Drabble #16 (RF)

Drabble #16

“Hai buddy, rasanya sudah lama sekali iya kan?” Taeyeon tersenyum miris sambil memandangi foto sahabatnya yang sedang tersenyum. Memang sudah lama sekali sejak Taeyeon terakhir kali melihatnya.

Gadis bertubuh mungil itu lantas mengusap airmata yang tanpa sadar mengenang di sudut matanya. Mengenalnya sejak kecil membuat Taeyeon merasa begitu kehilangan tatkala sahabtnya meninggalkan dunia ini -lebuh tepatnya dorm mereka. Sungguh, kalau bukan karena Jessica tentu dia masih ada disini, Taeyeon masih bisa melihatnya, masih bisa memeluknya, dan tentunya gadis berkulit pucat itu takkan merasa sesakit ini. Taeyeon merasa sangat terluka sampai-sampai Tiffany saja tidak bisa berbuat apa-apa.

“Sooyeon kau ratu tega yang pernah kukenal..” lirih Taeyeon. Jessica yang berdiri di depan gadis itu lantas memutar kedua bola matanya, tak peduli.

“Bukankah aku sudah minta maaf?” balas Jessica tenang. Saking tenangnya sampai-sampai membuat Taeyeon selalu menerka-nerka. Hal apa gerangan yang asa di dalam kepala gadis berambut pirang tersebut. Demi Tuhan, ini masalah hidup dan mati, bagaimana bisa Jessica masih bersikap tenang seperti ini.

“Sudahlah Tae..” Tiffany mengusap punggung kekasihnya lembut, berusaha melerai Jessica dan Taeyeon yang sepertinya akan memulai perang dunia ketiga saat ini juga.

“Yuri-ah~” sayangnya usaha gadis bereyes smile tersebut sia-sia karena justru tangisan Taeyeon malah pecah. Gadis itu meraung-raung memanggil nama Yuri yang masih berusaha membereskan Kekacauan -yang telah Jessica buat- di dapur dorm mereka. Jessica yang awalnya ingin membuat sarapan untuk Yuri -lagi- tanpa sengaja hampir membakar dapur. Entah apa yang telah dilakukannya hingga api yang seharusnya di kompor menjadi begitu besar, Jessica yang panik berusaha memandamkan api tersebut menggunakan bantal dokong tak berdosa milik Taeyeon yang tergeletak di sofa. Alhasil bantal dokong Taeyeon hangus dan api semakin membesar, untung saja member lain segera bangun dan berhasil mengatasi kekacauan yang Jessica buat.

“Kwon Yuri!!! Lakukan sesuatu pada pacarmu ini..” Taeyeon terus merengek pada gadis kecoklatan tersebut.

“Ne, aku akan menghukumnya nanti.” balas Yuri enteng, tak sadar jika Jessica menatap tajam dirinya. Jessica tak percaya jika Yuri lebih membela Taeyeon daripada dirinya. Kekasih macam apa makhluk ini?

“Taetae sudah ya..”

“T-tapi Ppany-ah aku belum selesai dengan Sooyeon, dia harus bertanggung jawab, kau tau kan aku tidak bisa tidur kalau tidak memeluk bantal dokong itu?”

“Kalau begitu peluk aku saja..” tawar Tiffany, tentu saja Taeyeon menerima ajakan tersebut tanpa harus berpikir duakali. Gadis pendek itu melangkah ke kamar dengan langkah ringan dan senyuman lebar seolah insiden Jessica dan bantal dokongnya tak pernah terjadi.

Sambil melingkarkan tangan kanannya di pinggang Jessica Yuri menggelengkan kepala melihat tingkah Taeyeon. “Dasar kurcaci penuh modus..”

“Kwon seobang, bedroom,NOW!” kata Jessica sambil melangkah pergi.

“What?” heran Yuri dengan aksen inggrisnya yang kacau balau.

Jessica berjalan ke kamar mereka lebih dulu sambil memikirkan hukuman apa yang cocok untuk Yuri, berbicara soal hukuman entah kenapa Jessica merasa telah melupakan sesuatu.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Bodyguard (YulSic/Part 5)

Tittle : Bodyguard
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance, Angst
Lenght : Series
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

Song lyric by : SHINee – Colorful

5th
.
.
.

“PPPAAAGGIIII!!!” Jessica tiba-tiba membuka pintu kamar Yuri dan berteriak dengan dolphin screamnya. Selanjutnya yeoja blonde itu tertawa melihat Yuri yang membelalakan matanya karena kaget. Siapa yang tidak jika tiba-tiba seseorang masuk ke kamarnya tepat setelah Yuri selelsai memakai t-shirt.

“Apa kau tidak tau caranya mengetuk pintu?” balas Yuri ketus. Jessica terkekeh geli, tak memperdulikan nada sinis pengawalnya. Yeoja bermarga Jung itu lantas duduk di sisi kasur Yuri -tempat yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya. Disisi lain Yuri tengah memakai sweater cokelatnya. Tidak lucu kan kalau di cuaca sedingin ini dia hanya mengenakan pakaian tipis. Yuri tentu masih menyayangi hidupnya dan tak mau berakhir sebagai monyet hitam membeku.

“Ouch..!!” Yuri meringis kesakitan sambil mengoleskan sesuatu di sudut bibirnya.

“Kenapa?” Jessica menghampirinya dan bertanya dengan nada khawatir. Yuri segera memalingkan wajahnya dan berkata semuanya baik-baik saja. Tentu saja Jessica takkan percaya terlebih menyaksikan gesture menghindar Yuri. Gadis dihadapannya selalu menghindar untuk menyembunyikan sesuatu dan Jessica bersumpah kali ini Yuri takkan bisa membodohinya.

“Kau pikir aku bodoh?” Jessica menyilangkan tangannya di dada seraya menatap Yuri dengan ice glare. Sesuatu yang jarang diperlihatnya akhir-akhir ini. Entahlah, mungkin karena Yuri berhasil mengubahnya menjadi lebih hangat. Berbicara soal Yuri, gadis tanned itu masih berusaha menyembunyikan luka di sudut bibirnya dari Jessica.

“Lihat aku!” Sikap Yuri tentu saja membuat Jessica tidak tahan, tanpa perasaan Jessica mendekap wajah Yuri dengan kedua tangannya.

“Bagaimana kau mendapatkannya?” tanya Jessica serius. Seingatnya kemarin pengawalnya tersebut masih baik-baik saja.

“Aku terjatuh..” jawab Yuri sambil melepaskan tangan Jessica dari wajahnya. Jessica mengangkat salah satu sudut bibirnya.

“Kau pikir aku percaya?” tantangnya. Kali ini tangannya mencengkram kerah sweater Yuri.

Yuri menghela nafasnya, gadis itu tau berdebat dengan Jessica akan menghabiskan lebih dari setengah sisa hidupnya karena Jessica begitu keras kepala sama dengan dirinya. “Satu hal yang pasti, aku tidak memintamu percaya. Lagipula ini bukan urusanmu nona Jung..” balas Yuri sambil tersenyum padanya.

Jessica mendorong tubuh Yuri seketika dan berbalik. Sambil memegangi wajahnya yang memanas Jessica berjalan cepat meninggalkan kamar Yuri.

Dia selalu punya cara ampuh mengalihkan pembicaraan. Dasar menyebalkan.

“KWON YURI KAU PUNYA 3 DETIK. DAN JIKA SETELAHNYA AKU MASIH BELUM MELIHATMU KELUAR KAMAR… TAMATLAH RIWAYATMU!!” teriak Jessica setelahnya. Kenapa akhir-akhir ini harus selalu Jessica yang menunggu Yuri. Jessica jadi bingung sebenarnya yang ‘bodyguard’ itu siapa? Yuri atau dirinya?

~~~~~~~~~~~

“BBBIIBBIII!!” Jessica kembali berteriak gembira sementara Yuri -yang berjalan di belakangnya- sibuk menggosok-gosok telinganya yang berdengung karena suara ultrasonik majikannya. Jika indera pendengaran Yuri bermasalah tentu takkan sulit menemukan orang yang bertanggung jawab.

Hyorim bersama beberapa anak yang sedang membersihkan jalan setapak menuju panti yang dipenuhi salju lantas menoleh kearah suara. Wanita paruh baya itu tersenyum lebar mengetahui siapa yang mengunjungi mereka.

“Sooyeon-ah.. sudah lama tidak melihatmu!” Hyorim lantas memeluk Jessica setelah meletakkan sapunya.

“Bagaimana kabarmu? Kudengar kemarin kau masuk rumah sakit? Apa yang terjadi?” Jessica sudah menduga kalau bibinya yang satu ini akan memberondongnya dengan pertanyaan yang demikian.

“Ah itu, aku hanya menjalani operasi kecil.. sekarang aku baik-baik saja.” Jessica tersenyum kemudian memutar tubuhnya di depan Hyorim.

“Aigoo.. anak ini. Jangan meremehkan sesuatu. Kau harus menjaga kesehatanmu.”

“Apa yang dikatakan bibi itu benar.” cibir Yuri -setelah menyapa dan membungkukkan badannya ke arah Hyorim- pada majikannya yang masih memasang tampang tak bersalah. Apa Jessica tidak tau jika apa yang terjadi padanya beberapa waktu lalu hampir membuat Yuri terkena serangan jantung. Dan lebih tidak bisa dipercaya lagi saat Jessica bertingkah seakan-akan tidak pernah terjadi apapun.

“Tutup mulutmu Kwon!” balas Jessica sebal. Yuri balas menatapnya tajam. Hyorim turun tangan untuk melerai perang dunia yang sebentar lagi akan terjadi di hadapannya.

“Dasar anak muda.” wanita paruh baya itu tertawa kecil melihat interaksi keduanya.

“Sudah! Sudah! Diluar dingin sekali.. ayo masuk ke dalam.. bibi akan menyiapkan makanan dan teh hangat untuk kalian.” ujar bibi Hyorim. Jessica berpaling dari Yuri dan kembali memasang senyum manisnya.

“Bipolar..” gumam Yuri.

“Kebetulan sekali aku memang kedinginan..” ucap Jessica sambil merangkul tangan bibi Hyorim dan mengajaknya masuk. Yuri berniat mengikuti keduanya tapi terhenti saat Jessica berbalik dan mengangkat tangannya di depan wajah Yuri.

“Berhenti disitu Kwon!”

“Wae?”

“Buatlah dirimu berguna, gantikan tugas bibi membersihkan salju-salju itu arraseo?”

“Tapi-“

“No but! Do it now! N.O.W!”

“Dasar.. aishhh!!”

Jessica kembali berjalan bersama bibi Hyorim. Wanita itu sebenarnya kurang setuju dengan perintah Jessica, bagaimanapun Yuri juga tamu disini tidak seharusnya dia membersihkan salju tapi Jessica berhasil meyakinkannya.

“Tenang saja bi, itu hukuman untuknya. Lagipula jika Yuri melakukannya tugas itu akan selesai lebih cepat.” Jessica mengedipkan sebelah matanya. Mengerjai Yuri menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk dilakukan.

Masih sambil menggerutu Yuri mengambil sekop dan mulai menyingkirkan salju-salju yang menutupi jalanan. “Kenapa orang itu seenaknya saja. Memangnya aku ini apa? Orang yang sedang wamil?.. ishhhh!!”

