Love Trip (2nd of 2-END)

Posted: Agustus 31, 2014 in ff snsd, yulsic
Tag:, , , , ,

Tittle : Love Trip
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance
Lenght : Twoshot
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri, Tiffany Hwang, and Ok Taecyeon

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari komik berjudul My Best Rival is My Best Friend karya Yukari Kawachi.

Love Trip
.
.
.
.
.

Acara… tanda tangan?

“Jadi artinya di Jerman bukumu juga terbit, begitu?” Jessica menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Eh, Jessie tidak ada ya? Buku yang sudah diterjemahkan?” jawaban Tiffany membuat Jessica semakin kesal. Jessica tau, sejak awal dia seharusnya tak mengajukan pertanyaan itu. Pada dasarnya Tiffany memang tukang pamer -pendapat yang didasari rasa iri.

Selain Tiffany, Jessica juga bertemu dengan kepala redaksi Lee -yang setengah botak. “Eh.. kalau tidak salah kamu itu…” Lee Sooman tersenyum saat melihat Jessica tapi sedetik kemudian pria paruh baya itu menggaruk kepalanya, bingung.

“Siapa ya?”

“Jessica Jung! Jangan lupa dong!”

Mengingat pemimpin redaksi yang sudah berbaik hati memberinya kesempatan sebenarnya sebagai penulis amatiran Jessica tau dia tak pantas mengatakan hal ini tapi mau bagaimana lagi, maka dari itu dengan segenap keberanian yang dimilikinya…
“Maafkan saya.. sebenarnya naskahnya belum selesai.” Jessica membungkukkan tubuhnya. Lee Sooman lantas menepuk pundaknya sambil tertawa ahjussi.

“Tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan.”

“Bapak pemimpin redaksi.” Jessica jadi terharu.

“Soalnya penulis yang dapat menggantikanmu banyak sekali.” lanjut Lee Sooman tanpa rasa bersalah. Alasan menyakitkan, kenyataan memang pahit -sekali lagi.

Setelahnya Tiffany beserta pemimpin redaksi Lee pamit karena akan pergi ke restoran elit untuk malan siang. Tiffany agak kesulitan berjalan karena fans-fansny sibuk meminta foto dan tanda tangan. Perbedaan yang signifikan sekali padahal Jessica juga penulis manhwa. Hal yang lebih mengejutkan lagi ternyata Taecyeon -pemandu wisata yang keren itu- merupakan fans Tiffany juga.

“Mestinya aku juga bawa bukumu untuk di tanda tangani, bodohnya aku..”

“Gwenchana, hal seperti itu tidak perlu dipikirkan.” jawab Tiffany malu-malu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Memikirkan Tiffany dan kepala redaksi yang akan makan di restoran elit membuat mood jelek saja, karena itu Jessica memutuskan akan kembali membuat moodnya bagus. Dengan semangat Jessica menarik tangan Yuri, gadis itu bertekad apapun yang terjadi mereka harus mendapatkan restoran bagus -yang sedikit murah- lalu mendapat tempat duduk khusus dengan pemandangan bagus.

Setelah mencari cukup lama, akhirnya pilihan Jessica jatuh pada restoran bergaya Eropa modern dengan hiasan pohon natal di samping kiri dan kanan pintu masuknya. Tapi sepertinya mendapat tempat duduk yang bagus saat jam makan siang seperti ini agak sulit dilakukan. Untung saja mereka bertemu Taecyeon yang dengan senang hati berbagi mejanya. Taecyeon melambaikan tangannya, Jessica berlari ke arah laki-laki itu dengan semangat sampai melupakan kehadiran Yuri -lagi- namun kesenangannya tak berlangsung lama saat Jessica tau kalau ternyata Tiffany ada juga disana. Gadis itu duduk tepat di samping Taecyeon.

“Toh makan dengan pemimpin redaksi juga ngga asik jadi aku kesini deh..”

“Oh begitu.”

Tiffany menyadari jika Jessica terus memandang Taecyeon saat lelaki itu memanggil pelayan. “Hei Jessie.. kenapa tampangmu begitu? Kamu kan bersama Yuri?” Tiffany berbisik padanya. Jessica tersenyum canggung. Ya, tentu saja Jessica tau tapi entah kenapa rasanya ada yang kurang.

Sementara itu wajah Taecyeon yang sedang memesan makanan berubah pucat saat pelayan berbicara padanya. Jujur saja Taecyeon tidak mengerti apapaun yang dikatakan si pelayan maupun apa yang tercatat di buku menu.
“Kalau bahasa Perancis aku mengerti tapi kalau bahasa Jerman..” Taecyeon pasrah. Dia merasa gagal menjadi seorang pemandu wisata, untung saja Yuri bisa mengatasi permasalahan itu.

Tiffany dan Taecyeon dibuat takjub sementara Jessica baru ingat, sebenarnya sejak bulan April lalu Yuri bekerja sebagai pegawai perusahaan perdagangan dan di kantornya Yuri lebih sering berbahasa Jerman.

