Bodyguard (YulSic/Part 5)

Tittle : Bodyguard
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance, Angst
Lenght : Series
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

Song lyric by : SHINee – Colorful

5th
.
.
.

“PPPAAAGGIIII!!!” Jessica tiba-tiba membuka pintu kamar Yuri dan berteriak dengan dolphin screamnya. Selanjutnya yeoja blonde itu tertawa melihat Yuri yang membelalakan matanya karena kaget. Siapa yang tidak jika tiba-tiba seseorang masuk ke kamarnya tepat setelah Yuri selelsai memakai t-shirt.

“Apa kau tidak tau caranya mengetuk pintu?” balas Yuri ketus. Jessica terkekeh geli, tak memperdulikan nada sinis pengawalnya. Yeoja bermarga Jung itu lantas duduk di sisi kasur Yuri -tempat yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya. Disisi lain Yuri tengah memakai sweater cokelatnya. Tidak lucu kan kalau di cuaca sedingin ini dia hanya mengenakan pakaian tipis. Yuri tentu masih menyayangi hidupnya dan tak mau berakhir sebagai monyet hitam membeku.

“Ouch..!!” Yuri meringis kesakitan sambil mengoleskan sesuatu di sudut bibirnya.

“Kenapa?” Jessica menghampirinya dan bertanya dengan nada khawatir. Yuri segera memalingkan wajahnya dan berkata semuanya baik-baik saja. Tentu saja Jessica takkan percaya terlebih menyaksikan gesture menghindar Yuri. Gadis dihadapannya selalu menghindar untuk menyembunyikan sesuatu dan Jessica bersumpah kali ini Yuri takkan bisa membodohinya.

“Kau pikir aku bodoh?” Jessica menyilangkan tangannya di dada seraya menatap Yuri dengan ice glare. Sesuatu yang jarang diperlihatnya akhir-akhir ini. Entahlah, mungkin karena Yuri berhasil mengubahnya menjadi lebih hangat. Berbicara soal Yuri, gadis tanned itu masih berusaha menyembunyikan luka di sudut bibirnya dari Jessica.

“Lihat aku!” Sikap Yuri tentu saja membuat Jessica tidak tahan, tanpa perasaan Jessica mendekap wajah Yuri dengan kedua tangannya.

“Bagaimana kau mendapatkannya?” tanya Jessica serius. Seingatnya kemarin pengawalnya tersebut masih baik-baik saja.

“Aku terjatuh..” jawab Yuri sambil melepaskan tangan Jessica dari wajahnya. Jessica mengangkat salah satu sudut bibirnya.

“Kau pikir aku percaya?” tantangnya. Kali ini tangannya mencengkram kerah sweater Yuri.

Yuri menghela nafasnya, gadis itu tau berdebat dengan Jessica akan menghabiskan lebih dari setengah sisa hidupnya karena Jessica begitu keras kepala sama dengan dirinya. “Satu hal yang pasti, aku tidak memintamu percaya. Lagipula ini bukan urusanmu nona Jung..” balas Yuri sambil tersenyum padanya.

Jessica mendorong tubuh Yuri seketika dan berbalik. Sambil memegangi wajahnya yang memanas Jessica berjalan cepat meninggalkan kamar Yuri.

Dia selalu punya cara ampuh mengalihkan pembicaraan. Dasar menyebalkan.

“KWON YURI KAU PUNYA 3 DETIK. DAN JIKA SETELAHNYA AKU MASIH BELUM MELIHATMU KELUAR KAMAR… TAMATLAH RIWAYATMU!!” teriak Jessica setelahnya. Kenapa akhir-akhir ini harus selalu Jessica yang menunggu Yuri. Jessica jadi bingung sebenarnya yang ‘bodyguard’ itu siapa? Yuri atau dirinya?

~~~~~~~~~~~

“BBBIIBBIII!!” Jessica kembali berteriak gembira sementara Yuri -yang berjalan di belakangnya- sibuk menggosok-gosok telinganya yang berdengung karena suara ultrasonik majikannya. Jika indera pendengaran Yuri bermasalah tentu takkan sulit menemukan orang yang bertanggung jawab.

Hyorim bersama beberapa anak yang sedang membersihkan jalan setapak menuju panti yang dipenuhi salju lantas menoleh kearah suara. Wanita paruh baya itu tersenyum lebar mengetahui siapa yang mengunjungi mereka.

“Sooyeon-ah.. sudah lama tidak melihatmu!” Hyorim lantas memeluk Jessica setelah meletakkan sapunya.

“Bagaimana kabarmu? Kudengar kemarin kau masuk rumah sakit? Apa yang terjadi?” Jessica sudah menduga kalau bibinya yang satu ini akan memberondongnya dengan pertanyaan yang demikian.

“Ah itu, aku hanya menjalani operasi kecil.. sekarang aku baik-baik saja.” Jessica tersenyum kemudian memutar tubuhnya di depan Hyorim.

“Aigoo.. anak ini. Jangan meremehkan sesuatu. Kau harus menjaga kesehatanmu.”

“Apa yang dikatakan bibi itu benar.” cibir Yuri -setelah menyapa dan membungkukkan badannya ke arah Hyorim- pada majikannya yang masih memasang tampang tak bersalah. Apa Jessica tidak tau jika apa yang terjadi padanya beberapa waktu lalu hampir membuat Yuri terkena serangan jantung. Dan lebih tidak bisa dipercaya lagi saat Jessica bertingkah seakan-akan tidak pernah terjadi apapun.

“Tutup mulutmu Kwon!” balas Jessica sebal. Yuri balas menatapnya tajam. Hyorim turun tangan untuk melerai perang dunia yang sebentar lagi akan terjadi di hadapannya.

“Dasar anak muda.” wanita paruh baya itu tertawa kecil melihat interaksi keduanya.

“Sudah! Sudah! Diluar dingin sekali.. ayo masuk ke dalam.. bibi akan menyiapkan makanan dan teh hangat untuk kalian.” ujar bibi Hyorim. Jessica berpaling dari Yuri dan kembali memasang senyum manisnya.

“Bipolar..” gumam Yuri.

“Kebetulan sekali aku memang kedinginan..” ucap Jessica sambil merangkul tangan bibi Hyorim dan mengajaknya masuk. Yuri berniat mengikuti keduanya tapi terhenti saat Jessica berbalik dan mengangkat tangannya di depan wajah Yuri.

“Berhenti disitu Kwon!”

“Wae?”

“Buatlah dirimu berguna, gantikan tugas bibi membersihkan salju-salju itu arraseo?”

“Tapi-”

“No but! Do it now! N.O.W!”

“Dasar.. aishhh!!”

Jessica kembali berjalan bersama bibi Hyorim. Wanita itu sebenarnya kurang setuju dengan perintah Jessica, bagaimanapun Yuri juga tamu disini tidak seharusnya dia membersihkan salju tapi Jessica berhasil meyakinkannya.

“Tenang saja bi, itu hukuman untuknya. Lagipula jika Yuri melakukannya tugas itu akan selesai lebih cepat.” Jessica mengedipkan sebelah matanya. Mengerjai Yuri menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk dilakukan.

Masih sambil menggerutu Yuri mengambil sekop dan mulai menyingkirkan salju-salju yang menutupi jalanan. “Kenapa orang itu seenaknya saja. Memangnya aku ini apa? Orang yang sedang wamil?.. ishhhh!!”

~~~~~~~~~~~

“Ya Tuhan..” Yuri meringis saat menegakkan punggungnya yang terasa kaku karena terlalu lama membungkuk. Sambil mengelap keringat yang mengucur di wajahnya Yuri memandang puas sekelilingnya yang telah rapi. Salju-salju sudah dibersihkan dari jalanan dan artinya Yuri tidak perlu khawatir lagi akan ada anak yang terpeleset nantinya. Setidaknya apa yang dilakukannya tidak sia-sia.

Yuri berhigh five ria bersama beberapa anak yang bekerja dengannya. Karena tugas yang sudah selesai Yuri memutuskan untuk duduk di teras. Lagi-lagi gadis tanned itu tersenyum sambil memandangi anak-anak yang bermain di halaman dengan riang, seakan kata lelah dan dingin tak ada dalam kamus mereka. Sudah lama sekali sejak Yuri merasa serileks ini.

Dari kumpulan anak-anak yang sedang bermain matanya beralih pada satu anak yang nampak memisahkan diri dari yang lain. Gadis kecil dengan rambut sebahu itu terus menundukkan kepalanya. Yuri mengikuti arah pandangannya dan tak menemukan apapun yang menarik selain ujung sepatunya yang bergambar hello kitty.

“Hyemi-ah..” panggil Yuri. Gadis kecil itu mengangkat kepalanya.

“Yuri oppa..” Hyemi tersenyum padanya. Yuri berdiri, berjalan lalu berhenti di hadapannya.

Oppa?

“Unnie untukmu Princess..” Yuri menjawil hidung mancung Hyemi dan membuat gadis kecil itu tertawa kecil.

“Tapi aku ingin memanggilmu oppa.. karena Yuri oppa pangerannya Hyemi.”

“Arraseo..” kali ini Yuri mengangukkan kepalanya. Sedetik kemudian Hyemi kembali memasang wajah murungnya dan membuat Yuri heran. Kali ini Yuri benar-benar yakin tengah ada yang salah dengan gadis ciliknya.

“Jadi apa yang membuat Princessnya Yuri oppa ini sedih?” tanya Yuri. Hyemi menyuruh Yuri mendekat dengan isyarat tangannya lalu membisikan sesuatu di telinganya.

Jessica sedang membuat teh hangat dan beberapa biskuit -untuk Yuri dan anak-anak yang membersihkan salju- bersama bibi Hyorim dan bibi Janggeum di dapur.

“Jadi anak-anak akan mengadakan pentas seni di malam tahun baru nanti? Oh, pasti lucu sekali..” ucap Jessica semangat.

“Tema kali ini dongeng ‘Putri salju dan 7 Kurcaci’…” timpal bibi Janggeum sambil meletakkan beberapa cangkir teh yang asapnya masih mengepul ke atas nampan.

“Jika mau kau boleh datang Sooyeon-ah..” dengan semangat Jessica menganggukkan kepalanya, menyambut dengan senang hati undangan Hyorim.

“Aku akan datang..” jawabnya, sesaat kemudian Jessica teringat sesuatu. “Kalau ini cerita ‘Putri salju dan 7 Kurcaci’, siapa yang menjadi Prince dan Princessnya?”

“Hyemi dan Samdong.”

