Honesty (YulSic/Part 4)

Tittle : Honesty
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Lenght : Chapter
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri, and Other Cast

Inspired by Drama Boys Before Flowers.

Part 4
.
.
.
.
.

Seminggu, dokter menyarankan Yuri untuk tinggal di rumah sakit selama itu. Sebagai orang yang cepat bosan tentunYuri protes, gasis tanned itu terus merengek dan baru berhenti saat Boa memukul kepalanya. Boa yang saat itu sedang di Jerman langsung terbang ke Korea begitu mendengar apa yang menimpa Yuri dari Hyoyeon. Nyonya Kwon tau tapi tak pernah datang sementara ayah Yuri tidak bisa hadir karena sibuk mengurus bisnis baru mereka di Macau. Pria itu hanya menelepon.

Berkat dirinya yang dirawat di rumah sakit Yuri jadi tau fakta baru mengenai adik Jessica -krystal. Gadis berumur 8 tahun tersebut juga dirawat di rumah sakit yang sama dengannya karenanya Yuri meminta dipindahkan ke ruang rawat yang sama dengan Krystal. Yuri berpikir begitu supaya dia punya teman mengobrol tapi nyatanya Krystal sama dinginnya dengan sang kakak. Beruntungnya Yuri mereka tak mewarisi gen violent yang sama.

Ruang rawat Krystal dan Yuri di huni 5 orang. Selain mereka ada paman Chun yang kakinya patah karena terjatuh dari tangga. Setiap anaknya selalu mengujungi pria paruh baya tersebut sambil membawa makanan rumah. Ada juga kakek Hong, seorang pensiunan tentara yang berasal dari Daegu. Setiap malam kakek Hong selalu mengajak Yuri main mahjong dan Yuri yang sama sekali tidak mengerti permainan itu selalu kalah. Yang terakhir adalah nenek Shin, seorang pengidap alzheimer. Walau wanita tua itu sudah lupa dengan namanya sendiri tapi dia selalu bisa menjadi hiburan tersendiri di ruangan ini.

Malam ini, tawa kakek Hong kembali menggema sementara Yuri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara itu paman Chun berusaha mengintip sambil menggeser kakiknya yang berbalut gips. Untuk kesekian ribu kalinya Yuri kalah dalam permainan mahjong.

“Itu karena permainan ini terlalu tua untukku! Jika saja kakek bermain dengan kakekku mungkin akan mendapat lawan yang seimbang.” Protes Yuri namun kakek Hong sama sekali tak menanggapinya.

“Kita ganti kegiatan saja. Apa kakek pernah mendengar Girls’ Generation? Bagaimana kalau kita menonton mereka saja.” Yuri tersenyum sambil menyalakan laptopnya. Kakek Hong tampak takjub, paman Chun bahkan sudah pindah ke tempat tidur Yuri supaya bisa melihat lebih jelas.

“Aku seperti melihat diriku saat masih muda.” ujar nenek Shin yang membuat semuanya tertawa kecuali Krystal. Gadis kecil itu masih berkutat dengan pensil warna dan buku gambarnya seperti biasa. Yuri meliriknya sekilas, Krystal memang tak banyak bicara jika dibanding anak seusianya. Gadis itu juga jarang tersenyum. Krystal hanya akan bicara jika Jessica mengunjunginya di pagi hari selebihnya dia diam dan selalu terlihat murung.

“Anak yang malang..” nenek Shin bergumam pelan, Yuri mengangukkan kepalanya.

“Kasihan sekali Krystal.” sambung paman Chun.

“Siapa Krystal?” nenek Shin bertanya dengan wajah bingungnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Padahal ini baru hari kedua tapi Yuri sudah merasa sangat bosan. Gadis tanned itu memutuskan berjalan keluar kamar untuk mencari udara segar. Langkahnya terhenti di depan sebuah vending machine. Yuri bergumam sambil mengeluarkan uang koin dari sakunya.

“Sebaiknya apa yang harus kubeli?” Yuri berpikir sambil menaruh telunjuk di bibirnya.

“Bagaimana kalau cola..” Yuri memasukkan uangnya lalu memijit tombol cola. Setelah beberapa saat minuman yang ditunggunya tak kunjung keluar.

“Ada apa dengan mesin ini?” Yuri kembali memijit tombol namun cola ysng ditunggunya tetap tak keluar. Hal ini tentu saja membuatnya kesal. Yuri mulai memarahi mesin tak berdosa tersebut sehingga membuat pasien lain yang berpapasan dengannya menatapnya aneh. Menyadari dirinya sudah menganggu ketertiban umun Yuri lantas membungkukkan tubuhnya.

Setelah orang-orang itu pergi Yuri kembali menatap mesin itu dengan pandangan kesal. Benda ini seenaknya saja sudah mengambil uanganya sekaligus mempermalukannya. Yuri memutuskan menendang mesin itu untuk memberinya pelajaran. Yuri lupa kalau mesin itu sangat keras dan justru membuat kakinya yang terasa sakit.

Yuri masih meringis sambil mengusap-usap kakinya saat Krystal menghampirinya.

“Kau tau apa?” tanya gadis cilik tersebut. “Unnie bilang kau itu bodoh dan kurasa itu benar.” lanjutnya sambil melangkah pergi, meninggalkan Yuri yang masih bengong di tempatnya. Gadis tanned itu tak percaya dengan apa yang baru di dengarnya.

Di kamar mereka Yuri berdehem lantas duduk di pinggiran kasur Krystal sementara gadis cilik itu masih sibuk dengan buku gambarnya seperti biasa. Sekilas Yuri melirik kakek Hong dan paman Chun yang memberinya semangat tanpa suara. Kedua lelaki yang tak lagi muda tersebut mengangkat tangan mereka. Yuri membalas dengan cara membentuk jarinya menjadi tanda ‘oke’.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yuri, Krystal memutar kedua matanya tanpa berniat menjawab pertanyaan basa-basi tersebut. Mendapat perlakuan dingin yang demikian dari Krystal tak lantas membuat Yuri menyerah. Untuk alasan tertentu gadis yang lebih tua tersebut ingin melihat Krystal tersenyum, walau hanya sekali.

“Gambarmu bagus. Bisa ajari aku?” Yuri kembali bertanya, berusaha memahami Krystal, berusaha membuat gadis kecil itu bicara padanya.

“Yuri.. kau tau apa?”

“Hm?”

“Cari kegiatan lain yang biasa dilakukan orang dewasa dan berhenti menggangguku.” ucap Krystal. Tidak ada seorang pun yang bisa menebak jalan pikiran Krystal sampai saat ini kecuali Jessica -mungkin-. Yuri mengerjap-ngerjapkan matanya sementara paman Chun dan kakek Hong berusaha keras menahan tawa mereka di ujung ruangan.

“Pagi Krystal..”

“Apa kita saling mengenal? Berhentilah memanggil namaku.”

“Krystal coba tebak apa yang kubawa?” Yuri menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya, masih dengan senyuman bodoh yang sudah menjadi ciri khasnya.

“Boneka teddy bear.” jawab Krystal singkat.

“B-bagaimana kau tau?”

Setelah Hyoyeon dan Sooyoung pulang kamar yang dihuni Yuri kembali sepi. Paman Chun sedang keluar bersama anaknya begitupun kakek Hong yang pergi bersama cucunya, nenek Shin sedang menjalani sesi terapi sementara Krystal takkan pernah bicara jika bukan Yuri yang memulai duluan. Walaupun Yuri bicara juga tak ada jaminan jika Krystal akan menjawabnya.

“Krys maaf aku datang terlambat.” Jessica membuka pintu dengan nafas tersenggal. Krystal mendongakkan kepalanya, Yuri yang saat itu sedang menonton televisi pun ikut menoleh. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam tapi Jessica datang dengan masih mengenakan seragam. Yuri pikir sebagai seorang anggota panitia KFestival Jessica tentu sibuk belum lagi setiap hari gadis blonde itu harus menyempatkan diri menjenguk Krystal di rumah sakit.

“Mommy mana?” Krystal bertanya sambil terus menatap pintu yang masih terbuka. Mengharapkan orang yang sudah tak ditemuinya selama dua minggu muncul dari sana namun nihil. Jessica langsung diserang rasa bersalah begitu melihat kesedihan di wajah adiknya.

“Mommy sibuk, dia janji akan mengunjungimu setelah urusannya selesai.”

“Kapan?” Jessica hanya membisu, saat itu Krystal tau jika ibunya takkan pernah datang.

“Mommy tidak menyayangiku, itu kenyatannya.”

“Krys.. bukan seperti itu-” Jessica coba menjelaskan namun Krystal terlanjur menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Tak ingin mendengar apapun lagi yang mungkin keluar dari mulut kakaknya.

“Pulanglah unnie. Aku mau tidur.”

Jessica melangkah keluar dengan kepala tertunduk. Yuri yang sedari tadi berada di tempat yang sama dengan keduanya tentu memdemgar semuanya, perlahan gadis tanned itu bisa memahami sikap Krystal sedikit demi sedikit. Jessica berhenti melangkah saat Yuri menahan pergelangan tangannya. Jessica mendongakkan kepalanya dan mendapati Yuri yang tengah menatapnya.

“Wae?”

“Jangan khawatirkan Krystal aku bisa menjaganya.” Yuri tersenyum padanya. Jessica mengalihkan pandangannya dari wajah Yuri ke arah pintu yang tertutup rapat.

“Tinggal beberapa hari bersama membuat kami dekat.”

“Jinja?”

“Tentu saja. Kau bisa percayakan adikmu padaku malam ini.”

“Gomawo Yuri-ah.”

“Sica kau tau apa?”

“Apa?”

“Malam ini adalah pertama kalinya kau bicara lembut padaku… dan tanpa pukulan.” setelahnya Yuri tertawa dan membuat paras Jessica memerah.

Krystal yang meringkuk dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tampak kecil di mata Yuri. Ruangan mereka sangat sepi sampai-sampai isakan Krystal terdengar jelas di telinganya. Yuri duduk di tepian ranjang Krystal, menarik nafas panjang sebelum mulai bicara.

“Krystal-ah aku akan menceritakan sesuatu padamu. Pertama kali aku melihat wajah ibuku saat aku berumur 5 tahun.” Perkataan Yuri sukses menarik perhatian Krystal karena gadis kecil itu berhenti menangis dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya.

“J-jinja?” tanya Krystal dengan mata bulat dan wajah yang di penuhi sisa airmata. Yuri mengangukkan kepalanya dan menggunakan ibu jarinya untuk menghapus sisa-sisa airmata itu.

“Pertemuan pertama itu berlangsung tidak lebih dari 5 menit. Saat itu jika saja seseorang tidak mengatakan dia ibuku mungkin aku tidak akan pernah tau.” Yuri melanjutkan kata-katanya sambil menerawang. Mengingat masa kecilnya yang tak begitu indah untuk diceritakan. Kali ini adalah pertama kalinya Yuri membagi cerita ini pada orang lain.

