Waktu (PoemFic)

Tittle : Waktu
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance, Angst
Lenght : Ficlet
Cast : Jessica Jung and Kwon Yuri

Waktu
.
.
.
.
.

Melogika-kan-logika
Sekuat ku mencoba, hati tak bisa berdusta
Apa aku harus tertawa?
Jika nyatanya batin ini terluka

Jiwa ini merana
Karena rasanya sakit
Rasanya masih sakit
Jika waktu bisa menyembuhkan segalanya
Kapankah saat itu kan tiba?

LA, USA

4 PM

Kota yang dijuluki Angeltown itu kembali diguyur hujan. Sudah beberapa kali ramalan cuaca yang dibawakan stacy setiap pukul 8 pagi meleset. Hari ini misalnya, hari yang diramalkan cerah nyatanya diguyur hujan lebat sejak 2 jam lalu. Tentu acara tersebut kembali akan mendapat kritikan, bahkan mungkin akan lebih banyak dari apa yang mereka dapat sebelumnya. Bagaimanapun cuaca itu penuh dengan ketidakpastian seperti hidup. Detik ini cerah detik berikutnya hujan turun, detik ini bahagia detik berikutnya menangis pilu berurai airmata.

Yuri menatap keluar, menembus jendela yang buram karena permukaannya berembun. Di luar orang-orang berjalan dengan langkah tergesa, dengan payung-payung yang mengembang. Seorang anak kecil sengaja menginjak genangan air dengan sepatu boots merahnya, membuat air menciprati hoodienya yang hampir menyentuh tanah. Anak itu lantas tertawa, Yuri masih bergeming. Kapan terakhir dirinya tertawa selepas itu?

“Aku merindukanmu.” Kata pertama yang Jessica keluarkan sukses membuat Yuri menoleh padanya, walau hanya sesaat. Gadis tanned itu memang tak sendiri. Sudah 30 menit mereka duduk di meja yang sama namun tanpa suara. Hening. Hanya aroma dari cappucino pesanan Jessica yang menyadarkan Yuri jika dirinya tak benar-benar sendiri. Bahwa Jessica benar-benar ada di hadapannya. Nyata, bukan ilusi seperti yang Yuri alami di tahun-tahun pertama perpisahan mereka.

Jessica yang kini ada di hadapannya nyata, mungkin bisa Yuri sentuh dengan jemarinya. Jessica yang ada di hadapannya nyata, mungkin genggamannya akan terasa hangat namun Yuri enggan mencoba melakukan hal yang mungkin dapat membuatnya kembali terluka. Yuri menelan salivanya, berikut semua rasa yang tak mampu terlisankan lidahnya yang kelu. Pada akhirnya Yuri hanya menganggukkan kepala menanggapi pernyataan Jessica.

“Maafkan aku.” Jessica kembali berucap dengan airmata yang mengenang di sudut matanya. Berharap Yuri mau balas menatapnya. Menatap Jessica dengan mata teduh yang begitu dirindunya. Jessica tau mungkin keinginannya terdengar begitu egois mengingat dirinya yang sudah menghancurkan Yuri berkali-kali. Namun, salahkan jika Jessica berharap gadis yang kini duduk di hadapannya menyisakan rasa itu? Salahkah jika Jessica berharap gadis itu masih menyisakan ruang dihatinya? Karena Jessica telah menyadari. Melepas Yuri adalah kesalahan, kesalahan yang selalu disesalinya hingga kini.

“Kembalilah padaku Yuri..”

Selama lima tahun terakhir Jessica terus mencari keberadaan Yuri walau dengan langkah tertatih dan hati yang berdarah-darah. Dihadapan Yuri kini, Jessica melepas semua topengnya. Inilah Jessica yang sebenarnya. Jessica yang rapuh setelah Yuri menyerah akan dirinya, Jessica yang berjalan sendirian di lorong gelap setelah Yuri tak lagi menerangi jalannya, Jessica yang menginginkan Yuri kembali walau gadis itu harus berlutut di kedua lututnya dan membuang semua harga dirinya.

“Saranghae.” Inilah Jessica Jung yang mencintai seorang Kwon Yuri.

Yuri masih menundukkan kepalanya. Hal-hal menjadi lebih rumit dari apa yang pernah terbayang di kepalanya. Semua gejolak perasaan di dada membuatnya merasa terjepit, sesak dan sakit. Mungkin jika Jessica mengatakan hal ini beberapa tahun yang lalu Yuri akan segera berlari padanya tanpa berpikir dua kali atau bahkan tanpa berpikir sama sekali… tapi itu dulu. Lima tahun telah berlalu, selama itu banyak hal yang telah berubah.

“Mianhe Jessica.. aku sudah tidak bisa.” tegas Yuri saat pandangan mereka bertemu. Gadis tanned itu memberanikan diri menyuarakan apa yang beberapa menit lalu tertahan di ujung lidahnya. Menyakiti Jessica adalah hal terakhir yang ingin Yuri lakukan tapi saat hal-hal berubah di luar kendalinya Yuri tak bisa berbuat banyak. Walau hatinya serasa di remas inilah keputusan Yuri. Gadis itu harus melakukannya atau akan lebih banyak hati tak berdosa yang akan tersakiti. Cukup dirinya.

“Permisi.” Yuri berdiri dan membungkukkan tubuhnya. Sementara Jessica masih memandang punggung Yuri dengan airmata yang meluruh di kedua pipinya.

Jika waktu bisa menyembuhkan segala
Bisakah ku kembali ke saat itu
Dimana luka belum ada
Dimana rasa percaya masih ada
Dimana aku masih bisa memandangmu dengan cara yang
sama?
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

You and I (Chapter 10)

Tittle : You and I
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Gender Bender, Drama
Lenght : Chapter
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri, and Other Cast

Chapter 10
.
.
.
.
.
-Jesselicious Syndrom-

Yuri meloncat dari pagar tembok yang memisahkan taman dan bagian dalan istana yang dilarang dimasuki publik. Tempat itu memang sangat rahasia karena merupakan kediaman pribadi Raja dan keluarganya. Tembok yang dibangun disana pun tingginya tidak main-main, sekitar 5m, namun tentu saja Yuri sudah jauh dari ahli untuk memanjatnya. Namja berkulit kecoklatan tersebut pun bisa mendarat dengan mulus. Sayangnya suara gemerisik yang Yuri timbulkan menarik perhatian salah seorang prajurit berseragam yang berjaga disana.

Prajurit bersenjata lengkap itu dengan sigap berlari ke sumber suara. Setelah memastikan tidak ada satupun hal yang mencurigakan lelaki itu kembali berjaga di posnya semula. Sementara itu Yuri yang tengkurap di balik semak-semak menghela nafas lega.

“Hampir saja…”

Hyoyeon dan Nicole menikmati malam mereka dengan menonton konser GG band sementara yang Yoona lakukan adalah terus mengurung diri dikamar seraya bergelung dibalik selimut tebal kesayangannya. Namja itu merasa sakit, bukan sakit demam atau flu tapi sakit yang sangat parah. Bukan, Yoona bukan mengidap kanker stadium 4 atau semacamnya…. dia hanya sakit, entahlah bagaimana menjelaskannya tapi Yoona menduga dirinya terkena penyakit jenis baru yang dinamakan Jesseliciuos Syndrom. Suatu Syndrom yang bisa meneyebabkan penderitanya melihat Jesse dimana-mana. Sungguh, Yoona tidak berbohong soal itu karena semua orang yang ditemuinya pagi ini mendadak terlihat seperti Jesse. Antrian mengular siswa di laundry mendadak terlihat seperti Jesse -dimata Yoona. Selain itu, anak-anak klub renang yang sedang berlatih mendadak terlihat seperti Jesse, bahkan Goo Ssaem yang galak saja mendadak terlihat seperti Jesse.

Kemarin saat Yoona dan klub sepak bolanya bertanding juga..

“Ya!!!! Im Yoona!!” Minho -sang kapten- berteriak padanya. Laki-laki jangkung itu mengacak rambutnya kesal. Padahal sebentar lagi bolanya masuk tapi apa yang dilakukan Yoona selanjutnya membuat Minho tak habis pikir. Yoona menendang bola ke pinggir lapangan, membuang kesempatan emas didepan mata.

Minho masih meruntuki Yoona bahkan setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan sementara namja bermata rusa yang dimaksud masih berdiri bak orang linglung. Bagaimana bisa wajah penjaga gawang tersebut tiba-tiba terlihat seperti Jesse? Kalau seperti ini Yoona jadi tak sampai hati untuk memasukan bola ke gawangnya.

“Permisi! Layanan kamar!” suara seseorang membuyarkan lamunan Yoona.

“Masuk.” balas Yoona. Tak lama kemudian Jesse masuk dan tersenyum padanya.

“Saya datang untuk mengambil sampah.” pria itu lantas berjalan ketempat Yoona biasa meletakkan tempat sampahnya. Dengan modal pengalaman bertahun-tahun tak sampai satu menit kamar Yoona sudah bersih. Sambil memandangi Jesse yang telah menghilang di balik pintu, Yoona kembali merebahkan dirinya sambil memandangi langit-langit kamar.

“God… apa yang terjadi padaku?” sebahaya itukah Jesselicious Syndrom? Sampai-sampai petugas kebersihan yang sudah renta saja bisa terlihat begitu menggemaskan dimata Yoona -seperti Jesse.

“O-oppa..” gugup Nicole saat Hyoyeon mendekatkan wajahnya. Jantung gadis berparas manis itu berdebar cepat, apakah yang akan terjadi setelah ini sama seperti yang sering Nicole tonton dalam drama? Tapi, bagaimana ini? Nicole belum siap, ini kan baru kencan pertama mereka -itupun kalau Hyoyeon berpikiran seperti itu.

“Tunggu sebentar..” kata Hyoyeon lembut, Nicole refleks memejamkan matanya.

“Ada bulu mata di pipimu..”

Sooyoung sedang memperhatikan beberapa pasang sepatu yang dipajang di rak dengan serius sampai lelaki jangkung itu merasakan ada seseorang yang menarik ujung jaketnya.