~~~~~~~~~~~

“Ya Tuhan..” Yuri meringis saat menegakkan punggungnya yang terasa kaku karena terlalu lama membungkuk. Sambil mengelap keringat yang mengucur di wajahnya Yuri memandang puas sekelilingnya yang telah rapi. Salju-salju sudah dibersihkan dari jalanan dan artinya Yuri tidak perlu khawatir lagi akan ada anak yang terpeleset nantinya. Setidaknya apa yang dilakukannya tidak sia-sia.

Yuri berhigh five ria bersama beberapa anak yang bekerja dengannya. Karena tugas yang sudah selesai Yuri memutuskan untuk duduk di teras. Lagi-lagi gadis tanned itu tersenyum sambil memandangi anak-anak yang bermain di halaman dengan riang, seakan kata lelah dan dingin tak ada dalam kamus mereka. Sudah lama sekali sejak Yuri merasa serileks ini.

Dari kumpulan anak-anak yang sedang bermain matanya beralih pada satu anak yang nampak memisahkan diri dari yang lain. Gadis kecil dengan rambut sebahu itu terus menundukkan kepalanya. Yuri mengikuti arah pandangannya dan tak menemukan apapun yang menarik selain ujung sepatunya yang bergambar hello kitty.

“Hyemi-ah..” panggil Yuri. Gadis kecil itu mengangkat kepalanya.

“Yuri oppa..” Hyemi tersenyum padanya. Yuri berdiri, berjalan lalu berhenti di hadapannya.

Oppa?

“Unnie untukmu Princess..” Yuri menjawil hidung mancung Hyemi dan membuat gadis kecil itu tertawa kecil.

“Tapi aku ingin memanggilmu oppa.. karena Yuri oppa pangerannya Hyemi.”

“Arraseo..” kali ini Yuri mengangukkan kepalanya. Sedetik kemudian Hyemi kembali memasang wajah murungnya dan membuat Yuri heran. Kali ini Yuri benar-benar yakin tengah ada yang salah dengan gadis ciliknya.

“Jadi apa yang membuat Princessnya Yuri oppa ini sedih?” tanya Yuri. Hyemi menyuruh Yuri mendekat dengan isyarat tangannya lalu membisikan sesuatu di telinganya.

Jessica sedang membuat teh hangat dan beberapa biskuit -untuk Yuri dan anak-anak yang membersihkan salju- bersama bibi Hyorim dan bibi Janggeum di dapur.

“Jadi anak-anak akan mengadakan pentas seni di malam tahun baru nanti? Oh, pasti lucu sekali..” ucap Jessica semangat.

“Tema kali ini dongeng ‘Putri salju dan 7 Kurcaci’…” timpal bibi Janggeum sambil meletakkan beberapa cangkir teh yang asapnya masih mengepul ke atas nampan.

“Jika mau kau boleh datang Sooyeon-ah..” dengan semangat Jessica menganggukkan kepalanya, menyambut dengan senang hati undangan Hyorim.

“Aku akan datang..” jawabnya, sesaat kemudian Jessica teringat sesuatu. “Kalau ini cerita ‘Putri salju dan 7 Kurcaci’, siapa yang menjadi Prince dan Princessnya?”

“Hyemi dan Samdong.”

“Jinja? Ah kyeopta~”

“Bibi, apakah nanti akan ada adegan… mmmm.. kalian tau..” Jessica bertanya malu-malu. Hyorim dan Janggeum saling beradu pandang, sedetik kemudian keduanya tertawa setelah mengetahui kemana arah pembicaraan Jessica.

“Aigoo Sooyeon-ah.. jika yang kau maksud itu adegan ciuman tentu saja tidak ada. Mereka hanya anak kecil..” Janggeum masih belum bisa meredakan tawanya. Jessica tersenyum canggung menyadari kebodohannya, tidak seharusnya dia berpikir sejauh itu. Babo! Babo!

“……tapi mungkin kami akan berpikir ulang jika peran utamanya kau dan Yuri.”

“Bibi! Tolong berhenti menggodaku!” Jessica menutupi wajah dengan kedua tangannya sementara kedua wanita paruh baya tersebut masih bersemangat menggodanya.

“Hyemi tidak suka Samdong..” gadis kecil tersebut memanyunkan bibirnya membuat Yuri gemas dan mencubit kedua pipinya.

“Kenapa?”

“Karena Samdong itu jelek, dia tidak punya gigi depan, pendek dan rambutnya seperti brokoli… Hyemi tidak suka brokoli.” Hyemi mengangkat kedua tangannya keudara, mempraktekkan rambut Samdong yang selalu mengembang.

“Gwenchana.. Samdong pendek karena dia masih kecil. Suatu hari dia akan bertambah tinggi, dan giginya akan tumbuh lagi.. Hyemi juga suatu hari akan tinggi dan berubah menjadi Princess yang lebih cantik.”

“Jinja? Cantik seperti Jessica unnie?”

“Hah?” Yuri tiba-tiba menjadi gelagapan mendapat pertanyaan polos dari Hyemi tersebut. “N-ne.. seperti Jessica unnie.” lanjutnya malu-malu sambil mengusap belakang kepalanya.

“Oppa.. kenapa wajahmu memerah?”

~~~~~~~~~~~

Dengan hati-hati Jessica menenteng nampan berisi teh hangat dan biskuit diikuti Hyorim dibelakangnya. Sesampainya di halaman depan Jessica mendapati Yuri yang tengah membuat boneka salju bersama anak-anak.

“Yedeura!! Ayo kesini… ada biskuit!!” Jessica memanggil anak-anak tapi nampaknya mereka masih asik bersama Yuri.

“Yedeura!!” tetap tak ada jawaban. Jessica mulai resah, apa mungkin posisinya sebagai unnie favorite disini telah diambil alih Yuri? Monyet hitam itu? Yang benar saja.

Jessica meletakkan nampan diatas meja, gadis itu memakai sepatunya dan berjalan menghampiri Yuri. Menyadari Jessica mendekat Yuri menyuruh anak-anak berkumpul dan membisikkan sesuatu padanya.

“Serang!!” Yuri berteriak dan sebelum Jessica menyadari semuanya anak-anak sudah menyerangnya dengan bola salju.

“Eeekkkkkkkkk!! Kwon Yuri!!” Jessica berteriak kesal saat menyadari Yuri tertawa di atas penderitaannya.

“Serang penyihir jahat!” Hyemi yang berada dalam gendongan Yuri ikut berteriak sambil bertepuk tangan.

Penyihir jahat? Aku? Jessica membelalakan matanya tak percaya.

“Kwon Yuri!!”

“Prince Yul lari!!”

Yuri berlari  mulai berlari setelah menurunkan Hyemi dari gendongannya sementara Jessica mengejarnya sambil sesekali melemparkan salju kearah gadis tanned tersebut.

“Berhenti kau!! Ya!!”

Did my eyes go bad?
The moment your hand touched me everything around me is colored
In the white and coldly frozen world the moment my eyes went blind
You make my life colorful

I think you’re magical
I think you’re wonderful
Because of you, my heart is colorful
In the black and dark world the moment I try to close my eyes
You make my life colorful
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>TBC

Bodyguard (YulSic/Part 4)

Tittle : Bodyguard
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance, Angst
Lenght : Series
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

Song lyric by :
*Super Junior – Let’s Not
*Austin Mahone – Shadow

4th
.
.
.
.
.

Sambil menunggu Jessica selesai dengan kuliahnya Yuri memutuskan mengelilingi kampus tempat Jessica menutut ilmu tersebut. Yuri hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya saat  beberapa mahasiswi yang berpapasan dengannya menyapanya. Mahasiswi-mahasiswi itu juga tampak girang saat Yuri merespon mereka. Mimpi apa mereka semalam sampai-sampai bisa mendapat senyuman Yuri?

“Jessica Jung..” Donghae menunjukkan seringaiannya saat menyebut nama yeoja berparas cantik tersebut. Yap, Jessica Jung.

“Kau gila..” Taecyeon menanggapi dengan wajah pucat. Laki-laki itu tau jika Donghae nekat tapi tidakkah kali ini sedikit keterlaluan? Jessica memiliki pengawal yang bahkan menjaganya dari debu seklipun. Bagaimana caranya Taecyeon mendapatkan yeoja yang satu itu. Menyadari kali ini dirinya tak memiliki kesempatan Taecyeon menggelengkan kepalanya. Dengan berat hati Taecyeon melempar kartu kreditnya ke meja di hadapan Donghae.

“Jadi kau menyerah?” Donghae memastikan. Taecyeon mengangkat kedua tangannya ke udara.

“Kurasa ini keputusan terbaik dan aku-” ucapan Taecyeon terhenti karena tiba-tiba Jiyoung menyela.

“Sudahlah, kita semua tau jika yang besar pada orang ini hanya ototnya saja.” perkataan namja itu membuat Donghae tertawa.

Jiyoung mengeluarkan kartu kredit tanpa batasnya lalu melemparnya ke atas meja, bersatu dengan milik Donghae dan Taecyeon yang sudah lebih dulu dikumpulkan. Ketiganya membuat taruhan, siapa diantara mereka yang bisa mendapatkan Jessica lebih dulu. Yuri yang tanpa sengaja mendengar semuanya hanya berdiri di tempatnya tanpa berniat melakukan apapun.

“Wanita kesepian seperti Jessica akan mudah luluh hanya dengan kata-katanya manis dan jika kau sudah mendapatkannya dia akan memberikan tubuhnya dengan mudah, bahkan tanpa kau minta.” sebagai seorang palyer sejati Jiyoung berkata dengan penuh percaya diri. Laki-laki itu sepertinya tidak tau jika tidak semua wanita sama seperti gadis-gadis yang pernah dikencaninya.

“Yuri-ah..”

“Hmm?”

“Malam ini, boleh aku tidur bersamamu?”

“Nona Jung, apa ini dirimu yang sebenarnya?” Mendengar Jessica bertanya seperti itu Yuri menautkan kedua alisnya. Rahangnya mengeras menahan emosi.

“Ne?”

“Yeoja yang dengan mudahnya meminta tidur bersama orang lain? Apa itu kau yang sebenarnya? Kau tau, jenis yeoja seperti itu yang paling aku benci..” lanjut gadis tanned itu tanpa perasaan sekaligus membuat ekspressi kebingungan Jessica berubah menjadi ekspressi sedih. Kata-kata Yuri tentu berpengaruh padanya. Walau berasal dari orang yang tak dikenal kata-kata tersebut tentu akan melukai siapapun yang mendengarnya dan bayangkan jika yang berkata seperti itu adalah orang yang kita cintai? Yuri tidak sadar jika kata-katanya sudah melukai Jessica dalam.. sangat dalam. Sampai-sampai gadis berambut pirang itu tak sadar jika airmata meluruh di kedua pipinya.

Melihat airmata Jessica, Yuri tersadar. Gadis tanned itu melemaskan otot-otot tubuhnya yang sebelumnya menegang. Sungguh, Yuri sama sekali tidak bermaksud membuat gadis dihadapannya terluka. Kata-kata itu keluar begitu saja atau mungkin di dorong rasa cemburunya. Harus diakui memang, tiap kali mengingat kejadian di kampus kala itu selalu mampu membuat darahnya menindih.

Jessica berbalik pergi sementara Yuri yang masih diliputi rasa bersalah tak mampu menahannya. Gadis tanned itu hanya menggumamkan kata maaf yang bahkan tak sampai di telinga Jessica.

