Posts Tagged ‘ff snsd’

Drabble #21

Di dorm mereka, Yuri berteriak histeris sambil menjulurkan lidahnya. Wajah gadis tanned itu berubah merah sementara matanya berkaca-kaca. Bukan, Yuri bukan sedang jatuh cinta, patah hati atau semacamnya. Yuri hanya sedang kepedasan karena lomba makan bodoh yang dilakukannya bersama Sooyoung.

Awalnya Sooyoung mengejek Yuri karena dia tidak bisa makan pedas dan Yuri yang menganggapnya serius tentu tak terima. Gadis tanned itu tentu tak mau jika ‘seobang’ lainnya menjulukinya dengan monyet hitam yang takut pedas. Tidak! Bagaimana dengan harga dirinya? Jadilah Yuri dan Sooyoung mengadakan lomba makan makanan pedas sebagai pembuktian.

Sooyoung yang sudah menghabiskan 5 mangkuk ramyun ekstra pedas, Donkasseu, Dak bal, dan Bibim Naengmyeon langsung terkapar di tengah dorm mereka. Sunny memutar kedua bola matanya, tidak memperdulikan  kekasihnya yang kembali bersikap kekanakan.

Yuri masih berteriak-teriak histeris kali ini sambil loncat-loncat walau pada kenyataannya dia baru menghabiskan semangkuk ramyun pedas.
“Tolong!!”

“Berisik Kwon!!” teriak Taeyeon kesal. Bagaimana tidak jika dia sedang sakit gigi dan tak ada seorangpun yang mau mengerti keadaannya.

“Yul coba makan sesuatu yang manis.” usul Tiffany. Yuri berhenti meloncat, secepat kilat gadis tanned itu mencari gula ke dapur dan ternyata persedian gula di dorm mereka habis.

“Kenapa bisa habis?” Yuri meratapi nasibnya sementara Hyoyeon hanya bisa memamerkan deretan gigi putihnya. Tadi pagi Hyoyeon mandi susu tapi karena susunya tidak manis jadi dia menambahnya dengan gula -yang banyak.

“Ah benar permen! Siapa yang punya permen?”

Semuanya menggelengkan kepalanya. Yuri hampir menyerah sampai matanya menangkap sosok kekasihnya yang tengah menonton televisi bersama duo maknae. Yuri berlari ke arah Jessica dan langsung mencium bibirnya.

“Ya!! Apa yang kau lakukan?” kesal Jessica.

“Aku sedang berusaha menghilangkan rasa pedas di mulutku. Fany bilang caranya dengan menggunakan sesuatu yang manis, karena bibirmu manis baby jadi aku menggunakannya.” ucap Yuri tanpa rasa bersalah. Jessica tersenyum namun setelahnya dia merendam kepala Yuri di dalam wastafel.

Sementara Sooyoung yang masih terkapar mulai tertawa. Walau setelah ini dia harus menemui dokter setidaknya Sooyoung tau kalau dia sudah menang.

Sementara itu duo maknae yang melihat adegan YulSic…

“U-unie barusan itu apa?” Seohyun bertanya dengan suara terbata.

“Mollayo.” jawab Yoona, tak sadar jika hidungnya mimisan.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Tittle : Si Putri Rapuh
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Lenght : Oneshot
Cast : Jessica jung, Kwon Yuri, Sunny Lee, Choi Sooyoung and Other Cast

Song lyric by :
*Cho Kyuhyun – At Close
*Cho Kyuhyun – Moment of Farewell

Why did I realize this love now?
Why are tears coming now?
Why didn’t I know you?
Love is so… My love is so foolish
.
.
.
.
.

“Permisi.” Yuri berdiri dan membungkukkan tubuhnya. Sementara Jessica masih memandang punggung Yuri dengan airmata yang meluruh di kedua pipinya.

Your back side was really pretty
I finally realized this after seeing you leave
So my heart aches when tears fall
I finally realized this after seeing you cry, after seeing you leave

It’s too late but I’m sorry, I didn’t realize how good you were
I’m such a fool, I’m such a fool
Don’t leave me, although you will leave even if I hold onto you
I’m so pathetic, I’m so pathetic