“Youngie oppa!! Kebetulan kita bertemu disini.. ini pasti yang namanya takdir.”

Mengetahui siapa yang telah merusak ketenangannya Sooyoung pun mendengus kesal. “Apa yang kau inginkan?” tanyanya ketus.

“Oppa ayo kita kencan..”

“MWO?!”

Yuri turun dari bis dan memutuskan untuk melanjutkan kembali ke SHS dengan berjalan kaki. Yuri memasukan kedua tangan ke saku hoodienya sambil menendang-nendang kaleng minuman yang ditemukannya di pinggir jalan. Namja itu lantas berhenti sebentar sambil memandang TV plasma di perempatan jalan. Malam ini semua orang diistana merayakan ulang tahun raja dengan meriah, rakyat Korea juga ikut berbahagia untuk keluarga kerajaan. Ya, keluarga kerjaaan kecuali dirinya.

“Yang mulia.. apa anda sudah melihat hadiah dariku?” Yuri mendongakkan kepalanya seolah berbicara pada langit, namun pada kenyataannya Yuri membayangkan saat ini dirinya sedang berbicara pada sang ayah.

“Aku harap anda menyukainya..” Yuri tersenyum lalu menarik nafas dalam-dalam. Ya, Yuri sangat berharap Raja menyukai hadiah darinya, hadiah yang sudah Yuri selundupkan dengan susah payah.

“Selamat ulang tahun Yang Mulia.. aku menyanyangimu.”

Lampu kamarnya memang sudah dimatikan tapi Jessica masih duduk di pinggiran kasur sambil memandangi pintu kamarnya yang tak kunjung terbuka. Jessica menghela nafas lalu kembali melirik jam di ponselnya, tengah malam, tapi Yuri belum juga kembali. Laki-laki itu bahkan tak mengatakan kemana dia akan pergi dan tak juga membalas satupun pesan yang Jessica kirim. Kwon Yuri, membuat orang khawatir saja.

Yuri kembali melanjutkan langkahnya, kali ini dengan segala keisengannya Yuri sengaja menendang kaleng bekas minuman itu dengan keras dan sialnya kaleng itu mengenai kepala seseorang.

“YA! SIAPA ORANG BODOH YANG TELAH MENENDANG KALENG SIALAN INI?”

Yuri berlari kecil untuk menghampiri korbannya. “Jeongmal mianheyo…”

“Kwon Yuri!”

“Choi Junhong!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Permisi.. permisi..” Jessica berkata sambil berusaha melihat jalan dari celah tumpukan buku di tangannya. Menjadi murid baru di tengah semester tentu bukan hal mudah, Jessica harus mengejar ketertinggalannya di semester lalu. Hal itu pula yang menyebabkannya harus meminjam bertumpuk-tumpuk buku dari perpustakaan.

“Jesse..” Yoona berteriak padanya. Jessica yang sedang kesulitan membawa tumpukan buku pun berhenti melangkah. Yoona lantas mengambil alih buku-buku itu dari tangan Jesse dan membawanya tanpa kesulitan.

“Gomawo..” ucap Jessica tulus. Yoona menganggukkan kepalanya sambil balas tersenyum. Sikap Yoona padanya akhir-akhir ini memang berubah 180 derajat, namja itu menjadi baik bahkan mungkin terlalu baik.

“Kalau kau kesulitan dengan pelajaran-pelajaran itu, aku bisa membantumu. Kau sudah dengar rumor kan kalau aku ini jenius? Sebagai informasi saja, hal itu memang benar..” Yoona yang merasa geli  akankata-katanya sendiri itupun lantas tertawa dengan tawa alligatornya, membuat Jessica juga ikut tertawa.

“Sekali lagi terimakasih..”

“Hmmm…”

~~~~~~~~~~~~~~~~

“Selamat pagi Miss..” sapa YoonHyoSyoo dan Jesse saat mereka berpapasan dengan Miss Hyorin.

“Good afternoon, have a nice weekend kids.” Miss Hyorin menjawab suara seksinya, mata Sooyoung dan Hyoyeon terus mengikuti pergerakan guru seksi tersebut sampai sosoknya menghilang dari pandangan.

“….hyung kalian berdua mesum sekali.” protes Yoona pada Sooyoung dan Hyoyeon sementara keduanya malah cengengesan tidak jelas.

“Jangan salahkan kami..” kata Sooyoung.

“Miss Hyorin itu terlalu seksi untuk diabaikan..” lanjut Hyoyeon, setelahnya keduanya berhigh five ria, sementara Yoona menggelengkan kepalanya dan Jessica tertawa kecil.

“Aku serius Kwon Yuri!” Eunjung membulatkan kedua matanya. Adakah hal yang lebih melelahkan daripada mengingatkan seorang Kwon Yuri? Kepala Eunjung rasanya sudah hampir meledak menghadapi muridnya yang satu ini.

Masalah yang Yuri lakukan kali ini adalah, kemarin dia sengaja tidak pulang ke asrama, tentu saja hal itu membuat Eunjung geram. Padahal Yuri sudah berjanji akan menjalani sisa-sisa hidupnya di SHS dalam damai.

“Anak ini! Kau tau seberapa besar keinginanku untuk menghajarmu saat ini?”

“Aku tau Ssaem, aku juga menyayangimu..” Yuri malah tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.

“KWON YURI!!!!!”

“Kemana anak itu?” Hyoyeon bergumam sambil meletakkan ponselnya di atas meja, sudah beberapa kali namja itu mencoba menghubungi Yuri tapi panggilannya terus dialihkan ke pesan suara.

“Jesse apa kau sudah bertemu anak itu?” Kali ini Sooyoung mengalihkan perhatiannya pada Jesse. Laki-laki bertubuh mungil yang sibuk memainkan makanan di piringnya.

“Aniyo.. semalam dia tidak pulang, tadi pagi aku juga belum melihatnya.”

“Jangan khawatir.. paling-paling Yul Hyung sedang dimarahi Ham Ssaem di ruangannya.” Yoona mengusap punggung namja -yang sebenarnya yeoja- mungil tersebut.

“Apa boleh buat, sepertinya Yuri tidak akan ikut kita ke Yoochiri..” ujar Sooyoung disela kunyahannya.

“Hyung kau ini jorok sekali..” protes Yoona saat sebagian nasi yang ada di mulut Sooyoung berterbangan ke wajahnya.

~~~~~~~~~~~~~~~

Jesse cs sedang berada di dalam mobil yang berjalan menuju Yoochiri. Sooyoung menyetir sementara Hyoyeon duduk di sebelahnya.

Yoona dan Jesse duduk di barisan kedua sementara barisan paling belakang di huni tiga makluk aneh SHS yang juga memaksa ikut dalam perjalanan ini. Siapa lagi kalau bukan Kibum dan duo Jonghyuns.

“Itu karena kami juga mau melihat wanita-wanita berbikini disana.” ujar Kim Jonghyun dengan wajah mesumnya. Yoona mendelik kesal, sepertinya satu-satunya siswa SHS yang berpikiran jernih cuma dirinya. Walau dia sempat beberapa kali berkhayal untuk mandi bersama dengan Jesse tapi- Yaaa!! Apa yang kau pikirkan Im Yoona? Sadarlah!! Yoona memukul-mukul kepalanya frustasi dan membuat Jessica yang duduk di sebelahnya keheranan.

Di kursi depan Hyoyeon dan Sooyoung terlibat adu mulut karena Sooyoung memaksa berhenti ketika melihat sebuah restoran namun Hyoyeon tak mengijinkannya.

“Aku lapar!!”

“Bukan berarti kita harus berhenti di setiap restoran yang kita lewati! Haruskah aku menutup matamu?!”

Jessica menghela nafas dan menyenderkan kepalanya di jendela, memperhatikan mobil-mobil yang berkelebatan di pandangannya. Entah kenapa Jessica merasa beberapa hari ini Yuri selalu menghindarinya. Mungkinkah itu juga alasan kenapa Yuri memilih untuk tidak ikut ke Yoochiri?

Tapi kenapa Yuri harus menghindarinya? Apa Jessica sudah melakukan kesalahan?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yuri duduk sambil memutar ponsel di atas meja belajarnya. Ada satu hal yang seminggu ini terus mengusiknya, semakin Yuri berusaha mengeyahkan rasanya semakin sulit. Padahal Yuri sudah melakukan berbagai cara, mulai dari push up, sit up dengan satu tangan sampai berenang. Hal itu juga yang membuatnya memilih untuk menghindari Jesse dan memutuskan untuk tidak ikut ke Yoochiri seperti yang biasa di lakukannya.

Di liburan seperti ini sebenarnya banyak yang bisa Yuri lakukan di Yoochiri dibanding mengurung diri di kamar. Biasanya mereka akan memetik stroberi di kebun milik nenek Sooyoung, setelahnya ikut mencukur bulu domba di peternakan, malam harinya mereka akan melakukan Chi-Maek yaitu makan ayam sambil minum bir. Selain itu mereka juga akan main paintball dan siapa yang kalah harus berlari mengelilingi pantai tanpa mengenakan baju -cuma memakai celana renang maksudnya.

Tunggu!! Paintball? Yuri membulatkan matanya, seperti tersadar. Kenapa namja itu sampai lupa jika ada hal seperti itu?

GAWAT!!

Jesse dan yang lainnya sudah berdiri di tengah kebun stroberi milik nenek Choi. Mereka siap dengan gunting dan keranjang, nenek Choi bilang siapapun yang bisa memetik stroberi paling banyak dan paling bagus akan mendapat hadiah. Semuanya tampak semangat kecuali Sooyoung, mata namja jangkung itu berbinar melihat buah storberi merah matang yang menunggu masuk ke dalam perutnya, Sooyoung tidak peduli dengan hadiah atau apapun itu.

“Jesse-ya buka mulutmu!” Yoona tersenyum dan menyodorkan sebuah stroberi matang di depan mulut Jesse. Jesse membuka mulutnya dan memakan stroberi pemberian Yoona.

