Love Trip (2nd of 2-END)

Tittle : Love Trip
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance
Lenght : Twoshot
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri, Tiffany Hwang, and Ok Taecyeon

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari komik berjudul My Best Rival is My Best Friend karya Yukari Kawachi.

Love Trip
.
.
.
.
.

Acara… tanda tangan?

“Jadi artinya di Jerman bukumu juga terbit, begitu?” Jessica menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Eh, Jessie tidak ada ya? Buku yang sudah diterjemahkan?” jawaban Tiffany membuat Jessica semakin kesal. Jessica tau, sejak awal dia seharusnya tak mengajukan pertanyaan itu. Pada dasarnya Tiffany memang tukang pamer -pendapat yang didasari rasa iri.

Selain Tiffany, Jessica juga bertemu dengan kepala redaksi Lee -yang setengah botak. “Eh.. kalau tidak salah kamu itu…” Lee Sooman tersenyum saat melihat Jessica tapi sedetik kemudian pria paruh baya itu menggaruk kepalanya, bingung.

“Siapa ya?”

“Jessica Jung! Jangan lupa dong!”

Mengingat pemimpin redaksi yang sudah berbaik hati memberinya kesempatan sebenarnya sebagai penulis amatiran Jessica tau dia tak pantas mengatakan hal ini tapi mau bagaimana lagi, maka dari itu dengan segenap keberanian yang dimilikinya…
“Maafkan saya.. sebenarnya naskahnya belum selesai.” Jessica membungkukkan tubuhnya. Lee Sooman lantas menepuk pundaknya sambil tertawa ahjussi.

“Tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan.”

“Bapak pemimpin redaksi.” Jessica jadi terharu.

“Soalnya penulis yang dapat menggantikanmu banyak sekali.” lanjut Lee Sooman tanpa rasa bersalah. Alasan menyakitkan, kenyataan memang pahit -sekali lagi.

Setelahnya Tiffany beserta pemimpin redaksi Lee pamit karena akan pergi ke restoran elit untuk malan siang. Tiffany agak kesulitan berjalan karena fans-fansny sibuk meminta foto dan tanda tangan. Perbedaan yang signifikan sekali padahal Jessica juga penulis manhwa. Hal yang lebih mengejutkan lagi ternyata Taecyeon -pemandu wisata yang keren itu- merupakan fans Tiffany juga.

“Mestinya aku juga bawa bukumu untuk di tanda tangani, bodohnya aku..”

“Gwenchana, hal seperti itu tidak perlu dipikirkan.” jawab Tiffany malu-malu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Memikirkan Tiffany dan kepala redaksi yang akan makan di restoran elit membuat mood jelek saja, karena itu Jessica memutuskan akan kembali membuat moodnya bagus. Dengan semangat Jessica menarik tangan Yuri, gadis itu bertekad apapun yang terjadi mereka harus mendapatkan restoran bagus -yang sedikit murah- lalu mendapat tempat duduk khusus dengan pemandangan bagus.

Setelah mencari cukup lama, akhirnya pilihan Jessica jatuh pada restoran bergaya Eropa modern dengan hiasan pohon natal di samping kiri dan kanan pintu masuknya. Tapi sepertinya mendapat tempat duduk yang bagus saat jam makan siang seperti ini agak sulit dilakukan. Untung saja mereka bertemu Taecyeon yang dengan senang hati berbagi mejanya. Taecyeon melambaikan tangannya, Jessica berlari ke arah laki-laki itu dengan semangat sampai melupakan kehadiran Yuri -lagi- namun kesenangannya tak berlangsung lama saat Jessica tau kalau ternyata Tiffany ada juga disana. Gadis itu duduk tepat di samping Taecyeon.

“Toh makan dengan pemimpin redaksi juga ngga asik jadi aku kesini deh..”

“Oh begitu.”

Tiffany menyadari jika Jessica terus memandang Taecyeon saat lelaki itu memanggil pelayan. “Hei Jessie.. kenapa tampangmu begitu? Kamu kan bersama Yuri?” Tiffany berbisik padanya. Jessica tersenyum canggung. Ya, tentu saja Jessica tau tapi entah kenapa rasanya ada yang kurang.

Sementara itu wajah Taecyeon yang sedang memesan makanan berubah pucat saat pelayan berbicara padanya. Jujur saja Taecyeon tidak mengerti apapaun yang dikatakan si pelayan maupun apa yang tercatat di buku menu.
“Kalau bahasa Perancis aku mengerti tapi kalau bahasa Jerman..” Taecyeon pasrah. Dia merasa gagal menjadi seorang pemandu wisata, untung saja Yuri bisa mengatasi permasalahan itu.

Tiffany dan Taecyeon dibuat takjub sementara Jessica baru ingat, sebenarnya sejak bulan April lalu Yuri bekerja sebagai pegawai perusahaan perdagangan dan di kantornya Yuri lebih sering berbahasa Jerman.

“Aku baru pertama kali melihat Yuri berbicara sebanyak itu.” komentar Tiffany. Jessica tersenyum padanya, meski begitu Jessica jadi curiga, jangan-jangan Yuri itu jarang bicara karena sebenarnya dia lebih pintar berbahasa Jerman daripada Korea.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Tunggu sebentar aku mau ke kamar kecil dulu.” kata Jessica. Taecyeon sudah kembali ke rombongan sementara Yuri dan Tiffany memutuskan untuk menunggu. Keduanya menyandarkan punggung mereka di tembok sambil sedikit berbincang.

“Aku benar-benar kaget lho, masa bisa kebetulan bertemu di Jerman. Kalau begini kan jadi tidak jauh berbeda dengan Korea.” Yuri menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Tiffany.

“Hebat ya..” puji Yuri.

“Mengadakan acara bagi tanda tangan di luar negeri? Terimakasih ya.. tapi sebenarnya aku juga serasa mimpi.” jujur Tiffany. Keduanya berbincang cukup lama sampai Tiffany memutuskan untuk mengundang Yuri menghadiri Chritsmas Eve di Vesthall.

“Acaranya dari jam satu.. kalau kamu mau, datanglah bersama Jessie..”

“Hmmm..”

“Lihat-lihat saja pun ngga apa-apa kok! Mau ya?”

“Akan aku pikirkan.. hatchim!!!”

“Yuri kamu masuk angin?”

“Oh.. aniyo.”

“Tapi ngomong-ngomong Jessie lama ya?”

“Dia memang selalu seperti ini.” Tiffany tersenyum mendengar tanggapan Yuri. Dari dulu, Tiffany selalu berpendapat kedua orang ini adalah pasangan yang manis.

“Eh, ngomong-ngomong pemandu wisatanya keren sekali.. kamu juga tidak boleh kalah.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Munchen, Jerman

Lagi-lagi di dalam bis Jessica tertidur. Munchen adalah ibukota wilayah Bayern yang terletak di sebelah selatan negara Jerman. Walau dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat perekonomian yang paling baik kita takkan menemui gedung-gedung pencakar langit seperti kota-kota metropolitan lain di dunia. Penduduk kota itu memang tidak menghendakinya. Bangunan-bangunan lawas masih banyak yang terawat dengan baik, meski sebagian sudah dialih fungsikan. Salah satu tujuan wisata paling terkenal di Munchen adalah kastil Ninvenburg.  Istana ini rampung pada tahun 1664 dan disebut sebagai istana musim panas keluarga Vittelsbach.

Setelah turun dari bis Jessica terus mengeluh karena pinggangnya pegal. “Mungkin karena bisnya sempit.” katanya, tapi Yuri tau alasan seaungguhnya apalagi kalau bukan karena cara tidur kekasihnya yang ‘unik’.

Hal yang dialami Jessica tentu saja berbeda dengan yang dialami Tiffany, gadis itu datang dengan menggunakan limosin yang tentu saja jjauuhhh lebih nyaman.
“Soalnya jalan-jalan dengan bapak pemimpin redaksi juga nggak menyenangkan jadi aku memutuskan untuk ikut kegiatan kalian.”

Di dalam kastil…

“Hebatnya! Pelapis dindingnya emas dan perak. Aku ingin tinggal di tempat seperti ini.” Jessica mulai berfantasi, membayangkan dirinya seorang putri.

“Aku jadikan acuan untuk renovasi rumahku nanti ah..” kata Tiffany tiba-tiba. That’s it!! Jessica tau, seharusnya dia tak pernah mengeluarkan perasaan jujurnya.

Di dalam istana ini yang paling megah adalah ruang galeri lukisan-lukisan wanita cantik. Disana terdapat sekitar ribuan lukisan.

“Yuri ayo kita foto di depan lukisan wanita cantik itu.”

“Lebih baik kamu saja Sica.”

“Hah? Kenapa?”

“Lukisannya akan kelihatan lebih cantik nantinya.”

“Ya!! Maksudmu apa Kwon Yuri?!”

Tiffany yang sedari tadi memperhatikan keduanya berusaha keras menahan tawa.

Setelah kunjungan kastil selesai, Taecyeon lantas membebaskan para peserta tour untuk makan dimana saja. “Jangan lupa untuk berkumpul kembali di tempat ini jam 2 siang..”

Jessica sibuk memperhatikan sekeliling, mencari Yuri yang tak kunjung terlihat. Setelah peserta tour bubar Jessica melihat Yuri yang baru keluar dari toilet umum.

“Yuri-ah kamu sedang apa? Nanti kita ketinggalan.” heboh Jessica -seperti biasa.

“Kajja, kalau kita tidak cepat makan siang nanti terlambat untuk kumpul disini.”

“Aku mau kembali ke hotel.” ucap Yuri.

“Hah?” Jessica memastikan jika dirinya tak salah dengar.

“Mau kembali? Tapi kata Taecyeon setelah ini kita masih akan ke museum..”

“Maaf saja, soalnya aku tidak berminat pada lukisan-lukisan.. sampai jumpa.”

“Lagi-lagi dia seperti itu..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Museum Alte Pinakothek, Munchen, Jerman

Sebenarnya ada tiga museum seni rupa di kota ini, yaitu, Alte Pinakothek, Neue Pinakothek, dan Pinakothek der Moderne. Jika museum Neue Pinakothek mengkhususkan kepada seni rupa modern Jerman dan Eropa sedangkan museum baru Pinakothek der Moderne -yang letaknya bersebrangan dengan kedua museum lainnya- memberikan penekanan kepada seni desain modern, entah itu berupa seni rupa, seni desain produk, maupun seni desain bangunan atau arsitektur. Sedangkan museum Alte Pinakothek yang Jessica kunjungi mengkhususkan kepada koleksi seni lukis klasik Jerman dan Eropa.