Why did I realize this love now?
Why are tears coming now?
Why didn’t I know you?
Love is so… Love is so foolish

~~~~~~~~~~~~~~~~

Masih kuingat
Kala itu matahari bersinar hangat
Menyinari semua kecuali satu
Dirimu, malaikatku

Sambil membawa kamera jenis DSLR yang Yuri kalungkan di lehernya gadis tanned itu menyusuri sepanjang aliran sungai Han. Menikmati waktu liburnya, jika Yuri beruntung tentu dia bisa mendapat pemandangan yang bagus untuk di potret. Lumayan untuk menambah koleksi fotonya. Mungkin saja suatu hari nanti saat keadaan sudah membaik Yuri bisa mengadakan pameran hasil jepretannya sendiri. Ya, suatu saat nanti, sampai saat itu tiba Yuri hanya bisa berdoa dan terus berusaha.

Sejak memutuskan untuk kembali ke Korea Yuri memang harus bekerja keras, memeras keringat untuk mencari sesuap nasi nyatanya bukan isapan jempol belaka. Sejak Yuri menolak untuk meneruskan perusahaan sang ayah gadis tanned itu meninggalkan Amerika dan memutuskan kembali ke Korea. Tanah kelahirannya yang juga akan menjadi tempat dimana Yuri memulai segalanya dari awal. Tempat awal dimana Yuri akan membuktikan pada ayahnya jika apa yang selama ini Yuri suka dan apa yang selama ini Yuri yakini -sebagai jalan hidupnya- bukan sesuatu yang pantas dianggap remeh seperti yang selalu sang ayah katakan padanya.

“Kau tidak akan bisa hidup dengan hanya menjadi seorang fotografer!”

“Satu langkah kau meninggalkan rumah ini, kau bukan lagi anakku!!”

Lamunan Yuri terhenti begitu matanya menangkap sesosok gadis yang tengah sendiri. Gadis bertubuh mungil dengan rambut blonde tersebut berdiri di sisi sungai, tidak beranjak sedikitpun walau angin dingin menerpa tubuhnya. Yuri menautkan kedua alisnya, bahkan dirinya saja yang sudah mengenakan mantel tebal masih merasa dingin apalagi gadis ini yang mengenakan pakaian yang terbilang tipis. Angin malam di penghujung musim gugur itu benar-benar luar biasa.

Lama Yuri memperhatikan gadis itu tapi belum ada tanda-tanda si gadis akan beranjak dari tempatnya. Seakan menghiraukan dunia sekitarnya, mata gadis itu masih fokus pada permukaan air sungai yang beriak dan berkilauan terkena cahaya lampu. Yuri tersenyum kecil sebelum mengangkat kamera dan memotret gadis misterius itu diam-diam. Baiklah, Yuri tau jika perbuatan itu sedikit tidak sopan tapi mau bagaimana lagi, Yuri tak bisa menahan dirinya. Gadis itu merupakan objek yang sangat sempurna malam ini.

Atau boleh kusebut putri dari negeri dongeng?
Atau barangkali tidak juga
Kudengar semua putri memiliki akhir bahagia
Tapi sepertinya yang ini berbeda

Yuri tertegun begitu gadis asing itu menangis tanpa suara. Airmata gadis itu membuat Yuri bertanya. Apa gerangan yang membuat objek sempurnanya tersebut bersedih? Apa yang membuat makhluk sempurna itu menitikan air matanya?

Yuri masih terpaku di tempatnya. Karena tidak punya cukup keberanian untuk bertanya akhirnya Yuri membiarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut bersemayam di kepalanya sampai akhirnya si gadis misterius itu pergi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yang satu ini rapuh
Membuatku takut untuk sekedar menyentuhnya
Yang satu ini terluka
Salahkah jika aku ingin melindunginya

Jessica pasrah saja saat sahabatnya -Sunny- menarik tangannya dari kantor. Gadis blonde itu tidak punya tenaga sama sekali untuk berontak.

“Kita makan siang di luar kali ini. Restoran Youngie-ku sedang mengadakan diskon, selain itu kurasa kau butuh suasana baru.” Sepanjang perjalanan Sunny terus berceloteh sementara Jessica hanya memberikan tanggapan sekedarnya. Sisa menangis semalam masih menyisakan bengkak di matanya, masih sangat jelas walau Jessica berusaha semaksimal mungkin menyamarkannya dengan make-up. Jessica yakin Sunny -bahkan semua orang- menyadarinya, tapi Jessica beruntung tak ada seorangpun yang ingin membahasnya.

Jessica tau jika dirinya memang menyedihkan. Menangisi kekasih yang telah meninggalkannya tanpa sebuah jawaban terdengar begitu bodoh. Tapi Jessica tetap tak bisa menyembunyikan perasaan sakitnya terlebih malam kemarin, malam anniversary mereka. Malam yang biasanya mereka rayakan dengan penuh suka cita.

“Nah, kita sampai..” Sunny memarkirkan mobilnya dengan hati-hati. Keduanya lantas melangkah ke dalam dan langsung disambut seorang pelayan.

Sunny sudah memesan makan siangnya sementara Jessica masih membolak-balik buku menu di tangannya. Tidak ada satupun yang menggugah selera gadis berparas dingin tersebut. Sunny berdecak kesal sementara pelayan berkulit kecoklatan yang melayani mereka masih menunggu dengan sabar sambil mengenakan apron dan memegang pulpen dan memo di tangannya.

Jessica masih berpikir, sementara si pelayan masih memandangi Jessica sambil mengulum senyumnya. Tersenyum pada takdir yang mendengar doanya.

“Jika boleh saya sarankan bagaimana kalau Bindaetuk? “

“Nah, itu enak Jess, aku pernah mencobanya. Youngie sendiri yang memasaknya.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Ini namanya takdir Yul. Bukan cuma sebuah kebetulan jika gadis misterius yang kau sukai ternyata sahabat kekasihku. Lakukan langkah selanjutnya buddy.” Sooyoung sibuk berceloteh sambil memasak Chop Chae pesanan untuk meja nomor 9. Yuri tersenyum sambil memandangi Jessica yang tengah duduk bersama Sunny melalui kaca kecil di pintu yang memisahkan pantry dan ruang utama restoran.

Awalnya Yuri tidak sengaja menceritakan semuanya pada Sooyoung -tentang ketertarikannya pada sosok Jessica. Sooyoung yang pada dasarnya bermulut ember tentu tak bisa menyembunyikan fakta menarik itu dari kekasihnya. Setelah Sunny tau, gadis pendek itu jadi bersemangat untuk lebih mendekatkan keduanya. Sunny pikir Yuri adalah orang yang tepat yang bisa mengalihkan pikiran juga perasaan Jessica dari masa lalunya. Sudah terlalu lama Jessica terjebak juga terlalu banyak airmata gadis itu yang tumpah hanya untuk menangisi sesuatu yang tak pasti. Karena hal itulah setiap makan siang Sunny menyeret Jessica dengan paksa ke tempat ini.

Yuri tersenyum sambil meletakkan pesanan Sunny dan Jessica diatas meja. Dua buah Seafood Pancake, Dumplings, Edamamme, Backwoods Blueberry Lemonade juga Black Raspberry ProseccoRita . Namun alis Jessica berkerut begitu Yuri juga meletakkan Chocolate Mousse di mejanya.

“Maaf Yuri-ssi kurasa kami tidak memesan ini.” Jessica menunjuk makanan itu dengan jarinya. Mungkin saja Yuri lupa lalu salah menaruh makanan untuk orang lain di meja mereka.

“Aniyo. Itu dessert baru kami. Karena kalian adalah pelanggan setia maka kami memberikannya secara gratis. Silahkan menikmati.” Yuri tersenyum dan berlalu. Jessica mengangukkan kepalanya dan tidak mempermasalhkan hal itu lebih jauh sementara Sunny mengulum senyumnya. Gadis pendek itu tau Yuri berbohong soal hal gratis tersebut. Yuri memang sengaja memberikan cake itu untuk Jessica. Bukan cuma cake kadang-kadang gadis tanned itu juga membelikan coffe, ice cream, waffle atau yang lainnya. Hal itu terus berlangsung selama setahun penuh.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica masih terpaku pada layar laptopnya. Kliennya kali ini meminta Jessica membuat konsep unik untuk pesta pernikahan mereka. Sebagai seorang weeding planner yang baik tentu Jessica tak ingin klien yang sudah percaya padanya kecewa. Maka dari itu sejak beberapa jam lalu Jessica sibuk menjelajah dunia maya, berharap bisa menemukan inspirasi.

Berbeda dengan Jessica Sunny terlihat lebih santai. Sambil memandangi Jessica, Sunny memutar-mutar pulpen di tangannya.

“Kudengar Yuri baru pindah ke dekat apartemenmu.”

“Dia tetanggaku sekarang.”

“Jessie kalau menurutmu Yuri bagaimana?” Sunny bertanya, Jessica menoleh sebentar kearah yeoja pendek tersebut sebelum kembali fokus pada pekerjannya. Matanya bergerak cepat sementara jari-jari kurusnya menari lincah diatas keyboard. Disisi lain Sunny jadi tidak sabar menunggu jawaban sahabatnya. Pasalnya siapapun tau selama ini Yuri selalu menunjukkan perasaannya secara terang-terangan tapi Jessica tidak pernah memberikan respon. Hal itu membuat Sunny bertanya, selama ini kira-kira apa yang ada dalam benak sahabatnya.

