

Benarkah… Kwon Yuri ingin menolongku?

“Begitulah. Aku akhirnya melewatkan natal sendirian. Aku bertengkar dengan pacarku dan merasa telah mengecewakanmu.” Tiffany melanjutkan ceritanya sementara Taeyeon tidak memberikan respon karena pada saat itu pikirannya sudah melayang ke tempat lain.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Hani-ya apa aku benar-benar tidak berguna?” Di bangku taman Taeyeon bertanya sementara anjing putih yang diajaknya bicara menjulurkan lidah sambil mengibas-ibaskan ekornya. Taeyeon menoleh kearah jendela kamar Yuri yang tertutup rapat. Gadis tanned itu akhir-akhir ini jarang sekali kedapatan lari pagi atau membuat Tayeon kesal seperti di minggu-minggu pertama Taeyeon tinggal di rumah ini.

“Kurasa aku sudah gila Hani-ya. Tapi aku benar-benar merindukan tuanmu.”

Walau masih tinggal di tempat yang sama tapi Taeyeon merasa dirinya dan Yuri berada dalam dua dimensi yang berbeda.

“Ah! Aku ingat!” Taeyeon berdiri dengan tiba-tiba lalu melompat-lompat seperti seorang gadis SMA yang baru saja melihat orang yang ditaksirnya. Ia terlalu senang karena telah mengingat dimana ia pernah melihat pria yang berusaha menculik Yuri.

“Hani-ya aku pergi dulu ne?” Taeyeon berlari setelah mengelus bulu Hani. Ia akan segera menemui Shinyoung.

“Konglomerat Robinson?” Shinyoung memastikan, ia heran karena tak ada angin tak ada hujan Taeyeon tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang aneh.

“Tolong ceritakan apapun yang Direktur ketahui tentang mereka.”

“Baiklah. Keluarga mereka memiliki perusahaan farmasi, siapa yang tak kenal. Memang perusahaannya tak begitu besar. Perusahaan itu kegiatan utamanya adalah riset. Dengar, tapi ini cuma gosip.”

“Wah! Direktur memang pemimpin redaksi sejati.”

“Mereka dikontrak pemerintah untuk membuat senjata biologis. Seperti senjata kuman, serangga, tumbuhan dan sebagainya. Pokonya menyeramkan.”

“…………….”

“Lima tahun yang lalu Mr. Robinson menjadi pembicaraan setelah menikahi janda beranak satu pemilik teater bernama Lee Hyori. Berita itu sangat laku sampai-sampai ada edisi khususnya. Kelihatan Mr. Robinson akan terjun ke bidang kimia minyak bumi. Sekarang bos konglomerat itu kabarnya sedang ke timur tengah.”

“Jadi begitu ya.”

“Tapi ngomong-ngomong bagaimana laporanmu tentang Yuri?”

“Ng.. a-anu… anu..”

“Bicara yang jelas!”

“Aku.. aku tidak bisa menulisnya! Aku tidak sanggup lagi!”

“Apa kamu bilang?”

“B-bercanda direktur.. aku cuma bercanda.”

“Aku tunggu 3 hari lagi, arraseo?!”

“Ne, arraseo.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Yuri..” panggil Jessica. Yuri yang sedang mendengarkan -entah apa- tersentak begitu seseorang menepuk pundaknya. Ia berbalik dan tersenyum mendapati Jessica yang telah berdiri di belakangnya.

Cuaca hari ini dingin sekali, sudah beberapa jam Yuri duduk di bangku taman tanpa mengenakan pakaian tebal. “Masuklah ke dalam Yuri, kamu bisa masuk angin.”

“Ne~” Yuri beraegyo sementara satu tangannya sibuk memasukan ponsel ke saku celananya. Jessica menatapnya curiga.

“Apa?” Yuri bertanya dengan tampang polos yang dibuat-buat.

“Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang sedang kamu sembunyikan?”

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Aku merasa kamu sedang merahasiakan sesuatu akhir-akhir ini. Apa yang sedang kamu kerjakan?” Jessica kembali mendesak sementara Yuri malah terdiam.

“Aku mohon jawablah.”

“Bukan apa-apa Sica. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.” Yuri berlalu setelah mengacak rambut Jessica.

Taeyeon melihat lihat isi kulkas yang sudah habis. Awalnya ia ingin minum cola tapi tak ada satupun cola disana. Lalu Taeyeon teringat hari ini adalah hari rabu, pantas saja persediaan makanan mereka sudah habis. Sementara itu, butler Cha tidak terlihat dimanapun, pria itu pasti sedang belanja saat ini.

