Destiny (Oneshot/YulSic)

Tittle : Destiny
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance, Angst
Lenght : Oneshot
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri and Other Cast

Inspired by The Nuts’ MV

Destiny
.
.
.
.
.

Di kantor jasa pengiriman, para karyawannya sedang menikmati makan siang mereka.

“Paket untuk Jungs Florist lagi.” Hyoyeon berseru supaya kata-katanya sampai di telinga Yuri. Benar saja begitu mendengar kata ‘Jung Florist’ Yuri langsung menegakkan tubuhnya bagai serdadu yang siap berangkat ke medan perang. Gadis tanned itu memang akan berperang, perang cinta lebih tepatnya.

“B-biar aku yang mengantarnya!” sudah tentu Yuri langsung menawarkan dirinya suka rela. Kesempatan emas seperti ini memang tak boleh disia-siakan.

“Semua milikmu Yul.” Hyoyeon tersenyum jahil sambil menyerahkan kotak paket yang harus Yuri antar.

“Gomawo Hyo!” Yuri menerima paket itu dengan senyuman lebar. Beberapa rekan kerjanya terkekeh geli melihat gadis yang sedang jatuh cinta tersebut.

“Unnie fighting!!” Yoona memberinya semangat, sebenarnya semua memberinya semangat kecuali satu orang, Choi Sooyoung.

“Syoo jangan makan jjangmyun milikku!” Yuri memperingatinya. Sooyoung memanyunkan bibirnya karena tertangkap basah.

“Kenapa dia bisa tau?”

Yuri memakai helm lalu mengendarai motornya dengan senyum yang masih mengembang. Pemicunya hanya satu, Jessica Jung. Gadis pemilik toko bunga yang akan segera di temuinya. Jessica sebenarnya teman masa kecil Yuri dan Yuri sudah menyukainya sejak lama. Hanya saja gadis tanned itu tak pernah benar-benar punya keberanian untuk menyatakan perasaannya -sampai saat ini.

Bagaimana jika Jessica sudah punya pacar? Bagaimana jika dia tidak suka pada Yuri? Bagaimana jika Yuri ditolak? Bagaimana jika ini… Bagaimana jika itu.. Terlalu banyak bagaimana jika yang pada akhirnya membuat nyali Yuri menciut. Oleh karena itu Yuri hanya bisa mendekati Jessica dengan cara tidak langsung, misalnya seperti mengantar paket seperti ini. Karena berbicara beberapa menit saja dengan Jessica bisa membuat Yuri sangat bahagia sampai rasanya jantungnya ingin melompat keluar.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica mendongakkan kepalanya saat bel di pintu tokonya berdenting, menandakan ada yang datang. Jessica tersenyum saat Yuri membawa sekotak paket di tangannya.

“Ada kiriman lagi.. untukmu.” Yuri tersenyum manis sambil meletakkan kotak besar itu di meja kerja Jessica. Sesaat kemudian gadis tanned itu merogoh kertas tanda terima dari saku jaketnya yang harus Jessica tanda tangani.

“Ini..”

“Ah iya.” Yuri menerima kertas yang sudah Jessica tanda tangani dan memasukan kertas itu kembali ke saku jaketnya.

Setelah urusannya selesai Yuri tak lantas pergi, gadis tanned itu masih menikmati pemandangan di toko bunga milik Jessica. Semuanya tampak baru namun ada satu yang lebih menarik perhatian Yuri. Satu tanaman lebih tepatnya.

Tanaman itu baru tumbuh, tingginya mungkin hanya 2cm. Yuri menunduk agar pandangannya lebih jelas. Mungkin gadis tanned itu memang bukan seorang ahli tanaman atau sejenisnya tapi Yuri benar-benar baru melihat bunga seperti itu.

“Ige mwoya?” Yuri menunjuk bunga itu dengan ekspressi bingung, membuat Jessica tertawa kecil karenanya.

“Itu bukan bunga.”

“Lalu?”

“Sawi.”

“Untuk apa kau menanam sawi?” Yuri bertanya karena begitu penasaran tapi Jessica hanya mengangkat bahunya sekilas dan menjawab pertanyaan Yuri dengan senyuman. Karena senyuman Jessica begitu manis Yuri jadi merasa wajahnya memanas.

Yuri menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum bodoh. Pada dasarnya orang memang cenderung akan bersikap aneh dan bodoh saat mereka gugup. “Begitu ya..”

“Baiklah aku pergi dulu..”

“Ne..”

“Pekerjaanku masih banyak.” Yuri tertawa walau dia tak tahu hal apa yang ditertawakannya. Jessica -yang bermaksud mengantar Yuri sampai pintu depan- berjalan disisi gadis tanned itu sambil menundukkan kepalanya.

“Aku tau kau sibuk.” jawabnya.

“A-aku akan pergi sekarang.” Yuri berkata seperti itu tapi kakinya tak mau beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.

“Sampai jumpa.”

“Aku pergi.”

“Baiklah.”

“Aku benar-benar akan pergi.”

“Hati-hati.”

Keduanya tersenyum canggung, Yuri melangkahkan kakinya menjauh sebelum akhirnya gadis tanned itu berbalik lagi.

“Jessica sabtu malam nanti kencanlah denganku!”

“Ne?”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ajakan kencan Yuri sama sekali tidak romantis memang dan tanpa perencanaan. Meski begitu rekan-rekan kerjanya salut pada Yuri karena gadis tanned itu sudah selangkah lebih maju.

Sabtu malam, Jessica sibuk memilih dress yang akan dikenakannya. Tidak pernah sebelumnya Jessica merasa se-stress ini soal penampilan. Kwon Yuri benar-benar merubahnya menjadi orang lain, entah kenapa Jessica merasa dirinya harus tampil cantik di hadapan Yuri.

Di kencan pertama mereka Yuri mengajak Jessica menikmati pemandangan di pinggiran sungai Han. Awalnya semua masih terasa canggung, Jessica senang pergi bersama Yuri, hanya saja dia masih merasa malu. Semakin malam udara semakin dingin, saat itu Yuri menggenggan tangan Jessica untuk pertama kalinya.

“Sudah lebih hangat?”

“N-ne.”

Di kencan pertama itu pula Yuri meminta seorang pelukis jalanan untuk melukis mereka berdua. Jessica awalnya ragu karena sang pelukis memintanya untuk duduk bersebelahan dengan Yuri, Jessica khawatir Yuri bisa mendengar gemuruh jantungnya.

“Yuri-ah tapi..”

“Kenapa? Kau tidak mau dilukis bersamaku..” Yuri tertunduk sedih dan membuat Jessica merasa bersalah. Pada akhirnya Jessica memutuskan untuk menuruti keinginan Yuri, hanya sebuah lukisan takkan sakit bukan?

Mereka sudah duduk bersebelahan namun si pelukis tak juga berkarya. Lelaki paruh baya itu tampak berpikir keras sampai-sampai kedua alis tebalnya saling bertautan.

“Wae geurae?”

“Sepertinya ada yang kurang.”

“Apa?” Yuri dan Jessica memandangi penampilan mereka masing-masing. Si pelukis berjalan kearah keduanya lantas melingkarkan tangan Yuri di pinggang Jessica dan menyuruh Jessica menyadarkan kepalanya di pundak Yuri.

“B-begini?” tanya Yuri ragu, sementara Jessica tak berkata apa-apa. Namun parasnya yang matang lebih dari cukup untuk menggambarkan perasaannya saat ini.

“Ini sempurna.” ucap si pelukis bangga. “Aku selalu suka romansa anak muda.”

Kencan pertama itu membuka jalan untuk kencan kedua, ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Rasa canggung yang dulu menyelimuti keduanya sudah tidak begitu terasa, meski begitu debaran di jantung keduanya serasa makin hari makin kuat. Mungkin pertanda jika perasaan mereka untuk satu sama lain semakin kuat dan dalam.

Di kencan mereka yang keenam Yuri memberanikan diri untuk menyatakan perasannya sekaligus meminta Jessica menjadi kekasihnya. Lagi-lagi moment penting seperti itu berawal dari ketidak sengajaan. Kala itu heels sepatu Jessica lepas, karena tidak membawa sandal cadangan Yuri memutuskan untuk menggendong Jessica sampai rumah dan terjadilah proses penembakan yang sangat tidak romantis tersebut.

“Jessica saranghae.. jadilah pacarku.”

Yuri menunggu jawaban Jessica dengan nafas tercekat seolah kehidupannya tergantung pada hal itu. Jessica yang saat itu masih berada di punggung Yuri belum bersuara sedikitpun, bahkan suara nafasnya saja tak terdengar. Yuri berpikir mungkin Jessica belum siap atau selama ini gadis itu tak pernah memiliki perasaan yang sama seperti Yuri. Yuri berusaha tegar walau hatinya serasa tersayat, di saat gadis tanned itu hampir kehilangan harapan Jessica justru memberikan jawaban dengan cara tak terduga.

Jessica mengeratkan pelukannya di leher Yuri.

Memang kata-kata itulah yang ingin di dengarnya dari mulut Yuri selama ini. Jessica begitu bahagia mengetahui cintanya tak bertepuk sebelah tangan, karena terlalu bahagia Jessica jadi tidak tau harus memberikan tanggapan seperti apa.

“Nado saranghae Kwon Yuri… aku mau jadi kekasihmu.”

“Gomawo Sica-ah.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Apa kita perlu membeli ini juga sayang?” Yuri bertanya sambil mengangkat sebotol banana milk. “Yoona sangat menyukai ini.” lanjutnya.

Jessica tersenyum dan mengelus rambut Yuri. “Beli saja.. jangan lupa pesanan Sooyoung juga.”

“Arraseo.”

Malam natal ini salju juga turun. Jessica sengaja mengadakan pesta kecil-kecilan di rumahnya untuk menyambut Christmas eve, Christmas eve pertama yang dirayakannya bersama Yuri setelah mereka resmi. Beberapa teman dekat Jessica dan Yuri sudah menunggu mereka dirumah.

Selesai dari lorong minuman Jessica mengajak Yuri ke lorong sayur  dan daging. Jika dilihat keduanya seperti pengantin baru saja, dengan Yuri yang mendorong kereta belanjaan dan Jessica yang serius mencari barang-barang yang dicatat di daftar belanja.

Selesai belanja, keduanya keluar dari supermarket sambil membawa dua kantong belanjaan besar. Sebenarnya yang membawa belanjaan itu Yuri, sementara Jessica bertugas memegang payung untuk menghalau salju yang ingin menghujani keduanya.

“Chankanman!” kata Jessica tiba-tiba.

“Huh? Wae?” heran Yuri. Bukannya menjawab Jessica justru merapikan syal Yuri dan lebih merapatkan mantel gadis tanned itu.

“Begini lebih baik.” katanya sambil tersenyum.

“Gomawo.” ucap Yuri malu-malu.

Waktu yang biasa di tempuh dari aprtemen Jessica ke supermarket ini 30 menit menggunakan bis. Namun sepertinya kali ini membutuhkan waktu lebih lama karena lalu lintas yang sangat padat. Orang-orang pasti ingin segera sampai dan menghabiskan malam natal mereka di rumah bersama keluarga.

“Aku lupa!!” Yuri memekik kaget dan membuat Jessica menoleh padanya.

“Ada apa?”

“Aku baru ingat kalau persediaan soju di rumah sudah habis. Sica tunggu disini arra? Aku akan kembali ke tempat tadi dan membelinya dulu.” Yuri sudah berlari menyebrangi jalan bahkan sebelum Jessica sempat memberikan respon. Jessica akhirnya tidak punya pilihan selain menunggu Yuri di halte sampai kekasihnya kembali.

Saat itu di halte cuma ada Jessica sendiri bersama dua kantong besar belanjaannya. Sesaat kemudian seorang wanita dengan penampilan mencolok -seperti seorang peramal- duduk di sampingnya. Wanita misterius tersebut memainkan kartu yang biasa digunakan untuk meramal. Jessica berusaha mengabaikan wanita aneh tersebut dan menggeser duduknya.

Wanita itu nampak tak terpengaruh dan tetap mengocok kartu di tangannya. Jessica sempat mencuri pandang saat wanita tersebut mengeluarkan kartu kematian dan memandang lurus ke arah sesuatu atau lebih tepatnya seseorang. Jessica mengikuti arah pandangnya dan menemukan Yuri yang sedang berdiri di pinggir jalan. Gadis tanned membawa kantung plastik berisi beberapa botol soju di tangannya. Yuri tersenyum dan Jessica balas tersenyum padanya namun hal itu tak berlangsung lama. Tepat saat Yuri menyebrang jalan sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hampir menabraknya. Untung saja Yuri masih bisa menghindar.