“Manis..” ucapnya tersenyum. Yoona berbalik, menjauh lalu memegangi jantungnya yang kembali berdebar cepat. Sementara itu dari kejauhan Hyoyeon tertawa melihat Sooyoung yang dimarahi neneknya. Duo Jonghyuns sibuk menggoda beberapa wanita yang ada di sana sementara Kibum sibuk berselfie dan mengupload fotonya ke sosial media.

Malam harinya Sooyoung tidak ikut makan malam karena perutnya sakit akibat kebanyakan makan stroberi. Jesse masih memandangi ponselnya, dia baru saja mengirim pesan pada Yuri dan berharap namja itu akan membalasnya.

“Hyung!” Yoona berdiri dengan semangat lalu berlari menghampiri Yuri yang baru datang. Yeah, pada akhirnya Yuri memutuskan untuk ikut liburan disini. Jessica mendongakkan kepalanya dan membuat pandangan mereka bertemu. Yuri tersenyum sekilas sebelum mengelus rambut Yoona yang masih bergelayut manja di lengannya.

“Aku senang hyung ada di sini.” ucapnya.

Jessica menundukkan kepalanya, parasnya tiba-tiba memanas saat Yuri tersenyum padanya. “Aku juga senang kau ada disini… Yul.” suara itu hanya cukup untuk di dengarnya sendiri.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Selesai makan malam Jessica duduk di ayunan belakang rumah nenek Choi sambil memandangi langit malam. Sudah hampir 3 bulan Jessica melarikan diri dari rumah, selama itu pula tak ada seorangpun suruhan sang ayah yang mengetahui keberadaannya. Entahlah itu hal baik atau hal buruk tapi yang pasti Jessica mensyukuri kehidupan tenang yang dimilikinya saat ini.

Pikirannya masih melayang sampai Jessica merasakan seseorang duduk di sebelahnya. “Untukmu.” Yoona tersenyum sambil menaruh sebotol banana milk di telapak tangan Jesse.

“Gomawo.”

“Yoong-“

“Jesse-“

Keduanya berkata bersamaan, tapi karena Yoong seorang gentleman maka laki-laki bermata rusa itu mempersilahkan Jesse bicara duluan.

“A-apa kau pernah menyukai seseorang?” Jesse menatap Yoona tepat di kedua bola matanya, membuat Yoona gugup. Tiba-tiba saja merasa sedang di interogasi.

“I-itu… n-ne.” jawab Yoona sambil mengalihkan pandangannya. Berusaha menyembunyikan wajah matangnya.

“Bagaimana rasanya?” tanya Jesse lagi. Yoona menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab sambil tersenyum.

“Jika kau menyukai seseorang maka kau akan merasa ingin selalu dekat dengannya, jika dia jauh rasanya seperti ada yang hilang, kau ingin dia hanya melihat hal-hal baik darimu tapi justru itulah yang membuatmu berakhir seperti orang konyol, kau ingin waktu berhenti saat melihat senyumnya, jantungmu akan berdebar keras walau hanya mendengar suaranya.. dan hal-hal semacam itu..” Yoona menggaruk belakang kepalanya. Jujur saja apa yang Yoona katakan saat ini adalah apa yang tengah dirasakannya.

Yoona menatap Jessica yang masih berpikir keras. “Kenapa? Apa kau sedang menyukai seseorang?”

Jessica segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum canggung. “A-aniya.. aku cuma ingin tau saja.”

“Baiklah! Kajja kita masuk ke dalam, udara di luar dingin sekali.” Yoona menarik tangan Jesse dan mendorong punggunya.

“Persiapkan dirimu untuk acara besok.” Yoona tersenyum evil dan membuat Jessica kebingungan.

“Acara apa?”

“Pertandingan paintball!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi-pagi sekali Jesse dan yang lain sudah berada di peternakan. Matahari bahkan belum terbit tapi mereka sudah di paksa lari pagi, sebagai persiapan untuk mencukur bulu domba. Sebenarnya memang tidak ada hubungannya, itu hanya alasan nenek Choi saja karena menurutnya anak muda harus banyak bergerak. Mungkin itu juga alasannya kenapa di usianya yang telah menginjak kepala enam nenek Choi tetap terlihat bugar. Tidak ada yang berani protes tentunya, mereka pasrah, bahkan Kibum saja yang masih memakai piyama pink serta masker kecantikannya -seperti biasa- terpaksa ikut.

Biasanya domba-domba disini dicukur setiap dua bulan sekali. Bulu-bulu mereka sangat lebat dan terawat, biasanya setelah di bersihkan dan disortir bulu-bulu ini akan di ekspor ke luar negeri.

Jesse sebenarnya takut pada domba tapi karena ada Yuri di sampingnya gadis itu mencoba memberanikan diri. Itu semua karena Yuri bilang akan baik-baik saja. Dari kejauhan Yoona yang melihat keakraban Jesse dan Yuri jadi merasa ada sesuatu yang menyumbat kerongkongannya serta membuat dadanya sesak.

“Aarggghhhh!!” Sooyoung berteriak dan membuat Yoona tersadar.

“Hyung.. apa yang terjadi?” heran Yoona saat melihat Sooyoung meringkuk di tanah sambil meletakkan tangan di selangkangannya. Yoona tidak tau jika Sooyoung baru saja mendapat jackpot. Domba yang sedang di cukurnya menyeruduk bagian sensitif Sooyoung dengan kepalanya.

“Yoong!! Pegangi dombanya dengan benar..” Hyoyeon berkata sambil menahan tawanya sementara Sooyoung masih meringis kesakitan.

“Kawan itu pasti sakit sekali.” ujar Lee Jonghyun ikut prihatin. Sementara Kim Jonghyun sedang berlari, berusaha menangkap domba yang mengejar Kibum. Mungkin karena warna pakainnya yang terlalu mencolok domba yang ingin Kibum cukur berpikir jika baju yang dikenakan namja itu adalah sejenis makanan.

Sepertinya cuma Jesse dan Yuri yang melakukan tugas dengan benar pagi ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~

“Siapapun yang bisa mengambil bendera di puncak itu adalah pemenangnya!” Hyoyeon berkata dengan semangat berkobar di kedua matanya. Jesse menelan ludahnya dengan susah payah. Dia gugup, bagaimana tidak jika peraturannya seperti itu? Selain ini pertama kalinya dia main paintball hukuman bagi yang kalah pun membuat lututnya lemas. Harus membuka baju? Tamatlah riwayatnya.

Sooyoung yang masih merasa ngilu di bawah mengangkat tangannya untuk bertanya. Sebagai informasi saja, Sooyoung masih menolak berbicara dengan Yoona karena kejadian tadi pagi.

“Tidak Syoo.. tidak boleh ada yang mengundurkan diri! Mengundurkan diri artinya kalah dan harus tetap menjalani hukuman.” ucap Hyoyeon.

“Ingat ini adalah pertandingan individu, tidak ada kawan.. yang perlu kalian lakukan hanya menyelamatkan diri kalian sendiri. Kita berpencar sekarang.” Dengan itu semua mulai berpencar.

Hal pertama yang ada di pikiran Jessica adalah mencari tempat sembunyi yang aman.

Sooyoung sedang berdiri di balik tiang saat Kibum menembak ke arahnya. Tembakan Kibum meleset dan membuat laki-laki itu berdecak kesal, tanpa pikir panjang Sooyoung balas menembak dan mengenai sasaran.

“Kibum out!!” Sooyoung tertawa penuh kemenangan sambil mengacung-acungkan senjatanya. Namun perayaan Sooyoung tak berlangsung lama karena beberapa saat setelahnya namja itu tertembak, tepat di bagian sensitifnya -lagi. Sooyoung tersungkur.

“Im Yoona!! Awas kau!!”

“Maaf hyung aku tidak sengaja!!” Yoona segera berlari sebelum Sooyoung menggantungnya di menara Namsan.

Yuri yang sedang berjalan menghentikan langkahnya begitu merasa ada yang mengikutinya. Namja itu berbalik dan menemukan duo Jonghyuns yang telah mengepungnya, keduanya tersenyum evil. Mereka bermaksud menembak Yuri namun Yuri bergerak lebih cepat dan mendahului keduanya.

“Jonghyuns out!!”

“Sial ini salahmu!”

“Salahmu!”

Siapapun tau Yuri adalah pemain paintball yang hebat walau Hyoyeon masih lebih hebat darinya. Murid-murid SHS bahkan menjuluki Hyoyeon sebagai God of Paintball. Berbicara soal Hyoyeon, Yuri harus segera mengalahkannya lalu mengambil bendera dan mengakhiri pertandingan.

Jessica memberanikan diri keluar dari tempat persembunyiannya namun sedetik kemudian ada seseorang yang memegang bahunya.
“Y-yuri?”

“Ambil bendera di puncak itu, aku akan melindungimu.” Yuri tersenyum dan mendorong punggungnya.

Jessica berjalan menaiki tangga, sementara dari kejauhan Hyoyeon sedang membidiknya. Yoona yang tanpa sengaja melihat hal itu langsung berlari ke arah Jesse, menjadikan tubuhnya sebagai tameng. Peluru yang di lesatkan Hyoyeon pun mengenai punggungnya.

“Yoona out!!”

“Yoong!”

“Gwenchana J-jesse.. asal kau baik-baik saja aku tidak apa-apa.” ucap Yoona berlebihan. Walau hanya menyelamatkan Jesse dari sebuah paintball Yoona merasa sangat bangga, merasa seperti sudah menyelamatkan sebuah galaksi. Yuri yang melihat hal itu segera mengarahkan pelurunya ke arah Hyoyeon.

“Ah sial!” kesal Hyoyeon sambil berusaha menghindari peluru-peluru Yuri sekaligus berusaha membalas. Seperti yang di duga sebelumnya duel antara keduanya berlangsung alot, walau pada akhirnya kali ini Hyoyeon harus rela mengakui keunggulan Yuri.

“Hyoyeon out!!” teriak Yuri. Bersamaan dengan itu Jessica mengangkat bendera kemenangannya tinggi-tinggi.

Setelah itu sesuai perjanjian sebelumnya, Sooyoung, Yoona, Hyoyeon, Kibum dan duo Jonghyuns menjalani hukuman mereka. Keenamnya berlari di pantai hanya mengenakan celana renang sementara Jessica dan Yuri mengawasi mereka dari kejauhan sambil menikmati sunset.