“Wae?” Krystal kembali bertanya. Yuri menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan gadis kecil tersebut sebelum kembali menjawab.

“Entahlah, mungkin karena ibuku tak pernah menginginkan kehadiranku. Dia tidak menyayangiku.” Yuri mengangkat bahunya.

“Aniyo!” Krystal langsung membantah. “Unnie bilang tak ada seorang pun ibu yang tidak menyayangi anaknya. Ibumu pasti punya alasan untuk melakukan semua itu. Kau tidak boleh marah padanya!”

Yuri tersenyum puas mendengar jawaban Krystal. “Aku tidak pernah marah pada ibuku.”

“Tidak pernah? Tidak sekalipun?” Krystal kembali bertanya. Yuri mengangukkan kepalanya mantap. Sesaat kemudian Krystal menundukkan kepalanya sambil bergumam.
“Mianhe.”

“Jadi kau sudah mengerti sekarang?” giliran Yuri yang bertanya.

“Ne. Aku sudah jadi anak nakal karena marah pada mommy dan membuat unnie sedih. Bagaimana ini? Krystal tidak mau jadi orang jahat.”

“Gwencahana, tapi kau harus berjanji padaku untuk memaafkan ibumu dan minta maaf juga pada unniemu besok, arrachi?”

“Ne.”

“Dan Krystal bukan orang jahat, Krystal adalah anak tercantik dan terpintar yang pernah kukenal.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hari ini SongYi -anak paman Chun- datang menjenguk sang ayahndan membawa banyak jjangmyun. Hal itu nekat SongYi lakukan karena sang ayah terus mengeluh karena rasa makanan rumah sakit yang tidak berperikemanusiaan. SongYi tentu saja membawa makanan itu tanpa sepengetahuan dokter.

“Putriku ini adalah bintang iklan, dia pernah tampil di iklan deterjen selama 2 menit penuh. Meski cuma tangannya saja.” paman Chun kembali berulah dan membuat paras SongYi matang.

“Pantas saja aku seperti pernah melihatmu.” timpal nenek Shin sambil tertawa.

“Itu karena iklannya baru saja tampil di tv.” sambung kakek Hong sambil menunjuk televisi. SongYi yang sudah sangat malu akhirnya menyembunyikan wajah dengan kedua telapak tangannya. Walau begitu gadis itu tidak marah, dia tau orang-orang yang ada di ruangan ini hanya bercanda.

“SongYi-ssi cantik sekali. Jika saja kau bermain drama aku pasti takkan melewatkan satu episode pun.”

“Gomawo Yuri-ssi. Apa tanganmu sudah lebih baik?”

“Ne, dokter akan menginjinkanku pulang besok.” jawab Yuri sambil tersenyum dan membuat Jessica ingin menoyor kepala si hitam tersebut. Berada diantara Yuri dan SongYi membuat Jessica merasa seperti obat nyamuk.

“Krys.. biar unnie menyuapimu.” Jessica berkata sambil bermaksud mengambil alih sumpit dari tangan adiknya namun Krystal menggelengkan kepalanya dan menunjukkan jarinya ke arah Yuri.
“Lebih baik unnie membantunya.”

Gadis tanned itu tampak kesulitan dengan sumpit di tangan kirinya. Jessica menghela nafas dan memalingkan wajahnya. “Aku tidak mau melakukannya.” gumamnya.

“Yuri-ssi biar aku membantumu.” sedetik kemudian suara SongYi terdengar menusuk telinganya. Sebelum Yuri sempat menjawab -secepat kilat- sumpit yang ada di tangannya telah berpindah ke tangan Jessica.

“Sica apa yang-“

“Buka mulutmu Kwon Yuri!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lagi-lagi Krystal sibuk dengan buku gambarnya. Yuri berusaha mengintip dari balik punggung gadis kecil tersebut namun Krystal terlanjur menutup bukunya.

“Yuri tidak boleh melihatnya!”

“Arraseo!”

“Apa itu?” Krystal menunjuk sesuatu yang Yuri sembunyikan di balik punggungnya. Yuri tersenyum lalu mengangkat benda itu di depan wajahnya.

“Tada! Kertas origami! Kemarilah aku akan mengajarkanmu membuat bangau.”

Krystal turun dari ranjangnya dan berlarinke ranjang Yuri. Gadis kecil itu duduk di pangkuan Yuri sambil memperhatikan apa yang Yuri lakukan. Setelah bersusah payah melipat kertas tersebut dengan satu tangan -mengingat tangan kanannya masih belum bisa digunakan- akhirnya bangau buatan Yuri jadi juga. Krystal bertepuk tangan sementara Yuri tersenyum bangga memperlihatkan hasil karyanya.

“Apa aku boleh membuatnya juga?”

“Tentu saja.”

“Siapa yang mengajarimu membuat ini?”

“Kakakku. Jika kita bisa membuat seribu bangau seperti ini maka satu permintaan akan terkabul.”

“Jeongmal?”

“Hm. Kau mau mencoba membuat seribu bangau seperti ini?”

“Aku mau.”

“Apa yang ingin kau minta?”

“Aku ingin meminta rumah yang terbuat dari es krim dan cokelat.”

Malam terakhir Yuri di rumah sakit paman Chun memaksa semuanya untuk menonton film horor sebagai pesta perpisahan. Alhasil film itu membuat Krystal ketakutan.

“Unnie malam ini boleh aku tidur bersamamu?”

“Tentu saja Krys- Tunggu! Barusan kau memanggilku apa?” Yuri membulatkan matanya. Tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.

“Unnie.” Krystal mengulangi kata-katanya sambil naik ke ranjang Yuri. Krystal berbaring di samping Yuri sementara Yuri mulai melingkarkan tangannya di tubuh mungil Krystal.

“Kukira kau tidak akan pernah memanggilku dengan sebutan itu.” Yuri tertawa saat Krystal mempereerat pelukannya.

“Untukmu.” Gadis kecil tersebut mengeluarkan sesuatu dari saku piyama rumah sakitnya. Sebuah gambar.

“Ini aku?” Yuri bertanya setelah melihat gambar buatan Krystal.

“Gomawo. Tapi kurasa aku tidak sehitam ini.” Yuri menggembungkan kedua pipinya. Krystal tertawa memamerkan deretan gigi putihnya.

“Krystal hari ini kenapa Jessica tidak datang?”

“Dia pergi bersama Taeyeon unnie.”

“Begitu ya..”

“Yuri unnie apa kau menyukai unnie ku?”

“Hah? Itu.. sebenarnya dialah yang menyukaiku.”

Saat Yuri akan memutar kenop pintu untuk keluar gadis tanned itu mendengar sesuatu yang membuatnya berhenti…

“Jessica akan membayar mahal atas apa yang dilakukannya. Tidak asa seorangpun yang mempermalukan seorang Oh Raina  dan lepas begitu saja.”

“Kali ini apa yang kau lakukan?”

“Raina sengaja menyuruh seseorang untuk melonggarkan baut-baut dari tangga yang kau naiki. Dia sengaja melakukannya untuk mencelakaimu.” Taeyeon mengajak Jessica bertemu untuk mengatakan semua itu. Hasil penyelidikannya selama seminggu.

Jessica masih membisu, tidak tau harus memberi tanggapan seperti apa. Kejadian seminggu lalu kembali terulang di kepalanya sepertinlaset rusak, terus berputar. Jika saja saat itu Yuri tidak menyelamatkannya Jessica tidak tau apa yang akan terjadi padanya. Kali ini Jessica rasanya tidak akan bisa memaafkan Raina begitu saja, tidak jika Yuri juga ikut terluka.

Menyadari Jessica yang hanya terpaku Taeyeon lantas menggenggam tangan gadis blonde tersebut. “Aku mengerti perasaanmu Sooyeon-ah. Aku berjanji mulai sekarang Raina atau siapapun tidak akan bisa melukaimu. Aku akan melindungimu.”

.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Honesty (YulSic/Part 3)

Tittle : Honesty
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Lenght : Chapter
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri, Kim Taeyeon and other cast

Inspired by Drama Boys Before Flowers.

Song lyric by :
*Yesung – Gray Paper (OST. That Winter The Winds Blow)

Honesty
.
.
.
.
.
-Part 3-

Jessica mencondongkan tubuhnya untuk membereskan mangkuk bekas pelanggan. Di hari bersalju seperti ini restoran mereka memang selalu ramai. Dari balik meja kasir Yoseob memperhatikan Jessica yang tersenyum pada pelanggan mereka. Walau begitu pria itu masih mampu membaca kesedihan di balik senyumannya, kesedihan yang terlukis di wajah lelahnya.

“Terimakasih. Silahkan datang lagi.” ucap Jessica pada seorang ibu dan anak laki-lakinya. Sebelum benar-benar pergi anak itu menarik ujung seragam Jessica lalu meletakan sesuatu di tangannya. Sebuah bangau kertas berwarna merah.

“Untukmu noona, karena kau sangat cantik.” Ucap bocah itu malu-malu. Jessica menerimanya sambil tersenyum.

Di tempat yang sama Yoseob masih memperhatikan Jessica. Pria itu lantas melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 16.00.

“Jessica jam kerjamu sudah berakhir. Pulanglah!”

Jessica menautkan kedua alisnya begitu mendengar pernyataan Yoseob. Bagaimana tidak jika seharusnya gadis itu pulang pukul 21.00 nanti. Melihat wajah Jessica yang kebingungan Yoseob tau detik berikutnya gadis itu akan mendebatnya.

“Pulanglah! Ini perintah! Kalau kau tidak mau menuruti perintah bosmu akan kupecat.” Ujarnya sambil melangkah pergi.

Eunji menggelengkan kepalanya seraya tertawa kecil. “Itu cara direktur menunjukkan perhatiannya. Karena dia sudah berkata seperti itu jadi pulanglah. Bukankah ada seseorang yang lebih membutuhkanmu saat ini?”

“Tapi-“

“Jangan khawatir aku dan yang lainnya masih sanggup mengurus tempat ini.”

Di dalam bis yang akan membawanya menuju rumah sakit Jessica sengaja duduk di kursi paling belakang. Setelahnya Jessica mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.

“Benda-benda ini adalah milik Yuri yang ditemukan di lokasi kecelakaan.” Ucap Boa kala itu sambil menyerahkan gelang bertuliskan ‘Yuri Now’ dan sebuah ponsel yang layarnya sudah retak. Ponsel milik Yuri.

“Sampai Yuri bangun simpanlah benda-benda ini bersamamu.” Boa menyerahkan kedua benda tersebut sementara Jessica menerimanya dengan tangan gemetar.