~~~~~~~~~~

Sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung apartemen yang Tiffany tinggali. Dengan anggun Tiffany melangkahkan kakinya keluar mobil sesaat setelah Niel -sepupunya- membukakan pintu. Tiffany baru saja selesai menghadiri pesta ulang tahun Jun -adik Niel.

Tiffany merapikan bajunya yang sedikit kusut sementara Niel masih memandangnya dengan pandangan khawatir. Waktu sudah lewat tengah malam dan apartemen milik Tiffany berada di lantai tertinggi, Niel tak sampai hati membiarkan sepupunya pergi sendiri -mengingat Tiffany yang seorang penakut. Selain itu, bagaimana kalau ada pria hidung belang atau semacamnya seperti beberapa tempo lalu.

“Noona mau aku antar?”

“Tidak usah.”

“Kau yakin?” Niel mengangkat sebelah alisnya. Laki-laki ini jadi teringat pria yang masuk rumah sakit bulan lalu karena hidungnya patah.

Jadi ceritanya malam itu Tiffany pergi ke minimarkat untuk membeli sebotol kecap dan beberapa kaleng soda untuk persediaan. Jalan dari apartemen tempat tinggalnya ke minimarket cukup jauh jadi Tiffany memutuskan mengambil jalan pintas -melewati gang- untuk mempersingkat waktu. Dan disitulah masalah dimulai. Tanpa sengaja Tiffany bertemu dengan pria hidung belang yang berusaha menggodanya, tanpa pikir panjang Tiffany segera melayangkan kantung belanjaan miliknya ke wajah si pria yang alhasil membuat hidung pria itu patah.

Jadi intinya Niel bukan khawatir pada Tiffany tapi khawatir dengan pria hidung belang yang mungkin berpapasan dengannya.

Tiffany melangkah masuk begitu pintu lift terbuka. Gadis itu mendapati orang lain yang lebih dulu ada di dalam. Orang itu adalah tetangga barunya dan kelihatannya dia sedang mabuk. Bau alkohol tercium jelas di ruangan sempit itu dan membuat Tiffany sedikit menjauh. Sebenarnya berapa banyak yang dia minum?

Gadis bertubuh mungil -yang sekarang menjadi tetangga Tiffany- baru pindah ke apartemen ini sekitar seminggu yang lalu. Orangnya pendiam dan terkesan misterius. Selama dia tinggal disini Tiffany hanya pernah berbicara padanya satu kali, itupun cuma ucapan ‘selamat pagi’ yang terdiri dari tak lebih dari dua kata. Tiffany hanya tau, jika gadis ini tetangga barunya dan selebihnya.. dia tidak tau apapun. Hal ini membuat Tiffany merasa canggung.

Lift terus melaju seiring angka di monitor yang terus berganti.

34

35

36

37

Ting! Pintu lift terbuka. Tiffany memang sudah sampai tapi gadis itu tidak lantas keluar begitu saja. Bagaimanapun dia masih punya hati, tidak mungkin Tiffany meninggalkan tetangganya yang mabuk berat di dalam lift sendirian. Ya, orang itu mabuk berat sampai-sampai tubuhnya merosot dan tertidur di dalam lift.

Ragu-ragu Tiffany mengguncang bahunya tapi tak ada respon. Sesaat kemudian Tiffany berdecak kesal dan berusaha memapah gadis bertubuh lebih pendek itu dengan segenap kemampuannya. Setidaknya Tiffany  bersyukur tubuh gadis itu tidak lebih besar darinya, walau begitu dia tetap kesulitan.

Taeyeon membuka matanya yang terasa berat saat merasa tubuhnya terangkat, atau bisa jadi itu hanya perasaannya saja. Karena kondisinya yang mabuk berat gadis itu bahkan tidak bisa membedakan mata yang nyata dan mana yang halusinasi lagi. Begitu menoleh ke samping Taeyeon menemukan bidadari bersayap yang membawanya terbang.

Apa aku disurga?

“Nona Kim?” panggil Tiffany saat tetangga barunya mengumamkan sesuatu yang ditangkap samar-samar indera pendengarannya.

“Apa kau mengatakan sesuatu?” tanya gadis bereyes smile itu sekali lagi. Taeyeon tak lantas menjawab, gadis itu menyeringai kearah Tiffany…

Jadi seperti ini rasanya surga?

Tiffany membulatkan matanya, tak percaya dengan hal yang baru dialaminya. Apa Taeyeon baru saja… meraba pantatnya? Oh Gosh!!

“YYYAAA!!! DASAR MESUM!!” teriak Tiffany tak terima karena Taeyeon telah menodainya.

Jessica membanting pintu kamarnya lalu menguncinya. Setelahnya Jessica duduk dan menangis sambil memeluk lututnya.

“Makhluk hitam tidak berperasaan! Aku benci padamu! Aku benci!!” Jessica masih bisa memaki Yuri di sela tangisnya. Dan karena suaranya yang super keras Yuri juga bisa mendengarnya dan saat itu yang bisa Yuri lakukan hanya mengepalkan telapak tangannya dengan erat.

“Bencilah aku Jessica Jung. Bencilah aku..”

I always act strong
But I’m a cowardly man
Didn’t have the confidence to protect you forever and left