“Jinja? Ah kyeopta~”

“Bibi, apakah nanti akan ada adegan… mmmm.. kalian tau..” Jessica bertanya malu-malu. Hyorim dan Janggeum saling beradu pandang, sedetik kemudian keduanya tertawa setelah mengetahui kemana arah pembicaraan Jessica.

“Aigoo Sooyeon-ah.. jika yang kau maksud itu adegan ciuman tentu saja tidak ada. Mereka hanya anak kecil..” Janggeum masih belum bisa meredakan tawanya. Jessica tersenyum canggung menyadari kebodohannya, tidak seharusnya dia berpikir sejauh itu. Babo! Babo!

“……tapi mungkin kami akan berpikir ulang jika peran utamanya kau dan Yuri.”

“Bibi! Tolong berhenti menggodaku!” Jessica menutupi wajah dengan kedua tangannya sementara kedua wanita paruh baya tersebut masih bersemangat menggodanya.

“Hyemi tidak suka Samdong..” gadis kecil tersebut memanyunkan bibirnya membuat Yuri gemas dan mencubit kedua pipinya.

“Kenapa?”

“Karena Samdong itu jelek, dia tidak punya gigi depan, pendek dan rambutnya seperti brokoli… Hyemi tidak suka brokoli.” Hyemi mengangkat kedua tangannya keudara, mempraktekkan rambut Samdong yang selalu mengembang.

“Gwenchana.. Samdong pendek karena dia masih kecil. Suatu hari dia akan bertambah tinggi, dan giginya akan tumbuh lagi.. Hyemi juga suatu hari akan tinggi dan berubah menjadi Princess yang lebih cantik.”

“Jinja? Cantik seperti Jessica unnie?”

“Hah?” Yuri tiba-tiba menjadi gelagapan mendapat pertanyaan polos dari Hyemi tersebut. “N-ne.. seperti Jessica unnie.” lanjutnya malu-malu sambil mengusap belakang kepalanya.

“Oppa.. kenapa wajahmu memerah?”

~~~~~~~~~~~

Dengan hati-hati Jessica menenteng nampan berisi teh hangat dan biskuit diikuti Hyorim dibelakangnya. Sesampainya di halaman depan Jessica mendapati Yuri yang tengah membuat boneka salju bersama anak-anak.

“Yedeura!! Ayo kesini… ada biskuit!!” Jessica memanggil anak-anak tapi nampaknya mereka masih asik bersama Yuri.

“Yedeura!!” tetap tak ada jawaban. Jessica mulai resah, apa mungkin posisinya sebagai unnie favorite disini telah diambil alih Yuri? Monyet hitam itu? Yang benar saja.

Jessica meletakkan nampan diatas meja, gadis itu memakai sepatunya dan berjalan menghampiri Yuri. Menyadari Jessica mendekat Yuri menyuruh anak-anak berkumpul dan membisikkan sesuatu padanya.

“Serang!!” Yuri berteriak dan sebelum Jessica menyadari semuanya anak-anak sudah menyerangnya dengan bola salju.

“Eeekkkkkkkkk!! Kwon Yuri!!” Jessica berteriak kesal saat menyadari Yuri tertawa di atas penderitaannya.

“Serang penyihir jahat!” Hyemi yang berada dalam gendongan Yuri ikut berteriak sambil bertepuk tangan.

Penyihir jahat? Aku? Jessica membelalakan matanya tak percaya.

“Kwon Yuri!!”

“Prince Yul lari!!”

Yuri berlari  mulai berlari setelah menurunkan Hyemi dari gendongannya sementara Jessica mengejarnya sambil sesekali melemparkan salju kearah gadis tanned tersebut.

“Berhenti kau!! Ya!!”

Did my eyes go bad?
The moment your hand touched me everything around me is colored
In the white and coldly frozen world the moment my eyes went blind
You make my life colorful

I think you’re magical
I think you’re wonderful
Because of you, my heart is colorful
In the black and dark world the moment I try to close my eyes
You make my life colorful
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>TBC

Bodyguard (YulSic/Part 4)

Tittle : Bodyguard
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Romance, Angst
Lenght : Series
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

Song lyric by :
*Super Junior – Let’s Not
*Austin Mahone – Shadow

4th
.
.
.
.
.

Sambil menunggu Jessica selesai dengan kuliahnya Yuri memutuskan mengelilingi kampus tempat Jessica menutut ilmu tersebut. Yuri hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya saat  beberapa mahasiswi yang berpapasan dengannya menyapanya. Mahasiswi-mahasiswi itu juga tampak girang saat Yuri merespon mereka. Mimpi apa mereka semalam sampai-sampai bisa mendapat senyuman Yuri?

“Jessica Jung..” Donghae menunjukkan seringaiannya saat menyebut nama yeoja berparas cantik tersebut. Yap, Jessica Jung.

“Kau gila..” Taecyeon menanggapi dengan wajah pucat. Laki-laki itu tau jika Donghae nekat tapi tidakkah kali ini sedikit keterlaluan? Jessica memiliki pengawal yang bahkan menjaganya dari debu seklipun. Bagaimana caranya Taecyeon mendapatkan yeoja yang satu itu. Menyadari kali ini dirinya tak memiliki kesempatan Taecyeon menggelengkan kepalanya. Dengan berat hati Taecyeon melempar kartu kreditnya ke meja di hadapan Donghae.

“Jadi kau menyerah?” Donghae memastikan. Taecyeon mengangkat kedua tangannya ke udara.

“Kurasa ini keputusan terbaik dan aku-” ucapan Taecyeon terhenti karena tiba-tiba Jiyoung menyela.

“Sudahlah, kita semua tau jika yang besar pada orang ini hanya ototnya saja.” perkataan namja itu membuat Donghae tertawa.

Jiyoung mengeluarkan kartu kredit tanpa batasnya lalu melemparnya ke atas meja, bersatu dengan milik Donghae dan Taecyeon yang sudah lebih dulu dikumpulkan. Ketiganya membuat taruhan, siapa diantara mereka yang bisa mendapatkan Jessica lebih dulu. Yuri yang tanpa sengaja mendengar semuanya hanya berdiri di tempatnya tanpa berniat melakukan apapun.

“Wanita kesepian seperti Jessica akan mudah luluh hanya dengan kata-katanya manis dan jika kau sudah mendapatkannya dia akan memberikan tubuhnya dengan mudah, bahkan tanpa kau minta.” sebagai seorang palyer sejati Jiyoung berkata dengan penuh percaya diri. Laki-laki itu sepertinya tidak tau jika tidak semua wanita sama seperti gadis-gadis yang pernah dikencaninya.

“Yuri-ah..”

“Hmm?”

“Malam ini, boleh aku tidur bersamamu?”

“Nona Jung, apa ini dirimu yang sebenarnya?” Mendengar Jessica bertanya seperti itu Yuri menautkan kedua alisnya. Rahangnya mengeras menahan emosi.

“Ne?”

“Yeoja yang dengan mudahnya meminta tidur bersama orang lain? Apa itu kau yang sebenarnya? Kau tau, jenis yeoja seperti itu yang paling aku benci..” lanjut gadis tanned itu tanpa perasaan sekaligus membuat ekspressi kebingungan Jessica berubah menjadi ekspressi sedih. Kata-kata Yuri tentu berpengaruh padanya. Walau berasal dari orang yang tak dikenal kata-kata tersebut tentu akan melukai siapapun yang mendengarnya dan bayangkan jika yang berkata seperti itu adalah orang yang kita cintai? Yuri tidak sadar jika kata-katanya sudah melukai Jessica dalam.. sangat dalam. Sampai-sampai gadis berambut pirang itu tak sadar jika airmata meluruh di kedua pipinya.

Melihat airmata Jessica, Yuri tersadar. Gadis tanned itu melemaskan otot-otot tubuhnya yang sebelumnya menegang. Sungguh, Yuri sama sekali tidak bermaksud membuat gadis dihadapannya terluka. Kata-kata itu keluar begitu saja atau mungkin di dorong rasa cemburunya. Harus diakui memang, tiap kali mengingat kejadian di kampus kala itu selalu mampu membuat darahnya menindih.

Jessica berbalik pergi sementara Yuri yang masih diliputi rasa bersalah tak mampu menahannya. Gadis tanned itu hanya menggumamkan kata maaf yang bahkan tak sampai di telinga Jessica.

~~~~~~~~~~

Sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung apartemen yang Tiffany tinggali. Dengan anggun Tiffany melangkahkan kakinya keluar mobil sesaat setelah Niel -sepupunya- membukakan pintu. Tiffany baru saja selesai menghadiri pesta ulang tahun Jun -adik Niel.

Tiffany merapikan bajunya yang sedikit kusut sementara Niel masih memandangnya dengan pandangan khawatir. Waktu sudah lewat tengah malam dan apartemen milik Tiffany berada di lantai tertinggi, Niel tak sampai hati membiarkan sepupunya pergi sendiri -mengingat Tiffany yang seorang penakut. Selain itu, bagaimana kalau ada pria hidung belang atau semacamnya seperti beberapa tempo lalu.

“Noona mau aku antar?”

“Tidak usah.”

“Kau yakin?” Niel mengangkat sebelah alisnya. Laki-laki ini jadi teringat pria yang masuk rumah sakit bulan lalu karena hidungnya patah.

Jadi ceritanya malam itu Tiffany pergi ke minimarkat untuk membeli sebotol kecap dan beberapa kaleng soda untuk persediaan. Jalan dari apartemen tempat tinggalnya ke minimarket cukup jauh jadi Tiffany memutuskan mengambil jalan pintas -melewati gang- untuk mempersingkat waktu. Dan disitulah masalah dimulai. Tanpa sengaja Tiffany bertemu dengan pria hidung belang yang berusaha menggodanya, tanpa pikir panjang Tiffany segera melayangkan kantung belanjaan miliknya ke wajah si pria yang alhasil membuat hidung pria itu patah.

Jadi intinya Niel bukan khawatir pada Tiffany tapi khawatir dengan pria hidung belang yang mungkin berpapasan dengannya.

Tiffany melangkah masuk begitu pintu lift terbuka. Gadis itu mendapati orang lain yang lebih dulu ada di dalam. Orang itu adalah tetangga barunya dan kelihatannya dia sedang mabuk. Bau alkohol tercium jelas di ruangan sempit itu dan membuat Tiffany sedikit menjauh. Sebenarnya berapa banyak yang dia minum?

Gadis bertubuh mungil -yang sekarang menjadi tetangga Tiffany- baru pindah ke apartemen ini sekitar seminggu yang lalu. Orangnya pendiam dan terkesan misterius. Selama dia tinggal disini Tiffany hanya pernah berbicara padanya satu kali, itupun cuma ucapan ‘selamat pagi’ yang terdiri dari tak lebih dari dua kata. Tiffany hanya tau, jika gadis ini tetangga barunya dan selebihnya.. dia tidak tau apapun. Hal ini membuat Tiffany merasa canggung.