Gelang itu sudah Jessica pakai di pergelangan tangannya. Di tempat dimana benda itu seharusnya berada. Sementara ponsel Yuri masih ada dalam genggamannya, benda itu terkunci.Jessica memasukan namanya sebagai password dan benar saja kuncinya terbuka. Mengetahui Yuri masih menggunakan namanya sebagai kata sandi membuat airmata Jessica menggenang di sudut matanya. Bahkan setelah semua yang sudah Jessica lakukan padanyaYuri masih mencintainya sebanyak itu.

Jari Jessica terus bergerak sampai terhenti di sebuah folder bernama ‘YulSic’.

“YulSic itu singkatan namamu dan namaku. Yul untuk Yuri dan Sic untuk Jessica.”

Folder itu berisi foto-foto mereka berdua meski sebenarnya lebih banyak foto Jessica -yang Yuri ambil secara diam-diam. Jessica tersenyum melihat itu semua. Potret-potret yang mengingatkan Jessica pada momen-momen yang membuat hatinya hangat. Walau memang tak semua foto menyimpan kenangan yang ‘manis’. Contohnya foto yang satu ini, foto yang membuatnya darah tinggi di Natal beberapa tahun lalu.

“Babo!” Meski Jessica tersenyum airmata turun di kedua pipinya.

I’m saying this because I’m sorry
I’m saying this because you’re crying
I’m saying this because I’m running out of breath
Words that my foolish heart is rushing out

I try to hold it in and block it
I cover my mouth with my hands but
The words “I love you” remain as if it’s written in my heart

I’ll walk slowly, one step, two step
Your footsteps are so familiar to me, one step, two step
You’re getting farther away and disappearing little by little
with heavy footsteps
This is the last time, once, twice
I make promises that I can’t keep, once, twice
The one who should be hurt is me, please, please

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Cium? CIUM APA?!” suara tinggi Jessica menggema di sekitar kolam renang yang memang sangat sepi -saat itu hanya ada dirinya dan Yuri. Jessica emosi, bagaimana tidak  jika seharian ini Yuri merecoki dirinya dengan terus membahas hal memalukan tempo hari.

“Itu bukan ciuman tapi tabrak bibir!” kesal Jessica sementara monyet gosong yang diajaknya bicara malah tersenyum bodoh sambil terus memandangi gadis dihadapannya. Jessica yang menyadari hal itu segera mengikuti arah pandangan Yuri.

“Berhenti memandangi dadaku! Dasar mesum!” Jessica merapatkan kimononya lalu mendaratkan tinjunya di perut Yuri.

“S-sakit!”

“Bersyukurlah karena aku tidak memilih merendam kepalamu ke dalam kolam!”

“Sica.. tidak bisakah kau tunjukkan rasa cintamu dengan cara normal sekali saja?”

“KWON YURI! Jika sampai hitungan ketiga kau tidak membawa wajah menyebalkan itu menjauh dariku maka aku bersumpah kau tidak akan bisa keluar utuh dari tempat ini!” ancam Jessica sekali lagi tapi Yuri malah berjalan kearah gadis itu dengan gaya sok coolnya -seperti biasa.

“Kalau aku tidak mau?” tantangnya. Jessica memiringkan kepalanya dan tersenyum manis.

“Maka ini yang akan terjadi..”

“Y-ya sakit! Sica lepaskan.. ya Tuhan rambutku! Iya iya, aku akan pergi.. lepaskan Sica-ah..”

~~~~~~~~~~~~~~~~

Yuri sedang berjalan sambil memegangi kepalanya yang masih sakit. Jessica adalah gadis tersadis yang pernah Yuri kenal selama hidupnya. Padahal seingatnya, dulu Jessica adalah gadis yang manis. Pertemuan pertama itu, Yuri jadi mengingatnya kembali. Walau Jessica telah banyak berubah dan selalu menyangkal Yuri tetap yakin jika Jessica yang ini merupakan Jessica teman masa kecilnya. Sejak Jessica menginjakkan kakinya pertama kali ke sekolah ini sebagai murid baru Yuri sudah yakin.

“Hilang sudah ketampananku..” miris Yuri saat dirinya bercermin di ponsel, penampilannya sangat berantakan. Persis seperti seorang suami yang baru dihajar istrinya karena ketahuan selingkuh dengan sekretarisnya.

“Seperti yang sudah kuduga dari seorang ‘Kwon’..” Taeyeon yang tiba-tiba berpapasan dengan Yuri berkata seperti itu. Yuri menghentikan langkahnya dan menoleh kearah gadis bertubuh mungil yang satu tahun lebih tua darinya tersebut.

“Apa maksudmu?”

Taeyeon tersenyum sinis mendengar pertanyaan Yuri yang menurutnya begitu retoris. “Sooyeon.. berhenti mendekatinya! Kuharap aku tak perlu mengatakan hal yang sama padamu untuk kedua kalinya.. arraseo?” ucapnya sambil kembali melangkah.

“Taeyeon-ah.. bagaimana jika kukatakan jika Sooyeon-mu adalah gadis kecil yang pernah kuceritakan itu? Sooyeon adalah… Sica kecilku?” Yuri bertanya dan membuat Taeyeon berhenti melangkah, namun gadis itu tidak berbalik.

“Kalau begitu lupakan dia!” jawab Taeyeon setelahnya tanpa perasaan. Yuri tersenyum sambil memandangi punggung Taeyeon.

“Kenapa kita jadi seperti ini Taeyeon-ah?” Yuri kembali bertanya namun hanya keheningan yang didapatnya.

“Aku percaya pada takdir. Takdir.. yang telah mempertemukanku kembali dengan Sica.. layaknya takdir yang telah mempermainkan kita.”

“…………………..”

“…………………..”

“Kwon…” Taeyeon berbalik dan menatap tajam Yuri di kedua matanya.

“Aku membencimu karena kau seorang Kwon.”

“….. aku tau, Taeyeon-ah. Aku tau.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Kau yakin?” Hyoyeon bertanya ragu.

“Tentu saja, kalian tidak percaya padaku?” jawab Yuri sambil mengaduk sup dihadapannya.

“Sebenarnya kami memang tidak percaya padamu. Tidak pernah.” timpal Sooyoung yang sukses mengundang tawa beberapa maid yang melayani mereka. Yuri memasang wajah cemberutnya.

“Tapi jika kau benar-benar sudah mencium Jessica.. harus kami akui kami salut padamu.” kata Hyoyeon. Yuri tersenyum bangga.

“Yeah.. aku salut padamu.” Sooyoung menyetujui kata-kata Hyoyeon. Semua orang juga tau seberapa menyeramkannya seorang Jessica Jung tapi orang yang ada di hadapan mereka ini, sahabat mereka -Kwon Yuri- berhasil mengajak Jessica kencan dan menciumnya dan masih hidup sampai sekarang. Bukankah luar biasa?

“Itulah kenapa kalian memanggilku Kwon Yuri..” ujar Yuri lagi, yang kali ini terdengar agak sombong.

“Kalian tau seharian ini Jessica terus menghindariku di sekolah. Dia selalu tersipu saat berbicara denganku..” ujar Yuri penuh dusta.

“Kau hebat buddy..” timpal Sooyoung takjub.

“Orang-orang menjulukiku ‘The Charismatic Prince’ bukan tanpa alasan. Tidak seorang pun yang bisa menolak pesonaku termasuk Jessica. Terlebih lagi dulu saat dia tersesat di Amerika akulah yang menolongnya-” kata-kata Yuri terpotong karena BoA yang baru bergabung dengan ketiga remaja itu langsung menenggelamkan wajah Yuri ke mangkuk sup dihadapannya. Hyoyeon dan Sooyoung kembali tertawa.

“YYAA!! UNIEE! untuk apa itu?!”

~~~~~~~~~~~~~~~

PPRRRIIIITTTTT!!!

Jessica yang sedang melakukan gaya bebas akhirnya sampai di tepi kolam. Gadis itu mengangkat kepalanya ke permukaan dan menemukan Taeyeon yang tengah tersenyum padanya sambil memegang kartu merah di tangan serta peluit yang tergantung di lehernya.

“Kartu merah? Apa yang harus dikhawatirkan soal itu?
Aku kan bukan pemain sepak bola…”

“Lalu?” jawab Taeyeon sambil membantu Jessica naik.

“..intinya kau sudah melakukan pelanggaran dan aku akan menghukummu..” lanjutnya. Taeyeon juga langsung menutupi tubuh Jessica dengan handuk yang sengaja dibawanya.

“Gomawo.” ucap Jessica dengan tubuh menggigil. Taeyeon menggelengkan kepalanya.

“Haruskah kau berenang di cuaca sedingin ini?” tanya Taeyeon heran. Apa Jessica tidak merasa tersiksa, suhu saat ini sangat dingin tentu saja suhu air akan lebih dingin lagi.

“Ini untuk menenangkan pikiran.”

“Dasar keras kepala.” Taeyeon bergumam sambil merogoh sesuatu dari saku hoodienya. Obat flu.

“Ini hukumanmu? Menyuruhku minum obat?”

“Babo, tentu saja bukan..” Taeyeon mengacak rambut basah Jessica.

“Hukumanmu adalah.. menemaniku makan siang, bagaimana?”

“Aku sudah mendengar berita tentang Krystal dari umma pagi ini.” kata Taeyeon membuka pembicaraan. Jessica mengangguk lemah. Krystal, adiknya, anak itu memang memiliki kelainan jantung sejak lahir. Kemarin malam kondisinya memburuk dan harus dilarikan ke rumah sakit, sampai sekarang Krystal masih disana. Hal ini tentu saja membuat Jessica sedih.

“Soojung anak yang kuat, lagipula aku yakin suatu saat nanti kita akan menemukan donor yang tepat untuknya.” bermaksud untuk menenangkan, Taeyeon lantas memegang tangan Jessica yang berada di atas meja sementara Jessica terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri untuk menyadari hal itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Selamat pagi nona Yuri.”

“Selamat pagi paman Cho, bukankah cuaca pagi ini cerah sekali?” Yuri menyapa kepala pelayan di rumah mereka dengan senyuman lebar. Hal itu tentu saja membuat kepala pelayan Cho serta beberapa pelayan lain yang ikut mendengarnya terheran-heran. Terlebih saat Yuri bilang cuaca hari ini cerah, padahal kenyataannya semalam salju baru saja terjadi badai salju.

Jessica melangkahkan kakinya di lorong sekolah seperti bisa. Walau beberapa murid yang berpapasan dengannya seolah menghindar Jessica tidak mempermasalahkam hal tersebut. Seorang penyendiri sepertinya sudah terlalu terbiasa dengan perlakuan seperti itu.

Pagi ini cuaca sangat dingin, Jessica berdiri di depan loker sambil membuka mantelnya perlahan.