Don’t love someone like me again
Don’t make someone to miss again
One who looks at only you and needs only you
Meet someone who loves you so much
They can’t go a day without you
Please

~~~~~~~~~~

Taeyeon terbangun dan menemukan dirinya di tempat asing. Bukan, bukan tempat asing semacam planet lain hanya saja ruangan yang sangat tidak familiar untuknya. Sebuah kamar yang penuh nuansa pink, warna yang takkan pernah Taeyeon sukai sampai kapanpun, bahkan jika matahari terbit dari barat. Sungguh, segala hal di ruangan ini bernunsa pink, mulai dari dinding, seprai selimut, lemari, jam, gorden dan… semuanya. Bahkan tumpukan boneka di sudut kamar pun semuanya berwarna pink. Taeyeon tidak ingat dirinya pergi ke perkemahan-taman-kanak-kanak-ala-putri-negeri-dongeng atau semacamnya. Atau jangan-jangan dia memang sudah mati dan Tuhan memberikan hukuman -atas semua kejahatan yang pernah dilakukannya- dengan cara mengurung jiwanya di tempat ini.

Andwee!

Oke, oke.. Taeyeon tau itu bodoh sekali dan tidak mungkin. Salahkan efek hangover yang membuat kinerja otaknya menurun.

Berpikir rasional Kim Taeyeon! Berpikir rasional!

Setelah dicoba-coba kepalanya tetap tak bisa berfungsi, Taeyeon justru merasa pusing dan perutnya bergejolak. Sesuatu sedang berusah keluar dari mulutnya. Secepat kilat Taeyeon mencari toilet -yang masih bernuansa pink- lalu memuntahkan semua isi perutnya di wastafel.

Oh God, ini benar-benar buruk! Taeyeon bergumam sambil memijat kepalanya yang berdenyut. Ini gara-gara… ah, sudahlah, Taeyeon sedang tidak ingin mengingat hal yang membuat tekanan darahnya meningkat. Ada sesuatu yang lebih penting sekarang yang harus diketahuinya. Dimana dia sekarang?

Tiffany melantunkan nada-nada random sambil membuat secangkir teh lemon di dapur rumahnya -yang jarang terjamah. Tempat itu memang sangat keramat disini, karena pemilik rumah tidak bisa memasak bisa dihitung dengan jari berapa kali sehari Tiffany melangkahkan kakinya kesana.

“Nona Kim sudah bangun? Ayo duduk..” Tiffany tersenyum canggung sambil menarik salah satu kursi untuk Taeyeon duduki. Taeyeon duduk dengan kebingungan di wajahnya.

“Taeyeon..  kau boleh memanggilku Taeyeon, Nona Hwang..”

Tiffany menganggukkan kepalanya sambil meletakkan cangkir berisi teh lemon di hadapan Taeyeon.

“Minumlah, mungkin bisa mengurangi hangover-mu.”

“Gomawo..” Taeyeon menerima dan meminumnya. Tiffany lantas duduk di hadapan Taeyeon dan memainkan jarinya dengan gugup.

“Semalam.. aku minta maaf.” katanya. Taeyeon memandang Tiffany dengan tatapan bertanya. Ragu-ragu Tiffany mengangkat tangannya lalu menunjuk pelipis Taeyeon.

Ada plester disana. Taeyeon baru menyadarinya saat menyetuhnya. Bagaimana bisa Taeyeon mendapatkan luka ini? Lalu kenapa juga Tiffany harus minta maaf?

Sebenarnya semalam setelah Taeyeon yang mabuk meraba pantatnya, Tiffany berteriak keras… dan semuanya tidak berakhir disitu. Setelahnya Tiffany -beserta refleksnya yang luar biasa- menghantam kepala Taeyeon dengan tas tangannya sampai gadis itu pingsan.

“T-tapi sungguh.. aku tidak bermaksud melakukannya. Sungguh!” Tiffany merasa bersalah. Tidak seperti yang Tiffany duga, Taeyeon justru tersenyum padanya. Menurutnya tingkah Tiffany sangat menggemaskan.

“Gwenchana. Sepertinya itu memang salahku..” Taeyeon meraba belakang kepalanya malu-malu.

“Jadi aku yang seharusnya minta maaf.” lanjutnya.

“… dan nona Hwang terimakasih sudah mengijinkanku menginap semalam juga terimakasih untuk tehnya..”

“Tiffany.. Tiffany saja untukmu ^^”

Shinyoung berdiri dengan gusar di depan pintu kamar Jessica. Berbicara mengenai Jessica gadis itu terus mengurung diri di dalam kamarnya. Sepanjang hari ini Jessica hanya keluar satu kali, yaitu saat mengantar ayahnya yang akan pergi ke Paris setelahnya Jessica kembali mengurung diri. Dia bahkan belum memasukan apapun kedalam perutnya sejak tadi pagi, dan hal itu membuat Shinyoung khawatir.

“Ada apa?” Yuri yang kebetulan lewat bertanya.

“Yuri-ssi syukurlah, bisakah kau membujuk nona Jung untuk keluar. Aku khawatir sekali, dia belum makan dari tadi pagi..”

Yuri menganggukkan kepalanya lantas menyuruh Shinyoung pergi. Bagaimanapun Yuri tau jika Shinyoung masih memiliki setumpuk tugas lain yang mungkin lebih penting dari sekadar membujuk majikannya -yang sedang dalam princess mode- untuk makan.

Yuri mengetuk pintu kamar Jessica beberapa kali tapi hasilnya sama sama, tak ada jawaban. Namun Yuri tau jika Jessica ada di dalam dan akan mendengar apapun yang dia katakan.

“Nona Jung berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Caramu ini hanya melukai mereka yang peduli padamu.. kau tau?”

Perkataan Yuri membuat Jessica teringat ayahnya. Jessica tau betul jika pria paruh baya itu pergi ke Paris dengan setengah hati karena masih mengkhawatirkan kondisinya. Jessica tau.. tapi Kwon Yuri, apa orang itu tau jika Jessica juga berharap Yuri menjadi bagian dari orang yang peduli itu?

“Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan makanan untukmu. Jangan bersikap kenakanak-kanakan lagi, arraseo?” kali ini Yuri berkata sambil menempelkan telinganya ke daun pintu.

“Berhentilah bicara! Dasar bodoh!” balas Jessica dari dalam. Walaupun jawaban seperti itu yang didapatnya tapi Yuri tau jika Jessica akan menuruti permintaannya.

~~~~~~~~~~~

Yuri baru kembali dari taman Blue House dan mengerutkan keningnya saat makanan yang ada di meja makan nampak belum tersentuh.

“Shinyoung-ah apa nona Jung belum keluar dari kamarnya?” Shinyoung menggelengkan kepalanya dan membuat kerutan di kening Yuri semakin jelas.

Yuri menaiki tangga dengan cepat lalu kembali mengetuk pintu kamar Jessica.

“Nona Jung buka pintunya!”

“……………”

“Nona Jung! Kau dengar aku?”

“……………..”

Yuri menempelkan telinganya ke daun pintu namun kali ini tak ada apapun yang bisa di dengarnya. Hening! Dan saat itulah Yuri tau ada yang salah dengan majikannya. Dengan bantuan beberapa penjaga Blue House yang lain Yuri mendobrak pintu kamar Jessica.

Apa yang dilihat Yuri selanjutnya membuat jantungnya berdebar keras. Jessica terbaring di lantai sambil memegangi perutnya dan yeoja blonde itu tampak kesakitan. Tanpa pikir panjang Yuri segera mendekap tubuh Jessica dalam pelukannya.

“Y-yuri-ah.. a-appo..” lirih Jessica sambil menangis.

“Kau akan baik-baik saja, percaya padaku.” Yuri berbisik di telinga gadis itu sementara Jessica hanya bisa mengangguk lemah dalam pelukan pengawalnya.

~~~~~~~~~~

Di rumah sakit…

Yuri duduk di kursi samping ranjang Jessica sambil memandangi putri tidurnya yang masih menutup mata. Jessica sakit usus buntu tapi syukurlah sekarang semuanya sudah baik-baik saja, dokter sudah mengoperasinya.

Jessica yang sudah sadar membuka matanya perlahan dan menemukan Yuri di sampingnya. Tanpa gadis blonde itu sadari hari sudah berganti.

“Kau sudah sadar nona Jung? Ada sesuatu yang kau butuhkan?” tanya Yuri sambil membuka jendela kamar supaya Jessica mendapat udara segar. Jessica menggelengkan kepalanya.

Yuri kembali berjalan ke arah Jessica. Gadis tanned itu membetulkan selimut Jessica yang kusut setelahnya menambah bantal supaya untuk Jessica bersandar.

“Gomawo..”

“Setelah ini segera hubungi ayahmu, Presiden pasti sangat khawatir..” ucap Yuri lagi. Jessica menganggukkan kepalanya bak anak sekolah yang sedang dinasehati gurunya.

“Kau ini bawel sekali..” gumam Jessica tapi Yuri masih bisa mendengarnya. Yuri menggelengkan kepalanya lalu berjalan keluar ruangan.

Mau kemana dia?

Jessica mengangkat bahunya sambil memandangi Yuri yang berlalu. Setelahnya Jessica meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dan menghubungi ayahnya.

“Oke Dad aku tau.. iya.. iya..”

“Maaf.. aku sudah tidak apa-apa sungguh..”

“Hmm.. love you too..”

Tak lama kemudian Yuri kembali bersama dokter yang menangani Jessica.

“Nona Jung.. perkembanganmu bagus sekali tapi tolong jangan dulu makan sebelum anda buang angin, arraseo?” dokter tersenyum padanya.

“Iya dokter, terimakasih..”

Jessica masih duduk di atas kasur sambil memainkan ponselnya sementara Yuri duduk di sofa sambil membaca surat kabar. Jessica mencuri-curi pandang pada pengawalnya tersebut.

“Wae?” Yuri melipat bacaannya dan bertanya.

“Aniyo.” jawab Jessica sambil membuang pandangannya. Walau malu untuk mengakuinya Jessica sebenarnya sangat lapar dan jika Yuri terus berada di sisinya bagaimana bisa Jessica buang angin disini? Adakah yang lebih memalukan lagi?

“Nona Jung kenapa belum buang angin juga?” Yuri bertanya sambil melihat jam dinding sekilas. Hampir siang hari. Mendapat pertanyaan seperti itu Jessica jadi gelagapan, Jessica sebenarnya bukan tidak mau tapi dia menahannya karena malu.

“H-hal seperti itu kan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan!”

“Arraseo..” Yuri memilih mengalah dan melanjutkan membaca.

“Yuri-ah..” panggil Jessica lagi.

“Hmm?”

“Setelah dipikir-pikir.. aku mau jalan-jalan..”

“Baiklah..”

~~~~~~~~~~

Keduanya berjalan di taman rumah sakit. Jessica masih mengenakan piyama rumah sakit plus sandal tidur berbentuk kelinci yang sebenarnya lebih cocok dipakai anak usia lima tahun. Yuri berjalan disampingnya, seperti biasa. Salah satu hal yang paling Jessica sukai dari gadis ini, Yuri selalu memperlakukannya secara wajar, tidak pernah sekalipun Jessica mendapat perlakuan seperti ini dari pengawal-pengawalnya yang lain. Kebanyakan dari mereka akan berjalan di belakang Jessica sementara Yuri selalu berjalan di sampingnya, gesture kecil yang membuat Jessica merasa dihargai. Yuri membuatnya merasa ‘sama’.

Jessica memegangi perutnya yang tiba-tiba bergejolak. Tidak! Jangan! Tapi terlambat, gas itu sudah keluar dengan suara yang cukup keras dan mampu membuat Yuri berpaling padanya.

“Barusan itu kau nona Jung?”

“Barusan apa?!” Jessica pura-pura tidak tau dengan apa yang Yuri maksud walau sebenarnya yeoja itu tengah merasa malu setengah mati. Tiba-tiba saja Jessica berharap dirinya menjadi butiran debu lalu hilang tertiup angin. Ya, menghilang, pergi jauh, kemana saja asalkan tidak di dekat Yuri.

Jessica dapat merasakan wajahnya memanas. “Apa?” bentaknya kemudian pada Yuri yang masih memandanginya.

“Anggap saja aku tidak mendengarnya.” Yuri mengangkat bahunya acuh lalu mulai berjalan lagi. Meninggalkan Jessica yang masih meruntuki dirinya sendiri di belakang.

Yuri berhenti berjalan lalu berbalik dan menemukan Jessica yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Menyadari hal itu Yuri lantas kembali lalu mengenggam tangan Jessica dengan lembut. Gadis itu tersenyum dan membuat paras Jessica semakin terasa terbakar.

“Terimakasih sudah sembuh nona Jung.”

“Ne?”

“Aku akan mentraktirmu sebagai hadiah, kau ingin makan apa?”

“Jinja?” tanya Jessica semangat. Yeoja blonde itu lantas meletakkan jari telunjuknya di dagu layaknya orang yang tengah berpikir. Yuri kembali tersenyum.

“Kau bisa memasak tteokpeokki? Aku sudah lama tidak makan tteokpeokki buatan rumah. Ah, dan ice cream.. aku mau ice cream vanilla..” Jessica tak sadar jika dirinya beraegyeo saat mengatakan semua itu. Yuri menganggukkan kepalanya.