“Aku baru pertama kali melihat Yuri berbicara sebanyak itu.” komentar Tiffany. Jessica tersenyum padanya, meski begitu Jessica jadi curiga, jangan-jangan Yuri itu jarang bicara karena sebenarnya dia lebih pintar berbahasa Jerman daripada Korea.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Tunggu sebentar aku mau ke kamar kecil dulu.” kata Jessica. Taecyeon sudah kembali ke rombongan sementara Yuri dan Tiffany memutuskan untuk menunggu. Keduanya menyandarkan punggung mereka di tembok sambil sedikit berbincang.

“Aku benar-benar kaget lho, masa bisa kebetulan bertemu di Jerman. Kalau begini kan jadi tidak jauh berbeda dengan Korea.” Yuri menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Tiffany.

“Hebat ya..” puji Yuri.

“Mengadakan acara bagi tanda tangan di luar negeri? Terimakasih ya.. tapi sebenarnya aku juga serasa mimpi.” jujur Tiffany. Keduanya berbincang cukup lama sampai Tiffany memutuskan untuk mengundang Yuri menghadiri Chritsmas Eve di Vesthall.

“Acaranya dari jam satu.. kalau kamu mau, datanglah bersama Jessie..”

“Hmmm..”

“Lihat-lihat saja pun ngga apa-apa kok! Mau ya?”

“Akan aku pikirkan.. hatchim!!!”

“Yuri kamu masuk angin?”

“Oh.. aniyo.”

“Tapi ngomong-ngomong Jessie lama ya?”

“Dia memang selalu seperti ini.” Tiffany tersenyum mendengar tanggapan Yuri. Dari dulu, Tiffany selalu berpendapat kedua orang ini adalah pasangan yang manis.

“Eh, ngomong-ngomong pemandu wisatanya keren sekali.. kamu juga tidak boleh kalah.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Munchen, Jerman

Lagi-lagi di dalam bis Jessica tertidur. Munchen adalah ibukota wilayah Bayern yang terletak di sebelah selatan negara Jerman. Walau dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat perekonomian yang paling baik kita takkan menemui gedung-gedung pencakar langit seperti kota-kota metropolitan lain di dunia. Penduduk kota itu memang tidak menghendakinya. Bangunan-bangunan lawas masih banyak yang terawat dengan baik, meski sebagian sudah dialih fungsikan. Salah satu tujuan wisata paling terkenal di Munchen adalah kastil Ninvenburg.  Istana ini rampung pada tahun 1664 dan disebut sebagai istana musim panas keluarga Vittelsbach.

Setelah turun dari bis Jessica terus mengeluh karena pinggangnya pegal. “Mungkin karena bisnya sempit.” katanya, tapi Yuri tau alasan seaungguhnya apalagi kalau bukan karena cara tidur kekasihnya yang ‘unik’.

Hal yang dialami Jessica tentu saja berbeda dengan yang dialami Tiffany, gadis itu datang dengan menggunakan limosin yang tentu saja jjauuhhh lebih nyaman.
“Soalnya jalan-jalan dengan bapak pemimpin redaksi juga nggak menyenangkan jadi aku memutuskan untuk ikut kegiatan kalian.”

Di dalam kastil…

“Hebatnya! Pelapis dindingnya emas dan perak. Aku ingin tinggal di tempat seperti ini.” Jessica mulai berfantasi, membayangkan dirinya seorang putri.

“Aku jadikan acuan untuk renovasi rumahku nanti ah..” kata Tiffany tiba-tiba. That’s it!! Jessica tau, seharusnya dia tak pernah mengeluarkan perasaan jujurnya.

Di dalam istana ini yang paling megah adalah ruang galeri lukisan-lukisan wanita cantik. Disana terdapat sekitar ribuan lukisan.

“Yuri ayo kita foto di depan lukisan wanita cantik itu.”

“Lebih baik kamu saja Sica.”

“Hah? Kenapa?”

“Lukisannya akan kelihatan lebih cantik nantinya.”

“Ya!! Maksudmu apa Kwon Yuri?!”

Tiffany yang sedari tadi memperhatikan keduanya berusaha keras menahan tawa.

Setelah kunjungan kastil selesai, Taecyeon lantas membebaskan para peserta tour untuk makan dimana saja. “Jangan lupa untuk berkumpul kembali di tempat ini jam 2 siang..”

Jessica sibuk memperhatikan sekeliling, mencari Yuri yang tak kunjung terlihat. Setelah peserta tour bubar Jessica melihat Yuri yang baru keluar dari toilet umum.

“Yuri-ah kamu sedang apa? Nanti kita ketinggalan.” heboh Jessica -seperti biasa.

“Kajja, kalau kita tidak cepat makan siang nanti terlambat untuk kumpul disini.”

“Aku mau kembali ke hotel.” ucap Yuri.

“Hah?” Jessica memastikan jika dirinya tak salah dengar.