Jessica membulatkan matanya karena syok. Hampir saja Jessica menyaksikan Yuri tertabrak di depan matanya. Sesaat Jessica mencuri pandang ke arah peramal misterius tadi namun Jessica sudah tidak bisa menemukannya di manapun. Wanita misterius itu bagai hilang tertiup angin.

Jessica berusaha mengabaikan fakta itu karena ada hal yang lebih penting saat ini. Yuri-nya. Tepat saat gadis tanned itu sampai di hadapannya Jessica langsung memeluknya dengan begitu erat.

“Tidak apa-apa sayang, aku baik-baik saja.” Yuri berkata sambil mengelus rambut pirang kekasihnya, menenangkannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Seperti yang diperkirakan sebelumnya, walau peristiwa di malam natal tersebut sudah berlalu selama berminggu-minggu namun Jessica tak dapat melupakannya begitu saja. Bukankah terlalu aneh untuk sebuah kebetulan? Mungkinkah wanita misterius itu berusaha memberitahukan sesuatu padanya?

Seperti malam-malam sebelumnya, Jessica masih menyendiri di balon kamar sambil memeluk lututnya. Perasaannya selalu tak menentu, rasa cemasnya pada Yuri seakan semakin hari semakin memuncak, tak jarang Jessica takkan bisa terlelap jika Yuri belum menghubunginya. Jessica takkan bisa tenang sebelum mendengar sendiri suara kekasihnya dan memastikan jika gadis hitam menyebalkan yang dicintainya itu baik-baik saja. Jujur saja Jessica tidak tau apa yang akan dilakukannya jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Yuri.  Apa yang akan dilakukannya jika Yuri tak disampingnya lagi. Jessica tidak tau dan tak pernah mau membayangkan hal itu.

Jessica mendongakkan kepalanya begitu merasakan sesuatu menutupi tubuh kecilnya. Selimut. Yuri datang dan menyelimutinya.

“Aku sangat khawatir padamu jadi malam ini aku memutuskan untuk menginap.” Yuri tersenyum padanya. Bukannya menjawab Jessica malah memandangi wajah Yuri lama.

“Sica? Ada apa?” Yuri kembali bertanya saat menyadari sikap aneh Jessica.

“Aniyo.” Jessica lalu menggelengkan kepalanya dan memeluk pinggang Yuri. “Aku hanya merindukanmu.”

“Jadi begitu  ya… aku juga merindukanmu sayang, sangat.” Yuri menjawab seraya balas memeluk Jessica dan mengecup puncak kepalanya.

“Saranghae..” Jessica berusaha bicara seraya menahan airmata yang mendesak ingin keluar dari pelupuk matanya. Gadis blonde benar-benar tidak mau kehilangan Yuri.

“Nado saranghae..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Wuaahhh.. bagus sekali! Cincin siapa itu?” kagum Sooyoung, Yuri segera menyembunyikan cincin itu saat Sooyoung mencuri pandang dari balik punggungnya. Suara cemprengnya juga mampu menarik perhatian yang lain.

“Semuanya! Kalian takkan percaya dengan apa yang akan kukatakan.. Kwon Yuri akan melamar Jessica Jung!!”

“Jinja?”

“Yul aku salut padamu kawan!”

“Unnie selamat..”

Berbagai ucapan di terimanya dan Yuri hanya bisa menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum malu sebagai jawaban.

“T-tapi sebenarnya aku gugup.. bagaimana kalau Jessica tidak menerimaku?”

“Kau bercanda Yul? Aku yakin 100- ah bukan tapi 101% jika Jessica akan menerima lamaranmu bahkan tanpa berpikir.” yakin Hyoyeon dan mendapat anggukkan persetujuan dari yang lain.

“Lagipula.. jika Jessica menolakmu aku akan lebih siap menerimamu ahahaha..”

“Aku tidak suka padamu Syoo.”

Jessica menunggu di depan toko bunga sambil sesekali bercermin. Hari ini Yuri kembali mengajaknya kencan. Jessica tampil cantik, dia memang cantik hanya saja penampilannya kali ini sedikit berbeda, Jessica memakai head band warna pink di rambutnya yang biasa dibiarkan terurai. Itu semua karena kemarin Yuri mengatakan jika dia suka gadis yang imut.

Yuri menyusuri jalanan seoul dengan motor kesayangannya. Yuri yang sedang melaju dengan kecepatan sedang langsung berhenti saat melihat anak kecil yang terjatuh di pinggir jalan. Sepertinya anak kecil tersebut terpisah dengan orang tuanya dan tersenggol penyebrang jalan yang lain. Yuri juga heran kenapa tidak ada satupun oramg yang berniat menolong anak itu.

Cepat-cepat Yuri turun dari motornya dan berlari ke arah anak kecil tersebut namun saat sampai di sana ternyata tidak ada siapapun di tempat itu. Sebelum Yuri menyadari semuanya sebuah mobil terlanjur menghantam tubuhnya dan membuatnya terlempar. Helm yang dikenakannya sampai terlempar saking kerasnya tabrakan itu. Yuri merasakan cairan kental keluar dari mulut dan hidungnya. Semuanya terasa ringan dan tempat di sekelilingnya tiba-tiba begitu terang..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saat matahari menyinari wajahnya Yuri membuka matanya perlahan dan menemukan sedang berada di kamar Jessica. Gadis tanned itu bangkit perlahan berusaha mencari keberadaan pemilik kamar. Seakan punya pemikiran sendiri, kakinya berjalan ke balkon, tempat favorit Jessica.

Jessica ada, tapi bukan di tempat biasa, gadis blonde itu ada di halaman depan bersama lima orang lelaki yang memaksakanya masuk mobil. Kelima lelaki yang sama sekari tak Yuri kenal.

“Sica!!” Yuri berteriak sekuat tenaga, Jessica menoleh dan membuat pandangan mereka bertemu. Yuri berlari ketempat Jessica dengan kaki terpincang, gadis tanned itu tidak ingat sudah berapa lama dia tertidur, Yuri juga tidak tau kenapa seluruh anggota tubuhnya jadi sulit digerakkan.

“Sica kajima!” Yuri sudah berdiri di depan pintu, Jessica berusaha menghampiri Yuri tapi gerakannya terhenti saat dua lelaki memegangi tangannga sementara dua orang lelaki lainnya menahan Yuri.

Yuri menangis sambil berusaha menggapai Jessica, gadis blonde itu juga menangis namun dia tak bisa berbuat apapun, karena takdir telah menentukan semuanya.

“Ya!!Lepaskan!!Jangan bawa Sica-ku!! Sica.. jangan pergi!!” Yuri berusaha berontak tapi gerakannya terhenti setelah seorang lelaki yang tersisa menghampirinya dan meletakkan telapak tangannya di atas dada Yuri, tepat di atas jantungnya.

“Yuri!!”Jessica berusaha memanggil Yuri yang mendadak membisu. Namun satu hal yang Jessica yakini, airmata yang mengalir di pipi gadis tanned itu untuknya, Yuri menangis untuknya.

Dokter menggelengkan kepalanya pasrah karena saat ini sudah tak ada lagi yang bisa mereka lakukan.

“Waktu kematian…09.45″

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lutut Jessica serasa lemas setelah mendengar apa yang menimpa kekasihnya. Airmatanya mengalir tanpa Jessica sadari, akhirnya apa yang ditakutkannya selama ini benar-benar terjadi. Dokter mengatakan kondisi Yuri sangat parah, bahkan jantung gadis  tanned itu sudah berhenti berdetak saat mereka sampai di rumah sakit.

Jessica melipat telapak tangannya dan memejamkan matanya. Gadis blonde itu meminta dengan sungguh-sungguh. Jessica sangat mencintai Yuri, tidak diragukan lagi.

“Nona Kwon koma.. saat ini hanya keajaiban yang bisa membawanya kembali.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Dokter pasien di kamar 512 sudah sadar.”

“Yul.. welcome back.” Sooyoung tersenyum dan memeluk sahabatnya, begitupula yang dilakukan Hyoyeon dan Yoona. Mereka senang akhirnya Yuri bisa bangun setelah tertidur hampir setahun.

“Gomawo..” Yuri tersenyum lemah, matanya menelusuri sudut ruangan untuk mencari keberadaan seseorang.

“Sica dimana?”

“Yul lebih baik kau istirahat sekarang..” sela Hyukjun sambil mencoba membantu Yuri berbaring namun Yuri menolak.

“Aku baru saja bangun.. oppa aku cuma ingin tau dimana keberadaan kekasihku.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yuri duduk di depan televisi dengan mata berkaca-kaca.

“Yuri-ah.. ini sudah hari keseratus, aku sangat sedih melihatmu seperti ini. Kau harus cepat bangun ne? Karena aku sangat menyayangimu.”

“Kau jadi kelihatan lebih kurus sekarang. Oh, ya aku sudah belajar memasak, saat kau bangun nanti aku akan memasakan makanan kesukaanmu dan kau bisa makan sepuasnya.”

“Malam ini bintangnya banyak sekali, kau harus bangun dan melihatnya bersamaku.”

“Aku menyanyangimu.. kau tau kan? Aku sangat merindukanmu Yul jadi malam ini aku akan tidur sambil memelukmu.”

“Cincin ini.. Sooyoung bilang kau ingin memberikannya padaku. Aku suka Yul, hanya saja aku punya permintaan untukmu. Jika aku tidak bisa memakainya kuharap kau akan memberikannya pada orang lain.”

Tak terasa air mata Yuri mengalir. Itu adalah video pesan yang sengaja Jessica rekam untuknya. Jessica membuat video itu saat Yuri masih terbaring koma. Selama setahun Yuri di rumah sakit, selama itu pula Jessica selalu ada di sampingnya.

Yuri merasa begitu bodoh karena tidak bisa melakukan hal yang sama. Tidak bisa ada di sisi Jessica saat gadis blonde itu sangat membutuhkan kehadirannya. Yuri merasa begitu bodoh karena telah membuat Jessica berkorban banyak untuknya, untuk mereka. Tapi satu yang paling membuat Yuri menyesal adalah karena Yuri tidak bisa berada di sisi Jessica saat terakhirnya, juga tak bisa mengatakan seberapa besar rasa cintanya untuk gadis itu. Bagaimanapun apa yang Yuri lakukan selama ini rasanya belum cukup.

“Jessica mengidap kanker dan dia meninggal di hari dimana kau siuman dari komamu.”

“Jeongmal saranghae Jessica Jung.. jeongmal saranghae.”

“Tolong.. tolong selamatkan Yuri, aku bahkan rela memberikan nyawaku untuknya.”
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Kemaren ada salah satu reader yg komen gini ‘ Kenapa ga sica’a aje yang di bikin matiii perasaan yuri mulu yang bekorbann’
Nah, karena saya baik *MujiDiriSendiri* jd dibikinin deh yg sicanya berkorban wkwk.. tuh Zora udh dibikinin yah XD

Oke kalo ada yg mendadak ngerasa mistis sama ff ini emg mv nya gtu suerr.. agak2 mistis gmna haha :D
Semoga ga pada bingung lagi.. ciaooooo.. nite~

Drabble #18 (YulSic)

Drabble #18

“Sica senyumlah..” Yuri memasang puppy eyes andalannya namun tak mempan. Jessica tak bergeming.

“Ayolah baby.. jangan marah lagi.”

“Shut up Kwon!!” Jessica mendelik sebal. Yuri langsung menutup mulutnya, bagaimanapun gadis tanned itu tau Jessica hanya akan menggunakan bahasa inggris padanya saat dia benar-benar di puncak kemarahannya -yang artinya sekarang.

Jessica bernafas lega saat Yuri berhenti bicara. Gadis blonde itu pikir Yuri takkan menganggunya lagi tapi ternyata dugannya salah. Yuri malah memeluknya dari belakang dan membuat Jessica sulit bergerak.

“Kwon Yuri lepaskan!!”

“Tidak mau.. Sicababy harus memaafkan seobang dulu.” manja Yuri sambil meniup-niup daun telinga Jessica.

“Ya!! Jangan lakukan itu kau bodoh.” Jessica bergidik ngeri saat semua bulu kuduknya berdiri. Damn this black monkey! Dia memang paling tau bagian-bagian sensitif Jessica.

“Bilang saja kau suka.” Yuri semakin menggodanya.

Jessica bersumpah jika saja dia tidak mencintai si hitam ini, Jessica sudah melempar piring-piring yang dicucinya ke muka Yuri dari tadi.

“Aku tau otakmu tidak bisa dipakai tapi demi tuhan.. setidaknya kedua tanganmu masih berfungsi dengan baik, kan? Bisakah kau membantuku?” ucap Jessica sambil menunjuk setumpuk piring bersih yang menunggu di keringkan.

