Love Trip (1st of 2)

Tittle : Love Trip
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance
Lenght : Twoshot
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri, Tiffany Hwang, and Ok Taecyeon

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari komik berjudul My Best Rival is My Best Friend karya Yukari Kawachi.

Love Trip
.
.
.
.
.

Hari ini makan di bandara Incheon terasa spesial. Jessica sampai tidak sadar jika dirinya sudah menghabiskan semangkuk ramen, dua piring nasi goreng, serta dua gelas orange jus. Sementara Yuri  menggelengkan kepala melihat tingkah kekasihnya -yang mendadak kesurupan Sooyoung.

“Sica sudah waktunya berkumpul.” ucap Yuri. Seakan tersadar, gadis blonde itu tersentak lantas melirik jam tangannya sekilas. Gawat! Kenapa bisa sampai lupa? Dengan tergesa Jessica menelan suapan terakhir nasi gorengnya lalu berlari meninggalkan restoran dengan langkah terburu.

“Sica kamu itu kenapa sih? Jika selesai makan pasti ada yang tertinggal.” Yuri menyerahkan tas milik kekasihnya -tas yang dibeli saat mengunjungi pasar malam bulan lalu. Lebih tepatnya Jessica memaksa Yuri membelikan tas itu untuknya.

“Kalau perut kenyang, karena bahagia jadi cepat lupa.” sangkal Jessica. Padahal kenyataannya Jessica memang pelupa saja, sama sekali tidak ada hubungannya dengan keadaan perutnya. Bahkan Yuri yakin Jessica juga akan melupakan kehadirannya jika Yuri tidak bicara barusan.

Semuanya berawal dari minggu lalu, Jessica pulang kerumah dengan wajah sumringah.

“Sica kamu sakit?” tanya Yuri dengan nada khawatir.

“Ya!! Apa maksudmu?” Jessica merasa tersinggung. Yuri mengangkat bahunya cuek tapi karena terlalu bahagia Jessica tak begitu mempermasalahkan tingkah menyebalkan kekasihnya. Gadis blonde itu mengeluarkan brosur yang sudah dilipat di saku jaketnya dan menunjukkannya di depan wajah Yuri dengan semangat.

Brosur wisata. Perjalanan sepanjang Romantische Strasse di saat Natal. By Panda Travel dengan tulisan TOUR SUPER MURAH yang dicetak lebih tebal dan lebih besar dari tulisan lainnya. Benar-benar tipe Jessica -hemat.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica melambaikan tangannya ke arah rombongan Panda Travel yang sudah berkumpul lebih dulu. Seorang pemandu wisata bertubuh tinggi kekar meminta para peserta untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing.

“Yuri perkenalannya sudah dimulai.” Jessica menyikut perut Yuri yang berdiri di sebelahnya.

“Nama saya Taecyeon… pemandu wisata dari Panda Travel.” ucap Taecyeon sekalian tebar pesona.

“Cakepnya!”

“Keren!”

“Tapi kamu yang nomor satu chagiya!”

“Gomawo honey.. saranghae.”

Jessica bergidik ngeri saat menyadari rata-rata peserta tour ini adalah pengantin baru. Sudah lebih dari separuh peserta telah memperkenalkan diri mereka. Dari yang Jessica amati para peserta tour ini berasal dari bermacam wilayah serta berbagai profesi. Hal itu tentu saja membuat Jessica tak mau kalah.

“Selamat pagi!” ucap Jessica tersenyum lebar. Karena profesinya yang terbilang unik Jessica jadi merasa begitu percaya diri.

“Saya seorang penulis manhwa.”

“Ooohhhh.”

“Hebat! Penulis manhwa katanya.”

“Mau minta tanda tangan ah.”

“Dari majalah bulanan.. nama saya Jessica Jung.” lanjut Jessica.

Krik! Krik!

“Masa sih?”

“Kau mengenalnya?”

“Entahlah.”

“Dia pernah mengeluarkan buku?”

Sementara itu seorang peserta tour nampak frustasi, dan masih berpikir keras.

“Fansnya?”

“Itulah.. padahal aku maniak manhwa tapi tidak bisa ingat juga.”

Jessica merasa seseorang telah menamparnya dengan keras. Padahal gadis itu telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di dunia manhwa. Ironisnya karirnya tak kunjung menemui titik terang hingga kini. Hidup itu pahit memang.

Keadaan mulai kacau saat masing-masing peserta mulai sibuk dengan  diri mereka masing-masing. Taecyeon mengambil alih suasana dengan cara meminta peserta mengeluarkan paspor mereka sebelum keadaan menjadi lebih tak terkendali.

Pada akhirnya…

“Perkenalkan aku..” Yuri berusaha mengenalkan dirinya tapi tak seorang pun peduli. Sementara Jessica menunduk sambil memeluk kedua lututnya. Lagi-lagi, hidup itu pahit.

“Biar saja..” pasrahnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pesawat yang ditumpangi Jessica dan Yuri terbang ribuan kaki diatas permukaan laut. Keduanya akan berada di atas ketinggian tersebut selama 13 jam. Sebagai seorang penulis -yang tak kunjung terkenal- tentu saja Jessica takkan menyia-nyiakan waktu yang berharga tersebut.

“Kenapa kamu harus bawa kertas naskah segala?” heran Yuri yang duduk di sebelahnya.

“Itu karena aku tidak sempat.” jawab Jessica sambil terus menggoreskan garis-garis abstrak di kertas kehidupannya. Yuri tidak bertanya lebih jauh, gadis itu tau betul seberapa keras kepalanya Jessica jika sudah memutuskan sesuatu.

Jessica yang sedang serius berkutat bersama kertas naskah dan penanya kaget begitu pesawat berguncang. Karena ini pertama kalinya Jessica naik pesawat maka jutaan pikiran buruk pun bermunculan di kepalanya. Bagaimana kalau pesawatnya jatuh? Apa mereka akan mati?

“Huaaa.. mestinya aku lebih banyak bayar asuransi.”

Mendengar ada keributan -yang disebabkan Jessica-, Taecyeon sebagai pemandu wisata yang baik bermaksud memeriksa keadaan tapi laki-laki itu malah bernasib buruk. Tanpa sengaja Jessica menusuk punggung tangan Taecyeon dengan pena gambarnya sampai berdarah.

“M-mianhe.” sesal Jessica saat melihat Taecyeon yang kesakitan. “Gwenchana?” lanjutnya penuh rasa bersalah.

“Gwenchana.” Taecyeon tersenyum manis lantas menjilat darah di tangannya sambil berlalu. Aksi lelaki itu tentu saja untuk sesaat sukses membuat Jessica terpaku. Jessica terus memandang Taecyeon dengan wajah bodoh sampai laki-laki itu kembali ke kursinya -di paling belakang.

“Benar-benar keren. Tadi itu siapa ya?” tanya Jessica terpesona.

“Pemandu wisata.” jawab Yuri acuh.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Percaya atau tidak berada di udara selama 13 jam itu sangaattt membosankan. Apalagi jika kita tidak memiliki hal apapun untuk dilakukan, itu pula yang dirasakan Jessica. Padahal mereka baru pergi selama 6 jam -kalau Jessica tidak salah hitung- tapi kenapa rasanya sudah lama sekali. Sambil menunggu Jessica memutuskan untuk membuka-buka brosur panduan wisata yang dibawanya.

“Yul lihat ini! Orang-orang bilang natal di Jerman itu bagus sekali.” Jessica berkata dengan mata berbinar sementara Yuri memandangnya sambil bertopang dagu. Bagi Jessica yang harus rela menabung bertahun-tahun, melewati Chritsmas eve di luar negeri itu serasa mimpi.

“Saat natal di Jerman juga turun salju, lalu santap malam di restoran yang ada perapiannya..”

“… ditemani sinar lilin yang hangat kita akan minum wine…”

“Romantisnya.” gadis blonde itu memejamkan matanya sambil tersenyum sendiri.

“Yul.. natal kali ini kita royal sepuanya ya?” pinta Jessica penuh harap. Berharap Yuri akan mengiyakan permintaannya. Jessica sudah bertekad, meskipun perjalanan dengan paket super murah mereka harus menjadikan perjalanan ini mengesankan.

“Asalkan masih dalam taraf tidak memaksakan diri saja.” Jawab Yuri seadanya.

“Kenapa sih kamu itu orangnya sebegitu tidak punya mood?” Protes Jessica.

Semakin lama Jessica merasa udara dalam kabin semakin bertambah dingin. Mungkin berkisar belasan derajat celcius saja. Saat melihat kesisi kanan, depan dan belakang tempat duduknya Jessica kembali bergidik ngeri, inilah malasnya bepergian bersama pengantin baru, mereka selalu tebar kemesraan dimanapun berada. Apakah tidak ada cara menghangatkan diri yang lain selain saling memeluk. Jessica sebenarnya bukan tidak suka, gadis itu hanya merasa iri.

“Yul apa kamu kedinginan? Tangan dan kakiku serasa membeku.” Ucap Jessica sambil mengosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk menambah efek dramatis. Yuri sempat keheranan saat Jessica berkata seperti itu karena biasanya Jessica tak pernah bermasalah dengan cuaca dingin, bahkan di Korea Jessica pernah keluar rumah hanya memakai jeans dan T-shirt di bulan Januari. Sedetik kemudian Yuri melirik selimut di tangannya, gadis tanned itu mengerti sekarang.

“Selimut disini memang cuma satu, pakai saja..”

“….kalau aku merasa hangat karena sudah minum soju.”

“T-tapi-” Jessica berusaha protes.

“Aku mau tidur.” Kata Yuri sambil mulai memejamkan matanya. Jessica mendengus kesal sambil memeluk erat selimut di dadanya, tapi sebenarnya di banding kesal perasaanya lebih seperti… kecewa.

“Kwon Yuri payah.”

Baru satu jam tertidur Yuri dibangunkan karena guncangan pesawat. Gadis tanned itu melirik ke samping dan menemukan Jessica yang tertidur pulas dengan mulut yang sedikit terbuka, bahkan selimutnya sudah terjatuh di lantai. Yuri tersenyum lantas kembali menyelimuti kekasihnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ting!!