“Mau kembali? Tapi kata Taecyeon setelah ini kita masih akan ke museum..”

“Maaf saja, soalnya aku tidak berminat pada lukisan-lukisan.. sampai jumpa.”

“Lagi-lagi dia seperti itu..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Museum Alte Pinakothek, Munchen, Jerman

Sebenarnya ada tiga museum seni rupa di kota ini, yaitu, Alte Pinakothek, Neue Pinakothek, dan Pinakothek der Moderne. Jika museum Neue Pinakothek mengkhususkan kepada seni rupa modern Jerman dan Eropa sedangkan museum baru Pinakothek der Moderne -yang letaknya bersebrangan dengan kedua museum lainnya- memberikan penekanan kepada seni desain modern, entah itu berupa seni rupa, seni desain produk, maupun seni desain bangunan atau arsitektur. Sedangkan museum Alte Pinakothek yang Jessica kunjungi mengkhususkan kepada koleksi seni lukis klasik Jerman dan Eropa.

Alte Pinakothek merupakan museum yang umurnya paling tua. Dibangun atas perintah Raja Bavaria Ludwig I dan dibuka pada tahun 1836. Fitur menarik dari galeri ini adalah pencahayaan ruangan berasal dari atap bangunan yang tembus cahaya sehingga memberi efek dramatis. Museum ini memajang lukisan-lukisan dari abad pertengahan hingga penghujung zaman Rokoko. Mahakarya Leonardo da Vinci termasuk yang dipamerkan di Alte Pinakothek.

Jessica melanjutkan tour tanpa kehadiran Yuri dan hal itu agak menyulitkan. Tentu saja karena bahasa Jerman-nya yang pas-pasan atau lebih tepatnya tidak bisa sama sekali Jessica jadi tidak bisa makan siang karena tak tahu caranya memesan. Saat-saat seperti itu lukisan-lukisan makanan yang ada disana jadi terasa begitu nyata di mata Jessica -mungkin ini efek kelaparan.

“Enaknya..” gumam Jessica, tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh lukisan. Saat itu juga alarm berbunyi diiringi beberapa petugas keamanan yang menghampirinya. Di galeri ini semua lukisan memang dilengkapi alat sensor yang akan berbunyi jika tersentuh. Jessica meruntukki dirinya sendiri, seharusnya dirinya mendengarkan penjelasan Taecyeon di awal tadi dengan lebih sunguh-sunguh. Kalau sudah seperti ini kan jadi merepotkan saja. Berbicara soal Taecyeon kali ini lelaki tersebut menjadi pahlawan untuknya, karena dengan senang hati Taecyeon membantunya menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.

“Untung saja mereka mengerti bahasa inggris..” lega Taecyeon.

“Gomawo..” ucap Jessica malu-malu.

“Gwenchana.. tapi sepertinya Jessica-ssi suka sekali terlibat masalah, apa aku benar?”

“I-itu…”

“Aku cuma bercanda.” Taecyeon tertawa setelah mengatakannya sementara Jessica sibuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Sepanjang sisa tour Jessica menghabiskan waktunya bersama Taecyeon. Penilaian Jessica pada lelaki bertubuh kekar itu bertambah satu poin.

“Jessica-ssi coba berdiri di samping lukisan itu!”

“Disini?” Jessica memastikan, Taecyeon menganggukkan kepalanya mantap, maka dengan ragu Jessica berdiri di samping lukisan salah satu Putri Eropa. Sebenarnya Jessica juga tidak tau kenapa Taecyeon menyuruhnya berdiri disitu.

“Ternyata benar dugaanku… kalian sama cantiknya.” ternyata untuk itu, Taecyeon menggombalinya, berbeda sekali dengan Yuri. Tak pelak gadis berambut pirang tersebut pun kembali tersipu-sipu.

“Apa kamu suka Cezzane?” Taecyeon bertanya sembari kembali memarekan senyumnya, membuat Jessica gugup saja. Tak sampai disitu, Taecyeon mulai berani mendekatkan wajahnya. Jessica langsung merinding menyadari posisi mereka saat ini. Dari jarak sedekat ini Jessica baru sadar jika iris mata Taecyeon berwarna cokelat terang, sementara milik Yuri berwarna hitam kelam warna yang sangat Jessica sukai.

“Apa penulis komik suka lukisan seperti itu?”

“Ah.. i-iya.”

“Tapi aku.. aku lebih suka lukisanmu. Sentuhan penamu.” Sejak insiden di pesawat itu Jessica bukannya tidak menyadari jika Taecyeon menunjukkan ketertarikan padanya tapi Jessica tidak sangka lelaki itu bahkan menunjukkannya secara terang-terangan.

Tiffany yang saat itu kebetulan berpapasan dengan keduanya tanpa ragu langsung menarik Taecyeon menjauhi Jessica.

“Tuan pemandu wisata tolong jangan pernah sentuh-sentuh sahabatku, apalagi dia sudah punya kekasih!” kata Tiffany tegas sambil bertolak pinggang. Melihat keseriusan di mata Tiffany, Taecyeon hanya bisa mengusap tengkuknya dengan canggung.