“Dia baik.” jawab Jessica singkat. Sunny menjadi gemas karena sikap acuhnya.

“Hanya itu?”

“Memangnya kau ingin mendengar apa lagi?” Jessica balik bertanya.

“Aku cuma mau bilang saja jika Yuri itu sangat tampan. Jika kau terus ‘menggantungnya’ tidak lama lagi akan ada seseorang yang mengambilnya darimu.” Sunny bergurau.

Yang satu ini rapuh
Membuatku takut untuk sekedar menyentuhnya
Yang satu ini terluka
Salahkah jika aku ingin melindunginya

Sepulang kerja Jessica memutuskan menggunakan bis untuk pulang namun malang karena sifat pelupanya gadis berambut blonde itu justru harus terjebak di halte. Seoul yang hari itu cerah mendadak diguyur hujan lebat dan Jessica yang lupa membawa payung tidak bisa kemana-mana. Beruntung Yuri datang dan membawa payung untuknya.

“Aku sengaja datang karena bibi  pemilik apartemen bilang kau meninggalkan payungmu di depan pintu.”

Setelahnya, mereka berjalan berdampingan di bawah satu payung dalam keheningan. Yuri menoleh pada Jessica yang hanya melihat kedepan. Gadis bertubuh mungil tersebut sedikit mengigil, blazer yang membungkus tubuhnya juga agak basah terkena cipratan air hujan. Yuri tersenyum kecil, walau semua orang takut pada gadis berparas dingin ini tapi Yuri berbeda. Yuri merasa Jessica sengaja bersikap sedingin itu untuk menyembunyikan lukanya, Jessica adalah gadis yang kuat, yang tak ingin seorangpun mengasihaninya. Sejak pertama Yuri melihat gadis ini menangis malam itu, sesuatu dalam diri Yuri membuatnya ingin melindungi Jessica. Walau selama ini Jessica terkesan membangun benteng pembatas yang sangat kokoh diantara mereka.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi-pagi sekali Jessica berteriak histeris karena saat dia bangun seekor kecoa terbang dan mendarat tepat di wajahnya. Yuri segera berlari ke tempat gadis itu dengan khawatir. Takut terjadi apa-apa pada Jessica. Setelah mengetahui hal apa yang membuat gadis yang disukainya menjerit histeris Yuri berusaha keras menahan tawanya. Perlahan Yuri menghampiri Jessica yang masih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Gwenchana, dia sudah pergi.”

“Jinja?” Jessica mengintip dari balik selimut seperti anak kecil dan menemukan Yuri yang tersenyum padanya. Bukan, bukan tersenyum tapi tertawa. Yuri berpikir jika Jessica yang tengah ketakutan sangat menggemaskan.

“Ya!! Jangan menertawaiku!” Hal itu tentu saja membuat Jessica kesal.

Jessica tengah kesulitan dengan beberapa kantung belanjaan, Yuri langsung mengambil alih barang-barang itu darinya. Seiring berjalannya waktu keduanya semakin dekat tapi hubungan mereka hanya sebatas teman. Jessica tersenyum dan membiarkan gadis tanned itu membawakan barang-barangnya. Yuri itu baik, terlalu baik malah. Sering kali Jessica merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaan gadis tanned tersebut.

Walau begitu Jessica tak pernah meminta Yuri pergi. Jessica tau dia telah bersikap egois dengan menolak untuk melepas masa lalunya dan membiarkan Yuri di sisisinya di saat yang bersamaan.

“Sica kau ingin makan apa malam ini? Aku bisa memasaknya untukmu.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica sedang melakukan sedikit renovasi pada apartemennya . Gadis blonde itu merasa sudah bosan dan ingin mencari suasana baru karenanya Jessica ingin mengubah warna cat di ruangannya. Yuri yang sebenarnya hanya membantu berakhir mengerjakan semua yang harus Jessica lakukan. Sementara Yuri mengecat Jessica duduk diatas sofa dan tertawa padanya. Yuri memandang gadis blonde itu heran.

“Kau terlihat seperti zebra Yul.” Jessica terus tertawa sambil memegangi perutnya. Cat yang Yuri gunakan sebagian melumuri tangan dan wajahnya.

“Mwo? Zebra?”

“Ne. Lihat penampilanmu Yul. Hitam dan putih.”

“Mwoya?! Aku tidak hitam. Warna kulitku ini disebut eksotis.” Yuri menggembungkan kedua pipinya protes.

“Sama saja.” balas Jessica sambil menjulurkan lidahnya. Yuri menghampiri gadis blonde itu dengan kesal.

“Y-ya! Apa yang akan kau lakukan?”

“Menggelitikimu.” Yuri tersenyum evil sementara Jessica membulatkan matanya dan mulai berlari menghindar.

“Ya! Kwon Yuri jangan coba-coba!”

“Ahahaha.. berhenti disitu Sica!”

Mereka berdua terus berlari seperti anak kecil. Yuri yang pada dasarnya lebih cepat bisa meraih ujung baju Jessica namun sedetik kemudian gadis blonde itu menepis tangannya. Jessica berlari ke dalam kamarnya dan membanting pintunya keras. Yuri meringis kesakitan sambil memegangi hidungnya yang terkena hantaman pintu.

“Babo! Ini salahmu sendiri kan? Harusnya kau tidak mengejarku.” Sambil mengompres hidung Yuri, Jessica terus mengomelinya.

“Sica.. kau terlihat semakin sexy saat marah. Sexyca!”

“Babo!” perkataan Yuri sukses membuat Jessica menoyor kepalanya hingga gadis itu terjungkal kebelakang. Yuri memanyunkan bibirnya sambil mengusap-usap pantatnya yang sakit. Jessica sepertinya senang sekali membuat dirinya tersiksa.

“Apa princess Jessica sudah siap?” Yuri tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Hari ini mereka akan menghadiri pesta pernikahan Sooyoung dan Sunny.

“Terimakasih Prince Yul.”  Jessica balas tersenyum dan mengaitkan tangannya di tangan Yuri. “….yang hitam.” lanjut Jessica sambil tersenyum jahil.

“Selalu seperti itu.”

Pesta pernikahan Sooyoung dan Sunny berlangsung meriah. Yuri dan Jessica berada disana hingga larut. Semua orang merasa turut berbahagia untuk Sooyoung dan Sunny begitupun Jessica. Siapa sangka gadis pendek tukang aegyo di SMA mereka akhirnya menjadi seorang istri.

Di dalam taksi yang membawa mereka pulang, Yuri dan Jessica tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jessica terus berpikir, orang itu juga pernah berjanji akan menikahinya. Jika saja gadis itu tidak menghilang tanpa kabar apa mungkin sekarang Jessica sudah menjadi seorang istri seperti Sunny?

“Sica tunggu!” Jessica yang bermaksud masuk ke dalam apartemennya terhenti begitu Yuri memanggil namanya. Gadis yang lebih tinggi itu berdiri beberapa langkah dari Jessica.

“Jessica aku ingin mengatakan sesuatu.” Yuri tersenyum gugup sambil terus mengusap tengkuknya. Jessica menghela nafas mengetahui akan kemana pembicaraan ini.

“Mianhe Yuri-ah jangan sekarang. Aku lelah sekali. Selamat malam.” Ujar Jessica sambil membukan pintu apartemennya dan masuk ke dalam. Meninggalkan Yuri yang tampak kecewa.

“B-baiklah. Selamat malam.” Yuri menundukkan kepalanya dan berbalik. Gadis tanned itu memasuki apartemennya dengan lemas. Yuri mengerti, mungkin sampai saat ini Jessica belum siap menerima hatinya.

Tepat setelah masuk Jessica menyandarkan punggungnya ke pintu. Satu-satunya alasan Jessica buru-buru pergi karena dia tak sanggup melihat wajah sedih Yuri. Jessica tak cukup kuat untuk menerima fakta jika dirinya sudah menyakiti perasaan gadis tanned itu untuk kesekian kalinya. Jessica tau dirinya tidak bisa menerima Yuri lebih dari apa mereka sekarang. Walau begitu Jessica berharap tak ada satupun yang berubah di antara mereka.

“Mianhe.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kusebut diriku ‘penjaga’
Karena aku memang menjaga hatinya
Hati putri rapuh yang pada akhirnya kusadari
Selamanya takkan pernah kumiliki

Kehidupan Jessica dan Yuri berjalan seperti seharusnya. Gadis blonde itu bersyukur tak sedikitpun Yuri merubah sikapnya. Semuanya berjalan baik sampai masa lalu Jessica datang dengan membawa luka lama juga pertanyaan yang tak kunjung terjawab.

“Taeyeon-ah..” Jessica mendekap wajah Yuri. Gadis blonde yang mabuk itu lantas mencium bibir Yuri. Jessica terus melumat bibir gadis tanned itu sambil menangis, keduanya menangis.

“S-sica geumanhae..”

Tak bisa kusebut diriku penyembuh luka
Bagaimana bisa jika sang putri tak pernah bernafas untukku
Jika sang pangeran datang kembali
Lantas harus kemana kubawa diri ini?

“Sica.. kau akan pergi?” Yuri bertanya dengan suara serak. Gadis tanned itu tau suatu hari saat seperti ini akan tiba namun jauh di dalam lubuk hatinya Yuri masih berharap Jessica mau melihat hatinya sekali lagi.