“Selamat pagi.. saat ini kami sedang mempersiapkan sarapan pagi…”

Pramugari mengumumkan kata-kata tersebut melalui pengeras suara. Jessica terbangun dan saat menyadari cara tidurnya yang berantakan gadis itu jadi gelagapan sendiri. Sesegera mungkin Jessica memperbaiki posisi duduknya dan merapikan rambutnya.

“Penampilanku tadi tidak ada yang lihat kan?” Tanyanya was-was, karena kalau ada tentu akan sangat memalukan. Jessica tersenyum melihat Yuri yang masih tertidur, wajahnya begitu damai.. seperti anak kecil.

“Selimutnya sampai jatuh. Tidurmu benar-benar jelek Kwon!” Jessica tertawa kecil.

Itu kan kamu Sica!!

Jessica memungut selimut di lantai dan bermaksud memakaikannya pada Yuri -seperti adegan di drama romantis- namun Yuri tiba-tiba terbangun.

“Ada apa?” Tanya Yuri saat melihat wajah Jessica yang begitu dekat dengannya.

“A-anu, selimutnya aku pinjam ya?” Aksinya tertangkap basah, untung saja Jessica -cukup- pintar mengalihkan pembicaraan. Gengsi juga kan kalau Yuri sampai tau.

“Semalam aku kedinginan sampai tidak bisa tidur. Kalau sampai aku masuk angin itu salahmu.” Lanjutnya.

“Kenapa aku?” Heran Yuri.

“I-ini sarapannya..” sementara itu pelayan yang membawa sarapan meletakkan nampan berisi makanan di meja keduanya dengan inisiatif sendiri karena tak mau merusak ‘romantisme’ yang mereka ciptakan.

“Sica makannya pelan-pelan saja.”

“Iya.”

Pagi itu Yuri merasa tubuhnya agak pegal dan mengigil. Bahkan sampai bersin.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Heidelburg, Jerman

Setelah turun dari pesawat Jessica, Yuri beserta peserta tour lainnya melanjutkan perjalanan mereka menuju kastil kuno Heidelburg menggunakan bis. Lagi-lagi karena tarif tour yang super murah tentu fasilitas yang didapat pun agak berbeda dari yang diharapkan. Heater di dalam bis rusak, membuat udara di dalam menjadi sangat panas, bahkan beberapa penumpang sampai memanfaatkan kesempatan ini untuk mandi spa.

“Apa boleh buat..” pasrah Yuri. Sementara Jessica sibuk mengipasi dirinya.

Pada tahun 1764, kastil Heidelburg ini diperbaiki dan sudah dua kali tersambar petir. Istana megah ini merupakan simbol sejarah negara dan terletak di lembah Neckar. Berdiri megah di tengah rimbunan pepohonan yang tertata apik.

“Yuri-ah kita seperti dalam film Harry Potter saja, iya kan?”

“Berhenti bermain dengan ranting pohon itu Sica-ya.”

“Ini bukan ranting pohon tapi tongkat sihir!”

Untuk mencapai kastil pengunjung harus melewati 303 anak tangga. Tapi semua kelelahan akan terbayar begitu sampai di puncak.

“Wwuaahh..” takjub Jessica. Benar saja, dari atas pemandangan kota terlihat sangat manis. Semua atap rumah penduduk dan bangunan lain di sekitar kastil semuanya berwarna jingga.

Meski banyak bagian istana yang hancur, namun beberapa di antaranya masih berdiri dengan megahnya. Dan sampai saat ini bangunan kastil yang tersisa masih dipertahankan. Bangunan yang sengaja hancur dibiarkan, sebagai bukti sejarah.

“Yul ambilkan foto ya? Ini latarnya…” ucap Jessica semangat sambil merentangkan kedua tangannya. Yuri memotret kekasihnya tepat saat gadis itu tersenyum kearah kamera -manisnya.

“Aku ingin lihat untuk oleh-oleh juga.. kajja!” Kali ini rasanya Jessica terlalu bersemangat. Padahal kalau memisahkan diri dari rombongan resikonya bisa tersesat. Yuri menghela nafasnya, meskipun sudah di luar negeri karakter Jessica sama sekali tidak berubah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Jadi ini ya gerbang Elizabeth yang terkenal itu?” tanya Jessica memastikan.

“Sudah jelas kan..” jawab Yuri.

Menurut kisahnya pada tahun 1675 Raja Friedrich V mempersembahkan ini sebagai hadiah ulang tahun untuk permaisurinya Ratu Elizabeth. Hebatnya lagi gerbang ini dibangun dalam semalam. Dan bagi pasangan yang berfoto di depan gerbang ini konon bisa bahagia.

“Wah.. katanya bisa bahagia. Kita juga foto bersama disana.. disana!”

“Itu kan cuma mitos Sica.”

“Dasar Kwon Yuri! Lagi-lagi bilang begitu. Makanya sampai kapanpun kita tak bisa bahagia.” Yuri memundurkan kepalanya saat Jessica tiba-tiba berteriak di depan wajahnya. Selain menarik perhatian pengunjung lain ternyata suara keras Jessica juga mampu menarik perhatian Taecyeon -lagi. Lelaki itu lantas menawarkan dirinya untuk memfoto Yuri dan Jessica.

“Anda yang dipesawat itu?” tanya Jessica dengan mata berbinar.

“Ok Taecyeon imnida.”

“Pemandu wisata.” timpal Yuri.

Melihat Taecyeon, Jessica jadi ingat kejadian di pesawat beberapa tempo lalu. “Maaf sekali waktu itu.. bagaimana lukanya?”

“Hmm.. itu tak usah dipikirkan.”

“T-tapi..”

“Kamu sudah ingat saja sudah merupakan sebuah kehormatan.” Jessica terpaku untuk beberapa saat kala Taecyeon memberinya sebuah wink.

“Mana kameranya, biar saya ambilkan fotonya.” Taecyeon mengulurkan tangannya dan membuat Jessica tersadar. Jessica juga sadar jika Yuri sudah menghilang entah kemana.

“Maaf saya panggilkan dulu.”

“Wae?” Yuri bertanya saat Jessica menyeret kerah bajunya.

“Katanya ada yang mau memotret kita.”

Setelahnya, Taecyeon mengambil foto keduanya di depan gerbang Elizabeth. Meski saat berfoto ekspressi Yuri tetap tidak berubah dan itu membuat Jessica kembali protes.

“Paling tidak waktu ambil foto senyum dong!”

“Chezee!” kata Yuri. Jessica menggelengkan kepalanya, “Tetap tidak berubah.”

Padahal sudah susah payah tapi saat mereka berfoto ada seseorang yang lewat di depan kameranya begitu saja. Alhasil wajah Jessica jadi tidak terlihat. Menyadari kesalahannya orang itu segera minta maaf.

“Gwenchana..” jawab Jessica, walau agak sedikit dongkol.

Tapi tunggu dulu, tidakkah penampilan orang ini terlalu mencolok. Perhiasan yang dikenakannya, pakaian, tas, sepatu, sampai parfum segala. Wangi ini.. wangi Parfum channel No. 17, tidak salah lagi. Satu orang yang Jessica kenal sangat setia dengan parfum ini… jangan katakan kalau orang ini..

“Tiffany?”

“Jessie?”

Sama seperti Jessica, Tiffany pun begitu terkejut bisa menemui Jessica di Jerman, apalagi bersama Yuri. Disisi lain Jessica membatin, kenapa rasanya dunia ini begitu sempit. Kalau begini rasanya jadi tidak ada artinya jauh-jauh datang menempuh perjalanan 13 jam.

“Kami sedang liburan. Kamu sendiri ada urusan apa ke Jerman?”

Tiffany berdehem sebentar, memang sedari tadi kalimat itulah yang ditunggu-tunggunya. “Aku.. ada acara bagi tanda tangan di Jerman.” jawab Tiffany sambil menunjukkan eyes-killer-smilenya.

.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Tadinya mau bikin oneshot tp karena kepanjangan makanya aku bagi 2. Dari dulu pengen bgt ngebuat komik ini jd versi YulSic akhirnya bisa juga. Moga pada suka.. 2nd part coming soon..

GuMiyoung (Yulti/Part 4)

Tittle : GuMiyoung
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Fantasy, Comedy Romance
Lenght : Chapter
Cast : Kwon Yuri, Hwang Miyoung and Other Cast

Song lyric by :
Taeyeon – Closer (OST. To The Beautiful You)
Taeyeon – Missing You Like Crazy (OST. King 2 Hearts)

Disclaimer : FF ini merupakan YulTi Version dari Drama
My Girlfriend is a Gumiho.

.
.
.
.
.

~GuMiyoung 4~

Taeyeon menarik nafas dalam-dalam. Rubah yang dicarinya sudah tak jauh dari sini. Dengan indera penciumannya yang jauh diatas rata-rata manusia biasa tentu Taeyeon dapat mencium keberadaan Gumiho dari jarak yang cukup jauh. Selain itu, belati yang kini berada dalam genggamannya pun terus bersinar, hal itu tambah meyakinkan Taeyeon jika buruannya memang sudah dekat.

Setelah kembali memasukan belati itu ke dalam saku jaketnya Taeyeon lantas turun dari mobil. Gadis itu berjalan kearah timur, mengikuti feelingnya namun begitu Taeyeon menemukan sang Gumiho tubuhnya langsung membeku.

Tidak mungkin.. Taeyeon pasti salah lihat…

Miyoung balas menatap wanita itu tajam, “Kembalikan..”

“A-apa?” Shin ahjumma tiba-tiba menjadi gugup. Miyoung
balas merebut kupon itu dari tangan Shin ahjumma tapi
karena Shin ahjumma tidak mau melepaskannya mereka
berdua berebut dengan sengit. Namum karena kekuatan
Miyoung yang lebih besar kupon itu berhasil direbutnya.
Shin ahjumma bahkan sampai heran bagaimana bisa
seorang gadis muda bisa sekuat itu, dan tatapannya, jenis
tatapan apa itu? Benar-benar gadis aneh.

Taeyeon sedari tadi menyaksikan kejadian itu dari
kejauhan, dan saat Miyoung berjalan ke arahnya Taeyeon
segera bersembunyi di balik pohon.