“Kau akan mendapatkan semua itu…… tapi nanti.” jawabnya sambil tersenyum jahil. Jessica menatapnya dengan pandangan tak mengerti. Jangan bilang Kwon Yuri sudah membohonginya, kalau itu sampai terjadi awas saja si hitam ini…

“Setelah kau benar-benar sembuh, dan untuk sekarang terpaksa kau harus makan makanan rumah sakit yang tidak enak.” Yuri memasang tampang menyesal tapi Jessica tau jika pengawal hitamnya tersebut tengah berpura-pura. Sedetik kemudian sandal kelinci Jessica beradu keras dengan tulang kering di kaki Yuri, tentu saja hal tersebut membuat gadis tanned itu meraung kesakitan. Jessica menjulurkan lidahnya dan pergi, tak memperdulikan Yuri yang masih menderita karena tendangan mautnya.

“Itu balasan untuk perkataanmu kemarin Kwon!”

~~~~~~~~~~~

“Bos pasti kecewa padamu.” Taeyeon berkata tanpa ekspressi di wajahnya. Walau kini mereka berdiri berhadapan entah kenapa Taeyeon tak mengenali orang yang kini berdiri di depannya.

“Aku sudah tidak bisa Taeyeon-ah.. aku tidak bisa.” pasrah Yuri. Gadis tanned itu nampak seperti orang yang kehilangan arah. Tentu sama sekali bukan Yuri yang Taeyeon kenal, hanya karena gadis itu.

“Aku sudah kalah Taeng.. aku kalah.”

“Baiklah, aku akan menyadarkanmu!” Taeyeon hampir tak mengenali suaranya sendiri yang bergetar. Tanpa basa-basi gadis bertubuh mungil tersebut lantas mencengkram kerah Yuri dan mendaratkan pukulan di wajahnya. Yuri yang pada kenyataannya mempunyai tubuh yang lebih besar terjungkal kebelakang. Tak lama bagi Yuri untuk merasakan rasa asin dan bau besi di mulutnya. Pukulan Taeyeon sukses membuat sudut bibirnya terluka.

Yuri masih terududuk tanpa berniat memberi perlawanan. Menyadari Yuri yang hanya terpaku Taeyeon merasa satu pukulan saja rasanya tak cukup untuk menyadarkan gadis tanned itu. Taeyeon kembali menerjang Yuri dengan tinjunya namun lagi-lagi Yuri menerima semua pukulan itu tanpa berniat memberi perlawanan, tidak sama sekali.

Taeyeon beranjak setelah memberikan pukulan terakhirnya. Sementara Yuri masih terbaring di atas salju dengan nafas tersenggal. Selain mulutnya, darah juga terlihat mengalir di kepalanya. Pukulan Taeyeon sepertinya juga membuat pelipisnya terluka. Taeyeon berdiri membelakangi gadis tanned itu sambil mengepalkan tangannya.

“Disini..” Yuri berkata dengan nafas tersenggal sambil meletakkan tangan kanan di dada kirinya. “Rasanya sakit sekali saat melihatnya terluka. Sakit Taeyeon-ah. Aku ingin melindunginya.. dengan segala yang kumiliki.”

Taeyeon tak ingin mendengar apapun dari mulut Yuri, sungguh, namun saat gadis itu ingin beranjak pergi Yuri terlanjur menahan tangannya. Sedetik kemudian Yuri memeluknya dari belakang, nafas gadis tanned itu berhembus di dekat telinganya. Taeyeon menggigit bibir bawahnya dengan sekuat tenaga. Kehilangan, sesuatu yang tak pernah ingin Taeyeon rasakan kembali namun sekeras apapun gadis itu mengelak Taeyeon tau jika malam ini dirinya akan kembali merasa kehilangan, separuh hatinya. Taeyeon akan kehilangan cinta pertamanya, karena Yuri… sudah memutuskan memberikan hidupnya untuk gadis lain. Dan gadis itu bukan dirinya, takkan pernah.

Only my shadow knows
How I feel about you
Only my shadow goes
Where I dream of you and me
Should I go or wait
Is it too soon too late
Only my shadow knows

Beberapa saat kemudian Taeyeon merasakan punggungnya basah. Yuri menangis. Dibanding dirinya yang patah hati, Taeyeon tau jika tekanan yang dialami Yuri lebih berat dari siapapun.

Yuri merasa semua yang dilakukannya selalu salah. Apakah cinta selalu memiliki jalan terjal dan berliku seperti yang dialaminya saat ini? Yuri, gadis itu bahkan tidak berani bermimpi untuk bisa bersama Jessica. Yuri tidak mau Jessica terluka, tapi justru sikapnya selama ini lebih melukai Jessica dari siapapun.

“Taeyeon-ah aku.. mencintainya tapi bodohnya aku, aku bahkan tidak bisa mengatakan semua itu padanya.”

“Gwenchana Yul.. gwenchana..” Taeyeon menggigit bibir bawahnya seraya membiarkan airmatanya ikut mengalir. Beruntung Yuri tidak melihatnya ikut menangis.

I wish I could say all these words
All these things that your heart never heard
But I saw the pain in your eyes and it sealed my lips

Seharusnya Taeyeon bisa mengatakan semuanya pada Yuri. Perasaan yang dia pendam selama ini tapi mendengar Yuri menangis membuat Taeyeon kembali menelan kata-katanya. Biarlah angin yang berhembus malam ini turut menerbangkan perasaannya untuk Yuri.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>TBC

Drabble #15 (RF)

Drabble #15

“Get out!! Now!!”

“T-tapi Panny-ah aku-“

Bug!!
Sebelum Taeyeon sempat menyelesaikan kata-katanya Tiffany sudah melempar bantal tepat di wajahnya.

“Ppany-ah..”

Brak!!
Kali ini Tiffany menutup pintu kamar mereka tepat di depan hidung Taeyeon. Masih belum menyerah Taeyeon kembali memohon seraya mengetuk pintu sarang monster pink tersebut. Berharap pujaan hatinya berubah pikiran dan memaafkannya. Demi apapun, Taeyeon hanya mengatakan apa yang dirasakannya. Gadis itu sama sekali tak menyangka jika Tiffany bisa semarah itu.

Tamatlah sang leader kali ini. Jika Tiffany tidak memaafkannya, dimana dia akan tidur? Di sofa? Tidak mungkin karena tempat itu sudah di sewa Sooyoung yang juga diusir dari kamarnya karena Sunny -tanpa sengaja- menemukan cadangan makanan yang Sooyoung sembunyikan di bawah kasur.

Yang benar saja? .. tapi nyatanya Sooyoung memang serakus itu.

Alasan kenapa Taeyeon tak mau tidur bersama Sooyoung karena cara tidur Sooyoung yang sangat ‘liar’. Pernah satu kali mereka tidur bersama -karena terpaksa- dan paginya Taeyeon menemukan telapak kaki Sooyoung di wajahnya.

Taeyeon menghela nafas. Gadis itu memungut bantal dokongnya dengan lemas. Dua langkah berjalan, Taeyeon mendengar suara pintu di buka. Taeyeon berbalik dan menemukan Tiffany membuka pintunya.

“Ppany-ah kau memaafkanku?” tanyanya penuh harap. Tiffany tidak menjawab, melainkan melempar selimutnya tepat di wajah Taeyeon -lagi.

Kim Taeyeon tetap tabah. Semangatlah! Setidaknya dia masih peduli padamu. Taeyeon berusaha menyemangati dirinya sendiri.

The Prankster -YulYoonSoo- berusaha menahan tawanya saat Taeyeon menghampiri mereka dengan wajah kusut. Tiffany pasti baru mengusirnya, ketiganya seperti punya telepati.

“Jadi, kali ini kenapa?” tanya Yuri.

“Begini, aku dan Tiffany sedang nonton film romantis bersama lalu ada adegan ciuman dan karena film itu sangat romantis tanpa sadar kami terbawa suasana. Aku mencium bibirnya dengan sangat lemmbuuuttt~ lalu Tiffany berpindah keatasku dan-“

“Omaigooshhhh unnie!! Byun!! Kenapa kau menceritakan hal seperti itu?! Aaiisshhh.. my poor innocent ears!” protes Yoona dengan wajah memerah. Yuri terkikik geli dan menyuruh ‘anaknya’ untuk segera tidur sebelum Taeyeon meracuni pikirannya lebih jauh.

“Lalu apa yang terjadi setelahnya?” tanya Sooyoung penasaran.

Taeyeon menekan leher Tiffany untuk memperdalam ciuman mereka dan membuat kasur berseprai pink itu berderik.

“Ppany-ah..” ucap Taeyeon di sela ciuman mereka dengan nafas tersenggal karena Tiffany menindih tubuhnya.

“W-wae?”

“K-kau semakin berat, apa berat badanmu bertambah?” tanya Taeyeon. Setelah itu Tiffany melepaskan ciumannya dan menyeret Taeyeon keluar dengan paksa.

“Begitulah. Dan aku berakhir disini..”

Yuri dan Sooyoung tak dapat lagi menahan tawanya. Keduanya tertawa bahagia diatas penderitaan sang leader.

“Kau ini bagaimana? Wanita itu sangat sensitif dengan namanya berat badan. Bisa-bisanya kau membahas hal seperti itu di tengah ‘aktifitas’ kalian.. dasar tidak peka.” ejek Yuri. Sooyoung mengangukkan kepalanya setuju.

“Y-ya! Aku kan cuma mengatakan yang sebenarnya d-dan.. aktifitas apa? Kau membuat kami terdengar melakukan sesuatu.”

“Nyatanya kalian memang melakukan sesuatu.” Sooyoung memutar kedua bola matanya. Leader mereka ini, sudah byun tukang menyangkal lagi. Aigoo.

“Yang kami lakukan tidak lebih dari ciuman!”

“Tidak ada seorangpun yang mengatakan kalian melakukan lebih dari ciuman..” balas Sooyoung.

“…. kecuali kau yang berharap lebih?” lanjut Yuri. Setelahnya gadis tanned itu ber-highfive ria dengan rekan prankter di sebelahnya. Merasa puas karena telah membuat Taeyeon mati kutu. Untung saja Hyoyeon sedang menginap di dorm Kara, jika tidak pasti Taeyeon lebih menderita dari ini.