Alte Pinakothek merupakan museum yang umurnya paling tua. Dibangun atas perintah Raja Bavaria Ludwig I dan dibuka pada tahun 1836. Fitur menarik dari galeri ini adalah pencahayaan ruangan berasal dari atap bangunan yang tembus cahaya sehingga memberi efek dramatis. Museum ini memajang lukisan-lukisan dari abad pertengahan hingga penghujung zaman Rokoko. Mahakarya Leonardo da Vinci termasuk yang dipamerkan di Alte Pinakothek.

Jessica melanjutkan tour tanpa kehadiran Yuri dan hal itu agak menyulitkan. Tentu saja karena bahasa Jerman-nya yang pas-pasan atau lebih tepatnya tidak bisa sama sekali Jessica jadi tidak bisa makan siang karena tak tahu caranya memesan. Saat-saat seperti itu lukisan-lukisan makanan yang ada disana jadi terasa begitu nyata di mata Jessica -mungkin ini efek kelaparan.

“Enaknya..” gumam Jessica, tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh lukisan. Saat itu juga alarm berbunyi diiringi beberapa petugas keamanan yang menghampirinya. Di galeri ini semua lukisan memang dilengkapi alat sensor yang akan berbunyi jika tersentuh. Jessica meruntukki dirinya sendiri, seharusnya dirinya mendengarkan penjelasan Taecyeon di awal tadi dengan lebih sunguh-sunguh. Kalau sudah seperti ini kan jadi merepotkan saja. Berbicara soal Taecyeon kali ini lelaki tersebut menjadi pahlawan untuknya, karena dengan senang hati Taecyeon membantunya menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.

“Untung saja mereka mengerti bahasa inggris..” lega Taecyeon.

“Gomawo..” ucap Jessica malu-malu.

“Gwenchana.. tapi sepertinya Jessica-ssi suka sekali terlibat masalah, apa aku benar?”

“I-itu…”

“Aku cuma bercanda.” Taecyeon tertawa setelah mengatakannya sementara Jessica sibuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Sepanjang sisa tour Jessica menghabiskan waktunya bersama Taecyeon. Penilaian Jessica pada lelaki bertubuh kekar itu bertambah satu poin.

“Jessica-ssi coba berdiri di samping lukisan itu!”

“Disini?” Jessica memastikan, Taecyeon menganggukkan kepalanya mantap, maka dengan ragu Jessica berdiri di samping lukisan salah satu Putri Eropa. Sebenarnya Jessica juga tidak tau kenapa Taecyeon menyuruhnya berdiri disitu.

“Ternyata benar dugaanku… kalian sama cantiknya.” ternyata untuk itu, Taecyeon menggombalinya, berbeda sekali dengan Yuri. Tak pelak gadis berambut pirang tersebut pun kembali tersipu-sipu.

“Apa kamu suka Cezzane?” Taecyeon bertanya sembari kembali memarekan senyumnya, membuat Jessica gugup saja. Tak sampai disitu, Taecyeon mulai berani mendekatkan wajahnya. Jessica langsung merinding menyadari posisi mereka saat ini. Dari jarak sedekat ini Jessica baru sadar jika iris mata Taecyeon berwarna cokelat terang, sementara milik Yuri berwarna hitam kelam warna yang sangat Jessica sukai.

“Apa penulis komik suka lukisan seperti itu?”

“Ah.. i-iya.”

“Tapi aku.. aku lebih suka lukisanmu. Sentuhan penamu.” Sejak insiden di pesawat itu Jessica bukannya tidak menyadari jika Taecyeon menunjukkan ketertarikan padanya tapi Jessica tidak sangka lelaki itu bahkan menunjukkannya secara terang-terangan.

Tiffany yang saat itu kebetulan berpapasan dengan keduanya tanpa ragu langsung menarik Taecyeon menjauhi Jessica.

“Tuan pemandu wisata tolong jangan pernah sentuh-sentuh sahabatku, apalagi dia sudah punya kekasih!” kata Tiffany tegas sambil bertolak pinggang. Melihat keseriusan di mata Tiffany, Taecyeon hanya bisa mengusap tengkuknya dengan canggung.

“Kalau sama aku boleh.. aku masih bebas.” sedetik kemudian Tiffany merangkul lengan Taecyeon dengan mesra, ekspressi suramnya pun berganti ceria. Taecyeon pasrah saat Tiffany terus menyeretnya, disisi lain Jessica masih mematung di tempatnya.

Sebenarnya ada apa denganku?

Di kamar hotel yang mereka tempati, Yuri masih bergelung di balik selimut tebalnya. Termometer di tangannya menunjukkan angka 38,5°C. Padahal Yuri sudah minum obat tapi panas tubuhnya tak kunjung turun.

“Hatchim!!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Aku pulang..” Jessica langsung menemukan Yuri yang tengah berbaring di kasur dengan posisi membelakanginya. Gadis tanned itu hanya menggumam untuk menyambut kedatangan Jessica. Jika ditanya apakah Jessica masih kesal pada kekasihnya jawabannya tentu saja iya.

“Museumnya bagus sekali.. dan aku mau berterimakasih berkatmu aku bisa keliling jalan-jalan bersama Taecyeon yang keren itu.” Jessica berkata sambil membuka pintu lemari, berniat mengganti bajunya. Yuri masih betah di posis sebelumnya.

“Dia itu tampan, sopan, pembicaraannya menarik dan membuat hatiku berdebar-debar. Taecyeon juga berusaha mendekatiku karena mau menciumku..”

“Bahkan di depan wisatawan asing!! Ya… mungkin sudah terbiasa dengan adat kebiasaan asing..”

“Oh iya.. Taecyeon itu berkata padaku aku sama cantiknya dengan Putri Eropa.” Jessica terus bicara tanpa henti, tujuannya hanya satu sebenarnya, gadis itu ingin tau bagaimana reaksi Yuri. Namun yang didapatnya tidak seperti yang Jessica harapkan.

“BERISIK!!” Yuri malah membentak Jessica, untuk pertama kalinya. Jessica menggigit bibir bawahnya saat sesuatu terasa ingin tumpah di pelupuk matanya.

“Tidak usah berteriak seperti itu!! Aku juga mengerti kalau ada aku cuma mengganggu.” Jessica merapikan hoodienya lantas memasukan kertas naskahnya ke dalam amplop cokelat.

“Aku mau memperlihatkan gambarku pada Taecyeon dan aku sudah buat janji makan bersama.” lanjutnya.

“Bersantai-santailah.” jawab Yuri.

Jessica masih berdiri di depan pintu yang sudah setengah terbuka sambil menatap punggung Yuri. Berharap gadis tanned tersebut memberikan tanggapan lain dari sekedar ‘Bersantai-santailah’ namun nihil. Yuri tidak mengatakan apapun lagi setelahnya. Barangkali Jessica memang tidak begitu berharga di mata gadis itu. Meskipun Jessica pergi dengan laki-laki lain Yuri tidak merasa apa-apa?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica dan Taecyeon mengunjungi restoran yang berseberangan dengan hotel yang mereka tempati.

“Jessica-ssi benar-benar tidak apa-apa kan? Aku sebenarnya merasa tidak enak pada pacarmu..”

“Dia bukan pacarku kok! Dia asistenku.. sudah pendiam, dingin, moodnya jelek… aku jadi malas.” Jessica menanggapi pertanyaan Taecyeon dengan jawaban berapi-api, hal itu membuat Taecyeon tertawa kecil. Sudah dingin bertengkar melulu, biar bersama-sama juga tidak menyenangkan, batin Jessica.

“Jauh lebih menyenangkan bersama Taecyeon-ssi.”

“Jinja?”

“Iya serius!! E-eh.. aku ini bicara apa..” Jessica tersipu malu. Taecyeon kembali tersenyum, kali ini lelaki itu mengangkat gelas berisi wine di tangannya.

“Toast!”

Jessica menatapnya sebentar sebelum akhirnya ikut tersenyum dan mengangkat gelasnya. “Toast!”

Setelah makan malam, Taecyeon mulai melihat-lihat naskah Jessica dan memberikan penilaiannya -yang sebagian besar pujian. Meski bukan berasal dari seorang ahli seni Jessica cukup merasa senang akan hal itu.

“Sebenarnya temanku yang bernama Tiffany lebih hebat lagi..”

“…. Taecyeon-ssi kalau sudah sampai Korea nanti aku kirimkan bukunya ya?”

Di kamar hotel mereka Yuri masih demam, Yuri juga baru sadar jika dirinya sudah hampir menghabiskan lebih dari setengah kotak tissue. Malam sudah larut namun Yuri tak kunjung bisa memejamkan matanya karena Jessica belum pulang. Mengingat betapa cerobohnya Jessica, Yuri jadi lebih mengkhawatirkannya.

Selesai dari restoran Taecyeon mengajak Jessica pindah ke Beer Hall. “Tempat itu sangat terkenal di Munchen. Pernah dengar yang namanya Hoffbroy House, tidak?”

Taecyeon dan Jessica berjalan bersisian dan seperti yang Jessica lihat sebelumnya, pemandangan disini pun di dominasi hiasan-hiasan natal. Melihat pohon natal yang dipajang di depan sebuah pusat perbelanjaan membuat Jessica menghentikan langkah kakinya untuk sejenak. Gadis blonde itu baru sadar jika Chritsmas Eve itu besok. Padahal sebelumnya Jessica sudah berencana menghabiskan Christmas Eve yang romantis bersama Yuri.

“BERISIK!!”

“Tidak usah berteriak seperti itu!! Aku juga mengerti kalau ada aku cuma mengganggu.”

Mestinya semuanya bukan begini…

“Jessica-ssi gwenchana?” Taecyeon menepuk pelan pundak gadis di sebelahnya saat menyadari Jessica melamun.

“Iya.. aku baik-baik saja.”

Dari kejauhan dua pria asing sedang memperhatikan keduanya. Saat keduanya lengah kedua pria itu tak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung mengambil tas Jessica. Jessica tentu saja mempertahankan benda miliknya dengan sekuat tenaga, mereka sempat tarik menarik.

“JESSICA!” Taecyeon menjadikan tubuhnya sebagai penghalang saat salah seorang pria akan menyerang Jessica. Perkelahian pun tak dapat dihindarkan tapi karena kalah jumlah pada akhirnya Taecyeon kalah. Lelaki itu tersungkur setelah mendapat tendangan dan beberapa pukulan di wajahnya. Tubuh Taecyeon menghantam beberapa box kayu sebelum jatuh ke tanah. Jessica berteriak histeris.

“Taecyeon-ssi ireona!!”

Kedua pencopet itu mulai berlari namun seseorang kembali menghalangi mereka. Untungnya kedua pencopet itu kali ini berhasil dilumpuhkan.

“Yuri…”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica duduk di tepian kasur sambil menangis sementara Yuri berlutut di hadapannya. “Aku benar-benar takut.. kalau saja Taecyeon tidak menolongku aku pasti sudah terbunuh.”