“Jessica-ssi.. Taeyeon sunbae menunggumu di ruangannya.” Baro menjawab dengan suara bergetar, setelahnya lelaki berkacamata tersebut buru-buru pergi bahkan sebelum Jessica memberikan tanggapan. Gadis blonde itu menautkan kedua alisnya, sedetik kemudian Jessica langsung berjalan menuju ruang kelas Taeyeon. Jessica tidak tau jika Baro sempat meliriknya sekilas dan memandangnya dengan tatapan bersalah.

Jessica berjalan menuju tangga lantai dua tanpa rasa curiga sampai ada seseorang yang melempar punggungnya dengan telur. Jessica berbalik dan menemukan banyak siswa yang telah mengelilingi tempatnya berdiri. Masing-masing dari mereka memegang sebutir telur dan melemparkannya pada Jessica. Lama kelamaan Jessica merasakan lemparannya semakin banyak, satu, dua, tiga, empat dan seterusnya sampai seragamnya basah dan berbau amis. Tidak hanya telur, beberapa siswa dari lantai dua menuangkan terigu diatas kepalanya. Sementara siswa yang menjahilinya mulai tertawa Jessica hanya mematung di tempatnya, sampai sebuah suara menyadarkannya.

“Bukankah bau ini cocok sekali denganmu, amis.” Raina berjalan kearah Jessica sambil menutup hidungnya. Gayoon dan Hyuna memandang sinis kearah gadis blonde itu.

“Jadi ini perbuatan kalian?” Jessica bertanya dengan nada dingin seraya berusaha menahan hasratnya untuk mencakar wajah Raina disini, saat ini juga.

“Kalau iya kenapa? Apa yang akan kau lakukan? Melaporkannya pada Taeyeon atau pada… Yuri?”

“Apa maksudmu?” Jessica balik bertanya dan membuat Raina tertawa sinis untuk kesekian kalinya.

“Guys tunjukkan padanya!” Raina menyilangkan kedua tangannya di dada. Hyuna membuka ponselnya lalu menunjukkan sebuah foto yang sukses membuat mata Jessica melebar. Foto Jessica dan Yuri yang sedang berciuman.

“Tidakkah kau berpikir kalau kau itu seorang bitch sejati huh? Haruskah kau melakukan hal seperti itu pada Taeyeon kami? Memalukan sekali sekolah ini punya murid sepertimu..”

“Ada apa ini?” Taeyeon datang membuat perhatian seluruh siswa tertuju padanya. Raina dan kawan-kawannya tersenyum karena merasa mendapat angin segar.

“Sunbae..” Raina merebut ponsel Hyuna lalu menunjukkan foto tersebut di depan Taeyeon. “Bagaimana pendapatmu mengenai ini sunbae?”

Taeyeon terdiam sesaat mengamati foto di depan wajahnya, gadis itu seperti kehilangan kata-kata. Hal itu tentu saja membuat senyum kemenangan di wajah Raina semakin lebar.

“Apa foto itu yang membuat kalian melakukan hal seperti ini pada Sooyeon?”

“Dia memang pantas mendapatkannya.”

Taeyeon merebut ponsel itu dari tangan Raina lalu melemparnya ke lantai hingga berkeping-keping. Raina tersentak begitu pula semua siswa yang menyaksikan kejadian tersebut. Tidak pernah sebelumnya mereka menyaksikan Taeyeon semarah ini, kenyataan tersebut tentu saja membuat nyali Raina dan kawan-kawannya menciut.

“Jika hal seperti ini terjadi lagi, aku bisa melakukan hal yang lebih buruk.. mengerti?!” tepat setelah mengatakannya Taeyeon menggendong Jessica dengan gaya bride style meninggalkan tempat tersebut. Tidak peduli walau kini seragamnya ikut kotor.

Raina mengepalkan kedua tangannya erat, mendapat perlakuan yang demikian dari Taeyeon membuat rasa benci Raina pada Jessica rasanya bertambah ribuan kali lipat. Sejak dulu Taeyeon tak pernah menghargai perasaannya. Tidak pernah.

“Yul tebak apa yang telah terjadi pada Jessica.” Sooyoung berkata sambil menyeret seorang siswa malang ke hadapan Yuri.

“Y-yuri s-sunbae.. mianhe aku cuma menjalankan perintah dari Raina sunbae.” Baro terbata.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Perang dingin antara Raina cs dan Jessica bertambah sejak hari itu. Beberapa siswa bahkan merasa kelas mereka lebih dingin dari kutub utara. Ketegangan itu sudah menjadi rahasia umum, dan tak ada seorangpun yang bisa berada di ruangan yang sama bersama Raina cs dan Jessica tanpa berkeringat dingin atau berwajah pucat.

Raina dan kawan-kawannya tak pernah berhenti membuat Jessica kesal atau berhenti mencari masalah dengannya seperti hari ini misalnya. Han Ssaem meniup peluit panjang, meminta semua siswa berhenti melakukan aktifitas apapun yang mereka lakukan.

“Nona Oh apa yang kau lakukan?” Han Ssaem berjalan kearah Raina dan kedua teman setianya. Setelahnya guru muda itu mengalihkan pandangannya ke arah Jessica yang terduduk di lantai seraya memegangi hidungnya yang berdarah. Raina sengaja melempar bola basket yang di pegangnya ke arah Jessica.

“Kekerasan bukan bagian dari permainan!” tegas Han Ssaem sambil membantu Jessica berdiri. Mendengar hal itu Raina hanya memutar kedua bola matanya, tidak peduli. Raina adalah tipe orang yang takkan minta maaf apapun hal yang telah dilakukannya, sekalipun Han Ssaem yang memintanya.

“Oh Raina, Heo Gayoon, dan Kim Hyuna keluar. Kalian gagal dalam kelas ini!” putus Han Ssaem akhirnya. Hal itu tentu saja membuat ketiganya tak terima, walau begitu keputusan Han Ssaem tak goyah. Jika Raina cs merupakan murid pembangkang makan Han Ssaem merupakan tipe guru yang tegas dan tanpa kompromi. Sepertinya keputusan Raina untuk membuat masalah di mata pelajarannya bukan keputusan yang tepat.

Jessica memutuskan untuk membersihkan wajahnya terlebih dahulu sebelum pergi ke ruang kesehatan. Lemparan Raina cukup keras sampai membuat kepalanya berdenyut. Mata gadis blonde itu mulai berkabut tapi Jessica masih bisa menahan airmatanya untuk tidak tumpah. Dia tidak mau menangis, dia tidak lemah. Selesai membasuh hidungnya Jessica lantas menarik nafas dalam dan memandangi refleksi dirinya di cermin hadapannya. Wajah yang pucat juga lingkaran hitam di bawah mata cukup untuk membuat penampilannya berantakan -bahkan sebelum Raina melakukan sesuatu padanya.

Jessica berbalik dan mendapati Yuri yang sudah berdiri di depan pintu sambil terus memandanginya. Jessica berusaha melewatinya, menghindari Yuri merupakan hal yang ingin segera Jessica lakukan saat ini. Harinya sudah cukup berat dan menguras emosi. Tapi, langkahnya terhenti saat Yuri menggenggam pergelangan tangannya.

“Aku akan mengantarmu ke ruang kesehatan.” ucap Yuri. Jessica memandang gadis yang lebih tinggi itu tajam sebelum menghempaskan tangannya.

“Jangan ganggu aku!” ujarnya sambil berjalan menjauh. Yuri masih berdiri di tempatnya semula. Kata-kata yang dilontarkan Jessica beberapa detik lalu masih terngiang-ngiang di telinganya, membuat gadis tanned itu berpikir. Kenapa perlakuan yang Jessica berikan pada Taeyeon dan padanya sangat berbeda?

“Katakan Jessica Jung! Apa yang tidak kau sukai dariku?”

“Maksudku.. aku ini cantik walaupun sebenarnya cenderung tampan. Aku kaya. Aku pintar. Aku memiliki semua yang orang inginkan. Kenapa Jessica?”

Jessica berhenti berjalan saat mendengar pertanyaan Yuri. Tempat itu sangat sepi sampai-sampai suara yang Yuri keluarkan seolah bergema di lorong-lorong. Ada satu hal yang Jessica sadari, di banding nada menyebalkan yang selalu Yuri gunakan, kalimat yang Yuri keluarkan kali ini terdengar melankolis di telinganya. Jessica menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab dengan posisi yang masih enggan berbalik.

“Aku tidak suka tingkahmu!”

“Aku tidak suka cara berpakaianmu, kau pikir kau ini siapa sampai-sampai tidak perlu mengenakan seragam? Bukankah kau siswa sekolah ini juga?”

“Aku tidak suka cara bicaramu!”

“Aku tidak suka rambutmu yang berwarna seperti rambut singa! Menurutku itu sangat bodoh.”

“Aku tidak suka. Aku tidak suka apapun yang ada
padamu! Apapun!!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi ini ruang santai Kwon mansion terlihat lebih ramai dari biasanya atau lebih tepatnya terlihat seperti salon dadakan.

“Kita bisa terlambat, kau tau?” Protes Sooyoung. Meski begitu hal tersebut tak membuat mulutnya berhenti mengunyah. Menurut Hyoyeon yang duduk di sebelahnya sejak satu jam lalu sejauh ini gadis jangkung itu sudah menghabiskan 5 bungkus keripik kentang.

“Sejak kapan kau takut terlambat?” Yuri balik bertanya tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya karena saat itu nona Yun sedang melakukan sesuatu pada rambutnya.

“Entahlah..” Sooyoung mengangkat bahunya. Gadis jangkung itu lantas berdiri dan memutar tubuhnya di depan Yuri layaknya model profesional. “…lagipula untuk apa kita melakukan semua ini?” Sooyoung kembali bertanya.

“Maksudku sejak kapan kita harus mengenakan seragam?”

“Itu karena seorang siswa harusnya memang mengenakan seragam. Tidak ada yang salah dengan hal itu.” balas Yuri enteng. Sooyoung menggembungkan kedua pipinya karena gadis itu tau tak ada jalan untuk mendebat Yuri. Lagipula Hyoyeon yang kini duduk di sofa sambil membaca majalah sama sekali tidak terlihat tertarik untuk membantunya.

“Aku sebenarnya tidak masalah jika harus mengenakan seragam tapi apa kami harus mewarnai rambut sepertimu juga?” Hyoyeon mengangkat kepalanya sambil tersenyum jahil. Sooyoung membulatkan matanya, sama sekali tidak setuju dengan ide brilian itu.

“Andwe! Pakai seragam saja sudah cukup! Aku tidak mau si hitam ini menyuruhku mewarnai rambut menjadi warna kuning, merah atau semacamnya!”