“Mianhe Yuri-ah..” Jessica meninggalkan apartemen mereka tanpa berbalik lagi. Jessica tau dia akan berubah lemah saat menatap wajah Yuri.

Yuri menangis sambil menatap punggung Jessica yang menjauh dari pandangannya, juga menjauh dari hatinya.

“Yul Jessica memberikan undangan ini untukmu.” Sooyoung memberikan undangan itu pada Yuri seraya menatap sahabatnya tersebut dengan pandangan iba.

“Nona Yuri  tuan sedang sakit keras dan beliau meminta anda kembali.”

“Sampai jumpa Yul.” Sooyoung memeluk Yuri untuk terakhir kalinya. Ya, pada akhirnya Yuri memutuskan untuk menyerah pada Jessica, pada perasaan, pada mimpinya juga pada apa yang selama ini diyakininya.

I’m holding onto you, I’m trying
But the thoughts in my head are scattering in this moment

You didn’t hate me enough to break up
But you didn’t care enough to love me
You already brought your cold words one by one
And I have nothing really to say

We each have different memories
Maybe I feel sorry, maybe I want to run away right now
I’m just filled with resentment during the moment of farewell
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Tittle : Honesty
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Lenght : Chapter
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri, and Other Cast

Inspired by Drama Boys Before Flowers.

Song lyric by Alex – I Want To Love You (OST. My Lovely Girl)

Part 5
.
.
.
.
.

Seoul, 24th Desember

Jam hampir menunjukkan tengah malam sementara kepala sekolah Lee masih sibuk berpidato. Karena bosan Jessica memutuskan untuk pergi ke atap dan menyendiri. Natal kali ini salju juga turun, beberapa butiran salju bahkan sukses mendarat di kepala Jessica. Gadis blonde itu lantas merapatkan mantel tebalnya. Beberapa detik kemudian Jessica mendongakkan kepalanya dan menemukan Taeyeon yang tengah tersenyum sambil memayunginya. Pantas saja salju-salju itu tak lagi menghujani dirinya. Jessica balas tersenyum pada tunangannya yang terlihat lebih ‘tampan’ malam ini.

“Boleh aku menemanimu?”

Di belahan bumi lain tepatnya di Australia -Yuri terpaksa pergi kesana karena Boa memaksanya. Boa merasa selama liburan panjang kali ini dia perlu mengawasi adiknya atau Yuri akan melakukan hal-hal bodoh yang pasti membuatnya khawatir. Seperti tahun lalu misalnya, ketiga idiot yang beranggotakan Yuri, Sooyoung, dan Hyoyeon pergi ke Harbin -salah satu daerah dengan hawa terdingin di China- lalu ikut lomba renang disana sampai mereka harus masuk rumah sakit karena hipotermia. Maka dari itu untuk menjauhkan Yuri -serta kedua idiot lainnya- dari hal-hal yang bisa membuatnya berdecak kesal Boa menyeret paksa adiknya ke Australia.

Berbeda dengan kebanyakan wilayah di benua Eropa dan Amerika, Natal di Australia dirayakan pada musim panas karena itu kita takkan menemukan tumpukan salju atau semacamnya. Tapi bukan Yuri namanya jika dia tak punya cara unik untuk merayakan liburannya kali ini. Sambil mengenakan pakaian Santa Clause Yuri berfoto dengan seekor rusa lalu mempostingnya di Instagram, tentu saja tidak tanpa mengganti kepala rusa tersebut dengan wajah Jessica. Pernah dengan photoshop? Nah, Yuri menggunakan aplikasi tersebut untuk melakukannya.

Merry Christmas!! Baru kali ini aku bertemu rusa berwajah medusa. Semoga berbahagia semuanya ^^

Sambil memasukan ponsel ke saku mantelnya Jessica menggertakan gigi-giginya karena kesal. Postingan Yuri terdengar seperti genderang perang untuknya. Bahagia? Bagaimana Jessica bisa bahagia jika Yuri terruusss  saja cari gara-gara dengannya. Tapi tunggu dulu! Medusa? Apa selama ini Jessica benar-benar sejahat itu?

Taeyeon yang duduk di samping Jessica berinisiatif melepas sarung tangannya dan memakaikannya di tangan Jessica yang terasa dingin. Sentuhan lembut Taeyeon di tangannya cukup untuk menyadarkan Jessica, memaksa pikirannya kembali ke dunia nyata. Benar juga, Taeyeon ada disampingnya. Bagaimana bisa Jessica memikirkan gadis lain saat tunangannya tepat duduk di sampingnya?

Jessica Jung sadarlah!!

Yuri terus tertawa sambil memandangi layar ponsel pintarnya. Membayangkan wajah Jessica yang kesal karena tingkahnya selalu bisa menjadi hiburan tersendiri untuk Yuri. Sesaat kemudian Yuri berhenti lalu membaringkan punggungnya di atas sofa. Kali ini Yuri tidak tertawa, gadis tanned itu hanya tersenyum sambil memandangi foto Jessica yang dia jadikan sebagai wallpaper.

“Sica saranghae.”

Setelah mendengar apa yang Taeyeon katakan Jessica masih terpaku. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya berpindah-pindah dari wajah Taeyeon ke tangan mereka yang saling menggenggam dengan jari-jari yang saling bertautan.

“Saranghae…” Taeyeon mengulanginya sekali lagi.

I want to tell you
Words that you haven’t ever heard
Words I want to tell you when I see you
Words I can’t say by myself
I love you

Will you come to me?
I wanna close my eyes and hug you
I’m not good but I wanna whisper
To the person in front of me, love you

I want to love you
I want to be by your side

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hari pertama masuk sekolah setelah liburan panjang Yuri, Sooyoung dan Hyoyeon masih terkapar diatas kasur King Size mereka masing-masing. Boleh dibilang jika kondisi ketiganya cukup mengenaskan.

Hyoyeon yang pergi liburan ke tempat bermain ski di Swedia bersama tunangannya -Nicole- tidak bisa merasakan tangan dan kakinya. Bagaimana tidak jika selama disana Hyoyeon dipaksa untuk terus menggendong Nicole sebagai hukuman karena Nicole menemukan banyak sekali kontak wanita lain dalam ponsel Hyoyeon -yang naasnya tertukar dengan milik Sooyoung.

“Bagaimana ponsel kalian bisa tertukar jika sekarang Sooyoung sedang ada di Jepang?!”

“Itulah, aku belum sempat menukarnya kembali.”

“Kau hanya mencari-cari alasan saja, iya kan Hyonie?!”

Sementara Sooyoung yang liburan di Jepang pun tak kalah sialnya. Nenek Sooyoung yang seorang pecinta alam bersama klubnya berambisi untuk mendaki Gunung Fuji dan merayakan tahun baru di puncaknya, itu berita bagus tentu saja. Berita buruknya Sooyoung dipaksa ikut.

“Sudah kuduga unnie mengajakku liburan untuk ini!” Yuri mengajukkan protes seraya mengangkat 10 kantung belanjaan di tangannya -yang semuanya milik Boa. Gadis tanned itu benar-benar  berencana melaporkan sang kakak pada pengadilan internasional karena sudah melakukan perbudakan di era modern.

“Permisi! Apa kau bisa menunjukkan dimana ruang kepala sekolah?” Jessica mendongakkan kepala dari buku yang dibacanya dan menemukan seorang gadis yang tersenyum sambil menatapnya dengan pandangan penuh harap. Jessica menautkan kedua alisnya. Walau gadis ini mengenakan seragam yang sama dengannya tapi baru kali ini Jessica melihatnya.

Seakan mengerti dengan arti tatapan bingung Jessica, gadis itupun mengenalkan dirinya.

“Aku murid baru disini, pindahan dari California. Namaku IU Lee.” Gadis bernama IU itu berkata seraya mengulurkan tangannya sambil masih memasang senyum manis.

“Namaku Jessica Jung.”

“Jessica mari berteman.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Di dalam Gym sekolah yang saat itu sepi Taeyeon, Sooyoung dan Hyoyeon tampak terlibat percakapan serius. Melihat ketiganya berada dalam satu tempat di sekolah ini memang bukan hal biasa, kali inipun bukan pengecualian. Taeyeon -yang sebenarnya tidak mau- terpaksa harus terlibat dengan keduanya. Beruntung Yuri tak ada disana atau akan terjadi hal lebih buruk dari apa yang sudah mereka alami saat ini.

Kepalan tangan Sooyoung berhenti tepat beberapa cm sebelum benar-benar mendarat di wajah Taeyeon. Apa yang Taeyeon katakan beberapa saat lalu benar-benar membuat emosi Sooyoung memuncak. Selama ini Sooyoung mencoba bersabar karena mereka teman -setidaknya pernah. Namun, kali ini Taeyeon benar-benar keterlaluan. Gadis jangkung itu merasa sudah tidak bisa mentolelir sikap Taeyeon lagi. Bukan hanya Sooyoung, Hyoyeon pun merasakan hal yang sama.

“Dengar Kim Taeyeon! Walau kau sepupuku aku takkan berada di pihakmu.” tegas Hyoyeon. Taeyeon yang ada di hadapannya sekarang sama sekali bukan Taeyeon yang -pernah- mereka kenal.