“Tiffany…” gumamnya tanpa sadar.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

10 years ago..

Dari balik jendela apartemennya Taeyeon menatap pemandangan Seoul malam yang nampak tak jua ingin tertidur. Gedung-gedung tinggi nan megah itu masih tak lelah bersinar. Mobil-mobil masih berlalu lalang, rasanya tak pernah sekalipun Taeyeon melihat jalanan di bawah sana nampak lengang, bahkan saat weekend sekalipun. Realitas hidup di kota besar tersebut membuat gadis itu mengeluarkan tawa hambarnya.

Sudah hidup lebih dari setengah abad, membuat Taeyeon begitu mengenal dunia ini dan berbagai macam penghuni di dalamnya. Semuanya palsu, karenanya Taeyeon lebih memilih untuk menyendiri. Semakin tidak ada orang yang mengenalnya rasannya semakin baik.

Kehidupan Taeyeon yang membosankan awalnya berjalan mulus seperti yang diharapkannya, sampai akhirnya gadis itu datang. Tiffany Hwang.

There are so many things I couldn’t say
You have never heard them before but
I’m not someone who just loves anyone I see

Because among the many people in this world
I could only see you

I am standing here as I only see you
After this love, I don’t really know what will happen
Just like child who is always this way,
Will you warmly hold me right now?

“Nona Hwang.. anda terlambat lagi.” Taeyeon menyilangkan kedua tangannya seraya berharap mahasiswi ‘kesayangannya’ memberikan alasan masuk akal. Di kampus ini Taeyeon dikenal sebagai dosen muda yang tegas dan sangat menghargai waktu, terlambat tak pernah ada dalam kamusnya. Tiffanya yang mengetahui hal itu hanya bisa tersenyum manis, menunjukkan eyes smile andalannya.

“Maaf Ssaem..” ucapnya.

“Kau boleh pergi sekarang… dan temui aku sesudah kelas selesai.” ujar Taeyeon serius.

“Mianhe..” Tiffany menundukkan kepalanya seraya menutup pintu kelas. Gadis bereyes smile itu berlari kecil meninggalkan kelas sambil melompat-lompat gembira. Memang itu yang diharapkannya. Tiffany sengaja datang terlambat supaya Taeyeon menghukumnya karena dengan begitu dirinya bisa berduaan dengan Taeyeon, dosen yang disukainya.

Tiffany memang sudah beberapa kali menyatakan perasaannya, walau Taeyeon tak pernah menanggapinya gadis bereyes smile itu tak pernah menyerah.

Though someday your name might become strange
My heart will remember all the memories
Even if a painful separation comes between us
Let’s not think about that today

Because among the many people in this world
I could only see you

I am standing here as I only see you
After this love, I don’t really know what will happen
Just like child who is always this way,
Will you warmly hold me closer?

Ting nong! Malam-malam sekali ada yang membunyikan pintu apartemennya. Taeyeon yang kala itu sedang membaca bukunya lantas menghentikan aktifitasnya sejenak. Taeyeon menyilangkan kedua tangannya di dada saat melihat wajah siapa yang ada di layar intercom, siapa lagi kalau bukan Tiffany. Gadis itu bahkan sampai rela pindah ke dekat apartemen Taeyeon hanya untuk membuktikan keseriusannya.

“Kim Ssaem..” ucap Tiffany lalu tertawa kecil. Taeyeon mendengus kesal, dia pasti mabuk.

“Pulanglah ke rumahmu!” perintah Taeyeon lalu bermaksud mematikan sambungannya namun Tiffany mencegahnya.

“Tunggu!” ucap gadis itu diselingi cegukkan. Dia pasti sudah sangat mabuk sampai tidak bisa berpikir, bahkan penampilannya sangat berantakan. Sama persis seperti seorang pengantin yang ditinggal pasangannya di altar.

“Apa?” tanya Taeyeon kesal. Dirinya sungguh tidak punya waktu untuk menghadapi Tiffany dan kelakuan tidak jelasnya.

“Aku akan mengatakan ini untuk terakhir kalinya dan kalau masih tidak berhasil aku menyerah… sungguh Ssaem.” mohon Tiffany.

“…………………”

“Kumohon Ssaem.. keluarlah.” Tiffany menangkupkan kedua tangannya -memohon- seraya memasang wajah yang begitu memelas. Karena tidak tega akhirnya Taeyeon menuruti permintaan gadis tersebut.

“Saranghae.” tepat setelah Taeyeon membuka pintu apartemannya, Tiffany langsung mendaratkan ciuman di bibirnya. Tidak ada yang bisa Taeyeon lakukan selain membeku di tempatnya.

Tiffany memejamkan matanya dan begitu menikmati ciuman tersebut. Jelas sekali kalau gadis itu mencurahkan seluruh perasannya, perasaannya untuk Taeyeon selama ini. Tiffany melingkarkan tangannya di leher Taeyeon seraya memperdalam ciuman mereka, jantung Taeyeon berdebar keras. Pada akhirnya Taeyeon ikut memejamkan matanya dan membalas permainan Tiffany.

Taeyeon membiarkan perasaan mengambil alih logikanya, karena pada dasarnya cinta tak mengenal logika. Taeyeon melupakan prinsip yang dipegang teguhnya selama ini, gadis itu akhirnya mengakui jika dia telah jatuh cinta pada manusia, Tiffany, orang yang membuatnya merasakan sesuatu yang tak pernah Taeyeon rasakan selama ratusan tahun hidupnya.

“Na-nado saranghae..”

Now I’m not alone
Only you who has come to me from that place

Only you are my everything
After this love, I don’t really know what will happen
Just like child who is always this way,
Will you warmly hold me closer?

Closer

Warmer

Will you hold me?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Katakan sekali lagi..” keduanya tengah berjalan bersama sambil berpegangan tangan.

“Apa?”

“Panggil namaku.. ^^”

“Tidak mau..” Taeyeon memalingkan wajahnya dan membuat Tiffany cemberut. Tidak tahan dengan tingkah menggemaskan kekasihnya Taeyeon lantas memeluk gadis itu dari belakang dan berbisik di telinganya.

“Aku mencintaimu Ppany-ah… sangat mencintaimu.”

“Mee too Taetae.. i love you so much..” Tiffany membuka tangannya lebar-lebar untuk mengekspresikan seberapa besar cintanya.

“Hanya sebesar itu?” Taeyeon pura-pura kecewa.

“Bagaimana kalau segini..” Tiffany membuka tangannya lebih lebar.

“Masih kurang..” Taeyeon menggelengkan kepala, masih tampak belum puas. Tiffany meletakkan jari telunjukkanya didagu sambil berpikir.

“Bagaimana kalau..” Tiffany menghentikan kata-katanya lalu membalik tubuhnya, membuat posisinya dan Taeyeon berhadapan. “Sebanyak itu..” ucapnya setelah mengecup bibir Taeyeon sekilas.

Taeyeon tersenyum lebar, gadis itu meletakkan tangannya pada pinggang tiffany dan menariknya lebih dekat. “Bagaimana kalau sedikit lebih lama?”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Don’t you know me? The reason I’m here is because of you
But my eyes tingle with the cold so I can’t say anything
I just look toward you by myself

Even if the tip of my heart hurts like this
Even if the tip of my hands tremble like this
I can only think of you

“Ppany-ah.. a-aku bukan manusia..” ucap Taeyeon dengan segala keberaniannya. Taeyeon sudah mengatakan segalanya, sekarang terserah Tiffany mau menerimanya atau tidak. Jika nanti Tiffany akan meninggalkannya pun Taeyeon sudah siap, gadis itu bahkan sudah lebih siap melepaskan Tiffany untuk orang lain yang lebih bisa membahagiakannya.

“Aku mencintaimu..” diluar dugaan Taeyeon, Tiffany justru malah memeluknya. Menghangatkan punggung Taeyeon yang sebelumnya terasa dingin. Dan kata-kata yang Tiffany bisikkan ditelinganya tanpa sadar membuat airmata Taeyeon mengalir perlahan.

“Aku mencintaimu apapun dirimu, aku tidak peduli jika kau siluman atau bahkan alien yang datang dari luar angkasa sekalipun. Aku tetap mencintaimu, Taetae-ku, selamanya.”

“Aku juga mencintaimu Ppany… terimakasih.” Taeyeon menautkan jari-jarinya dengan jari Tiffany yang ada di perutnya.

Tapi sekeras apapun Taeyeon berusaha, percintaan antara dua alam yang berbeda itu rasanya tak pernah memiliki akhir yang bahagia. Sama yang terjadi antara dirinya dan Tiffany, Taeyeon merasa sangat terluka saat Tiffany meninggalkannya, sangat terluka sampai-sampai rasany semua bunga di dunia ini kehilangan keindahan mereka, seakan semua warna pudar cahayanya, bahkan Taeyeon tak dapat mendengar lagi kicauan burung yang biasa membangunkannya di pagi hari. Tiffany pergi dan membawa lebih dari separuh jiwanya.

“Andweee.. Ppany-ah.. kau akan baik-baik saja, dokter akan menyelamatkanmu..”

“Gwencahana TaeTae.. uljima..” jawab Tiffany lemas, sedetik kemudian Tiffany menutup matanya dan tangannya yang sedari tadi mengelus pipi Taeyeon terkulai lemas di samping tubuhnya.

“Andweyo! Ppany-ah kajima! KAJIMA!”

The person I miss like crazy
The words I want to hear from you like crazy
I love you, I love you – where are you?
The person I long for, who is deeply stuck in my heart

Please tell me that you cherish me
Please don’t blankly erase me
Because you’re my everything

I want to cherish you forever
I love you, I love you

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yuri menunggu gilirannya audisi dengam jantung berdebar. Kini gadis tanned itu sedang berada di gedung SM Ent, salah satu manajemen paling terkemuka di Korea Selatan. Kebetulan sang kekasih juga bernaung di bawah manajeman tersebut.