“Fighting!!” Jessica berteriak sambil melambaikan tangannya. Melihat Jesse yang tersenyum begitu lepas Yuri pun ikut tersenyum.

“Kyeopta~” ucap Yuri sambil mengelus rambut Jesse dengan tangan kanannya. Jessica langsung terdiam sambil menundukkan kepalanya. Merasakan jantungnya yang berdebar keras, untuk sesaat dia pun berharap waktu berhenti berputar dan ingin rasanya Jessica meminta pada Tuhan agar selalu membuatnya sedekat ini dengan Yuri.

~~~~~~~~~~~~~~~~

“Apa? Sekarang pangeran Taeyeon dimana?”

“Tiffany sedang membawa pangeran ke kamarnya.” ucap Wooyoung -salah satu tim pengawal Taeyeon. Jinsu membulatkan matanya seraya mengusap tengkuknya dengan gusar.

Pasalnya Taeyeon baru saja menjamu tamu dari kerajaan Jepang, di tengah perjamuan tadi sang pangeran juga diminta minum sake. Taeyeon yang sebenarnya tidak punya toleransi yang baik terhadap alkohol pun memaksakan dirinya untuk minum demi menghormati sang tamu. Masalahnya adalah jika Taeyeon mabuk dia akan melakukan hal-hal diluar akal sehat.

Jinsu berjalan tergesa menyusuri lorong menuju kamar Taeyeon, berharap apa yang di pikirkannya takkan benar-benar terjadi.

“Aku gerah.” Taeyeon yang sedang di papah Tiffany tiba-tiba berhenti berjalan lalu membuka blazernya. Setelah melempar blazernya sembarangan Taeyeon lantas melonggarkan kerah kemejanya.

“Ini lebih baik.” ucapnya sambil tertawa dengan pandangan sayu. Tiffany menggelengkan kepalanya seraya memungut blazer Taeyeon di lantai. Baru kali ini Tiffany melihat Taeyeon lepas kontrol seperti ini.

Selesai memungut blazer Taeyeon, Tiffany kembali meletakkan tangan kanan Taeyeon di bahunya. Taeyeon yang sedang mabuk seperti ini benar-benar membuat orang lain kerepotan saja. Bagaimana tidak jika Taeyeon terus tertawa, bernyanyi dan tak henti-hentinya menggumamkan sesuatu yang tak jelas di telinga Tiffany.

“Aku suka padamu…” ucapan Taeyeon yang selanjutnya membuat Tiffany berhenti melangkah. Tiffany menoleh dan mendapati Taeyeon yang tengah tersenyum padanya.

“Aku mau poppo~” lanjut Taeyeon sambil memanyunkan bibirnya. Hal yang selanjutnya Taeyeon lakukan justru membuat jantung Tiffany melompat dari dadanya. Taeyeon mencium Tiffany.. tepat di bibirnya.

Jinsu yang melihat kejadian itu hanya bisa menepuk jidatnya sendiri, dia terlambat. “Tuan.. kenapa kau harus berubah menjadi monster cium saat kau mabuk.” desahnya frustasi. Tiffany memang bukan korban Taeyeon yang pertama, hampir semua orang pernah menjadi korban Taeyeon, termasuk Jinsu.

“Yeah.. oneshot!” Jesse menghabiskan segelas bir dalam sekali teguk dan membuat teman-temannya bersorak kagum.

“Aku juga tidak mau kalah!” ucap Yoona berapi-api. Yuri yang duduk di samping Jesse hanya tersenyum melihat tingkah teman-temannya. Malam yang indah seperti itu memang paling cocok di habiskan sambil makan ayam dan minum bir. Inilah apa yang dinamakan dengan Chi-Maek time.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“YA! SIAPA ORANG BODOH YANG TELAH MENENDANG KALENG SIALAN INI?”

Yuri berlari kecil untuk menghampiri korbannya. “Jeongmal mianheyo…”

“Kwon Yuri!”

“Choi Junhong!”

Yuri terkejut ternyata orang itu teman lamanya. Rekan kerjanya di Restoran Onew tapi sudah mengundurkan diri.

“Ya! Sudah kubilang untuk memanggilku Zelo! Z.E.L.O!”

“Baiklah Zelo.. si peretas komputer terbaik di Korea.”

“Kau tau saja kawan, sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu? Apa kau masih bekerja di restoran Onew ahjussi?”

“Aku baik, yeah.. memangnya apa lagi yang bisa kulakukan selain menjadi pengantar ayam. Kau terlihat semakin hebat Junhong.”

“Biasa saja, kita sudah lama tidak bertemu. Kajja! Aku akan mentraktirmu minum. Aku juga punya rahasia yang ingin kuceritakan padamu..”

“Rahasia apa?”

“Tentang salah satu murid di sekolahmu, kau pasti akan terkejut jika mengetahuinya..”
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>TBC

Ada yg masih butthurt kah? Tenang saya juga sama, mungkin itu juga alesannya sebagian sone memutuskan utk keluar fandom dan sebagian author memutuskan untuk berhenti. Ga ada yg salah sih sebenarnya, lagian hidup itu pilihan..
Ada yg milih pergi ada yg memilih bertahan, kalo aku sih -sampai sekarng- belum kepikiran buat berhenti nulis so yeah.. begitulah.
Walopun Sica udh bukan member SNSD lagi tp di hati sone SNSD itu ttep 9, iya gak? Begitupun di hati RS Yulsic is Real X’D #mojoksambildengerinDivine

Destiny (Oneshot/YulSic)

Tittle : Destiny
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance, Angst
Lenght : Oneshot
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri and Other Cast

Inspired by The Nuts’ MV

Destiny
.
.
.
.
.

Di kantor jasa pengiriman, para karyawannya sedang menikmati makan siang mereka.

“Paket untuk Jungs Florist lagi.” Hyoyeon berseru supaya kata-katanya sampai di telinga Yuri. Benar saja begitu mendengar kata ‘Jung Florist’ Yuri langsung menegakkan tubuhnya bagai serdadu yang siap berangkat ke medan perang. Gadis tanned itu memang akan berperang, perang cinta lebih tepatnya.

“B-biar aku yang mengantarnya!” sudah tentu Yuri langsung menawarkan dirinya suka rela. Kesempatan emas seperti ini memang tak boleh disia-siakan.

“Semua milikmu Yul.” Hyoyeon tersenyum jahil sambil menyerahkan kotak paket yang harus Yuri antar.

“Gomawo Hyo!” Yuri menerima paket itu dengan senyuman lebar. Beberapa rekan kerjanya terkekeh geli melihat gadis yang sedang jatuh cinta tersebut.

“Unnie fighting!!” Yoona memberinya semangat, sebenarnya semua memberinya semangat kecuali satu orang, Choi Sooyoung.

“Syoo jangan makan jjangmyun milikku!” Yuri memperingatinya. Sooyoung memanyunkan bibirnya karena tertangkap basah.

“Kenapa dia bisa tau?”

Yuri memakai helm lalu mengendarai motornya dengan senyum yang masih mengembang. Pemicunya hanya satu, Jessica Jung. Gadis pemilik toko bunga yang akan segera di temuinya. Jessica sebenarnya teman masa kecil Yuri dan Yuri sudah menyukainya sejak lama. Hanya saja gadis tanned itu tak pernah benar-benar punya keberanian untuk menyatakan perasaannya -sampai saat ini.

Bagaimana jika Jessica sudah punya pacar? Bagaimana jika dia tidak suka pada Yuri? Bagaimana jika Yuri ditolak? Bagaimana jika ini… Bagaimana jika itu.. Terlalu banyak bagaimana jika yang pada akhirnya membuat nyali Yuri menciut. Oleh karena itu Yuri hanya bisa mendekati Jessica dengan cara tidak langsung, misalnya seperti mengantar paket seperti ini. Karena berbicara beberapa menit saja dengan Jessica bisa membuat Yuri sangat bahagia sampai rasanya jantungnya ingin melompat keluar.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica mendongakkan kepalanya saat bel di pintu tokonya berdenting, menandakan ada yang datang. Jessica tersenyum saat Yuri membawa sekotak paket di tangannya.

“Ada kiriman lagi.. untukmu.” Yuri tersenyum manis sambil meletakkan kotak besar itu di meja kerja Jessica. Sesaat kemudian gadis tanned itu merogoh kertas tanda terima dari saku jaketnya yang harus Jessica tanda tangani.

“Ini..”

“Ah iya.” Yuri menerima kertas yang sudah Jessica tanda tangani dan memasukan kertas itu kembali ke saku jaketnya.

Setelah urusannya selesai Yuri tak lantas pergi, gadis tanned itu masih menikmati pemandangan di toko bunga milik Jessica. Semuanya tampak baru namun ada satu yang lebih menarik perhatian Yuri. Satu tanaman lebih tepatnya.

Tanaman itu baru tumbuh, tingginya mungkin hanya 2cm. Yuri menunduk agar pandangannya lebih jelas. Mungkin gadis tanned itu memang bukan seorang ahli tanaman atau sejenisnya tapi Yuri benar-benar baru melihat bunga seperti itu.

“Ige mwoya?” Yuri menunjuk bunga itu dengan ekspressi bingung, membuat Jessica tertawa kecil karenanya.

“Itu bukan bunga.”

“Lalu?”

“Sawi.”

“Untuk apa kau menanam sawi?” Yuri bertanya karena begitu penasaran tapi Jessica hanya mengangkat bahunya sekilas dan menjawab pertanyaan Yuri dengan senyuman. Karena senyuman Jessica begitu manis Yuri jadi merasa wajahnya memanas.

Yuri menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum bodoh. Pada dasarnya orang memang cenderung akan bersikap aneh dan bodoh saat mereka gugup. “Begitu ya..”

“Baiklah aku pergi dulu..”

“Ne..”

“Pekerjaanku masih banyak.” Yuri tertawa walau dia tak tahu hal apa yang ditertawakannya. Jessica -yang bermaksud mengantar Yuri sampai pintu depan- berjalan disisi gadis tanned itu sambil menundukkan kepalanya.

“Aku tau kau sibuk.” jawabnya.

“A-aku akan pergi sekarang.” Yuri berkata seperti itu tapi kakinya tak mau beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.