“Kalau sama aku boleh.. aku masih bebas.” sedetik kemudian Tiffany merangkul lengan Taecyeon dengan mesra, ekspressi suramnya pun berganti ceria. Taecyeon pasrah saat Tiffany terus menyeretnya, disisi lain Jessica masih mematung di tempatnya.

Sebenarnya ada apa denganku?

Di kamar hotel yang mereka tempati, Yuri masih bergelung di balik selimut tebalnya. Termometer di tangannya menunjukkan angka 38,5°C. Padahal Yuri sudah minum obat tapi panas tubuhnya tak kunjung turun.

“Hatchim!!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Aku pulang..” Jessica langsung menemukan Yuri yang tengah berbaring di kasur dengan posisi membelakanginya. Gadis tanned itu hanya menggumam untuk menyambut kedatangan Jessica. Jika ditanya apakah Jessica masih kesal pada kekasihnya jawabannya tentu saja iya.

“Museumnya bagus sekali.. dan aku mau berterimakasih berkatmu aku bisa keliling jalan-jalan bersama Taecyeon yang keren itu.” Jessica berkata sambil membuka pintu lemari, berniat mengganti bajunya. Yuri masih betah di posis sebelumnya.

“Dia itu tampan, sopan, pembicaraannya menarik dan membuat hatiku berdebar-debar. Taecyeon juga berusaha mendekatiku karena mau menciumku..”

“Bahkan di depan wisatawan asing!! Ya… mungkin sudah terbiasa dengan adat kebiasaan asing..”

“Oh iya.. Taecyeon itu berkata padaku aku sama cantiknya dengan Putri Eropa.” Jessica terus bicara tanpa henti, tujuannya hanya satu sebenarnya, gadis itu ingin tau bagaimana reaksi Yuri. Namun yang didapatnya tidak seperti yang Jessica harapkan.

“BERISIK!!” Yuri malah membentak Jessica, untuk pertama kalinya. Jessica menggigit bibir bawahnya saat sesuatu terasa ingin tumpah di pelupuk matanya.

“Tidak usah berteriak seperti itu!! Aku juga mengerti kalau ada aku cuma mengganggu.” Jessica merapikan hoodienya lantas memasukan kertas naskahnya ke dalam amplop cokelat.

“Aku mau memperlihatkan gambarku pada Taecyeon dan aku sudah buat janji makan bersama.” lanjutnya.

“Bersantai-santailah.” jawab Yuri.

Jessica masih berdiri di depan pintu yang sudah setengah terbuka sambil menatap punggung Yuri. Berharap gadis tanned tersebut memberikan tanggapan lain dari sekedar ‘Bersantai-santailah’ namun nihil. Yuri tidak mengatakan apapun lagi setelahnya. Barangkali Jessica memang tidak begitu berharga di mata gadis itu. Meskipun Jessica pergi dengan laki-laki lain Yuri tidak merasa apa-apa?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica dan Taecyeon mengunjungi restoran yang berseberangan dengan hotel yang mereka tempati.

“Jessica-ssi benar-benar tidak apa-apa kan? Aku sebenarnya merasa tidak enak pada pacarmu..”

“Dia bukan pacarku kok! Dia asistenku.. sudah pendiam, dingin, moodnya jelek… aku jadi malas.” Jessica menanggapi pertanyaan Taecyeon dengan jawaban berapi-api, hal itu membuat Taecyeon tertawa kecil. Sudah dingin bertengkar melulu, biar bersama-sama juga tidak menyenangkan, batin Jessica.

“Jauh lebih menyenangkan bersama Taecyeon-ssi.”

“Jinja?”

“Iya serius!! E-eh.. aku ini bicara apa..” Jessica tersipu malu. Taecyeon kembali tersenyum, kali ini lelaki itu mengangkat gelas berisi wine di tangannya.

“Toast!”

Jessica menatapnya sebentar sebelum akhirnya ikut tersenyum dan mengangkat gelasnya. “Toast!”

Setelah makan malam, Taecyeon mulai melihat-lihat naskah Jessica dan memberikan penilaiannya -yang sebagian besar pujian. Meski bukan berasal dari seorang ahli seni Jessica cukup merasa senang akan hal itu.

“Sebenarnya temanku yang bernama Tiffany lebih hebat lagi..”

“…. Taecyeon-ssi kalau sudah sampai Korea nanti aku kirimkan bukunya ya?”

Di kamar hotel mereka Yuri masih demam, Yuri juga baru sadar jika dirinya sudah hampir menghabiskan lebih dari setengah kotak tissue. Malam sudah larut namun Yuri tak kunjung bisa memejamkan matanya karena Jessica belum pulang. Mengingat betapa cerobohnya Jessica, Yuri jadi lebih mengkhawatirkannya.