Audisi kali ini sengaja diadakan untuk mencari peran utama dalam drama kolosal terbaru SM. Sutradara yang akan menjadi juri kali adalah sutradara Park, sutradara yang dikenal sangat pemilih dalam hal pemain. Yuri sudah beberapa kali bertemu sutradara tersebut dalam sebuah audisi dan semuanya selalu berakhir gagal. Hal tersebut tentu tak membuat perasaan Yuri menjadi lebih baik, justru sebaliknya, rasa gugupnya bertambah berkali-kali lipat. Saking gugupnya tangan Yuri sampai berkeringat dingin.

“Tenang Kwon Yuri tenang…” Yuri tanpa sadar melakukan kebiasaannya -berbicara pada diri sendiri. Sesekali gadis kecoklatan itu melirik jam dinding yang ada disana, sebentar lagi gilirannya.

“Kwon Yuri fighting..!!”

“Peserta nomor 221 silahkan masuk..”

Sutradara Park segera membenarkan posisi duduknya begitu Yuri masuk. Pria 50-an sekilas tersenyum kecil. Karena Yuri selalu bolak-balik audisi tentu pria itu sudah mengenalnya. Rupanya Yuri orang yang pantang menyerah, hal itu tentu merupakan penilaian plus dimatanya hanya saja sutradara Park masih penasaran. Kira-kira sudah sejauh mana perubahan yang telah Yuri capai.

Biasanya dalam audisi seorang peserta akan diminta menunjukkan berbagai ekspressi, seperti menangis, marah, senang dan sebagainya tapi kali ini sepertinya sutradara Park punya sekenario lain untuk Yuri.

“Beraktinglah menjadi seorang lelaki yang ingin menyatakan perasaannya pada wanita yang disukainya tapi disaat bersamaan lelaki itu sedang menahan keinginan untuk buang air kecil..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Miyoung berjongkok di depan pintu rumah untuk menunggu kedatangan Yuri. Hari sudah gelap namun Yuri belum juga kembali, padahal gadis itu berjanji akan kembali sebelum makan malam. Dimana gadis itu sekarang? Apa audisinya berjalan lancar? !
Miyoung jadi khawatir padanya.

Sesaat kemudian Miyoung mendengar suara langkah kaki mendekat. Pasti itu Yuri, batinnya. Gadis bereyes smile itu lantas berdiri dan tersenyum lebar untuk menyambut kedatangan Yuri. Benar saja, tak lama kemudian Yuri datang, dengan cara berjalan sempoyongan. Gadis itu terlalu banyak minum soju.

“Yuri sudah pulang! Ayo makan malam..” ajak Miyoung sambil tersenyum. Yuri memandang gadis itu sekilas tanpa berniat menjawab pertanyaannya. Dengan kepala yang terasa pusing Yuri mencoba membuka pintu rumah mereka.

“Aku tidak mau.”

“Yuri-ya ayo makan..” rengek Miyoung lagi.

“Aniyo Miyoung-ah.”

“Yuri-ya.. Kajja! Kajja !” kali ini Miyoung menarik-narik tangan Yuri namun Yuri menghempaskannya dengan kasar.

“KUBILANG AKU TIDAK MAU!!” Miyoung tersentak, Yuri pasti benar-benar sangat mabuk sampai bisa berbuat seperti itu.

“Mianhe..” ucap Miyoung tulus. Yuri melewatinya begitu saja, dengan gaya mabuknya Yuri terus berjalan sampai akhirnya dia terjatuh di tengah ruangan. Miyoung segera menghampirinya, yeoja bereyes smile itu membantu Yuri berdiri lalu memapahnya sampai sofa.

“Yuri-ya apa yang sudah terjadi?”

“………………” Yuri menundukkan kepalanya dalam-dalam. Saat ini gadis itu sudah berada di antara alam sadar dan bawah sadarnya.

“Yuri-ah apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?” tany Miyoung sambil mengelus pipi Yuri dengan ibu jarinya. Yuri tiba-tiba mengangkat kepalanya dan tertawa -masih dengan gaya orang mabuk.

“Nona gumiho ingin membantuku?” Yuri tersenyum padanya, Miyoung mengangukkan kepalanya sebagai jawaban.

“…..kalau begitu enyahlah! Kau bisa melakukannya?”

.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Drabble #16 (RF)

Drabble #16

“Hai buddy, rasanya sudah lama sekali iya kan?” Taeyeon tersenyum miris sambil memandangi foto sahabatnya yang sedang tersenyum. Memang sudah lama sekali sejak Taeyeon terakhir kali melihatnya.

Gadis bertubuh mungil itu lantas mengusap airmata yang tanpa sadar mengenang di sudut matanya. Mengenalnya sejak kecil membuat Taeyeon merasa begitu kehilangan tatkala sahabtnya meninggalkan dunia ini -lebuh tepatnya dorm mereka. Sungguh, kalau bukan karena Jessica tentu dia masih ada disini, Taeyeon masih bisa melihatnya, masih bisa memeluknya, dan tentunya gadis berkulit pucat itu takkan merasa sesakit ini. Taeyeon merasa sangat terluka sampai-sampai Tiffany saja tidak bisa berbuat apa-apa.

“Sooyeon kau ratu tega yang pernah kukenal..” lirih Taeyeon. Jessica yang berdiri di depan gadis itu lantas memutar kedua bola matanya, tak peduli.

“Bukankah aku sudah minta maaf?” balas Jessica tenang. Saking tenangnya sampai-sampai membuat Taeyeon selalu menerka-nerka. Hal apa gerangan yang asa di dalam kepala gadis berambut pirang tersebut. Demi Tuhan, ini masalah hidup dan mati, bagaimana bisa Jessica masih bersikap tenang seperti ini.

“Sudahlah Tae..” Tiffany mengusap punggung kekasihnya lembut, berusaha melerai Jessica dan Taeyeon yang sepertinya akan memulai perang dunia ketiga saat ini juga.

“Yuri-ah~” sayangnya usaha gadis bereyes smile tersebut sia-sia karena justru tangisan Taeyeon malah pecah. Gadis itu meraung-raung memanggil nama Yuri yang masih berusaha membereskan Kekacauan -yang telah Jessica buat- di dapur dorm mereka. Jessica yang awalnya ingin membuat sarapan untuk Yuri -lagi- tanpa sengaja hampir membakar dapur. Entah apa yang telah dilakukannya hingga api yang seharusnya di kompor menjadi begitu besar, Jessica yang panik berusaha memandamkan api tersebut menggunakan bantal dokong tak berdosa milik Taeyeon yang tergeletak di sofa. Alhasil bantal dokong Taeyeon hangus dan api semakin membesar, untung saja member lain segera bangun dan berhasil mengatasi kekacauan yang Jessica buat.

“Kwon Yuri!!! Lakukan sesuatu pada pacarmu ini..” Taeyeon terus merengek pada gadis kecoklatan tersebut.

“Ne, aku akan menghukumnya nanti.” balas Yuri enteng, tak sadar jika Jessica menatap tajam dirinya. Jessica tak percaya jika Yuri lebih membela Taeyeon daripada dirinya. Kekasih macam apa makhluk ini?

“Taetae sudah ya..”

“T-tapi Ppany-ah aku belum selesai dengan Sooyeon, dia harus bertanggung jawab, kau tau kan aku tidak bisa tidur kalau tidak memeluk bantal dokong itu?”

“Kalau begitu peluk aku saja..” tawar Tiffany, tentu saja Taeyeon menerima ajakan tersebut tanpa harus berpikir duakali. Gadis pendek itu melangkah ke kamar dengan langkah ringan dan senyuman lebar seolah insiden Jessica dan bantal dokongnya tak pernah terjadi.

Sambil melingkarkan tangan kanannya di pinggang Jessica Yuri menggelengkan kepala melihat tingkah Taeyeon. “Dasar kurcaci penuh modus..”

“Kwon seobang, bedroom,NOW!” kata Jessica sambil melangkah pergi.

“What?” heran Yuri dengan aksen inggrisnya yang kacau balau.

Jessica berjalan ke kamar mereka lebih dulu sambil memikirkan hukuman apa yang cocok untuk Yuri, berbicara soal hukuman entah kenapa Jessica merasa telah melupakan sesuatu.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Bodyguard (YulSic/Part 5)

Tittle : Bodyguard
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance, Angst
Lenght : Series
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

Song lyric by : SHINee – Colorful

5th
.
.
.

“PPPAAAGGIIII!!!” Jessica tiba-tiba membuka pintu kamar Yuri dan berteriak dengan dolphin screamnya. Selanjutnya yeoja blonde itu tertawa melihat Yuri yang membelalakan matanya karena kaget. Siapa yang tidak jika tiba-tiba seseorang masuk ke kamarnya tepat setelah Yuri selelsai memakai t-shirt.

“Apa kau tidak tau caranya mengetuk pintu?” balas Yuri ketus. Jessica terkekeh geli, tak memperdulikan nada sinis pengawalnya. Yeoja bermarga Jung itu lantas duduk di sisi kasur Yuri -tempat yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya. Disisi lain Yuri tengah memakai sweater cokelatnya. Tidak lucu kan kalau di cuaca sedingin ini dia hanya mengenakan pakaian tipis. Yuri tentu masih menyayangi hidupnya dan tak mau berakhir sebagai monyet hitam membeku.

“Ouch..!!” Yuri meringis kesakitan sambil mengoleskan sesuatu di sudut bibirnya.

“Kenapa?” Jessica menghampirinya dan bertanya dengan nada khawatir. Yuri segera memalingkan wajahnya dan berkata semuanya baik-baik saja. Tentu saja Jessica takkan percaya terlebih menyaksikan gesture menghindar Yuri. Gadis dihadapannya selalu menghindar untuk menyembunyikan sesuatu dan Jessica bersumpah kali ini Yuri takkan bisa membodohinya.

“Kau pikir aku bodoh?” Jessica menyilangkan tangannya di dada seraya menatap Yuri dengan ice glare. Sesuatu yang jarang diperlihatnya akhir-akhir ini. Entahlah, mungkin karena Yuri berhasil mengubahnya menjadi lebih hangat. Berbicara soal Yuri, gadis tanned itu masih berusaha menyembunyikan luka di sudut bibirnya dari Jessica.