Taeyeon kehabisan kata-kata. Tidak adakah seseorang di dunia ini yang berpihak padanya? Taeyeon merasa sebatang kara -berlebihan. Sang kekasih baru saja mengusirnya sementara sahabat-sahabatnya malah bersenang senang diatas penderitannya.

“Taeng mau saran dariku?” Yuri berhenti tertawa dan menepuk pundaknya.

“Kita tidak boleh terlalu jujur pada pasangan.” kata Yuri sambil tersenyum.

“Jadi maksudmu kita harus punya banyak cabang sepertimu?” tanya Sooyoung yang sama bingungnya dengan leader mereka. Yuri memukul kepala gadis jangkung itu dan membuatnya meringis kesakitan.

“Bukan itu maksudku! Lagipula aku ini seobang yang setia!”

“Yeah~ seperti kami percaya saja..” cibir Sooyoung dan membuat Yuri kembali memukul kepalanya.

“Lalu maksudmu apa?” Taeyeon memutuskan bertanya untuk melerai keduanya.

“Maksudku adalah.. kadang-kadang para wifey itu suka dibohongi.”

“Jinja?”

“Tentu saja. Harusnya, walaupun kau tau kalau Tiffany bertambah berat badannya kau tidak perlu mengatakannya karena itu akan melukai perasaannya. Aku saja kadang-kadang berbohong pada Sica. Kalian tau kan kalau Sica itu tidak bisa memasak? Nah kemarin dia membuatkanku sarapan dan aku terpaksa memakannya dan mengatakan enak walau rasanya sungguh tidak berkeprimanusiaan. Dan.. saat tidur kadang-kadang dia ngorok tapi aku tidak pernah mengatakannya karena tidak mau dia marah…” ketiganya tertawa setelah mendengar penuturan Yuri. Taeyeon dan Sooyoung menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Akhirnya malam itu ketiganya habiskan dengan mengobrol sampai larut.

Yuri tidak sadar jika Jessica terbangun karena haus dan saat Yuri membicarakannya gadis blonde itu sedang mengambil air minum di dapur dan mendengar dengan jelas setiap perkataan Yuri. Bahkan kata-kata itu terekam di otaknya.

“Kwon Yuri! Awas kau!” Jessica menahan kekesalannya untuk besok pagi. Dia terlalu ngantuk untuk marah-marah malam ini.

She is lazy girl afterall.. haha.. :D
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>END

The Best Smile (TaeNy/Oneshot)

Tittle : The Best Smile
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Gender Bender, Comedy Romance
Lengt : Oneshot
Cast : Kim Taeyeon, Hwang Miyoung and Other Cast

Disclaimer : Terinspirasi dari Komik berjudul The Best Smile karya Hazuki Arai (again kekeke~)

The Best Smile
.
.
.
.
.

“Ok! Berpaling ke kanan.”

Seorang gadis tersenyum seiring dengan suara jepretan dari kamera Jiwoong. Nama gadis yang sedang berpose itu adalah Hwang Miyoung, dan dia sudah menggeluti dunia modeling sejak kelas 3 SMP -yang artinya sekarang sudah berjalan setahun. Miyoung sering kali menghabiskan waktunya di lokasi pemotretan, misalnya dengan mengikuti kontes majalah seperti ini.

“Miyoung!”

“Jiwoong oppa ^^”

“Kamu sepertinya sudah luwes, ekspressi wajahmu sudah tampak.” Miyoung tersipu karena pujian laki-laki berkacamata tersebut. Jiwoong mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Miyoung sambil tersenyum manis.

“Gomawo oppa.”

“Aku bangga padamu.” Kali ini Jiwoong mengacak rambut Miyoung dengan lembut.

Jiwoong -yang merupakan fotografer di salah satu majalah terkenal- adalah pembimbingnya sejak pertama kali Miyoung memutuskan untuk terjun di dunia modeling. Orang yang juga sangat Miyoung sukai.

Tapi dia tidak tau…

“Wajahmu kelihatan tegang.”
setelah mendengar itu, Miyoung memiringkan kepalanya untuk mengetahui siapa yang sudah menganggu ‘kemesraannya’ dengan Jiwoong. Miyoung menemukan Taeyeon yang sudah berdiri di belakang Jiwoong. Namja imut yang tidak terlalu tinggi itu masih mengenakan seragam kebesarannya, seragam SMA Yonsei -tempat dimana Miyoung juga bersekolah.

“Senyummu di foto tadi kelihatan tidak tulus, seperti sedang menahan sesuatu. Apa kau ingin ke toilet?” Taeyeon bertanya tanpa rasa bersalah. Miyoung heran kenapa orang yang satu ini selalu berkata seenaknya, tau apa dia? Padahal Jiwoong oppa saja bilang kalau hari ini dia bangga pada Miyoung..

“Tau apa kamu? Badanmu saja tidak lebih tinggi dariku!” Taeyeon memundurkan sedikit tubuhnya saat Miyoung tiba-tiba berteriak padanya. Laki-laki itu juga membulatkan matanya. Taeyeon tau jika dia pend- maksudnya tidak terlalu tinggi untuk ukuran laki-laki, tapi hei! Taeyeon masih dalam masa pertumbuhan jadi masih ada harapan. Lagipula tidak seharusnya Miyoung membawa-bawa hal sensitif itu dalam pembicaraan mereka kali ini.

“Itu tidak ada hubungannya! Lagipula aku lebih tinggi 2 cm darimu.” Taeyeon balas berteriak padanya.

Ya, 2 cm yang sangat sangat berharga.

Miyoung menyerah dan memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan mereka yang tidak penting tersebut. “Sebenarnya kamu kesini mau apa?”

“Aku disuruh hyung..” Taeyeon menunjukkan jarinya ke arah Jiwoong yang sedari tadi menjadi penonton setia.

Miyoung berpaling ke arah Jiwoong dengan tatapan bingung.

“Ng..” Jiwoong mengusap belakang kepalanya, laki-laki itu merasa bersalah. Padahal sebelumnya dia sudah berjanji pada Miyoung.

“Ya, hari ini aku mendadak ada urusan jadi aku minta tolong pada Taeyeon untuk mengantarmu pulang, mau kan?”

Miyoung sebenarnya merasa kecewa, padahal sejak semalam gadis itu susah tidur karena terlalu bahagia. Jiwoong berjanji mengantarnya pulang setelah selesai pemotretan di majalah GG, tapi apa boleh buat? Miyoung tersenyum untuk menutupi perasaan kecewanya.

Taeyeon dan Miyoung berjalan bersisian menuju halte bus. Tanpa Miyoung sadari Taeyeon mencuri-curi pandang kearahnya. Melihat Miyoung yang terus menundukkan kepalanya sepanjang perjalanan, Taeyeon tau jika sesuatu tengah menganggu pikiran gadis ber-eyesmile tersebut.

“Memangnya..” ucap Taeyeon.

“Tingkah laku hyung dan aku sama sekali berbeda ya?” lanjutnya. Perkataan laki-laki tersebut sukses mencuri perhatian Miyoung. Gadis tersebut memiringkan kepalanya sedikit sambil menatap wajah Taeyeon.

“Sudah jelas kan, Jiwoong oppa sudah dewasa.”

Miyoung dan Taeyeon adalah teman sekelas sementara Kim Jiwoong -kakaknya- adalah fotografer terkenal. Seorang pria yang mempunyai masa depan cerah.

Tiba-tiba Miyoung jadi terpikir sesuatu. Kedua alisnya bertautan. Menyadari gadis di sampingnya berhenti melangkah, Taeyeon pun berhenti. Laki-laki itu menoleh kearah Miyoung.

“Ada apa?” herannya.

Setelah berpikir cukup lama, Miyoung akhirnya menyadari sesuatu. Mereka berdua -dirinya dan Taeyeon- sudah saling mengenal sejak sekolah dasar tapi baru malam ini Miyoung sadar kalau badan Taeyeon sebenarnya lumayan juga. Walau tidak terlalu tinggi namja itu memiliki tubuh yang tegap dan Miyoung suka rambut Taeyeon yang selalu tampak bercahaya -yang satu ini mungkin cuma perasaannya saja.

“Taeyeon-ah, kamu itu sebenarnya kalau diam.. imut juga.”

Setelah mendengar perkataan Miyoung, Taeyeon langsung menarik pergelangan tangan gadis itu.

“Hei sakit…” protes Miyoung namun Taeyeon tak memperdulikannya.

“Tadi kamu bilang imut ya?.. sialan!”

“Heh?”

“Hei Youngie!” di dalam sebuah bis, Sunkyu yang duduk di samping Sooyoung mengguncang bahu laki-laki jangkung tersebut.

“Ng?”

“Bukankah itu Taeyeon dan Miyoung?” Sunkyu menunjukkan jarinya kearah jendela. Tepat ke tempat Taeyeon dan Miyoung berdiri.

“A-apa yang akan mereka lakukan?” Sunkyu menjadi gugup saat Taeyeon menarik Miyoung untuk lebih mendekatinya.

“Ya! Jangan dilihat!” Sooyoung segera menutupi kedua mata Sunkyu dengan tangannya. Salahkan Taeyeon dan Miyoung, posisi seperti itu benar-benar membuat siapapun yang melihatnya bisa salah paham.

“Le-lepaskan!”

Taeyeon tersadar begitu Miyoung merintih kesakitan. Laki-laki itu segera melepaskan cengkramannya dan berbalik pergi. Meninggalkan Miyoung yang terpaku di ditempatnya.

“Kenapa?” gumam Miyoung pada dirinya sendiri sambil menatap pergelangan tangannya yang memerah akibat ulah Taeyeon. Apa ada yang salah dengan kata-katanya? Belum pernah Miyoung melihat Taeyeon semarah itu sebelumnya.

~~~~~~~~~~

“Dasar aneh! Dia kan tidak perlu langsung marah-marah tidak karuan seperti itu!” kesal Miyoung. Dirumahnya, gadis itu sedang menonton televisi di ruang keluarga sambil mengenakan piyama pink kesayangannya.

“Dasar Kim Taeyeon!!” Miyoung memukuli bantal sofa dalam pelukannya untuk melampiaskan kekesalannya pada Taeyeon.

“Habis noona bilang imut sih!” Yuri tiba-tiba muncul dan duduk di samping kakaknya.