Lift terus melaju seiring angka di monitor yang terus berganti.

34

35

36

37

Ting! Pintu lift terbuka. Tiffany memang sudah sampai tapi gadis itu tidak lantas keluar begitu saja. Bagaimanapun dia masih punya hati, tidak mungkin Tiffany meninggalkan tetangganya yang mabuk berat di dalam lift sendirian. Ya, orang itu mabuk berat sampai-sampai tubuhnya merosot dan tertidur di dalam lift.

Ragu-ragu Tiffany mengguncang bahunya tapi tak ada respon. Sesaat kemudian Tiffany berdecak kesal dan berusaha memapah gadis bertubuh lebih pendek itu dengan segenap kemampuannya. Setidaknya Tiffany  bersyukur tubuh gadis itu tidak lebih besar darinya, walau begitu dia tetap kesulitan.

Taeyeon membuka matanya yang terasa berat saat merasa tubuhnya terangkat, atau bisa jadi itu hanya perasaannya saja. Karena kondisinya yang mabuk berat gadis itu bahkan tidak bisa membedakan mata yang nyata dan mana yang halusinasi lagi. Begitu menoleh ke samping Taeyeon menemukan bidadari bersayap yang membawanya terbang.

Apa aku disurga?

“Nona Kim?” panggil Tiffany saat tetangga barunya mengumamkan sesuatu yang ditangkap samar-samar indera pendengarannya.

“Apa kau mengatakan sesuatu?” tanya gadis bereyes smile itu sekali lagi. Taeyeon tak lantas menjawab, gadis itu menyeringai kearah Tiffany…

Jadi seperti ini rasanya surga?

Tiffany membulatkan matanya, tak percaya dengan hal yang baru dialaminya. Apa Taeyeon baru saja… meraba pantatnya? Oh Gosh!!

“YYYAAA!!! DASAR MESUM!!” teriak Tiffany tak terima karena Taeyeon telah menodainya.

Jessica membanting pintu kamarnya lalu menguncinya. Setelahnya Jessica duduk dan menangis sambil memeluk lututnya.

“Makhluk hitam tidak berperasaan! Aku benci padamu! Aku benci!!” Jessica masih bisa memaki Yuri di sela tangisnya. Dan karena suaranya yang super keras Yuri juga bisa mendengarnya dan saat itu yang bisa Yuri lakukan hanya mengepalkan telapak tangannya dengan erat.

“Bencilah aku Jessica Jung. Bencilah aku..”

I always act strong
But I’m a cowardly man
Didn’t have the confidence to protect you forever and left

Don’t love someone like me again
Don’t make someone to miss again
One who looks at only you and needs only you
Meet someone who loves you so much
They can’t go a day without you
Please

~~~~~~~~~~

Taeyeon terbangun dan menemukan dirinya di tempat asing. Bukan, bukan tempat asing semacam planet lain hanya saja ruangan yang sangat tidak familiar untuknya. Sebuah kamar yang penuh nuansa pink, warna yang takkan pernah Taeyeon sukai sampai kapanpun, bahkan jika matahari terbit dari barat. Sungguh, segala hal di ruangan ini bernunsa pink, mulai dari dinding, seprai selimut, lemari, jam, gorden dan… semuanya. Bahkan tumpukan boneka di sudut kamar pun semuanya berwarna pink. Taeyeon tidak ingat dirinya pergi ke perkemahan-taman-kanak-kanak-ala-putri-negeri-dongeng atau semacamnya. Atau jangan-jangan dia memang sudah mati dan Tuhan memberikan hukuman -atas semua kejahatan yang pernah dilakukannya- dengan cara mengurung jiwanya di tempat ini.

Andwee!

Oke, oke.. Taeyeon tau itu bodoh sekali dan tidak mungkin. Salahkan efek hangover yang membuat kinerja otaknya menurun.

Berpikir rasional Kim Taeyeon! Berpikir rasional!

Setelah dicoba-coba kepalanya tetap tak bisa berfungsi, Taeyeon justru merasa pusing dan perutnya bergejolak. Sesuatu sedang berusah keluar dari mulutnya. Secepat kilat Taeyeon mencari toilet -yang masih bernuansa pink- lalu memuntahkan semua isi perutnya di wastafel.

Oh God, ini benar-benar buruk! Taeyeon bergumam sambil memijat kepalanya yang berdenyut. Ini gara-gara… ah, sudahlah, Taeyeon sedang tidak ingin mengingat hal yang membuat tekanan darahnya meningkat. Ada sesuatu yang lebih penting sekarang yang harus diketahuinya. Dimana dia sekarang?

Tiffany melantunkan nada-nada random sambil membuat secangkir teh lemon di dapur rumahnya -yang jarang terjamah. Tempat itu memang sangat keramat disini, karena pemilik rumah tidak bisa memasak bisa dihitung dengan jari berapa kali sehari Tiffany melangkahkan kakinya kesana.

“Nona Kim sudah bangun? Ayo duduk..” Tiffany tersenyum canggung sambil menarik salah satu kursi untuk Taeyeon duduki. Taeyeon duduk dengan kebingungan di wajahnya.

“Taeyeon..  kau boleh memanggilku Taeyeon, Nona Hwang..”

Tiffany menganggukkan kepalanya sambil meletakkan cangkir berisi teh lemon di hadapan Taeyeon.

“Minumlah, mungkin bisa mengurangi hangover-mu.”

“Gomawo..” Taeyeon menerima dan meminumnya. Tiffany lantas duduk di hadapan Taeyeon dan memainkan jarinya dengan gugup.

“Semalam.. aku minta maaf.” katanya. Taeyeon memandang Tiffany dengan tatapan bertanya. Ragu-ragu Tiffany mengangkat tangannya lalu menunjuk pelipis Taeyeon.

Ada plester disana. Taeyeon baru menyadarinya saat menyetuhnya. Bagaimana bisa Taeyeon mendapatkan luka ini? Lalu kenapa juga Tiffany harus minta maaf?

Sebenarnya semalam setelah Taeyeon yang mabuk meraba pantatnya, Tiffany berteriak keras… dan semuanya tidak berakhir disitu. Setelahnya Tiffany -beserta refleksnya yang luar biasa- menghantam kepala Taeyeon dengan tas tangannya sampai gadis itu pingsan.

“T-tapi sungguh.. aku tidak bermaksud melakukannya. Sungguh!” Tiffany merasa bersalah. Tidak seperti yang Tiffany duga, Taeyeon justru tersenyum padanya. Menurutnya tingkah Tiffany sangat menggemaskan.

“Gwenchana. Sepertinya itu memang salahku..” Taeyeon meraba belakang kepalanya malu-malu.

“Jadi aku yang seharusnya minta maaf.” lanjutnya.

“… dan nona Hwang terimakasih sudah mengijinkanku menginap semalam juga terimakasih untuk tehnya..”

“Tiffany.. Tiffany saja untukmu ^^”

Shinyoung berdiri dengan gusar di depan pintu kamar Jessica. Berbicara mengenai Jessica gadis itu terus mengurung diri di dalam kamarnya. Sepanjang hari ini Jessica hanya keluar satu kali, yaitu saat mengantar ayahnya yang akan pergi ke Paris setelahnya Jessica kembali mengurung diri. Dia bahkan belum memasukan apapun kedalam perutnya sejak tadi pagi, dan hal itu membuat Shinyoung khawatir.

“Ada apa?” Yuri yang kebetulan lewat bertanya.

“Yuri-ssi syukurlah, bisakah kau membujuk nona Jung untuk keluar. Aku khawatir sekali, dia belum makan dari tadi pagi..”

Yuri menganggukkan kepalanya lantas menyuruh Shinyoung pergi. Bagaimanapun Yuri tau jika Shinyoung masih memiliki setumpuk tugas lain yang mungkin lebih penting dari sekadar membujuk majikannya -yang sedang dalam princess mode- untuk makan.

Yuri mengetuk pintu kamar Jessica beberapa kali tapi hasilnya sama sama, tak ada jawaban. Namun Yuri tau jika Jessica ada di dalam dan akan mendengar apapun yang dia katakan.

“Nona Jung berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Caramu ini hanya melukai mereka yang peduli padamu.. kau tau?”

Perkataan Yuri membuat Jessica teringat ayahnya. Jessica tau betul jika pria paruh baya itu pergi ke Paris dengan setengah hati karena masih mengkhawatirkan kondisinya. Jessica tau.. tapi Kwon Yuri, apa orang itu tau jika Jessica juga berharap Yuri menjadi bagian dari orang yang peduli itu?

“Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan makanan untukmu. Jangan bersikap kenakanak-kanakan lagi, arraseo?” kali ini Yuri berkata sambil menempelkan telinganya ke daun pintu.

“Berhentilah bicara! Dasar bodoh!” balas Jessica dari dalam. Walaupun jawaban seperti itu yang didapatnya tapi Yuri tau jika Jessica akan menuruti permintaannya.

~~~~~~~~~~~

Yuri baru kembali dari taman Blue House dan mengerutkan keningnya saat makanan yang ada di meja makan nampak belum tersentuh.

“Shinyoung-ah apa nona Jung belum keluar dari kamarnya?” Shinyoung menggelengkan kepalanya dan membuat kerutan di kening Yuri semakin jelas.

Yuri menaiki tangga dengan cepat lalu kembali mengetuk pintu kamar Jessica.

“Nona Jung buka pintunya!”

“……………”

“Nona Jung! Kau dengar aku?”

“……………..”

Yuri menempelkan telinganya ke daun pintu namun kali ini tak ada apapun yang bisa di dengarnya. Hening! Dan saat itulah Yuri tau ada yang salah dengan majikannya. Dengan bantuan beberapa penjaga Blue House yang lain Yuri mendobrak pintu kamar Jessica.

Apa yang dilihat Yuri selanjutnya membuat jantungnya berdebar keras. Jessica terbaring di lantai sambil memegangi perutnya dan yeoja blonde itu tampak kesakitan. Tanpa pikir panjang Yuri segera mendekap tubuh Jessica dalam pelukannya.

“Y-yuri-ah.. a-appo..” lirih Jessica sambil menangis.