Kantin K-School langsung berubah heboh saat Yuri, Hyoyeon dan Sooyoung melangkahkan kakinya kesana. Penampilan baru ketiganya membuat rahang-rahang siswa disana terbuka lebar. Bagaimana tidak jika mereka akhirnya menggunakan seragam, satu hal yang paling mustahil terjadi di sekolah ini ditambah lagi kini ramnut Yuri yang sudah berubah menjadi warna hitam. Dengan penampilan baru tersebut ketiganya mulai mengantri makanan sama seperti yang siswa normal lain lakukan.

Jessica tengah menikmati makan siangnya bersama Taeyeon -karena siang ini Taeyeon memaksanya untuk makan siang bersama- mendongakkan kepalanya untuk menemukan penyebab keributan di tempat ini. Saat matanya tanpa sengaja melihat Yuri dan teman-temannya berjalan ke arahnya sensor bahaya dalam diri Jessica seperti mendadak hidup. Entah sejak kapan Yuri seperti berubah menjadi musuh bagi sistem immune tubuhnya. Jessica mengepalkan tinjunya, jaga-jaga saja jika Yuri kembali menganggunya. Tapi justru yang selanjutnya terjadi di luar dugaan Jessica, Yuri berjalan melewati mejanya begitu saja bahkan tanpa melihatnya sedikitpun. Yuri bertingkah seolah-olah Jessica tak ada disana. Ini sebenarnya hal baik, mungkin juga hal yang selama ini diharapkannya, hanya saja kenapa perasaannya…

“Sooyeon!” panggilan Taeyeon lantas menyadarkannya. Ternyata gadis yang lebih tua itu sudah memanggilnya beberapa kali.

“Ada apa?” Taeyeon bertanya setelah menyadari perubahan air muka Jessica.

“Aniyo!” Jessica menggelengkan kepala lalu kembali melanjutkan makan siangnya. Walau begitu sosok Yuri dengan penampilan barunya masih sanggup Jessica lihat melalui sudut matanya.

Yuri baru sadar jika tangannya terkepal erat saat sumpit yang ada dalam genggamannya patah. Tanpa menunggu lama Yuri beranjak dari tempat itu.

“Dia bahkan belum menyentuh makanannya.” Sooyoung terheran-heran dengan sikap Yuri. Padahal gadis kecoklatan itu berangkat ke sekolah dengan senyuman lebar dan sekarang? Moodnya benar-benar berubah drastis dalam beberapa jam saja.

Disisi lain Hyoyeon mengalihkan pandangannya dari Yuri yang sudah tak terlihat ke arah meja yang di duduki Taeyeon dan Jessica.

“Hyo.. apa menurutmu aku harus menghabiskan jatah Yuri juga?”

“Apa yang ada di kepalamu itu cuma makanan?”

“Tidak juga, percaya atau tidak kadang aku sering memikirkan melon ahahaha..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yuri meninggalkan kantin dengan langkah terburu dan berakhir di atap sekolah. Apa yang dilihatnya beberapa tempo lalu sukses membuat selera makannya hilang karenanya Yuri lebih memilih untuk menyendiri. Cukup lama gadis tanned itu berdiam disana hingga akhirnya dia memilih pergi.

Di toilet, Yuri membasuh wajahnya di wastafel sambil memandangi refleksi dirinya di cermin. Setelah melakukan kegiatan itu berulang-ulang perasannya yang tak nyaman berubah lebih baik -walau hanya sedikit. Gadis tanned itu lantas menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.

Saat Yuri akan memutar kenop pintu untuk keluar gadis tanned itu mendengar sesuatu yang membuatnya berhenti…

KFestival merupakan festival yang diadakan setiap tahun di sekolah itu untuk menyambut natal. Festival itu menampilkan berbagai macam kegiatan, mulai dari pentas seni seperti tari dan bernyanyi, fashion show, galeri lukisan dan fotografi sampai bazar makanan. Sekolah yang mendanai kegiatan itu tapi siswalah yang bertugas sebagai penyelenggara. Setiap tahun siswa dari berbagai tingkat bekerja sama demi suksesnya acara ini.

Siswa pilihan dari berbagai kelas dan tingkatan dibagi menjadi beberapa tim juga diberi tugas yang berbeda-beda. Setiap malam natal siswa akan berkumpul di sekolah setelahnya seusai mendengarkan pidato kepala sekolah mereka bersama-sama menyalakan pohon natal yang diletakkan di sisi panggung. Dana yang didapat dari acara ini biasanya akan disumbangkan. Jadi sebenarnya acara ini lebih tepat disebut sebagai charity.

“Noona biar aku yang melakukannya!” Chanyeol berusaha mengambil bintang raksasa dari tangan Jessica, bintang yang biasa diletakkan di puncak pohon natal.

“Tidak apa-apa. Biar aku yang melakukannya!”

“Noona yakin?”

Jessica kembali menganggukkan kepalanya. Karena Jessica sudah berkata seperti itu Chanyeol pun tak bisa berbuat apa-apa. Namja jangkung itu lantas pergi untuk membantu Sehun yang kesulitan dengan beberapa lampu panggung. Sementara Taeyeon yang merupakan ketua panitia dari acara tersebut sibuk memeriksa pekerjaan anak buahnya.

Jessica menapakkan kakinya diatas anak tangga tanpa merasa curiga. Bintang yang dibawanya pun bisa diletakkan di atas pohon dengan mudah namun saat Jessica hendak turun mulai terjadi masalah. Tangga yang digunakannya mulai bergoyang. Jessica yang tak bisa mempertahankan keseimbangannya pun terjatuh. Tidak hanya Jessica, tangga yang dinaikinya pun ikut rubuh.

“Sooyeon!!”

Bruukkkkk!!!!

Kejadian itu pun sontak menarik perhatian seluruh siswa yang ada disana. Mereka berbondong-bondong berlari menghampiri Jessica. Sementara gadis blonde yang dimaksud tersebut mulai membuka matanya. Jessica yang membayangkan dirinya akan mendarat di atas lantai yang keras justru mendapati dirinya ada dalam pelukan seseorang. Seseorang yang menangkapnya saat dia terjatuh tadi.

“Kwon Yuri?”

“………………….”

“Kwon Yuri bangun! Jangan bercanda!” Jessica terus mengguncang tubuh Yuri namun tak mendapat respon apapun. Mata gadis tanned itu terpejam rapat.

“Yuri buka matamu”

“Apa yang kalian lakukan? Cepat panggil ambulan!!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Bagaimana keadaannya dok?”

“Tangan kanannya patah dan harus di gips untuk sementara waktu selain itu dia baik-baik saja. Nona Kwon hanya pingsan karena syok, setelah pengaruh obatnya hilang dia akan segera siuman.”

Hyoyeon, Sooyoung, Jessica dan beberapa guru yang menunggu di depan ruang emergency room akhirnya bisa bernafas lega. Kejadian ini tentu sangat mengejutkan dan membuat persiapan KFestival dihentikan untuk sementara. Setelahnya Han Seongsaengnim mengikuti dokter yang menangani Yuri ke ruangannya untuk mendapat keterangan lebih lanjut.

“Yuri bangunlah!”

“Bagaimana ini? Kwon Yuri kumohon jangan mati!”

Di ruang rawat Yuri hanya ada mereka berdua. Jessica yang duduk di kursi dan Yuri yang masih terbaring di ranjangnya. Dokter bilang seharusnya pengaruh obatnya sudah hilang sejak satu jam yang lalu tapi sampai saat ini Yuri belum juga sadarkan diri. Kenyataan tersebut tentu saja membuat Jessica semakin khawatir. Apalagi Yuri terluka karena menyelamatkannya. Jika sampai terjadi sesuatu pada gadis ini maka Jessica lah yang patut disalahkan.

Jessica kembali melipat kedua tangan lalu memejamkan matanya. Gadis itu berdoa demi kesembuhan Yuri. Disisi lain tanpa Jessica tau Yuri sebenarnya sudah sadar, gadis kecoklatan itu hanya pura-pura saja supaya bisa lebih lama dekat-dekat dengan Jessica. Sambil memejamkan matanya Yuri berusaha keras menahan tawa setiap kali mendengar Jessica memohon padanya dengan nada panik bercampur khawatir.

“Jika kau bangun nanti aku janji takkan memukulmu lagi.”

“Kumohon kau harus baik-baik saja.. a..aku aku..” Jessica tak sanggup melanjutkan kata-katanya karena sekarang dia menangis. Yuri yang mendengar Jessica menangis langsung merasa bersalah, gadis tanned itu jadi merasa agak keterlaluan.

“Uljima..” Yuri berkata sambil membuka matanya. Jessica membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya yang berurai airmata dan menemukan Yuri yang tersenyum jahil padanya.

“K-kau bangun? Sejak kapan?”

“Cukup lama untuk mendengar semuanya.” Yuri menunjukkan seringai menyebalkannya. Butuh waktu lama untuk Jessica sampai gadis itu sadar jika Yuri telah membodohinya.

“Aku merasa tersanjung karena kau menangis untukku.”

“Dasar tidak punya perasaan! Penipu menyebalkan!” Jessica memukuli Yuri dengan tinjunya.

“Ya!! Sakit!! Ingat kau sudah berjanji tidak akan memukuliku lagi?!” Yuri berusaha melindungi diri dari pukulan Jessica dengan tangan kirinya karena tangan kanannya tidak bisa digerakkan sama sekali.

“Itu sebelum aku tau kau sudah membodohiku!!”

“Ya!! Hentikan itu! Syoo Hyo jangan hanya melihat lakukan sesuatu!”

Taeyeon masih ada di TKP untuk menyelidiki penyebab kecelakaan hari ini. Sebagai seorang ketua dia merasa memiliki tanggung jawab atas keselamatan semua anggotanya.

Taeyeon berlutut untuk mengambil sebuah baut yang tergelatak di dekat kakinya. Baut dari tangga yang digunakan Jessica. Gadis berkulit putih tersebut menautkan kedua alisnya. Ada yang aneh di kejadian ini, entah kenapa Taeyeon merasa kejadian siang ini bukan cuma kecelakaan biasa. Mungkinkah disengaja? Jika iya, siapa orang yang setega itu melakukannya?
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Waktu (PoemFic)

Tittle : Waktu
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance, Angst
Lenght : Ficlet
Cast : Jessica Jung and Kwon Yuri

Waktu
.
.
.
.
.

Melogika-kan-logika
Sekuat ku mencoba, hati tak bisa berdusta
Apa aku harus tertawa?
Jika nyatanya batin ini terluka

Jiwa ini merana
Karena rasanya sakit
Rasanya masih sakit
Jika waktu bisa menyembuhkan segalanya
Kapankah saat itu kan tiba?