“Lalu isi tasmu apa ada yang hilang?” Yuri bertanya padanya. Jessica mengecek isi tasnya sambil masih terisak. Hidungnya juga memerah karena terlalu banyak menangis.

“Dompet, ponsel, pasport… semuanya ada.”

“Sica.. naskahnya?”

Jessica tersadar, benar juga, naskah itu bagaimana Jessica bisa lupa? Naskah yang sudah susah payah Jessica kerjakan bahkan di saat liburan sekalipun. Bagaimana kalau sampai hilang?

“Waktu itu kamu benar-benar bawa kertas naskah kan?” Yuri kembali bertanya padanya. Jessica masih berpikir keras.

“Pasti di bawa pencopet itu!” panik Jessica. “Bagaimana ini Yul? Tamatlah riwayatku..” tangisan Jessica semakin keras.

“Payah kamu.. itu akibatnya terlena main dengan laki-laki.” Yuri menggelengkan kepalanya. Jessica menghentikan tangisnya lantas menatap Yuri dengan pandangan kesal dan kecewa. Bagaimana bisa Yuri berkata seenteng itu?

“Maaf saja, soalnya aku tidak berminat pada lukisan-lukisan.. sampai jumpa.”

“…..terlena main dengan laki-laki.”

“BERISIK!!”

“Bersantai-santailah.”

“Ja..hat..”

Yuri bahkan tidak sadar jika sikapnya selama inilah yang membuat Jessica begitu. Yuri sama sekali tidak meladeninya. Yuri sama sekali tidak lembut. Yuri sama sekali tidak mengatakan apa-apa.

“Kamu yang membuatku berbuat begitu kan?!”

….. karena Yuri membuat Jessica merasa kesepian dan… merasa tidak diinginkan.

“Y-yuri.. apa selama ini kamu benar mencintaiku?”

“S-sica..” Yuri berusaha menjelaskan namun Jessica terlanjur mendorong tubuhnya.

“Keluar!!”

“Aku tak bisa bersamamu lagi!!” Jessica terduduk di lantai dan menangis keras. Gejolak perasaan yang saat itu mereka rasakan membuat dada keduanya serasa sesak dan sulit bernafas. Yuri berbalik dan pergi, jika memang Jessica menginginkannya pergi maka itu yang akan Yuri lakukan.

Sosok Yuri terlihat buram karena saat terakhir Jessica melihatnya, air mata gadis blonde itu tak berhenti mengalir. Yuri benar-benar pergi meninggalkannya, tanpa pembelaan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Malam itu Yuri berdiri di pinggiran sungai sambil terus berpikir. Seingatnya, kedua pencopet yang dihajarnya melarikan diri tanpa membawa apa-apa. Jessica yang masih termenung lantas mendengar bel kamarnya di tekan, Jessica bergegas membuka pintu karena mengira itu Yuri.

“Taecyeon-ssi?” dugannya salah. Orang itu Taecyeon. Setelah kejadian tadi lelaki itu memang langsung kembali ke kamarnya. Jessica jadi tidak sempat berterimakasih. Sebagai balas budi, Jessica berinisiatif untuk mengobati luka-lukanya. Dengan perlahan gadis itu menuntun Taecyeon ke kamarnya lalu mendudukannya di kursi. Taecyeon baru sadar jika Jessica sendirian di kamar itu, gadis tanned yang selalu bersamanya tidak ada di manapun. Mata Taecyeon lantas beralih pada kertas-kertas kosong di atas meja, sepertinya Jessica sedang membuat naskah saat Taecyeon datang karena penanya juga ada di samping kertas-kertas kosong tersebut.

Tunggu dulu! Pena!

“Mestinya kalau obat oles aku bawa.” gumam Jessica sambil memilah isi tasnya. Namun gerakannya terhenti saat Taecyeon memegang tangannya.

“Jessica..”

“T-taecyeon?” Posisi ini, sama seperti waktu di museum waktu itu. Jessica jadi gugup, meskipun dia baru putus dengan Yuri hal seperti ini tentu saja tak bisa dibenarkan.

“Tolong tusuk aku.”

“Eh?”

“Dengan pena ini.” Taecyeon tersenyum sambil mengangkat pena gambar Jessica dengan tangannya.

“Tolong Jessica-ssi seperti waktu itu. Aku tidak bisa melupakan rasanya sewaktu tertusuk pena ini.” ucap Taecyeon sambil terus memaksa Jessica memegang pena tersebut dengan kedua tangannya.
“Tusuk lebih keras lagi.. berkali-kali..”

“Tolonglah Jessica-ssi!” Taecyeon terus memaksanya sementara Jessica tidak menemukan cara untuk lari dari cengkraman Taecyeon. Siapa sangka jika lelaki bertubuh kekar ini… seorang maniak. Jelas-jelas dia ini ‘sakit’.

“Jessica malam ini adalah ratuku.. ayo perlakukan aku sesukamu!”

“Shireo!!!”

“Apa yang kau lakukan?!” Yuri tiba-tiba menarik kerah baju Taecyeon lalu memukulinya. Setelahnya gadis tanned itu melemparkan Taecyeon keluar. Taecyeon yang sudah babak belur masih terbaring di luar kamar keduanya sambil tertawa kecil dan bergumam.

“Aigoo.. menyenangkan.”

“Kembalilah ke kamarmu sendiri!” Yuri berteriak dan membanting pintunya.

“G-gomawo.” Jessica berkata pada Yuri yang berdiri di depannya. Gadis blonde itu menunduk dan memainkan jari-jarinya. Jessica pikir, mungkin saja Yuri kembali karena gadis tanned itu sudah merenungkan semuanya.

“Sica..”

“Ne?”

“Hari ini kamu makan dimana?”

“Apa?!”

“Kamu makan dimana dengan laki-laki itu?”

“Nama restorannya ‘Haag’..”

“Oke, aku sudah tau.”

“Apa maksudmu sudah tau.. Yuri?”

Yuri sudah pergi sebelum Jessica bertanya lebih jauh. Yuri memang orang terandom yang pernah Jessica kenal.

“Apa-apan orang itu. Untuk apa dia kembali?!” karena kesal Jessica memutuskan untuk menendang tempat sampah di sudut ruangan, membuat isinya berhamburan kemana-mana.

“Eh? Ini… obat flu..”

“Tissue tissue ini..”

Kwon Yuri…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi-paginya Jessica terbangun masih tanpa kehadiran Yuri. Jessica menghela nafas beratnya sampai matanya menangkap sesuatu yang sangat familiar di bawah pintu. Amplop naskahnya, terdapat tulisan tangan Yuri juga di luar amplop itu.

‘Tertinggal di restoran..’

“Sica kamu itu kenapa sih? Jika selesai makan pasti ada yang tertinggal.”

Jessica lantas memeluk naskah itu di dadanya. Si bodoh Kwon Yuri itu pasti menghabiskan waktu semalaman untuk mencari ini.

Di Vesthall -tempat Tiffany bagi-bagi tanda tangan fansnya sudah mengantri sejak lama. Selain tanda tangan panitia juga membagikan petasan cracker yang akan dibunyikan selesai acara.

“Selamat siang.. siapa namanya?”

“Jessica.” Tiffany yang sedang menandatangani bukunya mendongakkan kepala untuk memastikan. Ternyata gadis ini benar-benar Jessica sahabatnya, dengan penampilan yang begitu berantakan. Matanya sembab seperti sudah menangis semalaman. Tiffany langsung tau jika ada sesuatu yang tidak beres.

“Aku putus dengan Yuri..” jelasnya seolah bisa membaca pikiran Tiffany.

“Dia tidak akan kembali… bagaimana ini Fany-ah?” Jessica menangis putus asa. Untuk kali ini Jessica rela membuang semua rasa gengsinya untuk Yuri. Kalau saja Yuri ada disini.

Tunggu dulu! Chritsmas  Eve!

“Acaranya dari jam satu.. kalau kamu mau, datanglah bersama Jessie..”

“Lihat-lihat saja pun ngga apa-apa kok! Mau ya?”

Tiffany mengambil microphone lalu berdiri. Semoga saja cara ini berhasil.

“Kwon Yuri..” Tiffany mulai berbicara dengan pengeras suara di tangannya.

“Sekarang ini disini ada anak yang bodoh dan egois… tetapi..”

“Sebenarnya dia jujur dan manis… sekarang ini sahabatku yang itu datang disini!”

“Dia bilang ingin ketemu kamu sekali lagi!!”

“Kalau dengar.. tolong bunyikan petasan crackernya!!” Tiffany melihat ke sekeliling dengan gusar saat bunyi yang di tunggu-tunggunya tak kunjung terdengar. Jessica menundukkan kepala seraya mengepalkan kedua telapak tangannya.

“Sudahlah Fany..” pasrah Jessica.

“Tunggu sebentar!!” Tiffany belum menyerah.

Jessica menghela nafasnya bersamaan dengan cairan bening yang meluncur bebas di kedua pipinya. Bila nyatanya mereka berdua sudah tak mungkin, apa yang bisa Jessica perbuat? Tiffany menatap iba sahabatnya.

“Aku yang bodoh..”

“….aku tidak sadar pada sesuatu yang penting. Yang kurang dalam hubungan kami itu bukan kebaikan hati Yuri, tetapi kebaikan hatiku..”

TAARRR!!

Jessica dan Tiffany sama-sama menoleh ke sumber suara. Yuri muncul dari balik kerumunan orang-orang sambil tersenyum. Jessica berlari kearah gadis tanned itu lantas memeluknya dengan begitu erat.

“Yuri-ah.. mianhe..” kata Jessica tulus. Yuri mengangukkan kepalanya lalu menempelkan keningnya dengan Jessica. Melihat sahabatnya yang telah kembali hidup Tiffany berinisiatif memeriahkan suasana dengan menyalakan petasan cracker di tangannya. Fansnya melakukan hal yang sama.

Yuri dan Jessica saling pandang saat ribuan potongan kertas warna-warni berterbangan di sekeliling mereka. Semuanya terasa sempurna, apalagi saat mereka bersama. Yuri mendekatkan wajahnya, mengecup lembut bibir merah muda Jessica.

“Sebenarnya kalian tidak perlu melakukannya disini.. sungguh!” Tiffany menutup matanya sementara Yuri segera melepaskan ciumannya lalu tersenyum canggung ke arah Tiffany. Sementara Jessica sibuk menyembunyikan parasnya yang memerah dalam pelukan Yuri.

“Maaf terlambat.. sebenarnya tadi itu petasannya rusak.”

“Sudah tidak kupikirkan.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica dan Yuri akhirnya memutuskan untuk menghabiskan Chritsmas Eve di kamar hotel. Keduanya melihat pemandangan Munchen malam hari melalui balkon. Jessica berdiri di belakang pagar sementara Yuri memeluknya dari belakang.