Karena sedari tadi Yuri tidak melakukan apapun -selain memandanginya- tentu saja Jessica kesal. Padahal seharusnya Yuri lah yang paling bertanggung jawab. Jika saja Yuri tidak memaksa Jessica untuk menemaninya makan diluar tengah malam begini, dan jika saja Yuri tidak cukup bodoh untuk tidak lupa membawa dompet tentu mereka takkan berakhir disini. Menjadi pencuci piring dadakan di kedai pinggir jalan.

Jessica bersyukur mereka melakukan penyamaran sempurna, setidaknya gadis blonde itu tau esok hari media pemberitaan Korea takkan heboh dengan semacam headline berjudul ‘Dua member SNSD mencuci piring karena tak sanggup bayar makanan’ atau ‘Karena harga BBM naik Yuri dan Jessica SNSD beralih menjadi tukang cuci piring untuk menyambung hidup’.

“Siap kapten!” Yuri menjawab sambil memberikan hormat layaknya prajurit yang akan ditugaskan ke medan perang.

“…tapi baby tidakkah menurutmu kita sangat romantis?” Yuri menaik turunkan alisnya. Mereka memang romantis, malam-malam dingin begini saat semua orang tertidur diatas kasur yang empuk dan hangat mereka malah mencuci piring bersama, bahkan memakai sarung tangan dengan warna senada -sarung tangan couple.

“Romantis kepalamu Kwon Yuri aku-” ucapan Jessica terhenti begitu merasakan sesuatu yang lembut mendarat di bibirnya. Yuri menciumnya di tempat umum, kenyataan itu membuat mata Jessica membulat.

“Ya!! Apa kau gila?”

“Iya.. karenamu.” bukannya takut Yuri malah menggunakan kesempatan tersebut untuk menggombali kekasihnya.

“Kwon Yuri.. you know what? I hate you!”

“I know baby.. I love you too.”

“Arrghhhh.. siapapun tolong ingatkan aku untuk menghukum monyet sialan ini saat kami sampai di dorm.”

.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Masa Lalu (PoemFic)

Tittle : Masa Lalu
Author : RoyalSoosuantic
Genre : Yuri (girl xgirl), Romance
Lenght : Oneshot
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri, and Other Cast

Masa Lalu
.
.
.
.
.

Aku yang selalu hidup di masa lalu
Terpenjara kenangan manis yang t’lah berlalu
Tanpa kusadari
Dirimu masa depanku

Sambil berjalan Jessica coba merogoh ponsel dalam tas tangannya yang terus berdering. Gadis blonde itu tau benda sialan itu takkan berhenti bersuara sampai Jessica mengangkat teleponnya. Dalam kepalanya sudah terbayang siapa yang menghubunginya. Siang ini matahari terasa menyengat kulit, untung saja Jessica bisa cepat sampai di kafe -tempatnya janjian bersama kliennya- sebelum dirinya benar-benar hangus di luar sana. Udara dingin dari AC di dalam ruangan mendadak menerpa lapisan kulitnya.  Seorang pelayan muda tersenyum menyambutnya, Jessica mengangukkan kepalanya sekilas.

“Reservasi atas nama Jessica Jung.” ucap Jessica tanpa basa-basi. Pelayan itu meminta Jessica berjalan mengikutinya. Jessica menurut tanpa banyak bertanya, keduanya lantas berhenti di depan meja bernomor sembilan yang terletak di dekat jendela. Pelayan itu kembali pergi setelah Jessica mengucapkan terimakasih dan memesan orange juice untuk tenggorokannya yang juga mendadak kemarau.

“Yeobuseyo?” Jessica menjawab teleponnya dengan malas sambil  menyandarkan punggunya di sandaran kursi untuk merilekskan otot-ototnya yang serasa kaku. Pekerjaannya akhir-akhir ini begitu menguras fisik juga psikisnya. Tidak, Jessica bukan tidak menyukai pekerjaannya sebagai weeding planer hanya saja untuk sesaat gadis blonde itu merasa perlu untuk merilekskan dirinya. Jessica butuh ketenangan dan Yuri -yang selalu bersikap sebagai seorang kekasih yang protektif- sama sekali tidak membantu.

“Sica.. apa kau baik-baik saja? Kudengar hari ini kau sakit.. dimana kau sekarang?” Yuri langsung memberondongnya dengan serangkaian pertanyaan yang membuat kepala Jessica semakin berdenyut. Maksud gadis tanned itu baik sebenarnya, hanya saja Jessica selalu tidak suka dengan caranya.

“Bekerja.” jawab Jessica singkat. Sekilas Jessica mendengar Yuri menghela nafas kecewanya di ujung sana. Apa yang gadis tanned itu harapkan? Jessica berbaring di kasur seharian? Tentu saja hal itu takkan terjadi, bukankah pekerjaan Jessica yang menumpuk takkan selesai dengan sendirinya?

“Di kantor?”

“Tidak, aku bertemu klien di luar.”

“Dimana? Apa masih lama? Aku akan menjemputmu..”

“Tidak perlu, aku bukan anak kecil. Lagipula aku baik-baik saja jadi tidak perlu khawatir..”

“Tapi Sica-“

“Sudah ya.” Jessica memutuskan panggilannya tanpa memberi Yuri kesempatan untuk menyelesaikan ucapannya.

Yuri memang selalu bersikap layaknya kekasih yang protektif tapi sebenarnya hubungan mereka tidak seperti itu. Mereka hanya… entahlah.. bagaimana Jessica menjelaskannya, friend with benefit? Keduanya selama ini hanya berjalan dalam koridor aman di bawah garis suram sebuah hubungan. Tak ada kejelasan. Bukan Yuri tak pernah mencoba hanya saja Jessica tak pernah memberinya kesempatan.

Meski Yuri selalu mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan, mencoba mengalihkan kegamangan yang Jessica rasakan tapi pada akhirnya Jessica tetap membisu. Gadis blonde itu hanya tak bisa. Bukankah perasaan itu sesuatu yang tak bisa dipaksakan. Jika pada kenyatannya Jessica masih mengharapkan orang lain, bagaimana bisa dia menerima hati Yuri? Jessica hanya tak bisa membalas perasaan Yuri sama seperti apa yang gadis tanned itu harapkan darinya selama ini.

Jessica kembali melirik jam di pergelangan tangannya. Sebenarnya gadis blonde itu datang 30 menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Direktur Jang bilang klien mereka kali ini merupakan orang penting. Jessica tidak tau siapa tapi mengingat bosnya yang agak berlebihan Jessica rasa siapapun itu pasti memang bukan sekedar orang biasa.

Ting!!

Jessica menoleh saat pintu kafe terbuka, tepat saat itu pandangannya bertemu dengan orang itu. Masa lalunya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica memainkan jarinya sambil menatap embun di pinggiran gelasnya. Diam-diam Jessica merasa beruntung datang lebih dulu karena saat melihat orang ini untuk pertama kalinya -setelah bertahun-tahun- lututnya terasa lemas, mungkin takkan bisa digunakan berdiri jadi Jessica merasa beruntung karena saat itu dia duduk.

“Umm.. jadi apa kabar Sooyeon?”  orang itu bertanya padanya masih dengan senyum kekanakan yang begitu Jessica rindukan. Kulit putihnya, mata bulatnya, satu hal yang Jessica sadari dia, Kim Taeyeon, tak banyak berubah sejak terakhir kali Jessica melihatnya. Kim Taeyeon dengan segala pesonanya masih mampu membuat jantung Jessica berdegup dengan irama tak beraturan. Hanya saja kenapa degupan kali ini rasanya sakit? Seakan sesuatu mendesak ingin keluar dari rongga dadanya.

“Menurutmu?” Jessica balik bertanya padanya dengan nada dingin. Ekspressi Taeyeon berubah, rasa bersalah? Jessica ingin berteriak di depan wajah gadis itu. Dia tak pernah mau di kasihani, tak pernah sekalipun.

“Aku baik-baik saja.” ucap Jessica lagi, kali ini sambil memaksakan sebuah senyuman. Meski begitu Jessica merasa aneh, wajahnya terasa kaku, mungkin jika dia bercermin Jessica yakin takkan mengenali dirinya sendiri saat ini.

“Kalian saling mengenal?” Seohyun yang sedari tadi duduk di sebelah Taeyeon bertanya pada keduanya. Jessica sampai lupa jika sebenarnya mereka tak sendiri. Gadis yang duduk di sebelah mereka bernama Seo Juhyun, putri Menteri Luar Negeri Korea, tunangan Kim Taeyeon. Kejutan bukan?

“Ah.. Ne kami teman SMA.” jawab Taeyeon sambil menggenggam tangan Seohyun.

“Ne.. kami teman SMA.” Jessica menegaskan pernyataan Taeyeon, walau hatinya serasa tercabik, apa yang bisa dia lakukan? Seohyun mengangukkan kepalanya tanda mengerti.

“Baiklah, bisa kita mulai sekarang Jessica-ssi? … karena jadwal Taeyeon unnie masih banyak setelah ini.”

“Ne..”

“Aku dan Taeyeon unnie kesulitan menentukan konsep pernikahan yang seperti apa, jadi kurasa Jessica-ssi bisa membantu kami..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku yang selalu hidup di masa lalu
Terpenjara dalam ruang waktu
Melupakan dirimu
Menginginkan dirinya yang bukan lagi milikku

“Yuri-ah temani aku minum!”

“Sica cukup!!” Yuri berusaha merebut gelas dari tangan Jessica. Jessica berusaha mempertahankkannya tapi karena tenaga Yuri jauh lebih kuat Jessica kalah.

“Kita pulang sekarang.” Yuri berdiri lalu menarik tangan Jessica namun gadis blonde itu tak beranjak sedikitpun. Justru Jessica malah menangis.

“Yuri-ah appo..” kata Jessica sambil menunjuk dadanya. Jessica membayangkan jika dia bertemu lagi dengan Taeyeon mungkin penderitannya akan berakhir, Taeyeon pernah menjanjikan akhir yang bahagia untuknya.. dulu.

“Gwenchana..” Yuri menghapus airmata di pipi Jessica dengan ibu jarinya. Bukan pertama kalinya Jessica menangis untuk Kim Taeyeon dan setiap Jessica menangis sebanyak itu pula Yuri terluka bersamanya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi-pagi sekali Jessica mengerang sambil memegang kepalanya yang berdenyut. Untuk sesaat pandangannya masih buram. Semalam Jessica mengajak Yuri minum dan setelahnya gadis blonde itu tak tau lagi. Jessica tau, tidak seharusnya dirinya lepas kontrol seperti semalam.

Saat menginjakkan kakinya di dapur Jessica menemukan Yuri yang tengah memasak sarapan untuk mereka. Gadis blonde itu lantas memeluk Yuri dari belakang. Untuk sesaat menikmati kehangatan Yuri yang begitu dikenalnya. Bukankah seperti ini yang dinamakan friend with benefit?

“Baunya enak.. apa yang kau masak?”

“Bacon dan telur.. aku juga sudah membuatkan susu hangat untukmu.” Yuri tersenyum sambil menunjuk segelas susu cokelat di atas meja. Jessica duduk di kursi lantas meminumnya.

“Makanlah~” Yuri berucap sambil meletakkan piring berisi sarapan di hadapan Jessica. Gadis blonde itu memanyunkan bibirnya.

“Kau ingin aku suapi?” Yuri bertanya, Jessica mengangukkan kepalanya dengan ekspressi menggemaskan. Yuri mengacak rambut gadis blonde itu pelan.

“Ayo buka mulutmu aah~”

“Bagaimana rasanya.”

“Mashita~”

“Tentu saja, itu kan buatanku..”

“Yuri-ah..”

“Hm?”

“Semalam terimakasih.”

“Ne.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sore itu Jessica begitu terkejut saat Taeyeon menunggu di depan kantornya. Gadis pendek itu berdiri di samping mobilnya dan tersenyum lebar begitu melihat Jessica.

“Aku ingin bicara denganmu… berdua.”

Disinilah mereka akhirnya, duduk bersisian di dalam mobil Taeyeon yang di parkir di pantai. Tempat dimana Taeyeon dulu memintanya mengakhiri semua, semua rasa yang pernah ada. Kala itu Taeyeon bahkan tak berbalik untuk sekedar melihat Jessica yang menangis berlutut dan memintanya untuk tetap tinggal. Taeyeon tidak berbalik dan membiarkan Jessica terluka sendiri.

Sejak saat itu Jessica tak pernah datang ke tempat ini lagi, tempat yang mengingatkan Jessica akan kesakitannya. Dan hari ini, di tempat yang sama Taeyeon.. memintanya kembali.