“Coba bicara seperti itu jika kalian berada di posisiku!” Taeyeon melepaskan tangan Sooyoung yang sedari tadi mencengkram kerah bajunya dengan kasar.

“Kau itu egois Kim Taeyeon! Katakan padaku pernahkan sekali saja kau memikirkan hal lain selain dirimu?” Ucap Hyoyeon lagi sementara Taeyeon menjawabnya dengan sebuah senyuman sinis.

“Kau bicara seolah-olah kau orang paling bijak sedunia. Bravo Kim Hyoyeon!” Taeyeon bertepuk tangan. Hyoyeon mengabaikan tindakan juga nada bicara provokasi Taeyeon. Setidaknya diantara mereka bertiga harus ada seseorang yang tetap berkepala dingin.

“Kenyatannya apa yang terjadi diantara kalian bukan salah Yuri. Jika kau tanya aku, dia juga terluka sama sepertimu. Kau sudah melakukan kesalahan besar karena membencinya.”

“……………………..”

“Tidakkah kau berpikir sifat keras kepalamu ini bukan hanya akan menyakiti Yuri tapi juga akan menyakiti Jessica? Gadis itu sama sekali tidak ada hubungannya-“

“Kau pikir aku peduli?” Taeyeon kembali tersenyum menantang. Hyoyeon segera menahan Sooyoung yang kali ini rupanya akan benar-benar menghajar Taeyeon.

“Kita pergi saja Hyo! Tidak ada gunanya bicara dengan orang brengsek seperti dia!” Sooyoung langsung pergi setelah mengatakannya. Hyoyeon masih bergeming, tak se-inchi-pun gadis itu beranjak dari tempatnya berdiri saat ini. Matanya beradu pandang dengan milik Taeyeon.

“Jangan bermain dengan perasaan Kim Taeyeon atau kau akan terjebak di dalamnya.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Siapa duga jika murid baru bernama IU itu menjadi satu-satunya teman dekat Jessica di sekolah. Gadis mungil dengan sifat polos itu seperti bisa merutuhkan sikap icy Jessica selama ini. Entahlah, untuk beberapa alasan mereka seperti sudah ditakdirkan untuk bersahabat. Mungkin itu juga alasan kenapa IU lebih memilih untuk bertanya pada Jessica daripada siswa yang lain saat hari pertamanya menginjakan kaki di K-School.

Sementara itu walau tak sesering dulu Raina dan kawan-kawannya masih sering mengganggu Jessica.

Siang itu saat Jessica membuka lokernya dia menemukan tumpukan buku pelajarannya yang basah -seseorang dengan sengaja merendamnya. Gadis berambut pirang itu tentu saja kesal. Sambil menggertakan giginya Jessica mengambil buku itu dan membantingnya di meja Raina namun Raina hanya tertawa.

Jessica berbalik dan tak berniat melanjutkan perdebatannya. Rasanya percuma menghabiskan tenaganya yang berharga hanya untuk berdebat dengan seorang attention seeker seperti Raina. Toh, Jessica hanya tinggal melewati satu tahun lagi di sekolah ini. Jessica berencan akan melewati sisa waktunya dalam damai, bersembunyi di sudut kelas dan berusaha tak terlihat. Jangan sampai berita tentang kekacauan di sekolah sampai ke telinga ibunya seperti minggu lalu. Jessica tak mau ibunya kembali menceramahinya selama berjam-jam tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dia lakukan, tentang bagaimana seorang gadis seharusnya bersikap, tentang hal-hal yang rasanya membuat Jessica mual walau hanya mendengarnya.

Namun, apa yang ada dalam benak Jessica tak sama dengan apa yang ada dalam benak sahabatnya. IU memutuskan untuk menghukum Raina dengan cara tak terduga, dengan cara memalukan yang mungkin selamanya akan terekam dalam otak gadis bermarga ‘Oh’ itu. Dengan cara yang membuat Raina berlari histeris ke Salon terdekat. Ya, IU memutuskan untuk menuangkan es krim yang dibawanya ke kepala Raina. Jessica dan juga yang lainnya tercengang melihat keberanian gadis bertubuh mungil tersebut. Keberanian yang patut di apresiasi memang, walau pada akhirnya hal itu membawa masalah lain.

“Maafkan aku.” IU menundukkan kepalanya, gadis itu sangat merasa bersalah. Sungguh. Kalau bukan karena tindakan bodohnya waktu itu tentu semua ini takkan terjadi.

“Gwenchana.” Jessica membuka kacamata renangnya dan tersenyum.Sudah satu jam Jessica berenang kesana kemari seraya memunguti sampah yang mengapung di permukaan kolam renang tersayangnya. Karena kejadian memalukan beberapa tempo lalu Raina memutuskan untuk membalas Jessica -juga iU- dengan cara ini. Dengan cara memenuhi tempat favorit sekaligus tempat Jessica menenangkan diri dengan sampah. “Jangan memasang wajah seperti itu, lagipula aku suka sekali melihat wajah panik Raina saat kau menuangkan es krim ke kepalanya.” hibur Jessica.

“Benarkah?”

Jessica mengangukkan kepalanya. “Mommy!! Help my hair!!” Jessica meniru gaya panik Raina saat itu, dan membuat IU yang semula murung kini ikut tertawa bersamanya.

“Jessica gomawo.”

“Tidak! Tidak! Aku yang berterimakasih padamu. Gomawo IU-ya.”

Keduanya saling tersenyum. IU mengulurkan tangannya, bermaksud membantu Jessica naik tapi Jessica menarik IU sehingga gadis bertubuh mungil itu terjatuh ke kolam.

“Ya!! Dingin sekali..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Bagaimana menurutmu?” Di depan kelas, Mr. Daniel sedang membahas tentang saham atau semacamnya, entahlah Yuri tak begitu memperhatikannya karena gadis tanned itu sekarang justru sibuk menunjukkan benda berkilauan di tangannya pada Sooyoung. Sebuah kalung berbentuk setengah hati.

“Aku membelinya saat di Australia dan yang lebih spesial lagi aku yang mendesainnya sendiri. Bagaimana menurutmu?”

“Lumayan. Tapi kenapa harus setengah hati?”

“Itu karena… rahasia.” jawab Yuri jahil sambil menjulurkan lidahnya. Sooyoung tentu saja mendengus kesal, bagaimana tidak jika Yuri mengajaknya mengobrol saat pelajaran lalu membiarkannya penasaran setengah mati karena teman hitamnya tersebut menggantung kalimatnya.

Puas menjahili Sooyoung, Yuri lantas membalik tubuhnya ke arah berlawanan. Kali ini dia mengajak Hyoyeon mengobrol. Sementara Mr. Daniel -guru yang terlalu baik hati- tetap menjelaskan walau tak seorang pun mendengarkannya. Di kelas yang hanya dihuni tiga orang spesial ini -Yuri,Hyoyeon,Sooyoung- menjadi seperti kaset rusak bukan merupakan hal yang aneh lagi. Ironisnya lagi, tak ada seorang guru pun yang bisa melakukan sesuatu tentang hal itu. Tentu saja takkan ada yang berani, terlebih jika satu diantara ketiganya merupakan cucu dari pemilik sekolah ini.

“Tebak siapa aku?” Jessica yang saat itu sedang menikmati makan siangnya bersama IU tiba-tiba merasa pandangannya buram. Tentu saja karena seseorang menutupi matanya.

“Taeng hentikan!” ucap Jessica tanpa ragu. Atas permintaan Taeyeon sendiri mulai saat ini Jessica memanggilnya dengan ‘Taeng’, hanya Taeng, tanpa embel-embel apapun. Lagipula mereka sudah tunangan dan akan menikah. Taeyeon melepaskan tangannya dan tersenyum lebar.

“Ada apa?”

“Ikut aku.” Taeyeon menarik tangan Jessica, bahkan sebelum Jessica sempat mengajukan protesnya.

IU diam sambil memainkan makanan di piringnya. Gadis bermarga Lee tersebut terus menundukkan kepalanya sampai akhirnya Taeyeon dan Jessica hilang dari pandangannya.

Yuri yang awalnya berniat menghampiri Jessica menghentikan langkahnya. Semula gadis tanned itu ingin memberikan benda yang ada dalam genggamannya pada Jessica tapi kemudian Yuri mengurungkan niatnya. Dia menghela nafas ,sambil memasukan benda itu kembali ke saku blazernya Yuri masih meratapi kepergian Jessica.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Taeyeon mengajak Jessica ke pusat perbelanjaan yang ada di kawasan Dongdaemun.

Di butik langganannya Taeyeon menyuruh Jessica mencoba beberapa dress. Walau sebenarnya Jessica tidak terlalu percaya diri terlebih lagi pelayan-pelayan yang ada disana terus memperhatikan kedua ‘sejoli’ ini. Memang nyatanya tidak ada yang lebih menarik dari keduanya.

“Taeng-ah ini… terlalu mini.” ucap Jessica malu seraya mengenakan dress putih pilihan Taeyeon. Baju itu sebenarnya cocok sekali untuknya hanya saja Jessica merasa kurang percaya diri, tentu saja Taeyeon tersenyum karena hal itu.

“Kalau begitu yang ini saja.”

“T-tapi..”

“Kumohon calon nyonya Kim, coba ini untukku.” Taeyeon kembali tersenyum dan membuat Jessica tak kuasa untuk menolak permintaannya.

“Bagaimana menurutmu?” Jessica yang baru keluar dari ruang ganti langsung meminta pendapat Taeyeon.