“Yuri? Mau kemana kamu sendirian?” Taeyeon bertanya begitu melihat Yuri berjalan menuruni tangga sambil menjinjing koper kecil di tangannya.

“Tadi siang akhirnya lumut itu dicuri juga.”

“Kok kamu tenang-tenang saja?” Heran Taeyeon sementara ia sendiri mulai panik tanpa alasan.

Yuri tersenyum. Sebenarnya ia memang sengaja membiarkan lumut itu dicuri. Di dalamnya Yuri sudah memasang alat pelacak yang sudah ia sambungkan dengan ponselnya. Sejak pagi, waktu lumutnya dicuri Yuri terus memperhatikan alat pelacak itu dari taman. Benar saja, lumut itu memang dibawa ke tempat yang sudah Yuri duga.

“Lalu, apa rencanamu?”

“Aku mau keluar sebentar dan memberi pelajaran pada si pencuri itu. Biar dia tau akibatnya sudah berurusan denganku.” Ucap Yuri serius. Taeyeon tau gadis tanned itu bisa melakukan apapun tanpa berpikir dan mungkin malah membahayakan dirinya sendiri.

“Jangan gegabah Kwon Yuri!” Taeyeon masih berusaha menyamai langkah gadis yang lebih tinggi di depannya.

“Berisik!! Bukankah sudah kubilang jangan ikut campur urusan orang lain!”

“Dasar keras kepala!!” Taeyeon berteriak tapi ia terlambat, Yuri sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.

“Ya!! Kwon Yuri!! Kembali bodoh!!”
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Komentar
  1. byun913 mengatakan:

    taeng khwatir jg dia rpa ny… yul trlalu jenius sih

  2. keenanliu mengatakan:

    tadi kayanya umur Yuri 16 tahun deh thor. Kekeke dan gue gak nyangka ff yang awalanya kocak, tiba-tiba serius kek gini. Huftz😦

  3. RZ mengatakan:

    hahahha abang kwon disini jadi jenius banget..dan taeyeon entah kenapa begitu. hidupnya benar2 berwarna ya si taeng.. kekeke. cieee taeng udah mulai perhatian sama anak umur 15 tahun lebih hampit 16 tahun. wkwk

  4. liataegangster mengatakan:

    Gw heran si yuri kenapa santai bgt. Udah gitu sikapnya juga buat mikir keras deh ah. Sebentar b3gini ntar begitu hahahay… tapi untungnya Taeng peduli sama dia. Ada TaeNy sama Yulsic tapi kenapa gw biasa aja ya ? Maklum udh terhiponotis sama TaeRi wkwkwkw

  5. YulJee mengatakan:

    Yultae, yultae, yultae, horee!! *alaDora
    kok ga ada bagian mesra2annya, Lee X(

  6. Annyeong
    Hahahah yul bnr2 ye,,,,bnr2 bnyak topeng ny pnya bribu skap,,hahahah ksian taeny ny jdi bingung sndri,,,,etttt ad taeny and yulsic,,,hahahah mkin kmlpit nech wkwkkwkk
    Lnjut yeeee
    Ttap smngattttt
    Gomaomao,,,

  7. idom09 mengatakan:

    ini ceritanya serius2 tp lucu gmnaaa gtu…ah endingnya spt ap ya?

  8. tuYUL_SICk mengatakan:

    yuri keren ih… seru crita’a…

  9. isnaeni mengatakan:

    yul keras kepala bgt sih jadi orang,,
    kasian tae
    thor kira2 sapa tuh yg nyuri lumutnya yul
    bisa di pastiin itu orang bakal disantap yul

  10. riestakim mengatakan:

    Gue nungguin sweet moment nya TaerRi :3 ciee Tae udh mulai kuatir sama Yul Oppa :v

  11. Javier Zanetti mengatakan:

    Yuri jenius ya, segala punya penemuan,, jangan ketus2 gitu yul, kesian pan teyon

  12. sukma1901 mengatakan:

    Sapa yang dicurigainn yuri ?
    Ini ff awalnya kocak tp jd sdikit serius gegara lumutnya dicuri
    Hahehe

  13. yurisone_0508 mengatakan:

    Yultae brantem mulu prasaan kn pnh akur dlm jngka waktu yg lm

Comment Please ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s