“Aku.. mencintaimu. Sampai sekarang, itu kenyatannya Sooyeon.” airmata meluruh melewati pipi gadis itu. Jessica menatapnya dengan pandangan buram, mungkin jika Jessica berkedip airmatanya pun akan turut tumpah.

“Wae?” Jessica merasakan suaranya serak saat bertanya seperti itu, pertanyaan yang sudah seharusnya dari dulu dia tanyakan. Pertanyaan yang menghantuinya selama beberapa tahun terakhir, pertanyaan yang menjelma menjadi mimpi buruk dalam tidurnya, pertanyaan yang membuat hatinya serasa mati, kenapa Taeyeon meninggalkannya kala itu, kenapa?

Sejauh yang Jessica ingat, hubungannya dengan Taeyeon baik-baik saja. Bahkan jauh lebih dari kata baik, mahasiswa-mahasiswa lain kala itu menjuluki mereka pasangan yang sempurna. King and Queen. Lalu alasan apa yang membuat Taeyeon memilih meninggalkannya? Apa yang membuat Taeyeon memilih untuk menghilang dari dunianya?

“Orangtuaku memintaku untuk menikahi Seohyun. Aku tau aku menghancurkanmu.. aku lemah Sooyeon, aku tau, maafkan aku. Walau beberapa tahun ini aku berusaha mencintainya aku tidak bisa… karena Seohyun bukan dirimu.”

“Kau tau apa yang aku alami selama kau pergi?!” Jessica berteriak padanya. Taeyeon memeluk gadis itu dan membiarkan Jessica memukuli dadanya. Dibanding apa yang telah Jessica rasakan Taeyeon tau apa yang di dapatnya jauh dari cukup, bahkan sangat tidak sebanding.

“Maafkan aku Sooyeon.. mari kita mulai semuanya dari awal lagi.” tidak mendapat respon Taeyeon lantas memutuskan untuk mengecup bibir Jessica. Keduanya menangis dengan sejuta gejolak rasa yang tak mampu terkatakan. Saat merasakan kelembutan Taeyeon yang lama dirindunya Jessica tau jika rasa itu masih ada, masih di tempat yang sama… meski begitu Jessica ragu, apa ini yang diinginkannya?

“Sica.. kau akan pergi?”

“Mianhe Yuri-ah..” Jessica meninggalkan apartemen mereka tanpa berbalik lagi. Jessica tau dia akan berubah lemah saat menatap wajah Yuri.

Yuri menangis sambil menatap punggung Jessica yang menjauh dari pandangannya, juga menjauh dari hatinya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kupikir kau bukan untukku
Ternyata hati ini haus kasihmu
Saat kupikir kau bukan satu untukku
Nyatanya jiwa ini mendamba hadirmu, merindu belaimu

“Apa yang kau pikirkan?”  Taeyeon bertanya sambil meletakkan  sepotong cheese cake di hadapan Jessica. Gadis blonde itu baru sadar sudah menghabiskan lebih dari setengah jam untuk melamun.

“Apa kau gugup?” Taeyeon mengelus rambutnya, Jessica terpaku, Yuri juga selalu melakukan hal seperti itu padanya. Yuri? Entah kenapa Jessica tak bisa berhenti memikirkan gadis kecoklatan tersebut. Sudah 3 bulan mereka tak bertemu, dan selama itu pula Jessica merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya.

“Sooyeon?” Taeyeon kembali bertanya dan membuat Jessica tersadar.

“Ah, Ne? Apa yang kau katakan barusan?”

“Kubilang, hari ini kau akan fitting gaun bersama umma.. tidak apa-apa kan? Maaf aku tidak bisa menemanimu.” Taeyeon menggenggam tangannya. Jessica mengangukkan kepalanya mengerti.

“Aku tau semua persiapan pernikahan ini membuatmu lelah tapi kau harus selalu menjaga kesehatanmu arraseo? Aku tidak mau sampai calon pengantinku sakit.”

“Arraseo.”

“Anak pintar..” Taeyeon mengecup bibir Jessica sekali lagi sebelum berangkat ke kantornya.

“Aku janji ini tidak akan pahit. Ini rasa jeruk. Ayo buka mulutmu Aah~” Yuri menyodorkan sesendok obat flu di depan mulut Jessica. Gadis blonde itu sebenarnya tidak mau minum obat tapi terpaksa karena Jessica tau Yuri takkan berhenti memaksanya.

“Tidak enak.” Jessica memasang wajah anehnya saat mulutnya terasa pahit. Yuri tersenyum puas sambil mengelus rambut Jessica.

“Anak pintar..” katanya sambil tersenyum bangga pada Jessica.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saat kau pergi
Bersama sakit hati
Baru ku sadari
Adanya rasa ini

Hari pernikahan yang Jessica nantikan pun akhirnya tiba…

“Sunny-ah kau datang?” Jessica tersenyum saat Sunny menghampirinya di ruang tunggu pengantin. Jessica tampak cantik dengan balutan gaun putih gadingnya.

“Sunny-ah.. apa Yuri datang?”

“I-itu.. sebenarnya Yuri-“

“T-taeyeon-ah.. a-aku.. aku tidak bisa.” Jessica menangis di hadapan Taeyeon.

“Kau.. mencintainya Sooyeon-ah?” Taeyeon bertanya sambil berusaha tetap tegar. Tangisan Jessica semakin keras hingga membuat gadis blonde itu tak mampu berkata-kata.

“Apa kau mencintaiku?” Taeyeon memegang bahu Jessica, memaksa gadis itu untuk menatap kedua matanya.

“Mianhe..” jawab Jessica sambil terisak. Taeyeon tau, Jessica tak lagi memandangnya dengan cara yang sama. Mungkin saja perasaan gadis itu sudah berubah, perasaannya untuk Taeyeon juga perasaannya untuk Yuri, hanya saja Jessica tidak menyadarinya.

“Pergilah.”

“Kwon Yuri!!!” Jessica yang masih mengenakan gaun pengantinnya berlari-lari di Airport untuk mencegah kepergian Yuri tapi terlambat. Pesawat yang Yuri tumpangi sudah lepas landas 10 menit yang lalu. Gadis itu sudah pergi tanpa mengetahui apa yang sebenarnya Jessica rasakan untuknya.

“Kwon Yuri.. aku mencintaimu.”

Aku yang kini masih hidup di masa lalu
Disaat masih ada dirimu
Egoiskah diri ini
Jika aku memintamu kembali, sekali lagi

.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Biasanya org bikin songfic aku bikin yg baru poemfic biar beda  :D
Sebenarnya pas bikin puisi ini yg kebayang di kepala emang YulSic sih.. jd yg waktu itu nebak puisi ini buat ff selamat bener hahaha :D
Semoga suka.. bye !!

1000 Years Always by Your Side (Oneshot/YulSic)

Tittle : 1000 Years, Always by Your Side
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance, Angst
Lenght : Oneshot
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung, Choi Sooyoung, Kim Taeyeon and Otner Cast

Song lyric by :
*SHINee – 1000 Years, Always by Your Side
* SNSD – Indestructible

Inspired by SHINee’s MV 1000 Years, Always by Your Side

1000 Years, Always by Your Side
.
.
.
.
.
.

Hari yang cerah, terlihat beberapa calon penumpang serta lima orang lelaki dengan pakaian serba hitam menunggu di halte bis. Terdengar dua kali bunyi sirine panjang yang menandakan bis yang mereka tunggu akan segera datang. Seraya menunggu, Minho memainkan rubik di tangannya, Jonghyun mengeluarkan jam tua dari balik saku blazernya, sementara itu lelaki yang paling muda di antara kelimanya -Taemin- melihat ke langit lalu membuka payung hitamnya. Tak lama kemudian bis yang mereka tunggu mulai terlihat di ujung jalan.

Seorang pria paruh baya turun lalu tersenyum pada kelima lelaki berpakaian serba hitam tersebut. Jinki menunduk seraya mengangkat topinya sedikit. Secara bergantian para penumpang mulai memasuki bis sambil menenteng koper mereka masing-masing.

“Jumlahnya kurang..” Kibum berucap setelah selesai menghitung dalam kepalanya. Jinki ikut menghitung dan hasilnya sama, tinggal satu orang lagi. Kibum lantas membuka buku tebal di tangannya.

“Seoul Internasional Hospital..” Minho bergumam setelah melihat foto siapa yang terpampang di lembar terakhir.

“Kurasa kita masih punya waktu.” Jonghyun berucap setelah melihat jam tua di tangannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

There are even those invisible form
I pushed forcibly broken
Key inserted in the chest
Hey, this same miracle
Are you sure you want to open your heart?

Dokter Choi masih berusaha membujuk pasien di kamar 221 untuk membuka pintu kamarnya yang dikunci dari dalam. Seorang pasien yang didiagnosis memiliki kelainan jantung.

“Sooyeon-ah buka pintunya.” Nyonya Jung masih memohon sambil menangis. Jessica menatap ibunya dengan tatapan kosong dari balik jendela kamar isolasi yang dihuninya.

“Untuk apa? Aku tidak mau… tolong jangan memintaku lagi mom, ini menyakitiku.” dengan begitu Jessica menekan tombol off pada intercom kamarnya yang merupakan satu-satunya cara Jessica berkomunikasi dengan orang luar. Nyonya Jung masih berusaha bicara namun Jessica tak mendengar apapun. Dunianya serasa sunyi.. mungkin mulai malam ini dan seterusnya.

Tidak ingin melihat wajah sedih ibunya lebih lama lagi, Jessica lantas berbaring di kasur dengan posisi membelakangi jendela, menyelimuti dirinya dan menangis dengan suara tertahan.

“Dokter Choi, eottokhae?” panik nyonya Jung.

“Tidak ada cara lain selain membiarkan Jessica tenang untuk saat ini.” Sooyoung menghela nafas pasrahnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Di kamar Taeyeon, Yuri memainkan ponsel kakaknya tanpa ijin. Sementara itu Taeyeon sibuk mencari-cari ponsel kesayangannya. Benda kotak itu bisa dimana saja, pasalnya, terakhir kali ponselnya hilang Taeyeon pada akhirnya menemukan benda itu di dalam freezer. Apalagi kalau bukan karena kebiasaan berjalan sambil tidurnya yang tengah kambuh. Namun, untuk kasus kali ini Taeyeon punya feeling berbeda. Jelas-jelas ponselnya hilang saat Taeyeon belum tertidur dan kalau sudah begini satu-satunya orang yang patut di curigai hanya adiknya, Kwon Yuri.

Kira-kira dimana si pengacau itu?  Taeyeon menyikap seprai biru langitnya dan menemukannYuri yang tengah tersenyum sambil memegang ponsel Taeyeon di tangannya.

“Kwon Yuri… kali ini apalagi?”  Taeyeon tentu saja sudah sangat mengenal kebiasaan Yuri. Jika Yuri sudah tersenyum seperti itu artinya bukan pertanda baik.

“Ini soal Jessica..” Yuri menjawab dengan hati-hati. Taeyeon memejamkan mata untuk menahan kekesalannya, gadis pendek itu tau objek yang akan di bahas Yuri takkan jauh-jauh dari apa yang diduganya -Jessica Jung.

“Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak mau?!”

“Ayolah Taeng, hanya kali ini kumohon..”

“Shireo!!”

“Tapi kau sudah terlanjur mengajaknya kencan.”

“Apa?”

“Maksudku, aku mengirim ajakan kencan melalui ponselmu jadi Jessica berpikir kau yang mengajaknya lalu-” Yuri menggantungkan kata-katanya begitu Taeyeon menatapnya tajam. Kalau sudah begini Yuri jadi tidak punya pilihan lain.

“Kumohon! Kumohon! Kumohon! … Taeng kakakku tercinta, hanya kali ini.”

“Geurae! Untuk pertama dan terakhir kalinya.” Taeyeon menyerah dengan aegyo Yuri. Bukan karena menggemaskan sebenarnya, tapi lebih ke arah enek saja. Jika Yuri bukan adik kandungnya, sudah sejak lama Taeyeon memasukan manusia hitam ini ke dalam karung lalu membuangnya di tempat jauh.

“Gomawo-akh!!” karena terlalu bahagia Yuri menegakkan kepalanya dengan semena-mena, lupa kalau dirinya masih di bawah ranjang.

“Kepalaku!”

“Rasakan itu!!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dikelasnya, saat pelajaran Park Ssaem berlangsung, kepala Yuri justru dipenuhi Jessica Jung. Gadis berambut blonde itu merupakan murid baru di kelasnya. Jessica pindah beberapa bulan setelah tahun ajaran baru dimulai. Kabarnya, dulu Jessica dan keluarganya menetap di California lantas memutuskan pindah karena urusan bisnis.