“Cantik sekali.” Jujur Taeyeon. Gadis itu senang, setidaknya dengan adanya Jessica dia tidak akan merasa terlalu bosan di acara ulang tahun pernikahan orangtuanya nanti.

“Dress-ku sudah selesai, sekarang ayo cari dasi untukmu.” Jessica berjalan cepat di depannya.

“Jadi sekarang kau yang bersemangat?” Goda Taeyeon yang sukses membuat Jessica tersipu malu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sudah beberapa hari IU tidak masuk sekolah karena sakit. Hal itu tentu saja membuat Jessica khawatir. Jessica memutuskan untuk mengunjugi rumah IU.

Gadis blonde itu berdiri di depan mansion keluarga Lee. Tak lama kemudian seorang pelayan membukakan pintu untuknya.

“Nona sedang di kamarmya, mari saya antar.”

Sesampainya di kamar IU ternyata gadis itu sedang mandi. Mengetahui Jessica datang IU menyuruh menunggunya. Sambil menunggu Jessica mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Kamar tidur IU sangat luas, di desain dengan gaya klasik dan di dominasi warna putih dan biru muda. Selanjutnya perhatian Jessica tertuju pada rak buku. Album foto berjudul K-School Kindergarten mengusik rasa penasaran Jessica. Tangan Jessica terulur untuk mengambil benda itu.

K-School Kindergarten 1994/1995

Ahn Jaehyun

Bong Yongsun

Cho Hyura

Choi Sooyoung

………

Kim Taeyeon

Kim Hyoyeon

Kwon Yuri

Lee Jieun

Min Sina

Jessica tersenyum kecil. Ternyata ini benar-benar album foto K-School Kindergaten, buktinya foto Taeyeon kecil ada disana. Sekarang Jessica jadi heran bagaimana bisa IU memilki buku tahunan ini? Bukankah IU bilang dia belum pernah sekolah di Korea sebelumnya? Selain itu foto anak bernama Lee Jieun ini kenapa-

“Jangan sentuh itu!!” IU tiba-tiba datang dan merebut benda itu dari tangan Jessica dengan emosi. Gadis blonde itu tersentak, siapa sangka IU akan semarah itu.

“Mianhe.” ucap Jessica sementara IU masih memegang buku tahunan itu di dadanya dengan wajah memerah. Keduanya terdiam sampai IU berdehem untuk menetralisir suasana canggung diantara mereka. Gadis itu sadar jika sikapnya sangat berlebihan, Jessica pasti heran karenanya.

“M-maaf. Aku hanya tidak suka siapapun melihatnya.”

“Gwenchana, aku yang seharusnya minta maaf karena sudah melihat benda milikmu tanpa ijin.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Suka atau tidak Yuri tetap adikmu!”

Taeyeon meremas rambutnya lantas memijat daerah di antara kedua matanya. Sejak pagi kepalanya terus terasa berdenyut, terlebih kata-kata Sooyoung saat pertengkaran mereka beberapa waktu lalu terus terngiang di telinganya. Yuri adalah adiknya. Fakta yang berusaha Taeyeon sangkal selama ini, fakta yang selalu menghantuinya, menumbuhkan kebencian dalam hatinya. Karena sejak saat itu Taeyeon memutuskan untuk tidak mempercayai siapapun selain dirinya.

Usianya 15 tahun saat kedua orangtuanya bercerai. Taeyeon memang tau jika selama ini hubungan kedua orangtuanya tak begitu harmonis tapi siapa sangka jika ibunya bisa bertindak sejauh itu. Selama bertahun-tahun ibunya menjalin hubungan terlarang dengan pewaris Kwon Grup hingga mereka memiliki anak yang usianya hanya berbeda satu tahun dari Taeyeon. Kenyataan tersebut tentu saja membuat Taeyeon terluka, sangat dalam terlebih saat anak hasil perselingkuhannya tersebut merupakan salah satu sahabatnya sejak Taeyeon masih memakai diapers -Kwon Yuri.

Beruntung tak ada satu media pun yang berani mengangkat skandal menghebohkan tersebut ke permukaan. Tak ada yang berani mengusik kehidupan pribadi Kim maupun Kwon Grup yang notabennya penguasa ekonomi Korea. Rahasia itu tertutup rapat, walau begitu lukanya masih begitu membekas di hati Taeyeon. Tidak cukup sampai disitu, ayah Taeyeon juga memutuskan menikahi mantan pelayan dirumah mereka -wanita yang selama ini dicintainya- dan membuat sikap Taeyeon berubah. Gadis bertubuh mungil itu berubah menjadi sedingin kutub.

Apa yang orang-orang tau selama ini, Yuri merupakan adik biologis Boa walau pada kenyataannya mereka berdua berbeda ibu. Nyonya Kwon -ibu Boa- meninggal karena kanker saat Yuri lahir karena itulah orang-orang beranggapan jika nyonya Kwon meninggal saat melahirkan Yuri. Masalah yang terlalu rumit untuk dijelaskan.

Taeyeon masih merenung saat ponselnya bergetar. Jessica mengirim pesan untuknya.

‘Aku lupa bilang terimakasih untuk hari ini. Kau tau mommy takkan berhenti bicara sebelum aku mengirim pesan untukmu. Jadi Taeng, terimakasih untuk hari ini. Good night, have a nice dream ^^’

“Taeyeon-ah.. bagaimana jika kukatakan jika Sooyeon-mu adalah gadis kecil yang pernah kuceritakan itu? Sooyeon adalah… Sica kecilku?”

“Umma jangan pergi!!” Taeyeon kecil berlari mengejar mobil yang ditumpangi sang ibu dengan kaki kecilnya namun tak bisa. Mobil itu sudah terlanjur melaju, menjauh, meninggalkan Taeyeon yang terduduk sambil menangis.

“Bahkan dalam setahun aku bisa menghitung dengan jari berapa kali kami melihat wajahmu!”

“Sekarang aku tau, alasan umma sering meninggalkan aku dan Jiwoong oppa bukan karena pekerjaan tapi karena anak itu!!”

“Selamat atas pernikahanmu nyonya Kwon!.Yuri pasti senang karena sekarang anda resmi menjadi ibunya.”

Semua kenangan menyakitkan itu membuat Taeyeon tersenyum sinis. Taeyeon ingat dia pernah bersumpah takkan membiarkan Yuri bahagia. Jika Jessica adalah kebahagiannya maka akan Taeyeon pastikan sampai kapanpun keduanya takkan pernah bersatu.

“Awalnya kukira bertunangan dengan Sooyeon merupakan beban tapi setelah tau Yuri menaruh perasaan padanya semuanya berubah menjadi begitu menarik. Kupikir tak ada salahnya menggunakan gadis itu. Akan kuambil semua milik Yuri seperti dia sudah mengambil semua milikku dan menghancurkannya.”  Taeyeon mengatakannya tanpa rasa bersalah sementara kepalan tangan Sooyoung berhenti tepat beberapa cm sebelum benar-benar mendarat di wajah Taeyeon.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Drabble #19 (YulSic)

Posted: November 15, 2014 in drabble, ff snsd, yulsic
Tag:, , ,

Drabble #19

Yuri menggembungkan pipinya seraya mendorong kereta belanjaan dengan kedua tangannya. Di depannya Jessica masih sibuk memandangi rak berisi produk-produk haircare. Gadis berambut pirang itu nampak serius, sama sekali tidak menyadari jika dibelakang, kekasihnya hampir mati kebosanan.

Yuri masih menggembungkan kedua pipinya sampai beberapa detik kemudian sesosok ‘makhluk’ sukses mencuri perhatiannya. Mata gadis tanned itu berbinar persis seperti Taeyeon saat melihat pameran bikini. Dan jika saja Yuri seekor kelinci sudah dipastikan kedua telinganya berdiri saat ini juga. Naluri player Yuri datang tanpa diundang. Rasanya mubazir saja jika membiarkan makluk seindah ini begitu saja dan bukankah menyia-nyiakan sesuatu itu tidak baik?

Yuri menegakkan tubuhnya dan meninggalkan kereta belanjaannya begitu saja. Tak lupa gadis tanned itu merapikan penampilannya. Menemani Jessica belanja mungkin merupakan pilihan terakhir dalam kamus hidupnya tapi, jika menemani Jessica berarti Yuri bisa sering-sering melihat gadis secantik itu sudah dipastikan dia akan lebih dari rela untuk melakukannya.

Hayoung yang bermaksud mengambil sampo agak kesulitan karena benda itu diletakkan di rak paling atas namun sesaat kemudian sebuah tangan mendahuluinya. Hayoung menoleh lalu menemukan gadis berwajah tampan yang tersenyum padanya.

“Ini..” Yuri menyerahkan benda yang Hayoung inginkan sambil tetap memasang senyum player yang sukses membuat Hayoung tersipu.  Di dalam hatinya Yuri bersorak gembira, untuk urusan memikat wanita gadis tanned itu tak pernah gagal. Tidak sekalipun. Terimakasih untuk wajah tampan dan tubuh seksinya.

“Seobang aku mau sampo itu. Tolong ambilkan!” Jessica menunjuk benda yang diinginkannya namun tak ada respon. Gadis blonde itu lantas berbalik dan menemukan sesuatu yang membuat darahnya mendidih.

“Dasar mata keranjang!” geramnya.

Dari 1001 cara memikat wanita versi Kwon Yuri langkah pertama berakhir sukses. Kali ini Yuri mengulurkan tangannya, siap untuk mengeluarkan serangan keduanya.

“Namaku Yuri.. Kwon Yuri.”

“Aku Jessica Jung.” Jessica yang tiba-tiba datang langsung menjabat tangan Yuri dan tersenyum padanya. “You wanna die?”