Selesai dari restoran Taecyeon mengajak Jessica pindah ke Beer Hall. “Tempat itu sangat terkenal di Munchen. Pernah dengar yang namanya Hoffbroy House, tidak?”

Taecyeon dan Jessica berjalan bersisian dan seperti yang Jessica lihat sebelumnya, pemandangan disini pun di dominasi hiasan-hiasan natal. Melihat pohon natal yang dipajang di depan sebuah pusat perbelanjaan membuat Jessica menghentikan langkah kakinya untuk sejenak. Gadis blonde itu baru sadar jika Chritsmas Eve itu besok. Padahal sebelumnya Jessica sudah berencana menghabiskan Christmas Eve yang romantis bersama Yuri.

“BERISIK!!”

“Tidak usah berteriak seperti itu!! Aku juga mengerti kalau ada aku cuma mengganggu.”

Mestinya semuanya bukan begini…

“Jessica-ssi gwenchana?” Taecyeon menepuk pelan pundak gadis di sebelahnya saat menyadari Jessica melamun.

“Iya.. aku baik-baik saja.”

Dari kejauhan dua pria asing sedang memperhatikan keduanya. Saat keduanya lengah kedua pria itu tak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung mengambil tas Jessica. Jessica tentu saja mempertahankan benda miliknya dengan sekuat tenaga, mereka sempat tarik menarik.

“JESSICA!” Taecyeon menjadikan tubuhnya sebagai penghalang saat salah seorang pria akan menyerang Jessica. Perkelahian pun tak dapat dihindarkan tapi karena kalah jumlah pada akhirnya Taecyeon kalah. Lelaki itu tersungkur setelah mendapat tendangan dan beberapa pukulan di wajahnya. Tubuh Taecyeon menghantam beberapa box kayu sebelum jatuh ke tanah. Jessica berteriak histeris.

“Taecyeon-ssi ireona!!”

Kedua pencopet itu mulai berlari namun seseorang kembali menghalangi mereka. Untungnya kedua pencopet itu kali ini berhasil dilumpuhkan.

“Yuri…”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica duduk di tepian kasur sambil menangis sementara Yuri berlutut di hadapannya. “Aku benar-benar takut.. kalau saja Taecyeon tidak menolongku aku pasti sudah terbunuh.”

“Lalu isi tasmu apa ada yang hilang?” Yuri bertanya padanya. Jessica mengecek isi tasnya sambil masih terisak. Hidungnya juga memerah karena terlalu banyak menangis.

“Dompet, ponsel, pasport… semuanya ada.”

“Sica.. naskahnya?”

Jessica tersadar, benar juga, naskah itu bagaimana Jessica bisa lupa? Naskah yang sudah susah payah Jessica kerjakan bahkan di saat liburan sekalipun. Bagaimana kalau sampai hilang?

“Waktu itu kamu benar-benar bawa kertas naskah kan?” Yuri kembali bertanya padanya. Jessica masih berpikir keras.

“Pasti di bawa pencopet itu!” panik Jessica. “Bagaimana ini Yul? Tamatlah riwayatku..” tangisan Jessica semakin keras.

“Payah kamu.. itu akibatnya terlena main dengan laki-laki.” Yuri menggelengkan kepalanya. Jessica menghentikan tangisnya lantas menatap Yuri dengan pandangan kesal dan kecewa. Bagaimana bisa Yuri berkata seenteng itu?

“Maaf saja, soalnya aku tidak berminat pada lukisan-lukisan.. sampai jumpa.”

“…..terlena main dengan laki-laki.”

“BERISIK!!”

“Bersantai-santailah.”

“Ja..hat..”

Yuri bahkan tidak sadar jika sikapnya selama inilah yang membuat Jessica begitu. Yuri sama sekali tidak meladeninya. Yuri sama sekali tidak lembut. Yuri sama sekali tidak mengatakan apa-apa.

“Kamu yang membuatku berbuat begitu kan?!”

….. karena Yuri membuat Jessica merasa kesepian dan… merasa tidak diinginkan.

“Y-yuri.. apa selama ini kamu benar mencintaiku?”

“S-sica..” Yuri berusaha menjelaskan namun Jessica terlanjur mendorong tubuhnya.

“Keluar!!”

“Aku tak bisa bersamamu lagi!!” Jessica terduduk di lantai dan menangis keras. Gejolak perasaan yang saat itu mereka rasakan membuat dada keduanya serasa sesak dan sulit bernafas. Yuri berbalik dan pergi, jika memang Jessica menginginkannya pergi maka itu yang akan Yuri lakukan.

Sosok Yuri terlihat buram karena saat terakhir Jessica melihatnya, air mata gadis blonde itu tak berhenti mengalir. Yuri benar-benar pergi meninggalkannya, tanpa pembelaan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Malam itu Yuri berdiri di pinggiran sungai sambil terus berpikir. Seingatnya, kedua pencopet yang dihajarnya melarikan diri tanpa membawa apa-apa. Jessica yang masih termenung lantas mendengar bel kamarnya di tekan, Jessica bergegas membuka pintu karena mengira itu Yuri.