Murid-murid lain menjukukinya ice princess, Yuri juga berpikiran seperti itu awalnya sampai gadis tanned itu mengenal Jessica lebih dalam. Mungkin memang benar Jessica seorang putri es namun bagi Yuri, Jessica adalah es yang hangat.

“Jeongmal mianhe..”  ucap Yuri. Jessica membereskan makan siangnya yang sudah berserakan di lantai dengan wajah datarnya. Kalau bukan karena Yuri dan kecerobohannya tentu Jessica takkan mengalami hal seperti ini. Sementara Sooyoung -orang yang seharusnya ikut bertanggung jawab- malah kabur.

Tidak ada seorang pun yang berani berurusan dengan Jessica di sekolah ini apalagi sampai menumpahkan makan siangnya seperti yang Yuri lakukan -walau tanpa sengaja. Sooyoung sunguh tidak sampai hati jika harus menyaksikan Yuri yang akan tewas di depan matanya -karena itu dia memilih kabur.

Berada sedekat ini dengan Jessica membuat jantung Yuri berdebar tidak beraturan. Gadis ini cantik, tidak, jika boleh jujur kata cantik saja rasanya tidak cukup untuk menggambarkannya. Meski begitu Yuri jadi penasaran, atas dasar apa manusia sesempurna ini lebih memilih untuk menyendiri. Seolah-olah Jessica membangun benteng tak kasat mata di sekelilingnya.

“Mianhe Jessica-ssi aku benar-benar tidak bermaksud melakukannya.” ucap Yuri sekali lagi. Jessica berdiri lalu memasukkan makan siangnya ke dalam tempat sampah dalam sekali gerakan. Yuri menahan tangan Jessica yang akan beranjak dari sana.

“Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku yang traktir.. anggap saja permintaan maaf, eotte?” Saat itu Yuri mengatakan kata-kata tersebut dengan penuh percaya diri seakan-akan apa yang dilakukannya merupakan hal paling wajar di dunia. Yuri juga tidak tau darimana keberanian itu datang tapi yang pasti saat itu Jessica mengiyakan ajakannya tanpa berpikir lama. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya Yuri merasa ribuan kupu-kupu terbang di perutnya.

“Jessica-ssi apa kau tau namaku?” tanya Yuri penasaran. Yuri tau Jessica merupakan tipe tertutup tapi mereka sudah sekelas hampir selama setahun dan Yuri yakin benar dirinya bukan sesuatu yang transparan sampai-sampai Jessica tidak menyadari keberadaannya.

“Kwon Yuri.” Jessica menjawab setelah melirik name tag di seragam Yuri. “Pembuat onar nomer satu di sekolah ini, apa aku salah?”

“A-aniyo, tapi sebenarnya aku tidak sehebat itu.” balas Yuri malu-malu. Padahal sebenarnya apa yang Jessica katakan barusan sama sekali bukan pujian.

Yuri tersenyum sendiri mengingat pembicaraan pertamanya dengan Jessica, hal itu tentu saja membuat Sooyoung yang duduk di sebelahnya terheran-heran. “Ya!!  Kwon mesum, apa yang kau pikirkan? Air liurmu sampai menetes kemana-mana?!”

Yuri tersadar lalu mengelap mulutnya. “Kau bohong Syoo!” protes Yuri, sementara Sooyoung terus tertawa karena telah berhasil membodohi si bodoh Yuri untuk kesekian kalinya.

“Kali ini apalagi huh?”

“Aku sudah berhasil membuat Taeyeon menyetujui kencan itu.” Yuri tersenyum bangga. Mendengar Yuri berkata seperti itu mulut Sooyoung pun terbuka lebar. Siapa di Korea ini yang tidak mengenal penyanyi terkenal Kwon Taeyeon? Dan jika Sooyoung tidak salah dengar, barusan Yuri mengatakan Taeyeon sudah menyetujui kencan itu. Kencan buta antara Taeyeon dan Jessica yang sudah Yuri atur.

“Mustahil..”

“Sudah kubilang kan tidak ada seorang pun yang bisa menolak pesona Kwon Yuri~”

“Your face!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sejak makan siang bersama itu Yuri jadi menyadari beberapa kebiasaan Jessica. Setiap pulang sekolah setelah sekolah mereka mulai sepi, Jessica selalu pergi ke ruang musik lalu memainkan beberapa lagu dengan piano.

Seringkali Yuri mengintip lewat jendela atau sekedar duduk di depan pintu dan mendengarkan. Yuri selalu menyandarkan punggungnya di pintu dan memejamkan matanya, saat Jessica bernyanyi Yuri akan ikut bernyanyi bersamanya.

Hmm Indestructible~
Indestructible…

Yeah YeahIt’s gone by fast, hasn’t it?
The time flows on the way we are
Since when have we started thinking alike?
Fights, Silence, we do everything together
And even then, your voice gives me a feeling of relief

How you like me?
With these new emotional arguments,
It’s so hard
It’s not easy, but it feels nice
This Indestructible Unbreakable
bonds that can never be broken
Our soul is a twin soul (twin soul)
For example,
even if it looks like you’re about to fall from a cliff,
At least know that I won’t let go of your hand

Indestructible…
Because I will protect you until the end

Hal itu terus berlanjut sampai tahun terakhir mereka di SMA. Sore itu tidak seperti biasanya, Yuri tidak menemukan Jessica di ruang musik, gadis berparas dingin itu tak lagi menekan tuts piano dengan jari-jari lentiknya, tak lagi memainkan musik lembut yang ingin selalu Yuri dengar, dan tak lagi bernyanyi dengan suara merdu yang membuat hati Yuri berdebar. Karena sore itu Yuri menemukan Jessica berdiri di atap sekolah dan berniat mengakhiri hidupnya.

“Jangan mendekat!!” Jessica memperingati Yuri dengan tatapan kosong. Jika saja bisa, Yuri rela semua kesakitan yang tengah Jessica rasakan berpindah padanya.

“Jangan lakukan itu Jessica-ssi..”

“Sekarang atau nanti apa bedanya..” Jessica menggumamkan sesuatu yang tak jelas di telinga Yuri.

“Ulurkan tanganmu!” Yuri mengulurkan tangannya, berharap Jessica mau membalasnya.

“Kenapa? Apa pedulimu?”

“Aku peduli karena… karena sekolah ini akan berhantu jika kau bunuh diri disini.” jawab Yuri asal.

Yuri sedang panik sampai-sampai tidak sempat mencari alasan yang lebih bagus atau bisa juga karena jarang dipakai berpikir otaknya jadi tumpul. Jessica menatap Yuri sebal, dan sebelum Jessica menyadari semuanya Yuri sudah menarik tangannya. Setelahnya Yuri mengunci Jessica dalam pelukannya. Jessica seharusnya marah tapi entah kenapa kala itu Jessica malah berakhir dengan meluapkan semua kesedihannya dalam pelukan Yuri. Cukup lama sampai Jessica menyadari langit berubah gelap, seragam Yuri basah karena airmata Jessica.

Belakangan Yuri tau jika Jessica memiliki kelainan jantung sejak lahir, penyakit itulah yang membuat Jessica putus asa dan berniat mengakhiri hidupnya.

Jessica mengakhiri permainan pianonya sementara Yuri yang duduk di sampingnya tersenyum. Jessica ikut tersenyum lalu memejamkan matanya. Sedetik kemudian Jessica menggenggam tangan Yuri lalu menaruhnya di dadanya, tepat diatas debaran jantungnya.

“Dokter bilang aku cuma bisa bertahan 6 bulan lagi..” saat Jessica membuka matanya, setitik airmata jatuh di pipinya.

Yuri segera menarik tangannya, gejolak perasaan yang kini dirasanya membuat nafasnya sesak. “Sica.. aku sudah berpikir. Aku akan jadi dokter dan menyembuhkanmu.” janji itu, janji yang Yuri ucapkan untuk Jessica juga dirinya sendiri.

Masa sekolah itu rasanya cepat berlalu padahal rasanya baru kemarin Yuri masuk SMA dan bulan depan gadis tanned itu akan lulus. Setahun belakangan ini Yuri seperti berubah menjadi orang lain. Yuri mulai belajar dengan serius, berusaha dengan lebih keras, semua itu tak lain demi menepati janjinya untuk Jessica. Melihat perubahan Yuri yang begitu signifikan tentu saja membuat Sooyoung -sebagai sahabat yang telah bersama Yuri sejak masih memakai diapers- terheran-heran.

“Tidak tidak. Aku yakin kau bukan Yuri! Pasti kau alien dari  planet lain yang datang kebumi lalu menculik Yuri dan menyamar jadi dirinya. Sekarang katakan dimana sahabatku Kwon Yuri?!”

“Syoo.. kau sudah gila.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica yang beberapa bulan terakhir kondisinya terus memburuk terpaksa menjalani rawat inap di rumah sakit. Gadis blonde itu selalu merasa bosan, kecuali kalau Yuri datang. Yuri selalu menjenguknya tiap hari dan selalu membawa barang-barang yang Jessica pesan, tak jarang Yuri juga datang bersama Sooyoung.

Hari ini bukan pengecualian, Yuri datang saat Jessica menulis sesuatu di buku diarinya.

“Ige mwoya?” Yuri bertanya padanya. Jessica menunjukkan tulisan yang diberinya nama ’10 keinginan terakhir’ pada Yuri. Walaupun Yuri menertawai hal itu dan mengatakan kalau Jessica kekanak-kanakan tapi pada akhirnya Yuri tetap membantu Jessica mewujudkannya.

“Kau menyukai Taeyeon penyanyi itu?”

“Ne, dan keinginan terakhirku adalah berkencan dengannya.”

“Jadi aku harus menemui temanmu di rumah sakit?”

“Iya, bukankah aku sudah mengatakannya. Nah, itu orangnya.. cepat temui dia.” Yuri mendorong tubuh pendek kakaknya. Taeyeon mendengus kesal, kalau begini gadis pendek itu serasa dijajah adiknya sendiri.

“Jessica-ssi?”

“Taeyeon-ssi?”

“Jadi pertama kita akan pergi kemana?” Taeyeon bertanya sambil tersenyum manis padanya. Hari itu karena tidak terpikir tempat yang spesial akhirnya Taeyeon mengajak Jessica keliling kota sampai malam. Meski selama kencan Taeyeon harus melakukan penyamarannya, Jessica tetap merasa senang. Gadis itu benar-benar lembut, persis seperti  apa yang Jessica bayangkan.

Malamnya Taeyeon mengajak Jessica makan di warung tenda. Taeyeon juga merasa senang menemani Jessica, jujur saja sudah lama sekali sejak Taeyeon merasa sebebas ini. Ada satu kejadian yang membuat paras Jessica serasa terbakar, yaitu saat Taeyeon mengelap saus jajangmyun di sudut bibir Jessica dengan ibu jarinya, menurut Jessica itu sangat romantis. Jessica pasti fans paling beruntung di dunia.

“Taeyeon-ssi terimakasih.” Jessica membungkukkan badannya setelah keluar dari mobil. Taeyeon kembali mengantarnya ke rumah sakit.

“Aku juga merasa senang hari ini.” Taeyeon kembali tersenyum padanya.

“Taeyeon-ssi.. tolong sampaikan juga rasa terimakasihku untuk Yuri.”

“Kau tau?” tanya Taeyeon memastikan. “Si bodoh itu sampai sekarang pasti masih berpikir kalau kau tidak tau.”

Pada kenyatannya, sampai sekarang Yuri tidak tau jika Jessica sudah mengetahui hubungan Yuri dan Taeyeon yang sebenarnya. “Hanya karena dia tak pernah mengatakannya.. bukan berarti aku takkan tau.”

Taeyeon kembali membalas perkataan Jessica dengan senyuman, bagaimanapun gadis di hadapannya ini memang penuh kejutan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Sica apa kau di dalam?” Yuri mengetuk pintu kamar mandi ruang rawat Jessica. Sementara itu di dalam Jessica sibuk memegang dadanya yang kembali terasa sakit.

“Sica gwenchana?”

“Ne..” Jessica hanya mampu menjawab dengan suara pelan.

“Baiklah.. aku akan memberitahumu sekarang saja. Aku diterima di fakultas kedokteran, sebenarnya bukan cuma aku… Sooyoung juga. Dua murid berandal akan menjadi dokter.. apa kau percaya?”

“…………………..”

“Sica.. aku akan menepati janjiku jadi sampai saat itu tiba bertahanlah untukku arraseo?” Jessica menggigit bibir bawahnya, berharap Yuri takkan mendengar isakannya di luar.

“Ne.. Yuri-ah…”

“Sica apa sudah selesai?”