“Sampai jumpa.”

“Aku pergi.”

“Baiklah.”

“Aku benar-benar akan pergi.”

“Hati-hati.”

Keduanya tersenyum canggung, Yuri melangkahkan kakinya menjauh sebelum akhirnya gadis tanned itu berbalik lagi.

“Jessica sabtu malam nanti kencanlah denganku!”

“Ne?”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ajakan kencan Yuri sama sekali tidak romantis memang dan tanpa perencanaan. Meski begitu rekan-rekan kerjanya salut pada Yuri karena gadis tanned itu sudah selangkah lebih maju.

Sabtu malam, Jessica sibuk memilih dress yang akan dikenakannya. Tidak pernah sebelumnya Jessica merasa se-stress ini soal penampilan. Kwon Yuri benar-benar merubahnya menjadi orang lain, entah kenapa Jessica merasa dirinya harus tampil cantik di hadapan Yuri.

Di kencan pertama mereka Yuri mengajak Jessica menikmati pemandangan di pinggiran sungai Han. Awalnya semua masih terasa canggung, Jessica senang pergi bersama Yuri, hanya saja dia masih merasa malu. Semakin malam udara semakin dingin, saat itu Yuri menggenggan tangan Jessica untuk pertama kalinya.

“Sudah lebih hangat?”

“N-ne.”

Di kencan pertama itu pula Yuri meminta seorang pelukis jalanan untuk melukis mereka berdua. Jessica awalnya ragu karena sang pelukis memintanya untuk duduk bersebelahan dengan Yuri, Jessica khawatir Yuri bisa mendengar gemuruh jantungnya.

“Yuri-ah tapi..”

“Kenapa? Kau tidak mau dilukis bersamaku..” Yuri tertunduk sedih dan membuat Jessica merasa bersalah. Pada akhirnya Jessica memutuskan untuk menuruti keinginan Yuri, hanya sebuah lukisan takkan sakit bukan?

Mereka sudah duduk bersebelahan namun si pelukis tak juga berkarya. Lelaki paruh baya itu tampak berpikir keras sampai-sampai kedua alis tebalnya saling bertautan.

“Wae geurae?”

“Sepertinya ada yang kurang.”

“Apa?” Yuri dan Jessica memandangi penampilan mereka masing-masing. Si pelukis berjalan kearah keduanya lantas melingkarkan tangan Yuri di pinggang Jessica dan menyuruh Jessica menyadarkan kepalanya di pundak Yuri.

“B-begini?” tanya Yuri ragu, sementara Jessica tak berkata apa-apa. Namun parasnya yang matang lebih dari cukup untuk menggambarkan perasaannya saat ini.

“Ini sempurna.” ucap si pelukis bangga. “Aku selalu suka romansa anak muda.”

Kencan pertama itu membuka jalan untuk kencan kedua, ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Rasa canggung yang dulu menyelimuti keduanya sudah tidak begitu terasa, meski begitu debaran di jantung keduanya serasa makin hari makin kuat. Mungkin pertanda jika perasaan mereka untuk satu sama lain semakin kuat dan dalam.

Di kencan mereka yang keenam Yuri memberanikan diri untuk menyatakan perasannya sekaligus meminta Jessica menjadi kekasihnya. Lagi-lagi moment penting seperti itu berawal dari ketidak sengajaan. Kala itu heels sepatu Jessica lepas, karena tidak membawa sandal cadangan Yuri memutuskan untuk menggendong Jessica sampai rumah dan terjadilah proses penembakan yang sangat tidak romantis tersebut.

“Jessica saranghae.. jadilah pacarku.”

Yuri menunggu jawaban Jessica dengan nafas tercekat seolah kehidupannya tergantung pada hal itu. Jessica yang saat itu masih berada di punggung Yuri belum bersuara sedikitpun, bahkan suara nafasnya saja tak terdengar. Yuri berpikir mungkin Jessica belum siap atau selama ini gadis itu tak pernah memiliki perasaan yang sama seperti Yuri. Yuri berusaha tegar walau hatinya serasa tersayat, di saat gadis tanned itu hampir kehilangan harapan Jessica justru memberikan jawaban dengan cara tak terduga.

Jessica mengeratkan pelukannya di leher Yuri.

Memang kata-kata itulah yang ingin di dengarnya dari mulut Yuri selama ini. Jessica begitu bahagia mengetahui cintanya tak bertepuk sebelah tangan, karena terlalu bahagia Jessica jadi tidak tau harus memberikan tanggapan seperti apa.

“Nado saranghae Kwon Yuri… aku mau jadi kekasihmu.”

“Gomawo Sica-ah.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Apa kita perlu membeli ini juga sayang?” Yuri bertanya sambil mengangkat sebotol banana milk. “Yoona sangat menyukai ini.” lanjutnya.

Jessica tersenyum dan mengelus rambut Yuri. “Beli saja.. jangan lupa pesanan Sooyoung juga.”

“Arraseo.”

Malam natal ini salju juga turun. Jessica sengaja mengadakan pesta kecil-kecilan di rumahnya untuk menyambut Christmas eve, Christmas eve pertama yang dirayakannya bersama Yuri setelah mereka resmi. Beberapa teman dekat Jessica dan Yuri sudah menunggu mereka dirumah.

Selesai dari lorong minuman Jessica mengajak Yuri ke lorong sayur  dan daging. Jika dilihat keduanya seperti pengantin baru saja, dengan Yuri yang mendorong kereta belanjaan dan Jessica yang serius mencari barang-barang yang dicatat di daftar belanja.

Selesai belanja, keduanya keluar dari supermarket sambil membawa dua kantong belanjaan besar. Sebenarnya yang membawa belanjaan itu Yuri, sementara Jessica bertugas memegang payung untuk menghalau salju yang ingin menghujani keduanya.

“Chankanman!” kata Jessica tiba-tiba.

“Huh? Wae?” heran Yuri. Bukannya menjawab Jessica justru merapikan syal Yuri dan lebih merapatkan mantel gadis tanned itu.

“Begini lebih baik.” katanya sambil tersenyum.

“Gomawo.” ucap Yuri malu-malu.

Waktu yang biasa di tempuh dari aprtemen Jessica ke supermarket ini 30 menit menggunakan bis. Namun sepertinya kali ini membutuhkan waktu lebih lama karena lalu lintas yang sangat padat. Orang-orang pasti ingin segera sampai dan menghabiskan malam natal mereka di rumah bersama keluarga.

“Aku lupa!!” Yuri memekik kaget dan membuat Jessica menoleh padanya.

“Ada apa?”

“Aku baru ingat kalau persediaan soju di rumah sudah habis. Sica tunggu disini arra? Aku akan kembali ke tempat tadi dan membelinya dulu.” Yuri sudah berlari menyebrangi jalan bahkan sebelum Jessica sempat memberikan respon. Jessica akhirnya tidak punya pilihan selain menunggu Yuri di halte sampai kekasihnya kembali.

Saat itu di halte cuma ada Jessica sendiri bersama dua kantong besar belanjaannya. Sesaat kemudian seorang wanita dengan penampilan mencolok -seperti seorang peramal- duduk di sampingnya. Wanita misterius tersebut memainkan kartu yang biasa digunakan untuk meramal. Jessica berusaha mengabaikan wanita aneh tersebut dan menggeser duduknya.

Wanita itu nampak tak terpengaruh dan tetap mengocok kartu di tangannya. Jessica sempat mencuri pandang saat wanita tersebut mengeluarkan kartu kematian dan memandang lurus ke arah sesuatu atau lebih tepatnya seseorang. Jessica mengikuti arah pandangnya dan menemukan Yuri yang sedang berdiri di pinggir jalan. Gadis tanned membawa kantung plastik berisi beberapa botol soju di tangannya. Yuri tersenyum dan Jessica balas tersenyum padanya namun hal itu tak berlangsung lama. Tepat saat Yuri menyebrang jalan sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hampir menabraknya. Untung saja Yuri masih bisa menghindar.

Jessica membulatkan matanya karena syok. Hampir saja Jessica menyaksikan Yuri tertabrak di depan matanya. Sesaat Jessica mencuri pandang ke arah peramal misterius tadi namun Jessica sudah tidak bisa menemukannya di manapun. Wanita misterius itu bagai hilang tertiup angin.

Jessica berusaha mengabaikan fakta itu karena ada hal yang lebih penting saat ini. Yuri-nya. Tepat saat gadis tanned itu sampai di hadapannya Jessica langsung memeluknya dengan begitu erat.

“Tidak apa-apa sayang, aku baik-baik saja.” Yuri berkata sambil mengelus rambut pirang kekasihnya, menenangkannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Seperti yang diperkirakan sebelumnya, walau peristiwa di malam natal tersebut sudah berlalu selama berminggu-minggu namun Jessica tak dapat melupakannya begitu saja. Bukankah terlalu aneh untuk sebuah kebetulan? Mungkinkah wanita misterius itu berusaha memberitahukan sesuatu padanya?

Seperti malam-malam sebelumnya, Jessica masih menyendiri di balon kamar sambil memeluk lututnya. Perasaannya selalu tak menentu, rasa cemasnya pada Yuri seakan semakin hari semakin memuncak, tak jarang Jessica takkan bisa terlelap jika Yuri belum menghubunginya. Jessica takkan bisa tenang sebelum mendengar sendiri suara kekasihnya dan memastikan jika gadis hitam menyebalkan yang dicintainya itu baik-baik saja. Jujur saja Jessica tidak tau apa yang akan dilakukannya jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Yuri.  Apa yang akan dilakukannya jika Yuri tak disampingnya lagi. Jessica tidak tau dan tak pernah mau membayangkan hal itu.

Jessica mendongakkan kepalanya begitu merasakan sesuatu menutupi tubuh kecilnya. Selimut. Yuri datang dan menyelimutinya.