“Kau akan baik-baik saja, percaya padaku.” Yuri berbisik di telinga gadis itu sementara Jessica hanya bisa mengangguk lemah dalam pelukan pengawalnya.

~~~~~~~~~~

Di rumah sakit…

Yuri duduk di kursi samping ranjang Jessica sambil memandangi putri tidurnya yang masih menutup mata. Jessica sakit usus buntu tapi syukurlah sekarang semuanya sudah baik-baik saja, dokter sudah mengoperasinya.

Jessica yang sudah sadar membuka matanya perlahan dan menemukan Yuri di sampingnya. Tanpa gadis blonde itu sadari hari sudah berganti.

“Kau sudah sadar nona Jung? Ada sesuatu yang kau butuhkan?” tanya Yuri sambil membuka jendela kamar supaya Jessica mendapat udara segar. Jessica menggelengkan kepalanya.

Yuri kembali berjalan ke arah Jessica. Gadis tanned itu membetulkan selimut Jessica yang kusut setelahnya menambah bantal supaya untuk Jessica bersandar.

“Gomawo..”

“Setelah ini segera hubungi ayahmu, Presiden pasti sangat khawatir..” ucap Yuri lagi. Jessica menganggukkan kepalanya bak anak sekolah yang sedang dinasehati gurunya.

“Kau ini bawel sekali..” gumam Jessica tapi Yuri masih bisa mendengarnya. Yuri menggelengkan kepalanya lalu berjalan keluar ruangan.

Mau kemana dia?

Jessica mengangkat bahunya sambil memandangi Yuri yang berlalu. Setelahnya Jessica meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dan menghubungi ayahnya.

“Oke Dad aku tau.. iya.. iya..”

“Maaf.. aku sudah tidak apa-apa sungguh..”

“Hmm.. love you too..”

Tak lama kemudian Yuri kembali bersama dokter yang menangani Jessica.

“Nona Jung.. perkembanganmu bagus sekali tapi tolong jangan dulu makan sebelum anda buang angin, arraseo?” dokter tersenyum padanya.

“Iya dokter, terimakasih..”

Jessica masih duduk di atas kasur sambil memainkan ponselnya sementara Yuri duduk di sofa sambil membaca surat kabar. Jessica mencuri-curi pandang pada pengawalnya tersebut.

“Wae?” Yuri melipat bacaannya dan bertanya.

“Aniyo.” jawab Jessica sambil membuang pandangannya. Walau malu untuk mengakuinya Jessica sebenarnya sangat lapar dan jika Yuri terus berada di sisinya bagaimana bisa Jessica buang angin disini? Adakah yang lebih memalukan lagi?

“Nona Jung kenapa belum buang angin juga?” Yuri bertanya sambil melihat jam dinding sekilas. Hampir siang hari. Mendapat pertanyaan seperti itu Jessica jadi gelagapan, Jessica sebenarnya bukan tidak mau tapi dia menahannya karena malu.

“H-hal seperti itu kan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan!”

“Arraseo..” Yuri memilih mengalah dan melanjutkan membaca.

“Yuri-ah..” panggil Jessica lagi.

“Hmm?”

“Setelah dipikir-pikir.. aku mau jalan-jalan..”

“Baiklah..”

~~~~~~~~~~

Keduanya berjalan di taman rumah sakit. Jessica masih mengenakan piyama rumah sakit plus sandal tidur berbentuk kelinci yang sebenarnya lebih cocok dipakai anak usia lima tahun. Yuri berjalan disampingnya, seperti biasa. Salah satu hal yang paling Jessica sukai dari gadis ini, Yuri selalu memperlakukannya secara wajar, tidak pernah sekalipun Jessica mendapat perlakuan seperti ini dari pengawal-pengawalnya yang lain. Kebanyakan dari mereka akan berjalan di belakang Jessica sementara Yuri selalu berjalan di sampingnya, gesture kecil yang membuat Jessica merasa dihargai. Yuri membuatnya merasa ‘sama’.

Jessica memegangi perutnya yang tiba-tiba bergejolak. Tidak! Jangan! Tapi terlambat, gas itu sudah keluar dengan suara yang cukup keras dan mampu membuat Yuri berpaling padanya.

“Barusan itu kau nona Jung?”

“Barusan apa?!” Jessica pura-pura tidak tau dengan apa yang Yuri maksud walau sebenarnya yeoja itu tengah merasa malu setengah mati. Tiba-tiba saja Jessica berharap dirinya menjadi butiran debu lalu hilang tertiup angin. Ya, menghilang, pergi jauh, kemana saja asalkan tidak di dekat Yuri.

Jessica dapat merasakan wajahnya memanas. “Apa?” bentaknya kemudian pada Yuri yang masih memandanginya.

“Anggap saja aku tidak mendengarnya.” Yuri mengangkat bahunya acuh lalu mulai berjalan lagi. Meninggalkan Jessica yang masih meruntuki dirinya sendiri di belakang.

Yuri berhenti berjalan lalu berbalik dan menemukan Jessica yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Menyadari hal itu Yuri lantas kembali lalu mengenggam tangan Jessica dengan lembut. Gadis itu tersenyum dan membuat paras Jessica semakin terasa terbakar.

“Terimakasih sudah sembuh nona Jung.”

“Ne?”

“Aku akan mentraktirmu sebagai hadiah, kau ingin makan apa?”

“Jinja?” tanya Jessica semangat. Yeoja blonde itu lantas meletakkan jari telunjuknya di dagu layaknya orang yang tengah berpikir. Yuri kembali tersenyum.

“Kau bisa memasak tteokpeokki? Aku sudah lama tidak makan tteokpeokki buatan rumah. Ah, dan ice cream.. aku mau ice cream vanilla..” Jessica tak sadar jika dirinya beraegyeo saat mengatakan semua itu. Yuri menganggukkan kepalanya.

“Kau akan mendapatkan semua itu…… tapi nanti.” jawabnya sambil tersenyum jahil. Jessica menatapnya dengan pandangan tak mengerti. Jangan bilang Kwon Yuri sudah membohonginya, kalau itu sampai terjadi awas saja si hitam ini…

“Setelah kau benar-benar sembuh, dan untuk sekarang terpaksa kau harus makan makanan rumah sakit yang tidak enak.” Yuri memasang tampang menyesal tapi Jessica tau jika pengawal hitamnya tersebut tengah berpura-pura. Sedetik kemudian sandal kelinci Jessica beradu keras dengan tulang kering di kaki Yuri, tentu saja hal tersebut membuat gadis tanned itu meraung kesakitan. Jessica menjulurkan lidahnya dan pergi, tak memperdulikan Yuri yang masih menderita karena tendangan mautnya.

“Itu balasan untuk perkataanmu kemarin Kwon!”

~~~~~~~~~~~

“Bos pasti kecewa padamu.” Taeyeon berkata tanpa ekspressi di wajahnya. Walau kini mereka berdiri berhadapan entah kenapa Taeyeon tak mengenali orang yang kini berdiri di depannya.

“Aku sudah tidak bisa Taeyeon-ah.. aku tidak bisa.” pasrah Yuri. Gadis tanned itu nampak seperti orang yang kehilangan arah. Tentu sama sekali bukan Yuri yang Taeyeon kenal, hanya karena gadis itu.

“Aku sudah kalah Taeng.. aku kalah.”

“Baiklah, aku akan menyadarkanmu!” Taeyeon hampir tak mengenali suaranya sendiri yang bergetar. Tanpa basa-basi gadis bertubuh mungil tersebut lantas mencengkram kerah Yuri dan mendaratkan pukulan di wajahnya. Yuri yang pada kenyataannya mempunyai tubuh yang lebih besar terjungkal kebelakang. Tak lama bagi Yuri untuk merasakan rasa asin dan bau besi di mulutnya. Pukulan Taeyeon sukses membuat sudut bibirnya terluka.

Yuri masih terududuk tanpa berniat memberi perlawanan. Menyadari Yuri yang hanya terpaku Taeyeon merasa satu pukulan saja rasanya tak cukup untuk menyadarkan gadis tanned itu. Taeyeon kembali menerjang Yuri dengan tinjunya namun lagi-lagi Yuri menerima semua pukulan itu tanpa berniat memberi perlawanan, tidak sama sekali.

Taeyeon beranjak setelah memberikan pukulan terakhirnya. Sementara Yuri masih terbaring di atas salju dengan nafas tersenggal. Selain mulutnya, darah juga terlihat mengalir di kepalanya. Pukulan Taeyeon sepertinya juga membuat pelipisnya terluka. Taeyeon berdiri membelakangi gadis tanned itu sambil mengepalkan tangannya.

“Disini..” Yuri berkata dengan nafas tersenggal sambil meletakkan tangan kanan di dada kirinya. “Rasanya sakit sekali saat melihatnya terluka. Sakit Taeyeon-ah. Aku ingin melindunginya.. dengan segala yang kumiliki.”

Taeyeon tak ingin mendengar apapun dari mulut Yuri, sungguh, namun saat gadis itu ingin beranjak pergi Yuri terlanjur menahan tangannya. Sedetik kemudian Yuri memeluknya dari belakang, nafas gadis tanned itu berhembus di dekat telinganya. Taeyeon menggigit bibir bawahnya dengan sekuat tenaga. Kehilangan, sesuatu yang tak pernah ingin Taeyeon rasakan kembali namun sekeras apapun gadis itu mengelak Taeyeon tau jika malam ini dirinya akan kembali merasa kehilangan, separuh hatinya. Taeyeon akan kehilangan cinta pertamanya, karena Yuri… sudah memutuskan memberikan hidupnya untuk gadis lain. Dan gadis itu bukan dirinya, takkan pernah.

Only my shadow knows
How I feel about you
Only my shadow goes
Where I dream of you and me
Should I go or wait
Is it too soon too late
Only my shadow knows

Beberapa saat kemudian Taeyeon merasakan punggungnya basah. Yuri menangis. Dibanding dirinya yang patah hati, Taeyeon tau jika tekanan yang dialami Yuri lebih berat dari siapapun.

Yuri merasa semua yang dilakukannya selalu salah. Apakah cinta selalu memiliki jalan terjal dan berliku seperti yang dialaminya saat ini? Yuri, gadis itu bahkan tidak berani bermimpi untuk bisa bersama Jessica. Yuri tidak mau Jessica terluka, tapi justru sikapnya selama ini lebih melukai Jessica dari siapapun.

“Taeyeon-ah aku.. mencintainya tapi bodohnya aku, aku bahkan tidak bisa mengatakan semua itu padanya.”

“Gwenchana Yul.. gwenchana..” Taeyeon menggigit bibir bawahnya seraya membiarkan airmatanya ikut mengalir. Beruntung Yuri tidak melihatnya ikut menangis.

I wish I could say all these words
All these things that your heart never heard
But I saw the pain in your eyes and it sealed my lips

Seharusnya Taeyeon bisa mengatakan semuanya pada Yuri. Perasaan yang dia pendam selama ini tapi mendengar Yuri menangis membuat Taeyeon kembali menelan kata-katanya. Biarlah angin yang berhembus malam ini turut menerbangkan perasaannya untuk Yuri.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>TBC

Drabble #15 (RF)

Drabble #15

“Get out!! Now!!”

“T-tapi Panny-ah aku-”

Bug!!
Sebelum Taeyeon sempat menyelesaikan kata-katanya Tiffany sudah melempar bantal tepat di wajahnya.

“Ppany-ah..”

Brak!!
Kali ini Tiffany menutup pintu kamar mereka tepat di depan hidung Taeyeon. Masih belum menyerah Taeyeon kembali memohon seraya mengetuk pintu sarang monster pink tersebut. Berharap pujaan hatinya berubah pikiran dan memaafkannya. Demi apapun, Taeyeon hanya mengatakan apa yang dirasakannya. Gadis itu sama sekali tak menyangka jika Tiffany bisa semarah itu.

Tamatlah sang leader kali ini. Jika Tiffany tidak memaafkannya, dimana dia akan tidur? Di sofa? Tidak mungkin karena tempat itu sudah di sewa Sooyoung yang juga diusir dari kamarnya karena Sunny -tanpa sengaja- menemukan cadangan makanan yang Sooyoung sembunyikan di bawah kasur.

Yang benar saja? .. tapi nyatanya Sooyoung memang serakus itu.

Alasan kenapa Taeyeon tak mau tidur bersama Sooyoung karena cara tidur Sooyoung yang sangat ‘liar’. Pernah satu kali mereka tidur bersama -karena terpaksa- dan paginya Taeyeon menemukan telapak kaki Sooyoung di wajahnya.

Taeyeon menghela nafas. Gadis itu memungut bantal dokongnya dengan lemas. Dua langkah berjalan, Taeyeon mendengar suara pintu di buka. Taeyeon berbalik dan menemukan Tiffany membuka pintunya.

“Ppany-ah kau memaafkanku?” tanyanya penuh harap. Tiffany tidak menjawab, melainkan melempar selimutnya tepat di wajah Taeyeon -lagi.

Kim Taeyeon tetap tabah. Semangatlah! Setidaknya dia masih peduli padamu. Taeyeon berusaha menyemangati dirinya sendiri.

The Prankster -YulYoonSoo- berusaha menahan tawanya saat Taeyeon menghampiri mereka dengan wajah kusut. Tiffany pasti baru mengusirnya, ketiganya seperti punya telepati.

“Jadi, kali ini kenapa?” tanya Yuri.

“Begini, aku dan Tiffany sedang nonton film romantis bersama lalu ada adegan ciuman dan karena film itu sangat romantis tanpa sadar kami terbawa suasana. Aku mencium bibirnya dengan sangat lemmbuuuttt~ lalu Tiffany berpindah keatasku dan-”

“Omaigooshhhh unnie!! Byun!! Kenapa kau menceritakan hal seperti itu?! Aaiisshhh.. my poor innocent ears!” protes Yoona dengan wajah memerah. Yuri terkikik geli dan menyuruh ‘anaknya’ untuk segera tidur sebelum Taeyeon meracuni pikirannya lebih jauh.

“Lalu apa yang terjadi setelahnya?” tanya Sooyoung penasaran.

Taeyeon menekan leher Tiffany untuk memperdalam ciuman mereka dan membuat kasur berseprai pink itu berderik.

“Ppany-ah..” ucap Taeyeon di sela ciuman mereka dengan nafas tersenggal karena Tiffany menindih tubuhnya.

“W-wae?”

“K-kau semakin berat, apa berat badanmu bertambah?” tanya Taeyeon. Setelah itu Tiffany melepaskan ciumannya dan menyeret Taeyeon keluar dengan paksa.

“Begitulah. Dan aku berakhir disini..”

Yuri dan Sooyoung tak dapat lagi menahan tawanya. Keduanya tertawa bahagia diatas penderitaan sang leader.

“Kau ini bagaimana? Wanita itu sangat sensitif dengan namanya berat badan. Bisa-bisanya kau membahas hal seperti itu di tengah ‘aktifitas’ kalian.. dasar tidak peka.” ejek Yuri. Sooyoung mengangukkan kepalanya setuju.

“Y-ya! Aku kan cuma mengatakan yang sebenarnya d-dan.. aktifitas apa? Kau membuat kami terdengar melakukan sesuatu.”

“Nyatanya kalian memang melakukan sesuatu.” Sooyoung memutar kedua bola matanya. Leader mereka ini, sudah byun tukang menyangkal lagi. Aigoo.

“Yang kami lakukan tidak lebih dari ciuman!”

“Tidak ada seorangpun yang mengatakan kalian melakukan lebih dari ciuman..” balas Sooyoung.

“…. kecuali kau yang berharap lebih?” lanjut Yuri. Setelahnya gadis tanned itu ber-highfive ria dengan rekan prankter di sebelahnya. Merasa puas karena telah membuat Taeyeon mati kutu. Untung saja Hyoyeon sedang menginap di dorm Kara, jika tidak pasti Taeyeon lebih menderita dari ini.

Taeyeon kehabisan kata-kata. Tidak adakah seseorang di dunia ini yang berpihak padanya? Taeyeon merasa sebatang kara -berlebihan. Sang kekasih baru saja mengusirnya sementara sahabat-sahabatnya malah bersenang senang diatas penderitannya.

“Taeng mau saran dariku?” Yuri berhenti tertawa dan menepuk pundaknya.

“Kita tidak boleh terlalu jujur pada pasangan.” kata Yuri sambil tersenyum.

“Jadi maksudmu kita harus punya banyak cabang sepertimu?” tanya Sooyoung yang sama bingungnya dengan leader mereka. Yuri memukul kepala gadis jangkung itu dan membuatnya meringis kesakitan.

“Bukan itu maksudku! Lagipula aku ini seobang yang setia!”

“Yeah~ seperti kami percaya saja..” cibir Sooyoung dan membuat Yuri kembali memukul kepalanya.

“Lalu maksudmu apa?” Taeyeon memutuskan bertanya untuk melerai keduanya.

“Maksudku adalah.. kadang-kadang para wifey itu suka dibohongi.”

“Jinja?”

“Tentu saja. Harusnya, walaupun kau tau kalau Tiffany bertambah berat badannya kau tidak perlu mengatakannya karena itu akan melukai perasaannya. Aku saja kadang-kadang berbohong pada Sica. Kalian tau kan kalau Sica itu tidak bisa memasak? Nah kemarin dia membuatkanku sarapan dan aku terpaksa memakannya dan mengatakan enak walau rasanya sungguh tidak berkeprimanusiaan. Dan.. saat tidur kadang-kadang dia ngorok tapi aku tidak pernah mengatakannya karena tidak mau dia marah…” ketiganya tertawa setelah mendengar penuturan Yuri. Taeyeon dan Sooyoung menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Akhirnya malam itu ketiganya habiskan dengan mengobrol sampai larut.

Yuri tidak sadar jika Jessica terbangun karena haus dan saat Yuri membicarakannya gadis blonde itu sedang mengambil air minum di dapur dan mendengar dengan jelas setiap perkataan Yuri. Bahkan kata-kata itu terekam di otaknya.

“Kwon Yuri! Awas kau!” Jessica menahan kekesalannya untuk besok pagi. Dia terlalu ngantuk untuk marah-marah malam ini.

She is lazy girl afterall.. haha.. :D
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>END

Honesty (YulSic/Part 2)

Tittle : Honesty
Author : RoyalSoosunatic
Genre : Yuri (girl x girl), Drama, Romance
Lenght : Chapter
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung and Other Cast

Inspired by Drama Boys Before Flower.

Song lyric by :
*Taemin – Steps (OST. Prime Minister and I)
*Suzy – Winter Child (OST. Dream High)

Honesty
.
.
.
.
.
-Part 2-

“Hey bodoh, aku menunggumu di N Tower nanti malam.. kalau tidak datang mati kau..” Yuri menunjukkan jarinya ke arah Sooyoung dengan serius. Matanya berkilat tajam. Sooyoung menelan jajangmyun di mulutnya, Hyoyeon tertawa kecil sambil tetap mengocok kartu tarot di tangannya.

“Bagaimana?” tanya Yuri. Wajah seriusnya kini berganti dengan seringaian bodoh.

“Kalau seperti ini, Jessica pasti akan semakin terpesona padaku, kan?” lanjutnya penuh percaya diri. Hyoyeon menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Yul. Barusan adalah kata-kata teraneh yang pernah kudengar untuk mengajak seorang gadis kencan.” Sooyoung tak habis pikir dengan kelakuan Yuri yang semakin hari semakin diluar akal sehat saja.

Hari ini Yuri berencana mengajak Jessica pergi dan sejak pagi gadis itu terus berlatih dihadapan kedua sahabatnya yang alhasil membuat Sooyoung dan Hyoyeon pusing.

“Pertanyaanku adalah, kenapa kau tidak mengajak Jessica dengan cara yang normal saja?” tanya Hyoyeon. Yuri menoleh sambil membulatkan kedua matanya.

“Maksudmu aku tidak normal?”

~~~~~~~~~~

I walked alone
Following your steps
On this road we walked
My heart feels lighter

On this road together
The many days we longed
How far it felt
I’m sure you struggled even more

Will you come here?
After you take one step closer
Come into me as much as you were that far away

Yuri memicingkan matanya. Berusaha mencari keberadaan Jessica di tengah kerumunan murid-murid yang ada di kantin. Waktu istirahat sudah berjalan sekitar 15 menit dan selama itu pula Yuri terus mencari keberadaan yeoja blonde tersebut tapi belum menemukan tanda-tanda keberadaannya. Jessica tak ada di antrian mengular siswa yang tengah mengambil makan begitu pula di meja sudut ruangan tempat biasa gadis itu duduk.

Dimana gadis itu? Yuri menghela nafas lantas menyeret kakinya meninggalkan kantin.

Langkah kaki gadis tanned itu terdengar menggema di lorong yang panjang dan sepi. Ruangan musik. Ya, tempat itu yang muncul di kepala Yuri. Jessica sering menyendiri dan menghabiskan waktunya disana. Tempat itu terletak di ujung koridor yang disangga dengan tiang-tiang tinggi. Di sebelah kanannya tepat ada taman dan sebuah kolam ikan.

Yuri menghentikan langkahnya begitu mendengar alunan lembut piano. Benar saja, Jessica tengah duduk di belakang grand piano putih dengan mata terpejam dan jari-jari yang menari lincah diatas tuts. Yuri tersenyum sambil terus memandangi gadis itu melalui jendela.

“Hai..”

Jessica menghentikan permainnannya, membuka mata lalu memandang Yuri sekilas. Bagaimana bisa Jessica tidak menyadari kehadiran gadis hitam ini sebelumnya?

“Sejak kapan kau berdiri disana?” Jessica sebenarnya tidak peduli hanya saja gadis itu tidak bisa menahan dirinya untuk tetap bertanya.

“Cukup lama untuk menikmati konser solomu.” jawab Yuri sambil berjalan ke dekat Jessica lalu duduk di sampingnya.

Yuri meletakkan jarinya diatas piano lalu memainkan lagu yang Jessica mainkan sebelumya. Lagi-lagi Jessica tak bisa menahan dirinya untuk menatap Yuri.

“A Thousand Years itu lagu yang romantis. Aku juga suka. Pasti kau sengaja memainkannya untukku, iya kan?”

“You wish!” cibir Jessica. Kapan si hitam ini berhenti bersikap terlalu percaya diri?

Jessica hendak beranjak dari kursinya tapi terhenti begitu Yuri menahan pergelangan tangannya.

“Ada apa?” tanya Jessica kesal.

“Jam 7 malam nanti temui aku di N Tower.”

“Hah?”

Jessica sebenarnya tidak mengerti tapi sebelum yeoja blonde kembali bertanya Yuri sudah pergi dari hadapannya.

Apa-apaan dia itu? Datang dan pergi seenaknya. Ditambah lagi selalu mengatakan hal-hal yang membuat orang bingung.

I want to shout out and call you
Look at me, who I’ve hidden
My heart is relayed so that it’s felt wholly
It’s time for goodbye yet
Please tell me that it’s not
I won’t rush, it has just started now
Just stay like that

~~~~~~~~~~

Malam ini adalah malam terakhir pasangan Jiwoong-Sunye di Korea sebelum mereka pergi ke Amerika dan menetap disana. Setelah menikah Mr. Kim menugaskan anak sulungnya untuk memimpin cabang perusahaan mereka di negeri Paman Sam tersebut.

Di hari terakhir pasangan pengantin baru tersebut di Korea, Mr. Kim mengadakan makan malam keluarga di sebuah restoran mewah. Tunangan Taeyeon -Jessica- yang juga hadir di acara malam itu duduk di kursinya dengan gelisah. Jessica hampir tidak menyentuh makanannya dan selalu mencuri pandang keluar jendela. Gadis itu juga tidak terlibat dalam obrolan dan hanya berbicara ketika ada yang bertanya dan selebihnya Jessica hanya diam dan tenggelam dalam dunianya sendiri.

Taeyeon yang duduk di samping Jessica tentu saja menyadari gelagat aneh gadis berambut pirang tersebut. Hal itu lantas membuatnya menduga-duga.

Apa yang sedang Jessica pikirkan saat ini?

Walaupun penasaran, Taeyeon menahan dirinya untuk bertanya. Lagipula siapa Jessica untuknya? Sampai-sampai Taeyeon harus peduli pada gadis itu dan segala hal tentangnya?

“Taeng, maafkan aku. Sepertinya kami tidak bisa hadir di acara kelulusanmu nanti.” Jiwoong memotong steak di piringnya sambil melirik Taeyeon sekilas. Jiwoong merasa bersalah pada adiknya tersebut, padahal laki-laki itu sudah berjanji pada Taeyeon sebelumnya kalau dia akan datang di pesta kelulusan Taeyeon tapi apa boleh buat. Urusan perusahaan yang mendesak membuat Jiwoong tak punya pilihan, bahkan bulan madunya juga tertunda karena hal ini.

“Tidak perlu di pikirkan Jiwoong-ah, Taeyeon pasti mengerti.” hibur Mrs. Kim. Taeyeon menatap wanita paruh baya itu sekilas sebelum kembali menyantap makanannya dalam diam.

“Umma akan ada disana untuk menggantikan Jiwoong dan Appa yang tidak bisa hadir.” ucap Mrs. Kim sambil tersenyum.

“Tidak perlu.” potong Taeyeon cepat.

“Bibi tidak perlu melakukannya.. karena bibi bukan ibuku jadi berhentilah bersikap seperti itu.” lanjutnya.

“Kim Taeyeon!!” Perkataan Taeyeon membuat Mr. Kim marah tapi Taeyeon tak peduli. Gadis itu meletakkan peralatan makannya, membungkukkan badannya lalu pergi.

“Aku sudah selesai, permisi!” ucapnya sambil berlalu.

“Dasar anak tidak punya sopan santun!” geram Mr. Kim. Jiwoong berusaha menengangkan ayahnya agar tekanan darah pria paruh baya itu tidak naik lagi seperti beberapa tempo lalu. Disisi lain Jessica juga bergegas pamit dan berinisiatif menyusul tunangannya yang baru melewati pintu keluar.

Mrs. Kim mengelus tangan suaminya, wanita itu merasa bersalah karena dirinya -lagi-lagi- menjadi penyebab pertengkaran sang suami dan anaknya.

Jessica merapatkan hoodienya begitu keluar dari restoran. Taeyeon sudah berdiri di samping mobilnya dan menyuruh Jessica masuk tanpa bicara. Walau Jessica tau jika hubungan Taeyeon dan Mr. Kim tidak terlalu baik tapi harus diakui jika tadi adalah pertama kali Jessica melihat keduanya bertengkar secara langsung.

Kendaraan yang mereka tumpangi merayap di jalanan padat Seoul malam itu. Suhu yang dingin membuat aspal licin, hal itu mau tak mau membuat pengendara harus ekstra hati-hati. Dalam keadaan normal waktu tempuh dari restoran ke rumah Jessica menghabiskan satu jam perjalanan tapi sekarang sudah hampir dua jam tapi Jessica belum sampai. Selama itu pula Jessica terus mencuri pandang kearah Taeyeon yang duduk di belakang kemudi -masih- tanpa suara.

Untuk mengusir atmosfer ‘mencekam’ diantara keduanya Jessica memberanikan diri mengucapkan pertanyaan -yang sebenarnya begitu retoris. “Gwenchana?” Ya, ya, Jessica tau jika suasana hati Taeyeon sedang tidak begitu baik tapi… dia hanya ingin memastikan.

“Ne.” jawab Taeyeon tanpa menoleh. Jessica membulatkan mulutnya sambil mengangguk-angguk kecil.

Tanpa sadar gadis blonde itu terus memperhatikan penampilan Taeyeon -menilai penampilannya. Sebelumnya Jessica memang tidak menyadari hal ini, tapi kalau diperhatikan dengan seksama Taeyeon sebenarnya memancarkan aura berkharisma di sekelilingnya. Wajahnya imut dan menawan disaat yang bersamaan. Sayangnya, sikap dingin dan tertutupnya membuat Taeyeon tampak ‘tak tersentuh’. Tak jauh beda dengan barang pajangan di museum. Oke, Jessica tau perumpamaan yang satu itu cukup aneh.

“Apa ada sesuatu di wajahku?”

“Ne?”

“Kenapa terus melihatku?”

“Aniyo. Aku hanya berpikir wajahmu akan terlihat berbeda saat tersenyum.”

“Berbeda?”

“Ya berbeda, seperti perubahan yang lebih baik.”

Kata-kata Jessica membuat Taeyeon tertegun. Kata-kata yang diucapkan gadis itu sama dengan yang pernah diucapkan Sunye padanya.

Sunye? Kim Taeyeon! Mulai sekarang berhentilah memikirkannya!!

~~~~~~~~~~~

Taeyeon turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Jessica begitu keduanya sampai di depan kediaman keluarga Jung.

“Gomawo.” ucap Jessica. Taeyeon mengangukkan sedikit kepalanya dan tersenyum kecil. Tersenyum? Oke, itu hal yang baru. Penilaian Jessica pada tunangannya malam ini sedikit berubah.

Gadis blonde itu terus memandangi mobil Taeyeon yang semakin mengecil di pandangannya setelahnya Jessica mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dengan gusar. Jam digital pada benda itu sudah menunjuk pukul 10 malam. Itu artinya sudah lewat tiga jam dari waktu yang dijanjikan.

“Hanya orang gila yang mau menunggu selama itu..” gumam Jessica pada dirinya sendiri. Tapi, yang sekarang dibicarakan Jessica adalah Yuri. Jessica mencoba mengingat hal ‘normal’ yang pernah Yuri lakukan tapi nihil. Tak ada satupun hal normal yang pernah Yuri lakukan. Semakin Jessica berpikir keras hal-hal gila yang pernah Yuri lakukan malah semakin jelas. Salah satunya saat study tour mereka ke Jeju-do tahun lalu. Saat itu Yuri terjun menggunakan tali bungee jumping sambil meneriakan nama Jessica dan membentuk love sign dengan kedua tangannya.

Lalu, saat Yuri khusus menyewa pesawat untuk menuliskan ‘Happy Birthday Jessica Jung’ di langit. Atau saat Jessica dirawat di rumah sakit, Yuri sengaja membeli ribuan balon dan menerbangkannya tepat di dekat jendela kamar Jessica supaya gadis itu melihatnya. Dan benar saja Jessica melihatnya, bukan hanya dia tapi seluruh penghuni rumah sakit saat itu.

Jessica terheran-heran melihat ribuan balon warna-warni berterbangan di luar jendela kamarnya. Sedetik kemudian ponselnya berbunyi, menandakan sebuah pesan masuk dari Yuri.

‘Kau suka?’ tanya Yuri dalam pesannya. Jessica tidak membalas pesan itu, tapi jujur saja Jessica terharu dengan apa yang telah Yuri lakukan untuknya.

Mengingat semua itu membuat Jessica memijat pelipisnya tanpa sadar. “GAWAT!!! Dia kan memang gila… Aissshhhhhh…”

Jessica mengurungkan niatnya untuk masuk rumah. Gadis itu berbalik dan bermaksud menuju tempat Yuri tapi baru beberapa langkah berjalan Jessica berhenti dan memukul kepalanya sendiri.

“Jessica Jung apa yang kau pikirkan?” terikanya frustasi.

“Kalau kau datang makhluk hitam itu akan semakin besar kepala!!” ujarnya ngeri.

“Jangan pedulikan dia!! Jangan pedulikan!!” Jessica menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berharap Yuri segera menghilang dari pikirannya. Kali ini dengan mantap gadis itu kembali berjalan menuju pintu rumahnya. Baru saja Jessica akan memutar kenop pintunya, bayangan Yuri kembali muncul.

“Arghhhhhh!!” Jessica berteriak kesal sambil mengacak rambutnya.

“Kwon Yuri!! Aku akan benar-benar membunuhmu!!”

~~~~~~~~~~

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Yuri bersandar pada pagar sambil mendekap tubuhnya yang mengigil. Gadis itu bersikap egois pada tubuhnya sendiri dengan memaksakan menunggu Jessica di luar daripada di dalam gedung. Yuri sengaja melakukannya supaya Jessica bisa menemukan keberadaannya dengan mudah.

Jessica berjalan dengan tergesa saat menaiki tangga-tangga menuju N Tower. Suhu yang turun drastis malam itu membuatnya kesulitan karena anak tangga yang ditapakinya menjadi licin. Jessica merapatkan hoodie ke tubuh mungilnya seraya terus meruntuki Yuri dalam hatinya.

“Eekkkk!!” Jessica mengeluarkan dolphin screamnya saat dirinya hampir saja terjungkal kebelakang. Untung saja refleks Jessica cukup bagus, dia masih sempat mencengkram pagar pembatas sebelum jatuh. Memang Jessica selamat tapi sayangnya high heels kesayangannya tidak, benda itu tersangkut dan patah. Saat itu pula kekesalannya pada Yuri bertambah berkali-kali lipat. Dengan berat hati terpaksa Jessica mematahkan heels sepatu yang sebelahnya supaya tingginya sama.

Jessica menatap putus asa kumpulan anak tangga di hadapannya yang seakan tiada habisnya. Selama itu pula rencana-rencana jahat terus bermunculan di kepalanya.

“Coba aku pikir, sebaiknya apa yang harus kulakukan saat bertemu dengannya?” Jessica berbicara pada dirinya sendiri dengan nafas tersenggal.

“Aku akan menjambak rambutnya sampai rontok semua!”

“Aku akan menendangnya dengan tendangan karateku lagi!”

“Ah, aniyo! Menghajarnya sampai babak belur terdengar lebih mengasyikan!”

“.. dan kurasa melemparnya dari puncak N Tower juga bukan ide yang buruk!” Jessica tersenyum evil sambil memandangi bangunan tinggi di depannya.

Sambil menunduk Yuri terus menghitung dalam kepalanya. Beberapa saat kemudian Yuri merasakan butiran-butiran salju menghujani tubuhnya, salju pertama tahun ini. Gadis itu mendongakkan kepalanya dan menemukan Jessica sudah berdiri di sampingnya dengan nafas putus-putus.

“Ya!! Apa otakmu tidak berfungsi dengan baik?” Jessica langsung memuntahkan kekesalannya. Mungkin jika mereka tokoh kartun, Yuri yakin saat ini kepala Jessica sudah berasap seperti cerobong kereta.

“Dasar idiot!! Bagaimana kalau aku tidak datang?!” Jessica melanjutkan omelannya sambil berkacak pinggang.

“A-aku tau kau pasti datang…” Yuri masih bisa membalas omelan Jessica dengan kalimat overconfident yang sudah menjadi ciri khasnya serta seringaiannya yang memuakkan -menurut Jessica.

“Aku bersumpah aku akan-” kata-kata Jessica terhenti begitu Yuri menghambur kepelukannya. Jessica tidak menolak ataupun membalas pelukan Yuri namun satu hal yang dia tau. Saat tubuhnya dan tubuh gadis beraroma mint itu menyatu saat itu pula jantungnya berdebar dengan sangat keras. Bahkan untuk sesaat Jessica berpikir kalau benda itu berhenti berdetak.

Nanana nanana nanana nanana
Don’t ever leave me again
Na na nanana na
I guess we are getting used to each other

Will you come here?
A love that has formed like magic
Come into me so you won’t ever hurt again

I want to shout out and call you
Look at me, who I’ve hidden
My heart is relayed so that it’s felt wholly
It’s time for goodbye yet
Please tell me that it’s not
I won’t rush, it has just started now
Just stay like that

Nanana nanana nanana nanana
Don’t ever leave me again
Na na nanana na
I guess we are getting used to each other
Just stay like that

Dan satu hal yang benar-benar Jessica yakini. Tubuhnya terasa panas -dalam arti sesungguhnya.

“Yuri you’re so hot!”

“I know i’m hot.. no need to shout.” jawab Yuri sambil tertawa kecil sementara tangannya masih melingkari pinggang Jessica. Gadis blonde itu berdecak kesal lantas mendorong kepala Yuri dengan jari telunjuknya.

“Bukan itu maksudku kau monyet bodoh! Maksudku kau demam!”

~~~~~~~~~~

Jessica dan Yuri duduk di restoran putar yang ada di N Tower. Anehnya, untuk sesaat Jessica memilih melupakan semua kekesalannya dan lebih menikmati pemandangan di hadapannya. Yuri tengah menghabiskan sup pesanannya dengan cara meminum sup itu langsung dari mangkoknya. Benar-benar cara makan yang tidak elegan.

“Mashita~” Yuri tersenyum sambil mengelus perutnya yang telah terisi penuh.

“Dasar bodoh.” gumam Jessica sambil mengalihkan pandangannya, hanya agar Yuri tak melihat senyumannya.

Selesai dengan semua makanan pesanannya Yuri lantas bersidekap di atas meja. Gadis tanned itu terus memandang Jessica dan membuat Jessica balik memandangnya dengan satu alis terangkat.

“Hari ini ulang tahunku.”

“Lalu?”

“Kau tidak ingin mengucapkan sesuatu padaku?”

“Misalnya?”

“Sica~” rengek Yuri, “Aku tau kau tidak setega itu. Ucapkan.. aku ingin dengar.. please~” Yuri berkata dengan suara -yang dibuat-buat- imut yang sangat Jessica benci sambil memasang ekspressi yang membuat Jessica geli. Gadis tanned itu memanyunkan bibirnya sambil memandang Jessica dengan mata sipitnya yang berusaha dibuat sebulat mungkin.

Jessica tau jika Yuri takkan berhenti sebelum gadis itu menuruti keinginannya.

“Selamat ulang tahun.” ucap Jessica. Yuri tersenyum lebar setelah mendengarnya.

“Apa?” Jessica kembali bertanya sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Kali ini Yuri memandangnya penuh harap.

“Hadiahku?”

“Aku tidak membawa apapun.”

“Aku memang tidak menginginkan apapun darimu, aku hanya ingin hadiahku yang dulu. Yang belum sempat kuambil. Kau ingat?”

Jessica berdehem sambil memperbaiki posisi duduknya. Pembicaraan semacam ini yang selalu Jessica hindari ketika dirinya bersama Yuri. “Apa yang kau bicarakan?”

“Aku yakin kau mengerti apa yang kubicarakan.” Yuri tersenyum penuh kemenangan. “Aku hanya tidak mengerti kenapa kau tidak mau jujur padaku..”

“Aku benar-benar tidak mengerti Kwon Yuri dan.. jika kau mengajakku hanya untuk mengatakan hal-hal yang tidak penting lebih baik aku pulang.” ancam Jessica.

“Baiklah, aku tidak akan memaksamu.” Yuri mengalah dengan sikap keras kepala gadis di hadapannya. Dia tidak mau merusak mood Jessica di malam spesial ini.

“..tapi jika kau sudah siap memberikan hadiah itu, katakan padaku..” Yuri tersenyum. Senyum yang kali ini terlihat begitu manis di mata Jessica.

~~~~~~~~~~~

Sekarang keduanya berdiri di luar sambil memandangi puncak N Tower.

“Suatu hari nanti.. aku akan membawamu ke sana dan kita akan memasang gembok seperti yang dilakukan sepasang kekasih.” Yuri berkata sambil terus menggenggam tangan Jessica.

“Aku tidak percaya mitos.”

“Kau memang tidak perlu percaya mitos kau hanya perlu percaya padaku..” jawab Yuri sambil mencubit hidung Jessica yang memerah karena kedinginan.

“Jauhkan tanganmu dariku!” Jessica menepis tangan Yuri dengan kasar, sepertinya gadis itu tidak sadar jika tangan mereka yang lainnya masih saling bertautan.

Yuri tiba-tiba mendekatkan wajah mereka, refleks Jessica memundurkan kepalanya. Gadis berambut pirang itu kesal karena Yuri selalu membuat gerakan tiba-tiba.

“Wae?” kesal Jessica.

“Apa aku salah lihat?”

“Apa?”

“Sepertinya aku melihat kerutan di sudut matamu..” ucap Yuri santai dan membuat Jessica panik. Kerutan? Yang benar saja! Dia baru 18 tahun!

“Mungkin karena kau sering marah-marah makanya cepat mengalami penuaan.”

Setelah mendengar perkataan Yuri, tanpa pikir panjang Jessica langsung memukuli dada gadis tanned itu dengan kepalan tangannya.

Yuri masih tertawa sambil berusaha menahan tangan Jessica.

“Kenapa kau selalu memukulku?”

“Karena kau pantas mendapatkannya!”

Jessica berbalik dan pergi namun sedetik kemudian langkahnya terhenti saat Yuri menahan pergelangan tangannya lalu membalik tubuhnya.

“Malam ini sama seperti malam itu..” Yuri memandangi salju yang berjatuhan di sekitar mereka. Malam ini dan malam itu sama-sama hari pertama salju turun. Jessica tidak menjawab, gadis itu sibuk memandangi iris Yuri yang kecoklatan.

Perlahan Yuri mendekatkan wajahnya dan membuat Jessica menahan nafas saat nafas hangat Yuri menyentuh pori-pori kulit wajahnya. Tanpa disadari semakin Yuri mendekat mata Jessica semakin berat dan tertutup dengan sendirinya, seakan-akan hal itu adalah satu-satunya hal yang dapat Jessica lakukan. Dan saat bibir lembut Yuri bersentuhan dengan bibirnya, Jessica merasa kakinya tidak menginjak bumi untuk pertama kalinya.

Ciuman itu… ciuman pertamanya.

~~~~~~~~~~

Usianya 8 tahun saat Yuri pertama kali menginjakkan kakinya di kota bernama New York. Malam itu seharusnya Yuri merayakan ulang tahunnya bersama BoA tapi satu hal tak terduga membuatnya harus duduk sendirian di taman kota. Yuri kecil begitu ketakutan. Sambil menundukkan kepalanya Yuri duduk di salah satu kursi tanpa bicara. Jika saja dia tidak nakal dan menuruti kata-kata pengasuhnya tentu Yuri takkan terpisah dari kakaknya dan tersesat. Yuri tidak bisa menanyakan arah karena orang-orang tinggi besar dan berambut terang yang ada disini berbicara dengan bahasa yang tak dapat Yuri mengerti. Selain itu orang-orang tinggi besar disini rata-rata berjalan dengan langkah cepat seakan mereka tengah kebelet ke toilet atau semacamnya.

Saat itulah Yuri bertemu dengan gadis kecil berambut terang yang -tanpa diduga- bisa berbicara dengan bahasa yang Yuri mengerti.

“Jadi kau tersesat?”

“N-ne..” Yuri menjawab dengan suara gemetar karena gadis itu menangis. Air mata yang sedari tadi di tahannya keluar tanpa bisa Yuri cegah. Gadis kecil itu takut, bagaimana kalau dia tidak bisa pulang selamanya?

“Gwenchana..” gadis kecil berambut pirang tersebut menepuk pelan pundaknya. Yuri menghentikan tangisannya sambil menghapus airmata dengan tangan mungilnya. Sudah 3 jam Yuri duduk disana, dia kedinginan -karena salju mendadak turun-, ketakutan… dan lapar.

Gadis kecil berambut terang tersebut tekekeh saat mendengar perut Yuri yang berbunyi cukup keras. Sementara Yuri menundukkan kepalanya karena malu.

“Aku punya ini, ambilah!” gadis kecil itu mengambil cokelat dari saku jaketnya dan menyerahkannya pada Yuri.

“Gomawo.” ucap Yuri malu-malu.

“Jadi hari ini ulang tahunmu?” tanya gadis kecil itu memastikan setelah mendengar cerita Yuri. Yuri menganggukkan kepalanya sambil menelan potongan cokelatnya yang terakhir.

“Mau aku nyanyikan lagu?”

“Kau bisa menyanyi?”

“Ne…” ucap gadis kecil itu semangat. Gadis itu beranjak dari kursi lalu berdiri di hadapan Yuri.

Born in the winter
this beautiful you
clean like snow
you who belong to me

Born in the winter
my lover
clear as snow
you who belongs to me

Regardless whether it’s
spring, summer, autumn, or winter
Always clear and clean

Happy Birthday
Happy Birthday , Hoo…
Happy Birthday
Happy Birthday To You

Yuri bertepuk tangan semangat saat Jessica menyelesaikan lagunya namun Jessica menautkan kedua alisnya seperti orang bingung.

“Kenapa?” tanya Yuri penasaran.

“Karena ini acara ulang tahun harusnya, ada cake, lilin dan hadiah..” gadis blonde itu tampak kecewa. Setelahnya dia meraba-raba saku jaketnya dan tak menemukan apapun yang bisa dia jadikan hadiah untuk Yuri. Cokelat tadi adalah satu-satunya benda yang dia bawa.

“Gwenchana, aku tidak perlu semua itu..” kata Yuri, tapi gadis kecil berambut terang tersebut nampak tidak puas.

“Baiklah, aku akan memberimu satu permintaan sebagai hadiah.”

“Ne?.. itu tidak perlu.”

“Kau tidak boleh menolak. Karena kita sudah tidak punya cake dan lilin setidaknya kau tidak boleh menolak hadiah dariku. Aku memberimu satu permintaan dan kau boleh meminta apapun.”

“Sungguh? Apapun?” tanya Yuri ragu.

“Ne, apapun.” jawab gadis kecil itu mantap.

Yuri tersenyum dan mengangukkan kepalanya. “Aku akan memikirkan dulu apa yang kuinginkan. Boleh aku memintanya padamu saat kita bertemu lagi?”

“Tentu saja.”

“Gomawo.. oh ya, siapa namamu?”

“Namaku Jessica..”

“Aku Yuri..”
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>>TBC

Drabble #14 (RF)

Drabble #14

“Unnie..” panggil Yoona. Gadis itu  berjalan menuju balkon dorm mereka dengan secangkir cokelat panas -yang asapnya masih mengepul- di tangannya. Sementara orang yang dipanggilnya -Yuri- masih bergeming sambil memandangi langit Seoul yang malam ini tampak begitu cerah. Bulan malam ini tampak begitu bulat dan sinarnya begitu terang.

“Unnie.” panggil Yoona sekali lagi. Seakan tersadar, kali ini Yuri memutar kepalanya. Gadis itu tersenyum kecil saat matanya beradu pandang dengan Yoona. Gadis yang lebih muda itu membalas senyuman Yuri sebelum meletakkan cangkir berisi cokelat panas yang sebelumnya ia bawa lalu kembali bergabung dengan member lain -yang sedang berdesak-desakan- di depan televisi.

I  know you’re somewhere out there
Somewhere far away
I want you back
I want you back

Yuri berdiri tepat dibelakang pagar balkon. Matanya menerawang, menatap bulan purnama yang bersinar terang tapi pikirannya jauh melayang.

My neighbors think I’m crazy
But they don’t understand
You’re all I had
You’re all I had

Sooyoung mendongakkan kepalanya, gadis jangkung itu menatap Yoona -yang baru kembali bergabung bersama mereka- dengan tatapan bertanya.

“Dia masih diluar?”

Yoona menganggukkan kepalanya sementara sebelah tangannya bersiap mencomot keripik kentang milik Sooyoung. Tapi, tentu saja sebelum hal itu terjadi Sooyoung sudah mencengkram tangan Yoona dan membuat gadis rusa itu meringis.

“U-unnie.. sakit! Apa kau mau mematahkan tanganku?”

At night when the stars light up my room
I sit by myself

“S-sica-ah.. aku, a-aku..” tangan Yuri mencengkram erat pagar balkon sementara tenggorokkannnya serasa tercekat.

Talking to the moon
Tryin’ to get to you
In hopes you’re on the other side
Talking to me too
Or am I a fool?
Who sits alone
Talking to the moon

Yuri memejamkan matanya sambil mengigit bibir bawahnya. Gadis berkulit kecoklatan itu menghirup nafas dalam-dalam sebelum menumpahkan semua emosinya.

“Ya!!! Kim Taeyeon!!” semprotnya. Taeyeon yang sedari tadi berdiri tak jauh di belakangnya terlonjak kaget. Gadis pendek itu mengelus dada datarnya.

“Bisakah kau matikan musik di ponselmu itu? Kau ini sungguh menganggu konsetrasiku!!” kata Yuri frustasi.

“Konsentrasi kepalamu Yul!!” Taeyeon balan mencibir sahabatnya yang tampak menyedihkan. Tujuan awal Yuri berdiri di balkon ini adalah untuk berlatih menyatakan perasaannya pada Jessica tapi sepanjang yang Taeyeon ingat kata-kata yang keluar dari mulut Yuri hanya ‘Sica’ dan ‘aku’. Taeyeon jadi heran sendiri kenapa sahabatnya yang player ini berubah jadi seorang yang dungu hanya karena Jessica Jung.

Taeyeon menyerah lantas menyuruh Bruno Mars yang tengah melantunkan ‘Talking to The Moon’ untuk diam. Setelah memasukan ponsel itu ke saku celananya, Taeyeon lantas memegang kedua tangan Yuri.

“A-apa yang kau lakukan?”

“Ssssttt!!” Taeyeon menempelkan jari telunjuknya di mulut Yuri. Menyuruh gadis yang lebih tinggi itu untuk berhenti bicara.

“Jika kau bertemu dengan gadis itu.” Taeyeon menunjuk kamar dorm yang berada tepat di seberang mereka -kamar yang dihuni Jessica. Lampu kamar itu menyala dan terlihat beberapa siluette di dalamnya. Sepertinya Jessica dan teman-temannya -Tiffany,Sunny,dan Seohyun- sedang mengadakan girls talk seperti biasanya.

Entah sihir seperti apa yang telah Jessica lakukan padanya Yuri pun tak mengerti. Hanya dengan menatap bayangannya saja jantung Yuri bergemuruh kencang dan otaknya tidak bisa memikirkan apapun selain Jessica. Tanpa Yuri sadari Jessica Jung -dengan sikap dingin dan arogansinya- telah menjadi candu untuk Yuri. Jika Jessica benar-benar telah menyihirnya, Yuri rela terkurung dalam mantra gadis itu seumur hidupnya.

“Lakukan seperti ini.” lanjut Taeyeon.

“Pegang kedua tangannya lalu tatap matanya dalam-dalam dan katakan..”

“Jessie.. tidakkah kau merasa gerah? Aku akan membuka pintu ini..” Tiffany bangkit dari duduknya dan berjalan kearah pintu. Gadis maniak pink itu menggeser pintu kaca yang memisahkan bagian dalam kamar dan balkon dan saat itulah kedua matanya terbelalak tak percaya. Walau berjarak lumayan jauh Tiffany bisa mendengar jelas apa yang Taeyeon katakan pada Yuri.

“Saranghae..”

Kedua telinga Tiffany melebar sementara satu alisnya mulai terangkat.

Menyadari Yuri hanya terpaku, Taeyeon lantas menggoyangkan tangannya.

“Kenapa diam saja? Sekarang giliranmu. Aku ingin mendengar kau mengatakannya.” Taeyeon tersenyum. Yuri menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Sepertinya kepercayaan dirinya mulai tumbuh dan perasaanya sudah tak setegang sebelumnya, berbanding terbalik dengan Tiffany yang hampir hangus terbakar cemburu.

Si pendek Kim Taeyeon ini benar-benar? Padahal baru tadi pagi dia bilang ‘Saranghae’ pada Tiffany lalu apa yang di dapat Tiffany sekarang? Hari bahkan belum berganti dan Taeyeon sudah mengatakan kata-kata yang sama pada orang yang berbeda.

“Saranghae.. Je-”

Cukup! Tiffany tidak bisa menahan perasannya lagi. Gadis itu berteriak dan memotong kata-kata Yuri.

“YYYAAA!! YOU!! KIM TAEYEONNN!! I HATE YOU!!” Tiffany menunjukkan jari tengahnya lalu membanting pintu kaca hingga menimbulkan suara debuman yang keras.

Sebelum Tiffany menutup gorden pintunya, Yuri sempat melihat Jessica karena gadis itu berdiri dan berjalan kearah Tiffany -mungkin menanyakan penyebab keributan yang terjadi- dan beruntungnya Yuri tatapan mereka sempat bertemu beberapa detik. Walaupun tatapan mata gadis blonde itu begitu dingin tetap saja tak bisa menghentikan jantung Yuri untuk berpacu. Yuri bahkan tak ragu mengakui jika beberapa detik yang singkat itu merupakan detik paling membahagiakan untuknya. Bibir gadis itu melengkung membentuk senyuman.

Sementara itu…

Taeyeon bergumam lirih pada dirinya sendiri. “You’re so dead Kim.”
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>>>END