“Sebentar lagi..” jawab Jessica sambil menghapus airmatanya. Setidaknya, dengan membayangkan wajah Yuri bisa memberinya sedikit kekuatan.

Maybe it’s because of you, surprisingly I like myself
There are a lot of things I hate too. And they’re starting to disappear
My dad said to me when I was very little,
“Being with someone you love will make you a stronger person”

Jessica sudah tertidur di ranjang rumah sakit dengan sisa-sisa airmata di pipinya. Yuri duduk di sisi ranjang rumah sakit gadis blonde itu sambil menatapnya dalam. Dengan perlahan Yuri mengusap pipi tirus Jessica dengan punggung tangannya.

“Gadis dingin yang keras kepala jika kau tidak ingin mendengar nasihatku sebagai seorang dokter, dengarlah perkataanku sebagai kekasihmu. Bukankah kau sudah berjanji akan sembuh untukku?” Yuri tersenyum. Sedetik kemudian gadis tanned itu beralih menggenggam tangan Jessica sambil mengelus cincin yang tersemat di jari Jessica. Cincin yang bertuliskan inisial nama keduanya, YS, cincin pertunangan mereka.

“……. karena itu Sica kumohon jangan menyerah sekarang.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Jessica menyetujui operasi transplantasi jantungnya. Saat suster mendorong ranjang yang ditidurinya gadis blonde itu terus menatap langit-langit rumah sakit yang terus berkelebatan dalam pandangannya. Yuri, nyonya dan tuan Jung serta Krystal sudah lebih dulu menunggu di depan pintu ruang operasi. Yuri tersenyum padanya namun Jessica memalingkan wajahnya.

“Kau akan baik-baik saja.” Sooyoung -dokter yang bertanggung jawab atas operasi itu- menepuk pundak Jessica pelan. Sementara suster mulai memberinya anestesi.

“Kau tau apa yang membuatku menyetujui hal ini?” Jessica berkata dengan suara pelan.

“Semalam aku bertemu dengannya dan dia menangis karena aku keras kepala.. aku membuatnya menangis Syoo.”Jessica merasakan pipinya basah. Sooyoung menganggukkan kepalanya mengerti, Sooyoung tau sejauh apa kesakitan yang Jessica alami akhir-akhir ini.

“Dia mencintaimu Jessica.. itu yang terpenting.”

“Aku tau Syoo.. aku juga mencintainya. Sangat mencintainya.” Jessica berkata di ujung kesadarannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Semuanya sudah selesai sekarang. Saatnya pergi… Kwon Yuri.” kata Minho. Yuri yang saat itu sedang memandangi Jessica yang tengah tertidur menganggukkan kepalanya. Gadis tanned itu mencium kening Jessica untuk terakhir kalinya sebelum berjalan mengikuti kelima lelaki berpakaian serba hitam di depannya.

“Semuanya sudah lengkap.” ucap Kibum sambil menutup buku tebal di tangannya.

Setelahnya kelima lelaki itu membuka telapak tangan mereka. Keluarlah lima bola cahaya dengan warna yang berbeda layaknya warna pelangi. Kelima bola cahaya itu berputar mengelilingi bis dan membuat bis bersinar terang. Yuri menatap melalui jendela bis dan bergumam “Saranghae.. Sicababy.”

Jessica menatap foto dirinya dan Yuri sambil mengusap airmata di pipinya. Jessica memang sudah berjanji pada Yuri untuk tidak menangisinya namun melihat senyuman Yuri di sana membuat Jessica tak sanggup.

“Saranghae seobang.. saat kita bertemu lagi saat itu kuharap kita bisa bersama selamanya.” ucapnya sambil mengecup foto Yuri dan memeluk bingkai itu di dadanya. Tepat di atas debaran jantungnya, jantung Yuri yang sekarang ada di tubuhnya.

Bis mulai melaju, saat Taemin mengangkat tangannya bis pun ikut terangkat ke udara. Terus menjauh dan menjauh sampai menghilang di balik awan jingga langit senja.

Piece of the puzzle of memories that you’re here
And connecting memories were also softly next to me
Never seen anyone
I map depicts two future
I was hiding in the back of the eye
You know the meaning of the same tears
Are you sure you want to show me

Emotions overflowing
This is my love
Increased even more and more
Immediately all
I can not tell
I want to tell someday
As if I took 1000 years
But always by your side

Put me in the name of you
I’d like to run a long journey
Back to memory before we meet
Let’s switch to the memories of the two of us
On the campus of the white snowy mountains
Repeatedly to you and me
I want to tell someday

Emotions overflowing
This is my love
Increased even more and more
Immediately all
I can not tell
I want to tell someday
As if I took 1000 years
But always by your side

My heart is, my heart is, my heart is, my heart is yours

“Siapa gadis itu?” tanya seorang suster pada temannya.

“Namanya Jessica Jung, pasien sekaligus tunangan dokter Kwon.”

“Maksudmu dokter Kwon yang meninggal karena kecelakaan itu?”

.
.
.
.
.
.
  >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Love Trip (2nd of 2-END)

Tittle : Love Trip
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance
Lenght : Twoshot
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri, Tiffany Hwang, and Ok Taecyeon

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari komik berjudul My Best Rival is My Best Friend karya Yukari Kawachi.

Love Trip
.
.
.
.
.

Acara… tanda tangan?

“Jadi artinya di Jerman bukumu juga terbit, begitu?” Jessica menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Eh, Jessie tidak ada ya? Buku yang sudah diterjemahkan?” jawaban Tiffany membuat Jessica semakin kesal. Jessica tau, sejak awal dia seharusnya tak mengajukan pertanyaan itu. Pada dasarnya Tiffany memang tukang pamer -pendapat yang didasari rasa iri.

Selain Tiffany, Jessica juga bertemu dengan kepala redaksi Lee -yang setengah botak. “Eh.. kalau tidak salah kamu itu…” Lee Sooman tersenyum saat melihat Jessica tapi sedetik kemudian pria paruh baya itu menggaruk kepalanya, bingung.

“Siapa ya?”

“Jessica Jung! Jangan lupa dong!”

Mengingat pemimpin redaksi yang sudah berbaik hati memberinya kesempatan sebenarnya sebagai penulis amatiran Jessica tau dia tak pantas mengatakan hal ini tapi mau bagaimana lagi, maka dari itu dengan segenap keberanian yang dimilikinya…
“Maafkan saya.. sebenarnya naskahnya belum selesai.” Jessica membungkukkan tubuhnya. Lee Sooman lantas menepuk pundaknya sambil tertawa ahjussi.

“Tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan.”

“Bapak pemimpin redaksi.” Jessica jadi terharu.

“Soalnya penulis yang dapat menggantikanmu banyak sekali.” lanjut Lee Sooman tanpa rasa bersalah. Alasan menyakitkan, kenyataan memang pahit -sekali lagi.

Setelahnya Tiffany beserta pemimpin redaksi Lee pamit karena akan pergi ke restoran elit untuk malan siang. Tiffany agak kesulitan berjalan karena fans-fansny sibuk meminta foto dan tanda tangan. Perbedaan yang signifikan sekali padahal Jessica juga penulis manhwa. Hal yang lebih mengejutkan lagi ternyata Taecyeon -pemandu wisata yang keren itu- merupakan fans Tiffany juga.

“Mestinya aku juga bawa bukumu untuk di tanda tangani, bodohnya aku..”

“Gwenchana, hal seperti itu tidak perlu dipikirkan.” jawab Tiffany malu-malu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Memikirkan Tiffany dan kepala redaksi yang akan makan di restoran elit membuat mood jelek saja, karena itu Jessica memutuskan akan kembali membuat moodnya bagus. Dengan semangat Jessica menarik tangan Yuri, gadis itu bertekad apapun yang terjadi mereka harus mendapatkan restoran bagus -yang sedikit murah- lalu mendapat tempat duduk khusus dengan pemandangan bagus.

Setelah mencari cukup lama, akhirnya pilihan Jessica jatuh pada restoran bergaya Eropa modern dengan hiasan pohon natal di samping kiri dan kanan pintu masuknya. Tapi sepertinya mendapat tempat duduk yang bagus saat jam makan siang seperti ini agak sulit dilakukan. Untung saja mereka bertemu Taecyeon yang dengan senang hati berbagi mejanya. Taecyeon melambaikan tangannya, Jessica berlari ke arah laki-laki itu dengan semangat sampai melupakan kehadiran Yuri -lagi- namun kesenangannya tak berlangsung lama saat Jessica tau kalau ternyata Tiffany ada juga disana. Gadis itu duduk tepat di samping Taecyeon.

“Toh makan dengan pemimpin redaksi juga ngga asik jadi aku kesini deh..”

“Oh begitu.”

Tiffany menyadari jika Jessica terus memandang Taecyeon saat lelaki itu memanggil pelayan. “Hei Jessie.. kenapa tampangmu begitu? Kamu kan bersama Yuri?” Tiffany berbisik padanya. Jessica tersenyum canggung. Ya, tentu saja Jessica tau tapi entah kenapa rasanya ada yang kurang.

Sementara itu wajah Taecyeon yang sedang memesan makanan berubah pucat saat pelayan berbicara padanya. Jujur saja Taecyeon tidak mengerti apapaun yang dikatakan si pelayan maupun apa yang tercatat di buku menu.
“Kalau bahasa Perancis aku mengerti tapi kalau bahasa Jerman..” Taecyeon pasrah. Dia merasa gagal menjadi seorang pemandu wisata, untung saja Yuri bisa mengatasi permasalahan itu.

Tiffany dan Taecyeon dibuat takjub sementara Jessica baru ingat, sebenarnya sejak bulan April lalu Yuri bekerja sebagai pegawai perusahaan perdagangan dan di kantornya Yuri lebih sering berbahasa Jerman.

“Aku baru pertama kali melihat Yuri berbicara sebanyak itu.” komentar Tiffany. Jessica tersenyum padanya, meski begitu Jessica jadi curiga, jangan-jangan Yuri itu jarang bicara karena sebenarnya dia lebih pintar berbahasa Jerman daripada Korea.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Tunggu sebentar aku mau ke kamar kecil dulu.” kata Jessica. Taecyeon sudah kembali ke rombongan sementara Yuri dan Tiffany memutuskan untuk menunggu. Keduanya menyandarkan punggung mereka di tembok sambil sedikit berbincang.

“Aku benar-benar kaget lho, masa bisa kebetulan bertemu di Jerman. Kalau begini kan jadi tidak jauh berbeda dengan Korea.” Yuri menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Tiffany.

“Hebat ya..” puji Yuri.

“Mengadakan acara bagi tanda tangan di luar negeri? Terimakasih ya.. tapi sebenarnya aku juga serasa mimpi.” jujur Tiffany. Keduanya berbincang cukup lama sampai Tiffany memutuskan untuk mengundang Yuri menghadiri Chritsmas Eve di Vesthall.

“Acaranya dari jam satu.. kalau kamu mau, datanglah bersama Jessie..”

“Hmmm..”

“Lihat-lihat saja pun ngga apa-apa kok! Mau ya?”

“Akan aku pikirkan.. hatchim!!!”

“Yuri kamu masuk angin?”

“Oh.. aniyo.”

“Tapi ngomong-ngomong Jessie lama ya?”

“Dia memang selalu seperti ini.” Tiffany tersenyum mendengar tanggapan Yuri. Dari dulu, Tiffany selalu berpendapat kedua orang ini adalah pasangan yang manis.

“Eh, ngomong-ngomong pemandu wisatanya keren sekali.. kamu juga tidak boleh kalah.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Munchen, Jerman

Lagi-lagi di dalam bis Jessica tertidur. Munchen adalah ibukota wilayah Bayern yang terletak di sebelah selatan negara Jerman. Walau dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat perekonomian yang paling baik kita takkan menemui gedung-gedung pencakar langit seperti kota-kota metropolitan lain di dunia. Penduduk kota itu memang tidak menghendakinya. Bangunan-bangunan lawas masih banyak yang terawat dengan baik, meski sebagian sudah dialih fungsikan. Salah satu tujuan wisata paling terkenal di Munchen adalah kastil Ninvenburg.  Istana ini rampung pada tahun 1664 dan disebut sebagai istana musim panas keluarga Vittelsbach.

Setelah turun dari bis Jessica terus mengeluh karena pinggangnya pegal. “Mungkin karena bisnya sempit.” katanya, tapi Yuri tau alasan seaungguhnya apalagi kalau bukan karena cara tidur kekasihnya yang ‘unik’.

Hal yang dialami Jessica tentu saja berbeda dengan yang dialami Tiffany, gadis itu datang dengan menggunakan limosin yang tentu saja jjauuhhh lebih nyaman.
“Soalnya jalan-jalan dengan bapak pemimpin redaksi juga nggak menyenangkan jadi aku memutuskan untuk ikut kegiatan kalian.”