“Meskipun perapian, makan malam maupun lilin, kue dan wine tak ada.. tetapi ini Chritsmas Eve yang indah ya?”

“Hmm.. aku suka..”

“Apa?”

“Sica..” kata Yuri malu-malu.

“Aku juga suka.. Yuri yang begini.”

Di lain tempat…

“Tiffany…”

“Tidak Taecyeon…hal seperti ini..”

“Ayolah.. tusuk aku lagi.”

“Aku tidak mau laki-laki seperti ini… huaaaaaa T.T”

Pada akhirnya,sesampainya di Korea Jessica baru sadar jika mereka -dirinya dan Yuri- tidak punya selembar pun foto berdua.
“Bagaimana ini? Padahal sudah susah-susah pergi ke Jerman.”

“Itu kan bukan masalah besar Sica.”

Demikianlah perjalanan yang agak lain ke Jerman.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Love Trip (1st of 2)

Tittle : Love Trip
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance
Lenght : Twoshot
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri, Tiffany Hwang, and Ok Taecyeon

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari komik berjudul My Best Rival is My Best Friend karya Yukari Kawachi.

Love Trip
.
.
.
.
.

Hari ini makan di bandara Incheon terasa spesial. Jessica sampai tidak sadar jika dirinya sudah menghabiskan semangkuk ramen, dua piring nasi goreng, serta dua gelas orange jus. Sementara Yuri  menggelengkan kepala melihat tingkah kekasihnya -yang mendadak kesurupan Sooyoung.

“Sica sudah waktunya berkumpul.” ucap Yuri. Seakan tersadar, gadis blonde itu tersentak lantas melirik jam tangannya sekilas. Gawat! Kenapa bisa sampai lupa? Dengan tergesa Jessica menelan suapan terakhir nasi gorengnya lalu berlari meninggalkan restoran dengan langkah terburu.

“Sica kamu itu kenapa sih? Jika selesai makan pasti ada yang tertinggal.” Yuri menyerahkan tas milik kekasihnya -tas yang dibeli saat mengunjungi pasar malam bulan lalu. Lebih tepatnya Jessica memaksa Yuri membelikan tas itu untuknya.

“Kalau perut kenyang, karena bahagia jadi cepat lupa.” sangkal Jessica. Padahal kenyataannya Jessica memang pelupa saja, sama sekali tidak ada hubungannya dengan keadaan perutnya. Bahkan Yuri yakin Jessica juga akan melupakan kehadirannya jika Yuri tidak bicara barusan.

Semuanya berawal dari minggu lalu, Jessica pulang kerumah dengan wajah sumringah.

“Sica kamu sakit?” tanya Yuri dengan nada khawatir.

“Ya!! Apa maksudmu?” Jessica merasa tersinggung. Yuri mengangkat bahunya cuek tapi karena terlalu bahagia Jessica tak begitu mempermasalahkan tingkah menyebalkan kekasihnya. Gadis blonde itu mengeluarkan brosur yang sudah dilipat di saku jaketnya dan menunjukkannya di depan wajah Yuri dengan semangat.

Brosur wisata. Perjalanan sepanjang Romantische Strasse di saat Natal. By Panda Travel dengan tulisan TOUR SUPER MURAH yang dicetak lebih tebal dan lebih besar dari tulisan lainnya. Benar-benar tipe Jessica -hemat.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica melambaikan tangannya ke arah rombongan Panda Travel yang sudah berkumpul lebih dulu. Seorang pemandu wisata bertubuh tinggi kekar meminta para peserta untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing.

“Yuri perkenalannya sudah dimulai.” Jessica menyikut perut Yuri yang berdiri di sebelahnya.

“Nama saya Taecyeon… pemandu wisata dari Panda Travel.” ucap Taecyeon sekalian tebar pesona.

“Cakepnya!”

“Keren!”

“Tapi kamu yang nomor satu chagiya!”

“Gomawo honey.. saranghae.”

Jessica bergidik ngeri saat menyadari rata-rata peserta tour ini adalah pengantin baru. Sudah lebih dari separuh peserta telah memperkenalkan diri mereka. Dari yang Jessica amati para peserta tour ini berasal dari bermacam wilayah serta berbagai profesi. Hal itu tentu saja membuat Jessica tak mau kalah.

“Selamat pagi!” ucap Jessica tersenyum lebar. Karena profesinya yang terbilang unik Jessica jadi merasa begitu percaya diri.

“Saya seorang penulis manhwa.”

“Ooohhhh.”

“Hebat! Penulis manhwa katanya.”

“Mau minta tanda tangan ah.”

“Dari majalah bulanan.. nama saya Jessica Jung.” lanjut Jessica.

Krik! Krik!

“Masa sih?”

“Kau mengenalnya?”

“Entahlah.”

“Dia pernah mengeluarkan buku?”

Sementara itu seorang peserta tour nampak frustasi, dan masih berpikir keras.

“Fansnya?”

“Itulah.. padahal aku maniak manhwa tapi tidak bisa ingat juga.”

Jessica merasa seseorang telah menamparnya dengan keras. Padahal gadis itu telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di dunia manhwa. Ironisnya karirnya tak kunjung menemui titik terang hingga kini. Hidup itu pahit memang.

Keadaan mulai kacau saat masing-masing peserta mulai sibuk dengan  diri mereka masing-masing. Taecyeon mengambil alih suasana dengan cara meminta peserta mengeluarkan paspor mereka sebelum keadaan menjadi lebih tak terkendali.

Pada akhirnya…

“Perkenalkan aku..” Yuri berusaha mengenalkan dirinya tapi tak seorang pun peduli. Sementara Jessica menunduk sambil memeluk kedua lututnya. Lagi-lagi, hidup itu pahit.

“Biar saja..” pasrahnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pesawat yang ditumpangi Jessica dan Yuri terbang ribuan kaki diatas permukaan laut. Keduanya akan berada di atas ketinggian tersebut selama 13 jam. Sebagai seorang penulis -yang tak kunjung terkenal- tentu saja Jessica takkan menyia-nyiakan waktu yang berharga tersebut.

“Kenapa kamu harus bawa kertas naskah segala?” heran Yuri yang duduk di sebelahnya.

“Itu karena aku tidak sempat.” jawab Jessica sambil terus menggoreskan garis-garis abstrak di kertas kehidupannya. Yuri tidak bertanya lebih jauh, gadis itu tau betul seberapa keras kepalanya Jessica jika sudah memutuskan sesuatu.

Jessica yang sedang serius berkutat bersama kertas naskah dan penanya kaget begitu pesawat berguncang. Karena ini pertama kalinya Jessica naik pesawat maka jutaan pikiran buruk pun bermunculan di kepalanya. Bagaimana kalau pesawatnya jatuh? Apa mereka akan mati?

“Huaaa.. mestinya aku lebih banyak bayar asuransi.”

Mendengar ada keributan -yang disebabkan Jessica-, Taecyeon sebagai pemandu wisata yang baik bermaksud memeriksa keadaan tapi laki-laki itu malah bernasib buruk. Tanpa sengaja Jessica menusuk punggung tangan Taecyeon dengan pena gambarnya sampai berdarah.

“M-mianhe.” sesal Jessica saat melihat Taecyeon yang kesakitan. “Gwenchana?” lanjutnya penuh rasa bersalah.

“Gwenchana.” Taecyeon tersenyum manis lantas menjilat darah di tangannya sambil berlalu. Aksi lelaki itu tentu saja untuk sesaat sukses membuat Jessica terpaku. Jessica terus memandang Taecyeon dengan wajah bodoh sampai laki-laki itu kembali ke kursinya -di paling belakang.

“Benar-benar keren. Tadi itu siapa ya?” tanya Jessica terpesona.

“Pemandu wisata.” jawab Yuri acuh.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Percaya atau tidak berada di udara selama 13 jam itu sangaattt membosankan. Apalagi jika kita tidak memiliki hal apapun untuk dilakukan, itu pula yang dirasakan Jessica. Padahal mereka baru pergi selama 6 jam -kalau Jessica tidak salah hitung- tapi kenapa rasanya sudah lama sekali. Sambil menunggu Jessica memutuskan untuk membuka-buka brosur panduan wisata yang dibawanya.

“Yul lihat ini! Orang-orang bilang natal di Jerman itu bagus sekali.” Jessica berkata dengan mata berbinar sementara Yuri memandangnya sambil bertopang dagu. Bagi Jessica yang harus rela menabung bertahun-tahun, melewati Chritsmas eve di luar negeri itu serasa mimpi.

“Saat natal di Jerman juga turun salju, lalu santap malam di restoran yang ada perapiannya..”

“… ditemani sinar lilin yang hangat kita akan minum wine…”

“Romantisnya.” gadis blonde itu memejamkan matanya sambil tersenyum sendiri.

“Yul.. natal kali ini kita royal sepuanya ya?” pinta Jessica penuh harap. Berharap Yuri akan mengiyakan permintaannya. Jessica sudah bertekad, meskipun perjalanan dengan paket super murah mereka harus menjadikan perjalanan ini mengesankan.

“Asalkan masih dalam taraf tidak memaksakan diri saja.” Jawab Yuri seadanya.

“Kenapa sih kamu itu orangnya sebegitu tidak punya mood?” Protes Jessica.

Semakin lama Jessica merasa udara dalam kabin semakin bertambah dingin. Mungkin berkisar belasan derajat celcius saja. Saat melihat kesisi kanan, depan dan belakang tempat duduknya Jessica kembali bergidik ngeri, inilah malasnya bepergian bersama pengantin baru, mereka selalu tebar kemesraan dimanapun berada. Apakah tidak ada cara menghangatkan diri yang lain selain saling memeluk. Jessica sebenarnya bukan tidak suka, gadis itu hanya merasa iri.

“Yul apa kamu kedinginan? Tangan dan kakiku serasa membeku.” Ucap Jessica sambil mengosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk menambah efek dramatis. Yuri sempat keheranan saat Jessica berkata seperti itu karena biasanya Jessica tak pernah bermasalah dengan cuaca dingin, bahkan di Korea Jessica pernah keluar rumah hanya memakai jeans dan T-shirt di bulan Januari. Sedetik kemudian Yuri melirik selimut di tangannya, gadis tanned itu mengerti sekarang.

“Selimut disini memang cuma satu, pakai saja..”

“….kalau aku merasa hangat karena sudah minum soju.”

“T-tapi-” Jessica berusaha protes.

“Aku mau tidur.” Kata Yuri sambil mulai memejamkan matanya. Jessica mendengus kesal sambil memeluk erat selimut di dadanya, tapi sebenarnya di banding kesal perasaanya lebih seperti… kecewa.

“Kwon Yuri payah.”