“Lihat aku!” Sikap Yuri tentu saja membuat Jessica tidak tahan, tanpa perasaan Jessica mendekap wajah Yuri dengan kedua tangannya.

“Bagaimana kau mendapatkannya?” tanya Jessica serius. Seingatnya kemarin pengawalnya tersebut masih baik-baik saja.

“Aku terjatuh..” jawab Yuri sambil melepaskan tangan Jessica dari wajahnya. Jessica mengangkat salah satu sudut bibirnya.

“Kau pikir aku percaya?” tantangnya. Kali ini tangannya mencengkram kerah sweater Yuri.

Yuri menghela nafasnya, gadis itu tau berdebat dengan Jessica akan menghabiskan lebih dari setengah sisa hidupnya karena Jessica begitu keras kepala sama dengan dirinya. “Satu hal yang pasti, aku tidak memintamu percaya. Lagipula ini bukan urusanmu nona Jung..” balas Yuri sambil tersenyum padanya.

Jessica mendorong tubuh Yuri seketika dan berbalik. Sambil memegangi wajahnya yang memanas Jessica berjalan cepat meninggalkan kamar Yuri.

Dia selalu punya cara ampuh mengalihkan pembicaraan. Dasar menyebalkan.

“KWON YURI KAU PUNYA 3 DETIK. DAN JIKA SETELAHNYA AKU MASIH BELUM MELIHATMU KELUAR KAMAR… TAMATLAH RIWAYATMU!!” teriak Jessica setelahnya. Kenapa akhir-akhir ini harus selalu Jessica yang menunggu Yuri. Jessica jadi bingung sebenarnya yang ‘bodyguard’ itu siapa? Yuri atau dirinya?

~~~~~~~~~~~

“BBBIIBBIII!!” Jessica kembali berteriak gembira sementara Yuri -yang berjalan di belakangnya- sibuk menggosok-gosok telinganya yang berdengung karena suara ultrasonik majikannya. Jika indera pendengaran Yuri bermasalah tentu takkan sulit menemukan orang yang bertanggung jawab.

Hyorim bersama beberapa anak yang sedang membersihkan jalan setapak menuju panti yang dipenuhi salju lantas menoleh kearah suara. Wanita paruh baya itu tersenyum lebar mengetahui siapa yang mengunjungi mereka.

“Sooyeon-ah.. sudah lama tidak melihatmu!” Hyorim lantas memeluk Jessica setelah meletakkan sapunya.

“Bagaimana kabarmu? Kudengar kemarin kau masuk rumah sakit? Apa yang terjadi?” Jessica sudah menduga kalau bibinya yang satu ini akan memberondongnya dengan pertanyaan yang demikian.

“Ah itu, aku hanya menjalani operasi kecil.. sekarang aku baik-baik saja.” Jessica tersenyum kemudian memutar tubuhnya di depan Hyorim.

“Aigoo.. anak ini. Jangan meremehkan sesuatu. Kau harus menjaga kesehatanmu.”

“Apa yang dikatakan bibi itu benar.” cibir Yuri -setelah menyapa dan membungkukkan badannya ke arah Hyorim- pada majikannya yang masih memasang tampang tak bersalah. Apa Jessica tidak tau jika apa yang terjadi padanya beberapa waktu lalu hampir membuat Yuri terkena serangan jantung. Dan lebih tidak bisa dipercaya lagi saat Jessica bertingkah seakan-akan tidak pernah terjadi apapun.

“Tutup mulutmu Kwon!” balas Jessica sebal. Yuri balas menatapnya tajam. Hyorim turun tangan untuk melerai perang dunia yang sebentar lagi akan terjadi di hadapannya.

“Dasar anak muda.” wanita paruh baya itu tertawa kecil melihat interaksi keduanya.

“Sudah! Sudah! Diluar dingin sekali.. ayo masuk ke dalam.. bibi akan menyiapkan makanan dan teh hangat untuk kalian.” ujar bibi Hyorim. Jessica berpaling dari Yuri dan kembali memasang senyum manisnya.

“Bipolar..” gumam Yuri.

“Kebetulan sekali aku memang kedinginan..” ucap Jessica sambil merangkul tangan bibi Hyorim dan mengajaknya masuk. Yuri berniat mengikuti keduanya tapi terhenti saat Jessica berbalik dan mengangkat tangannya di depan wajah Yuri.

“Berhenti disitu Kwon!”

“Wae?”

“Buatlah dirimu berguna, gantikan tugas bibi membersihkan salju-salju itu arraseo?”

“Tapi-“

“No but! Do it now! N.O.W!”

“Dasar.. aishhh!!”

Jessica kembali berjalan bersama bibi Hyorim. Wanita itu sebenarnya kurang setuju dengan perintah Jessica, bagaimanapun Yuri juga tamu disini tidak seharusnya dia membersihkan salju tapi Jessica berhasil meyakinkannya.

“Tenang saja bi, itu hukuman untuknya. Lagipula jika Yuri melakukannya tugas itu akan selesai lebih cepat.” Jessica mengedipkan sebelah matanya. Mengerjai Yuri menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk dilakukan.

Masih sambil menggerutu Yuri mengambil sekop dan mulai menyingkirkan salju-salju yang menutupi jalanan. “Kenapa orang itu seenaknya saja. Memangnya aku ini apa? Orang yang sedang wamil?.. ishhhh!!”

~~~~~~~~~~~

“Ya Tuhan..” Yuri meringis saat menegakkan punggungnya yang terasa kaku karena terlalu lama membungkuk. Sambil mengelap keringat yang mengucur di wajahnya Yuri memandang puas sekelilingnya yang telah rapi. Salju-salju sudah dibersihkan dari jalanan dan artinya Yuri tidak perlu khawatir lagi akan ada anak yang terpeleset nantinya. Setidaknya apa yang dilakukannya tidak sia-sia.

Yuri berhigh five ria bersama beberapa anak yang bekerja dengannya. Karena tugas yang sudah selesai Yuri memutuskan untuk duduk di teras. Lagi-lagi gadis tanned itu tersenyum sambil memandangi anak-anak yang bermain di halaman dengan riang, seakan kata lelah dan dingin tak ada dalam kamus mereka. Sudah lama sekali sejak Yuri merasa serileks ini.

Dari kumpulan anak-anak yang sedang bermain matanya beralih pada satu anak yang nampak memisahkan diri dari yang lain. Gadis kecil dengan rambut sebahu itu terus menundukkan kepalanya. Yuri mengikuti arah pandangannya dan tak menemukan apapun yang menarik selain ujung sepatunya yang bergambar hello kitty.

“Hyemi-ah..” panggil Yuri. Gadis kecil itu mengangkat kepalanya.

“Yuri oppa..” Hyemi tersenyum padanya. Yuri berdiri, berjalan lalu berhenti di hadapannya.

Oppa?

“Unnie untukmu Princess..” Yuri menjawil hidung mancung Hyemi dan membuat gadis kecil itu tertawa kecil.

“Tapi aku ingin memanggilmu oppa.. karena Yuri oppa pangerannya Hyemi.”

“Arraseo..” kali ini Yuri mengangukkan kepalanya. Sedetik kemudian Hyemi kembali memasang wajah murungnya dan membuat Yuri heran. Kali ini Yuri benar-benar yakin tengah ada yang salah dengan gadis ciliknya.

“Jadi apa yang membuat Princessnya Yuri oppa ini sedih?” tanya Yuri. Hyemi menyuruh Yuri mendekat dengan isyarat tangannya lalu membisikan sesuatu di telinganya.

Jessica sedang membuat teh hangat dan beberapa biskuit -untuk Yuri dan anak-anak yang membersihkan salju- bersama bibi Hyorim dan bibi Janggeum di dapur.

“Jadi anak-anak akan mengadakan pentas seni di malam tahun baru nanti? Oh, pasti lucu sekali..” ucap Jessica semangat.

“Tema kali ini dongeng ‘Putri salju dan 7 Kurcaci’…” timpal bibi Janggeum sambil meletakkan beberapa cangkir teh yang asapnya masih mengepul ke atas nampan.

“Jika mau kau boleh datang Sooyeon-ah..” dengan semangat Jessica menganggukkan kepalanya, menyambut dengan senang hati undangan Hyorim.

“Aku akan datang..” jawabnya, sesaat kemudian Jessica teringat sesuatu. “Kalau ini cerita ‘Putri salju dan 7 Kurcaci’, siapa yang menjadi Prince dan Princessnya?”

“Hyemi dan Samdong.”

“Jinja? Ah kyeopta~”

“Bibi, apakah nanti akan ada adegan… mmmm.. kalian tau..” Jessica bertanya malu-malu. Hyorim dan Janggeum saling beradu pandang, sedetik kemudian keduanya tertawa setelah mengetahui kemana arah pembicaraan Jessica.

“Aigoo Sooyeon-ah.. jika yang kau maksud itu adegan ciuman tentu saja tidak ada. Mereka hanya anak kecil..” Janggeum masih belum bisa meredakan tawanya. Jessica tersenyum canggung menyadari kebodohannya, tidak seharusnya dia berpikir sejauh itu. Babo! Babo!

“……tapi mungkin kami akan berpikir ulang jika peran utamanya kau dan Yuri.”

“Bibi! Tolong berhenti menggodaku!” Jessica menutupi wajah dengan kedua tangannya sementara kedua wanita paruh baya tersebut masih bersemangat menggodanya.

“Hyemi tidak suka Samdong..” gadis kecil tersebut memanyunkan bibirnya membuat Yuri gemas dan mencubit kedua pipinya.

“Kenapa?”

“Karena Samdong itu jelek, dia tidak punya gigi depan, pendek dan rambutnya seperti brokoli… Hyemi tidak suka brokoli.” Hyemi mengangkat kedua tangannya keudara, mempraktekkan rambut Samdong yang selalu mengembang.

“Gwenchana.. Samdong pendek karena dia masih kecil. Suatu hari dia akan bertambah tinggi, dan giginya akan tumbuh lagi.. Hyemi juga suatu hari akan tinggi dan berubah menjadi Princess yang lebih cantik.”

“Jinja? Cantik seperti Jessica unnie?”