“Taecyeon-ssi?” dugannya salah. Orang itu Taecyeon. Setelah kejadian tadi lelaki itu memang langsung kembali ke kamarnya. Jessica jadi tidak sempat berterimakasih. Sebagai balas budi, Jessica berinisiatif untuk mengobati luka-lukanya. Dengan perlahan gadis itu menuntun Taecyeon ke kamarnya lalu mendudukannya di kursi. Taecyeon baru sadar jika Jessica sendirian di kamar itu, gadis tanned yang selalu bersamanya tidak ada di manapun. Mata Taecyeon lantas beralih pada kertas-kertas kosong di atas meja, sepertinya Jessica sedang membuat naskah saat Taecyeon datang karena penanya juga ada di samping kertas-kertas kosong tersebut.

Tunggu dulu! Pena!

“Mestinya kalau obat oles aku bawa.” gumam Jessica sambil memilah isi tasnya. Namun gerakannya terhenti saat Taecyeon memegang tangannya.

“Jessica..”

“T-taecyeon?” Posisi ini, sama seperti waktu di museum waktu itu. Jessica jadi gugup, meskipun dia baru putus dengan Yuri hal seperti ini tentu saja tak bisa dibenarkan.

“Tolong tusuk aku.”

“Eh?”

“Dengan pena ini.” Taecyeon tersenyum sambil mengangkat pena gambar Jessica dengan tangannya.

“Tolong Jessica-ssi seperti waktu itu. Aku tidak bisa melupakan rasanya sewaktu tertusuk pena ini.” ucap Taecyeon sambil terus memaksa Jessica memegang pena tersebut dengan kedua tangannya.
“Tusuk lebih keras lagi.. berkali-kali..”

“Tolonglah Jessica-ssi!” Taecyeon terus memaksanya sementara Jessica tidak menemukan cara untuk lari dari cengkraman Taecyeon. Siapa sangka jika lelaki bertubuh kekar ini… seorang maniak. Jelas-jelas dia ini ‘sakit’.

“Jessica malam ini adalah ratuku.. ayo perlakukan aku sesukamu!”

“Shireo!!!”

“Apa yang kau lakukan?!” Yuri tiba-tiba menarik kerah baju Taecyeon lalu memukulinya. Setelahnya gadis tanned itu melemparkan Taecyeon keluar. Taecyeon yang sudah babak belur masih terbaring di luar kamar keduanya sambil tertawa kecil dan bergumam.

“Aigoo.. menyenangkan.”

“Kembalilah ke kamarmu sendiri!” Yuri berteriak dan membanting pintunya.

“G-gomawo.” Jessica berkata pada Yuri yang berdiri di depannya. Gadis blonde itu menunduk dan memainkan jari-jarinya. Jessica pikir, mungkin saja Yuri kembali karena gadis tanned itu sudah merenungkan semuanya.

“Sica..”

“Ne?”

“Hari ini kamu makan dimana?”

“Apa?!”

“Kamu makan dimana dengan laki-laki itu?”

“Nama restorannya ‘Haag’..”

“Oke, aku sudah tau.”

“Apa maksudmu sudah tau.. Yuri?”

Yuri sudah pergi sebelum Jessica bertanya lebih jauh. Yuri memang orang terandom yang pernah Jessica kenal.

“Apa-apan orang itu. Untuk apa dia kembali?!” karena kesal Jessica memutuskan untuk menendang tempat sampah di sudut ruangan, membuat isinya berhamburan kemana-mana.

“Eh? Ini… obat flu..”

“Tissue tissue ini..”

Kwon Yuri…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi-paginya Jessica terbangun masih tanpa kehadiran Yuri. Jessica menghela nafas beratnya sampai matanya menangkap sesuatu yang sangat familiar di bawah pintu. Amplop naskahnya, terdapat tulisan tangan Yuri juga di luar amplop itu.

‘Tertinggal di restoran..’

“Sica kamu itu kenapa sih? Jika selesai makan pasti ada yang tertinggal.”

Jessica lantas memeluk naskah itu di dadanya. Si bodoh Kwon Yuri itu pasti menghabiskan waktu semalaman untuk mencari ini.

Di Vesthall -tempat Tiffany bagi-bagi tanda tangan fansnya sudah mengantri sejak lama. Selain tanda tangan panitia juga membagikan petasan cracker yang akan dibunyikan selesai acara.

“Selamat siang.. siapa namanya?”

“Jessica.” Tiffany yang sedang menandatangani bukunya mendongakkan kepala untuk memastikan. Ternyata gadis ini benar-benar Jessica sahabatnya, dengan penampilan yang begitu berantakan. Matanya sembab seperti sudah menangis semalaman. Tiffany langsung tau jika ada sesuatu yang tidak beres.

“Aku putus dengan Yuri..” jelasnya seolah bisa membaca pikiran Tiffany.