Di dalam kastil…

“Hebatnya! Pelapis dindingnya emas dan perak. Aku ingin tinggal di tempat seperti ini.” Jessica mulai berfantasi, membayangkan dirinya seorang putri.

“Aku jadikan acuan untuk renovasi rumahku nanti ah..” kata Tiffany tiba-tiba. That’s it!! Jessica tau, seharusnya dia tak pernah mengeluarkan perasaan jujurnya.

Di dalam istana ini yang paling megah adalah ruang galeri lukisan-lukisan wanita cantik. Disana terdapat sekitar ribuan lukisan.

“Yuri ayo kita foto di depan lukisan wanita cantik itu.”

“Lebih baik kamu saja Sica.”

“Hah? Kenapa?”

“Lukisannya akan kelihatan lebih cantik nantinya.”

“Ya!! Maksudmu apa Kwon Yuri?!”

Tiffany yang sedari tadi memperhatikan keduanya berusaha keras menahan tawa.

Setelah kunjungan kastil selesai, Taecyeon lantas membebaskan para peserta tour untuk makan dimana saja. “Jangan lupa untuk berkumpul kembali di tempat ini jam 2 siang..”

Jessica sibuk memperhatikan sekeliling, mencari Yuri yang tak kunjung terlihat. Setelah peserta tour bubar Jessica melihat Yuri yang baru keluar dari toilet umum.

“Yuri-ah kamu sedang apa? Nanti kita ketinggalan.” heboh Jessica -seperti biasa.

“Kajja, kalau kita tidak cepat makan siang nanti terlambat untuk kumpul disini.”

“Aku mau kembali ke hotel.” ucap Yuri.

“Hah?” Jessica memastikan jika dirinya tak salah dengar.

“Mau kembali? Tapi kata Taecyeon setelah ini kita masih akan ke museum..”

“Maaf saja, soalnya aku tidak berminat pada lukisan-lukisan.. sampai jumpa.”

“Lagi-lagi dia seperti itu..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Museum Alte Pinakothek, Munchen, Jerman

Sebenarnya ada tiga museum seni rupa di kota ini, yaitu, Alte Pinakothek, Neue Pinakothek, dan Pinakothek der Moderne. Jika museum Neue Pinakothek mengkhususkan kepada seni rupa modern Jerman dan Eropa sedangkan museum baru Pinakothek der Moderne -yang letaknya bersebrangan dengan kedua museum lainnya- memberikan penekanan kepada seni desain modern, entah itu berupa seni rupa, seni desain produk, maupun seni desain bangunan atau arsitektur. Sedangkan museum Alte Pinakothek yang Jessica kunjungi mengkhususkan kepada koleksi seni lukis klasik Jerman dan Eropa.

Alte Pinakothek merupakan museum yang umurnya paling tua. Dibangun atas perintah Raja Bavaria Ludwig I dan dibuka pada tahun 1836. Fitur menarik dari galeri ini adalah pencahayaan ruangan berasal dari atap bangunan yang tembus cahaya sehingga memberi efek dramatis. Museum ini memajang lukisan-lukisan dari abad pertengahan hingga penghujung zaman Rokoko. Mahakarya Leonardo da Vinci termasuk yang dipamerkan di Alte Pinakothek.

Jessica melanjutkan tour tanpa kehadiran Yuri dan hal itu agak menyulitkan. Tentu saja karena bahasa Jerman-nya yang pas-pasan atau lebih tepatnya tidak bisa sama sekali Jessica jadi tidak bisa makan siang karena tak tahu caranya memesan. Saat-saat seperti itu lukisan-lukisan makanan yang ada disana jadi terasa begitu nyata di mata Jessica -mungkin ini efek kelaparan.

“Enaknya..” gumam Jessica, tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh lukisan. Saat itu juga alarm berbunyi diiringi beberapa petugas keamanan yang menghampirinya. Di galeri ini semua lukisan memang dilengkapi alat sensor yang akan berbunyi jika tersentuh. Jessica meruntukki dirinya sendiri, seharusnya dirinya mendengarkan penjelasan Taecyeon di awal tadi dengan lebih sunguh-sunguh. Kalau sudah seperti ini kan jadi merepotkan saja. Berbicara soal Taecyeon kali ini lelaki tersebut menjadi pahlawan untuknya, karena dengan senang hati Taecyeon membantunya menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.

“Untung saja mereka mengerti bahasa inggris..” lega Taecyeon.

“Gomawo..” ucap Jessica malu-malu.

“Gwenchana.. tapi sepertinya Jessica-ssi suka sekali terlibat masalah, apa aku benar?”

“I-itu…”

“Aku cuma bercanda.” Taecyeon tertawa setelah mengatakannya sementara Jessica sibuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Sepanjang sisa tour Jessica menghabiskan waktunya bersama Taecyeon. Penilaian Jessica pada lelaki bertubuh kekar itu bertambah satu poin.

“Jessica-ssi coba berdiri di samping lukisan itu!”

“Disini?” Jessica memastikan, Taecyeon menganggukkan kepalanya mantap, maka dengan ragu Jessica berdiri di samping lukisan salah satu Putri Eropa. Sebenarnya Jessica juga tidak tau kenapa Taecyeon menyuruhnya berdiri disitu.

“Ternyata benar dugaanku… kalian sama cantiknya.” ternyata untuk itu, Taecyeon menggombalinya, berbeda sekali dengan Yuri. Tak pelak gadis berambut pirang tersebut pun kembali tersipu-sipu.

“Apa kamu suka Cezzane?” Taecyeon bertanya sembari kembali memarekan senyumnya, membuat Jessica gugup saja. Tak sampai disitu, Taecyeon mulai berani mendekatkan wajahnya. Jessica langsung merinding menyadari posisi mereka saat ini. Dari jarak sedekat ini Jessica baru sadar jika iris mata Taecyeon berwarna cokelat terang, sementara milik Yuri berwarna hitam kelam warna yang sangat Jessica sukai.

“Apa penulis komik suka lukisan seperti itu?”

“Ah.. i-iya.”

“Tapi aku.. aku lebih suka lukisanmu. Sentuhan penamu.” Sejak insiden di pesawat itu Jessica bukannya tidak menyadari jika Taecyeon menunjukkan ketertarikan padanya tapi Jessica tidak sangka lelaki itu bahkan menunjukkannya secara terang-terangan.

Tiffany yang saat itu kebetulan berpapasan dengan keduanya tanpa ragu langsung menarik Taecyeon menjauhi Jessica.

“Tuan pemandu wisata tolong jangan pernah sentuh-sentuh sahabatku, apalagi dia sudah punya kekasih!” kata Tiffany tegas sambil bertolak pinggang. Melihat keseriusan di mata Tiffany, Taecyeon hanya bisa mengusap tengkuknya dengan canggung.

“Kalau sama aku boleh.. aku masih bebas.” sedetik kemudian Tiffany merangkul lengan Taecyeon dengan mesra, ekspressi suramnya pun berganti ceria. Taecyeon pasrah saat Tiffany terus menyeretnya, disisi lain Jessica masih mematung di tempatnya.

Sebenarnya ada apa denganku?

Di kamar hotel yang mereka tempati, Yuri masih bergelung di balik selimut tebalnya. Termometer di tangannya menunjukkan angka 38,5°C. Padahal Yuri sudah minum obat tapi panas tubuhnya tak kunjung turun.

“Hatchim!!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Aku pulang..” Jessica langsung menemukan Yuri yang tengah berbaring di kasur dengan posisi membelakanginya. Gadis tanned itu hanya menggumam untuk menyambut kedatangan Jessica. Jika ditanya apakah Jessica masih kesal pada kekasihnya jawabannya tentu saja iya.

“Museumnya bagus sekali.. dan aku mau berterimakasih berkatmu aku bisa keliling jalan-jalan bersama Taecyeon yang keren itu.” Jessica berkata sambil membuka pintu lemari, berniat mengganti bajunya. Yuri masih betah di posis sebelumnya.

“Dia itu tampan, sopan, pembicaraannya menarik dan membuat hatiku berdebar-debar. Taecyeon juga berusaha mendekatiku karena mau menciumku..”

“Bahkan di depan wisatawan asing!! Ya… mungkin sudah terbiasa dengan adat kebiasaan asing..”

“Oh iya.. Taecyeon itu berkata padaku aku sama cantiknya dengan Putri Eropa.” Jessica terus bicara tanpa henti, tujuannya hanya satu sebenarnya, gadis itu ingin tau bagaimana reaksi Yuri. Namun yang didapatnya tidak seperti yang Jessica harapkan.

“BERISIK!!” Yuri malah membentak Jessica, untuk pertama kalinya. Jessica menggigit bibir bawahnya saat sesuatu terasa ingin tumpah di pelupuk matanya.

“Tidak usah berteriak seperti itu!! Aku juga mengerti kalau ada aku cuma mengganggu.” Jessica merapikan hoodienya lantas memasukan kertas naskahnya ke dalam amplop cokelat.

“Aku mau memperlihatkan gambarku pada Taecyeon dan aku sudah buat janji makan bersama.” lanjutnya.

“Bersantai-santailah.” jawab Yuri.

Jessica masih berdiri di depan pintu yang sudah setengah terbuka sambil menatap punggung Yuri. Berharap gadis tanned tersebut memberikan tanggapan lain dari sekedar ‘Bersantai-santailah’ namun nihil. Yuri tidak mengatakan apapun lagi setelahnya. Barangkali Jessica memang tidak begitu berharga di mata gadis itu. Meskipun Jessica pergi dengan laki-laki lain Yuri tidak merasa apa-apa?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica dan Taecyeon mengunjungi restoran yang berseberangan dengan hotel yang mereka tempati.

“Jessica-ssi benar-benar tidak apa-apa kan? Aku sebenarnya merasa tidak enak pada pacarmu..”

“Dia bukan pacarku kok! Dia asistenku.. sudah pendiam, dingin, moodnya jelek… aku jadi malas.” Jessica menanggapi pertanyaan Taecyeon dengan jawaban berapi-api, hal itu membuat Taecyeon tertawa kecil. Sudah dingin bertengkar melulu, biar bersama-sama juga tidak menyenangkan, batin Jessica.

“Jauh lebih menyenangkan bersama Taecyeon-ssi.”

“Jinja?”

“Iya serius!! E-eh.. aku ini bicara apa..” Jessica tersipu malu. Taecyeon kembali tersenyum, kali ini lelaki itu mengangkat gelas berisi wine di tangannya.

“Toast!”

Jessica menatapnya sebentar sebelum akhirnya ikut tersenyum dan mengangkat gelasnya. “Toast!”

Setelah makan malam, Taecyeon mulai melihat-lihat naskah Jessica dan memberikan penilaiannya -yang sebagian besar pujian. Meski bukan berasal dari seorang ahli seni Jessica cukup merasa senang akan hal itu.

“Sebenarnya temanku yang bernama Tiffany lebih hebat lagi..”

“…. Taecyeon-ssi kalau sudah sampai Korea nanti aku kirimkan bukunya ya?”

Di kamar hotel mereka Yuri masih demam, Yuri juga baru sadar jika dirinya sudah hampir menghabiskan lebih dari setengah kotak tissue. Malam sudah larut namun Yuri tak kunjung bisa memejamkan matanya karena Jessica belum pulang. Mengingat betapa cerobohnya Jessica, Yuri jadi lebih mengkhawatirkannya.

Selesai dari restoran Taecyeon mengajak Jessica pindah ke Beer Hall. “Tempat itu sangat terkenal di Munchen. Pernah dengar yang namanya Hoffbroy House, tidak?”

Taecyeon dan Jessica berjalan bersisian dan seperti yang Jessica lihat sebelumnya, pemandangan disini pun di dominasi hiasan-hiasan natal. Melihat pohon natal yang dipajang di depan sebuah pusat perbelanjaan membuat Jessica menghentikan langkah kakinya untuk sejenak. Gadis blonde itu baru sadar jika Chritsmas Eve itu besok. Padahal sebelumnya Jessica sudah berencana menghabiskan Christmas Eve yang romantis bersama Yuri.

“BERISIK!!”

“Tidak usah berteriak seperti itu!! Aku juga mengerti kalau ada aku cuma mengganggu.”

Mestinya semuanya bukan begini…

“Jessica-ssi gwenchana?” Taecyeon menepuk pelan pundak gadis di sebelahnya saat menyadari Jessica melamun.

“Iya.. aku baik-baik saja.”