“Aku sangat khawatir padamu jadi malam ini aku memutuskan untuk menginap.” Yuri tersenyum padanya. Bukannya menjawab Jessica malah memandangi wajah Yuri lama.

“Sica? Ada apa?” Yuri kembali bertanya saat menyadari sikap aneh Jessica.

“Aniyo.” Jessica lalu menggelengkan kepalanya dan memeluk pinggang Yuri. “Aku hanya merindukanmu.”

“Jadi begitu  ya… aku juga merindukanmu sayang, sangat.” Yuri menjawab seraya balas memeluk Jessica dan mengecup puncak kepalanya.

“Saranghae..” Jessica berusaha bicara seraya menahan airmata yang mendesak ingin keluar dari pelupuk matanya. Gadis blonde benar-benar tidak mau kehilangan Yuri.

“Nado saranghae..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Wuaahhh.. bagus sekali! Cincin siapa itu?” kagum Sooyoung, Yuri segera menyembunyikan cincin itu saat Sooyoung mencuri pandang dari balik punggungnya. Suara cemprengnya juga mampu menarik perhatian yang lain.

“Semuanya! Kalian takkan percaya dengan apa yang akan kukatakan.. Kwon Yuri akan melamar Jessica Jung!!”

“Jinja?”

“Yul aku salut padamu kawan!”

“Unnie selamat..”

Berbagai ucapan di terimanya dan Yuri hanya bisa menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum malu sebagai jawaban.

“T-tapi sebenarnya aku gugup.. bagaimana kalau Jessica tidak menerimaku?”

“Kau bercanda Yul? Aku yakin 100- ah bukan tapi 101% jika Jessica akan menerima lamaranmu bahkan tanpa berpikir.” yakin Hyoyeon dan mendapat anggukkan persetujuan dari yang lain.

“Lagipula.. jika Jessica menolakmu aku akan lebih siap menerimamu ahahaha..”

“Aku tidak suka padamu Syoo.”

Jessica menunggu di depan toko bunga sambil sesekali bercermin. Hari ini Yuri kembali mengajaknya kencan. Jessica tampil cantik, dia memang cantik hanya saja penampilannya kali ini sedikit berbeda, Jessica memakai head band warna pink di rambutnya yang biasa dibiarkan terurai. Itu semua karena kemarin Yuri mengatakan jika dia suka gadis yang imut.

Yuri menyusuri jalanan seoul dengan motor kesayangannya. Yuri yang sedang melaju dengan kecepatan sedang langsung berhenti saat melihat anak kecil yang terjatuh di pinggir jalan. Sepertinya anak kecil tersebut terpisah dengan orang tuanya dan tersenggol penyebrang jalan yang lain. Yuri juga heran kenapa tidak ada satupun oramg yang berniat menolong anak itu.

Cepat-cepat Yuri turun dari motornya dan berlari ke arah anak kecil tersebut namun saat sampai di sana ternyata tidak ada siapapun di tempat itu. Sebelum Yuri menyadari semuanya sebuah mobil terlanjur menghantam tubuhnya dan membuatnya terlempar. Helm yang dikenakannya sampai terlempar saking kerasnya tabrakan itu. Yuri merasakan cairan kental keluar dari mulut dan hidungnya. Semuanya terasa ringan dan tempat di sekelilingnya tiba-tiba begitu terang..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saat matahari menyinari wajahnya Yuri membuka matanya perlahan dan menemukan sedang berada di kamar Jessica. Gadis tanned itu bangkit perlahan berusaha mencari keberadaan pemilik kamar. Seakan punya pemikiran sendiri, kakinya berjalan ke balkon, tempat favorit Jessica.

Jessica ada, tapi bukan di tempat biasa, gadis blonde itu ada di halaman depan bersama lima orang lelaki yang memaksakanya masuk mobil. Kelima lelaki yang sama sekari tak Yuri kenal.

“Sica!!” Yuri berteriak sekuat tenaga, Jessica menoleh dan membuat pandangan mereka bertemu. Yuri berlari ketempat Jessica dengan kaki terpincang, gadis tanned itu tidak ingat sudah berapa lama dia tertidur, Yuri juga tidak tau kenapa seluruh anggota tubuhnya jadi sulit digerakkan.

“Sica kajima!” Yuri sudah berdiri di depan pintu, Jessica berusaha menghampiri Yuri tapi gerakannya terhenti saat dua lelaki memegangi tangannga sementara dua orang lelaki lainnya menahan Yuri.

Yuri menangis sambil berusaha menggapai Jessica, gadis blonde itu juga menangis namun dia tak bisa berbuat apapun, karena takdir telah menentukan semuanya.

“Ya!!Lepaskan!!Jangan bawa Sica-ku!! Sica.. jangan pergi!!” Yuri berusaha berontak tapi gerakannya terhenti setelah seorang lelaki yang tersisa menghampirinya dan meletakkan telapak tangannya di atas dada Yuri, tepat di atas jantungnya.

“Yuri!!”Jessica berusaha memanggil Yuri yang mendadak membisu. Namun satu hal yang Jessica yakini, airmata yang mengalir di pipi gadis tanned itu untuknya, Yuri menangis untuknya.

Dokter menggelengkan kepalanya pasrah karena saat ini sudah tak ada lagi yang bisa mereka lakukan.

“Waktu kematian…09.45″

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Lutut Jessica serasa lemas setelah mendengar apa yang menimpa kekasihnya. Airmatanya mengalir tanpa Jessica sadari, akhirnya apa yang ditakutkannya selama ini benar-benar terjadi. Dokter mengatakan kondisi Yuri sangat parah, bahkan jantung gadis  tanned itu sudah berhenti berdetak saat mereka sampai di rumah sakit.

Jessica melipat telapak tangannya dan memejamkan matanya. Gadis blonde itu meminta dengan sungguh-sungguh. Jessica sangat mencintai Yuri, tidak diragukan lagi.

“Nona Kwon koma.. saat ini hanya keajaiban yang bisa membawanya kembali.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Dokter pasien di kamar 512 sudah sadar.”

“Yul.. welcome back.” Sooyoung tersenyum dan memeluk sahabatnya, begitupula yang dilakukan Hyoyeon dan Yoona. Mereka senang akhirnya Yuri bisa bangun setelah tertidur hampir setahun.

“Gomawo..” Yuri tersenyum lemah, matanya menelusuri sudut ruangan untuk mencari keberadaan seseorang.

“Sica dimana?”

“Yul lebih baik kau istirahat sekarang..” sela Hyukjun sambil mencoba membantu Yuri berbaring namun Yuri menolak.

“Aku baru saja bangun.. oppa aku cuma ingin tau dimana keberadaan kekasihku.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yuri duduk di depan televisi dengan mata berkaca-kaca.

“Yuri-ah.. ini sudah hari keseratus, aku sangat sedih melihatmu seperti ini. Kau harus cepat bangun ne? Karena aku sangat menyayangimu.”

“Kau jadi kelihatan lebih kurus sekarang. Oh, ya aku sudah belajar memasak, saat kau bangun nanti aku akan memasakan makanan kesukaanmu dan kau bisa makan sepuasnya.”

“Malam ini bintangnya banyak sekali, kau harus bangun dan melihatnya bersamaku.”

“Aku menyanyangimu.. kau tau kan? Aku sangat merindukanmu Yul jadi malam ini aku akan tidur sambil memelukmu.”

“Cincin ini.. Sooyoung bilang kau ingin memberikannya padaku. Aku suka Yul, hanya saja aku punya permintaan untukmu. Jika aku tidak bisa memakainya kuharap kau akan memberikannya pada orang lain.”

Tak terasa air mata Yuri mengalir. Itu adalah video pesan yang sengaja Jessica rekam untuknya. Jessica membuat video itu saat Yuri masih terbaring koma. Selama setahun Yuri di rumah sakit, selama itu pula Jessica selalu ada di sampingnya.

Yuri merasa begitu bodoh karena tidak bisa melakukan hal yang sama. Tidak bisa ada di sisi Jessica saat gadis blonde itu sangat membutuhkan kehadirannya. Yuri merasa begitu bodoh karena telah membuat Jessica berkorban banyak untuknya, untuk mereka. Tapi satu yang paling membuat Yuri menyesal adalah karena Yuri tidak bisa berada di sisi Jessica saat terakhirnya, juga tak bisa mengatakan seberapa besar rasa cintanya untuk gadis itu. Bagaimanapun apa yang Yuri lakukan selama ini rasanya belum cukup.

“Jessica mengidap kanker dan dia meninggal di hari dimana kau siuman dari komamu.”

“Jeongmal saranghae Jessica Jung.. jeongmal saranghae.”

“Tolong.. tolong selamatkan Yuri, aku bahkan rela memberikan nyawaku untuknya.”
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Kemaren ada salah satu reader yg komen gini ‘ Kenapa ga sica’a aje yang di bikin matiii perasaan yuri mulu yang bekorbann’
Nah, karena saya baik *MujiDiriSendiri* jd dibikinin deh yg sicanya berkorban wkwk.. tuh Zora udh dibikinin yah XD

Oke kalo ada yg mendadak ngerasa mistis sama ff ini emg mv nya gtu suerr.. agak2 mistis gmna haha :D
Semoga ga pada bingung lagi.. ciaooooo.. nite~

Drabble #18 (YulSic)

Drabble #18

“Sica senyumlah..” Yuri memasang puppy eyes andalannya namun tak mempan. Jessica tak bergeming.

“Ayolah baby.. jangan marah lagi.”

“Shut up Kwon!!” Jessica mendelik sebal. Yuri langsung menutup mulutnya, bagaimanapun gadis tanned itu tau Jessica hanya akan menggunakan bahasa inggris padanya saat dia benar-benar di puncak kemarahannya -yang artinya sekarang.

Jessica bernafas lega saat Yuri berhenti bicara. Gadis blonde itu pikir Yuri takkan menganggunya lagi tapi ternyata dugannya salah. Yuri malah memeluknya dari belakang dan membuat Jessica sulit bergerak.