“Hah?” Yuri tiba-tiba menjadi gelagapan mendapat pertanyaan polos dari Hyemi tersebut. “N-ne.. seperti Jessica unnie.” lanjutnya malu-malu sambil mengusap belakang kepalanya.

“Oppa.. kenapa wajahmu memerah?”

~~~~~~~~~~~

Dengan hati-hati Jessica menenteng nampan berisi teh hangat dan biskuit diikuti Hyorim dibelakangnya. Sesampainya di halaman depan Jessica mendapati Yuri yang tengah membuat boneka salju bersama anak-anak.

“Yedeura!! Ayo kesini… ada biskuit!!” Jessica memanggil anak-anak tapi nampaknya mereka masih asik bersama Yuri.

“Yedeura!!” tetap tak ada jawaban. Jessica mulai resah, apa mungkin posisinya sebagai unnie favorite disini telah diambil alih Yuri? Monyet hitam itu? Yang benar saja.

Jessica meletakkan nampan diatas meja, gadis itu memakai sepatunya dan berjalan menghampiri Yuri. Menyadari Jessica mendekat Yuri menyuruh anak-anak berkumpul dan membisikkan sesuatu padanya.

“Serang!!” Yuri berteriak dan sebelum Jessica menyadari semuanya anak-anak sudah menyerangnya dengan bola salju.

“Eeekkkkkkkkk!! Kwon Yuri!!” Jessica berteriak kesal saat menyadari Yuri tertawa di atas penderitaannya.

“Serang penyihir jahat!” Hyemi yang berada dalam gendongan Yuri ikut berteriak sambil bertepuk tangan.

Penyihir jahat? Aku? Jessica membelalakan matanya tak percaya.

“Kwon Yuri!!”

“Prince Yul lari!!”

Yuri berlari  mulai berlari setelah menurunkan Hyemi dari gendongannya sementara Jessica mengejarnya sambil sesekali melemparkan salju kearah gadis tanned tersebut.

“Berhenti kau!! Ya!!”

Did my eyes go bad?
The moment your hand touched me everything around me is colored
In the white and coldly frozen world the moment my eyes went blind
You make my life colorful

I think you’re magical
I think you’re wonderful
Because of you, my heart is colorful
In the black and dark world the moment I try to close my eyes
You make my life colorful
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>TBC

Bodyguard (YulSic/Part 4)

Tittle : Bodyguard
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance, Angst
Lenght : Series
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

Song lyric by :
*Super Junior – Let’s Not
*Austin Mahone – Shadow

4th
.
.
.
.
.

Sambil menunggu Jessica selesai dengan kuliahnya Yuri memutuskan mengelilingi kampus tempat Jessica menutut ilmu tersebut. Yuri hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya saat  beberapa mahasiswi yang berpapasan dengannya menyapanya. Mahasiswi-mahasiswi itu juga tampak girang saat Yuri merespon mereka. Mimpi apa mereka semalam sampai-sampai bisa mendapat senyuman Yuri?

“Jessica Jung..” Donghae menunjukkan seringaiannya saat menyebut nama yeoja berparas cantik tersebut. Yap, Jessica Jung.

“Kau gila..” Taecyeon menanggapi dengan wajah pucat. Laki-laki itu tau jika Donghae nekat tapi tidakkah kali ini sedikit keterlaluan? Jessica memiliki pengawal yang bahkan menjaganya dari debu seklipun. Bagaimana caranya Taecyeon mendapatkan yeoja yang satu itu. Menyadari kali ini dirinya tak memiliki kesempatan Taecyeon menggelengkan kepalanya. Dengan berat hati Taecyeon melempar kartu kreditnya ke meja di hadapan Donghae.

“Jadi kau menyerah?” Donghae memastikan. Taecyeon mengangkat kedua tangannya ke udara.

“Kurasa ini keputusan terbaik dan aku-” ucapan Taecyeon terhenti karena tiba-tiba Jiyoung menyela.

“Sudahlah, kita semua tau jika yang besar pada orang ini hanya ototnya saja.” perkataan namja itu membuat Donghae tertawa.

Jiyoung mengeluarkan kartu kredit tanpa batasnya lalu melemparnya ke atas meja, bersatu dengan milik Donghae dan Taecyeon yang sudah lebih dulu dikumpulkan. Ketiganya membuat taruhan, siapa diantara mereka yang bisa mendapatkan Jessica lebih dulu. Yuri yang tanpa sengaja mendengar semuanya hanya berdiri di tempatnya tanpa berniat melakukan apapun.

“Wanita kesepian seperti Jessica akan mudah luluh hanya dengan kata-katanya manis dan jika kau sudah mendapatkannya dia akan memberikan tubuhnya dengan mudah, bahkan tanpa kau minta.” sebagai seorang palyer sejati Jiyoung berkata dengan penuh percaya diri. Laki-laki itu sepertinya tidak tau jika tidak semua wanita sama seperti gadis-gadis yang pernah dikencaninya.

“Yuri-ah..”

“Hmm?”

“Malam ini, boleh aku tidur bersamamu?”

“Nona Jung, apa ini dirimu yang sebenarnya?” Mendengar Jessica bertanya seperti itu Yuri menautkan kedua alisnya. Rahangnya mengeras menahan emosi.

“Ne?”

“Yeoja yang dengan mudahnya meminta tidur bersama orang lain? Apa itu kau yang sebenarnya? Kau tau, jenis yeoja seperti itu yang paling aku benci..” lanjut gadis tanned itu tanpa perasaan sekaligus membuat ekspressi kebingungan Jessica berubah menjadi ekspressi sedih. Kata-kata Yuri tentu berpengaruh padanya. Walau berasal dari orang yang tak dikenal kata-kata tersebut tentu akan melukai siapapun yang mendengarnya dan bayangkan jika yang berkata seperti itu adalah orang yang kita cintai? Yuri tidak sadar jika kata-katanya sudah melukai Jessica dalam.. sangat dalam. Sampai-sampai gadis berambut pirang itu tak sadar jika airmata meluruh di kedua pipinya.

Melihat airmata Jessica, Yuri tersadar. Gadis tanned itu melemaskan otot-otot tubuhnya yang sebelumnya menegang. Sungguh, Yuri sama sekali tidak bermaksud membuat gadis dihadapannya terluka. Kata-kata itu keluar begitu saja atau mungkin di dorong rasa cemburunya. Harus diakui memang, tiap kali mengingat kejadian di kampus kala itu selalu mampu membuat darahnya menindih.

Jessica berbalik pergi sementara Yuri yang masih diliputi rasa bersalah tak mampu menahannya. Gadis tanned itu hanya menggumamkan kata maaf yang bahkan tak sampai di telinga Jessica.

~~~~~~~~~~

Sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung apartemen yang Tiffany tinggali. Dengan anggun Tiffany melangkahkan kakinya keluar mobil sesaat setelah Niel -sepupunya- membukakan pintu. Tiffany baru saja selesai menghadiri pesta ulang tahun Jun -adik Niel.

Tiffany merapikan bajunya yang sedikit kusut sementara Niel masih memandangnya dengan pandangan khawatir. Waktu sudah lewat tengah malam dan apartemen milik Tiffany berada di lantai tertinggi, Niel tak sampai hati membiarkan sepupunya pergi sendiri -mengingat Tiffany yang seorang penakut. Selain itu, bagaimana kalau ada pria hidung belang atau semacamnya seperti beberapa tempo lalu.

“Noona mau aku antar?”

“Tidak usah.”

“Kau yakin?” Niel mengangkat sebelah alisnya. Laki-laki ini jadi teringat pria yang masuk rumah sakit bulan lalu karena hidungnya patah.

Jadi ceritanya malam itu Tiffany pergi ke minimarkat untuk membeli sebotol kecap dan beberapa kaleng soda untuk persediaan. Jalan dari apartemen tempat tinggalnya ke minimarket cukup jauh jadi Tiffany memutuskan mengambil jalan pintas -melewati gang- untuk mempersingkat waktu. Dan disitulah masalah dimulai. Tanpa sengaja Tiffany bertemu dengan pria hidung belang yang berusaha menggodanya, tanpa pikir panjang Tiffany segera melayangkan kantung belanjaan miliknya ke wajah si pria yang alhasil membuat hidung pria itu patah.

Jadi intinya Niel bukan khawatir pada Tiffany tapi khawatir dengan pria hidung belang yang mungkin berpapasan dengannya.

Tiffany melangkah masuk begitu pintu lift terbuka. Gadis itu mendapati orang lain yang lebih dulu ada di dalam. Orang itu adalah tetangga barunya dan kelihatannya dia sedang mabuk. Bau alkohol tercium jelas di ruangan sempit itu dan membuat Tiffany sedikit menjauh. Sebenarnya berapa banyak yang dia minum?

Gadis bertubuh mungil -yang sekarang menjadi tetangga Tiffany- baru pindah ke apartemen ini sekitar seminggu yang lalu. Orangnya pendiam dan terkesan misterius. Selama dia tinggal disini Tiffany hanya pernah berbicara padanya satu kali, itupun cuma ucapan ‘selamat pagi’ yang terdiri dari tak lebih dari dua kata. Tiffany hanya tau, jika gadis ini tetangga barunya dan selebihnya.. dia tidak tau apapun. Hal ini membuat Tiffany merasa canggung.

Lift terus melaju seiring angka di monitor yang terus berganti.

34

35

36

37

Ting! Pintu lift terbuka. Tiffany memang sudah sampai tapi gadis itu tidak lantas keluar begitu saja. Bagaimanapun dia masih punya hati, tidak mungkin Tiffany meninggalkan tetangganya yang mabuk berat di dalam lift sendirian. Ya, orang itu mabuk berat sampai-sampai tubuhnya merosot dan tertidur di dalam lift.

Ragu-ragu Tiffany mengguncang bahunya tapi tak ada respon. Sesaat kemudian Tiffany berdecak kesal dan berusaha memapah gadis bertubuh lebih pendek itu dengan segenap kemampuannya. Setidaknya Tiffany  bersyukur tubuh gadis itu tidak lebih besar darinya, walau begitu dia tetap kesulitan.