Baru satu jam tertidur Yuri dibangunkan karena guncangan pesawat. Gadis tanned itu melirik ke samping dan menemukan Jessica yang tertidur pulas dengan mulut yang sedikit terbuka, bahkan selimutnya sudah terjatuh di lantai. Yuri tersenyum lantas kembali menyelimuti kekasihnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ting!!

“Selamat pagi.. saat ini kami sedang mempersiapkan sarapan pagi…”

Pramugari mengumumkan kata-kata tersebut melalui pengeras suara. Jessica terbangun dan saat menyadari cara tidurnya yang berantakan gadis itu jadi gelagapan sendiri. Sesegera mungkin Jessica memperbaiki posisi duduknya dan merapikan rambutnya.

“Penampilanku tadi tidak ada yang lihat kan?” Tanyanya was-was, karena kalau ada tentu akan sangat memalukan. Jessica tersenyum melihat Yuri yang masih tertidur, wajahnya begitu damai.. seperti anak kecil.

“Selimutnya sampai jatuh. Tidurmu benar-benar jelek Kwon!” Jessica tertawa kecil.

Itu kan kamu Sica!!

Jessica memungut selimut di lantai dan bermaksud memakaikannya pada Yuri -seperti adegan di drama romantis- namun Yuri tiba-tiba terbangun.

“Ada apa?” Tanya Yuri saat melihat wajah Jessica yang begitu dekat dengannya.

“A-anu, selimutnya aku pinjam ya?” Aksinya tertangkap basah, untung saja Jessica -cukup- pintar mengalihkan pembicaraan. Gengsi juga kan kalau Yuri sampai tau.

“Semalam aku kedinginan sampai tidak bisa tidur. Kalau sampai aku masuk angin itu salahmu.” Lanjutnya.

“Kenapa aku?” Heran Yuri.

“I-ini sarapannya..” sementara itu pelayan yang membawa sarapan meletakkan nampan berisi makanan di meja keduanya dengan inisiatif sendiri karena tak mau merusak ‘romantisme’ yang mereka ciptakan.

“Sica makannya pelan-pelan saja.”

“Iya.”

Pagi itu Yuri merasa tubuhnya agak pegal dan mengigil. Bahkan sampai bersin.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Heidelburg, Jerman

Setelah turun dari pesawat Jessica, Yuri beserta peserta tour lainnya melanjutkan perjalanan mereka menuju kastil kuno Heidelburg menggunakan bis. Lagi-lagi karena tarif tour yang super murah tentu fasilitas yang didapat pun agak berbeda dari yang diharapkan. Heater di dalam bis rusak, membuat udara di dalam menjadi sangat panas, bahkan beberapa penumpang sampai memanfaatkan kesempatan ini untuk mandi spa.

“Apa boleh buat..” pasrah Yuri. Sementara Jessica sibuk mengipasi dirinya.

Pada tahun 1764, kastil Heidelburg ini diperbaiki dan sudah dua kali tersambar petir. Istana megah ini merupakan simbol sejarah negara dan terletak di lembah Neckar. Berdiri megah di tengah rimbunan pepohonan yang tertata apik.

“Yuri-ah kita seperti dalam film Harry Potter saja, iya kan?”

“Berhenti bermain dengan ranting pohon itu Sica-ya.”

“Ini bukan ranting pohon tapi tongkat sihir!”

Untuk mencapai kastil pengunjung harus melewati 303 anak tangga. Tapi semua kelelahan akan terbayar begitu sampai di puncak.

“Wwuaahh..” takjub Jessica. Benar saja, dari atas pemandangan kota terlihat sangat manis. Semua atap rumah penduduk dan bangunan lain di sekitar kastil semuanya berwarna jingga.

Meski banyak bagian istana yang hancur, namun beberapa di antaranya masih berdiri dengan megahnya. Dan sampai saat ini bangunan kastil yang tersisa masih dipertahankan. Bangunan yang sengaja hancur dibiarkan, sebagai bukti sejarah.

“Yul ambilkan foto ya? Ini latarnya…” ucap Jessica semangat sambil merentangkan kedua tangannya. Yuri memotret kekasihnya tepat saat gadis itu tersenyum kearah kamera -manisnya.

“Aku ingin lihat untuk oleh-oleh juga.. kajja!” Kali ini rasanya Jessica terlalu bersemangat. Padahal kalau memisahkan diri dari rombongan resikonya bisa tersesat. Yuri menghela nafasnya, meskipun sudah di luar negeri karakter Jessica sama sekali tidak berubah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Jadi ini ya gerbang Elizabeth yang terkenal itu?” tanya Jessica memastikan.

“Sudah jelas kan..” jawab Yuri.

Menurut kisahnya pada tahun 1675 Raja Friedrich V mempersembahkan ini sebagai hadiah ulang tahun untuk permaisurinya Ratu Elizabeth. Hebatnya lagi gerbang ini dibangun dalam semalam. Dan bagi pasangan yang berfoto di depan gerbang ini konon bisa bahagia.

“Wah.. katanya bisa bahagia. Kita juga foto bersama disana.. disana!”

“Itu kan cuma mitos Sica.”

“Dasar Kwon Yuri! Lagi-lagi bilang begitu. Makanya sampai kapanpun kita tak bisa bahagia.” Yuri memundurkan kepalanya saat Jessica tiba-tiba berteriak di depan wajahnya. Selain menarik perhatian pengunjung lain ternyata suara keras Jessica juga mampu menarik perhatian Taecyeon -lagi. Lelaki itu lantas menawarkan dirinya untuk memfoto Yuri dan Jessica.

“Anda yang dipesawat itu?” tanya Jessica dengan mata berbinar.

“Ok Taecyeon imnida.”

“Pemandu wisata.” timpal Yuri.

Melihat Taecyeon, Jessica jadi ingat kejadian di pesawat beberapa tempo lalu. “Maaf sekali waktu itu.. bagaimana lukanya?”

“Hmm.. itu tak usah dipikirkan.”

“T-tapi..”

“Kamu sudah ingat saja sudah merupakan sebuah kehormatan.” Jessica terpaku untuk beberapa saat kala Taecyeon memberinya sebuah wink.

“Mana kameranya, biar saya ambilkan fotonya.” Taecyeon mengulurkan tangannya dan membuat Jessica tersadar. Jessica juga sadar jika Yuri sudah menghilang entah kemana.

“Maaf saya panggilkan dulu.”

“Wae?” Yuri bertanya saat Jessica menyeret kerah bajunya.

“Katanya ada yang mau memotret kita.”

Setelahnya, Taecyeon mengambil foto keduanya di depan gerbang Elizabeth. Meski saat berfoto ekspressi Yuri tetap tidak berubah dan itu membuat Jessica kembali protes.

“Paling tidak waktu ambil foto senyum dong!”

“Chezee!” kata Yuri. Jessica menggelengkan kepalanya, “Tetap tidak berubah.”

Padahal sudah susah payah tapi saat mereka berfoto ada seseorang yang lewat di depan kameranya begitu saja. Alhasil wajah Jessica jadi tidak terlihat. Menyadari kesalahannya orang itu segera minta maaf.

“Gwenchana..” jawab Jessica, walau agak sedikit dongkol.

Tapi tunggu dulu, tidakkah penampilan orang ini terlalu mencolok. Perhiasan yang dikenakannya, pakaian, tas, sepatu, sampai parfum segala. Wangi ini.. wangi Parfum channel No. 17, tidak salah lagi. Satu orang yang Jessica kenal sangat setia dengan parfum ini… jangan katakan kalau orang ini..

“Tiffany?”

“Jessie?”

Sama seperti Jessica, Tiffany pun begitu terkejut bisa menemui Jessica di Jerman, apalagi bersama Yuri. Disisi lain Jessica membatin, kenapa rasanya dunia ini begitu sempit. Kalau begini rasanya jadi tidak ada artinya jauh-jauh datang menempuh perjalanan 13 jam.

“Kami sedang liburan. Kamu sendiri ada urusan apa ke Jerman?”

Tiffany berdehem sebentar, memang sedari tadi kalimat itulah yang ditunggu-tunggunya. “Aku.. ada acara bagi tanda tangan di Jerman.” jawab Tiffany sambil menunjukkan eyes-killer-smilenya.

.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Tadinya mau bikin oneshot tp karena kepanjangan makanya aku bagi 2. Dari dulu pengen bgt ngebuat komik ini jd versi YulSic akhirnya bisa juga. Moga pada suka.. 2nd part coming soon..

GuMiyoung (Yulti/Part 4)

Tittle : GuMiyoung
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Fantasy, Comedy Romance
Lenght : Chapter
Cast : Kwon Yuri, Hwang Miyoung and Other Cast

Song lyric by :
Taeyeon – Closer (OST. To The Beautiful You)
Taeyeon – Missing You Like Crazy (OST. King 2 Hearts)

Disclaimer : FF ini merupakan YulTi Version dari Drama
My Girlfriend is a Gumiho.

.
.
.
.
.

~GuMiyoung 4~

Taeyeon menarik nafas dalam-dalam. Rubah yang dicarinya sudah tak jauh dari sini. Dengan indera penciumannya yang jauh diatas rata-rata manusia biasa tentu Taeyeon dapat mencium keberadaan Gumiho dari jarak yang cukup jauh. Selain itu, belati yang kini berada dalam genggamannya pun terus bersinar, hal itu tambah meyakinkan Taeyeon jika buruannya memang sudah dekat.

Setelah kembali memasukan belati itu ke dalam saku jaketnya Taeyeon lantas turun dari mobil. Gadis itu berjalan kearah timur, mengikuti feelingnya namun begitu Taeyeon menemukan sang Gumiho tubuhnya langsung membeku.

Tidak mungkin.. Taeyeon pasti salah lihat…

Miyoung balas menatap wanita itu tajam, “Kembalikan..”

“A-apa?” Shin ahjumma tiba-tiba menjadi gugup. Miyoung
balas merebut kupon itu dari tangan Shin ahjumma tapi
karena Shin ahjumma tidak mau melepaskannya mereka
berdua berebut dengan sengit. Namum karena kekuatan
Miyoung yang lebih besar kupon itu berhasil direbutnya.
Shin ahjumma bahkan sampai heran bagaimana bisa
seorang gadis muda bisa sekuat itu, dan tatapannya, jenis
tatapan apa itu? Benar-benar gadis aneh.

Taeyeon sedari tadi menyaksikan kejadian itu dari
kejauhan, dan saat Miyoung berjalan ke arahnya Taeyeon
segera bersembunyi di balik pohon.

“Tiffany…” gumamnya tanpa sadar.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

10 years ago..