“Dia tidak akan kembali… bagaimana ini Fany-ah?” Jessica menangis putus asa. Untuk kali ini Jessica rela membuang semua rasa gengsinya untuk Yuri. Kalau saja Yuri ada disini.

Tunggu dulu! Chritsmas  Eve!

“Acaranya dari jam satu.. kalau kamu mau, datanglah bersama Jessie..”

“Lihat-lihat saja pun ngga apa-apa kok! Mau ya?”

Tiffany mengambil microphone lalu berdiri. Semoga saja cara ini berhasil.

“Kwon Yuri..” Tiffany mulai berbicara dengan pengeras suara di tangannya.

“Sekarang ini disini ada anak yang bodoh dan egois… tetapi..”

“Sebenarnya dia jujur dan manis… sekarang ini sahabatku yang itu datang disini!”

“Dia bilang ingin ketemu kamu sekali lagi!!”

“Kalau dengar.. tolong bunyikan petasan crackernya!!” Tiffany melihat ke sekeliling dengan gusar saat bunyi yang di tunggu-tunggunya tak kunjung terdengar. Jessica menundukkan kepala seraya mengepalkan kedua telapak tangannya.

“Sudahlah Fany..” pasrah Jessica.

“Tunggu sebentar!!” Tiffany belum menyerah.

Jessica menghela nafasnya bersamaan dengan cairan bening yang meluncur bebas di kedua pipinya. Bila nyatanya mereka berdua sudah tak mungkin, apa yang bisa Jessica perbuat? Tiffany menatap iba sahabatnya.

“Aku yang bodoh..”

“….aku tidak sadar pada sesuatu yang penting. Yang kurang dalam hubungan kami itu bukan kebaikan hati Yuri, tetapi kebaikan hatiku..”

TAARRR!!

Jessica dan Tiffany sama-sama menoleh ke sumber suara. Yuri muncul dari balik kerumunan orang-orang sambil tersenyum. Jessica berlari kearah gadis tanned itu lantas memeluknya dengan begitu erat.

“Yuri-ah.. mianhe..” kata Jessica tulus. Yuri mengangukkan kepalanya lalu menempelkan keningnya dengan Jessica. Melihat sahabatnya yang telah kembali hidup Tiffany berinisiatif memeriahkan suasana dengan menyalakan petasan cracker di tangannya. Fansnya melakukan hal yang sama.

Yuri dan Jessica saling pandang saat ribuan potongan kertas warna-warni berterbangan di sekeliling mereka. Semuanya terasa sempurna, apalagi saat mereka bersama. Yuri mendekatkan wajahnya, mengecup lembut bibir merah muda Jessica.

“Sebenarnya kalian tidak perlu melakukannya disini.. sungguh!” Tiffany menutup matanya sementara Yuri segera melepaskan ciumannya lalu tersenyum canggung ke arah Tiffany. Sementara Jessica sibuk menyembunyikan parasnya yang memerah dalam pelukan Yuri.

“Maaf terlambat.. sebenarnya tadi itu petasannya rusak.”

“Sudah tidak kupikirkan.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica dan Yuri akhirnya memutuskan untuk menghabiskan Chritsmas Eve di kamar hotel. Keduanya melihat pemandangan Munchen malam hari melalui balkon. Jessica berdiri di belakang pagar sementara Yuri memeluknya dari belakang.

“Meskipun perapian, makan malam maupun lilin, kue dan wine tak ada.. tetapi ini Chritsmas Eve yang indah ya?”

“Hmm.. aku suka..”

“Apa?”

“Sica..” kata Yuri malu-malu.

“Aku juga suka.. Yuri yang begini.”

Di lain tempat…

“Tiffany…”

“Tidak Taecyeon…hal seperti ini..”

“Ayolah.. tusuk aku lagi.”

“Aku tidak mau laki-laki seperti ini… huaaaaaa T.T”

Pada akhirnya,sesampainya di Korea Jessica baru sadar jika mereka -dirinya dan Yuri- tidak punya selembar pun foto berdua.
“Bagaimana ini? Padahal sudah susah-susah pergi ke Jerman.”

“Itu kan bukan masalah besar Sica.”

Demikianlah perjalanan yang agak lain ke Jerman.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Komentar
  1. hwangtaeppany1 mengatakan:

    Haha jauh jauh lburan gak ad stupun foto mereka brdua
    Fany cr taeyeon aj jgn taecyeon

  2. oebayoonyul mengatakan:

    dasar si kotak ‘sakit’ untung tadi daddyul nolong sica umma….
    ahhhhhhhhh manis
    kasian phany

  3. Lee Eun Soo mengatakan:

    hahahaah… ternyata Taecyeon itu seorang masochist ….

  4. Fadila mengatakan:

    Udh paket liburan murah, tpi poto berdua satu aja gk ada, poor yulsic:-D

  5. RF_yulsic mengatakan:

    yuri emang pacar yg perfect! Love ya yulappa!