“Laki-laki itu kalau disebut imut bukannya senang malah jadi sebal.” ucap Yuri layaknya seorang profesor yang tengah memberikan penjelasan pada anak didiknya lengkap dengan gaya dan ekspressi cool -yang menurut Miyoung terlalu dibuat-buat.

“Jangan sok tau kamu!” cibir Miyoung.

Mungkin..

… apa yang dikatakannya benar..??

Tapi Miyoung terlalu gengsi untuk mengakuinya.

“Noona sendiri sok tau!” balas Yuri tak mau kalah.

“Hei, aku ini lebih tua darimu!”

~~~~~~~~~~~~

“Miyoung-ah..”

“Akhirnya kamu jadian juga ya dengan Taeyeon?”

Gubrak!!

Miyoung mengelus pantatnya yang mendarat diatas lantai. Maklum saja, saking syoknya dengan pertanyaan Sunkyu, gadis bereyes smile tersebut langsung terjatuh dari tempat duduknya.

“Gwenchana?” Sooyoung yang memasang ekspressi khawatir sekaligus menahan tawa menghampirinya dan membantunya berdiri.

“Habis kalian berdua bicaranya aneh!”

“Lho? Jadi yang kemarin itu apa?”

“Itu?”

Gawat, batin Miyoung.

“Ka-kalian lihat ya?”

Sooyoung dan Sunkyu menganggukkan kepalanya. “Tidak seharusnya kalian melakukan hal seperti itu di tempat umum.” kali ini Sunkyu tersenyum jahil padanya.

Miyoung segera menggelengkan kepalanya. “Kalian salah paham!”

Entah kenapa Miyoung menjadi bersemangat untuk menyangkal semuanya. Eh, bukan menyangkal tapi mengatakan yang sebenarnya. Malam itu mereka tidak melakukan apapun kan?

Hei, dan kenapa juga Miyoung merasa kecewa karena hal itu?

“Lagipula.. Taeyeon itu payah.”

“…. aku sama kakaknya lebih-” katanya berapi-api.

“Ada pesan dari hyung!” tapi ada seseorang yang memotong pembicaraannya.

“Apa?” Miyoung berbalik kesal tapi langsung menutup mulutnya begitu melihat Taeyeon sudah berdiri di pintu kelas.

“Taey-“

“Katanya jadwal pemotretan diubah jadi jam 4.”

“Jam 4 ya? Gomawo..” jawab Miyoung malu-malu. Apa Taeyeon mendengar apa yang dikatakannya tadi?

Eh? Jam 4?

“T-tunggu!” Miyoung berlari kearah Taeyeon lantas menahan tangannya saat laki-laki itu hendak pergi.

“Ada apa?”

“Hari ini bukankah ada rapat panitia?”

Keduanya adalah perwakilan panitia pentas seni dari tingkat satu.

“Tidak apa-apa aku sendiri saja.” Taeyeon meyakinkannya tapi Miyoung ragu..

“Tapi.. aku sudah sering absen.”

“Jangan khawatir.” Sekali lagi Taeyeon menyakinkannya, kali ini laki-laki itu juga tersenyum padanya. Miyoung perlahan melepaskan tangan Taeyeon dan membiarkan laki-laki itu pergi.

Taeyeon itu.. kalau sedang baik dan kalau sedang menyebalkan berbeda sekali dan Miyoung tak tau apa yang harus dilakukannya.

Saat Miyoung berbalik, gadis itu baru sadar jika Sooyoung dan Sunkyu tengah memparodikan obrolan dirinya dan Taeyeon sebelumnya.

“Jangan khawatir.” Sooyoung sengaja merendahkan suaranya saat berkata seperti itu.

“Iya..” jawab Sunkyu sambil tersenyum manis. Keduanya begitu menikmati apa yang mereka lakukan, begitu mesra, seakan dunia ini hanya milik mereka berdua.

“Kalian ini!”

~~~~~~~~~~

Saat di loker.. Miyoung tersenyum manis pada beberapa siswa yang menyapanya.

“Hai Miyoung..”

“Aku melihatmu di GG edisi bulan ini..”

“Kami sudah membelinya.”

“Miyoung-ssi cantik sekali disana.”

“Gomawo..”

“Nona Hwang!” teriak Park Ssaem, murid-murid yang sebelumnya mengelilingi Miyoung berhamburan begitu guru berkepala setengah botak itu datang.

Ups! Miyoung tersenyum canggung.

“Tes susulan matematikamu bagaimana?” tanya Park Ssaem to the point. Miyoung berpikir keras. Bukan untuk mengikuti tes susulan tapi untuk mencari cara kabur dari cengkraman guru yang satu ini.

“Maaf Ssaem, hari ini saya belum ada waktu..” Miyoung berbalik lalu setengah berlari.

“Ya! Kalau terus begini kau bisa tinggal kelas. Hwang Miyoung!”

Miyoung berusaha tak memperdulikan Park Ssaem yang masih mengomel di belakangnya. Keterlaluan, memang sejak dulu Miyoung tidak terlalu bersahabat dengan angka tapi kemampuan otaknya semakin menurun setahun belakangan ini dan ini semua karena kegiatan modeling itu.

“KALAU BEGITU JANGAN MENGELUH KALAU SUDAH TERIMA RAPOTMU NANTI!!”

~~~~~~~~~~

Kejadian di sekolah bersama Park Ssaem tadi cukup membuat Miyoung tidak konsentrasi saat bekerja. Gadis itu lebih banyak melamun dan alhasil melakukan beberapa kesalahan saat pemotretan. Saat istirahat, Jiwoong memutuskan untuk mempertanyakan hal itu.

“Miyoung-ah ada apa?”

Miyoung tertawa canggung. “S-sebenarnya..” dengan malu-malu Miyoung menceritakan apa yang dialaminya pada Jiwoong.

Jiwoong tertawa setelah mendengar cerita gadis tersebut.
“Wah benar benar.. dasar Miyoung..”

“Habis.. habis aku muak mendengar omongannya itu.” Miyoung membela dirinya.

Jiwoong berpikir sejenak sambil memandangi Miyoung yang menundukkan kepala di hadapannya. Sebenarnya Jiwoong ingin membantu tapi pekerjannya saat ini tidak bisa ditinggalkan.

“Oh iya, Taeyeon!”

“Hah?”

“Anak itu pandai matematika lho..”

Setelah mendengar nama Taeyeon, ekspressi Miyoung berubah dan hal itu membuat Jiwoong kembali bertanya.

“Miyoung tidak suka Taeyeon?”

“Sebenarnya bukan begitu..”

“Lalu?”

“… aku tidak tau.”

Mungkin sebenarnya suka tapi kalau bersama Jiwoong oppa rasanya.. rasanya agak sedikit beda.

“Miyoung-ah..”

“Ne?”

“Kenapa kamu ingin jadi model?”

“Itu karena sarannya oppa kan?”

“Iya, tapi apa tidak ada alasan lain?”

Miyoung tidak langsung menjawab. Gadis itu berpikir. Alasan lain?… mungkin karena sebenarnya Miyoung ingin melepaskan diri.

Seringkali Miyoung pun bertanya-tanya. Apakah memang ini yang terbaik untuknya. Atau apakah ini yang dia inginkan? Tapi tak pernah ada jawaban. Semuanya seperti memakai lensa buram. Tidak ada hitam dan putih, karena yang dapat dilihatnya hanya abu-abu.

“Begitu ya..” gumam Jiwoong -yang tak kunjung mendapat jawaban- sambil memainkan sisi kaleng minumannya.

“…tapi kenapa tiba-tiba oppa menanyakan hal itu?”

“Kamu tau Lee Sooman dari SM?”

Miyoung menganggukkan kepalanya. Di korea ini siapa yang tidak mengenal Lee Sooman. Orang dengan muka menyebalkan -menurut Miyoung- itu pekerjaannya khusus mencari model tapi kadang-kadang dia juga bekerja sebagai produser. Termasuk membuat debut rekaman.

“Lalu apa hubungannya Lee Sooman denganku?” pertanyaan Miyoung kali ini membuat Jiwoong menepuk jidatnya. Berbicara dengan gadis cantik -namun lemot- seperti Miyoung memang butuh kesabaran ekstra.

“Beliau mengajak kamu ikut audisi..”

“APA? B-bagaimana bisa?” tanya Miyoung tak percaya.

Jiwoong mengusap belakang kepalanya malu-malu. “Kemungkinan aku akan menjadi fotografer disana. Nah, singkat cerita aku yang telah merekomendasikanmu.”

Miyoung memang seorang model… tapi gadis itu sama sekali tak terpikir untuk melakukan debut.

~~~~~~~~~~

“Jadi, kamu berniat melakukan apa?” tanya Taeyeon gemas pada gadis bereyesmile di sampingnya. Miyoung menatap Taeyeon sekilas, menggembungkan kedua pipinya lalu menggeleng pelan.

“Molla.. tapi yang pasti berbeda dengan ini.”

“Tidak bertanggung jawab.”

“Huh?”

“Kenapa kamu selalu setengah hati begitu? Sekolah juga.. modeling juga tapi saat ada kesempatan malah tidak tau harus bagaimana..”

Itulah kelemahanku.. bodoh dalam membaca perasaan.

“Ya, apa boleh buat.” Taeyeon menyingkirkan poni yang menutupi dahinya.

“Aku akan mengajarkanmu matematika.” kata Taeyeon dan sukses membuat Miyoung tersenyum cerah. Siapa sangka penawaran mustahil itu bisa keluar dari mulut Taeyeon? Bukankah sebuah keberuntungan? Melihat Miyoung yang tersenyum Taeyeon pun ikut tersenyum tanpa sadar.

“Pasti Jiwoong oppa yang menyuruhmu kan?” tanya Miyoung dan membuat senyuman di wajah Taeyeon hilang.

Lagi-lagi dihubungkan dengan orang itu..

“Iya, aku diminta hyung! Kamu keberatan?” Taeyeon tiba-tiba berteriak padanya.

“Jangan marah dong!” Miyoung balas berteriak.

Miyoung sungguh tak mengerti, kenapa laki-laki ini selalu marah-marah padanya? Apa Miyoung sudah melakukan kesalahan sehingga membuat Taeyeon tidak suka padanya? Memikirkannya saja membuat gadis itu ingin menangis.