Dari balik jendela apartemennya Taeyeon menatap pemandangan Seoul malam yang nampak tak jua ingin tertidur. Gedung-gedung tinggi nan megah itu masih tak lelah bersinar. Mobil-mobil masih berlalu lalang, rasanya tak pernah sekalipun Taeyeon melihat jalanan di bawah sana nampak lengang, bahkan saat weekend sekalipun. Realitas hidup di kota besar tersebut membuat gadis itu mengeluarkan tawa hambarnya.

Sudah hidup lebih dari setengah abad, membuat Taeyeon begitu mengenal dunia ini dan berbagai macam penghuni di dalamnya. Semuanya palsu, karenanya Taeyeon lebih memilih untuk menyendiri. Semakin tidak ada orang yang mengenalnya rasannya semakin baik.

Kehidupan Taeyeon yang membosankan awalnya berjalan mulus seperti yang diharapkannya, sampai akhirnya gadis itu datang. Tiffany Hwang.

There are so many things I couldn’t say
You have never heard them before but
I’m not someone who just loves anyone I see

Because among the many people in this world
I could only see you

I am standing here as I only see you
After this love, I don’t really know what will happen
Just like child who is always this way,
Will you warmly hold me right now?

“Nona Hwang.. anda terlambat lagi.” Taeyeon menyilangkan kedua tangannya seraya berharap mahasiswi ‘kesayangannya’ memberikan alasan masuk akal. Di kampus ini Taeyeon dikenal sebagai dosen muda yang tegas dan sangat menghargai waktu, terlambat tak pernah ada dalam kamusnya. Tiffanya yang mengetahui hal itu hanya bisa tersenyum manis, menunjukkan eyes smile andalannya.

“Maaf Ssaem..” ucapnya.

“Kau boleh pergi sekarang… dan temui aku sesudah kelas selesai.” ujar Taeyeon serius.

“Mianhe..” Tiffany menundukkan kepalanya seraya menutup pintu kelas. Gadis bereyes smile itu berlari kecil meninggalkan kelas sambil melompat-lompat gembira. Memang itu yang diharapkannya. Tiffany sengaja datang terlambat supaya Taeyeon menghukumnya karena dengan begitu dirinya bisa berduaan dengan Taeyeon, dosen yang disukainya.

Tiffany memang sudah beberapa kali menyatakan perasaannya, walau Taeyeon tak pernah menanggapinya gadis bereyes smile itu tak pernah menyerah.

Though someday your name might become strange
My heart will remember all the memories
Even if a painful separation comes between us
Let’s not think about that today

Because among the many people in this world
I could only see you

I am standing here as I only see you
After this love, I don’t really know what will happen
Just like child who is always this way,
Will you warmly hold me closer?

Ting nong! Malam-malam sekali ada yang membunyikan pintu apartemennya. Taeyeon yang kala itu sedang membaca bukunya lantas menghentikan aktifitasnya sejenak. Taeyeon menyilangkan kedua tangannya di dada saat melihat wajah siapa yang ada di layar intercom, siapa lagi kalau bukan Tiffany. Gadis itu bahkan sampai rela pindah ke dekat apartemen Taeyeon hanya untuk membuktikan keseriusannya.

“Kim Ssaem..” ucap Tiffany lalu tertawa kecil. Taeyeon mendengus kesal, dia pasti mabuk.

“Pulanglah ke rumahmu!” perintah Taeyeon lalu bermaksud mematikan sambungannya namun Tiffany mencegahnya.

“Tunggu!” ucap gadis itu diselingi cegukkan. Dia pasti sudah sangat mabuk sampai tidak bisa berpikir, bahkan penampilannya sangat berantakan. Sama persis seperti seorang pengantin yang ditinggal pasangannya di altar.

“Apa?” tanya Taeyeon kesal. Dirinya sungguh tidak punya waktu untuk menghadapi Tiffany dan kelakuan tidak jelasnya.

“Aku akan mengatakan ini untuk terakhir kalinya dan kalau masih tidak berhasil aku menyerah… sungguh Ssaem.” mohon Tiffany.

“…………………”

“Kumohon Ssaem.. keluarlah.” Tiffany menangkupkan kedua tangannya -memohon- seraya memasang wajah yang begitu memelas. Karena tidak tega akhirnya Taeyeon menuruti permintaan gadis tersebut.

“Saranghae.” tepat setelah Taeyeon membuka pintu apartemannya, Tiffany langsung mendaratkan ciuman di bibirnya. Tidak ada yang bisa Taeyeon lakukan selain membeku di tempatnya.

Tiffany memejamkan matanya dan begitu menikmati ciuman tersebut. Jelas sekali kalau gadis itu mencurahkan seluruh perasannya, perasaannya untuk Taeyeon selama ini. Tiffany melingkarkan tangannya di leher Taeyeon seraya memperdalam ciuman mereka, jantung Taeyeon berdebar keras. Pada akhirnya Taeyeon ikut memejamkan matanya dan membalas permainan Tiffany.

Taeyeon membiarkan perasaan mengambil alih logikanya, karena pada dasarnya cinta tak mengenal logika. Taeyeon melupakan prinsip yang dipegang teguhnya selama ini, gadis itu akhirnya mengakui jika dia telah jatuh cinta pada manusia, Tiffany, orang yang membuatnya merasakan sesuatu yang tak pernah Taeyeon rasakan selama ratusan tahun hidupnya.

“Na-nado saranghae..”

Now I’m not alone
Only you who has come to me from that place

Only you are my everything
After this love, I don’t really know what will happen
Just like child who is always this way,
Will you warmly hold me closer?

Closer

Warmer

Will you hold me?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Katakan sekali lagi..” keduanya tengah berjalan bersama sambil berpegangan tangan.

“Apa?”

“Panggil namaku.. ^^”

“Tidak mau..” Taeyeon memalingkan wajahnya dan membuat Tiffany cemberut. Tidak tahan dengan tingkah menggemaskan kekasihnya Taeyeon lantas memeluk gadis itu dari belakang dan berbisik di telinganya.

“Aku mencintaimu Ppany-ah… sangat mencintaimu.”

“Mee too Taetae.. i love you so much..” Tiffany membuka tangannya lebar-lebar untuk mengekspresikan seberapa besar cintanya.

“Hanya sebesar itu?” Taeyeon pura-pura kecewa.

“Bagaimana kalau segini..” Tiffany membuka tangannya lebih lebar.

“Masih kurang..” Taeyeon menggelengkan kepala, masih tampak belum puas. Tiffany meletakkan jari telunjukkanya didagu sambil berpikir.

“Bagaimana kalau..” Tiffany menghentikan kata-katanya lalu membalik tubuhnya, membuat posisinya dan Taeyeon berhadapan. “Sebanyak itu..” ucapnya setelah mengecup bibir Taeyeon sekilas.

Taeyeon tersenyum lebar, gadis itu meletakkan tangannya pada pinggang tiffany dan menariknya lebih dekat. “Bagaimana kalau sedikit lebih lama?”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Don’t you know me? The reason I’m here is because of you
But my eyes tingle with the cold so I can’t say anything
I just look toward you by myself

Even if the tip of my heart hurts like this
Even if the tip of my hands tremble like this
I can only think of you

“Ppany-ah.. a-aku bukan manusia..” ucap Taeyeon dengan segala keberaniannya. Taeyeon sudah mengatakan segalanya, sekarang terserah Tiffany mau menerimanya atau tidak. Jika nanti Tiffany akan meninggalkannya pun Taeyeon sudah siap, gadis itu bahkan sudah lebih siap melepaskan Tiffany untuk orang lain yang lebih bisa membahagiakannya.

“Aku mencintaimu..” diluar dugaan Taeyeon, Tiffany justru malah memeluknya. Menghangatkan punggung Taeyeon yang sebelumnya terasa dingin. Dan kata-kata yang Tiffany bisikkan ditelinganya tanpa sadar membuat airmata Taeyeon mengalir perlahan.

“Aku mencintaimu apapun dirimu, aku tidak peduli jika kau siluman atau bahkan alien yang datang dari luar angkasa sekalipun. Aku tetap mencintaimu, Taetae-ku, selamanya.”

“Aku juga mencintaimu Ppany… terimakasih.” Taeyeon menautkan jari-jarinya dengan jari Tiffany yang ada di perutnya.

Tapi sekeras apapun Taeyeon berusaha, percintaan antara dua alam yang berbeda itu rasanya tak pernah memiliki akhir yang bahagia. Sama yang terjadi antara dirinya dan Tiffany, Taeyeon merasa sangat terluka saat Tiffany meninggalkannya, sangat terluka sampai-sampai rasany semua bunga di dunia ini kehilangan keindahan mereka, seakan semua warna pudar cahayanya, bahkan Taeyeon tak dapat mendengar lagi kicauan burung yang biasa membangunkannya di pagi hari. Tiffany pergi dan membawa lebih dari separuh jiwanya.

“Andweee.. Ppany-ah.. kau akan baik-baik saja, dokter akan menyelamatkanmu..”

“Gwencahana TaeTae.. uljima..” jawab Tiffany lemas, sedetik kemudian Tiffany menutup matanya dan tangannya yang sedari tadi mengelus pipi Taeyeon terkulai lemas di samping tubuhnya.

“Andweyo! Ppany-ah kajima! KAJIMA!”

The person I miss like crazy
The words I want to hear from you like crazy
I love you, I love you – where are you?
The person I long for, who is deeply stuck in my heart

Please tell me that you cherish me
Please don’t blankly erase me
Because you’re my everything

I want to cherish you forever
I love you, I love you

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yuri menunggu gilirannya audisi dengam jantung berdebar. Kini gadis tanned itu sedang berada di gedung SM Ent, salah satu manajemen paling terkemuka di Korea Selatan. Kebetulan sang kekasih juga bernaung di bawah manajeman tersebut.

Audisi kali ini sengaja diadakan untuk mencari peran utama dalam drama kolosal terbaru SM. Sutradara yang akan menjadi juri kali adalah sutradara Park, sutradara yang dikenal sangat pemilih dalam hal pemain. Yuri sudah beberapa kali bertemu sutradara tersebut dalam sebuah audisi dan semuanya selalu berakhir gagal. Hal tersebut tentu tak membuat perasaan Yuri menjadi lebih baik, justru sebaliknya, rasa gugupnya bertambah berkali-kali lipat. Saking gugupnya tangan Yuri sampai berkeringat dingin.

“Tenang Kwon Yuri tenang…” Yuri tanpa sadar melakukan kebiasaannya -berbicara pada diri sendiri. Sesekali gadis kecoklatan itu melirik jam dinding yang ada disana, sebentar lagi gilirannya.

“Kwon Yuri fighting..!!”

“Peserta nomor 221 silahkan masuk..”

Sutradara Park segera membenarkan posisi duduknya begitu Yuri masuk. Pria 50-an sekilas tersenyum kecil. Karena Yuri selalu bolak-balik audisi tentu pria itu sudah mengenalnya. Rupanya Yuri orang yang pantang menyerah, hal itu tentu merupakan penilaian plus dimatanya hanya saja sutradara Park masih penasaran. Kira-kira sudah sejauh mana perubahan yang telah Yuri capai.

Biasanya dalam audisi seorang peserta akan diminta menunjukkan berbagai ekspressi, seperti menangis, marah, senang dan sebagainya tapi kali ini sepertinya sutradara Park punya sekenario lain untuk Yuri.

“Beraktinglah menjadi seorang lelaki yang ingin menyatakan perasaannya pada wanita yang disukainya tapi disaat bersamaan lelaki itu sedang menahan keinginan untuk buang air kecil..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Miyoung berjongkok di depan pintu rumah untuk menunggu kedatangan Yuri. Hari sudah gelap namun Yuri belum juga kembali, padahal gadis itu berjanji akan kembali sebelum makan malam. Dimana gadis itu sekarang? Apa audisinya berjalan lancar? !
Miyoung jadi khawatir padanya.

Sesaat kemudian Miyoung mendengar suara langkah kaki mendekat. Pasti itu Yuri, batinnya. Gadis bereyes smile itu lantas berdiri dan tersenyum lebar untuk menyambut kedatangan Yuri. Benar saja, tak lama kemudian Yuri datang, dengan cara berjalan sempoyongan. Gadis itu terlalu banyak minum soju.

“Yuri sudah pulang! Ayo makan malam..” ajak Miyoung sambil tersenyum. Yuri memandang gadis itu sekilas tanpa berniat menjawab pertanyaannya. Dengan kepala yang terasa pusing Yuri mencoba membuka pintu rumah mereka.

“Aku tidak mau.”

“Yuri-ya ayo makan..” rengek Miyoung lagi.

“Aniyo Miyoung-ah.”

“Yuri-ya.. Kajja! Kajja !” kali ini Miyoung menarik-narik tangan Yuri namun Yuri menghempaskannya dengan kasar.

“KUBILANG AKU TIDAK MAU!!” Miyoung tersentak, Yuri pasti benar-benar sangat mabuk sampai bisa berbuat seperti itu.

“Mianhe..” ucap Miyoung tulus. Yuri melewatinya begitu saja, dengan gaya mabuknya Yuri terus berjalan sampai akhirnya dia terjatuh di tengah ruangan. Miyoung segera menghampirinya, yeoja bereyes smile itu membantu Yuri berdiri lalu memapahnya sampai sofa.

“Yuri-ya apa yang sudah terjadi?”

“………………” Yuri menundukkan kepalanya dalam-dalam. Saat ini gadis itu sudah berada di antara alam sadar dan bawah sadarnya.

“Yuri-ah apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?” tany Miyoung sambil mengelus pipi Yuri dengan ibu jarinya. Yuri tiba-tiba mengangkat kepalanya dan tertawa -masih dengan gaya orang mabuk.

“Nona gumiho ingin membantuku?” Yuri tersenyum padanya, Miyoung mengangukkan kepalanya sebagai jawaban.

“…..kalau begitu enyahlah! Kau bisa melakukannya?”

.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Drabble #16 (RF)

Drabble #16

“Hai buddy, rasanya sudah lama sekali iya kan?” Taeyeon tersenyum miris sambil memandangi foto sahabatnya yang sedang tersenyum. Memang sudah lama sekali sejak Taeyeon terakhir kali melihatnya.

Gadis bertubuh mungil itu lantas mengusap airmata yang tanpa sadar mengenang di sudut matanya. Mengenalnya sejak kecil membuat Taeyeon merasa begitu kehilangan tatkala sahabtnya meninggalkan dunia ini -lebuh tepatnya dorm mereka. Sungguh, kalau bukan karena Jessica tentu dia masih ada disini, Taeyeon masih bisa melihatnya, masih bisa memeluknya, dan tentunya gadis berkulit pucat itu takkan merasa sesakit ini. Taeyeon merasa sangat terluka sampai-sampai Tiffany saja tidak bisa berbuat apa-apa.

“Sooyeon kau ratu tega yang pernah kukenal..” lirih Taeyeon. Jessica yang berdiri di depan gadis itu lantas memutar kedua bola matanya, tak peduli.

“Bukankah aku sudah minta maaf?” balas Jessica tenang. Saking tenangnya sampai-sampai membuat Taeyeon selalu menerka-nerka. Hal apa gerangan yang asa di dalam kepala gadis berambut pirang tersebut. Demi Tuhan, ini masalah hidup dan mati, bagaimana bisa Jessica masih bersikap tenang seperti ini.

“Sudahlah Tae..” Tiffany mengusap punggung kekasihnya lembut, berusaha melerai Jessica dan Taeyeon yang sepertinya akan memulai perang dunia ketiga saat ini juga.

“Yuri-ah~” sayangnya usaha gadis bereyes smile tersebut sia-sia karena justru tangisan Taeyeon malah pecah. Gadis itu meraung-raung memanggil nama Yuri yang masih berusaha membereskan Kekacauan -yang telah Jessica buat- di dapur dorm mereka. Jessica yang awalnya ingin membuat sarapan untuk Yuri -lagi- tanpa sengaja hampir membakar dapur. Entah apa yang telah dilakukannya hingga api yang seharusnya di kompor menjadi begitu besar, Jessica yang panik berusaha memandamkan api tersebut menggunakan bantal dokong tak berdosa milik Taeyeon yang tergeletak di sofa. Alhasil bantal dokong Taeyeon hangus dan api semakin membesar, untung saja member lain segera bangun dan berhasil mengatasi kekacauan yang Jessica buat.

“Kwon Yuri!!! Lakukan sesuatu pada pacarmu ini..” Taeyeon terus merengek pada gadis kecoklatan tersebut.

“Ne, aku akan menghukumnya nanti.” balas Yuri enteng, tak sadar jika Jessica menatap tajam dirinya. Jessica tak percaya jika Yuri lebih membela Taeyeon daripada dirinya. Kekasih macam apa makhluk ini?

“Taetae sudah ya..”

“T-tapi Ppany-ah aku belum selesai dengan Sooyeon, dia harus bertanggung jawab, kau tau kan aku tidak bisa tidur kalau tidak memeluk bantal dokong itu?”

“Kalau begitu peluk aku saja..” tawar Tiffany, tentu saja Taeyeon menerima ajakan tersebut tanpa harus berpikir duakali. Gadis pendek itu melangkah ke kamar dengan langkah ringan dan senyuman lebar seolah insiden Jessica dan bantal dokongnya tak pernah terjadi.

Sambil melingkarkan tangan kanannya di pinggang Jessica Yuri menggelengkan kepala melihat tingkah Taeyeon. “Dasar kurcaci penuh modus..”

“Kwon seobang, bedroom,NOW!” kata Jessica sambil melangkah pergi.

“What?” heran Yuri dengan aksen inggrisnya yang kacau balau.

Jessica berjalan ke kamar mereka lebih dulu sambil memikirkan hukuman apa yang cocok untuk Yuri, berbicara soal hukuman entah kenapa Jessica merasa telah melupakan sesuatu.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Bodyguard (YulSic/Part 5)

Tittle : Bodyguard
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance, Angst
Lenght : Series
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

Song lyric by : SHINee – Colorful

5th
.
.
.

“PPPAAAGGIIII!!!” Jessica tiba-tiba membuka pintu kamar Yuri dan berteriak dengan dolphin screamnya. Selanjutnya yeoja blonde itu tertawa melihat Yuri yang membelalakan matanya karena kaget. Siapa yang tidak jika tiba-tiba seseorang masuk ke kamarnya tepat setelah Yuri selelsai memakai t-shirt.

“Apa kau tidak tau caranya mengetuk pintu?” balas Yuri ketus. Jessica terkekeh geli, tak memperdulikan nada sinis pengawalnya. Yeoja bermarga Jung itu lantas duduk di sisi kasur Yuri -tempat yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya. Disisi lain Yuri tengah memakai sweater cokelatnya. Tidak lucu kan kalau di cuaca sedingin ini dia hanya mengenakan pakaian tipis. Yuri tentu masih menyayangi hidupnya dan tak mau berakhir sebagai monyet hitam membeku.

“Ouch..!!” Yuri meringis kesakitan sambil mengoleskan sesuatu di sudut bibirnya.

“Kenapa?” Jessica menghampirinya dan bertanya dengan nada khawatir. Yuri segera memalingkan wajahnya dan berkata semuanya baik-baik saja. Tentu saja Jessica takkan percaya terlebih menyaksikan gesture menghindar Yuri. Gadis dihadapannya selalu menghindar untuk menyembunyikan sesuatu dan Jessica bersumpah kali ini Yuri takkan bisa membodohinya.

“Kau pikir aku bodoh?” Jessica menyilangkan tangannya di dada seraya menatap Yuri dengan ice glare. Sesuatu yang jarang diperlihatnya akhir-akhir ini. Entahlah, mungkin karena Yuri berhasil mengubahnya menjadi lebih hangat. Berbicara soal Yuri, gadis tanned itu masih berusaha menyembunyikan luka di sudut bibirnya dari Jessica.

“Lihat aku!” Sikap Yuri tentu saja membuat Jessica tidak tahan, tanpa perasaan Jessica mendekap wajah Yuri dengan kedua tangannya.

“Bagaimana kau mendapatkannya?” tanya Jessica serius. Seingatnya kemarin pengawalnya tersebut masih baik-baik saja.

“Aku terjatuh..” jawab Yuri sambil melepaskan tangan Jessica dari wajahnya. Jessica mengangkat salah satu sudut bibirnya.

“Kau pikir aku percaya?” tantangnya. Kali ini tangannya mencengkram kerah sweater Yuri.

Yuri menghela nafasnya, gadis itu tau berdebat dengan Jessica akan menghabiskan lebih dari setengah sisa hidupnya karena Jessica begitu keras kepala sama dengan dirinya. “Satu hal yang pasti, aku tidak memintamu percaya. Lagipula ini bukan urusanmu nona Jung..” balas Yuri sambil tersenyum padanya.

Jessica mendorong tubuh Yuri seketika dan berbalik. Sambil memegangi wajahnya yang memanas Jessica berjalan cepat meninggalkan kamar Yuri.

Dia selalu punya cara ampuh mengalihkan pembicaraan. Dasar menyebalkan.