LA, USA

4 PM

Kota yang dijuluki Angeltown itu kembali diguyur hujan. Sudah beberapa kali ramalan cuaca yang dibawakan stacy setiap pukul 8 pagi meleset. Hari ini misalnya, hari yang diramalkan cerah nyatanya diguyur hujan lebat sejak 2 jam lalu. Tentu acara tersebut kembali akan mendapat kritikan, bahkan mungkin akan lebih banyak dari apa yang mereka dapat sebelumnya. Bagaimanapun cuaca itu penuh dengan ketidakpastian seperti hidup. Detik ini cerah detik berikutnya hujan turun, detik ini bahagia detik berikutnya menangis pilu berurai airmata.

Yuri menatap keluar, menembus jendela yang buram karena permukaannya berembun. Di luar orang-orang berjalan dengan langkah tergesa, dengan payung-payung yang mengembang. Seorang anak kecil sengaja menginjak genangan air dengan sepatu boots merahnya, membuat air menciprati hoodienya yang hampir menyentuh tanah. Anak itu lantas tertawa, Yuri masih bergeming. Kapan terakhir dirinya tertawa selepas itu?

“Aku merindukanmu.” Kata pertama yang Jessica keluarkan sukses membuat Yuri menoleh padanya, walau hanya sesaat. Gadis tanned itu memang tak sendiri. Sudah 30 menit mereka duduk di meja yang sama namun tanpa suara. Hening. Hanya aroma dari cappucino pesanan Jessica yang menyadarkan Yuri jika dirinya tak benar-benar sendiri. Bahwa Jessica benar-benar ada di hadapannya. Nyata, bukan ilusi seperti yang Yuri alami di tahun-tahun pertama perpisahan mereka.

Jessica yang kini ada di hadapannya nyata, mungkin bisa Yuri sentuh dengan jemarinya. Jessica yang ada di hadapannya nyata, mungkin genggamannya akan terasa hangat namun Yuri enggan mencoba melakukan hal yang mungkin dapat membuatnya kembali terluka. Yuri menelan salivanya, berikut semua rasa yang tak mampu terlisankan lidahnya yang kelu. Pada akhirnya Yuri hanya menganggukkan kepala menanggapi pernyataan Jessica.

“Maafkan aku.” Jessica kembali berucap dengan airmata yang mengenang di sudut matanya. Berharap Yuri mau balas menatapnya. Menatap Jessica dengan mata teduh yang begitu dirindunya. Jessica tau mungkin keinginannya terdengar begitu egois mengingat dirinya yang sudah menghancurkan Yuri berkali-kali. Namun, salahkan jika Jessica berharap gadis yang kini duduk di hadapannya menyisakan rasa itu? Salahkah jika Jessica berharap gadis itu masih menyisakan ruang dihatinya? Karena Jessica telah menyadari. Melepas Yuri adalah kesalahan, kesalahan yang selalu disesalinya hingga kini.

“Kembalilah padaku Yuri..”

Selama lima tahun terakhir Jessica terus mencari keberadaan Yuri walau dengan langkah tertatih dan hati yang berdarah-darah. Dihadapan Yuri kini, Jessica melepas semua topengnya. Inilah Jessica yang sebenarnya. Jessica yang rapuh setelah Yuri menyerah akan dirinya, Jessica yang berjalan sendirian di lorong gelap setelah Yuri tak lagi menerangi jalannya, Jessica yang menginginkan Yuri kembali walau gadis itu harus berlutut di kedua lututnya dan membuang semua harga dirinya.

“Saranghae.” Inilah Jessica Jung yang mencintai seorang Kwon Yuri.

Yuri masih menundukkan kepalanya. Hal-hal menjadi lebih rumit dari apa yang pernah terbayang di kepalanya. Semua gejolak perasaan di dada membuatnya merasa terjepit, sesak dan sakit. Mungkin jika Jessica mengatakan hal ini beberapa tahun yang lalu Yuri akan segera berlari padanya tanpa berpikir dua kali atau bahkan tanpa berpikir sama sekali… tapi itu dulu. Lima tahun telah berlalu, selama itu banyak hal yang telah berubah.

“Mianhe Jessica.. aku sudah tidak bisa.” tegas Yuri saat pandangan mereka bertemu. Gadis tanned itu memberanikan diri menyuarakan apa yang beberapa menit lalu tertahan di ujung lidahnya. Menyakiti Jessica adalah hal terakhir yang ingin Yuri lakukan tapi saat hal-hal berubah di luar kendalinya Yuri tak bisa berbuat banyak. Walau hatinya serasa di remas inilah keputusan Yuri. Gadis itu harus melakukannya atau akan lebih banyak hati tak berdosa yang akan tersakiti. Cukup dirinya.

“Permisi.” Yuri berdiri dan membungkukkan tubuhnya. Sementara Jessica masih memandang punggung Yuri dengan airmata yang meluruh di kedua pipinya.

Jika waktu bisa menyembuhkan segala
Bisakah ku kembali ke saat itu
Dimana luka belum ada
Dimana rasa percaya masih ada
Dimana aku masih bisa memandangmu dengan cara yang
sama?
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Destiny (Oneshot/YulSic)

Tittle : Destiny
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance, Angst
Lenght : Oneshot
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri and Other Cast

Inspired by The Nuts’ MV

Destiny
.
.
.
.
.

Di kantor jasa pengiriman, para karyawannya sedang menikmati makan siang mereka.

“Paket untuk Jungs Florist lagi.” Hyoyeon berseru supaya kata-katanya sampai di telinga Yuri. Benar saja begitu mendengar kata ‘Jung Florist’ Yuri langsung menegakkan tubuhnya bagai serdadu yang siap berangkat ke medan perang. Gadis tanned itu memang akan berperang, perang cinta lebih tepatnya.

“B-biar aku yang mengantarnya!” sudah tentu Yuri langsung menawarkan dirinya suka rela. Kesempatan emas seperti ini memang tak boleh disia-siakan.

“Semua milikmu Yul.” Hyoyeon tersenyum jahil sambil menyerahkan kotak paket yang harus Yuri antar.

“Gomawo Hyo!” Yuri menerima paket itu dengan senyuman lebar. Beberapa rekan kerjanya terkekeh geli melihat gadis yang sedang jatuh cinta tersebut.

“Unnie fighting!!” Yoona memberinya semangat, sebenarnya semua memberinya semangat kecuali satu orang, Choi Sooyoung.

“Syoo jangan makan jjangmyun milikku!” Yuri memperingatinya. Sooyoung memanyunkan bibirnya karena tertangkap basah.

“Kenapa dia bisa tau?”

Yuri memakai helm lalu mengendarai motornya dengan senyum yang masih mengembang. Pemicunya hanya satu, Jessica Jung. Gadis pemilik toko bunga yang akan segera di temuinya. Jessica sebenarnya teman masa kecil Yuri dan Yuri sudah menyukainya sejak lama. Hanya saja gadis tanned itu tak pernah benar-benar punya keberanian untuk menyatakan perasaannya -sampai saat ini.

Bagaimana jika Jessica sudah punya pacar? Bagaimana jika dia tidak suka pada Yuri? Bagaimana jika Yuri ditolak? Bagaimana jika ini… Bagaimana jika itu.. Terlalu banyak bagaimana jika yang pada akhirnya membuat nyali Yuri menciut. Oleh karena itu Yuri hanya bisa mendekati Jessica dengan cara tidak langsung, misalnya seperti mengantar paket seperti ini. Karena berbicara beberapa menit saja dengan Jessica bisa membuat Yuri sangat bahagia sampai rasanya jantungnya ingin melompat keluar.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica mendongakkan kepalanya saat bel di pintu tokonya berdenting, menandakan ada yang datang. Jessica tersenyum saat Yuri membawa sekotak paket di tangannya.

“Ada kiriman lagi.. untukmu.” Yuri tersenyum manis sambil meletakkan kotak besar itu di meja kerja Jessica. Sesaat kemudian gadis tanned itu merogoh kertas tanda terima dari saku jaketnya yang harus Jessica tanda tangani.

“Ini..”

“Ah iya.” Yuri menerima kertas yang sudah Jessica tanda tangani dan memasukan kertas itu kembali ke saku jaketnya.

Setelah urusannya selesai Yuri tak lantas pergi, gadis tanned itu masih menikmati pemandangan di toko bunga milik Jessica. Semuanya tampak baru namun ada satu yang lebih menarik perhatian Yuri. Satu tanaman lebih tepatnya.

Tanaman itu baru tumbuh, tingginya mungkin hanya 2cm. Yuri menunduk agar pandangannya lebih jelas. Mungkin gadis tanned itu memang bukan seorang ahli tanaman atau sejenisnya tapi Yuri benar-benar baru melihat bunga seperti itu.

“Ige mwoya?” Yuri menunjuk bunga itu dengan ekspressi bingung, membuat Jessica tertawa kecil karenanya.

“Itu bukan bunga.”

“Lalu?”

“Sawi.”

“Untuk apa kau menanam sawi?” Yuri bertanya karena begitu penasaran tapi Jessica hanya mengangkat bahunya sekilas dan menjawab pertanyaan Yuri dengan senyuman. Karena senyuman Jessica begitu manis Yuri jadi merasa wajahnya memanas.

Yuri menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum bodoh. Pada dasarnya orang memang cenderung akan bersikap aneh dan bodoh saat mereka gugup. “Begitu ya..”

“Baiklah aku pergi dulu..”

“Ne..”

“Pekerjaanku masih banyak.” Yuri tertawa walau dia tak tahu hal apa yang ditertawakannya. Jessica -yang bermaksud mengantar Yuri sampai pintu depan- berjalan disisi gadis tanned itu sambil menundukkan kepalanya.

“Aku tau kau sibuk.” jawabnya.

“A-aku akan pergi sekarang.” Yuri berkata seperti itu tapi kakinya tak mau beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.

“Sampai jumpa.”

“Aku pergi.”

“Baiklah.”

“Aku benar-benar akan pergi.”

“Hati-hati.”

Keduanya tersenyum canggung, Yuri melangkahkan kakinya menjauh sebelum akhirnya gadis tanned itu berbalik lagi.

“Jessica sabtu malam nanti kencanlah denganku!”

“Ne?”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ajakan kencan Yuri sama sekali tidak romantis memang dan tanpa perencanaan. Meski begitu rekan-rekan kerjanya salut pada Yuri karena gadis tanned itu sudah selangkah lebih maju.

Sabtu malam, Jessica sibuk memilih dress yang akan dikenakannya. Tidak pernah sebelumnya Jessica merasa se-stress ini soal penampilan. Kwon Yuri benar-benar merubahnya menjadi orang lain, entah kenapa Jessica merasa dirinya harus tampil cantik di hadapan Yuri.

Di kencan pertama mereka Yuri mengajak Jessica menikmati pemandangan di pinggiran sungai Han. Awalnya semua masih terasa canggung, Jessica senang pergi bersama Yuri, hanya saja dia masih merasa malu. Semakin malam udara semakin dingin, saat itu Yuri menggenggan tangan Jessica untuk pertama kalinya.