Taeyeon membuka matanya yang terasa berat saat merasa tubuhnya terangkat, atau bisa jadi itu hanya perasaannya saja. Karena kondisinya yang mabuk berat gadis itu bahkan tidak bisa membedakan mata yang nyata dan mana yang halusinasi lagi. Begitu menoleh ke samping Taeyeon menemukan bidadari bersayap yang membawanya terbang.

Apa aku disurga?

“Nona Kim?” panggil Tiffany saat tetangga barunya mengumamkan sesuatu yang ditangkap samar-samar indera pendengarannya.

“Apa kau mengatakan sesuatu?” tanya gadis bereyes smile itu sekali lagi. Taeyeon tak lantas menjawab, gadis itu menyeringai kearah Tiffany…

Jadi seperti ini rasanya surga?

Tiffany membulatkan matanya, tak percaya dengan hal yang baru dialaminya. Apa Taeyeon baru saja… meraba pantatnya? Oh Gosh!!

“YYYAAA!!! DASAR MESUM!!” teriak Tiffany tak terima karena Taeyeon telah menodainya.

Jessica membanting pintu kamarnya lalu menguncinya. Setelahnya Jessica duduk dan menangis sambil memeluk lututnya.

“Makhluk hitam tidak berperasaan! Aku benci padamu! Aku benci!!” Jessica masih bisa memaki Yuri di sela tangisnya. Dan karena suaranya yang super keras Yuri juga bisa mendengarnya dan saat itu yang bisa Yuri lakukan hanya mengepalkan telapak tangannya dengan erat.

“Bencilah aku Jessica Jung. Bencilah aku..”

I always act strong
But I’m a cowardly man
Didn’t have the confidence to protect you forever and left

Don’t love someone like me again
Don’t make someone to miss again
One who looks at only you and needs only you
Meet someone who loves you so much
They can’t go a day without you
Please

~~~~~~~~~~

Taeyeon terbangun dan menemukan dirinya di tempat asing. Bukan, bukan tempat asing semacam planet lain hanya saja ruangan yang sangat tidak familiar untuknya. Sebuah kamar yang penuh nuansa pink, warna yang takkan pernah Taeyeon sukai sampai kapanpun, bahkan jika matahari terbit dari barat. Sungguh, segala hal di ruangan ini bernunsa pink, mulai dari dinding, seprai selimut, lemari, jam, gorden dan… semuanya. Bahkan tumpukan boneka di sudut kamar pun semuanya berwarna pink. Taeyeon tidak ingat dirinya pergi ke perkemahan-taman-kanak-kanak-ala-putri-negeri-dongeng atau semacamnya. Atau jangan-jangan dia memang sudah mati dan Tuhan memberikan hukuman -atas semua kejahatan yang pernah dilakukannya- dengan cara mengurung jiwanya di tempat ini.

Andwee!

Oke, oke.. Taeyeon tau itu bodoh sekali dan tidak mungkin. Salahkan efek hangover yang membuat kinerja otaknya menurun.

Berpikir rasional Kim Taeyeon! Berpikir rasional!

Setelah dicoba-coba kepalanya tetap tak bisa berfungsi, Taeyeon justru merasa pusing dan perutnya bergejolak. Sesuatu sedang berusah keluar dari mulutnya. Secepat kilat Taeyeon mencari toilet -yang masih bernuansa pink- lalu memuntahkan semua isi perutnya di wastafel.

Oh God, ini benar-benar buruk! Taeyeon bergumam sambil memijat kepalanya yang berdenyut. Ini gara-gara… ah, sudahlah, Taeyeon sedang tidak ingin mengingat hal yang membuat tekanan darahnya meningkat. Ada sesuatu yang lebih penting sekarang yang harus diketahuinya. Dimana dia sekarang?

Tiffany melantunkan nada-nada random sambil membuat secangkir teh lemon di dapur rumahnya -yang jarang terjamah. Tempat itu memang sangat keramat disini, karena pemilik rumah tidak bisa memasak bisa dihitung dengan jari berapa kali sehari Tiffany melangkahkan kakinya kesana.

“Nona Kim sudah bangun? Ayo duduk..” Tiffany tersenyum canggung sambil menarik salah satu kursi untuk Taeyeon duduki. Taeyeon duduk dengan kebingungan di wajahnya.

“Taeyeon..  kau boleh memanggilku Taeyeon, Nona Hwang..”

Tiffany menganggukkan kepalanya sambil meletakkan cangkir berisi teh lemon di hadapan Taeyeon.

“Minumlah, mungkin bisa mengurangi hangover-mu.”

“Gomawo..” Taeyeon menerima dan meminumnya. Tiffany lantas duduk di hadapan Taeyeon dan memainkan jarinya dengan gugup.

“Semalam.. aku minta maaf.” katanya. Taeyeon memandang Tiffany dengan tatapan bertanya. Ragu-ragu Tiffany mengangkat tangannya lalu menunjuk pelipis Taeyeon.

Ada plester disana. Taeyeon baru menyadarinya saat menyetuhnya. Bagaimana bisa Taeyeon mendapatkan luka ini? Lalu kenapa juga Tiffany harus minta maaf?

Sebenarnya semalam setelah Taeyeon yang mabuk meraba pantatnya, Tiffany berteriak keras… dan semuanya tidak berakhir disitu. Setelahnya Tiffany -beserta refleksnya yang luar biasa- menghantam kepala Taeyeon dengan tas tangannya sampai gadis itu pingsan.

“T-tapi sungguh.. aku tidak bermaksud melakukannya. Sungguh!” Tiffany merasa bersalah. Tidak seperti yang Tiffany duga, Taeyeon justru tersenyum padanya. Menurutnya tingkah Tiffany sangat menggemaskan.

“Gwenchana. Sepertinya itu memang salahku..” Taeyeon meraba belakang kepalanya malu-malu.

“Jadi aku yang seharusnya minta maaf.” lanjutnya.

“… dan nona Hwang terimakasih sudah mengijinkanku menginap semalam juga terimakasih untuk tehnya..”

“Tiffany.. Tiffany saja untukmu ^^”

Shinyoung berdiri dengan gusar di depan pintu kamar Jessica. Berbicara mengenai Jessica gadis itu terus mengurung diri di dalam kamarnya. Sepanjang hari ini Jessica hanya keluar satu kali, yaitu saat mengantar ayahnya yang akan pergi ke Paris setelahnya Jessica kembali mengurung diri. Dia bahkan belum memasukan apapun kedalam perutnya sejak tadi pagi, dan hal itu membuat Shinyoung khawatir.

“Ada apa?” Yuri yang kebetulan lewat bertanya.

“Yuri-ssi syukurlah, bisakah kau membujuk nona Jung untuk keluar. Aku khawatir sekali, dia belum makan dari tadi pagi..”

Yuri menganggukkan kepalanya lantas menyuruh Shinyoung pergi. Bagaimanapun Yuri tau jika Shinyoung masih memiliki setumpuk tugas lain yang mungkin lebih penting dari sekadar membujuk majikannya -yang sedang dalam princess mode- untuk makan.

Yuri mengetuk pintu kamar Jessica beberapa kali tapi hasilnya sama sama, tak ada jawaban. Namun Yuri tau jika Jessica ada di dalam dan akan mendengar apapun yang dia katakan.

“Nona Jung berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Caramu ini hanya melukai mereka yang peduli padamu.. kau tau?”

Perkataan Yuri membuat Jessica teringat ayahnya. Jessica tau betul jika pria paruh baya itu pergi ke Paris dengan setengah hati karena masih mengkhawatirkan kondisinya. Jessica tau.. tapi Kwon Yuri, apa orang itu tau jika Jessica juga berharap Yuri menjadi bagian dari orang yang peduli itu?

“Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan makanan untukmu. Jangan bersikap kenakanak-kanakan lagi, arraseo?” kali ini Yuri berkata sambil menempelkan telinganya ke daun pintu.

“Berhentilah bicara! Dasar bodoh!” balas Jessica dari dalam. Walaupun jawaban seperti itu yang didapatnya tapi Yuri tau jika Jessica akan menuruti permintaannya.

~~~~~~~~~~~

Yuri baru kembali dari taman Blue House dan mengerutkan keningnya saat makanan yang ada di meja makan nampak belum tersentuh.

“Shinyoung-ah apa nona Jung belum keluar dari kamarnya?” Shinyoung menggelengkan kepalanya dan membuat kerutan di kening Yuri semakin jelas.

Yuri menaiki tangga dengan cepat lalu kembali mengetuk pintu kamar Jessica.

“Nona Jung buka pintunya!”

“……………”

“Nona Jung! Kau dengar aku?”

“……………..”

Yuri menempelkan telinganya ke daun pintu namun kali ini tak ada apapun yang bisa di dengarnya. Hening! Dan saat itulah Yuri tau ada yang salah dengan majikannya. Dengan bantuan beberapa penjaga Blue House yang lain Yuri mendobrak pintu kamar Jessica.

Apa yang dilihat Yuri selanjutnya membuat jantungnya berdebar keras. Jessica terbaring di lantai sambil memegangi perutnya dan yeoja blonde itu tampak kesakitan. Tanpa pikir panjang Yuri segera mendekap tubuh Jessica dalam pelukannya.

“Y-yuri-ah.. a-appo..” lirih Jessica sambil menangis.