“KWON YURI KAU PUNYA 3 DETIK. DAN JIKA SETELAHNYA AKU MASIH BELUM MELIHATMU KELUAR KAMAR… TAMATLAH RIWAYATMU!!” teriak Jessica setelahnya. Kenapa akhir-akhir ini harus selalu Jessica yang menunggu Yuri. Jessica jadi bingung sebenarnya yang ‘bodyguard’ itu siapa? Yuri atau dirinya?

~~~~~~~~~~~

“BBBIIBBIII!!” Jessica kembali berteriak gembira sementara Yuri -yang berjalan di belakangnya- sibuk menggosok-gosok telinganya yang berdengung karena suara ultrasonik majikannya. Jika indera pendengaran Yuri bermasalah tentu takkan sulit menemukan orang yang bertanggung jawab.

Hyorim bersama beberapa anak yang sedang membersihkan jalan setapak menuju panti yang dipenuhi salju lantas menoleh kearah suara. Wanita paruh baya itu tersenyum lebar mengetahui siapa yang mengunjungi mereka.

“Sooyeon-ah.. sudah lama tidak melihatmu!” Hyorim lantas memeluk Jessica setelah meletakkan sapunya.

“Bagaimana kabarmu? Kudengar kemarin kau masuk rumah sakit? Apa yang terjadi?” Jessica sudah menduga kalau bibinya yang satu ini akan memberondongnya dengan pertanyaan yang demikian.

“Ah itu, aku hanya menjalani operasi kecil.. sekarang aku baik-baik saja.” Jessica tersenyum kemudian memutar tubuhnya di depan Hyorim.

“Aigoo.. anak ini. Jangan meremehkan sesuatu. Kau harus menjaga kesehatanmu.”

“Apa yang dikatakan bibi itu benar.” cibir Yuri -setelah menyapa dan membungkukkan badannya ke arah Hyorim- pada majikannya yang masih memasang tampang tak bersalah. Apa Jessica tidak tau jika apa yang terjadi padanya beberapa waktu lalu hampir membuat Yuri terkena serangan jantung. Dan lebih tidak bisa dipercaya lagi saat Jessica bertingkah seakan-akan tidak pernah terjadi apapun.

“Tutup mulutmu Kwon!” balas Jessica sebal. Yuri balas menatapnya tajam. Hyorim turun tangan untuk melerai perang dunia yang sebentar lagi akan terjadi di hadapannya.

“Dasar anak muda.” wanita paruh baya itu tertawa kecil melihat interaksi keduanya.

“Sudah! Sudah! Diluar dingin sekali.. ayo masuk ke dalam.. bibi akan menyiapkan makanan dan teh hangat untuk kalian.” ujar bibi Hyorim. Jessica berpaling dari Yuri dan kembali memasang senyum manisnya.

“Bipolar..” gumam Yuri.

“Kebetulan sekali aku memang kedinginan..” ucap Jessica sambil merangkul tangan bibi Hyorim dan mengajaknya masuk. Yuri berniat mengikuti keduanya tapi terhenti saat Jessica berbalik dan mengangkat tangannya di depan wajah Yuri.

“Berhenti disitu Kwon!”

“Wae?”

“Buatlah dirimu berguna, gantikan tugas bibi membersihkan salju-salju itu arraseo?”

“Tapi-“

“No but! Do it now! N.O.W!”

“Dasar.. aishhh!!”

Jessica kembali berjalan bersama bibi Hyorim. Wanita itu sebenarnya kurang setuju dengan perintah Jessica, bagaimanapun Yuri juga tamu disini tidak seharusnya dia membersihkan salju tapi Jessica berhasil meyakinkannya.

“Tenang saja bi, itu hukuman untuknya. Lagipula jika Yuri melakukannya tugas itu akan selesai lebih cepat.” Jessica mengedipkan sebelah matanya. Mengerjai Yuri menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk dilakukan.

Masih sambil menggerutu Yuri mengambil sekop dan mulai menyingkirkan salju-salju yang menutupi jalanan. “Kenapa orang itu seenaknya saja. Memangnya aku ini apa? Orang yang sedang wamil?.. ishhhh!!”

~~~~~~~~~~~

“Ya Tuhan..” Yuri meringis saat menegakkan punggungnya yang terasa kaku karena terlalu lama membungkuk. Sambil mengelap keringat yang mengucur di wajahnya Yuri memandang puas sekelilingnya yang telah rapi. Salju-salju sudah dibersihkan dari jalanan dan artinya Yuri tidak perlu khawatir lagi akan ada anak yang terpeleset nantinya. Setidaknya apa yang dilakukannya tidak sia-sia.

Yuri berhigh five ria bersama beberapa anak yang bekerja dengannya. Karena tugas yang sudah selesai Yuri memutuskan untuk duduk di teras. Lagi-lagi gadis tanned itu tersenyum sambil memandangi anak-anak yang bermain di halaman dengan riang, seakan kata lelah dan dingin tak ada dalam kamus mereka. Sudah lama sekali sejak Yuri merasa serileks ini.

Dari kumpulan anak-anak yang sedang bermain matanya beralih pada satu anak yang nampak memisahkan diri dari yang lain. Gadis kecil dengan rambut sebahu itu terus menundukkan kepalanya. Yuri mengikuti arah pandangannya dan tak menemukan apapun yang menarik selain ujung sepatunya yang bergambar hello kitty.

“Hyemi-ah..” panggil Yuri. Gadis kecil itu mengangkat kepalanya.

“Yuri oppa..” Hyemi tersenyum padanya. Yuri berdiri, berjalan lalu berhenti di hadapannya.

Oppa?

“Unnie untukmu Princess..” Yuri menjawil hidung mancung Hyemi dan membuat gadis kecil itu tertawa kecil.

“Tapi aku ingin memanggilmu oppa.. karena Yuri oppa pangerannya Hyemi.”

“Arraseo..” kali ini Yuri mengangukkan kepalanya. Sedetik kemudian Hyemi kembali memasang wajah murungnya dan membuat Yuri heran. Kali ini Yuri benar-benar yakin tengah ada yang salah dengan gadis ciliknya.

“Jadi apa yang membuat Princessnya Yuri oppa ini sedih?” tanya Yuri. Hyemi menyuruh Yuri mendekat dengan isyarat tangannya lalu membisikan sesuatu di telinganya.

Jessica sedang membuat teh hangat dan beberapa biskuit -untuk Yuri dan anak-anak yang membersihkan salju- bersama bibi Hyorim dan bibi Janggeum di dapur.

“Jadi anak-anak akan mengadakan pentas seni di malam tahun baru nanti? Oh, pasti lucu sekali..” ucap Jessica semangat.

“Tema kali ini dongeng ‘Putri salju dan 7 Kurcaci’…” timpal bibi Janggeum sambil meletakkan beberapa cangkir teh yang asapnya masih mengepul ke atas nampan.

“Jika mau kau boleh datang Sooyeon-ah..” dengan semangat Jessica menganggukkan kepalanya, menyambut dengan senang hati undangan Hyorim.

“Aku akan datang..” jawabnya, sesaat kemudian Jessica teringat sesuatu. “Kalau ini cerita ‘Putri salju dan 7 Kurcaci’, siapa yang menjadi Prince dan Princessnya?”

“Hyemi dan Samdong.”

“Jinja? Ah kyeopta~”

“Bibi, apakah nanti akan ada adegan… mmmm.. kalian tau..” Jessica bertanya malu-malu. Hyorim dan Janggeum saling beradu pandang, sedetik kemudian keduanya tertawa setelah mengetahui kemana arah pembicaraan Jessica.

“Aigoo Sooyeon-ah.. jika yang kau maksud itu adegan ciuman tentu saja tidak ada. Mereka hanya anak kecil..” Janggeum masih belum bisa meredakan tawanya. Jessica tersenyum canggung menyadari kebodohannya, tidak seharusnya dia berpikir sejauh itu. Babo! Babo!

“……tapi mungkin kami akan berpikir ulang jika peran utamanya kau dan Yuri.”

“Bibi! Tolong berhenti menggodaku!” Jessica menutupi wajah dengan kedua tangannya sementara kedua wanita paruh baya tersebut masih bersemangat menggodanya.

“Hyemi tidak suka Samdong..” gadis kecil tersebut memanyunkan bibirnya membuat Yuri gemas dan mencubit kedua pipinya.

“Kenapa?”

“Karena Samdong itu jelek, dia tidak punya gigi depan, pendek dan rambutnya seperti brokoli… Hyemi tidak suka brokoli.” Hyemi mengangkat kedua tangannya keudara, mempraktekkan rambut Samdong yang selalu mengembang.

“Gwenchana.. Samdong pendek karena dia masih kecil. Suatu hari dia akan bertambah tinggi, dan giginya akan tumbuh lagi.. Hyemi juga suatu hari akan tinggi dan berubah menjadi Princess yang lebih cantik.”

“Jinja? Cantik seperti Jessica unnie?”

“Hah?” Yuri tiba-tiba menjadi gelagapan mendapat pertanyaan polos dari Hyemi tersebut. “N-ne.. seperti Jessica unnie.” lanjutnya malu-malu sambil mengusap belakang kepalanya.

“Oppa.. kenapa wajahmu memerah?”

~~~~~~~~~~~

Dengan hati-hati Jessica menenteng nampan berisi teh hangat dan biskuit diikuti Hyorim dibelakangnya. Sesampainya di halaman depan Jessica mendapati Yuri yang tengah membuat boneka salju bersama anak-anak.

“Yedeura!! Ayo kesini… ada biskuit!!” Jessica memanggil anak-anak tapi nampaknya mereka masih asik bersama Yuri.

“Yedeura!!” tetap tak ada jawaban. Jessica mulai resah, apa mungkin posisinya sebagai unnie favorite disini telah diambil alih Yuri? Monyet hitam itu? Yang benar saja.

Jessica meletakkan nampan diatas meja, gadis itu memakai sepatunya dan berjalan menghampiri Yuri. Menyadari Jessica mendekat Yuri menyuruh anak-anak berkumpul dan membisikkan sesuatu padanya.

“Serang!!” Yuri berteriak dan sebelum Jessica menyadari semuanya anak-anak sudah menyerangnya dengan bola salju.

“Eeekkkkkkkkk!! Kwon Yuri!!” Jessica berteriak kesal saat menyadari Yuri tertawa di atas penderitaannya.

“Serang penyihir jahat!” Hyemi yang berada dalam gendongan Yuri ikut berteriak sambil bertepuk tangan.

Penyihir jahat? Aku? Jessica membelalakan matanya tak percaya.

“Kwon Yuri!!”

“Prince Yul lari!!”

Yuri berlari  mulai berlari setelah menurunkan Hyemi dari gendongannya sementara Jessica mengejarnya sambil sesekali melemparkan salju kearah gadis tanned tersebut.

“Berhenti kau!! Ya!!”

Did my eyes go bad?
The moment your hand touched me everything around me is colored
In the white and coldly frozen world the moment my eyes went blind
You make my life colorful

I think you’re magical
I think you’re wonderful
Because of you, my heart is colorful
In the black and dark world the moment I try to close my eyes
You make my life colorful
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>TBC