  6. coel mengatakan:

    Ngk heran yulsic ngk ada selca.. Yulsic kn emang gitu orgnya.. Pelit selca -__-

  7. Little Kim dee mengatakan:

    dibalik sikap cueknya yul tersimpan berjuta cinta untuk sica eeeaaaaaa…
    hahaha jauh2 kluar negeri tnpa foto”kkkkk asli ampess bgt :v

  8. kwonjess mengatakan:

    ihhh ngeri ternyata taec sakit…

    yulsic yulsic bikin senyum2 sendiri ja …

  9. zorakwon mengatakan:

    Hahahaaaa yulsic yang bego …
    Gue kira’n ada apaan antara tepung segi tiga …

  10. rizanuzula mengatakan:

    ciahhh wkwkwkk dasar yulsic gmn sih kok mpe gak nyimpen moment berharga wkwkwkwkk pabo wkwkwwk…tp malah momen manisnya di C eve wkwkwk bakalan masuk museum tu kisahnya wkwkwkwkw

  11. aulshi mengatakan:

    ini real life ya,,, kok sama sich,,, sama sama nggak ada selca hahah
    hahahah yul yg dingin lebih menyeramkan ketimbang sica yg dingin hihi
    tapi lucu juga jika sica adalah orang yg ceroboh hahahh

  12. tuYUL_SICk mengatakan:

    jiahahaha paneh kasian bgt dpt cwo ky bgitu hiiii ngeriiii
    gw suka yul yg cool bgnih..

  13. aj kim mengatakan:

    Aduh ampun rugi banget yulsic ga dpet foto haha, yul appa daebak hihi

  14. puy mengatakan:

    Huhhhh tak apalah gda poto selembarpun udah kepalang tanggung balik ke seoul hahahahahaha,,,
    Hahhaha panny cepet kabuurr dri si taecyeon,,menakutkan dya,,,,

  15. Xiao Prince mengatakan:

    Kocak! Aah.. itu ppany ama oppa aja.. :p
    Yulsicnya bikin gue senyum-senyum sendiri.. awas lu thor bikin gue kayak orang gila mulu.. :v

  16. anisa mengatakan:

    Hahaha jauh” ke jerman
    Gk da momment yg terabadikan….
    Aigoo., ternyata om kotak” tuck SAAAKKIITT….
    Kasiah my pany pany…
    Kasian kasian kasian #nirugyaipin

  17. RZ mengatakan:

    hahahaha klo gue jadi sica, jauh2 ke jerman tapi gak ada foto berdua sama yul -sakitnya tuh disini- “nunjuk kepala”. pusing!!!!!!
    aigoo~ ternyata si taec “sakit”…. ini sih perjalanan yulsic namanya bukan romantis tapi dramatis. pake acara putus terus balikan. kekeke, lain kali liburan liburannya jangan ke jerman.😀

  18. ravi mengatakan:

    hhaha..
    yuriku keren.. menolong sica disaat yg tepat..
    tiffany kok gk diketemuin sama taeng aja biar sama2 jdian..

  19. NewReader mengatakan:

    Ckckck…ga ada foto yulsic ?
    Ampun nih couple unyu banget🙂

  20. Nhela92 mengatakan:

    Kalo lucu, lucuan chapter pertama, tp kalo sweet, yg ini lbh sweet ^o^

    pas ending-nya apa deh… Kasian bgt nasib fany, sini taec-nya gw rante aja. Hahaha….

  21. pipit mengatakan:

    taech “sakit”y trnyt ksian si fany….yul tllu ondiem mpe skit j sica g tw

  22. TaeKid mengatakan:

    sayang banget jauh2 ke jerman gak ada satu pun foto yulsic,, kasiaannyaa

  23. liataegangster mengatakan:

    Waaaahhh…. asli kocak bgt si kotak2 yak ? Maniak ??? Oh meeenn…. sereeeem..
    Yusicnya lucu dah. Yul nya sih emng agak dingin, tapi keren ahhahahay

  24. pacar jessica jung mengatakan:

    pasangan yg aneh hahaa masa liburan jauh-jauh kagak foto bareng.. tapi yul romantis jg ya

  25. anirecamp mengatakan:

    Disini yulsic berbeda dr biasanya
    Taec bnr sakit, untung aj yuri keburu dateng yelametin sica
    Mang bnr si kata pepatah rumput tetangga lebih hijau dr pada rumput sendiri, tetapi bkn berati rumput tetangga lbh bae dr pda rumput sendiri

  26. ArChan mengatakan:

    kocak nih… jauh jauh ke jerman liburan bareng tapi sama sekali ga ada poto bersama satupun hadehhh

  27. royalfamilyshippersoneforever mengatakan:

    Critanya kren.
    Hahah… da jauh2 ke jerman tpi gk fotoan tpi mrka ttap snang krna mrka bhgia di jerman,dn sica tau klau yuri bner2 mncintai sica

    Author faighting.

  28. YoungieYoongie mengatakan:

    padahal udah jauh2 liburan murah ke jerman tp malah gaada foto kenang2an nya hahaha

Comment Please ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s