“Kau akan baik-baik saja, percaya padaku.” Yuri berbisik di telinga gadis itu sementara Jessica hanya bisa mengangguk lemah dalam pelukan pengawalnya.

~~~~~~~~~~

Di rumah sakit…

Yuri duduk di kursi samping ranjang Jessica sambil memandangi putri tidurnya yang masih menutup mata. Jessica sakit usus buntu tapi syukurlah sekarang semuanya sudah baik-baik saja, dokter sudah mengoperasinya.

Jessica yang sudah sadar membuka matanya perlahan dan menemukan Yuri di sampingnya. Tanpa gadis blonde itu sadari hari sudah berganti.

“Kau sudah sadar nona Jung? Ada sesuatu yang kau butuhkan?” tanya Yuri sambil membuka jendela kamar supaya Jessica mendapat udara segar. Jessica menggelengkan kepalanya.

Yuri kembali berjalan ke arah Jessica. Gadis tanned itu membetulkan selimut Jessica yang kusut setelahnya menambah bantal supaya untuk Jessica bersandar.

“Gomawo..”

“Setelah ini segera hubungi ayahmu, Presiden pasti sangat khawatir..” ucap Yuri lagi. Jessica menganggukkan kepalanya bak anak sekolah yang sedang dinasehati gurunya.

“Kau ini bawel sekali..” gumam Jessica tapi Yuri masih bisa mendengarnya. Yuri menggelengkan kepalanya lalu berjalan keluar ruangan.

Mau kemana dia?

Jessica mengangkat bahunya sambil memandangi Yuri yang berlalu. Setelahnya Jessica meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dan menghubungi ayahnya.

“Oke Dad aku tau.. iya.. iya..”

“Maaf.. aku sudah tidak apa-apa sungguh..”

“Hmm.. love you too..”

Tak lama kemudian Yuri kembali bersama dokter yang menangani Jessica.

“Nona Jung.. perkembanganmu bagus sekali tapi tolong jangan dulu makan sebelum anda buang angin, arraseo?” dokter tersenyum padanya.

“Iya dokter, terimakasih..”

Jessica masih duduk di atas kasur sambil memainkan ponselnya sementara Yuri duduk di sofa sambil membaca surat kabar. Jessica mencuri-curi pandang pada pengawalnya tersebut.

“Wae?” Yuri melipat bacaannya dan bertanya.

“Aniyo.” jawab Jessica sambil membuang pandangannya. Walau malu untuk mengakuinya Jessica sebenarnya sangat lapar dan jika Yuri terus berada di sisinya bagaimana bisa Jessica buang angin disini? Adakah yang lebih memalukan lagi?

“Nona Jung kenapa belum buang angin juga?” Yuri bertanya sambil melihat jam dinding sekilas. Hampir siang hari. Mendapat pertanyaan seperti itu Jessica jadi gelagapan, Jessica sebenarnya bukan tidak mau tapi dia menahannya karena malu.

“H-hal seperti itu kan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan!”

“Arraseo..” Yuri memilih mengalah dan melanjutkan membaca.

“Yuri-ah..” panggil Jessica lagi.

“Hmm?”

“Setelah dipikir-pikir.. aku mau jalan-jalan..”

“Baiklah..”

~~~~~~~~~~

Keduanya berjalan di taman rumah sakit. Jessica masih mengenakan piyama rumah sakit plus sandal tidur berbentuk kelinci yang sebenarnya lebih cocok dipakai anak usia lima tahun. Yuri berjalan disampingnya, seperti biasa. Salah satu hal yang paling Jessica sukai dari gadis ini, Yuri selalu memperlakukannya secara wajar, tidak pernah sekalipun Jessica mendapat perlakuan seperti ini dari pengawal-pengawalnya yang lain. Kebanyakan dari mereka akan berjalan di belakang Jessica sementara Yuri selalu berjalan di sampingnya, gesture kecil yang membuat Jessica merasa dihargai. Yuri membuatnya merasa ‘sama’.

Jessica memegangi perutnya yang tiba-tiba bergejolak. Tidak! Jangan! Tapi terlambat, gas itu sudah keluar dengan suara yang cukup keras dan mampu membuat Yuri berpaling padanya.

“Barusan itu kau nona Jung?”

“Barusan apa?!” Jessica pura-pura tidak tau dengan apa yang Yuri maksud walau sebenarnya yeoja itu tengah merasa malu setengah mati. Tiba-tiba saja Jessica berharap dirinya menjadi butiran debu lalu hilang tertiup angin. Ya, menghilang, pergi jauh, kemana saja asalkan tidak di dekat Yuri.

Jessica dapat merasakan wajahnya memanas. “Apa?” bentaknya kemudian pada Yuri yang masih memandanginya.

“Anggap saja aku tidak mendengarnya.” Yuri mengangkat bahunya acuh lalu mulai berjalan lagi. Meninggalkan Jessica yang masih meruntuki dirinya sendiri di belakang.

Yuri berhenti berjalan lalu berbalik dan menemukan Jessica yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Menyadari hal itu Yuri lantas kembali lalu mengenggam tangan Jessica dengan lembut. Gadis itu tersenyum dan membuat paras Jessica semakin terasa terbakar.

“Terimakasih sudah sembuh nona Jung.”

“Ne?”

“Aku akan mentraktirmu sebagai hadiah, kau ingin makan apa?”

“Jinja?” tanya Jessica semangat. Yeoja blonde itu lantas meletakkan jari telunjuknya di dagu layaknya orang yang tengah berpikir. Yuri kembali tersenyum.

“Kau bisa memasak tteokpeokki? Aku sudah lama tidak makan tteokpeokki buatan rumah. Ah, dan ice cream.. aku mau ice cream vanilla..” Jessica tak sadar jika dirinya beraegyeo saat mengatakan semua itu. Yuri menganggukkan kepalanya.

“Kau akan mendapatkan semua itu…… tapi nanti.” jawabnya sambil tersenyum jahil. Jessica menatapnya dengan pandangan tak mengerti. Jangan bilang Kwon Yuri sudah membohonginya, kalau itu sampai terjadi awas saja si hitam ini…

“Setelah kau benar-benar sembuh, dan untuk sekarang terpaksa kau harus makan makanan rumah sakit yang tidak enak.” Yuri memasang tampang menyesal tapi Jessica tau jika pengawal hitamnya tersebut tengah berpura-pura. Sedetik kemudian sandal kelinci Jessica beradu keras dengan tulang kering di kaki Yuri, tentu saja hal tersebut membuat gadis tanned itu meraung kesakitan. Jessica menjulurkan lidahnya dan pergi, tak memperdulikan Yuri yang masih menderita karena tendangan mautnya.

“Itu balasan untuk perkataanmu kemarin Kwon!”

~~~~~~~~~~~

“Bos pasti kecewa padamu.” Taeyeon berkata tanpa ekspressi di wajahnya. Walau kini mereka berdiri berhadapan entah kenapa Taeyeon tak mengenali orang yang kini berdiri di depannya.

“Aku sudah tidak bisa Taeyeon-ah.. aku tidak bisa.” pasrah Yuri. Gadis tanned itu nampak seperti orang yang kehilangan arah. Tentu sama sekali bukan Yuri yang Taeyeon kenal, hanya karena gadis itu.

“Aku sudah kalah Taeng.. aku kalah.”

“Baiklah, aku akan menyadarkanmu!” Taeyeon hampir tak mengenali suaranya sendiri yang bergetar. Tanpa basa-basi gadis bertubuh mungil tersebut lantas mencengkram kerah Yuri dan mendaratkan pukulan di wajahnya. Yuri yang pada kenyataannya mempunyai tubuh yang lebih besar terjungkal kebelakang. Tak lama bagi Yuri untuk merasakan rasa asin dan bau besi di mulutnya. Pukulan Taeyeon sukses membuat sudut bibirnya terluka.

Yuri masih terududuk tanpa berniat memberi perlawanan. Menyadari Yuri yang hanya terpaku Taeyeon merasa satu pukulan saja rasanya tak cukup untuk menyadarkan gadis tanned itu. Taeyeon kembali menerjang Yuri dengan tinjunya namun lagi-lagi Yuri menerima semua pukulan itu tanpa berniat memberi perlawanan, tidak sama sekali.

Taeyeon beranjak setelah memberikan pukulan terakhirnya. Sementara Yuri masih terbaring di atas salju dengan nafas tersenggal. Selain mulutnya, darah juga terlihat mengalir di kepalanya. Pukulan Taeyeon sepertinya juga membuat pelipisnya terluka. Taeyeon berdiri membelakangi gadis tanned itu sambil mengepalkan tangannya.

“Disini..” Yuri berkata dengan nafas tersenggal sambil meletakkan tangan kanan di dada kirinya. “Rasanya sakit sekali saat melihatnya terluka. Sakit Taeyeon-ah. Aku ingin melindunginya.. dengan segala yang kumiliki.”

Taeyeon tak ingin mendengar apapun dari mulut Yuri, sungguh, namun saat gadis itu ingin beranjak pergi Yuri terlanjur menahan tangannya. Sedetik kemudian Yuri memeluknya dari belakang, nafas gadis tanned itu berhembus di dekat telinganya. Taeyeon menggigit bibir bawahnya dengan sekuat tenaga. Kehilangan, sesuatu yang tak pernah ingin Taeyeon rasakan kembali namun sekeras apapun gadis itu mengelak Taeyeon tau jika malam ini dirinya akan kembali merasa kehilangan, separuh hatinya. Taeyeon akan kehilangan cinta pertamanya, karena Yuri… sudah memutuskan memberikan hidupnya untuk gadis lain. Dan gadis itu bukan dirinya, takkan pernah.

Only my shadow knows
How I feel about you
Only my shadow goes
Where I dream of you and me
Should I go or wait
Is it too soon too late
Only my shadow knows

Beberapa saat kemudian Taeyeon merasakan punggungnya basah. Yuri menangis. Dibanding dirinya yang patah hati, Taeyeon tau jika tekanan yang dialami Yuri lebih berat dari siapapun.

Yuri merasa semua yang dilakukannya selalu salah. Apakah cinta selalu memiliki jalan terjal dan berliku seperti yang dialaminya saat ini? Yuri, gadis itu bahkan tidak berani bermimpi untuk bisa bersama Jessica. Yuri tidak mau Jessica terluka, tapi justru sikapnya selama ini lebih melukai Jessica dari siapapun.

“Taeyeon-ah aku.. mencintainya tapi bodohnya aku, aku bahkan tidak bisa mengatakan semua itu padanya.”

“Gwenchana Yul.. gwenchana..” Taeyeon menggigit bibir bawahnya seraya membiarkan airmatanya ikut mengalir. Beruntung Yuri tidak melihatnya ikut menangis.

I wish I could say all these words
All these things that your heart never heard
But I saw the pain in your eyes and it sealed my lips

Seharusnya Taeyeon bisa mengatakan semuanya pada Yuri. Perasaan yang dia pendam selama ini tapi mendengar Yuri menangis membuat Taeyeon kembali menelan kata-katanya. Biarlah angin yang berhembus malam ini turut menerbangkan perasaannya untuk Yuri.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>TBC