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Tittle : Honesty
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Lenght : Chapter
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri, and Other Cast

Inspired by Drama Boys Before Flowers.

Part 4
.
.
.
.
.

Seminggu, dokter menyarankan Yuri untuk tinggal di rumah sakit selama itu. Sebagai orang yang cepat bosan tentu Yuri protes, gadis tanned itu terus merengek dan baru berhenti saat Boa memukul kepalanya. Boa yang saat itu sedang di Jerman langsung terbang ke Korea begitu mendengar apa yang menimpa Yuri dari Hyoyeon. Nyonya Kwon tau tapi tak pernah datang sementara ayah Yuri tidak bisa hadir karena sibuk mengurus bisnis baru mereka di Macau. Pria itu hanya menelepon.

Berkat dirinya yang dirawat di rumah sakit Yuri jadi tau fakta baru mengenai adik Jessica -krystal. Gadis berumur 8 tahun tersebut juga dirawat di rumah sakit yang sama dengannya karenanya Yuri meminta dipindahkan ke ruang rawat yang sama dengan Krystal. Yuri berpikir begitu supaya dia punya teman mengobrol tapi nyatanya Krystal sama dinginnya dengan sang kakak. Beruntungnya Yuri mereka tak mewarisi gen violent yang sama.

Ruang rawat Krystal dan Yuri di huni 5 orang. Selain mereka ada paman Chun yang kakinya patah karena terjatuh dari tangga. Setiap pagi anaknya selalu mengujungi pria paruh baya tersebut sambil membawa makanan rumah. Ada juga kakek Hong, seorang pensiunan tentara yang berasal dari Daegu. Setiap malam kakek Hong selalu mengajak Yuri main baduk -sejenis permainan tradisionaln Korea Selatan yang mirip catur- dan Yuri yang sama sekali tidak mengerti permainan itu selalu kalah. Yang terakhir adalah nenek Shin, seorang pengidap alzheimer. Walau wanita tua itu sudah lupa dengan namanya sendiri tapi dia selalu bisa menjadi hiburan tersendiri di ruangan ini.

Malam ini, tawa kakek Hong kembali menggema sementara Yuri menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara itu paman Chun berusaha mengintip sambil menggeser kakiknya yang berbalut gips. Untuk kesekian ribu kalinya Yuri kalah.

“Itu karena permainan ini terlalu tua untukku! Jika saja kakek bermain dengan kakekku mungkin akan mendapat lawan yang seimbang.” Protes Yuri namun kakek Hong sama sekali tak menanggapinya.

“Kita ganti kegiatan saja. Apa kakek pernah mendengar Girls’ Generation? Bagaimana kalau kita menonton mereka saja.” Yuri tersenyum sambil menyalakan laptopnya. Kakek Hong tampak takjub, paman Chun bahkan sudah pindah ke tempat tidur Yuri supaya bisa melihat lebih jelas.

“Aku seperti melihat diriku saat masih muda.” ujar nenek Shin yang membuat semuanya tertawa kecuali Krystal. Gadis kecil itu masih berkutat dengan pensil warna dan buku gambarnya seperti biasa. Yuri meliriknya sekilas, Krystal memang tak banyak bicara jika dibanding anak seusianya. Gadis itu juga jarang tersenyum. Krystal hanya akan bicara jika Jessica mengunjunginya di pagi hari selebihnya dia diam dan selalu terlihat murung.

“Anak yang malang..” nenek Shin bergumam pelan, Yuri mengangukkan kepalanya.

“Kasihan sekali Krystal.” sambung paman Chun.

“Siapa Krystal?” nenek Shin bertanya dengan wajah bingungnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Padahal ini baru hari kedua tapi Yuri sudah merasa sangat bosan. Gadis tanned itu memutuskan berjalan keluar kamar untuk mencari udara segar. Langkahnya terhenti di depan sebuah vending machine. Yuri bergumam sambil mengeluarkan uang koin dari sakunya.

“Sebaiknya apa yang harus kubeli?” Yuri berpikir sambil menaruh telunjuk di bibirnya.

“Bagaimana kalau cola..” Yuri memasukkan uangnya lalu memijit tombol cola. Setelah beberapa saat minuman yang ditunggunya tak kunjung keluar.

“Ada apa dengan mesin ini?” Yuri kembali memijit tombol namun cola ysng ditunggunya tetap tak keluar. Hal ini tentu saja membuatnya kesal. Yuri mulai memarahi mesin tak berdosa tersebut sehingga membuat pasien lain yang berpapasan dengannya menatapnya aneh. Menyadari dirinya sudah menganggu ketertiban umun Yuri lantas membungkukkan tubuhnya.

Setelah orang-orang itu pergi Yuri kembali menatap mesin itu dengan pandangan kesal. Benda ini seenaknya saja sudah mengambil uanganya sekaligus mempermalukannya. Yuri memutuskan menendang mesin itu untuk memberinya pelajaran. Yuri lupa kalau mesin itu sangat keras dan justru membuat kakinya yang terasa sakit.

Yuri masih meringis sambil mengusap-usap kakinya saat Krystal menghampirinya.

“Kau tau apa?” tanya gadis cilik tersebut. “Unnie bilang kau itu bodoh dan kurasa itu benar.” lanjutnya sambil melangkah pergi, meninggalkan Yuri yang masih bengong di tempatnya. Gadis tanned itu tak percaya dengan apa yang baru di dengarnya.

Di kamar mereka Yuri berdehem lantas duduk di pinggiran kasur Krystal sementara gadis cilik itu masih sibuk dengan buku gambarnya seperti biasa. Sekilas Yuri melirik kakek Hong dan paman Chun yang memberinya semangat tanpa suara. Kedua lelaki yang tak lagi muda tersebut mengangkat tangan mereka. Yuri membalas dengan cara membentuk jarinya menjadi tanda ‘oke’.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yuri, Krystal memutar kedua matanya tanpa berniat menjawab pertanyaan basa-basi tersebut. Mendapat perlakuan dingin yang demikian dari Krystal tak lantas membuat Yuri menyerah. Untuk alasan tertentu gadis yang lebih tua tersebut ingin melihat Krystal tersenyum, walau hanya sekali.

“Gambarmu bagus. Bisa ajari aku?” Yuri kembali bertanya, berusaha memahami Krystal, berusaha membuat gadis kecil itu bicara padanya.

“Yuri.. kau tau apa?”

“Hm?”

“Cari kegiatan lain yang biasa dilakukan orang dewasa dan berhenti menggangguku.” ucap Krystal. Tidak ada seorang pun yang bisa menebak jalan pikiran Krystal sampai saat ini kecuali Jessica -mungkin-. Yuri mengerjap-ngerjapkan matanya sementara paman Chun dan kakek Hong berusaha keras menahan tawa mereka di ujung ruangan.

“Pagi Krystal..”

“Apa kita saling mengenal? Berhentilah memanggil namaku.”

“Krystal coba tebak apa yang kubawa?” Yuri menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya, masih dengan senyuman bodoh yang sudah menjadi ciri khasnya.

“Boneka teddy bear.” jawab Krystal singkat.

“B-bagaimana kau tau?”

Setelah Hyoyeon dan Sooyoung pulang kamar yang dihuni Yuri kembali sepi. Paman Chun sedang keluar bersama anaknya begitupun kakek Hong yang pergi bersama cucunya, nenek Shin sedang menjalani sesi terapi sementara Krystal takkan pernah bicara jika bukan Yuri yang memulai duluan. Walaupun Yuri bicara juga tak ada jaminan jika Krystal akan menjawabnya.

“Krys maaf aku datang terlambat.” Jessica membuka pintu dengan nafas tersenggal. Krystal mendongakkan kepalanya, Yuri yang saat itu sedang menonton televisi pun ikut menoleh. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam tapi Jessica datang dengan masih mengenakan seragam. Yuri pikir sebagai seorang anggota panitia KFestival Jessica tentu sibuk belum lagi setiap hari gadis blonde itu harus menyempatkan diri menjenguk Krystal di rumah sakit.

“Mommy mana?” Krystal bertanya sambil terus menatap pintu yang masih terbuka. Mengharapkan orang yang sudah tak ditemuinya selama dua minggu muncul dari sana namun nihil. Jessica langsung diserang rasa bersalah begitu melihat kesedihan di wajah adiknya.

“Mommy sibuk, dia janji akan mengunjungimu setelah urusannya selesai.”

“Kapan?” Jessica hanya membisu, saat itu Krystal tau jika ibunya takkan pernah datang.

“Mommy tidak menyayangiku, itu kenyatannya.”

“Krys.. bukan seperti itu-” Jessica coba menjelaskan namun Krystal terlanjur menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Tak ingin mendengar apapun lagi yang mungkin keluar dari mulut kakaknya.

“Pulanglah unnie. Aku mau tidur.”

Jessica melangkah keluar dengan kepala tertunduk. Yuri yang sedari tadi berada di tempat yang sama dengan keduanya tentu memdemgar semuanya, perlahan gadis tanned itu bisa memahami sikap Krystal sedikit demi sedikit. Jessica berhenti melangkah saat Yuri menahan pergelangan tangannya. Jessica mendongakkan kepalanya dan mendapati Yuri yang tengah menatapnya.