Dari kejauhan dua pria asing sedang memperhatikan keduanya. Saat keduanya lengah kedua pria itu tak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung mengambil tas Jessica. Jessica tentu saja mempertahankan benda miliknya dengan sekuat tenaga, mereka sempat tarik menarik.

“JESSICA!” Taecyeon menjadikan tubuhnya sebagai penghalang saat salah seorang pria akan menyerang Jessica. Perkelahian pun tak dapat dihindarkan tapi karena kalah jumlah pada akhirnya Taecyeon kalah. Lelaki itu tersungkur setelah mendapat tendangan dan beberapa pukulan di wajahnya. Tubuh Taecyeon menghantam beberapa box kayu sebelum jatuh ke tanah. Jessica berteriak histeris.

“Taecyeon-ssi ireona!!”

Kedua pencopet itu mulai berlari namun seseorang kembali menghalangi mereka. Untungnya kedua pencopet itu kali ini berhasil dilumpuhkan.

“Yuri…”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica duduk di tepian kasur sambil menangis sementara Yuri berlutut di hadapannya. “Aku benar-benar takut.. kalau saja Taecyeon tidak menolongku aku pasti sudah terbunuh.”

“Lalu isi tasmu apa ada yang hilang?” Yuri bertanya padanya. Jessica mengecek isi tasnya sambil masih terisak. Hidungnya juga memerah karena terlalu banyak menangis.

“Dompet, ponsel, pasport… semuanya ada.”

“Sica.. naskahnya?”

Jessica tersadar, benar juga, naskah itu bagaimana Jessica bisa lupa? Naskah yang sudah susah payah Jessica kerjakan bahkan di saat liburan sekalipun. Bagaimana kalau sampai hilang?

“Waktu itu kamu benar-benar bawa kertas naskah kan?” Yuri kembali bertanya padanya. Jessica masih berpikir keras.

“Pasti di bawa pencopet itu!” panik Jessica. “Bagaimana ini Yul? Tamatlah riwayatku..” tangisan Jessica semakin keras.

“Payah kamu.. itu akibatnya terlena main dengan laki-laki.” Yuri menggelengkan kepalanya. Jessica menghentikan tangisnya lantas menatap Yuri dengan pandangan kesal dan kecewa. Bagaimana bisa Yuri berkata seenteng itu?

“Maaf saja, soalnya aku tidak berminat pada lukisan-lukisan.. sampai jumpa.”

“…..terlena main dengan laki-laki.”

“BERISIK!!”

“Bersantai-santailah.”

“Ja..hat..”

Yuri bahkan tidak sadar jika sikapnya selama inilah yang membuat Jessica begitu. Yuri sama sekali tidak meladeninya. Yuri sama sekali tidak lembut. Yuri sama sekali tidak mengatakan apa-apa.

“Kamu yang membuatku berbuat begitu kan?!”

….. karena Yuri membuat Jessica merasa kesepian dan… merasa tidak diinginkan.

“Y-yuri.. apa selama ini kamu benar mencintaiku?”

“S-sica..” Yuri berusaha menjelaskan namun Jessica terlanjur mendorong tubuhnya.

“Keluar!!”

“Aku tak bisa bersamamu lagi!!” Jessica terduduk di lantai dan menangis keras. Gejolak perasaan yang saat itu mereka rasakan membuat dada keduanya serasa sesak dan sulit bernafas. Yuri berbalik dan pergi, jika memang Jessica menginginkannya pergi maka itu yang akan Yuri lakukan.

Sosok Yuri terlihat buram karena saat terakhir Jessica melihatnya, air mata gadis blonde itu tak berhenti mengalir. Yuri benar-benar pergi meninggalkannya, tanpa pembelaan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Malam itu Yuri berdiri di pinggiran sungai sambil terus berpikir. Seingatnya, kedua pencopet yang dihajarnya melarikan diri tanpa membawa apa-apa. Jessica yang masih termenung lantas mendengar bel kamarnya di tekan, Jessica bergegas membuka pintu karena mengira itu Yuri.

“Taecyeon-ssi?” dugannya salah. Orang itu Taecyeon. Setelah kejadian tadi lelaki itu memang langsung kembali ke kamarnya. Jessica jadi tidak sempat berterimakasih. Sebagai balas budi, Jessica berinisiatif untuk mengobati luka-lukanya. Dengan perlahan gadis itu menuntun Taecyeon ke kamarnya lalu mendudukannya di kursi. Taecyeon baru sadar jika Jessica sendirian di kamar itu, gadis tanned yang selalu bersamanya tidak ada di manapun. Mata Taecyeon lantas beralih pada kertas-kertas kosong di atas meja, sepertinya Jessica sedang membuat naskah saat Taecyeon datang karena penanya juga ada di samping kertas-kertas kosong tersebut.

Tunggu dulu! Pena!

“Mestinya kalau obat oles aku bawa.” gumam Jessica sambil memilah isi tasnya. Namun gerakannya terhenti saat Taecyeon memegang tangannya.

“Jessica..”

“T-taecyeon?” Posisi ini, sama seperti waktu di museum waktu itu. Jessica jadi gugup, meskipun dia baru putus dengan Yuri hal seperti ini tentu saja tak bisa dibenarkan.

“Tolong tusuk aku.”

“Eh?”

“Dengan pena ini.” Taecyeon tersenyum sambil mengangkat pena gambar Jessica dengan tangannya.

“Tolong Jessica-ssi seperti waktu itu. Aku tidak bisa melupakan rasanya sewaktu tertusuk pena ini.” ucap Taecyeon sambil terus memaksa Jessica memegang pena tersebut dengan kedua tangannya.
“Tusuk lebih keras lagi.. berkali-kali..”

“Tolonglah Jessica-ssi!” Taecyeon terus memaksanya sementara Jessica tidak menemukan cara untuk lari dari cengkraman Taecyeon. Siapa sangka jika lelaki bertubuh kekar ini… seorang maniak. Jelas-jelas dia ini ‘sakit’.

“Jessica malam ini adalah ratuku.. ayo perlakukan aku sesukamu!”

“Shireo!!!”

“Apa yang kau lakukan?!” Yuri tiba-tiba menarik kerah baju Taecyeon lalu memukulinya. Setelahnya gadis tanned itu melemparkan Taecyeon keluar. Taecyeon yang sudah babak belur masih terbaring di luar kamar keduanya sambil tertawa kecil dan bergumam.

“Aigoo.. menyenangkan.”

“Kembalilah ke kamarmu sendiri!” Yuri berteriak dan membanting pintunya.

“G-gomawo.” Jessica berkata pada Yuri yang berdiri di depannya. Gadis blonde itu menunduk dan memainkan jari-jarinya. Jessica pikir, mungkin saja Yuri kembali karena gadis tanned itu sudah merenungkan semuanya.

“Sica..”

“Ne?”

“Hari ini kamu makan dimana?”

“Apa?!”

“Kamu makan dimana dengan laki-laki itu?”

“Nama restorannya ‘Haag’..”

“Oke, aku sudah tau.”

“Apa maksudmu sudah tau.. Yuri?”

Yuri sudah pergi sebelum Jessica bertanya lebih jauh. Yuri memang orang terandom yang pernah Jessica kenal.

“Apa-apan orang itu. Untuk apa dia kembali?!” karena kesal Jessica memutuskan untuk menendang tempat sampah di sudut ruangan, membuat isinya berhamburan kemana-mana.

“Eh? Ini… obat flu..”

“Tissue tissue ini..”

Kwon Yuri…

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi-paginya Jessica terbangun masih tanpa kehadiran Yuri. Jessica menghela nafas beratnya sampai matanya menangkap sesuatu yang sangat familiar di bawah pintu. Amplop naskahnya, terdapat tulisan tangan Yuri juga di luar amplop itu.

‘Tertinggal di restoran..’

“Sica kamu itu kenapa sih? Jika selesai makan pasti ada yang tertinggal.”

Jessica lantas memeluk naskah itu di dadanya. Si bodoh Kwon Yuri itu pasti menghabiskan waktu semalaman untuk mencari ini.

Di Vesthall -tempat Tiffany bagi-bagi tanda tangan fansnya sudah mengantri sejak lama. Selain tanda tangan panitia juga membagikan petasan cracker yang akan dibunyikan selesai acara.

“Selamat siang.. siapa namanya?”

“Jessica.” Tiffany yang sedang menandatangani bukunya mendongakkan kepala untuk memastikan. Ternyata gadis ini benar-benar Jessica sahabatnya, dengan penampilan yang begitu berantakan. Matanya sembab seperti sudah menangis semalaman. Tiffany langsung tau jika ada sesuatu yang tidak beres.

“Aku putus dengan Yuri..” jelasnya seolah bisa membaca pikiran Tiffany.

“Dia tidak akan kembali… bagaimana ini Fany-ah?” Jessica menangis putus asa. Untuk kali ini Jessica rela membuang semua rasa gengsinya untuk Yuri. Kalau saja Yuri ada disini.

Tunggu dulu! Chritsmas  Eve!

“Acaranya dari jam satu.. kalau kamu mau, datanglah bersama Jessie..”

“Lihat-lihat saja pun ngga apa-apa kok! Mau ya?”

Tiffany mengambil microphone lalu berdiri. Semoga saja cara ini berhasil.

“Kwon Yuri..” Tiffany mulai berbicara dengan pengeras suara di tangannya.

“Sekarang ini disini ada anak yang bodoh dan egois… tetapi..”

“Sebenarnya dia jujur dan manis… sekarang ini sahabatku yang itu datang disini!”

“Dia bilang ingin ketemu kamu sekali lagi!!”

“Kalau dengar.. tolong bunyikan petasan crackernya!!” Tiffany melihat ke sekeliling dengan gusar saat bunyi yang di tunggu-tunggunya tak kunjung terdengar. Jessica menundukkan kepala seraya mengepalkan kedua telapak tangannya.

“Sudahlah Fany..” pasrah Jessica.

“Tunggu sebentar!!” Tiffany belum menyerah.

Jessica menghela nafasnya bersamaan dengan cairan bening yang meluncur bebas di kedua pipinya. Bila nyatanya mereka berdua sudah tak mungkin, apa yang bisa Jessica perbuat? Tiffany menatap iba sahabatnya.

“Aku yang bodoh..”

“….aku tidak sadar pada sesuatu yang penting. Yang kurang dalam hubungan kami itu bukan kebaikan hati Yuri, tetapi kebaikan hatiku..”

TAARRR!!

Jessica dan Tiffany sama-sama menoleh ke sumber suara. Yuri muncul dari balik kerumunan orang-orang sambil tersenyum. Jessica berlari kearah gadis tanned itu lantas memeluknya dengan begitu erat.

“Yuri-ah.. mianhe..” kata Jessica tulus. Yuri mengangukkan kepalanya lalu menempelkan keningnya dengan Jessica. Melihat sahabatnya yang telah kembali hidup Tiffany berinisiatif memeriahkan suasana dengan menyalakan petasan cracker di tangannya. Fansnya melakukan hal yang sama.

Yuri dan Jessica saling pandang saat ribuan potongan kertas warna-warni berterbangan di sekeliling mereka. Semuanya terasa sempurna, apalagi saat mereka bersama. Yuri mendekatkan wajahnya, mengecup lembut bibir merah muda Jessica.

“Sebenarnya kalian tidak perlu melakukannya disini.. sungguh!” Tiffany menutup matanya sementara Yuri segera melepaskan ciumannya lalu tersenyum canggung ke arah Tiffany. Sementara Jessica sibuk menyembunyikan parasnya yang memerah dalam pelukan Yuri.

“Maaf terlambat.. sebenarnya tadi itu petasannya rusak.”

“Sudah tidak kupikirkan.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica dan Yuri akhirnya memutuskan untuk menghabiskan Chritsmas Eve di kamar hotel. Keduanya melihat pemandangan Munchen malam hari melalui balkon. Jessica berdiri di belakang pagar sementara Yuri memeluknya dari belakang.

“Meskipun perapian, makan malam maupun lilin, kue dan wine tak ada.. tetapi ini Chritsmas Eve yang indah ya?”

“Hmm.. aku suka..”

“Apa?”

“Sica..” kata Yuri malu-malu.

“Aku juga suka.. Yuri yang begini.”

Di lain tempat…

“Tiffany…”

“Tidak Taecyeon…hal seperti ini..”

“Ayolah.. tusuk aku lagi.”

“Aku tidak mau laki-laki seperti ini… huaaaaaa T.T”

Pada akhirnya,sesampainya di Korea Jessica baru sadar jika mereka -dirinya dan Yuri- tidak punya selembar pun foto berdua.
“Bagaimana ini? Padahal sudah susah-susah pergi ke Jerman.”

“Itu kan bukan masalah besar Sica.”

Demikianlah perjalanan yang agak lain ke Jerman.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END