“Sudah lebih hangat?”

“N-ne.”

Di kencan pertama itu pula Yuri meminta seorang pelukis jalanan untuk melukis mereka berdua. Jessica awalnya ragu karena sang pelukis memintanya untuk duduk bersebelahan dengan Yuri, Jessica khawatir Yuri bisa mendengar gemuruh jantungnya.

“Yuri-ah tapi..”

“Kenapa? Kau tidak mau dilukis bersamaku..” Yuri tertunduk sedih dan membuat Jessica merasa bersalah. Pada akhirnya Jessica memutuskan untuk menuruti keinginan Yuri, hanya sebuah lukisan takkan sakit bukan?

Mereka sudah duduk bersebelahan namun si pelukis tak juga berkarya. Lelaki paruh baya itu tampak berpikir keras sampai-sampai kedua alis tebalnya saling bertautan.

“Wae geurae?”

“Sepertinya ada yang kurang.”

“Apa?” Yuri dan Jessica memandangi penampilan mereka masing-masing. Si pelukis berjalan kearah keduanya lantas melingkarkan tangan Yuri di pinggang Jessica dan menyuruh Jessica menyadarkan kepalanya di pundak Yuri.

“B-begini?” tanya Yuri ragu, sementara Jessica tak berkata apa-apa. Namun parasnya yang matang lebih dari cukup untuk menggambarkan perasaannya saat ini.

“Ini sempurna.” ucap si pelukis bangga. “Aku selalu suka romansa anak muda.”

Kencan pertama itu membuka jalan untuk kencan kedua, ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Rasa canggung yang dulu menyelimuti keduanya sudah tidak begitu terasa, meski begitu debaran di jantung keduanya serasa makin hari makin kuat. Mungkin pertanda jika perasaan mereka untuk satu sama lain semakin kuat dan dalam.

Di kencan mereka yang keenam Yuri memberanikan diri untuk menyatakan perasannya sekaligus meminta Jessica menjadi kekasihnya. Lagi-lagi moment penting seperti itu berawal dari ketidak sengajaan. Kala itu heels sepatu Jessica lepas, karena tidak membawa sandal cadangan Yuri memutuskan untuk menggendong Jessica sampai rumah dan terjadilah proses penembakan yang sangat tidak romantis tersebut.

“Jessica saranghae.. jadilah pacarku.”

Yuri menunggu jawaban Jessica dengan nafas tercekat seolah kehidupannya tergantung pada hal itu. Jessica yang saat itu masih berada di punggung Yuri belum bersuara sedikitpun, bahkan suara nafasnya saja tak terdengar. Yuri berpikir mungkin Jessica belum siap atau selama ini gadis itu tak pernah memiliki perasaan yang sama seperti Yuri. Yuri berusaha tegar walau hatinya serasa tersayat, di saat gadis tanned itu hampir kehilangan harapan Jessica justru memberikan jawaban dengan cara tak terduga.

Jessica mengeratkan pelukannya di leher Yuri.

Memang kata-kata itulah yang ingin di dengarnya dari mulut Yuri selama ini. Jessica begitu bahagia mengetahui cintanya tak bertepuk sebelah tangan, karena terlalu bahagia Jessica jadi tidak tau harus memberikan tanggapan seperti apa.

“Nado saranghae Kwon Yuri… aku mau jadi kekasihmu.”

“Gomawo Sica-ah.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Apa kita perlu membeli ini juga sayang?” Yuri bertanya sambil mengangkat sebotol banana milk. “Yoona sangat menyukai ini.” lanjutnya.

Jessica tersenyum dan mengelus rambut Yuri. “Beli saja.. jangan lupa pesanan Sooyoung juga.”

“Arraseo.”

Malam natal ini salju juga turun. Jessica sengaja mengadakan pesta kecil-kecilan di rumahnya untuk menyambut Christmas eve, Christmas eve pertama yang dirayakannya bersama Yuri setelah mereka resmi. Beberapa teman dekat Jessica dan Yuri sudah menunggu mereka dirumah.

Selesai dari lorong minuman Jessica mengajak Yuri ke lorong sayur  dan daging. Jika dilihat keduanya seperti pengantin baru saja, dengan Yuri yang mendorong kereta belanjaan dan Jessica yang serius mencari barang-barang yang dicatat di daftar belanja.

Selesai belanja, keduanya keluar dari supermarket sambil membawa dua kantong belanjaan besar. Sebenarnya yang membawa belanjaan itu Yuri, sementara Jessica bertugas memegang payung untuk menghalau salju yang ingin menghujani keduanya.

“Chankanman!” kata Jessica tiba-tiba.

“Huh? Wae?” heran Yuri. Bukannya menjawab Jessica justru merapikan syal Yuri dan lebih merapatkan mantel gadis tanned itu.

“Begini lebih baik.” katanya sambil tersenyum.

“Gomawo.” ucap Yuri malu-malu.

Waktu yang biasa di tempuh dari aprtemen Jessica ke supermarket ini 30 menit menggunakan bis. Namun sepertinya kali ini membutuhkan waktu lebih lama karena lalu lintas yang sangat padat. Orang-orang pasti ingin segera sampai dan menghabiskan malam natal mereka di rumah bersama keluarga.

“Aku lupa!!” Yuri memekik kaget dan membuat Jessica menoleh padanya.

“Ada apa?”

“Aku baru ingat kalau persediaan soju di rumah sudah habis. Sica tunggu disini arra? Aku akan kembali ke tempat tadi dan membelinya dulu.” Yuri sudah berlari menyebrangi jalan bahkan sebelum Jessica sempat memberikan respon. Jessica akhirnya tidak punya pilihan selain menunggu Yuri di halte sampai kekasihnya kembali.

Saat itu di halte cuma ada Jessica sendiri bersama dua kantong besar belanjaannya. Sesaat kemudian seorang wanita dengan penampilan mencolok -seperti seorang peramal- duduk di sampingnya. Wanita misterius tersebut memainkan kartu yang biasa digunakan untuk meramal. Jessica berusaha mengabaikan wanita aneh tersebut dan menggeser duduknya.

Wanita itu nampak tak terpengaruh dan tetap mengocok kartu di tangannya. Jessica sempat mencuri pandang saat wanita tersebut mengeluarkan kartu kematian dan memandang lurus ke arah sesuatu atau lebih tepatnya seseorang. Jessica mengikuti arah pandangnya dan menemukan Yuri yang sedang berdiri di pinggir jalan. Gadis tanned membawa kantung plastik berisi beberapa botol soju di tangannya. Yuri tersenyum dan Jessica balas tersenyum padanya namun hal itu tak berlangsung lama. Tepat saat Yuri menyebrang jalan sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hampir menabraknya. Untung saja Yuri masih bisa menghindar.

Jessica membulatkan matanya karena syok. Hampir saja Jessica menyaksikan Yuri tertabrak di depan matanya. Sesaat Jessica mencuri pandang ke arah peramal misterius tadi namun Jessica sudah tidak bisa menemukannya di manapun. Wanita misterius itu bagai hilang tertiup angin.

Jessica berusaha mengabaikan fakta itu karena ada hal yang lebih penting saat ini. Yuri-nya. Tepat saat gadis tanned itu sampai di hadapannya Jessica langsung memeluknya dengan begitu erat.

“Tidak apa-apa sayang, aku baik-baik saja.” Yuri berkata sambil mengelus rambut pirang kekasihnya, menenangkannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Seperti yang diperkirakan sebelumnya, walau peristiwa di malam natal tersebut sudah berlalu selama berminggu-minggu namun Jessica tak dapat melupakannya begitu saja. Bukankah terlalu aneh untuk sebuah kebetulan? Mungkinkah wanita misterius itu berusaha memberitahukan sesuatu padanya?

Seperti malam-malam sebelumnya, Jessica masih menyendiri di balon kamar sambil memeluk lututnya. Perasaannya selalu tak menentu, rasa cemasnya pada Yuri seakan semakin hari semakin memuncak, tak jarang Jessica takkan bisa terlelap jika Yuri belum menghubunginya. Jessica takkan bisa tenang sebelum mendengar sendiri suara kekasihnya dan memastikan jika gadis hitam menyebalkan yang dicintainya itu baik-baik saja. Jujur saja Jessica tidak tau apa yang akan dilakukannya jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Yuri.  Apa yang akan dilakukannya jika Yuri tak disampingnya lagi. Jessica tidak tau dan tak pernah mau membayangkan hal itu.

Jessica mendongakkan kepalanya begitu merasakan sesuatu menutupi tubuh kecilnya. Selimut. Yuri datang dan menyelimutinya.

“Aku sangat khawatir padamu jadi malam ini aku memutuskan untuk menginap.” Yuri tersenyum padanya. Bukannya menjawab Jessica malah memandangi wajah Yuri lama.

“Sica? Ada apa?” Yuri kembali bertanya saat menyadari sikap aneh Jessica.

“Aniyo.” Jessica lalu menggelengkan kepalanya dan memeluk pinggang Yuri. “Aku hanya merindukanmu.”

“Jadi begitu  ya… aku juga merindukanmu sayang, sangat.” Yuri menjawab seraya balas memeluk Jessica dan mengecup puncak kepalanya.

“Saranghae..” Jessica berusaha bicara seraya menahan airmata yang mendesak ingin keluar dari pelupuk matanya. Gadis blonde benar-benar tidak mau kehilangan Yuri.

“Nado saranghae..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Wuaahhh.. bagus sekali! Cincin siapa itu?” kagum Sooyoung, Yuri segera menyembunyikan cincin itu saat Sooyoung mencuri pandang dari balik punggungnya. Suara cemprengnya juga mampu menarik perhatian yang lain.

“Semuanya! Kalian takkan percaya dengan apa yang akan kukatakan.. Kwon Yuri akan melamar Jessica Jung!!”

“Jinja?”

“Yul aku salut padamu kawan!”

“Unnie selamat..”

Berbagai ucapan di terimanya dan Yuri hanya bisa menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum malu sebagai jawaban.

“T-tapi sebenarnya aku gugup.. bagaimana kalau Jessica tidak menerimaku?”

“Kau bercanda Yul? Aku yakin 100- ah bukan tapi 101% jika Jessica akan menerima lamaranmu bahkan tanpa berpikir.” yakin Hyoyeon dan mendapat anggukkan persetujuan dari yang lain.

“Lagipula.. jika Jessica menolakmu aku akan lebih siap menerimamu ahahaha..”

“Aku tidak suka padamu Syoo.”

Jessica menunggu di depan toko bunga sambil sesekali bercermin. Hari ini Yuri kembali mengajaknya kencan. Jessica tampil cantik, dia memang cantik hanya saja penampilannya kali ini sedikit berbeda, Jessica memakai head band warna pink di rambutnya yang biasa dibiarkan terurai. Itu semua karena kemarin Yuri mengatakan jika dia suka gadis yang imut.

Yuri menyusuri jalanan seoul dengan motor kesayangannya. Yuri yang sedang melaju dengan kecepatan sedang langsung berhenti saat melihat anak kecil yang terjatuh di pinggir jalan. Sepertinya anak kecil tersebut terpisah dengan orang tuanya dan tersenggol penyebrang jalan yang lain. Yuri juga heran kenapa tidak ada satupun oramg yang berniat menolong anak itu.

Cepat-cepat Yuri turun dari motornya dan berlari ke arah anak kecil tersebut namun saat sampai di sana ternyata tidak ada siapapun di tempat itu. Sebelum Yuri menyadari semuanya sebuah mobil terlanjur menghantam tubuhnya dan membuatnya terlempar. Helm yang dikenakannya sampai terlempar saking kerasnya tabrakan itu. Yuri merasakan cairan kental keluar dari mulut dan hidungnya. Semuanya terasa ringan dan tempat di sekelilingnya tiba-tiba begitu terang..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saat matahari menyinari wajahnya Yuri membuka matanya perlahan dan menemukan sedang berada di kamar Jessica. Gadis tanned itu bangkit perlahan berusaha mencari keberadaan pemilik kamar. Seakan punya pemikiran sendiri, kakinya berjalan ke balkon, tempat favorit Jessica.

Jessica ada, tapi bukan di tempat biasa, gadis blonde itu ada di halaman depan bersama lima orang lelaki yang memaksakanya masuk mobil. Kelima lelaki yang sama sekari tak Yuri kenal.

“Sica!!” Yuri berteriak sekuat tenaga, Jessica menoleh dan membuat pandangan mereka bertemu. Yuri berlari ketempat Jessica dengan kaki terpincang, gadis tanned itu tidak ingat sudah berapa lama dia tertidur, Yuri juga tidak tau kenapa seluruh anggota tubuhnya jadi sulit digerakkan.

“Sica kajima!” Yuri sudah berdiri di depan pintu, Jessica berusaha menghampiri Yuri tapi gerakannya terhenti saat dua lelaki memegangi tangannga sementara dua orang lelaki lainnya menahan Yuri.

Yuri menangis sambil berusaha menggapai Jessica, gadis blonde itu juga menangis namun dia tak bisa berbuat apapun, karena takdir telah menentukan semuanya.

“Ya!!Lepaskan!!Jangan bawa Sica-ku!! Sica.. jangan pergi!!” Yuri berusaha berontak tapi gerakannya terhenti setelah seorang lelaki yang tersisa menghampirinya dan meletakkan telapak tangannya di atas dada Yuri, tepat di atas jantungnya.

“Yuri!!”Jessica berusaha memanggil Yuri yang mendadak membisu. Namun satu hal yang Jessica yakini, airmata yang mengalir di pipi gadis tanned itu untuknya, Yuri menangis untuknya.

Dokter menggelengkan kepalanya pasrah karena saat ini sudah tak ada lagi yang bisa mereka lakukan.

“Waktu kematian…09.45″

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lutut Jessica serasa lemas setelah mendengar apa yang menimpa kekasihnya. Airmatanya mengalir tanpa Jessica sadari, akhirnya apa yang ditakutkannya selama ini benar-benar terjadi. Dokter mengatakan kondisi Yuri sangat parah, bahkan jantung gadis  tanned itu sudah berhenti berdetak saat mereka sampai di rumah sakit.

Jessica melipat telapak tangannya dan memejamkan matanya. Gadis blonde itu meminta dengan sungguh-sungguh. Jessica sangat mencintai Yuri, tidak diragukan lagi.

“Nona Kwon koma.. saat ini hanya keajaiban yang bisa membawanya kembali.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Dokter pasien di kamar 512 sudah sadar.”

“Yul.. welcome back.” Sooyoung tersenyum dan memeluk sahabatnya, begitupula yang dilakukan Hyoyeon dan Yoona. Mereka senang akhirnya Yuri bisa bangun setelah tertidur hampir setahun.

“Gomawo..” Yuri tersenyum lemah, matanya menelusuri sudut ruangan untuk mencari keberadaan seseorang.

“Sica dimana?”

“Yul lebih baik kau istirahat sekarang..” sela Hyukjun sambil mencoba membantu Yuri berbaring namun Yuri menolak.

“Aku baru saja bangun.. oppa aku cuma ingin tau dimana keberadaan kekasihku.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yuri duduk di depan televisi dengan mata berkaca-kaca.

“Yuri-ah.. ini sudah hari keseratus, aku sangat sedih melihatmu seperti ini. Kau harus cepat bangun ne? Karena aku sangat menyayangimu.”

“Kau jadi kelihatan lebih kurus sekarang. Oh, ya aku sudah belajar memasak, saat kau bangun nanti aku akan memasakan makanan kesukaanmu dan kau bisa makan sepuasnya.”

“Malam ini bintangnya banyak sekali, kau harus bangun dan melihatnya bersamaku.”

“Aku menyanyangimu.. kau tau kan? Aku sangat merindukanmu Yul jadi malam ini aku akan tidur sambil memelukmu.”

“Cincin ini.. Sooyoung bilang kau ingin memberikannya padaku. Aku suka Yul, hanya saja aku punya permintaan untukmu. Jika aku tidak bisa memakainya kuharap kau akan memberikannya pada orang lain.”

Tak terasa air mata Yuri mengalir. Itu adalah video pesan yang sengaja Jessica rekam untuknya. Jessica membuat video itu saat Yuri masih terbaring koma. Selama setahun Yuri di rumah sakit, selama itu pula Jessica selalu ada di sampingnya.

Yuri merasa begitu bodoh karena tidak bisa melakukan hal yang sama. Tidak bisa ada di sisi Jessica saat gadis blonde itu sangat membutuhkan kehadirannya. Yuri merasa begitu bodoh karena telah membuat Jessica berkorban banyak untuknya, untuk mereka. Tapi satu yang paling membuat Yuri menyesal adalah karena Yuri tidak bisa berada di sisi Jessica saat terakhirnya, juga tak bisa mengatakan seberapa besar rasa cintanya untuk gadis itu. Bagaimanapun apa yang Yuri lakukan selama ini rasanya belum cukup.

“Jessica mengidap kanker dan dia meninggal di hari dimana kau siuman dari komamu.”

“Jeongmal saranghae Jessica Jung.. jeongmal saranghae.”

“Tolong.. tolong selamatkan Yuri, aku bahkan rela memberikan nyawaku untuknya.”
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Kemaren ada salah satu reader yg komen gini ‘ Kenapa ga sica’a aje yang di bikin matiii perasaan yuri mulu yang bekorbann’
Nah, karena saya baik *MujiDiriSendiri* jd dibikinin deh yg sicanya berkorban wkwk.. tuh Zora udh dibikinin yah XD

Oke kalo ada yg mendadak ngerasa mistis sama ff ini emg mv nya gtu suerr.. agak2 mistis gmna haha :D
Semoga ga pada bingung lagi.. ciaooooo.. nite~

Drabble #18 (YulSic)

Drabble #18

“Sica senyumlah..” Yuri memasang puppy eyes andalannya namun tak mempan. Jessica tak bergeming.

“Ayolah baby.. jangan marah lagi.”

“Shut up Kwon!!” Jessica mendelik sebal. Yuri langsung menutup mulutnya, bagaimanapun gadis tanned itu tau Jessica hanya akan menggunakan bahasa inggris padanya saat dia benar-benar di puncak kemarahannya -yang artinya sekarang.

Jessica bernafas lega saat Yuri berhenti bicara. Gadis blonde itu pikir Yuri takkan menganggunya lagi tapi ternyata dugannya salah. Yuri malah memeluknya dari belakang dan membuat Jessica sulit bergerak.

“Kwon Yuri lepaskan!!”

“Tidak mau.. Sicababy harus memaafkan seobang dulu.” manja Yuri sambil meniup-niup daun telinga Jessica.

“Ya!! Jangan lakukan itu kau bodoh.” Jessica bergidik ngeri saat semua bulu kuduknya berdiri. Damn this black monkey! Dia memang paling tau bagian-bagian sensitif Jessica.

“Bilang saja kau suka.” Yuri semakin menggodanya.

Jessica bersumpah jika saja dia tidak mencintai si hitam ini, Jessica sudah melempar piring-piring yang dicucinya ke muka Yuri dari tadi.

“Aku tau otakmu tidak bisa dipakai tapi demi tuhan.. setidaknya kedua tanganmu masih berfungsi dengan baik, kan? Bisakah kau membantuku?” ucap Jessica sambil menunjuk setumpuk piring bersih yang menunggu di keringkan.

Karena sedari tadi Yuri tidak melakukan apapun -selain memandanginya- tentu saja Jessica kesal. Padahal seharusnya Yuri lah yang paling bertanggung jawab. Jika saja Yuri tidak memaksa Jessica untuk menemaninya makan diluar tengah malam begini, dan jika saja Yuri tidak cukup bodoh untuk tidak lupa membawa dompet tentu mereka takkan berakhir disini. Menjadi pencuci piring dadakan di kedai pinggir jalan.

Jessica bersyukur mereka melakukan penyamaran sempurna, setidaknya gadis blonde itu tau esok hari media pemberitaan Korea takkan heboh dengan semacam headline berjudul ‘Dua member SNSD mencuci piring karena tak sanggup bayar makanan’ atau ‘Karena harga BBM naik Yuri dan Jessica SNSD beralih menjadi tukang cuci piring untuk menyambung hidup’.

“Siap kapten!” Yuri menjawab sambil memberikan hormat layaknya prajurit yang akan ditugaskan ke medan perang.

“…tapi baby tidakkah menurutmu kita sangat romantis?” Yuri menaik turunkan alisnya. Mereka memang romantis, malam-malam dingin begini saat semua orang tertidur diatas kasur yang empuk dan hangat mereka malah mencuci piring bersama, bahkan memakai sarung tangan dengan warna senada -sarung tangan couple.

“Romantis kepalamu Kwon Yuri aku-” ucapan Jessica terhenti begitu merasakan sesuatu yang lembut mendarat di bibirnya. Yuri menciumnya di tempat umum, kenyataan itu membuat mata Jessica membulat.

“Ya!! Apa kau gila?”

“Iya.. karenamu.” bukannya takut Yuri malah menggunakan kesempatan tersebut untuk menggombali kekasihnya.

“Kwon Yuri.. you know what? I hate you!”

“I know baby.. I love you too.”

“Arrghhhh.. siapapun tolong ingatkan aku untuk menghukum monyet sialan ini saat kami sampai di dorm.”

.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END