Miyoung membenamkan wajah diantara kedua tangannya. Sooyoung dan Sunkyu yang kebetulan sekelas dengannya pun menghampiri meja gadis itu dan bertanya.

“Hmm.. ternyata Taeyeon begitu.” kata Sooyoung setelah mendengar cerita Miyoung.

“Lucunya..” sambung Sunkyu.

Lagi-lagi dua orang ini berkata aneh. Miyoung tau, seharusnya dia tidak menceritakan apapun pada keduanya.

~~~~~~~~~~

Sepulang sekolah, Miyoung menunggu di depan kelas Taeyeon.

“Miyoung?” heran Taeyeon saat melihat keberadaan Miyoung di tempat itu.

“Taeyeon-ah.. tentang yang tadi..” kata Miyoung ragu.

“Tolong ya.” lanjut gadis itu sambil menangkupkan kedua tangannya. Taeyeon menatap gadis itu sekilas lalu mengacak rambut Miyoung dengan tangannya.

“Baiklah..”

Deg! Perasaan apa ini?

Karena Miyoung sudah terlalu sering bolos, Taeyeon harus mengulang materi dari semester pertama.

Sambil bersidekap di atas meja, Miyoung memperhatikan wajah Taeyeon dengan serius. Itu sebenarnya salah, karena Miyoung harusnya memperhatikan penjelasannya bukan wajah orang yang menjelaskan.

“Kalau ini dikalikan ini.. jadinya begini..”

Sudah lama rasanya Miyoung tak pernah berada di sekolah setelah pelajaran usai. Pemandangan sore, suara klub sepak bola dan klub maraton yang saling bersahut-sahutan di lapangan, siapa sangka Miyoung akan merindukan semua ini.

“Oh iya, dulu aku pernah ada pemotretan disini.” kata Miyoung tapi gadis itu langsung menutup mulutnya begitu Taeyeon memandangnya tajam.

“E-eh? Mianhe..”

“Kamu ini..”

Taeyeon lalu menyerahkan selembar kertas pada Miyoung dan menyuruh gadis itu mengerjakan soal latihan yang telah dibuatnya. Miyoung menerima kertas itu dan mulai mengisi.

Sedikit demi sedikit rentetan angka itu menjadi menyenangkan. Apakah karena Taeyeon bersamanya?

“Mungkin yang selama ini buram bukan lensa milikku..” gumam Miyoung.

“Kamu pakai contact lens?” Taeyeon yang mendengar pernyataan random Miyoung bertanya untuk memastikan.

“Bukan.” Miyoung menarik nafas dalam dan menghembuskannya.
“Kalau Jiwoong oppa yang menanggapi pasti lebih serius.”

Taeyeon menggebrak meja dengan emosi. “Aku bukan dia!”

“Kenapa.. selalu dia?” Miyoung tak bisa menjawab saat Taeyeon tiba-tiba mengguncang bahunya.

“Kenapa hanya pecundang itu yang kamu lihat?… padahal sejak dulu aku-“

“Kim Taeyeon!!” Miyoung menepis tangan Taeyeon dengan kasar.

“Teganya! Padahal dia kakakmu sendiri! Jangan sebut orang lain pecundang!” Miyoung balas berteriak, karena menurutnya sikap Taeyeon kali ini sudah kertelaluan tapi beberapa detik setelahnya Miyoung segera menutup mulutnya. Sungguh dia tidak bermaksud mengatakan semua itu.

Taeyeon menatapnya dengan pandangan terluka dan untuk alasan tertentu hati Miyoung juga ikut merasa diremas.

“…maaf kalau tadi aku mengatakan pecundang.” katanya lalu berbalik pergi.

Padahal bukan itu maksudku..

“Semuanya sudah kacau.. kenapa?”

~~~~~~~~~~~

Miyoung keluar dari kamar dengan pakaian yang sangat rapi.
“Noona matamu merah, kurang tidur?” Yuri tiba-tiba bertanya padanya.

“Gwenchana.” jawab Miyoung sambil tertawa hambar. Entah apa yang ditertawakannya. Miyoung segera berlalu sebelum adiknya -yang sok tahu itu- bertanya lebih banyak. Sebelum sosok Miyoung menghilang di balik pintu rumah mereka, Yuri terus menatapnya dan dia tau jika ada sesuatu yang salah dengan kakaknya tersebut.

Sesampainya di lokasi, Miyoung langsung bertemu dengan Jiwoong. Laki-laki itu sudah menunggu bersama Lee Sooman. Pria paruh baya itu tersenyum saat Miyoung menghampirinya.

“Tentang yang pernah Jiwoong ceritakan sudah dipikirkan baik-baik?” tanya Lee Sooman.

Miyoung menganggukkan kepalanya. Tawaran Lee Sooman memang menggiurkan. Pria itu juga berkata jika masa depan Miyoung akan cerah jika gadis itu mencoba jadi model secara serius. Ini adalah kesempatan yang baik, apalagi ada Jiwoong oppa.

Kesempatan?

Kebimbangan.

Apa maksudnya?

“Miyoung?”

“…anu..”

Miyoung menarik nafas untuk memantapkan hatinya. Gadis itu bertekad untuk menghentikan kebimbangan ini.

Yang ingin aku lakukan adalah…

“Aku…”

“Taeyeon sunbae! Keluar!” Yuri berdiri di depan rumah Taeyeon sambil berteriak-teriak seperti penagih hutang. Bahkan Taeyeon yang sedang minum pun sampai tersedak.

“Kim Taeyeon!!”

“Apa?” Taeyeon membuka pintu rumahnya dan mendapati Yuri tengah berdiri sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.

“Apa yang sunbae lakukan pada noona-ku? Sunbae membuatnya menangis?”

“Menangis? Aku?”

“Jangan pura-pura tidak tau! Aku melihat pertengkaran kalian di kelas beberapa waktu lalu! Aku tidak mau tau, sunbae harus minta maaf padanya! Kalau tidak aku akan menghajarmu!” ancam Yuri. Taeyeon menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik kelasnya yang labil tersebut.

Tapi apa benar Miyoung menangis?

Karenanya?

~~~~~~~~~~

Miyoung sudah memutuskan.

Taeyeon yang baru melangkahkan kakinya melewati gerbang sekolah membulatkan matanya begitu melihat Miyoung.

“Miyoung, mau apa kamu disini?”

“Memangnya kenapa?”

“Apa kamu tidak tau?”

“Apa?” tanya Miyoung lagi dan hal ini membuat Taeyeon mengacak rambutnya frustasi. Kapan gadis ini berhenti bersikap ‘lemot’.

“Bukankah kamu ikut audisi?” Taeyeon berteriak padanya tapi Miyoung malah tertawa.

“Oh itu-“

“Sudah tidak ada waktu, kajja!”

“Ya, tapi-“

“Sudahlah! Cepat!”

“Eh? Kim Taeyeon..”

Taeyeon tak mendengarkan protesan Miyoung lebih lanjut. Laki-laki itu segera menyuruh Miyoung naik ke sepedanya. Setelahnya Taeyeon mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi ke tempat audisi. Miyoung yang duduk di belakang, memegang erat pinggang Taeyeon.

Taeyeon tau jika audisi masuk SM Ent itu hari ini. Jika Miyoung tidak datang, kesempatan yang sudah ada di depan mata bisa hilang dan jika Miyoung tidak datang Jiwoong juga akan kesulitan.

“Tunggu dulu.. kamu salah pengertian!”

“Kim Taeyeon kamu salah mengerti!” Miyoung berteriak sekeras-kerasnya hingga membuat Taeyeon menghentikan sepedanya.

“Sa-salah?” Taeyeon berbalik dan menemukan Miyoung yang masih memejamkan matanya dengan begitu rapat.

“K-kamu salah..” kata Miyoung lagi.

Sementara itu Jiwoong sudah ada di tempat audisi.

“Anak yang waktu itu sepertinya tidak akan datang, iya kan?” kata Lee Sooman.

“Maksud anda Miyoung?”

“Iya.”

“Apa boleh buat, anak itu memang belum memutuskan dengan pasti..”

“Aku rasa dalam pemotretan aku tidak bisa berpose dengan wajar.. makanya aku setengah hati.” aku Miyoung.

“… tapi aku tidak ingin seperti itu lagi.”

Karena saat ini Miyoung sudah mengerti apa yang diinginkannya.. untuk selamanya.

“Aku ingin selalu bersama Taeyeon.”

“Jadi begitu ya..” Lee Sooman mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Jiwoong tersenyum.

“Apalagi ada Taeyeon. Dia sudah memotretkan sosok anak perempuan itu untukku, dengan lebih jelas.” kata Jiwoong.

“… dia akan langsung berada disisinya.”

~~~~~~~~~

Taeyeon membiarkan sepedanya begitu saja sementara dia dan Miyoung duduk di atas rumput taman sambil bersandar pada pohon.

“Ekspresi wajahmu memang selalu tegang. Sepertinya sama sekali tidak berbakat jadi model.”

“Maksudmu apa sih?”

“..tapi karena aku memiliki lensa yang lebih bagus dari hyung, aku akan memotretmu selamanya.” ucap Taeyeon malu-malu dan membuat Miyoung terkikik geli.

“Taeyeon-ah.. lagakmu, dibuat-buat.”

“Cerewet!!”

Ya.. untuk selamanya..
.
.
.
.
.

“Annyeonghaseyo!”

“Yuri-ah, kemari!” Jiwoong lansung menyuruhnya masuk.

“Ne, kamsahamnida. Aku kesini untuk menjemput Miyoung noona.” jawab Yuri. Lee Sooman yang sedang mengobrol bersama Jiwoong terus menatap Yuri dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Tunggu.. murid SMP ini adiknya Miyoung?”

“Ne..” jawab Jiwoong.

Lee Sooman menjentikkan jarinya sambil tersenyum lebar. “Kalau begitu kau saja yang menjadi modelku.”
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>END

Annyeong ^^

Ada yg nyangka ga kalo hari ini tepat tgl 29 Mei 2014 wp ini ultah yg ke-2 :D
Hehe.. maaf ya aku lg ga bisa cuap2 banyak. Intinya terimakasih aja buat dukungan reader selama ini. Terimakasih udah mau setia nunggu walopun author disini adalah author paling malas sedunia kekeke~

Love you all