“Kwon Yuri lepaskan!!”

“Tidak mau.. Sicababy harus memaafkan seobang dulu.” manja Yuri sambil meniup-niup daun telinga Jessica.

“Ya!! Jangan lakukan itu kau bodoh.” Jessica bergidik ngeri saat semua bulu kuduknya berdiri. Damn this black monkey! Dia memang paling tau bagian-bagian sensitif Jessica.

“Bilang saja kau suka.” Yuri semakin menggodanya.

Jessica bersumpah jika saja dia tidak mencintai si hitam ini, Jessica sudah melempar piring-piring yang dicucinya ke muka Yuri dari tadi.

“Aku tau otakmu tidak bisa dipakai tapi demi tuhan.. setidaknya kedua tanganmu masih berfungsi dengan baik, kan? Bisakah kau membantuku?” ucap Jessica sambil menunjuk setumpuk piring bersih yang menunggu di keringkan.

Karena sedari tadi Yuri tidak melakukan apapun -selain memandanginya- tentu saja Jessica kesal. Padahal seharusnya Yuri lah yang paling bertanggung jawab. Jika saja Yuri tidak memaksa Jessica untuk menemaninya makan diluar tengah malam begini, dan jika saja Yuri tidak cukup bodoh untuk tidak lupa membawa dompet tentu mereka takkan berakhir disini. Menjadi pencuci piring dadakan di kedai pinggir jalan.

Jessica bersyukur mereka melakukan penyamaran sempurna, setidaknya gadis blonde itu tau esok hari media pemberitaan Korea takkan heboh dengan semacam headline berjudul ‘Dua member SNSD mencuci piring karena tak sanggup bayar makanan’ atau ‘Karena harga BBM naik Yuri dan Jessica SNSD beralih menjadi tukang cuci piring untuk menyambung hidup’.

“Siap kapten!” Yuri menjawab sambil memberikan hormat layaknya prajurit yang akan ditugaskan ke medan perang.

“…tapi baby tidakkah menurutmu kita sangat romantis?” Yuri menaik turunkan alisnya. Mereka memang romantis, malam-malam dingin begini saat semua orang tertidur diatas kasur yang empuk dan hangat mereka malah mencuci piring bersama, bahkan memakai sarung tangan dengan warna senada -sarung tangan couple.

“Romantis kepalamu Kwon Yuri aku-” ucapan Jessica terhenti begitu merasakan sesuatu yang lembut mendarat di bibirnya. Yuri menciumnya di tempat umum, kenyataan itu membuat mata Jessica membulat.

“Ya!! Apa kau gila?”

“Iya.. karenamu.” bukannya takut Yuri malah menggunakan kesempatan tersebut untuk menggombali kekasihnya.

“Kwon Yuri.. you know what? I hate you!”

“I know baby.. I love you too.”

“Arrghhhh.. siapapun tolong ingatkan aku untuk menghukum monyet sialan ini saat kami sampai di dorm.”

.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Masa Lalu (PoemFic)

Tittle : Masa Lalu
Author : RoyalSoosuantic
Genre : Yuri (girl xgirl), Romance
Lenght : Oneshot
Cast : Jessica Jung, Kwon Yuri, and Other Cast

Masa Lalu
.
.
.
.
.

Aku yang selalu hidup di masa lalu
Terpenjara kenangan manis yang t’lah berlalu
Tanpa kusadari
Dirimu masa depanku

Sambil berjalan Jessica coba merogoh ponsel dalam tas tangannya yang terus berdering. Gadis blonde itu tau benda sialan itu takkan berhenti bersuara sampai Jessica mengangkat teleponnya. Dalam kepalanya sudah terbayang siapa yang menghubunginya. Siang ini matahari terasa menyengat kulit, untung saja Jessica bisa cepat sampai di kafe -tempatnya janjian bersama kliennya- sebelum dirinya benar-benar hangus di luar sana. Udara dingin dari AC di dalam ruangan mendadak menerpa lapisan kulitnya.  Seorang pelayan muda tersenyum menyambutnya, Jessica mengangukkan kepalanya sekilas.

“Reservasi atas nama Jessica Jung.” ucap Jessica tanpa basa-basi. Pelayan itu meminta Jessica berjalan mengikutinya. Jessica menurut tanpa banyak bertanya, keduanya lantas berhenti di depan meja bernomor sembilan yang terletak di dekat jendela. Pelayan itu kembali pergi setelah Jessica mengucapkan terimakasih dan memesan orange juice untuk tenggorokannya yang juga mendadak kemarau.

“Yeobuseyo?” Jessica menjawab teleponnya dengan malas sambil  menyandarkan punggunya di sandaran kursi untuk merilekskan otot-ototnya yang serasa kaku. Pekerjaannya akhir-akhir ini begitu menguras fisik juga psikisnya. Tidak, Jessica bukan tidak menyukai pekerjaannya sebagai weeding planer hanya saja untuk sesaat gadis blonde itu merasa perlu untuk merilekskan dirinya. Jessica butuh ketenangan dan Yuri -yang selalu bersikap sebagai seorang kekasih yang protektif- sama sekali tidak membantu.

“Sica.. apa kau baik-baik saja? Kudengar hari ini kau sakit.. dimana kau sekarang?” Yuri langsung memberondongnya dengan serangkaian pertanyaan yang membuat kepala Jessica semakin berdenyut. Maksud gadis tanned itu baik sebenarnya, hanya saja Jessica selalu tidak suka dengan caranya.

“Bekerja.” jawab Jessica singkat. Sekilas Jessica mendengar Yuri menghela nafas kecewanya di ujung sana. Apa yang gadis tanned itu harapkan? Jessica berbaring di kasur seharian? Tentu saja hal itu takkan terjadi, bukankah pekerjaan Jessica yang menumpuk takkan selesai dengan sendirinya?

“Di kantor?”

“Tidak, aku bertemu klien di luar.”

“Dimana? Apa masih lama? Aku akan menjemputmu..”

“Tidak perlu, aku bukan anak kecil. Lagipula aku baik-baik saja jadi tidak perlu khawatir..”

“Tapi Sica-“

“Sudah ya.” Jessica memutuskan panggilannya tanpa memberi Yuri kesempatan untuk menyelesaikan ucapannya.

Yuri memang selalu bersikap layaknya kekasih yang protektif tapi sebenarnya hubungan mereka tidak seperti itu. Mereka hanya… entahlah.. bagaimana Jessica menjelaskannya, friend with benefit? Keduanya selama ini hanya berjalan dalam koridor aman di bawah garis suram sebuah hubungan. Tak ada kejelasan. Bukan Yuri tak pernah mencoba hanya saja Jessica tak pernah memberinya kesempatan.

Meski Yuri selalu mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan, mencoba mengalihkan kegamangan yang Jessica rasakan tapi pada akhirnya Jessica tetap membisu. Gadis blonde itu hanya tak bisa. Bukankah perasaan itu sesuatu yang tak bisa dipaksakan. Jika pada kenyatannya Jessica masih mengharapkan orang lain, bagaimana bisa dia menerima hati Yuri? Jessica hanya tak bisa membalas perasaan Yuri sama seperti apa yang gadis tanned itu harapkan darinya selama ini.

Jessica kembali melirik jam di pergelangan tangannya. Sebenarnya gadis blonde itu datang 30 menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Direktur Jang bilang klien mereka kali ini merupakan orang penting. Jessica tidak tau siapa tapi mengingat bosnya yang agak berlebihan Jessica rasa siapapun itu pasti memang bukan sekedar orang biasa.

Ting!!

Jessica menoleh saat pintu kafe terbuka, tepat saat itu pandangannya bertemu dengan orang itu. Masa lalunya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Jessica memainkan jarinya sambil menatap embun di pinggiran gelasnya. Diam-diam Jessica merasa beruntung datang lebih dulu karena saat melihat orang ini untuk pertama kalinya -setelah bertahun-tahun- lututnya terasa lemas, mungkin takkan bisa digunakan berdiri jadi Jessica merasa beruntung karena saat itu dia duduk.

“Umm.. jadi apa kabar Sooyeon?”  orang itu bertanya padanya masih dengan senyum kekanakan yang begitu Jessica rindukan. Kulit putihnya, mata bulatnya, satu hal yang Jessica sadari dia, Kim Taeyeon, tak banyak berubah sejak terakhir kali Jessica melihatnya. Kim Taeyeon dengan segala pesonanya masih mampu membuat jantung Jessica berdegup dengan irama tak beraturan. Hanya saja kenapa degupan kali ini rasanya sakit? Seakan sesuatu mendesak ingin keluar dari rongga dadanya.

“Menurutmu?” Jessica balik bertanya padanya dengan nada dingin. Ekspressi Taeyeon berubah, rasa bersalah? Jessica ingin berteriak di depan wajah gadis itu. Dia tak pernah mau di kasihani, tak pernah sekalipun.

“Aku baik-baik saja.” ucap Jessica lagi, kali ini sambil memaksakan sebuah senyuman. Meski begitu Jessica merasa aneh, wajahnya terasa kaku, mungkin jika dia bercermin Jessica yakin takkan mengenali dirinya sendiri saat ini.

“Kalian saling mengenal?” Seohyun yang sedari tadi duduk di sebelah Taeyeon bertanya pada keduanya. Jessica sampai lupa jika sebenarnya mereka tak sendiri. Gadis yang duduk di sebelah mereka bernama Seo Juhyun, putri Menteri Luar Negeri Korea, tunangan Kim Taeyeon. Kejutan bukan?

“Ah.. Ne kami teman SMA.” jawab Taeyeon sambil menggenggam tangan Seohyun.

“Ne.. kami teman SMA.” Jessica menegaskan pernyataan Taeyeon, walau hatinya serasa tercabik, apa yang bisa dia lakukan? Seohyun mengangukkan kepalanya tanda mengerti.

“Baiklah, bisa kita mulai sekarang Jessica-ssi? … karena jadwal Taeyeon unnie masih banyak setelah ini.”

“Ne..”

“Aku dan Taeyeon unnie kesulitan menentukan konsep pernikahan yang seperti apa, jadi kurasa Jessica-ssi bisa membantu kami..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku yang selalu hidup di masa lalu
Terpenjara dalam ruang waktu
Melupakan dirimu
Menginginkan dirinya yang bukan lagi milikku

“Yuri-ah temani aku minum!”

“Sica cukup!!” Yuri berusaha merebut gelas dari tangan Jessica. Jessica berusaha mempertahankkannya tapi karena tenaga Yuri jauh lebih kuat Jessica kalah.

“Kita pulang sekarang.” Yuri berdiri lalu menarik tangan Jessica namun gadis blonde itu tak beranjak sedikitpun. Justru Jessica malah menangis.

“Yuri-ah appo..” kata Jessica sambil menunjuk dadanya. Jessica membayangkan jika dia bertemu lagi dengan Taeyeon mungkin penderitannya akan berakhir, Taeyeon pernah menjanjikan akhir yang bahagia untuknya.. dulu.

“Gwenchana..” Yuri menghapus airmata di pipi Jessica dengan ibu jarinya. Bukan pertama kalinya Jessica menangis untuk Kim Taeyeon dan setiap Jessica menangis sebanyak itu pula Yuri terluka bersamanya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pagi-pagi sekali Jessica mengerang sambil memegang kepalanya yang berdenyut. Untuk sesaat pandangannya masih buram. Semalam Jessica mengajak Yuri minum dan setelahnya gadis blonde itu tak tau lagi. Jessica tau, tidak seharusnya dirinya lepas kontrol seperti semalam.

Saat menginjakkan kakinya di dapur Jessica menemukan Yuri yang tengah memasak sarapan untuk mereka. Gadis blonde itu lantas memeluk Yuri dari belakang. Untuk sesaat menikmati kehangatan Yuri yang begitu dikenalnya. Bukankah seperti ini yang dinamakan friend with benefit?

“Baunya enak.. apa yang kau masak?”

“Bacon dan telur.. aku juga sudah membuatkan susu hangat untukmu.” Yuri tersenyum sambil menunjuk segelas susu cokelat di atas meja. Jessica duduk di kursi lantas meminumnya.

“Makanlah~” Yuri berucap sambil meletakkan piring berisi sarapan di hadapan Jessica. Gadis blonde itu memanyunkan bibirnya.

“Kau ingin aku suapi?” Yuri bertanya, Jessica mengangukkan kepalanya dengan ekspressi menggemaskan. Yuri mengacak rambut gadis blonde itu pelan.

“Ayo buka mulutmu aah~”

“Bagaimana rasanya.”

“Mashita~”

“Tentu saja, itu kan buatanku..”

“Yuri-ah..”

“Hm?”

“Semalam terimakasih.”

“Ne.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sore itu Jessica begitu terkejut saat Taeyeon menunggu di depan kantornya. Gadis pendek itu berdiri di samping mobilnya dan tersenyum lebar begitu melihat Jessica.

“Aku ingin bicara denganmu… berdua.”

Disinilah mereka akhirnya, duduk bersisian di dalam mobil Taeyeon yang di parkir di pantai. Tempat dimana Taeyeon dulu memintanya mengakhiri semua, semua rasa yang pernah ada. Kala itu Taeyeon bahkan tak berbalik untuk sekedar melihat Jessica yang menangis berlutut dan memintanya untuk tetap tinggal. Taeyeon tidak berbalik dan membiarkan Jessica terluka sendiri.

Sejak saat itu Jessica tak pernah datang ke tempat ini lagi, tempat yang mengingatkan Jessica akan kesakitannya. Dan hari ini, di tempat yang sama Taeyeon.. memintanya kembali.

“Aku.. mencintaimu. Sampai sekarang, itu kenyatannya Sooyeon.” airmata meluruh melewati pipi gadis itu. Jessica menatapnya dengan pandangan buram, mungkin jika Jessica berkedip airmatanya pun akan turut tumpah.

“Wae?” Jessica merasakan suaranya serak saat bertanya seperti itu, pertanyaan yang sudah seharusnya dari dulu dia tanyakan. Pertanyaan yang menghantuinya selama beberapa tahun terakhir, pertanyaan yang menjelma menjadi mimpi buruk dalam tidurnya, pertanyaan yang membuat hatinya serasa mati, kenapa Taeyeon meninggalkannya kala itu, kenapa?

Sejauh yang Jessica ingat, hubungannya dengan Taeyeon baik-baik saja. Bahkan jauh lebih dari kata baik, mahasiswa-mahasiswa lain kala itu menjuluki mereka pasangan yang sempurna. King and Queen. Lalu alasan apa yang membuat Taeyeon memilih meninggalkannya? Apa yang membuat Taeyeon memilih untuk menghilang dari dunianya?

“Orangtuaku memintaku untuk menikahi Seohyun. Aku tau aku menghancurkanmu.. aku lemah Sooyeon, aku tau, maafkan aku. Walau beberapa tahun ini aku berusaha mencintainya aku tidak bisa… karena Seohyun bukan dirimu.”

“Kau tau apa yang aku alami selama kau pergi?!” Jessica berteriak padanya. Taeyeon memeluk gadis itu dan membiarkan Jessica memukuli dadanya. Dibanding apa yang telah Jessica rasakan Taeyeon tau apa yang di dapatnya jauh dari cukup, bahkan sangat tidak sebanding.

“Maafkan aku Sooyeon.. mari kita mulai semuanya dari awal lagi.” tidak mendapat respon Taeyeon lantas memutuskan untuk mengecup bibir Jessica. Keduanya menangis dengan sejuta gejolak rasa yang tak mampu terkatakan. Saat merasakan kelembutan Taeyeon yang lama dirindunya Jessica tau jika rasa itu masih ada, masih di tempat yang sama… meski begitu Jessica ragu, apa ini yang diinginkannya?

“Sica.. kau akan pergi?”

“Mianhe Yuri-ah..” Jessica meninggalkan apartemen mereka tanpa berbalik lagi. Jessica tau dia akan berubah lemah saat menatap wajah Yuri.

Yuri menangis sambil menatap punggung Jessica yang menjauh dari pandangannya, juga menjauh dari hatinya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kupikir kau bukan untukku
Ternyata hati ini haus kasihmu
Saat kupikir kau bukan satu untukku
Nyatanya jiwa ini mendamba hadirmu, merindu belaimu

“Apa yang kau pikirkan?”  Taeyeon bertanya sambil meletakkan  sepotong cheese cake di hadapan Jessica. Gadis blonde itu baru sadar sudah menghabiskan lebih dari setengah jam untuk melamun.

“Apa kau gugup?” Taeyeon mengelus rambutnya, Jessica terpaku, Yuri juga selalu melakukan hal seperti itu padanya. Yuri? Entah kenapa Jessica tak bisa berhenti memikirkan gadis kecoklatan tersebut. Sudah 3 bulan mereka tak bertemu, dan selama itu pula Jessica merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya.

“Sooyeon?” Taeyeon kembali bertanya dan membuat Jessica tersadar.

“Ah, Ne? Apa yang kau katakan barusan?”

“Kubilang, hari ini kau akan fitting gaun bersama umma.. tidak apa-apa kan? Maaf aku tidak bisa menemanimu.” Taeyeon menggenggam tangannya. Jessica mengangukkan kepalanya mengerti.

“Aku tau semua persiapan pernikahan ini membuatmu lelah tapi kau harus selalu menjaga kesehatanmu arraseo? Aku tidak mau sampai calon pengantinku sakit.”

“Arraseo.”

“Anak pintar..” Taeyeon mengecup bibir Jessica sekali lagi sebelum berangkat ke kantornya.

“Aku janji ini tidak akan pahit. Ini rasa jeruk. Ayo buka mulutmu Aah~” Yuri menyodorkan sesendok obat flu di depan mulut Jessica. Gadis blonde itu sebenarnya tidak mau minum obat tapi terpaksa karena Jessica tau Yuri takkan berhenti memaksanya.

“Tidak enak.” Jessica memasang wajah anehnya saat mulutnya terasa pahit. Yuri tersenyum puas sambil mengelus rambut Jessica.

“Anak pintar..” katanya sambil tersenyum bangga pada Jessica.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saat kau pergi
Bersama sakit hati
Baru ku sadari
Adanya rasa ini

Hari pernikahan yang Jessica nantikan pun akhirnya tiba…

“Sunny-ah kau datang?” Jessica tersenyum saat Sunny menghampirinya di ruang tunggu pengantin. Jessica tampak cantik dengan balutan gaun putih gadingnya.

“Sunny-ah.. apa Yuri datang?”

“I-itu.. sebenarnya Yuri-“

“T-taeyeon-ah.. a-aku.. aku tidak bisa.” Jessica menangis di hadapan Taeyeon.

“Kau.. mencintainya Sooyeon-ah?” Taeyeon bertanya sambil berusaha tetap tegar. Tangisan Jessica semakin keras hingga membuat gadis blonde itu tak mampu berkata-kata.

“Apa kau mencintaiku?” Taeyeon memegang bahu Jessica, memaksa gadis itu untuk menatap kedua matanya.

“Mianhe..” jawab Jessica sambil terisak. Taeyeon tau, Jessica tak lagi memandangnya dengan cara yang sama. Mungkin saja perasaan gadis itu sudah berubah, perasaannya untuk Taeyeon juga perasaannya untuk Yuri, hanya saja Jessica tidak menyadarinya.

“Pergilah.”

“Kwon Yuri!!!” Jessica yang masih mengenakan gaun pengantinnya berlari-lari di Airport untuk mencegah kepergian Yuri tapi terlambat. Pesawat yang Yuri tumpangi sudah lepas landas 10 menit yang lalu. Gadis itu sudah pergi tanpa mengetahui apa yang sebenarnya Jessica rasakan untuknya.

“Kwon Yuri.. aku mencintaimu.”

Aku yang kini masih hidup di masa lalu
Disaat masih ada dirimu
Egoiskah diri ini
Jika aku memintamu kembali, sekali lagi

.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>END

Biasanya org bikin songfic aku bikin yg baru poemfic biar beda  :D
Sebenarnya pas bikin puisi ini yg kebayang di kepala emang YulSic sih.. jd yg waktu itu nebak puisi ini buat ff selamat bener hahaha :D
Semoga suka.. bye !!