“Wae?”

“Jangan khawatirkan Krystal aku bisa menjaganya.” Yuri tersenyum padanya. Jessica mengalihkan pandangannya dari wajah Yuri ke arah pintu yang tertutup rapat.

“Tinggal beberapa hari bersama membuat kami dekat.”

“Jinja?”

“Tentu saja. Kau bisa percayakan adikmu padaku malam ini.”

“Gomawo Yuri-ah.”

“Sica kau tau apa?”

“Apa?”

“Malam ini adalah pertama kalinya kau bicara lembut padaku… dan tanpa pukulan.” setelahnya Yuri tertawa dan membuat paras Jessica memerah.

Krystal yang meringkuk dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tampak kecil di mata Yuri. Ruangan mereka sangat sepi sampai-sampai isakan Krystal terdengar jelas di telinganya. Yuri duduk di tepian ranjang Krystal, menarik nafas panjang sebelum mulai bicara.

“Krystal-ah aku akan menceritakan sesuatu padamu. Pertama kali aku melihat wajah ibuku saat aku berumur 5 tahun.” Perkataan Yuri sukses menarik perhatian Krystal karena gadis kecil itu berhenti menangis dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya.

“J-jinja?” tanya Krystal dengan mata bulat dan wajah yang di penuhi sisa airmata. Yuri mengangukkan kepalanya dan menggunakan ibu jarinya untuk menghapus sisa-sisa airmata itu.

“Pertemuan pertama itu berlangsung tidak lebih dari 5 menit. Saat itu jika saja seseorang tidak mengatakan dia ibuku mungkin aku tidak akan pernah tau.” Yuri melanjutkan kata-katanya sambil menerawang. Mengingat masa kecilnya yang tak begitu indah untuk diceritakan. Kali ini adalah pertama kalinya Yuri membagi cerita ini pada orang lain.

“Wae?” Krystal kembali bertanya. Yuri menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan gadis kecil tersebut sebelum kembali menjawab.

“Entahlah, mungkin karena ibuku tak pernah menginginkan kehadiranku. Dia tidak menyayangiku.” Yuri mengangkat bahunya.

“Aniyo!” Krystal langsung membantah. “Unnie bilang tak ada seorang pun ibu yang tidak menyayangi anaknya. Ibumu pasti punya alasan untuk melakukan semua itu. Kau tidak boleh marah padanya!”

Yuri tersenyum puas mendengar jawaban Krystal. “Aku tidak pernah marah pada ibuku.”

“Tidak pernah? Tidak sekalipun?” Krystal kembali bertanya. Yuri mengangukkan kepalanya mantap. Sesaat kemudian Krystal menundukkan kepalanya sambil bergumam.
“Mianhe.”

“Jadi kau sudah mengerti sekarang?” giliran Yuri yang bertanya.

“Ne. Aku sudah jadi anak nakal karena marah pada mommy dan membuat unnie sedih. Bagaimana ini? Krystal tidak mau jadi orang jahat.”

“Gwencahana, tapi kau harus berjanji padaku untuk memaafkan ibumu dan minta maaf juga pada unniemu besok, arrachi?”

“Ne.”

“Dan Krystal bukan orang jahat, Krystal adalah anak tercantik dan terpintar yang pernah kukenal.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hari ini SongYi -anak paman Chun- datang menjenguk sang ayah dan membawa banyak jjangmyun. Hal itu nekat SongYi lakukan karena sang ayah terus mengeluh karena rasa makanan rumah sakit yang tidak berperikemanusiaan. SongYi tentu saja membawa makanan itu tanpa sepengetahuan dokter.

“Putriku ini adalah bintang iklan, dia pernah tampil di iklan deterjen selama 2 menit penuh. Meski cuma tangannya saja.” paman Chun kembali berulah dan membuat paras SongYi matang.

“Pantas saja aku seperti pernah melihatmu.” timpal nenek Shin sambil tertawa.

“Itu karena iklannya baru saja tampil di tv.” sambung kakek Hong sambil menunjuk televisi. SongYi yang sudah sangat malu akhirnya menyembunyikan wajah dengan kedua telapak tangannya. Walau begitu gadis itu tidak marah, dia tau orang-orang yang ada di ruangan ini hanya bercanda.

“SongYi-ssi cantik sekali. Jika saja kau bermain drama aku pasti takkan melewatkan satu episode pun.”

“Gomawo Yuri-ssi. Apa tanganmu sudah lebih baik?”

“Ne, dokter akan menginjinkanku pulang besok.” jawab Yuri sambil tersenyum dan membuat Jessica ingin menoyor kepala si hitam tersebut. Berada diantara Yuri dan SongYi membuat Jessica merasa seperti obat nyamuk.

“Krys.. biar unnie menyuapimu.” Jessica berkata sambil bermaksud mengambil alih sumpit dari tangan adiknya namun Krystal menggelengkan kepalanya dan menunjukkan jarinya ke arah Yuri.
“Lebih baik unnie membantunya.”

Gadis tanned itu tampak kesulitan dengan sumpit di tangan kirinya. Jessica menghela nafas dan memalingkan wajahnya. “Aku tidak mau melakukannya.” gumamnya.

“Yuri-ssi biar aku membantumu.” sedetik kemudian suara SongYi terdengar menusuk telinganya. Sebelum Yuri sempat menjawab -secepat kilat- sumpit yang ada di tangannya telah berpindah ke tangan Jessica.

“Sica apa yang-“

“Buka mulutmu Kwon Yuri!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lagi-lagi Krystal sibuk dengan buku gambarnya. Yuri berusaha mengintip dari balik punggung gadis kecil tersebut namun Krystal terlanjur menutup bukunya.

“Yuri tidak boleh melihatnya!”

“Arraseo!”

“Apa itu?” Krystal menunjuk sesuatu yang Yuri sembunyikan di balik punggungnya. Yuri tersenyum lalu mengangkat benda itu di depan wajahnya.

“Tada! Kertas origami! Kemarilah aku akan mengajarkanmu membuat bangau.”

Krystal turun dari ranjangnya dan berlarinke ranjang Yuri. Gadis kecil itu duduk di pangkuan Yuri sambil memperhatikan apa yang Yuri lakukan. Setelah bersusah payah melipat kertas tersebut dengan satu tangan -mengingat tangan kanannya masih belum bisa digunakan- akhirnya bangau buatan Yuri jadi juga. Krystal bertepuk tangan sementara Yuri tersenyum bangga memperlihatkan hasil karyanya.

“Apa aku boleh membuatnya juga?”

“Tentu saja.”

“Siapa yang mengajarimu membuat ini?”

“Kakakku. Jika kita bisa membuat seribu bangau seperti ini maka satu permintaan akan terkabul.”

“Jeongmal?”

“Hm. Kau mau mencoba membuat seribu bangau seperti ini?”

“Aku mau.”

“Apa yang ingin kau minta?”

“Aku ingin meminta rumah yang terbuat dari es krim dan cokelat.”

Malam terakhir Yuri di rumah sakit paman Chun memaksa semuanya untuk menonton film horor sebagai pesta perpisahan. Alhasil film itu membuat Krystal ketakutan.

“Unnie malam ini boleh aku tidur bersamamu?”

“Tentu saja Krys- Tunggu! Barusan kau memanggilku apa?” Yuri membulatkan matanya. Tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.

“Unnie.” Krystal mengulangi kata-katanya sambil naik ke ranjang Yuri. Krystal berbaring di samping Yuri sementara Yuri mulai melingkarkan tangannya di tubuh mungil Krystal.

“Kukira kau tidak akan pernah memanggilku dengan sebutan itu.” Yuri tertawa saat Krystal mempereerat pelukannya.

“Untukmu.” Gadis kecil tersebut mengeluarkan sesuatu dari saku piyama rumah sakitnya. Sebuah gambar.

“Ini aku?” Yuri bertanya setelah melihat gambar buatan Krystal.

“Gomawo. Tapi kurasa aku tidak sehitam ini.” Yuri menggembungkan kedua pipinya. Krystal tertawa memamerkan deretan gigi putihnya.

“Krystal hari ini kenapa Jessica tidak datang?”

“Dia pergi bersama Taeyeon unnie.”

“Begitu ya..”

“Yuri unnie apa kau menyukai unnie ku?”

“Hah? Itu.. sebenarnya dialah yang menyukaiku.”

Saat Yuri akan memutar kenop pintu untuk keluar gadis tanned itu mendengar sesuatu yang membuatnya berhenti…

“Jessica akan membayar mahal atas apa yang dilakukannya. Tidak asa seorangpun yang mempermalukan seorang Oh Raina  dan lepas begitu saja.”

“Kali ini apa yang kau lakukan?”

“Raina sengaja menyuruh seseorang untuk melonggarkan baut-baut dari tangga yang kau naiki. Dia sengaja melakukannya untuk mencelakaimu.” Taeyeon mengajak Jessica bertemu untuk mengatakan semua itu. Hasil penyelidikannya selama seminggu.

Jessica masih membisu, tidak tau harus memberi tanggapan seperti apa. Kejadian seminggu lalu kembali terulang di kepalanya seperti kaset rusak, terus berputar. Jika saja saat itu Yuri tidak menyelamatkannya Jessica tidak tau apa yang akan terjadi padanya. Kali ini Jessica rasanya tidak akan bisa memaafkan Raina begitu saja, tidak jika Yuri juga ikut terluka.

Menyadari Jessica yang hanya terpaku Taeyeon lantas menggenggam tangan gadis blonde tersebut. “Aku mengerti perasaanmu Sooyeon-ah. Aku berjanji mulai sekarang Raina atau siapapun tidak akan bisa melukaimu. Aku akan melindungimu.”

.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC