Archive for the ‘yulsic’ Category

Tittle : I’m Not a Pedo***
Author : RoyalSoosunatic & YulJee
Genre : Yuri (girl x girl), Comedy Romance
Lenght : Chapter
Cast : Kim Taeyeon, Kwon Yuri, Jessica Jung, Tiffany
Hwang and Other Cast

Song lyric by:
*SNSD Taeyeon – And One (OST. That Winter The Winds Blow)

Part 5
.
.
.
.
.

Yuri masih terpaku menatap Taeyeon yang ditarik paksa oleh sepupunya ke atas panggung. Soohee sengaja meminta Taeyeon menyanyikan lagu sebagai hadiah untuk anniversary-nya bersama sang suami. Ternyata bukan cuma Yuri yang berpikir jika suara Taeyeon sangat merdu.

“Sewaktu SMA Taeyeon adalah anggota pemandu suara terbaik di sekolah kami.” ujar Jaebum -suami Soohee- yang berdiri di sampingnya. Yuri mengangukkan kepalanya dan tersenyum saat suara Taeyeon mengalun lembut diiringi alunan piano.

Do you remember me, who was easily
scarred, easily cried, easily got hurt?
I’m still like that, I’m still the same
I wonder how you will be
when you see me like this

Even if you easily turn away,
easily get farther apart
I know I won’t easily forget you
If you see me, still the same, still like this
You will call me a fool

I want and want you – and one more thing
I hurt and hurt but still, just once
Even if it wears out and wears out
Even if the tears don’t dry
If only we can go back to the beginning

There are times when I despise
the moment we first faced each other
I’m like this sometimes even though
I can’t breathe if I don’t
allow myself to long for you

I want and want you – and one more thing
I hurt and hurt but still, just once
Even if it wears out and wears out
Even if the tears don’t dry
If only we can go back to the beginning

If, if you ever,
at least once, in your life
If you sometimes have days where
your heart aches because of me
If, at least once, in your life

And one more thing – remember this
Even if it’s only you, you should live properly

If, if you ever,
at least once, in your life
If you sometimes have days where
your heart aches because of me
If, at least once, in your life

Yuri baru selesai berlatih, Jessica yang sedari tadi menunggunya langsung berlari dan memeluk Yuri dari belakang. Gadis tanned itu hampir saja tersedak, bagaimana tidak jika Jessica memeluknya saat Yuri sedang minum. Gadis blonde itu sepertinya sudah tak bisa menunggu lebih lama lagi. Yuri berusaha melepaskan pelukan Jessica, bukan karena tidak suka atau semacamnya hanya saja Yuri baru selesai berlatih dan badannya sekarang basah karena keringat dan Yuri tidak mau membuat Jessica tidak nyaman karena hal itu. Tapi melihat Jessica yang terus saja menempel seperti bakteri sepertinya yeoja blonde itu tidak mempermasalahkannya sama sekali.

“Yuri-ah hari ini temani aku jalan-jalan ya?”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Akhir-akhir ini aku jarang melihat Fany Sunbae..” ucap Yuri. Jika diingat lagi terakhir kali Yuri bertatap muka dengan kakak kelasnya yang satu itu seminggu yang lalu.

“Dia sedang berusaha terlihat sibuk.” jawab Jessica seraya bergelayut manja di lengan Yuri. Keduanya memutuskan untuk berjalan di kawasan Cheonggyecheon -lokasi terkenal sebagai tempat melamar paling romantis di Korea. Letak Cheonggyecheon berada di jantung kota Seoul. Panorama yang ditampilkan sungguh cantik mulai pemandangan malam Seoul dan juga sungai yang mengalir di sekitarnya. Di sini ada satu tempat yang diberi julukan ‘Wall of Proposal’. Selain melamar di tempat itu banyak orang menyatakan cintanya.

Berbicara soal lamar-melamar keduanya kebetulan bisa menyaksikan prosesi sakral itu secara langsung pasalnya sepasang kekasih sedang melakukannya. Jessica menarik tangan Yuri menerobos barisan orang yang berjejer membentuk pagar manusia. Yuri dan Jessica berdiri di jajaran paling depan. Tidak hanya itu Jessica juga ikut meneriakan ‘Terima’ bersama orang lainnya -tentu dengan dolphin screamnya. Yeoja berambut pirang tersebut menjadi sangat bersemangat.

Setelah ikut mericuhkan acara lamaran orang lain Jessica mengajak Yuri membeli odeng -fish cake. Odeng terbuat dari ikan yang dihaluskan dan dicampur dengan tepung terigu bersama bumbu-bumbu. Mirip seperti bakso ikan. Adonan ini kemudian dibentuk, ditusuk, dan direbus dalam air kaldu sayuran -lobak atau rumput laut- yang sudah dibumbui agar rasanya lebih nikmat. Terkadang ada juga pedagang yang memasukkan seafood -umumnya kepiting- di dalam kuahnya, agar kaldunya semakin lezat. Odeng bermacam-macam bentuknya, ada yang panjang seperti sosis, ada yang pipih dan ditusuk berlipat-lipat, dan ada juga yang bulat kecil-kecil. Odeng biasa dimakan dan disajikan bersama kuahnya, bisa juga diberi atau dicelupkan dalam saus. Meski lebih enak dinikmati saat masih panas Jessica tetap meniupkan makanan itu untuk Yuri. Gadis tanned itu sampai menghabiskan 5 tusuk, lapar, Yuri baru sadar jika setelah makan siang tadi dia belum memasukan apapun lagi ke dalam perutnya. Jessica tertawa kecil melihat Yuri yang makan dengan begitu lahap.

“Kyeopta ^^” ucapnya seraya mencubit kedua pipi Yuri.

“Wae?” Yuri menghentikan langkahnya begitu melewati sebuah toko musik dan hal itu membuat Jessica bertanya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Malam semakin larut namun Taeyeon masih berada di perpustakaan kampusnya. Penyusunan tesis yang telah dimulai memaksa Taeyeon untuk bekerja lebih keras, hampir setiap pulang mengajar ia pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan. Tak jarang Taeyeon sampai melupakan makan malamnya karena terlalu sibuk atau lebih tepatnya sengaja menyibukkan diri. Masih ingat misinya untuk menghindari Yuri? Terlebih setelah apa yang mereka alami pagi itu. Beruntunglah Taeyeon keadaan kali ini sangat mendukungnya.

Yuri duduk di sofa sambil memandangi gitar akustik yang baru dibelinya. Pada akhirnya Yuri memutuskan untuk memasuki toko musik tersebut dan membeli benda ini. Sebenarnya Yuri juga tak bisa memainkannya hanya saja saat dia melihat gitar ini dia teringat Taeyeon. Terutama aat Taeyeon bernyanyi di pesta tempo
hari, saat itu Taeyeon benar-benar terlihat sangat menakjubkan. Suaranya sangat indah dan merdu. Mungkin jika Yuri bisa memainkan gitar ini, suatu hari dia bisa mengiringi Taeyeon bernyanyi. Mungkin.

“Kenapa ssaem belum pulang?” Yuri bergumam pada dirinya sendiri. Gadis tanned itu khawatir, apalagi Taeyeon lupa membawa payungnya. Benda berwarna biru muda itu masih tergantung rapi di dekat rak sepatu mereka.

Taeyeon memandang langit dan menghela nafas berat. Hujan kembali mengguyur dan Taeyeon yang lupa membawa payung -lagi- hanya bisa terpaku. Tiba-tiba saja bayangan Yuri dan kejadian waktu itu muncul di kepalanya. Bukankah saat itu keadannya juga persis seperti ini?

“Ssaem bisa sakit jika kehujanan.”

“Kita akan berlari di hitungan ketiga arra?”

Taeyeon menggelengkan kepalanya keras berharap bayangan bodoh itu segera hilang dari pikirannya. Akhirnya setelah menarik nafas panjang Taeyeon berlari sampai halte. Sudah lewat tengah malam ketika Taeyeon sampai di rumah dalam keadaan basah kuyup. Sementara itu, Yuri yang kelelahan menunggunya tertidur diatas sofa. Dengan lidah yang sedikit keluar. Oh iya, Taeyeon baru mengetahui kebiasaan unik tersebut saat sang ayah menyuruh mereka tidur bersama beberapa tempo lalu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi hari saat Yuri akan berangkat sekolah, dia merasa heran karena belum melihat Taeyeon keluar dari kamarnya.

‘Apa songsaenim belum pulang sejak semalam?’ pikir Yuri.

Wajar saja jika Yuri berpikir begitu karena semalam sampai Yuri ketiduran dia tidak melihat yeoja dewasa itu pulang. Tapi saat melihat sepatu Taeyeon di rak sepatu Yuri tahu jika yeoja pendek itu telah pulang.

Taeyeon bergelung di bawah selimut dengan lemas. Kondisinya yang tengah lelah baik secara fisik, pikiran, dan perasaan ditambah perutnya yang kosong membuat keadaan tubuh Taeyeon yang semalam kehujanan jadi drop. Sejak semalam kepalanya sudah terasa pusing dan sekarang Taeyeon merasa tubuhnya tidak enak, dia sakit.

Yuri berinisiatif pergi ke kamar Taeyeon untuk memastikan. Beberapa kali gadis tanned itu mengetuk pintu namun tak mendapat respon. Yuri sebenarnya bisa saja langsung masuk namun dia menghargai privasi Taeyeon. Terlebih Taeyeon pernah bilang padanya jika kamar tidur mereka masing-masing merupakan daerah teritorial yang sangat pribadi. Tidak ada yang bisa masuk begitu saja tanpa mendapat ijin resmi dari pemiliknya.

“Ssaem apa aku boleh masuk?”

“…………………..”

Semakin lama Taeyeon merasa kepalanya semakin berputar. Taeyeon samar mendengar Yuri memanggil-manggilnya. Taeyeon berusaha menjawab namun suaranya tak keluar. Dan hal terakhir yang Taeyeon ingat adalah wajah Yuri yang panik.

Tak kunjung mendapat jawaban membuat Yuri bertambah gusar. Akhirnya Yuri memutuskan untuk masuk -walau tanpa ijin. Gadis tanned itu tak peduli walau setelah ini Taeyeon akan memarahi atau bahkan menghukumnya. Rasa khawatir Yuri kala itu mengalahkan rasa takutnya pada Taeyeon.

Yuri begitu terkejut karena menemukan Taeyeon yang tengah sakit. Tubuh yeoja pendek itu menggigil, wajahnya pucat, dan badannya panas. Tanpa pikir panjang Yuri langsung berinisiatif merawat Taeyeon, hal itu tentu saja membuatnya batal berangkat ke sekolah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Walau hanya sehari rasanya aku akan mati karena rindu!” Tiffany berkata sambil menunjukkan mimik paling menyedihkan sedunia. Teman-teman yang saat itu makan siang dengannya -kecuali Jessica- langsung mengangkat nampan mereka lantas beramai-ramai pindah tempat. Mereka tidak ingin merasa mual karena Tiffany berdrama di depan wajah mereka. Alasannya, tentu saja karena sejak pagi nona Kim hilang dari radar. Guru itu tak bisa ditemukan dimanapun di sekolah ini.

Jessica hanya bisa geleng-geleng kepala. Sampai kapan Tiffany akan bersikap hiperbola seperti ini? Sebenarnya sama dengan Tiffany, Jessica juga sedang cemas karena hari ini Yuri tidak masuk. Beberapa kali yeoja blonde itu sudah mengirim pesan tapi tak ada satupun yang Yuri balas. Yuri bahkan tak menjawab satupun panggilan Jessica. Walau begitu Jessica menolak untuk menunjukkan reaksi berlebihan seperti yang selalu Tiffany lakukan.

“Sikapmu itu sangat berlebihan.” Jessica berkata sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya. Mendengar perkataan Jessica Tiffany malah cemberut, tidak terima.

“Berlebihan apa maksudmu? Aku seperti ini karena aku memang sangat merindukannya! Duniaku akan serasa redup jika matahariku tidak menyinari hatiku walau hanya sehari saja.”

Read: Matahariku=Kim Taeyeon

Jessica bergidik ngeri. Yeoja berparas dingin itu memang pernah mendengar teori cinta itu gila dan Jessica rasa Tiffany telah menjadi orang gila yang sesungguhnya. Bagaimana bisa Tiffany begitu tergila gila pada nona Kim yang umurnya berbeda jauh dengan mereka? Memang sih harus Jessica akui jika secara wajah guru itu sangat cute, tapi umurnya itu loh, bukankah terlalu tua untuk remaja seusia mereka? Tidak sampai disitu, bahkan Tiffany pernah mengatakan pada Jessica jika dia tidak bisa berhenti memikirkan yeoja dewasa itu dan berharap bisa hidup bahagia bersama.

“Cinta itu bukan mengenai umur Jessie.”

“Kau tahu, kau terlihat seperti seorang penderita Oedipus kompleks!”

“Mwoya?! Kau sendiri, bagaimana bisa kau menyukai seorang anak kecil? Kita sudah 17 tahun tapi kau malah menyukai Yuri yang umurnya masih 14, bukankah itu lucu?” ujar Tiffany sambil menjulurkan lidahnya.

“YAK! Tapi umur kami tidak berbeda jauh! Berbeda denganmu! Bukankah umurnya lebih pantas jadi ahjumma-mu?!”

“YAK!”

Dan bla bla bla bla…. Mereka terus berdebat tentang ini dan itu. Sebagai sahabat karib Jessica dan Tiffany memang tidak bisa terhindar dari pertengkaran-pertengkaran kecil seperti itu. kembali ke soal Taeyeon dan Yuri, Jessica mengerutkan keningnya. Dia sedang memikirkan sesuatu. Sudah dua kali dalam dua minggu ini Yuri dan nona Kim tidak masuk sekolah dalam waktu yang bersamaan. Apakah ini hanya kebetulan, atau memang ada hubungannya? Hmmm….

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yuri menggulung lengan kemejanya. Setelahnya dia membenarkan letak selimut yang membungkus tubuh Taeyeon. Yuri juga menambah bantal di kepala Taeyeon untuk membuat posisi tidurnya lebih nyaman. Sebelumnya Yuri sudah mengecek suhu tubuh Taeyeon dengan termometer juga terus mengompress keningnya berulang-ulang.

Beberapa jam kemudian Taeyeon terbangun dan mendapati kantung es yang mengompres keningnya. Dia berusaha duduk dan mengingat kejadian sebelumnya. Taeyeon menghela nafas, dia ingat bagaimana Yuri merawatnya dan menjaganya dengan sangat tekun. Meskipun saat itu kondisinya setengah sadar tapi Taeyeon dapat mengingatnya dengan sangat jelas.

Tak lama kemudian Yuri masuk ke kamarnya. Dia tersenyum lega karena mendapati Taeyeon yg telah sadar. Sebelumnya Yuri sangat khawatir dan berencana akan membawa Taeyeon ke rumah sakit jika dalam beberapa jam ke depan kondisinya tak kunjung membaik. Yuri berjalan ke arah Taeyeon dan mengecek kondisi gadis dewasa itu.

Taeyeon tertegun saat telapak tangan hangat Yuri menyentuh dahinya untuk mengecek suhu tubuhnya. Entah apa yang terjadi tapi jantung Taeyeon rasanya berdenyut tak karuan. Dia berdebar-debar. Suhu tubuhnya memang berangsur normal, tapi suhu didarahnya malah serasa meningkat. Apalagi saat melihat senyuman melengkung diwajah tampan Yuri, rasanya wajah Taeyeon seperti akan terbakar saja.

“Panasnya sudah turun tapi kenapa wajah ssaem memerah?” tanya Yuri bingung.

“Bukan apa-apa.” Taeyeon memalingkan wajahnya.

Setelahnya Yuri pergi ke dapur dan kembali dengan membawa nampan berisi bubur, air putih dan obat penurun deman. Yuri terus merawat Taeyeon dengan penuh perhatian. Sebenarnya Taeyeon ingin sekali menolak semua kebaikan Yuri padanya, dia sadar jika semua ini hanya akan membuatnya semakin tenggelam dalam sosok Yuri. Tapi entah kenapa dirinya tidak mau mendengarkan apa yang ada dikepalanya dan terus membiarkan Yuri terus merawatnya. Taeyeon bahkan tidak menolak saat Yuri menyuapinya dan menurut saat Yuri memintanya meminum obat.

“Umma-ku bilang cara ampuh menurunkan deman selain minum air putih yang banyak juga mengkonsumsi makanan dengan vitamin C. Ssaem mau aku bawakan jeruk? Jangan khawatir aku akan mengupaskannya untukmu.” tawar Yuri sambil tersenyum dan lagi-lagi Taeyeon mengangukkan kepalanya dengan bodoh.

Setelah Yuri pergi Taeyeon menatap punggung Yuri yang baru menghilang dibalik pintu kamarnya. Taeyeon menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Taeyeon benar-benar merasa frustasi. Kenapa dirinya jadi seperti ini? Harusnya semuanya tidak begini. Ini tidak boleh. Dia tidak boleh menyukai Yuri karena Taeyeon tahu jika semua perasaan ini hanya akan membuatnya menderita dikemudian hari, termasuk Yuri.

“Aku tidak boleh mencintaimu. Semua ini adalah kesalahan.
Maka dari itu mulai dari sekarang sebaiknya kita menjaga jarak
sejauh mungkin.” ucap Taeyeon lebih pada dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Tittle : I’m Not a Pedo***
Author : RoyalSoosunatic & YulJee
Genre : Yuri (girl x girl), Comedy Romance
Lenght : Chapter
Cast : Kim Taeyeon, Kwon Yuri, Jessica Jung, Tiffany
Hwang and Other Cast

Part 3
.
.
.
.
.

Pagi-pagi sekali sudah ada orang yang mengetuk pintu rumahnya.

“Sebentar!!” ujar Taeyeon seraya mengikat rambutnya ke atas. Di hari libur seperti ini Taeyeon sangat berharap bisa menikmati waktu liburnya tapi melihat bagaimana keadaan rumah mereka membuat darah gadis berkulit pucat itu serasa naik ke kepala semua. Apalagi kalau bukan karena kebiasaan berantakan Yuri, berbeda 180 derajat dengan dirinya yang seorang perfeksionis sejati.

“Selamat pagi!” seorang wanita paruh baya tersenyum padanya. Taeyeon menautkan kedua alisnya dan semakin bertambah bingung saat wanita itu menyerahkan satu bungkusan ke tangannya.

“Ini kimchi buatan rumah, karena kalian tetangga baru kami ingin kalian mencobanya.” ucap bibi Kang ramah. Taeyeon balas tersenyum padanya. Mengingat kata tetangga Taeyeon jadi merasa bersalah. Karena terlalu sibuk sejak pindah ke tempat ini belum banyak orang yang dikenalnya selain bibi Kang, bibi Shin penjaga toko di sudut jalan -setiap minggu Taeyeon dan Yuri bergantian untuk membeli kebutuhan mereka- dan paman Jang -petugas kebersihan yang biasa mengangkut sampah setiap hari minggu.

“Terimakasih.” Taeyeon tersenyum. Sesaat kemudian gadis itu menunduk untuk menyamakan tingginya dengan namja kecil yang sedari tadi bersembunyi dibelakang kaki bibi Kang.

“Dia cucuku, Minhyuk, dia sedikit pemalu. Minhyuk ayo beri salam pada noona.”

“Annyeonghaseyo.”

“Ah kyeopta ^^”

Setelahnya bibi Kang pamit. Wanita paruh baya itu bilang masih banyak yang harus dia kerjakan. Taeyeon meletakkan kimchi pemberian itu di dalam kulkas sebelum menghela nafas. Sama seperti bibi Kang, banyak yang harus dikerjakannya dan hal pertama adalah merapikan semua kekacauan yang Yuri buat.

Walau beberapa bulan telan terlalu, namun hubungan Yuri dan Taeyeon tidak kunjung mengalami perkembangan. Seperti yang dibilang sebelumnya, keduanya hanya disibukan oleh urusan dan kegiatan masing-masing. Yuri oleh sekolah, teman-teman, dan kegiatan basketnya, sedangkan Taeyeon orgasme dalam pekerjaannya sebagai guru, asdos, juga kuliahnya yg sebentar lagi akan masuk dalam tahap penyusunan tesis.

Taeyeon butuh dua jam penuh untuk membereskan semuanya. Semua bagian tubuhnya terasa pegal karenanya gadis pendek itu memilih untuk membaringkan tubuhnya diatas sofa. Yuri yang baru bangun tampak kebingungan mencari-cari sesuatu. Taeyeon menyadari hal itu tapi tak berniat membantu, lagipula itu bukan urusannya. Bukan juga Taeyeon peduli atau semacamnya. Sampai saat ini keadaan dan sikap keduanya masih saja canggung dan aneh. Yuri masih takut dan segan pada Taeyeon, dan Taeyeon masih betah dalam mode dingin dan acuhnya.

“Ssaem?” Yuri bertanya ragu.

“Mwo?” Taeyeon masih berbaring sambil memejamkan matanya.

“Apa ssaem melihat seragam basketku?”

“Benda itu milikmu dan bukan urusanku.”

Mendengar jawaban Taeyeon, Yuri menghela nafasnya. Gadis tanned itu kembali masuk ke kamarnya. Berharap seragamnya dengan ajaib ada disana. Yuri jadi kesal sendiri, kenapa dia bisa lupa dimana menaruh benda sepenting itu.

Mendengar pintu tertutup Taeyeon pun membuka matanya. Benar saja Yuri sudah masuk kembali ke kamarnya. Setelah Yuri tak terlihat lagi Taeyeon lantas tersenyum, hal yang sejak tadi ingin dilakukannya. Taeyeon sebenarnya tau dimana benda yang Yuri maksud, saat beres-beres tadi Taeyeon menemukannya di bawah sofa -Taeyeon sudah meletakkannya di tempat cucian. Bagaimana benda itu bisa ada disana? Entahlah, tapi yang pasti Yuri dapat pelajaran kali ini. Taeyeon berharap setelah ini gadis tanned itu bisa sedikit rapi. Taeyeon tak mau kembali menemukan kaos kaki di dekat televisi, pasta gigi diatas meja makan, ponsel dalam wastafel atau semacamnya.

Taeyeon belum berhenti tersenyum. Sebenarnya tadi Taeyeon tak benar-benar menutup matanya, gadis pendek itu sempat mengintip ekspressi Yuri. Wajah Yuri yang kebingungan terlihat menggemaskan. Selain itu sebenarnya Taeyeon salut pada Yuri, sebagai gadis muda berusia 14 tahun, yeoja kecoklatan itu termasuk tegar dan tabah dalam menghadapi coban hidupnya. Tak sekalipun Taeyeon pernah
mendengar Yuri mengeluh atau bahkan menangis. Kehilangan
orangtua diusia muda bukankah itu sangat berat? Tapi Yuri, dia
tetap menjalani kehidupannya dengan baik tanpa pernah
meratapinya. Berbeda dengan Taeyeon yang justru selalu
tenggelam dalam kesedihannya terhadap Jungsoo. Dan kalau
diperhatikan, Yuri juga memiliki sifat yang baik. Satu-satunya sifat
yang tidak Taeyeon sukai dari Yuri hanyalah sifatnya yang agak -sangat- berantakan, berbeda dengan Taeyeon yang sangat rapih dan
bersih. Seandainya jika umur Yuri 6 atau 7 tahun lebih tua dari usianya
yang sekarang mungkin Taeyeon bisa mencoba untuk melirik gadis
berkulit eksotis itu dan…. Taeyeon mengacak rambutnya frustasi. Dia pasti sudah gila karena sudah berpikiran seperti itu.

Kim Taeyeon sadarlah!!!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Melihat hubungan Yuri dan Taeyeon yang tak kunjung mengalami kemajuan membuat paman Kim harus memutar otak untuk mencari cara agar anak-menantunya itu bisa memiliki moment-moment yang
manis untuk mendekatkan keduanya. Dia sudah tak sabar lagi ingin memiliki ‘cucu’, tapi bagaimana hal itu bisa segera terwujud jika setiap kali dirinya dan sang istri berkunjung ke ‘rumah’ YulTae mereka selalu mendapati keduanya dalam kondisi yang canggung dan saling menjaga jarak seperti orang asing.

Paman Kim sebenarnya telah merancang bulan madu yang romantis untuk mereka sejak keduanya menikah ke pulau Bali -yang sudah terkenal sebagai pulau surga untuk para pengantin baru, tapi hal itu  belum bisa terlaksana karena Taeyeon selalu menolak mentah-mentah rencana bulan madu itu. Tapi paman Kim tidak akan kehilangan akal. Percuma orang-orang menjulukinya cupid sewaktu dia masih muda jika pria tua itu tidak memiliki trik-trik ‘brilian’ lain untuk menyatukan Taeyeon dan Yuri.

Malam ini paman Kim sengaja mengajak istrinya untuk
menginap di rumah pengantin baru tersebut. Alasannya sih rindu pada putri tunggalnya itu padahal itu cuma modus agar dia bisa membuat
Yuri dan Taeyeon tidur sekamar sementara dirinya dan sang istri secara semena-mena meminjam kamar Yuri.

“T-tapi appa-”

“Tidak ada tapi-tapian lagipula apa salahnya jika kalian tidur bersama?”

Pada akhirnya Taeyeon menyerah, gadis itu memang keras kepala tapi paman Kim lebih keras kepala darinya. Bagaimanapun sifat Taeyeon diturunkan dari pria paruh baya tersebut.

Paman Kim menyeringai nakal ketika dia berhasil merusak
mesin penghangat ruangan di kamar Taeyeon. Siapa yang bisa
tahan tidur tanpa penghangat dicuaca dingin seperti sekarang?
Jika tidak ada mesin penghangat bukankah mereka harus
mencari sesuatu untuk ‘menghangatkan’ diri masing-masing di
tengah kondisi seperti itu?

‘Hahaha….. Kim Hyunjae, otakmu benar-benar jenius’ puji
paman Kim untuk rencananya sendiri.

Memang, dia tidak bisa berharap lebih dari ide ‘brilian’nya ini. Taeyeon yang gengsian tidak akan mungkin mau memulai untuk mendekati Yuri, sedangkan Yuri yang polos tidak akan beranimberbuat macam-macam kepada Taeyeon. Jangankan berbuat macam-macam, mengerti saja belum. Paman Kim ingat kejadian beberapa hari yang lalu dimana dia sengaja memberi les ‘privat’ kepada Yuri tentang apa itu rumah tangga dan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan sepasang ‘suami-istri’. Saat paman Kim masuk dalam ‘pelajaran inti’ yaitu ‘kegiatan’ dewasa orang yang telah menikah, paman Kim harus menghela nafas beratnya. Bagaimana tidak, jika saat dia memutar film dewasa gadis kecoklatan itu terus saja bertanya dengan wajah
yang merah dan kebingungan…

“Paman, sebenarnya ini film apa?”

“Paman, k-kenapa kedua orang itu te-telanjang? Apa mereka
tidak malu?”

“Pa-Paman, s-sebenarnya mereka berdua itu sedang berbuat
apa? K-kenapa mereka berteriak seperti orang kesakitan tapi
terus saja me-melakukan itu?”

Dan, bla bla bla bla….

Benar-benar gadis yang polos. Satu sisi paman Kim merasa berdosa karena harus mengotori otak Yuri yang masih suci. Tapi apa boleh buat, ini semua kan demi kebaikan rumah tangganya juga.

Untung saja ‘kejahatan’ paman Kim segera terbongkar. Taeyeon yang sejak awal mencurigai gerak-gerik sang ayah segera menyelamatkan Yuri sebelum ayahnya mengotori otak Yuri lebih jauh lagi.

“Appa!! Kenapa appa harus melakukan hal seperti itu? Kekanakan sekali!!”

“Yuri-ah dengarkan aku! Lupakan semua yang kaulihat tadi, arraseo?”

“N-ne ssaem.”

Yeah, paman Kim memang tidak bisa berharap jika anak dan menantunya akan berbuat ‘sesuatu’ seperti apa yang ada dalam
otak mesumnya. Tapi setidaknya paman Kim berharap jika udara dingin akan membuat mereka saling merapatkan diri.

“Jangan khawatir ssaem, aku tidak akan menganggumu. Aku akan tidur di sofa.” ujar Yuri. Taeyeon yang sedang mengganti bajunya dengan gaun tidur  melirik gadis tanned itu sebentar tanpa berniat memberikan tanggapan.

Taeyeon yang tidak tau apa-apa merasa heran saat udara menjadi lebih dingin dari biasanya padahal sekarang musim semi. Yuri yang tidur di sampingnya sudah lama terlelap. Ya, pada akhirnya Taeyeon membiarkan Yuri tidur di sampingnya. Bagaimanapun Taeyeon tidak sampai hati membiarkan Yuri tidur di sofa lagipula jika gadis pendek itu ingin menyalahkan seseorang, orang itu pasti ayahnya. Setelahnya Taeyeon membenarkan letak selimut yang menutupi Yuri.

“Kenapa aku bisa terjebak dengan anak kecil sepertimu?” Taeyeon bergumam sambil memperhatikan wajah Yuri, dada gadis tanned itu naik turun dengan teratur. Taeyeon tau otak mesum sang ayah membayangkan yang tidak-tidak saat ini tapi tentu saja itu tidak mungkin, Yuri bahkan tidak bereaksi apapun saat Taeyeon berganti baju di depan wajahnya.

“Jaljayo..” gumam Taeyeon lagi. Setelahnya gadis pendek itu mulai menyusul Yuri ke alam mimpinya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saat makan siang seperti biasa Yuri mengantri untuk memgambil makanan untuknya dan Jessica. Sementara Jessica bersikap layaknya seorang putri yang sedang menunggu pelayan untuk menghidangkan menu untuknya. Gadis berambut cokelat terang tersebut tersenyum sambil memperhatikan punggung Yuri. Tak sedetikpun adik kelas menawan itu luput dari perhatiannya. Jessica bahkan sering kali -tanpa sadar- menunjukkan wajah cemberutnya saat Yuri berbicara dengan siswi lain, seperti saat ini.

“Sekarang aku tau kenapa orang-orang menggosipkan kalian.” cibir Tiffany yang duduk di depannya. Gadis maniak pink itu kembali tampil modis dengan modifikasi disana-sini pada seragamnya. Sebuah syal pink melilit lehernya sementara di dada sebelah kirinya tersemat bross dengan lambang H-Wang Fashion -perusaahan fashion milik keluarganya. Tak salah jika Tiffany menjadi salah satu dari sebagian kecil siswa populer di sekolah elit tersebut. “Berhenti memasang wajah seperti Jessie, memangnya Yuri itu kekasihmu?”

Daripada membalas perkataan Tiffany, Jessica lebih memilih melempar tissue ke arah sahabatnya tersebut. Sahabat yang sudah Jessica kenal selama lebih dari separuh hidupnya.

“Aku kira kau tidak mau mendengar informasi apapun selain yang berhubungan dengan nona Kim.” Jessica menyilangkan tangan di dadanya. Tiffany mengangkat bahunya cuek.

“Kau tau, bahkan dinding dan tiang-tiang disini memiliki telinga.”

“Seperti aku peduli saja.” kali ini giliran Jessica yang mencibir dan membuat Tiffany tergelak.

“Hei yeoja berjidat lebar, akui saja sebenarnya kau berharap apa yang dibicarakan orang-orang selama ini menjadi kenyataan, iyakan?” Tiffany menggodanya dan membuat Jessica menginjak kakinya di bawah meja.

“Kau tau ekspresimu sudah berbicara banyak.” Tiffany tersenyum penuh kemenangan sementara Jessica menunjukkan tinju di depan wajahnya.

“Bicara sekali lagi!”

“Apa aku lama?” Yuri datang sambil membawa nampan berisi makan siangnya dan Jessica. Gadis berparas dingin itu tersenyum pada Yuri.

“Lumayan. Dan Yuri-ah..”

“Ne?”

“Jangan terlalu sering berbicara pada Yeseul, aku tidak suka padanya.” ucap Jessica sambil melingkarkan kedua tangannya di lengan Yuri dan menyenderkan kepalanya di bahu gadis tanned tersebut. Yuri bukannya tidak menyadari jika banyak mata yang tertuju pada mereka. Yuri juga bukannya tidak tau gosip hangat yang tengah beredar saat ini -tentang dia dan Jessica yang pacaran- namun Yuri tidak mau menanggapinya terlalu serius. Lagipula dirinya dan Jessica hanya teman, Yuri pikir skinship seperti wajar-wajar saja.

“Wae? Yeseul sunbae juga temanku?” Yuri jadi bingung.

“Sederhana saja Yuri-ah, dia cemburu.” Tiffany mengedipkan sebelah matanya dan pergi. Selain karena takut Jessica akan membekukannya tubuhnya Tiffany juga punya hal penting yang harus dia lakukan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Bukan hanya sampai ketelinga Yuri dan Jessica , gosip ini juga mampir ketelinga Taeyeon. Mendengarnya Taeyeon berusaha untuk
bersikap tidak peduli. Walaupun Yuri adalah ‘suami’nya tapi Taeyeon tidak mau mempermasalahkannya, toh itu bukan urusannya. Sesuai dengan pasal 4 perjanjian mereka.

4. Pihak pertama dilarang mencampuri segala urusan
pribadi pihak kedua begitu pula sebaliknya.

Berbicara soal Taeyeon, Tiffany mulai merasa jika gerak-gerik guru pujaannya itu mulai bertambah aneh. Dia seperti sedang menyembunyikan dan menghindari sesuatu. Sebagai pengamat sekaligus stalker sejati dari Kim Taeyeon, Tiffany tentu menyadarinya dan akan mencari tahu apa itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yuri berkutat di dapur untuk membuat pancake, hari ini gadis tanned itu bangun lebih dulu dan bermaksud untuk membuat sarapan. Sambil mengocok tepung, telur, susu juga baking powder yang telah dicampur menjadi satu Yuri menghitung dalam kepalanya.

Hana…

..dul

Set..

Show me
How you want it to be
Tell me baby
‘Cause I need to know now
Oh because

My loneliness
Is killing me (and I)
I must confess
I still believe (still believe)
When I’m not with you I lose my mind
Give me a sign
Hit me baby one more time

Setiap pagi Taeyeon yang sedang mandi selalu menyelenggarakan konser tunggal dadakan dan tiap pagi itu pula Yuri tidak bisa menahan
diri untuk tidak mengulum senyuman kagumnya. Meskipun Yuri seorang yang buta nada, tapi telinga Yuri tahu jika suara nyanyian Taeyeon itu sangat merdu. Walau hanya sekedar konser kamar mandi tapi Suara Taeyeon terdengar seperti penyanyi profesional. Siapa sangka jika dibalik tampang predator yang selalu Taeyeon tunjukan padanya ternyata yeoja dewasa itu memiliki suara yg indah seperti malaikat. Dan diam-diam Yuri menyukai suara merdu Taeyeon itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Seperti biasa siang itu ruang guru terlihat sibuk. Tuan park terlihat menghukum beberapa murid yang ketahuan bolos dengan cara memanjat pagar belakang sekolah sementara disebelahnya Nona Yun sedang mengurus administrasi seorang murid baru. Shinyoung sibuk bergosip bersama Hyori dan beberepa rekannya sementara Taeyeon -juga beberapa guru lainnya- lebih memilih memeriksa hasil midtest ditemani secangkir americano.

“Taeyeon-ssi kalau tidak salah di kelasmu ada seorang murid bernama Kwon Yuri, benar?”

“Ne.” Pertanyaan Shinyoung sukses mencuri perhatian Taeyeon.

“Kudengar orangtuanya menjadi korban di kecelakaan kapal ferri baru-baru ini. Apa itu benar?” tanya Shinyoung lagi.

“N-ne.” jawab Taeyeon lagi.

“Malang sekali anak itu.”

Hari ini team Cheers berlatih tanpa Jessica.Walau tidak ikut berlatih Jessica tetap hadir di pinggir lapang untuk melihat latihan tim basket. Matanya tertuju pada Yuri. Selama ini Jessica merasa sudah ‘dekat’ dengan Yuri tapi setelah -tanpa sengaja- mendengar pembicaraan guru-guru di kantor tadi Jessica sadar jika dia tidak tahu apa-apa tentang gadis tampan itu. Setelah berbulan-bulan bersahabat dengan Yuri dia bahkan belum tahu dimana rumahnya. Dan yang lebih
mengejutkan, Jessica bahkan baru tahu jika Yuri adalah anak
yatim-piatu. Jessica baru tau jika orangtua Yuri adalah salah satu korban hilang dalam tragedi kapal ferri beberapa waktu silam.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica memperhatikan layar laptop di hadapannya dengan satu alis terangkat -tanda jika dia sedang benar-benar serius. Yeoja blonde itu
bertekad mencari informasi latar belakang Yuri melalui internet juga buku arsip siswa sekolah. Sebenarnya Jessica bisa saja bertanya secara langsung tapi tak ada jaminan Yuri akan memberitahunya. Karena begitu penasaran pernah satu kali Jessica memaksa ikut Yuri ke rumahnya namun gadis tanned itu menolak keras dan besoknya Yuri terus menghindarinya selama 3 hari penuh. Benar-benar membuat stress. Oleh karena itu mencari informasi di internet dan arsip sekolah merupakan cara terhalus juga teraman.

“Apa yang kau lakukan?” Tiffany mengintip dari balik punggung Jessica. Kehadiran gadis maniak pink yang tiba-tiba itu tentu saja membuat Jessica kaget.

“Bukan urusanmu.Jangan ganggu aku aku sedang berpikir disini.” jawab Jessica ketus.

“Daebak!! Sejak kapan otakmu bisa berfungsi?” Tiffany tersenyum jahil namun di luar dugaan Jessica tidak meladeninya, ini aneh sekali.

“Baiklah. Memangnya kau satu-satunya orang yang sibuk di dunia ini?!” gumam Tiffany. Ngomong-ngomong soal kesibukan Tiffany teringat jika hari ini dia sudah berencana akan memata-matai Taeyeon. Siang itu setelah pulang sekolah, Tiffany menjalankan aksinya sebagai detektif amatiran. Dia sudah menyiapkan baju
penyamaran yang super ampuh agar Taeyeon tidak bisa
menyadari keberadaannya. Walaupun dibilang baju penyamaran
super ampuh, toh nyatanya tidak begitu. Jangankan berfungsi
untuk menutupi identitasnya, pakaian penyamaran Tiffany justru
membuatnya terlihat sangat ngejreng dan mencolok. Bagaimana
tidak, jaket pink, kaca mata pink, syal pink, topi pink, semuanya
serba pink. Benar-benar menyilaukan mata dan menarik
perhatian banyak orang. Dibandingkan jadi detektif, penampilan
Tiffany saat ini lebih mirip seperti es krim strawberry yang tumpah
di atas aspal.

Setiap siang itu pula Taeyeon harus menghela nafas saat sudut matanya menangkap seseosok makluk -astral- pink yang kadang-kadang bersembunyi di balik tembok, di balik tempat sampah, atau di belakang tiang lampu yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi.

“Kemana nona Kim pergi?” Tiffany menghela nafas kecewa. Setelah beberapa hari melakukan ‘penyelidikan’ Tiffany belum mendapat petunjuk apapun, begitupula Jessica.

Taeyeon ternyata terlalu licin dan pintar untuk dapat Tiffany mata-matai. Guru itu menghilang dalam satu kilatan mata padahal Tiffany hanya lengah sedetik saja. Sekarang Tiffany semakin mengerti kenapa Taeyeon bisa menjadi salah satu lulusan terbaik di Universitas Seoul saat meraih gelar S1-nya, karena selain pintar Taeyeon juga sangat
pandai dalam melarikan diri dan menyembunyikan rahasianya.
Walaupun Tiffany sendiri bingung apa hubungannya semua itu?

Sedangkan Jessica, setelah cukup lama berkutat di depan
laptop-nya pun tidak terlalu banyak informasi yg berhasil dia
dapatkan tentang Yuri. Dibuku arsip siswa juga sama. SMA
Shidae yang elit pasti sangat merahasiakan biodata pribadi para
siswa-siswinya. Hanya ada satu informasi penting yang berhasil
Jessica dapatkan, yaitu hak perwalian Yuri.

“Kim Hyunjae?”

Saat membaca nama itu Jessica langsung mencari data tentang
laki-laki tersebut. Dan Jessica terkejut kala mengetahui jika
laki-laki itu adalah ayah kandung dari nona Kim Taeyeon, gurunya.

“Berarti nona Kim dan Yuri sebenarnya memiliki hubungan? Saudara kah? Kerabat kah? Tapi kenapa selama ini keduanya selalu tampak seperti tidak saling mengenal sebelumnya?” pasti
ada sesuatu yg terjadi dan untuk mendapat jawabannya Jessica
harus mencari tahu lebih banyak lagi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Aku pulang.” ucap Yuri saat membuka pintu. Gadis tanned itu menjatuhkan tas punggunya dimana saja. Latihan basket kali ini membuat energinya benar-benar terkuras habis. Sooyoung sengaja memperketat jadwal latihan karena turnamen yang sudah semakin dekat.

“Kwon Yuri apa yang sudah pernah kubilang?” Taeyeon muncul dari dapur sambil menyilangkan dadanya.

“Ne?”

“Supaya tidak sulit mencari kau harus meletakkan barang-barangmu pada tempatnya. Letakan pakaian kotor di tempat cucian. Sampah juga masukan ke tempat sampah sesuai kategorinya, kau tau organik dan anorganik?”

“Ne, arraseo.”

“Tasmu?”

“Ah, mianhe.. ssaem.” Yuri membungkukkan tubuhnya lalu memungut tasnya dan meletakkannya di kamar -dengan rapi.

Beberapa bulan tinggal bersama membuat Yuri mulai mengenal Taeyeon. Sifatnya yang perfeksionis, disiplin, dan pekerja keras membuat Yuri kagum. Dia juga memiliki sifat keibuan, terbukti dari bagaimana cara Taeyeon dalam memperhatikan dan membimbing murid-muridnya di sekolah. Dan jangan lupakan betapa pintarnya yeoja dewasa itu. Tak salah jika dia direkrut menjadi guru matematika
dengan gaji besar di SMA elit dan menjadi asdos di Universitas
besar, hal yang takkan terjadi jika kapasitas otaknya standar-standar saja -seperti Yuri . Tapi yang lebih penting, melihat sosok Taeyeon
secara lebih dekat membuat Yuri seperti melihat sosok kedua
orangtuanya yang dicampur dalam satu tubuh. Sifat perfeksionis
Taeyeon hampir mirip seperti ibunya, sedangkan sifatnya yang
disiplin dan pekerja keras juga nyaris sama dengan ayahnya.
Oleh karena itulah terkadang Yuri tertegun melihat sosok
Taeyeon yang mengingatkannya pada mendiang kedua
orangtuanya itu, dan karena itulah Yuri jadi ingin memperhatikan
Taeyeon lebih banyak dan lebih banyak lagi meski secara diam-diam.

“Apa ada sesuatu di wajahku?” Yuri langsung tersedak begitu aksi diam-diamnya kali ini ketahuan. Gadis tanned itu terus terbatuk, untung saja Taeyeon segera memberinya segelas air dan terus mengelus punggungnya dengan lembut.

“G-gomawo ssaem.” ucap Yuri dengan wajah memerah. Jujur, saja Yuri sempat berpikir hidupnya akan berakhir saat itu juga.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lutut Tiffany melemas seperti jelly saat wajah Taeyeon berjarak beberapa cm saja darinya. Gadis maniak pink itu tak bisa berkata apa-apa. Taeyeon -orang yang seharusnya dimata-matainya- berhasil membuat Tiffany terdesak. Guru dengan wajah imut itu menarik tangan Tiffany menuju ruang kesehatan dan boom!! Seperti magic, dalam sekali kedipan mata Tiffany mendapati dirinya berada dalam posisi terhimpit. Di depannya Taeyeon sementara di belakangnya tembok.

Tiffany memejamkan matanya begitu Taeyeon semakin mendekatkan wajahnya. Nafas hangat Taeyeon menerpa pori-pori kulitnya tidak lama setelah itu…. sebuah buku mendarat di wajahnya. Mata Tiffany terbuka lebar, gadis itu tersadar sepenuhnya sekarang.

“Bisa-bisanya kau tertidur di pelajaran sejarah dan mau menciumku dasar mesum!!” kesal Jessica. Tiffany memungut buku catatannya dan berlari mengejar Jessica seraya mengusap-usap wajahnya yang masih terasa sakit.

Sore harinya hujan kembali mengguyur Seoul. Jessica yang lupa membawa payung berniat lari menerobos hujan sampai di halte namun langkahnya terhenti begitu seseorang menahan pergelangan tangannya.

“Yuri?”

Taeyeon masih terpaku saat Yuri tersenyum padanya. Entah bagaimana caranya gadis tampan itu bisa berdiri di sampingnya.

“Ssaem bisa sakit jika kehujanan.” Yuri melepas jaketnya lalu mendekatkan dirinya pada Taeyeon. Setelahnya gadis tanned menggunakan benda itu untuk memayungi kepala mereka berdua. Walau tidak begitu membantu setidaknya Taeyeon takkan terlalu basah dibanding berlari menembus hujan begitu saja.

“Kita akan berlari di hitungan ketiga arra?”

“Aku membawa payung Jessie. Pergilah bersamaku. Jangan khawatir aku takkan berbuat macam-macam padamu, lagipula semua orang juga tau kalau kau bukan tipeku.” Tiffany tersenyum jahil seraya membuka payung yang dibawanya. Tidak mau kalah Jessica balas menjulurkan lidahnya kearah gadis maniak merah muda tersebut.

“Aku lega mendengarnya karena kau juga bukan tipeku!”

.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

P.s
Je maaf sms ga di bls, kagak ada pulsa hahaha :D tapi ini udh diusahain sesuai request. Yah, kalo ada yg masih kurang2 boleh dikomentarin.. aku suka klo dikasih masukan ^^

Drabble #21

Di dorm mereka, Yuri berteriak histeris sambil menjulurkan lidahnya. Wajah gadis tanned itu berubah merah sementara matanya berkaca-kaca. Bukan, Yuri bukan sedang jatuh cinta, patah hati atau semacamnya. Yuri hanya sedang kepedasan karena lomba makan bodoh yang dilakukannya bersama Sooyoung.

Awalnya Sooyoung mengejek Yuri karena dia tidak bisa makan pedas dan Yuri yang menganggapnya serius tentu tak terima. Gadis tanned itu tentu tak mau jika ‘seobang’ lainnya menjulukinya dengan monyet hitam yang takut pedas. Tidak! Bagaimana dengan harga dirinya? Jadilah Yuri dan Sooyoung mengadakan lomba makan makanan pedas sebagai pembuktian.

Sooyoung yang sudah menghabiskan 5 mangkuk ramyun ekstra pedas, Donkasseu, Dak bal, dan Bibim Naengmyeon langsung terkapar di tengah dorm mereka. Sunny memutar kedua bola matanya, tidak memperdulikan  kekasihnya yang kembali bersikap kekanakan.

Yuri masih berteriak-teriak histeris kali ini sambil loncat-loncat walau pada kenyataannya dia baru menghabiskan semangkuk ramyun pedas.
“Tolong!!”

“Berisik Kwon!!” teriak Taeyeon kesal. Bagaimana tidak jika dia sedang sakit gigi dan tak ada seorangpun yang mau mengerti keadaannya.

“Yul coba makan sesuatu yang manis.” usul Tiffany. Yuri berhenti meloncat, secepat kilat gadis tanned itu mencari gula ke dapur dan ternyata persedian gula di dorm mereka habis.

“Kenapa bisa habis?” Yuri meratapi nasibnya sementara Hyoyeon hanya bisa memamerkan deretan gigi putihnya. Tadi pagi Hyoyeon mandi susu tapi karena susunya tidak manis jadi dia menambahnya dengan gula -yang banyak.

“Ah benar permen! Siapa yang punya permen?”

Semuanya menggelengkan kepalanya. Yuri hampir menyerah sampai matanya menangkap sosok kekasihnya yang tengah menonton televisi bersama duo maknae. Yuri berlari ke arah Jessica dan langsung mencium bibirnya.

“Ya!! Apa yang kau lakukan?” kesal Jessica.

“Aku sedang berusaha menghilangkan rasa pedas di mulutku. Fany bilang caranya dengan menggunakan sesuatu yang manis, karena bibirmu manis baby jadi aku menggunakannya.” ucap Yuri tanpa rasa bersalah. Jessica tersenyum namun setelahnya dia merendam kepala Yuri di dalam wastafel.

Sementara Sooyoung yang masih terkapar mulai tertawa. Walau setelah ini dia harus menemui dokter setidaknya Sooyoung tau kalau dia sudah menang.

Sementara itu duo maknae yang melihat adegan YulSic…

“U-unie barusan itu apa?” Seohyun bertanya dengan suara terbata.

“Mollayo.” jawab Yoona, tak sadar jika hidungnya mimisan.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Tittle : Si Putri Rapuh
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Lenght : Oneshot
Cast : Jessica jung, Kwon Yuri, Sunny Lee, Choi Sooyoung and Other Cast

Song lyric by :
*Cho Kyuhyun – At Close
*Cho Kyuhyun – Moment of Farewell

Why did I realize this love now?
Why are tears coming now?
Why didn’t I know you?
Love is so… My love is so foolish
.
.
.
.
.

“Permisi.” Yuri berdiri dan membungkukkan tubuhnya. Sementara Jessica masih memandang punggung Yuri dengan airmata yang meluruh di kedua pipinya.

Your back side was really pretty
I finally realized this after seeing you leave
So my heart aches when tears fall
I finally realized this after seeing you cry, after seeing you leave

It’s too late but I’m sorry, I didn’t realize how good you were
I’m such a fool, I’m such a fool
Don’t leave me, although you will leave even if I hold onto you
I’m so pathetic, I’m so pathetic

Why did I realize this love now?
Why are tears coming now?
Why didn’t I know you?
Love is so… Love is so foolish

~~~~~~~~~~~~~~~~

Masih kuingat
Kala itu matahari bersinar hangat
Menyinari semua kecuali satu
Dirimu, malaikatku

Sambil membawa kamera jenis DSLR yang Yuri kalungkan di lehernya gadis tanned itu menyusuri sepanjang aliran sungai Han. Menikmati waktu liburnya, jika Yuri beruntung tentu dia bisa mendapat pemandangan yang bagus untuk di potret. Lumayan untuk menambah koleksi fotonya. Mungkin saja suatu hari nanti saat keadaan sudah membaik Yuri bisa mengadakan pameran hasil jepretannya sendiri. Ya, suatu saat nanti, sampai saat itu tiba Yuri hanya bisa berdoa dan terus berusaha.

Sejak memutuskan untuk kembali ke Korea Yuri memang harus bekerja keras, memeras keringat untuk mencari sesuap nasi nyatanya bukan isapan jempol belaka. Sejak Yuri menolak untuk meneruskan perusahaan sang ayah gadis tanned itu meninggalkan Amerika dan memutuskan kembali ke Korea. Tanah kelahirannya yang juga akan menjadi tempat dimana Yuri memulai segalanya dari awal. Tempat awal dimana Yuri akan membuktikan pada ayahnya jika apa yang selama ini Yuri suka dan apa yang selama ini Yuri yakini -sebagai jalan hidupnya- bukan sesuatu yang pantas dianggap remeh seperti yang selalu sang ayah katakan padanya.

“Kau tidak akan bisa hidup dengan hanya menjadi seorang fotografer!”

“Satu langkah kau meninggalkan rumah ini, kau bukan lagi anakku!!”

Lamunan Yuri terhenti begitu matanya menangkap sesosok gadis yang tengah sendiri. Gadis bertubuh mungil dengan rambut blonde tersebut berdiri di sisi sungai, tidak beranjak sedikitpun walau angin dingin menerpa tubuhnya. Yuri menautkan kedua alisnya, bahkan dirinya saja yang sudah mengenakan mantel tebal masih merasa dingin apalagi gadis ini yang mengenakan pakaian yang terbilang tipis. Angin malam di penghujung musim gugur itu benar-benar luar biasa.

Lama Yuri memperhatikan gadis itu tapi belum ada tanda-tanda si gadis akan beranjak dari tempatnya. Seakan menghiraukan dunia sekitarnya, mata gadis itu masih fokus pada permukaan air sungai yang beriak dan berkilauan terkena cahaya lampu. Yuri tersenyum kecil sebelum mengangkat kamera dan memotret gadis misterius itu diam-diam. Baiklah, Yuri tau jika perbuatan itu sedikit tidak sopan tapi mau bagaimana lagi, Yuri tak bisa menahan dirinya. Gadis itu merupakan objek yang sangat sempurna malam ini.

Atau boleh kusebut putri dari negeri dongeng?
Atau barangkali tidak juga
Kudengar semua putri memiliki akhir bahagia
Tapi sepertinya yang ini berbeda

Yuri tertegun begitu gadis asing itu menangis tanpa suara. Airmata gadis itu membuat Yuri bertanya. Apa gerangan yang membuat objek sempurnanya tersebut bersedih? Apa yang membuat makhluk sempurna itu menitikan air matanya?

Yuri masih terpaku di tempatnya. Karena tidak punya cukup keberanian untuk bertanya akhirnya Yuri membiarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut bersemayam di kepalanya sampai akhirnya si gadis misterius itu pergi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yang satu ini rapuh
Membuatku takut untuk sekedar menyentuhnya
Yang satu ini terluka
Salahkah jika aku ingin melindunginya

Jessica pasrah saja saat sahabatnya -Sunny- menarik tangannya dari kantor. Gadis blonde itu tidak punya tenaga sama sekali untuk berontak.

“Kita makan siang di luar kali ini. Restoran Youngie-ku sedang mengadakan diskon, selain itu kurasa kau butuh suasana baru.” Sepanjang perjalanan Sunny terus berceloteh sementara Jessica hanya memberikan tanggapan sekedarnya. Sisa menangis semalam masih menyisakan bengkak di matanya, masih sangat jelas walau Jessica berusaha semaksimal mungkin menyamarkannya dengan make-up. Jessica yakin Sunny -bahkan semua orang- menyadarinya, tapi Jessica beruntung tak ada seorangpun yang ingin membahasnya.

Jessica tau jika dirinya memang menyedihkan. Menangisi kekasih yang telah meninggalkannya tanpa sebuah jawaban terdengar begitu bodoh. Tapi Jessica tetap tak bisa menyembunyikan perasaan sakitnya terlebih malam kemarin, malam anniversary mereka. Malam yang biasanya mereka rayakan dengan penuh suka cita.

“Nah, kita sampai..” Sunny memarkirkan mobilnya dengan hati-hati. Keduanya lantas melangkah ke dalam dan langsung disambut seorang pelayan.

Sunny sudah memesan makan siangnya sementara Jessica masih membolak-balik buku menu di tangannya. Tidak ada satupun yang menggugah selera gadis berparas dingin tersebut. Sunny berdecak kesal sementara pelayan berkulit kecoklatan yang melayani mereka masih menunggu dengan sabar sambil mengenakan apron dan memegang pulpen dan memo di tangannya.

Jessica masih berpikir, sementara si pelayan masih memandangi Jessica sambil mengulum senyumnya. Tersenyum pada takdir yang mendengar doanya.

“Jika boleh saya sarankan bagaimana kalau Bindaetuk? “

“Nah, itu enak Jess, aku pernah mencobanya. Youngie sendiri yang memasaknya.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Ini namanya takdir Yul. Bukan cuma sebuah kebetulan jika gadis misterius yang kau sukai ternyata sahabat kekasihku. Lakukan langkah selanjutnya buddy.” Sooyoung sibuk berceloteh sambil memasak Chop Chae pesanan untuk meja nomor 9. Yuri tersenyum sambil memandangi Jessica yang tengah duduk bersama Sunny melalui kaca kecil di pintu yang memisahkan pantry dan ruang utama restoran.

Awalnya Yuri tidak sengaja menceritakan semuanya pada Sooyoung -tentang ketertarikannya pada sosok Jessica. Sooyoung yang pada dasarnya bermulut ember tentu tak bisa menyembunyikan fakta menarik itu dari kekasihnya. Setelah Sunny tau, gadis pendek itu jadi bersemangat untuk lebih mendekatkan keduanya. Sunny pikir Yuri adalah orang yang tepat yang bisa mengalihkan pikiran juga perasaan Jessica dari masa lalunya. Sudah terlalu lama Jessica terjebak juga terlalu banyak airmata gadis itu yang tumpah hanya untuk menangisi sesuatu yang tak pasti. Karena hal itulah setiap makan siang Sunny menyeret Jessica dengan paksa ke tempat ini.

Yuri tersenyum sambil meletakkan pesanan Sunny dan Jessica diatas meja. Dua buah Seafood Pancake, Dumplings, Edamamme, Backwoods Blueberry Lemonade juga Black Raspberry ProseccoRita . Namun alis Jessica berkerut begitu Yuri juga meletakkan Chocolate Mousse di mejanya.

“Maaf Yuri-ssi kurasa kami tidak memesan ini.” Jessica menunjuk makanan itu dengan jarinya. Mungkin saja Yuri lupa lalu salah menaruh makanan untuk orang lain di meja mereka.

“Aniyo. Itu dessert baru kami. Karena kalian adalah pelanggan setia maka kami memberikannya secara gratis. Silahkan menikmati.” Yuri tersenyum dan berlalu. Jessica mengangukkan kepalanya dan tidak mempermasalhkan hal itu lebih jauh sementara Sunny mengulum senyumnya. Gadis pendek itu tau Yuri berbohong soal hal gratis tersebut. Yuri memang sengaja memberikan cake itu untuk Jessica. Bukan cuma cake kadang-kadang gadis tanned itu juga membelikan coffe, ice cream, waffle atau yang lainnya. Hal itu terus berlangsung selama setahun penuh.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica masih terpaku pada layar laptopnya. Kliennya kali ini meminta Jessica membuat konsep unik untuk pesta pernikahan mereka. Sebagai seorang weeding planner yang baik tentu Jessica tak ingin klien yang sudah percaya padanya kecewa. Maka dari itu sejak beberapa jam lalu Jessica sibuk menjelajah dunia maya, berharap bisa menemukan inspirasi.

Berbeda dengan Jessica Sunny terlihat lebih santai. Sambil memandangi Jessica, Sunny memutar-mutar pulpen di tangannya.

“Kudengar Yuri baru pindah ke dekat apartemenmu.”

“Dia tetanggaku sekarang.”

“Jessie kalau menurutmu Yuri bagaimana?” Sunny bertanya, Jessica menoleh sebentar kearah yeoja pendek tersebut sebelum kembali fokus pada pekerjannya. Matanya bergerak cepat sementara jari-jari kurusnya menari lincah diatas keyboard. Disisi lain Sunny jadi tidak sabar menunggu jawaban sahabatnya. Pasalnya siapapun tau selama ini Yuri selalu menunjukkan perasaannya secara terang-terangan tapi Jessica tidak pernah memberikan respon. Hal itu membuat Sunny bertanya, selama ini kira-kira apa yang ada dalam benak sahabatnya.

“Dia baik.” jawab Jessica singkat. Sunny menjadi gemas karena sikap acuhnya.

“Hanya itu?”

“Memangnya kau ingin mendengar apa lagi?” Jessica balik bertanya.

“Aku cuma mau bilang saja jika Yuri itu sangat tampan. Jika kau terus ‘menggantungnya’ tidak lama lagi akan ada seseorang yang mengambilnya darimu.” Sunny bergurau.

Yang satu ini rapuh
Membuatku takut untuk sekedar menyentuhnya
Yang satu ini terluka
Salahkah jika aku ingin melindunginya

Sepulang kerja Jessica memutuskan menggunakan bis untuk pulang namun malang karena sifat pelupanya gadis berambut blonde itu justru harus terjebak di halte. Seoul yang hari itu cerah mendadak diguyur hujan lebat dan Jessica yang lupa membawa payung tidak bisa kemana-mana. Beruntung Yuri datang dan membawa payung untuknya.

“Aku sengaja datang karena bibi  pemilik apartemen bilang kau meninggalkan payungmu di depan pintu.”

Setelahnya, mereka berjalan berdampingan di bawah satu payung dalam keheningan. Yuri menoleh pada Jessica yang hanya melihat kedepan. Gadis bertubuh mungil tersebut sedikit mengigil, blazer yang membungkus tubuhnya juga agak basah terkena cipratan air hujan. Yuri tersenyum kecil, walau semua orang takut pada gadis berparas dingin ini tapi Yuri berbeda. Yuri merasa Jessica sengaja bersikap sedingin itu untuk menyembunyikan lukanya, Jessica adalah gadis yang kuat, yang tak ingin seorangpun mengasihaninya. Sejak pertama Yuri melihat gadis ini menangis malam itu, sesuatu dalam diri Yuri membuatnya ingin melindungi Jessica. Walau selama ini Jessica terkesan membangun benteng pembatas yang sangat kokoh diantara mereka.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi-pagi sekali Jessica berteriak histeris karena saat dia bangun seekor kecoa terbang dan mendarat tepat di wajahnya. Yuri segera berlari ke tempat gadis itu dengan khawatir. Takut terjadi apa-apa pada Jessica. Setelah mengetahui hal apa yang membuat gadis yang disukainya menjerit histeris Yuri berusaha keras menahan tawanya. Perlahan Yuri menghampiri Jessica yang masih menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Gwenchana, dia sudah pergi.”

“Jinja?” Jessica mengintip dari balik selimut seperti anak kecil dan menemukan Yuri yang tersenyum padanya. Bukan, bukan tersenyum tapi tertawa. Yuri berpikir jika Jessica yang tengah ketakutan sangat menggemaskan.

“Ya!! Jangan menertawaiku!” Hal itu tentu saja membuat Jessica kesal.

Jessica tengah kesulitan dengan beberapa kantung belanjaan, Yuri langsung mengambil alih barang-barang itu darinya. Seiring berjalannya waktu keduanya semakin dekat tapi hubungan mereka hanya sebatas teman. Jessica tersenyum dan membiarkan gadis tanned itu membawakan barang-barangnya. Yuri itu baik, terlalu baik malah. Sering kali Jessica merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaan gadis tanned tersebut.

Walau begitu Jessica tak pernah meminta Yuri pergi. Jessica tau dia telah bersikap egois dengan menolak untuk melepas masa lalunya dan membiarkan Yuri di sisisinya di saat yang bersamaan.

“Sica kau ingin makan apa malam ini? Aku bisa memasaknya untukmu.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica sedang melakukan sedikit renovasi pada apartemennya . Gadis blonde itu merasa sudah bosan dan ingin mencari suasana baru karenanya Jessica ingin mengubah warna cat di ruangannya. Yuri yang sebenarnya hanya membantu berakhir mengerjakan semua yang harus Jessica lakukan. Sementara Yuri mengecat Jessica duduk diatas sofa dan tertawa padanya. Yuri memandang gadis blonde itu heran.

“Kau terlihat seperti zebra Yul.” Jessica terus tertawa sambil memegangi perutnya. Cat yang Yuri gunakan sebagian melumuri tangan dan wajahnya.

“Mwo? Zebra?”

“Ne. Lihat penampilanmu Yul. Hitam dan putih.”

“Mwoya?! Aku tidak hitam. Warna kulitku ini disebut eksotis.” Yuri menggembungkan kedua pipinya protes.

“Sama saja.” balas Jessica sambil menjulurkan lidahnya. Yuri menghampiri gadis blonde itu dengan kesal.

“Y-ya! Apa yang akan kau lakukan?”

“Menggelitikimu.” Yuri tersenyum evil sementara Jessica membulatkan matanya dan mulai berlari menghindar.

“Ya! Kwon Yuri jangan coba-coba!”

“Ahahaha.. berhenti disitu Sica!”

Mereka berdua terus berlari seperti anak kecil. Yuri yang pada dasarnya lebih cepat bisa meraih ujung baju Jessica namun sedetik kemudian gadis blonde itu menepis tangannya. Jessica berlari ke dalam kamarnya dan membanting pintunya keras. Yuri meringis kesakitan sambil memegangi hidungnya yang terkena hantaman pintu.

“Babo! Ini salahmu sendiri kan? Harusnya kau tidak mengejarku.” Sambil mengompres hidung Yuri, Jessica terus mengomelinya.

“Sica.. kau terlihat semakin sexy saat marah. Sexyca!”

“Babo!” perkataan Yuri sukses membuat Jessica menoyor kepalanya hingga gadis itu terjungkal kebelakang. Yuri memanyunkan bibirnya sambil mengusap-usap pantatnya yang sakit. Jessica sepertinya senang sekali membuat dirinya tersiksa.

“Apa princess Jessica sudah siap?” Yuri tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Hari ini mereka akan menghadiri pesta pernikahan Sooyoung dan Sunny.

“Terimakasih Prince Yul.”  Jessica balas tersenyum dan mengaitkan tangannya di tangan Yuri. “….yang hitam.” lanjut Jessica sambil tersenyum jahil.

“Selalu seperti itu.”

Pesta pernikahan Sooyoung dan Sunny berlangsung meriah. Yuri dan Jessica berada disana hingga larut. Semua orang merasa turut berbahagia untuk Sooyoung dan Sunny begitupun Jessica. Siapa sangka gadis pendek tukang aegyo di SMA mereka akhirnya menjadi seorang istri.

Di dalam taksi yang membawa mereka pulang, Yuri dan Jessica tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jessica terus berpikir, orang itu juga pernah berjanji akan menikahinya. Jika saja gadis itu tidak menghilang tanpa kabar apa mungkin sekarang Jessica sudah menjadi seorang istri seperti Sunny?

“Sica tunggu!” Jessica yang bermaksud masuk ke dalam apartemennya terhenti begitu Yuri memanggil namanya. Gadis yang lebih tinggi itu berdiri beberapa langkah dari Jessica.

“Jessica aku ingin mengatakan sesuatu.” Yuri tersenyum gugup sambil terus mengusap tengkuknya. Jessica menghela nafas mengetahui akan kemana pembicaraan ini.

“Mianhe Yuri-ah jangan sekarang. Aku lelah sekali. Selamat malam.” Ujar Jessica sambil membukan pintu apartemennya dan masuk ke dalam. Meninggalkan Yuri yang tampak kecewa.

“B-baiklah. Selamat malam.” Yuri menundukkan kepalanya dan berbalik. Gadis tanned itu memasuki apartemennya dengan lemas. Yuri mengerti, mungkin sampai saat ini Jessica belum siap menerima hatinya.

Tepat setelah masuk Jessica menyandarkan punggungnya ke pintu. Satu-satunya alasan Jessica buru-buru pergi karena dia tak sanggup melihat wajah sedih Yuri. Jessica tak cukup kuat untuk menerima fakta jika dirinya sudah menyakiti perasaan gadis tanned itu untuk kesekian kalinya. Jessica tau dirinya tidak bisa menerima Yuri lebih dari apa mereka sekarang. Walau begitu Jessica berharap tak ada satupun yang berubah di antara mereka.

“Mianhe.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kusebut diriku ‘penjaga’
Karena aku memang menjaga hatinya
Hati putri rapuh yang pada akhirnya kusadari
Selamanya takkan pernah kumiliki

Kehidupan Jessica dan Yuri berjalan seperti seharusnya. Gadis blonde itu bersyukur tak sedikitpun Yuri merubah sikapnya. Semuanya berjalan baik sampai masa lalu Jessica datang dengan membawa luka lama juga pertanyaan yang tak kunjung terjawab.

“Taeyeon-ah..” Jessica mendekap wajah Yuri. Gadis blonde yang mabuk itu lantas mencium bibir Yuri. Jessica terus melumat bibir gadis tanned itu sambil menangis, keduanya menangis.

“S-sica geumanhae..”

Tak bisa kusebut diriku penyembuh luka
Bagaimana bisa jika sang putri tak pernah bernafas untukku
Jika sang pangeran datang kembali
Lantas harus kemana kubawa diri ini?

“Sica.. kau akan pergi?” Yuri bertanya dengan suara serak. Gadis tanned itu tau suatu hari saat seperti ini akan tiba namun jauh di dalam lubuk hatinya Yuri masih berharap Jessica mau melihat hatinya sekali lagi.

“Mianhe Yuri-ah..” Jessica meninggalkan apartemen mereka tanpa berbalik lagi. Jessica tau dia akan berubah lemah saat menatap wajah Yuri.

Yuri menangis sambil menatap punggung Jessica yang menjauh dari pandangannya, juga menjauh dari hatinya.

“Yul Jessica memberikan undangan ini untukmu.” Sooyoung memberikan undangan itu pada Yuri seraya menatap sahabatnya tersebut dengan pandangan iba.

“Nona Yuri  tuan sedang sakit keras dan beliau meminta anda kembali.”

“Sampai jumpa Yul.” Sooyoung memeluk Yuri untuk terakhir kalinya. Ya, pada akhirnya Yuri memutuskan untuk menyerah pada Jessica, pada perasaan, pada mimpinya juga pada apa yang selama ini diyakininya.

I’m holding onto you, I’m trying
But the thoughts in my head are scattering in this moment

You didn’t hate me enough to break up
But you didn’t care enough to love me
You already brought your cold words one by one
And I have nothing really to say

We each have different memories
Maybe I feel sorry, maybe I want to run away right now
I’m just filled with resentment during the moment of farewell
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Tittle : Honesty
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Lenght : Chapter
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri, and Other Cast

Inspired by Drama Boys Before Flowers.

Song lyric by Alex – I Want To Love You (OST. My Lovely Girl)

Part 5
.
.
.
.
.

Seoul, 24th Desember

Jam hampir menunjukkan tengah malam sementara kepala sekolah Lee masih sibuk berpidato. Karena bosan Jessica memutuskan untuk pergi ke atap dan menyendiri. Natal kali ini salju juga turun, beberapa butiran salju bahkan sukses mendarat di kepala Jessica. Gadis blonde itu lantas merapatkan mantel tebalnya. Beberapa detik kemudian Jessica mendongakkan kepalanya dan menemukan Taeyeon yang tengah tersenyum sambil memayunginya. Pantas saja salju-salju itu tak lagi menghujani dirinya. Jessica balas tersenyum pada tunangannya yang terlihat lebih ‘tampan’ malam ini.

“Boleh aku menemanimu?”

Di belahan bumi lain tepatnya di Australia -Yuri terpaksa pergi kesana karena Boa memaksanya. Boa merasa selama liburan panjang kali ini dia perlu mengawasi adiknya atau Yuri akan melakukan hal-hal bodoh yang pasti membuatnya khawatir. Seperti tahun lalu misalnya, ketiga idiot yang beranggotakan Yuri, Sooyoung, dan Hyoyeon pergi ke Harbin -salah satu daerah dengan hawa terdingin di China- lalu ikut lomba renang disana sampai mereka harus masuk rumah sakit karena hipotermia. Maka dari itu untuk menjauhkan Yuri -serta kedua idiot lainnya- dari hal-hal yang bisa membuatnya berdecak kesal Boa menyeret paksa adiknya ke Australia.

Berbeda dengan kebanyakan wilayah di benua Eropa dan Amerika, Natal di Australia dirayakan pada musim panas karena itu kita takkan menemukan tumpukan salju atau semacamnya. Tapi bukan Yuri namanya jika dia tak punya cara unik untuk merayakan liburannya kali ini. Sambil mengenakan pakaian Santa Clause Yuri berfoto dengan seekor rusa lalu mempostingnya di Instagram, tentu saja tidak tanpa mengganti kepala rusa tersebut dengan wajah Jessica. Pernah dengan photoshop? Nah, Yuri menggunakan aplikasi tersebut untuk melakukannya.

Merry Christmas!! Baru kali ini aku bertemu rusa berwajah medusa. Semoga berbahagia semuanya ^^

Sambil memasukan ponsel ke saku mantelnya Jessica menggertakan gigi-giginya karena kesal. Postingan Yuri terdengar seperti genderang perang untuknya. Bahagia? Bagaimana Jessica bisa bahagia jika Yuri terruusss  saja cari gara-gara dengannya. Tapi tunggu dulu! Medusa? Apa selama ini Jessica benar-benar sejahat itu?

Taeyeon yang duduk di samping Jessica berinisiatif melepas sarung tangannya dan memakaikannya di tangan Jessica yang terasa dingin. Sentuhan lembut Taeyeon di tangannya cukup untuk menyadarkan Jessica, memaksa pikirannya kembali ke dunia nyata. Benar juga, Taeyeon ada disampingnya. Bagaimana bisa Jessica memikirkan gadis lain saat tunangannya tepat duduk di sampingnya?

Jessica Jung sadarlah!!

Yuri terus tertawa sambil memandangi layar ponsel pintarnya. Membayangkan wajah Jessica yang kesal karena tingkahnya selalu bisa menjadi hiburan tersendiri untuk Yuri. Sesaat kemudian Yuri berhenti lalu membaringkan punggungnya di atas sofa. Kali ini Yuri tidak tertawa, gadis tanned itu hanya tersenyum sambil memandangi foto Jessica yang dia jadikan sebagai wallpaper.

“Sica saranghae.”

Setelah mendengar apa yang Taeyeon katakan Jessica masih terpaku. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya berpindah-pindah dari wajah Taeyeon ke tangan mereka yang saling menggenggam dengan jari-jari yang saling bertautan.

“Saranghae…” Taeyeon mengulanginya sekali lagi.

I want to tell you
Words that you haven’t ever heard
Words I want to tell you when I see you
Words I can’t say by myself
I love you

Will you come to me?
I wanna close my eyes and hug you
I’m not good but I wanna whisper
To the person in front of me, love you

I want to love you
I want to be by your side

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hari pertama masuk sekolah setelah liburan panjang Yuri, Sooyoung dan Hyoyeon masih terkapar diatas kasur King Size mereka masing-masing. Boleh dibilang jika kondisi ketiganya cukup mengenaskan.

Hyoyeon yang pergi liburan ke tempat bermain ski di Swedia bersama tunangannya -Nicole- tidak bisa merasakan tangan dan kakinya. Bagaimana tidak jika selama disana Hyoyeon dipaksa untuk terus menggendong Nicole sebagai hukuman karena Nicole menemukan banyak sekali kontak wanita lain dalam ponsel Hyoyeon -yang naasnya tertukar dengan milik Sooyoung.

“Bagaimana ponsel kalian bisa tertukar jika sekarang Sooyoung sedang ada di Jepang?!”

“Itulah, aku belum sempat menukarnya kembali.”

“Kau hanya mencari-cari alasan saja, iya kan Hyonie?!”

Sementara Sooyoung yang liburan di Jepang pun tak kalah sialnya. Nenek Sooyoung yang seorang pecinta alam bersama klubnya berambisi untuk mendaki Gunung Fuji dan merayakan tahun baru di puncaknya, itu berita bagus tentu saja. Berita buruknya Sooyoung dipaksa ikut.

“Sudah kuduga unnie mengajakku liburan untuk ini!” Yuri mengajukkan protes seraya mengangkat 10 kantung belanjaan di tangannya -yang semuanya milik Boa. Gadis tanned itu benar-benar  berencana melaporkan sang kakak pada pengadilan internasional karena sudah melakukan perbudakan di era modern.

“Permisi! Apa kau bisa menunjukkan dimana ruang kepala sekolah?” Jessica mendongakkan kepala dari buku yang dibacanya dan menemukan seorang gadis yang tersenyum sambil menatapnya dengan pandangan penuh harap. Jessica menautkan kedua alisnya. Walau gadis ini mengenakan seragam yang sama dengannya tapi baru kali ini Jessica melihatnya.

Seakan mengerti dengan arti tatapan bingung Jessica, gadis itupun mengenalkan dirinya.

“Aku murid baru disini, pindahan dari California. Namaku IU Lee.” Gadis bernama IU itu berkata seraya mengulurkan tangannya sambil masih memasang senyum manis.

“Namaku Jessica Jung.”

“Jessica mari berteman.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Di dalam Gym sekolah yang saat itu sepi Taeyeon, Sooyoung dan Hyoyeon tampak terlibat percakapan serius. Melihat ketiganya berada dalam satu tempat di sekolah ini memang bukan hal biasa, kali inipun bukan pengecualian. Taeyeon -yang sebenarnya tidak mau- terpaksa harus terlibat dengan keduanya. Beruntung Yuri tak ada disana atau akan terjadi hal lebih buruk dari apa yang sudah mereka alami saat ini.

Kepalan tangan Sooyoung berhenti tepat beberapa cm sebelum benar-benar mendarat di wajah Taeyeon. Apa yang Taeyeon katakan beberapa saat lalu benar-benar membuat emosi Sooyoung memuncak. Selama ini Sooyoung mencoba bersabar karena mereka teman -setidaknya pernah. Namun, kali ini Taeyeon benar-benar keterlaluan. Gadis jangkung itu merasa sudah tidak bisa mentolelir sikap Taeyeon lagi. Bukan hanya Sooyoung, Hyoyeon pun merasakan hal yang sama.

“Dengar Kim Taeyeon! Walau kau sepupuku aku takkan berada di pihakmu.” tegas Hyoyeon. Taeyeon yang ada di hadapannya sekarang sama sekali bukan Taeyeon yang -pernah- mereka kenal.

“Coba bicara seperti itu jika kalian berada di posisiku!” Taeyeon melepaskan tangan Sooyoung yang sedari tadi mencengkram kerah bajunya dengan kasar.

“Kau itu egois Kim Taeyeon! Katakan padaku pernahkan sekali saja kau memikirkan hal lain selain dirimu?” Ucap Hyoyeon lagi sementara Taeyeon menjawabnya dengan sebuah senyuman sinis.

“Kau bicara seolah-olah kau orang paling bijak sedunia. Bravo Kim Hyoyeon!” Taeyeon bertepuk tangan. Hyoyeon mengabaikan tindakan juga nada bicara provokasi Taeyeon. Setidaknya diantara mereka bertiga harus ada seseorang yang tetap berkepala dingin.

“Kenyatannya apa yang terjadi diantara kalian bukan salah Yuri. Jika kau tanya aku, dia juga terluka sama sepertimu. Kau sudah melakukan kesalahan besar karena membencinya.”

“……………………..”

“Tidakkah kau berpikir sifat keras kepalamu ini bukan hanya akan menyakiti Yuri tapi juga akan menyakiti Jessica? Gadis itu sama sekali tidak ada hubungannya-“

“Kau pikir aku peduli?” Taeyeon kembali tersenyum menantang. Hyoyeon segera menahan Sooyoung yang kali ini rupanya akan benar-benar menghajar Taeyeon.

“Kita pergi saja Hyo! Tidak ada gunanya bicara dengan orang brengsek seperti dia!” Sooyoung langsung pergi setelah mengatakannya. Hyoyeon masih bergeming, tak se-inchi-pun gadis itu beranjak dari tempatnya berdiri saat ini. Matanya beradu pandang dengan milik Taeyeon.

“Jangan bermain dengan perasaan Kim Taeyeon atau kau akan terjebak di dalamnya.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Siapa duga jika murid baru bernama IU itu menjadi satu-satunya teman dekat Jessica di sekolah. Gadis mungil dengan sifat polos itu seperti bisa merutuhkan sikap icy Jessica selama ini. Entahlah, untuk beberapa alasan mereka seperti sudah ditakdirkan untuk bersahabat. Mungkin itu juga alasan kenapa IU lebih memilih untuk bertanya pada Jessica daripada siswa yang lain saat hari pertamanya menginjakan kaki di K-School.

Sementara itu walau tak sesering dulu Raina dan kawan-kawannya masih sering mengganggu Jessica.

Siang itu saat Jessica membuka lokernya dia menemukan tumpukan buku pelajarannya yang basah -seseorang dengan sengaja merendamnya. Gadis berambut pirang itu tentu saja kesal. Sambil menggertakan giginya Jessica mengambil buku itu dan membantingnya di meja Raina namun Raina hanya tertawa.

Jessica berbalik dan tak berniat melanjutkan perdebatannya. Rasanya percuma menghabiskan tenaganya yang berharga hanya untuk berdebat dengan seorang attention seeker seperti Raina. Toh, Jessica hanya tinggal melewati satu tahun lagi di sekolah ini. Jessica berencan akan melewati sisa waktunya dalam damai, bersembunyi di sudut kelas dan berusaha tak terlihat. Jangan sampai berita tentang kekacauan di sekolah sampai ke telinga ibunya seperti minggu lalu. Jessica tak mau ibunya kembali menceramahinya selama berjam-jam tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dia lakukan, tentang bagaimana seorang gadis seharusnya bersikap, tentang hal-hal yang rasanya membuat Jessica mual walau hanya mendengarnya.

Namun, apa yang ada dalam benak Jessica tak sama dengan apa yang ada dalam benak sahabatnya. IU memutuskan untuk menghukum Raina dengan cara tak terduga, dengan cara memalukan yang mungkin selamanya akan terekam dalam otak gadis bermarga ‘Oh’ itu. Dengan cara yang membuat Raina berlari histeris ke Salon terdekat. Ya, IU memutuskan untuk menuangkan es krim yang dibawanya ke kepala Raina. Jessica dan juga yang lainnya tercengang melihat keberanian gadis bertubuh mungil tersebut. Keberanian yang patut di apresiasi memang, walau pada akhirnya hal itu membawa masalah lain.

“Maafkan aku.” IU menundukkan kepalanya, gadis itu sangat merasa bersalah. Sungguh. Kalau bukan karena tindakan bodohnya waktu itu tentu semua ini takkan terjadi.

“Gwenchana.” Jessica membuka kacamata renangnya dan tersenyum.Sudah satu jam Jessica berenang kesana kemari seraya memunguti sampah yang mengapung di permukaan kolam renang tersayangnya. Karena kejadian memalukan beberapa tempo lalu Raina memutuskan untuk membalas Jessica -juga iU- dengan cara ini. Dengan cara memenuhi tempat favorit sekaligus tempat Jessica menenangkan diri dengan sampah. “Jangan memasang wajah seperti itu, lagipula aku suka sekali melihat wajah panik Raina saat kau menuangkan es krim ke kepalanya.” hibur Jessica.

“Benarkah?”

Jessica mengangukkan kepalanya. “Mommy!! Help my hair!!” Jessica meniru gaya panik Raina saat itu, dan membuat IU yang semula murung kini ikut tertawa bersamanya.

“Jessica gomawo.”

“Tidak! Tidak! Aku yang berterimakasih padamu. Gomawo IU-ya.”

Keduanya saling tersenyum. IU mengulurkan tangannya, bermaksud membantu Jessica naik tapi Jessica menarik IU sehingga gadis bertubuh mungil itu terjatuh ke kolam.

“Ya!! Dingin sekali..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Bagaimana menurutmu?” Di depan kelas, Mr. Daniel sedang membahas tentang saham atau semacamnya, entahlah Yuri tak begitu memperhatikannya karena gadis tanned itu sekarang justru sibuk menunjukkan benda berkilauan di tangannya pada Sooyoung. Sebuah kalung berbentuk setengah hati.

“Aku membelinya saat di Australia dan yang lebih spesial lagi aku yang mendesainnya sendiri. Bagaimana menurutmu?”

“Lumayan. Tapi kenapa harus setengah hati?”

“Itu karena… rahasia.” jawab Yuri jahil sambil menjulurkan lidahnya. Sooyoung tentu saja mendengus kesal, bagaimana tidak jika Yuri mengajaknya mengobrol saat pelajaran lalu membiarkannya penasaran setengah mati karena teman hitamnya tersebut menggantung kalimatnya.

Puas menjahili Sooyoung, Yuri lantas membalik tubuhnya ke arah berlawanan. Kali ini dia mengajak Hyoyeon mengobrol. Sementara Mr. Daniel -guru yang terlalu baik hati- tetap menjelaskan walau tak seorang pun mendengarkannya. Di kelas yang hanya dihuni tiga orang spesial ini -Yuri,Hyoyeon,Sooyoung- menjadi seperti kaset rusak bukan merupakan hal yang aneh lagi. Ironisnya lagi, tak ada seorang guru pun yang bisa melakukan sesuatu tentang hal itu. Tentu saja takkan ada yang berani, terlebih jika satu diantara ketiganya merupakan cucu dari pemilik sekolah ini.

“Tebak siapa aku?” Jessica yang saat itu sedang menikmati makan siangnya bersama IU tiba-tiba merasa pandangannya buram. Tentu saja karena seseorang menutupi matanya.

“Taeng hentikan!” ucap Jessica tanpa ragu. Atas permintaan Taeyeon sendiri mulai saat ini Jessica memanggilnya dengan ‘Taeng’, hanya Taeng, tanpa embel-embel apapun. Lagipula mereka sudah tunangan dan akan menikah. Taeyeon melepaskan tangannya dan tersenyum lebar.

“Ada apa?”

“Ikut aku.” Taeyeon menarik tangan Jessica, bahkan sebelum Jessica sempat mengajukan protesnya.

IU diam sambil memainkan makanan di piringnya. Gadis bermarga Lee tersebut terus menundukkan kepalanya sampai akhirnya Taeyeon dan Jessica hilang dari pandangannya.

Yuri yang awalnya berniat menghampiri Jessica menghentikan langkahnya. Semula gadis tanned itu ingin memberikan benda yang ada dalam genggamannya pada Jessica tapi kemudian Yuri mengurungkan niatnya. Dia menghela nafas ,sambil memasukan benda itu kembali ke saku blazernya Yuri masih meratapi kepergian Jessica.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Taeyeon mengajak Jessica ke pusat perbelanjaan yang ada di kawasan Dongdaemun.

Di butik langganannya Taeyeon menyuruh Jessica mencoba beberapa dress. Walau sebenarnya Jessica tidak terlalu percaya diri terlebih lagi pelayan-pelayan yang ada disana terus memperhatikan kedua ‘sejoli’ ini. Memang nyatanya tidak ada yang lebih menarik dari keduanya.

“Taeng-ah ini… terlalu mini.” ucap Jessica malu seraya mengenakan dress putih pilihan Taeyeon. Baju itu sebenarnya cocok sekali untuknya hanya saja Jessica merasa kurang percaya diri, tentu saja Taeyeon tersenyum karena hal itu.

“Kalau begitu yang ini saja.”

“T-tapi..”

“Kumohon calon nyonya Kim, coba ini untukku.” Taeyeon kembali tersenyum dan membuat Jessica tak kuasa untuk menolak permintaannya.

“Bagaimana menurutmu?” Jessica yang baru keluar dari ruang ganti langsung meminta pendapat Taeyeon.

“Cantik sekali.” Jujur Taeyeon. Gadis itu senang, setidaknya dengan adanya Jessica dia tidak akan merasa terlalu bosan di acara ulang tahun pernikahan orangtuanya nanti.

“Dress-ku sudah selesai, sekarang ayo cari dasi untukmu.” Jessica berjalan cepat di depannya.

“Jadi sekarang kau yang bersemangat?” Goda Taeyeon yang sukses membuat Jessica tersipu malu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sudah beberapa hari IU tidak masuk sekolah karena sakit. Hal itu tentu saja membuat Jessica khawatir. Jessica memutuskan untuk mengunjugi rumah IU.

Gadis blonde itu berdiri di depan mansion keluarga Lee. Tak lama kemudian seorang pelayan membukakan pintu untuknya.

“Nona sedang di kamarmya, mari saya antar.”

Sesampainya di kamar IU ternyata gadis itu sedang mandi. Mengetahui Jessica datang IU menyuruh menunggunya. Sambil menunggu Jessica mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Kamar tidur IU sangat luas, di desain dengan gaya klasik dan di dominasi warna putih dan biru muda. Selanjutnya perhatian Jessica tertuju pada rak buku. Album foto berjudul K-School Kindergarten mengusik rasa penasaran Jessica. Tangan Jessica terulur untuk mengambil benda itu.

K-School Kindergarten 1994/1995

Ahn Jaehyun

Bong Yongsun

Cho Hyura

Choi Sooyoung

………

Kim Taeyeon

Kim Hyoyeon

Kwon Yuri

Lee Jieun

Min Sina

Jessica tersenyum kecil. Ternyata ini benar-benar album foto K-School Kindergaten, buktinya foto Taeyeon kecil ada disana. Sekarang Jessica jadi heran bagaimana bisa IU memilki buku tahunan ini? Bukankah IU bilang dia belum pernah sekolah di Korea sebelumnya? Selain itu foto anak bernama Lee Jieun ini kenapa-

“Jangan sentuh itu!!” IU tiba-tiba datang dan merebut benda itu dari tangan Jessica dengan emosi. Gadis blonde itu tersentak, siapa sangka IU akan semarah itu.

“Mianhe.” ucap Jessica sementara IU masih memegang buku tahunan itu di dadanya dengan wajah memerah. Keduanya terdiam sampai IU berdehem untuk menetralisir suasana canggung diantara mereka. Gadis itu sadar jika sikapnya sangat berlebihan, Jessica pasti heran karenanya.

“M-maaf. Aku hanya tidak suka siapapun melihatnya.”

“Gwenchana, aku yang seharusnya minta maaf karena sudah melihat benda milikmu tanpa ijin.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Suka atau tidak Yuri tetap adikmu!”

Taeyeon meremas rambutnya lantas memijat daerah di antara kedua matanya. Sejak pagi kepalanya terus terasa berdenyut, terlebih kata-kata Sooyoung saat pertengkaran mereka beberapa waktu lalu terus terngiang di telinganya. Yuri adalah adiknya. Fakta yang berusaha Taeyeon sangkal selama ini, fakta yang selalu menghantuinya, menumbuhkan kebencian dalam hatinya. Karena sejak saat itu Taeyeon memutuskan untuk tidak mempercayai siapapun selain dirinya.

Usianya 15 tahun saat kedua orangtuanya bercerai. Taeyeon memang tau jika selama ini hubungan kedua orangtuanya tak begitu harmonis tapi siapa sangka jika ibunya bisa bertindak sejauh itu. Selama bertahun-tahun ibunya menjalin hubungan terlarang dengan pewaris Kwon Grup hingga mereka memiliki anak yang usianya hanya berbeda satu tahun dari Taeyeon. Kenyataan tersebut tentu saja membuat Taeyeon terluka, sangat dalam terlebih saat anak hasil perselingkuhannya tersebut merupakan salah satu sahabatnya sejak Taeyeon masih memakai diapers -Kwon Yuri.

Beruntung tak ada satu media pun yang berani mengangkat skandal menghebohkan tersebut ke permukaan. Tak ada yang berani mengusik kehidupan pribadi Kim maupun Kwon Grup yang notabennya penguasa ekonomi Korea. Rahasia itu tertutup rapat, walau begitu lukanya masih begitu membekas di hati Taeyeon. Tidak cukup sampai disitu, ayah Taeyeon juga memutuskan menikahi mantan pelayan dirumah mereka -wanita yang selama ini dicintainya- dan membuat sikap Taeyeon berubah. Gadis bertubuh mungil itu berubah menjadi sedingin kutub.

Apa yang orang-orang tau selama ini, Yuri merupakan adik biologis Boa walau pada kenyataannya mereka berdua berbeda ibu. Nyonya Kwon -ibu Boa- meninggal karena kanker saat Yuri lahir karena itulah orang-orang beranggapan jika nyonya Kwon meninggal saat melahirkan Yuri. Masalah yang terlalu rumit untuk dijelaskan.

Taeyeon masih merenung saat ponselnya bergetar. Jessica mengirim pesan untuknya.

‘Aku lupa bilang terimakasih untuk hari ini. Kau tau mommy takkan berhenti bicara sebelum aku mengirim pesan untukmu. Jadi Taeng, terimakasih untuk hari ini. Good night, have a nice dream ^^’

“Taeyeon-ah.. bagaimana jika kukatakan jika Sooyeon-mu adalah gadis kecil yang pernah kuceritakan itu? Sooyeon adalah… Sica kecilku?”

“Umma jangan pergi!!” Taeyeon kecil berlari mengejar mobil yang ditumpangi sang ibu dengan kaki kecilnya namun tak bisa. Mobil itu sudah terlanjur melaju, menjauh, meninggalkan Taeyeon yang terduduk sambil menangis.

“Bahkan dalam setahun aku bisa menghitung dengan jari berapa kali kami melihat wajahmu!”

“Sekarang aku tau, alasan umma sering meninggalkan aku dan Jiwoong oppa bukan karena pekerjaan tapi karena anak itu!!”

“Selamat atas pernikahanmu nyonya Kwon!.Yuri pasti senang karena sekarang anda resmi menjadi ibunya.”

Semua kenangan menyakitkan itu membuat Taeyeon tersenyum sinis. Taeyeon ingat dia pernah bersumpah takkan membiarkan Yuri bahagia. Jika Jessica adalah kebahagiannya maka akan Taeyeon pastikan sampai kapanpun keduanya takkan pernah bersatu.

“Awalnya kukira bertunangan dengan Sooyeon merupakan beban tapi setelah tau Yuri menaruh perasaan padanya semuanya berubah menjadi begitu menarik. Kupikir tak ada salahnya menggunakan gadis itu. Akan kuambil semua milik Yuri seperti dia sudah mengambil semua milikku dan menghancurkannya.”  Taeyeon mengatakannya tanpa rasa bersalah sementara kepalan tangan Sooyoung berhenti tepat beberapa cm sebelum benar-benar mendarat di wajah Taeyeon.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC